;
Tags

Saham

( 1722 )

Kinerja Emiten Grup Triputra Ditopang CPO dan Logistik

HR1 24 Nov 2021 Kontan

Grup Tiputra berencana mengantarkan salah satu entitasnya yang bergerak di bidang otomotif ke Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Dharma Polimetal. Di pasar modal, saham-saham Grup Triputra disebut memiliki prospek yang baik, bersamaan dengan kinerja dan prospek yang baik pula. Di sektor minyak sawit (CPO), Grup Triputra mencatatkan saham Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG). Kinerja penjualan dan laba kedua perusahaan ini positif hingga akhir kuartal III-2021 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Konglomerat dalam Peta Baru Juragan Bank Kecil

HR1 10 Nov 2021 Kontan, 9 November 2021

Pemenuhan aturan modal minimum menjadi alasan bank kecil untuk membuka pintu bagi kehadiran pemodal baru, termasuk konglomerat dari dalam negeri.  Setelah Chairul Tanjung mengambilalih Allo Bank, kini muncul pengambilalihan 93% saham PT Bank Fama International senilai US$ 908,9 miliar oleh Emtek Grup. Allo Bank yang akan dikembangkan jadi bank digital akan menggelar rights issue pada Desember mendatang guna memenuhi aturan modal inti dengan menerbitkan 10 miliar saham atau 46,24% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Harganya telah ditetapkan Rp 478 per lembar. Namun, CT Group selaku pemegang 90% saham Allo Bank hanya akan mengeksekusi 30% dari seluruh haknya. Selebihnya akan dialihkan ke beberapa investor strategis. Sehingga kepemilikan CT akan berkurang jadi 60,8%. 

EMTK Membeli Saham Raffi Ahmad

HR1 09 Nov 2021 Kontan

Emtek Grup alias PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) kini menggenggam saham di Rans Entertaiment yang didirikan oleh artis kondang Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Grup EMTK berkolaborasi dengan Rans Entertaiment lewat unit bisnis di anak perusahaannya, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Direktur PT Surya Citra Media Tbk, Sutanto Hartono mengungkapkan, melalui anak usahanya, yaitu Indonesia Entertaiment Group (IEG), SCMA telah menyuntikkan investasi kepada Rans Entertaiment. Sayang, Sutanto belum membeberkan berapa nilai investasi dan juga porsi saham yang saat ini digenggam SCMA.

Pasar Bersiap Hadapi Tapering AS

HR1 01 Nov 2021 Kontan

Pasar saham diyakini lebih tenang menghadapi pengumuman tapering off dari bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve. The Fed dijadwalkan menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa-Rabu pekan ini waktu setempat. Pada pertemuan sebelumnya, The Fed menyatakan akan melakukan pengurangan pembelian obligasi, yang bisa dimulai November atau Desember tahun ini, sehingga selesai di pertengahan 2022. Pengurangannya bertahap, sekitar US$ 10 miliar untuk obligasi negara dan US$ 5 miliar MBS per bulan. Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus juga yakin pelaku pasar sudah siap menerima keputusan The Fed untuk melakukan tapering. Apalagi, inflasi AS yang terjaga di atas 2%. "Tidak mungkin The Fed menaikkan suku bunga tanpa adanya tapering," tutur Nico. 

Gurih Saham Juragan Menara

IDR 25 Oct 2021 Koran Tempo

Tempo, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal kedatangan emiten baru di pengujung tahun ini. PT. Dayamitra Telekomunikasi (Miratel), anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), akan menggelar penawaran saham perdana (initial public offering/IPO). Mitratel memiliki peluang merebut investor, apalagi saat ini telah ada dua investor institusi yang berkomitmen untuk masuk. Mitratel dinilai bakal menjadi pesaing berat emiten telekomunikasi yang lebih dulu melantai di BEI. Mitratel bakal menggelar IPO dengan target perolehan dana US$ 1-1,4 miliar atau sekitar Rp 14-19,6 triliun. Wakil Menteri BUMN mengatakan Mitratel siap melepas 25 persen saham ke publik. Pengumuman penawaran saham perdana Mitratel layak dicermati investor karena memiliki prospek valuasi yang menarik di masa depan. 

Dukungan Telkom sebagai induk usaha turut menambah kekuatan Mitratel. Pada September lalu, aset menara telekomunikasi Mitratel bertambah 4.000 unit yang berasal dari anak usaha Telkom lainnya, yaitu PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel). Kesepakatan alih aset tersebut dituangkan dalam perjanjian jual-beli yang dilakukan kedua perusahaan. Dengan pengalihan tersebut, Mitratel memiliki lebih dari 28 ribu menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Pertumbuhan menara telekomunikasi Mitratel mencapai 45 persen secara tahunan dengan tenancy ratio 1,57 kali. Angka ini naik dari Juni 2020 yang mencapai 1,54 kali.

Saham Properti Segera bangkit

KT1 18 Oct 2021 Investor Daily

Mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)  rebound hingga mendongkrak indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level 6,633 diakhir pekan lalu, Jum'at (15/10/2021). Sentimen positif yang kini masih menyelimuti para pelaku pasar  bakal mendongkrak Indeks hingga menembus level 7.000 diakhir tahun 2021. Hampir semua disektor BEI mengalami kenaikan indeks , kecuali industri pasar, konsumen nonsiklus, dan properti, Indeks Sektor Properti selama Januari 15 Oktober 2021 minus 8,95%. Pada periode yang sama, IHSG naik 10,94% dan saham-saham berkapitalis besar yang tergabung dalam LQ-45 meningkat  meningkat 3,99%. Lonjakaan tertinggi terjadi pada  saham sama big tech. Indeks Teknologi melonjak 710,64%.

