Emiten Berkapitalisasi diatas Rp 100 Triliun Bertambah
JAKARTA. Meski masih belum lepas dari tekanan sentimen negatif penyebaran virus korona dan ancaman perlambatan ekonomi, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang April ini cukup positif. Kenaikan IHSG ini membuat kapitalisasi pasar bursa saham juga meningkat. Saat IHSG anjlok ke level terendah, kapitalisasi pasar sempat turun jadi Rp 4.515,84 triliun. Kemarin, data BEI mencatat kapitalisasi pasar bursa mencapai Rp 5.311 triliun. Di akhir tahun lalu, kapitalisasi pasar mencapai Rp 7.241,91 triliun.
Di akhir 2019, ada 13 emiten yang memiliki kapitalisasi pasar di lebih dari Rp 100 triliun. Saat IHSG turun ke level terendah tahun ini, jumlah emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun tersisa delapan saham. Namun kemarin, jumlah emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun kembali bertambah menjadi 10 saham.
Namun Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan, saham-saham yang kembali ke jajaran emiten berkapitalisasi raksasa ini tak lantas lantas mengindikasikan pelaku pasar kembali optimistis melihat prospek bursa saham namun lebih karena mekanisme pasar. Hal ini disebabkan harga saham big caps memang sudah turun dalam akibat dampak negatif Covid-19. Sebagian investor menganggap harga saham yang sudah murah ini sebagai peluang untuk kembali masuk dan membeli saham-saham tersebut.
Teguh menilai, saat ini belum ada sentimen positif yang jadi tanda fundamental emiten kembali membaik dan pasar pulih seperti penemuan vaksin, melandainya kasus atau rasio kematian yang semakin mengecil. Terlebih, sejumlah emiten sudah mengonfirmasi kinerja keuangan tahun ini bakal tertekan. Karena itu, masih ada kemungkinan harga saham-saham tersebut kembali turun dan memangkas kapitalisasi pasar
Analis Senior Anugerah Sekuritas Bertoni Rio juga menilai, sentimen positif yang mendorong kenaikan kapitalisasi pasar emiten big caps bersifat terbatas. Secara umum, pasar saham masih dinaungi sentimen negatif. Meski begitu. Ia menilai secara jangka panjang, kinerja emiten big caps berpotensi membaik dengan cepat. Apalagi, saat ini sejatinya sejumlah emiten tengah dinaungi sentimen positif. BRPT misalnya. Anjloknya harga minyak global bisa membuat beban oprasional perusahaan milik Prajogo Pangestu ini jadi lebih murah.
Dari 10 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar, ASII mencatat pertumbuhan market caps paling rendah. Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai ini wajar. Pasalnya, bisnis yang dijalani emiten ini sedang tertekan. Selain bisnis otomotif, ASII juga tertekan oleh potensi berkurangnya pemasukan dari segmen perkebunan.Tags :
#SahamPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023