Saham
( 1736 )Grup Djarum Siapkan Rencana IPO Blibli
Perusahaan e-commerce milik Grup Djarum, PT Global Digital Niaga atau Blibli. com, dikabarkan tengah menyiapkan rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Blibli ditargetkan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal 2022. Bloomberg melaporkan bahwa perusahaan yang dikendalikan oleh orang terkaya nomor satu di Indonesia versi Forbes, yakni duo Hartono pemilik Grup Djarum dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tersebut, telah memilih penasihat terkait rencana IPO Blibli. Perusahaan menunjuk Credit Suisse Group AG dan Morgan Stanley. “Saat ini, perundingan berada pada tahap awal, dan ukuran IPO dapat bergantung pada bisnis mana yang dimasukkan,” kata sumber tersebut, Kamis (26/8).
Menanggapi isu tersebut, manajemen Blibli.com melalui VP Public Relations Blibli Yolanda Nainggolan menyatakan, pihaknya sangat terbuka dengan opsi terbaik yang dapat mempercepat pengembangan ekosistem dalam memberikan solusi inovasi kepada para pelanggan.
Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengaku hingga saat ini pihaknya belum menerima informasi secara langsung dari Blibli.com terkait rencana IPO. Meski demikian, otoritas menyambut baik langkah perusahaan e-commerce tersebut untuk melantai di BEI. ”Tentunya kami menyambut baik rencana IPO tersebut dan siap berdiskusi dengan para owner, founder, dan jajaran manajemen perseroan,” ucapnya.
Lebih lanjut, sebagai e-commerce Indonesia yang telah beroperasi selama 10 tahun, Blibli
telah diperkuat dengan ekosistem teknologi dan bisnis menyeluruh yang mencakup B2C, B2B,
B2B2C, dan B2G yang fokus
dalam mengembangkan bisnis
memberikan solusi nyata guna
membangun kepercayaan dengan
memberikan pengalaman ritel
terbaik kepada pelanggan, memberdayakan mitra bisnis, dan
menciptakan inovasi solusi nyata
untuk stakeholders lewat strategi
omnichannel yang terintegrasi dan
menyeluruh.
IHSG Masih Dihantui Aksi The Fed
Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah dalam sepekan terakhir, dipicu oleh faktor eksternal. Direktur Ekuator Swarna Investama, mengatakan penurunan IHSG disebabkan oleh aksi jual investor setelah risalah pertemuan terakhir bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) membahas penghapusan stimulus moneter. Meski begitu, pejabat The Fed menegaskan bahwa pengurangan stimulus atau tapering off tidak selalu berarti kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. IHSG berada pada level 6.030,77. Dengan demikian, selama sepekan IHSG melemah 1,77 persen dari 6.139,49 penutupan perdagangan pekan sebelumnya. Bahkan IHSG berada di bawah 6.000.
Investor khawatir The Fed menghapus stimulus tahun ini. Tapering off, bisa dilakukan pada akhir 2021 karena inflasi dikatakan sudah mencapai target dan pemulihan pasar tenaga kerja juga hampir sesuai ekspektasi. Hal yang menjadi perhatian investor adalah respons Bank Indonesia terhadap kemungkinan tapering off tahun ini. BI harus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan menjaga suku bunga tetap kompetitif sehingga arus modal asing tetap masuk ke Indonesia dan dapat menjaga agar kurs rupiah tetap stabil. Untuk sentimen eksternal IHSG mencatat beberapa data indikator ekonomi Amerika Serikat yang mendapat perhatian, yaitu data penjualan rumah, penjualan barang, data pengangguran, dan inflasi.
IHSG Masih Dihantui Aksi The Fed
Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah dalam sepekan terakhir, dipicu oleh faktor eksternal. Direktur Ekuator Swarna Investama, mengatakan penurunan IHSG disebabkan oleh aksi jual investor setelah risalah pertemuan terakhir bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) membahas penghapusan stimulus moneter. Meski begitu, pejabat The Fed menegaskan bahwa pengurangan stimulus atau tapering off tidak selalu berarti kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. IHSG berada pada level 6.030,77. Dengan demikian, selama sepekan IHSG melemah 1,77 persen dari 6.139,49 penutupan perdagangan pekan sebelumnya. Bahkan IHSG berada di bawah 6.000.
