;
Tags

Saham

( 1717 )

Dana Asing Masih Mengalir ke Pasar Saham

KT1 11 Oct 2021 Investor Daily

Dana asing diperkirakan masih akan mengalir ke pasar saham Indonesia hingga akhir 2021, Sejumlah faktor yang mendorong masuknya dana asing (inflow) diantaranya window dressing pada akhir tahun, valuasi harga saham domestik yang masih murah, penurunan kasus Covid-19, lonjakan harga komoditas serta kinerja perekonomian nasional pada kuartal IV-2021 yang diprediksi naik signifikan. Berdasarkan Bursa Efek Jakarta (BEI), investor asing mencatat beli bersih (net buy) di saham sebesar Rp12,4 triliun selama enam hari berdagang terakhir, sehingga secara year to date (ytd) hingga 8 Oktober 2021 mencapai Rp28,38 triliun.

Aksi beli bersih investor asing sebesar Rp 2,42 triliun pada perdagangan Jum'at (8/10) lalu turut mendongkrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 65,37 poin (1,02%) ke posisi 6,481,77 semenetara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 14,63 point (1,69%) ke posisi 939,88. Secara ytd, IHSG menguat 8,41% dan LQ45 naik 0,53%. Pengamat dan praktisi pasar modal yang juga founder CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto meyakini, dana asing akan mengalir deras ke pasar saham mau pun surat utang negara (SUN) hingga akhir tahun.

Lebih lanjut, hingga akhir tahun, Fendi memprediksikan IHSG bisa tembus level 6.600-7.000. Hal tersebut juga didorong oleh dana asing yang akan menjadi katalis dan kegairahan investor domestik untuk masuk ke pasar saham.  Apalagi investor asing cenderung realitas dalam menganalisa saham. Di sisi lain, untuk pasar obligasi, investor asing, menurut Fendi,  juga akan melirik untuk menempatkannya di Indonesia. Kenaikan dana asing di pasar surat utang juga akan terjadi hingga akhir tahun ini dengan alasan yang sama dengan pasar saham.

Kepala Riset Henan Putihrai sekuritas Robertus Yanuar Hardy mencermati dana asing yang mengaliar deras ke pasar saham Indonesia  dipengaruhi oleh sentimen global yang cukup stabil terutama  setelah adanya kepastian Amerika Serikat tidak akan mengalami goverment shutdown hingga Desember 2021. Meski demikian sentimen regional masih dibayangi ketidakpastian kasus gagal bayar perusahaan property Tiongkok, Evergrande. Sementara dari sisi domestik, aliran dana asing juga disebabkan oleh sistem pembobotan IHSG baru yang sudah diberlakukan berdasarkan free float sehingga penilain indeks semakin lebih objektif. (yetede)

Gojek Membeli Saham Hypermart Rp 355 Miliar

HR1 08 Oct 2021 Kompas

Hypermart memerlukan modal untuk terus bertumbuh dan juga untuk mengeksekusi strategi ritel omnichannel dan memperkuat neraca keuangan. PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek membeli saham PT Matahari Putra Prima Tbk, yang merupakan pengelola hipermarket Hypermart. Dana yang dikeluarkan Gojek untuk akuisisi saham ini sekitar Rp 355 miliar. Transaksi tersebut telah diselesaikan pada 4 Oktober 2021. Pemegang saham lama, yaitu PT Multipolar Tbk, menjual saham Matahari Putra Prima sebanyak 6,74 persen kepada Gojek. Adapun harga per saham senilai Rp 700.”Tujuan transaksi adalah untuk investasi dengan status kepemilikan saham langsung,” demikian keterangan CEO Gojek Andre Soelistyo kepada Bursa Efek Indonesia, Kamis (7/10/2021). Sebelumnya, Gojek tidak memiliki saham di Matahari Putra Prima.

Itama Akuisisi Produsen Alat Suntik

HR1 04 Oct 2021 Kompas

Emiten Bursa Efek Indonesia yang bergerak di bidang kesehatan, PT Itama Ranoraya Tbk, memperluas bisnisnya dengan membeli saham PT Oneject Indonesia sebagai bagian transformasinya.Berbagai aksi korporasi masih dilakukan emiten pada paruh kedua tahun ini. Emiten yang bergerak pada bidang kesehatan, PT Itama Ranoraya Tbk, misalnya, memperluas bisnisnya dengan membeli saham PT Oneject Indonesia. Akuisisi ini menjadi bagian dari transformasi Itama menjadi manufacturing high tech di sektor kesehatan.Itama melakukan perjanjian pengikatan jual beli saham bersyarat (PPJB) untuk pembelian atau akuisisi Oneject. Oneject merupakan produsen alat suntik autodisable syringe (ADS). Setelah akuisisi ini selesai, Itama akan menjadi pemegang saham mayoritas di Oneject dengan porsi kepemilikan mencapai 51 persen.

Transaksi pembelian akan dilakukan dalam dua tahapan. Demikian disampaikan manajemen Itama kepada Bursa Efek Indonesia akhir pekan ini. ”Saham Oneject yang akan dibeli terdiri dari saham lama dan juga saham baru. Penerbitan saham baru tersebut ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan modal kerja dan juga belanja modal Oneject,” kata Direktur Utama PT Itama Ranoraya Tbk Heru Firdausi Syarif, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/10/2021).Pada pembelian saham bagian pertama, Itama akan membayar saham tersebut senilai Rp 198,8 miliar saat penandatanganan PJBB. Adapun sumber dana yang digunakan untuk mendanai akuisisi tahap ini berasal dari penjualan 100 juta unit saham simpanan seharga Rp 1.988 per saham.


BI: Posisi Investasi RI Turun Karena Harga Saham Lesu

HR1 29 Sep 2021 CNN Indonesia, 24 September 2021

Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mencatat kewajiban neto sebesar US$264,1 miliar atau sekitar 23,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II 2021. Posisi ini menurun US$3,4 miliar atau 1,27 persen dari US$267,5 miliar yang setara 25,2 persen dari PDB pada kuartal I 2021. Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono mengatakan terjadi peningkatan nilai Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) lebih rendah dari Aset Finansial Luar Negeri (AFLN). Tercatat, KFLN hanya meningkat tipis dari US$677,7 miliar menjadi US$679,1 miliar. Sementara AFLN naik lebih tinggi dari US$410,2 miliar menjadi US$415 miliar.Erwin mengatakan peningkatan KFLN agak tertahan karena harga saham di pasar modal di dalam negeri agak lesu dalam beberapa bulan terakhir.

Adaro "Buyback" Saham hingga Rp 4 Triliun

HR1 29 Sep 2021 Kompas

Emiten pertambangan yang mengelola tambang batubara, PT Adaro Energy Tbk, merencanakan pembelian kembali sahamnya dari pasar. Jumlah saham yang akan dibeli kembali bernilai Rp 4 triliun. Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, dana yang digunakan untuk melakukan buyback tersebut didapatkan dari kas internal. Adaro akan membeli kembali sahamnya secara bertahap dalam periode tiga bulan terhitung sejak 27 September 2021 sampai 26 Desember 2021.Sejak awal tahun ini, harga saham Adaro terpantau menguat 5,59 persen dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 48,30 triliun. Pada awal perdagangan Selasa (28/9/2021), harga saham Adaro naik 9 persen menjadi Rp 1.160 per saham. Sementara itu, emiten lain yang juga sedang melakukan buyback saham adalah PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. Emiten pengelola rumah sakit Mitra Keluarga ini melakukan buyback pada periode 23 Agustus hingga 22 November. Menurur rencana, Mitra Keluarga akan membeli kembali saham sebanyak-banyaknya 83 juta saham.