Investor khawatir The Fed menghapus stimulus tahun ini. Tapering off, bisa dilakukan pada akhir 2021 karena inflasi dikatakan sudah mencapai target dan pemulihan pasar tenaga kerja juga hampir sesuai ekspektasi. Hal yang menjadi perhatian investor adalah respons Bank Indonesia terhadap kemungkinan tapering off tahun ini. BI harus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan menjaga suku bunga tetap kompetitif sehingga arus modal asing tetap masuk ke Indonesia dan dapat menjaga agar kurs rupiah tetap stabil. Untuk sentimen eksternal IHSG mencatat beberapa data indikator ekonomi Amerika Serikat yang mendapat perhatian, yaitu data penjualan rumah, penjualan barang, data pengangguran, dan inflasi.
IHSG Diramal Loyo Gegara Isu Tapering Off The Fed
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan Senin (23/8).
Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan menilai isu tapering off alias pengetatan moneter oleh The Fed masih akan membayangi pasar modal hari ini. Sementara, secara teknikal, ia menyebut penguatan bakal tertahan oleh resistance moving average 50.
IHSG diprediksi melemah. Pergerakan masih akan dipengaruhi oleh kekhawatiran akan tapering serta perkembangan terkait kasus covid-19 terutama kasus harian di Amerika Serikat yang kembali naik signifikan. Dia memproyeksikan indeks saham bergerak di rentang support 5.907-5.968 dan resistance 6.060-6.091.
Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan indeks hari ini masih akan terkonsolidasi dengan potensi tertekan. Adapun sentimen yang akan mewarnai perdagangan adalah nilai tukar rupiah dan harga komoditas.
Ambyar Saham Lapak Online
Harga saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) terus ambles sejak awal pekan kedua Agustus atau hingga hari ketiga setelah e-commerce itu menggelar initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan kemarin, harga saham berkode BUKA ini menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) dengan penurunan 7 persen menjadi Rp 1.035 per lembar.
Direktur Ekuator Swarna Investama, Hans Kwee, mengatakan kondisi tersebut dipicu aksi ambil untung atau profit taking para investor. Sebelum IPO digelar, saham Bukalapak mengalami oversubscribed atau kelebihan pesanan hingga empat kali lipat karena diburu investor. Sesaat setelah IPO dan harganya melejit hingga batas atas atau auto rejection atas (ARA), investor menjual saham-saham tersebut demi menarik keuntungan.
Investor terpantau berlomba-lomba melepas saham BUKA, terbukti dari antrean jual yang menumpuk hingga 7,2 juta lot atau setara dengan nilai Rp 745 miliar. Investor asing membukukan aksi jual bersih atau net sell hingga Rp 123 miliar di pasar reguler, sehingga total akumulasi aksi jual bersih asing dalam tiga hari perdagangan mencapai Rp 1 triliun.
Saham BUKA baru sekali menyentuh ARA, yaitu pada hari pertama debutnya di Bursa Efek Indonesia. Ini kontras dengan perdagangan pada Senin lalu, saat harga saham BUKA melorot karena terjadi net sell investor asing Rp 492 miliar. "ARA yang terjadi pada hari pertama IPO merupakan euforia sesaat. Dan ketika harga sudah mulai naik, investor retail memilih ambil untung," kata Hans.
Kredivo Bakal IPO di AS, Valuasi US$ 2,5 Miliar
FinAccel sebagai perusahaan induk dari Kredivo mengumumkan bakal melantai di bursa Amerika Serikat melalui penawaran saham perdana (IPO). Kredivo akan bergabung dengan VPC Impact Acquisition Holdings II sebagai Special Purpose Acquisition Company (SPAC) yang didukung oleh Victory Park Capital (VPC). Dengan aksi korporasi tersebut akan membawa FinAccel untuk melantai di bursa Nasdaq dengan valuasi bisa mencapai kisaran US$ 2,5 miliar. Penggabungan perusahaan dan IPO di Nasdaq direncanakan akan selesai paling lambat di kuartal pertama tahun 2022. "Mengingat sebesar 66% populasi di wilayah Asia Tenggara masih dalam kategori belum mendapatkan atau minum akses ke layanan perbankan," ujar Akhsay Co-Founder dan CEO FinAccel, dalam rilis, selasa (3/8).