ISAT dan 3 Merger, Ada Potensi Pendapatan Hingga US$ 3 Miliar

HR1 23 Sep 2021 Kontan, 17 September 2021

PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) dan PT Hutchison Tbk (H3I) bakal menjelma menjadi operator terbesar kedua di Indonesia. Posisi ini bisa diraih setelah keduanya resmi melakukan penggabungan usaha atau merger. Berdasarkan keterangan resmi, Kamis (16/9), induk kedua perusahaan, Ooredoo Q.P.S.C. (Ooredoo Group) dan CK Hutchinson Holdings Limited melakukan penandatanganan dari kesepakatan transaksi definitif atas merger ISAT dan H3I. Penandatanganan ini dilakukan di Doha, Qatar. Ooredoo Group saat ini memiliki 65% saham ISAT melalui Ooredoo Asia. Merger bakal menyebabkan CK Hutchison menerima 21,8% saham ISAT. Pada saat yang bersamaan, PT Tiga Telekomunikasi Indonesia menerima 10,8% saham ISAT dari Ooredoo Group. Bersamaan dengan transaksi tersebut, CK Hutchison akan mendapat 50% saham dari Ooredoo Asia dengan menukar 21,8% sahamnya di Indosat Ooredoo Hutchison untuk 33% saham di Ooredoo Asia. Selain menjadi yang terbesar kedua, entitas hasil merger berpotensi menggarap pasar dengan perkiraan pendapatan tahunan hingga US$ 3 miliar. Keduanya juga bakal mendapat keuntungan berupa sinergi belanja modal. Perusahaan memperkirakan rasio proses (run rate) tahunan sinergi sebelum pajak akan mencapai US$ 300-US$ 400 juta dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

Investasi AAJI di Saham dan RD Tembus Rp 312 Triliun

HR1 17 Sep 2021 Investor Daily, 15 September 2021

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatatkan investasi menembus Rp 312,4 triliun di instrumen saham dan reksa dana (RD) semester I tahun ini, melambung 20,4% dibanding Rp 259,5 triliun periode sama tahun lalu. Lonjakan tersebut mendorong penempatan dana di seluruh instrumen mencapai total Rp 510,5 triliun, meningkat 14,7%. Dari total dana investasi Rp 510,5 triliun yang dikelola 59 perusahaan asuransi jiwa yang bergabung dalam AAJI, yang terbanyak 61,19% ditempatkan pada instrumen saham dan reksa dana. Rinciannya, investasi yang disalurkan melalui instrumen saham tumbuh sekitar 26% (year on year) menjadi Rp 144,79 triliun, sedangkan di reksa dana naik 15,9% (yoy) menjadi Rp 167,58 triliun. Porsi kontribusi dua jenis instrumen tersebut meningkat, masing-masing menjadi 28,4% dan 32,8% dari total investasi industri asuransi jiwa pada semester I tahun ini. “Kenaikan kontribusi pada portofolio saham khususnya, disebabkan oleh kondisi pasar modal Indonesia yang semakin kondusif di semester I-2021. Kondisi tersebut ditandai oleh membaiknya indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 22%, jika dibandingkan dengan periode sama di 2020,” kata Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon dalam konferensi pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Semester I-2021 secara online, Selasa (14/9).

Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI Wiroyo Karsono mengatakan, total penempatan dana investasi industri asuransi jiwa pada semester I-2021 mencapai Rp 510,5 triliun, tumbuh 14,7% dari semester I-2020 senilai Rp 445,2 triliun. Hal ini berjalan seiring dengan peningkatan kinerja industri asuransi yang membaik pada semester pertama tahun 2021. AAJI mencatat, hasil investasi semester I-2021 melambung 122,6%, menjadi Rp 4,9 triliun. Sementara itu, pada periode sama tahun lalu, investasi perusahaan asuransi yang bergabung dalam AAJI tercatat rugi Rp 21,64 triliun. Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon juga menekankan, pada saat pasar saham terkoreksi cukup dalam tahun 2020, industri asuransi jiwa relatif tidak menarik investasinya di pasar saham, meskipun hal ini berimbas pada penurunan investasi AAJI sepanjang tahun lalu. Hal itu seiring koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia. Sementara itu terkait investasi di SBN, lanjut dia, masih dibutuhkan oleh industri asuransi karena memberikan imbal hasil yang cukup stabil.

Berburu Dana Panas Bumi di Lantai Bursa

HR1 17 Sep 2021 Koran Tempo, 3 September 2021

Kementerian Badan Usaha Milik Negara masih mengejar target penawaran saham dua anak usaha PT Pertamina (Persero) ke publik atau IPO pada tahun ini. Keduanya adalah PT Pertamina Geothermal Energy dan PT Pertamina International Shipping. Wakil Menteri BUMN Pahala Mansyuri mengatakan persiapan menuju IPO kedua perusahaan masih terus berjalan. Untuk Pertamina Geothermal, ucap dia, rencana melantai di bursa masih harus menunggu pembentukan induk usaha BUMN panas bumi yang diikuti oleh PT PLN (Persero) dan PT Geo Dipa Energi (Persero). Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, sebelumnya menuturkan integrasi aset tiga perusahaan ini dilakukan untuk mengejar target bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen dari total energi nasional pada 2025. "Pembangkit listrik tenaga panas bumi ini kekuatan besar, jadi harus disatukan," katanya. Cadangan potensi energi panas bumi di dalam negeri mencapai 15.128 megawatt, tapi pemanfaatannya belum optimal karena terkendala dana. Menurut dia, IPO merupakan salah satu jalan keluarnya. 

Head of Center of Food, Energy, and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance, Abra Tallatov, menuturkan rencana IPO kedua subholding Pertamina perlu diperjelas motifnya. Jika hanya untuk mencari pendanaan, IPO memang jalan pintas. Tapi, dalam konteks pengembangan panas bumi, dia menyatakan tak melihat urgensinya. Dia juga menyoroti risiko IPO Pertamina Shipping. Setelah subholding pelayaran terbentuk, Pertamina akan mengalihkan kapal, terminal, serta tangki penyimpanan bahan bakar minyak dan elpiji kepada Pertamina Shipping.  

Traveloka Dikabarkan Batal Listing via SPAC Bridgetown Holdings

HR1 10 Sep 2021 Investor Daily, 8 September 2021

Perusahaan penyedia tiket pesawat dan hotel, Traveloka dikabarkan membatalkan rencana pencatatan saham (listing) di Bursa Efek Amerika Serikat (AS) melalui special purpose acquisition company (SPAC), Bridgetown Holdings Ltd. Sebelumnya, Traveloka disebut-sebut mengincar dana sebesar US$ 400 juta atau sekitar Rp 5,7 triliun dari pencatatan saham di Bursa Efek AS. Pencatatan saham akan dilakukan melalui merger dengan Bridgetown Holdings. Merger tersebut akan meningkatkan valuasi Traveloka menjadi US$ 5 miliar. Adapun Bridgetown Holdings merupakan SPAC yang disokong oleh taipan Richard Li dan Peter Thiel. Pada Oktober 2020, Bridgetown berhasil menggalang dana sebesar US$ 595 juta dari IPO di AS. Penggalangan dana ini membuat Bridgetown menjadi SPAC terbesar di Asia Tenggara. 

Saat ini, valuasi Traveloka diperkirakan sudah kembali sebesar US$ 5 miliar atau di level sebelum terjadi pandemi. Valuasi tersebut bisa menguntungkan para investor Traveloka seperti Expedia, GIC, East Ventures, Sequoia Capital, dan Global Founders Capital.Di tengah pandemi, Traveloka masih bisa menghimpun dana sekitar US$ 250 juta. Traveloka sudah melakukan ekspansi ke tujuh negara dan mengakuisisi tiga perusahaan yang merupakan kompetitor langsung seperti Pegipegi di Indonesia, Mytour di Vietnam, dan TravelBook di Filipina. 

Jumlah Investor Saham Baru Bertambah 1 Juta dalam 8 Bulan

Sajili 03 Sep 2021 Sinar Indonesia Baru

Sejak awal tahun hingga 31 Agustus 2021 tercatat jumlah investor saham baru bertambah sebanyak 1 juta single investor identification (SID). Bursa Efek Indonesia mencatat per akhir bulan lalu total sudah terdapat sekitar 2,7 juta SID saham.

Adapun jumlah pertumbuhan investor saham baru itu melonjak hanya dalam delapan bulan saja pada tahun ini. Bila dibandingkan dengan tahun 2020 lalu dengan 590.658 SID, maka jumlah investor saham baru hingga akhir Agustus lalu itu meningkat hampir dua kali lipat.

Inarno menyebutkan lonjakan jumlah investor baru itu karena optimalisasi digital yang dimulai sejak tahun 2019 dan dilanjutkan dengan sinergi serta kolaborasi bersama seluruh pemangku kepentingan pasar modal.

Jumlah investor baru pasar modal sampai dengan 31 Agustus 2021 mencapai 2,22 juta investor. Artinya, angka itu naik hampir dua kali lipat dari pencapaian tahun lalu, sehingga total investor pasar modal saat ini adalah 6,1 juta investor.


Pilihan Editor