(Oleh - HR1)
Sederet IPO Jumbo Antre di Semester II
Di semester kedua tahun 2021 ini, bakal lebih banyak perusahaan besar menggelar penawaran umum perdana saham ke publik atau initial public offering (IPO). Kedatangan korporasi gede tersebut akan menambah daya tarik bursa saham Tanah Air. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, setidaknya terdapat 25 perusahaan dalam pipeline rencana IPO. Sebanyak 14 di antaranya, merupakan perusahaan dengan kepemilikan aset berskala besar atau beraset di atas Rp 250 miliar. Sementara tujuh perusahaan di antaranya beraset skala menengah, atau dengan nilai aset antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar. Sedangkan empat perusahaan lainnya, merupakan calon emiten dengan aset skala kecil, di bawah 50 miliar.
Salah satu perusahaan yang akan IPO dengan nilai jumbo adalah Bukalapak (BUKA). Menawarkan IPO dengan harga Rp 850 per saham, BUKA akan IPO pada 6 Agustus 2021 mendatang, dengan target emisi Rp 21,9 triliun. Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, saat Bukalapak tercatat nanti, maka kapitalisasi pasar bursa saham akan bertambah Rp 77,3 triliun-Rp 87,6 triliun. "Penambahan kapitalisasi pasar itu tergantung dari pricing di harga antara Rp 750-Rp 850 per saham. Harga ini adalah angka yang besar bagi peningkatan market cap," ucap Nyoman. Nyoman menambahkan, setelah Bukalapak, ada dua unicorn lain yang kemungkinan tercatat pada tahun ini. Meski tak gamblang, perusahaan ini adalah merger dua unicorn, sehingga kapitalisasi pasarnya lebih besar dari BUKA. "Kalau dari sisi jumlah, sebenarnya tahun ini bisa ada tiga unicorn, tetapi yang dua ini sudah bergabung jadi satu," kata Nyoman. Meskipun begitu, pihak BEI menyatakan belum menerima pernyataan pendaftaran IPO dari perusahaan itu.
Mengutip Bloomberg Senin (26/7), unicorn hasil merger Gojek dan Tokopedia, GoTo, dikabarkan bakal IPO tahun ini. GoTO terlebih dahulu akan IPO di Indonesia, sebelum melantai di bursa saham Amerika Serikat. Diperkirakan IPO GoTo bernilai deantara US$ 1 miliar-US$ 2 miliar, atau sekitar Rp 14,5 triliun hingga Rp 29 triliun. IPO di kedua negara ini bisa menjadikan valuasi GoTo mencapai US$ 25 miliar-US$ 30 miliar, atau maksimal Rp 435 triliun. Selain itu, ada juga rencana IPO perusahaan besar lainnya di tahun ini. Misalnya, Adhi Commuter Properti (ADCP) yang berencana IPO di kuartal IV-2021. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) juga ditargetkan IPO pada November 2021, setelah pembentukan Holding BUMN Geothermal dan mendapatkan transaksi aset hilir PLN.Bukalapak Cetak Rekor Emisi IPO Terbesar
Proses penawaran saham perdana Bukalapak bakal segera memasuki tahapan baru. Perusahaan e-commerce tersebut akan mulai menggelar penawaran umum saham perdananya. Dimulainya masa penawaran IPO Bukalapak sekaligus mengukuhkan initial public offering (IPO) dengan nilai terbesar dalam sejarah bursa saham lokal. "Bukalapak menawarkan 25,76 miliar saham pada harga penawaran Rp 850 per saham," tulis manajemen Bukalapak dalam keterangan resmi yang diterima KONTAN, Selasa (27/7). Dengan struktur tersebut, Bukalapak berpotensi meraup dana segar sekitar Rp 21,9 triliun. Rekor IPO terbesar sebelumnya dipegang oleh PT Adaro Energy Tbk (ADRO), yang melepas emisi sebesar Rp 11,2 triliun.
Head of Research Samuel Sekuritas Suria Dharma menyebut, murah atau mahalnya valuasi saham sejatinya relatif. Sebab, perusahaan seperti Bukalapak lebih menonjolkan rekam jejak pertumbuhan. Meski masih mencatat kerugian, Bukalapak mampu menetapkan harga pelaksanaan di batas atas rentang penawaran. "Artinya, minatnya ada," ujar Suria, Selasa (27.7). Cuma memang, jika valuasi menggunakan basis perbandingan nilai perusahaan dengan penjualan atawa enterprise value to sales (EV/sales enterprise value to sales (EV/sales), valuasi Bukalapak tergolong premium. Tapi jika mengacu pada total processing value (TPV), valuasi Bukalapak belum premium. "Karena jika menggunakan TPV dan dibandingkan dengan peers di luar negeri, ini masih wajar," terang Suria.Giliran Perusahaan Bimbel Ditindak Keras
Harga saham perusahaan-perusahaan bimbingan belajar di Tiongkok jatuh pada perdagangan Senin (26/7), setelah Pemerintah Tiongkok memberlakukan aturan baru yang memerintahkan perusahaan-perusahaan tersebut menjadi organisasi nirlaba. Aturan ini akan secara efektif menghapus model bisnis di sektor yang dilaporkan bernilai miliaran dolar dan memukul kekayaan para pemiliknya. Pemerintah Tiongkok mengumumkan pada Sabtu (24/7) bahwa tidak akan lagi mengeluarkan izin baru terhadap lembaga pendidikan di luar sekolah. Sementara semua lembaga yang sudah ada sekarang harus mendaftar sebagai organisasi nirlaba. Pemerintah Tiongkok menilai industri tersebut telah dibajak oleh kapitalis.
Harga saham New Oriental Education and Technology Group Inc anjlok 47% di Bursa Hong Kong. Hasil itu memperdalam rekor penurunan pada penutupan perdagangan Jumat (24/7) hingga 41%, setelah spekulasi tentang langkah penindakan keras itu menyebar di media sosial. Harga sahamnya yang diperdagangkan di AS juga anjlok 54%.
Saham perusahaan lain, Koolearn Technology Holding Ltd ditutup anjlok 33%. Sementara China Maple Leaf Educational Systems turun 10%. Pengusahanya sampai kehilangan status miliarder karena harga sahamnya merosot. Larry Chen, pendiri Gaotu Techedu Inc, kehilangan statusnya sebagai miliarder dan sekarang memiliki kekayaan sekitar US$ 336 juta setelah perusahaannya kehilangan sekitar dua pertiga dari nilainya di New York. Mantan guru tersebut telah kehilangan sekitar US$ 15 miliar sejak Januari, juga terjebak dalam kolapsnya Archegos Capital Management. CEO New Oriental Yu Minhong juga kehilangan status miliardernya. Ia kehilangan US$ 685 juta untuk sehingga tertinggal US$ 579 juta. Bloomberg News melaporkan kekayaan Zhang Bangxin turun US$ 2,5 miliar menjadi US$ 1,4 miliar, setelah saham TAL Education Group yang tercatat di New York anjlok 71%.
(Oleh - HR1)
EMTK Tambahkan Modal ke Grab Indonesia
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk menuntaskan penyertaan investasi 375 juta dollar AS ke PT Grab Teknologi Indonesia. Keduanya sepakat menggabungkan portofolio bisnis masing-masing untuk memperluas pangsa pasar di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah.
Sebelumnya, pada 30 Juni 2021, EMTK mengumumkan menambah kepemilikan saham mereka di Grab Indonesia melalui penyertaan saham baru yang diterbitkan oleh Grab Indonesia. Grab Indonesia menerbitkan 311,27 juta lembar saham dengan nominal Rp 1.000 per lembar. Jumlah ini setara dengan 3,29 persen dari modal disetor dan ditempatkan oleh Grab Indonesia. Sebelum itu, EMTK Group telah memegang 244,57 juta saham Grab Indonesia, setara dengan 2,68 persen dari modal disetor dan ditempatkan Grab Indonesia.
Portofolio bisnis Grab Indonesia juga banyak berkecimpung di segmen UMKM, seperti Grab Food dan Grab Bike/Grab Car. Kami optimistis kolaborasi kedua perusahaan dapat mengakomodasi makin banyak UMKM melek teknologi digital.
Country Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi menyampaikan, Grab Indonesia menjadi mitra pengantaran Bukalapak untuk barang pesanan di 500 kabupaten/kota. Grab Indonesia juga membuat paket kupon pemesanan makanan Grab Food dengan akses konten di Vidio.