Penjualan rumah  tapak LPKR selama kuartal ketiga 2021 boleh disebut sebagai indikasi kebangkitan real estate dan properti Indonesia pada umumnya. Ada sejumlah faktor yang membuat sektor properti bangkit. Pertama, penanganan pandemi Covid-19 sudah menunjukkan hasil. Sudah lebih dari enam pekan kasus baru Covid melandai. Angka kasus aktif yang sempat di atas 550.000, kini sudah di bawah 20.000 dan positivity rate di bawah 1%. Penduduk Indonesia yang dua kali vaksin sudah mencapai 26%.

Kedua, saat ini terdapat 11 juta rumah tangga yang belum memiliki rumah layak huni. Dari jumlah itu, 7,6 juga adalah backlog atau rumah yang belum dibangun. Sisanya, 2,3 juta adalah rumah tidak layak huni. Kepemilikan rumah di Indonesia baru 84%, lebih rendah dibandingkan India yang sudah mencapai 86,6%. Di DKI Jakarta, homeownership justru baru 46%. PDB per kapita India pada tahun 2020 hanya US$ 1.900, sedangkan PDB per kapita Indonesia di tahun yang sama US$ 3.900. Data ini menunjukkan, prospek bisnis properti di Indonesia sangat cerah.

Ketiga, tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) sudah cukup rendah, yakni di bawah 6%. Dengan bunga KPR yang sudah menurun jauh dari masa sebelum pandemi, masyarakat dipermudah untuk mendapatkan rumah. Perbankan kini berlomba memberikan KPR.

Keempat, pemerintah terus mendorong kemajuan properti. Selain kontribusinya yang mencapai 15% terhadap PDB, pembangunan properti memengaruhi sekitar 170 jenis industri. Setiap pembangunan properti membutuhkan semen, kawat, baja, cat, kaca, dan sebagainya. Untuk menggerakkan ekonomi, sektor properti akan dipacu dengan sejumlah insentif oleh pemerintah.

Kinerja perusahaan sektor properti mulai membaik dan akan terus membaik pada tahun 2022. Sebagai leading indicator, harga saham sektor properti akan terangkat mulai kuartal keempat tahun ini.

Dana Asing Masih Mengalir ke Pasar Saham

KT1 11 Oct 2021 Investor Daily

Dana asing diperkirakan masih akan mengalir ke pasar saham Indonesia hingga akhir 2021, Sejumlah faktor yang mendorong masuknya dana asing (inflow) diantaranya window dressing pada akhir tahun, valuasi harga saham domestik yang masih murah, penurunan kasus Covid-19, lonjakan harga komoditas serta kinerja perekonomian nasional pada kuartal IV-2021 yang diprediksi naik signifikan. Berdasarkan Bursa Efek Jakarta (BEI), investor asing mencatat beli bersih (net buy) di saham sebesar Rp12,4 triliun selama enam hari berdagang terakhir, sehingga secara year to date (ytd) hingga 8 Oktober 2021 mencapai Rp28,38 triliun.

Aksi beli bersih investor asing sebesar Rp 2,42 triliun pada perdagangan Jum'at (8/10) lalu turut mendongkrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 65,37 poin (1,02%) ke posisi 6,481,77 semenetara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 14,63 point (1,69%) ke posisi 939,88. Secara ytd, IHSG menguat 8,41% dan LQ45 naik 0,53%. Pengamat dan praktisi pasar modal yang juga founder CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto meyakini, dana asing akan mengalir deras ke pasar saham mau pun surat utang negara (SUN) hingga akhir tahun.

Lebih lanjut, hingga akhir tahun, Fendi memprediksikan IHSG bisa tembus level 6.600-7.000. Hal tersebut juga didorong oleh dana asing yang akan menjadi katalis dan kegairahan investor domestik untuk masuk ke pasar saham.  Apalagi investor asing cenderung realitas dalam menganalisa saham. Di sisi lain, untuk pasar obligasi, investor asing, menurut Fendi,  juga akan melirik untuk menempatkannya di Indonesia. Kenaikan dana asing di pasar surat utang juga akan terjadi hingga akhir tahun ini dengan alasan yang sama dengan pasar saham.

Kepala Riset Henan Putihrai sekuritas Robertus Yanuar Hardy mencermati dana asing yang mengaliar deras ke pasar saham Indonesia  dipengaruhi oleh sentimen global yang cukup stabil terutama  setelah adanya kepastian Amerika Serikat tidak akan mengalami goverment shutdown hingga Desember 2021. Meski demikian sentimen regional masih dibayangi ketidakpastian kasus gagal bayar perusahaan property Tiongkok, Evergrande. Sementara dari sisi domestik, aliran dana asing juga disebabkan oleh sistem pembobotan IHSG baru yang sudah diberlakukan berdasarkan free float sehingga penilain indeks semakin lebih objektif. (yetede)

Gojek Membeli Saham Hypermart Rp 355 Miliar

HR1 08 Oct 2021 Kompas

Hypermart memerlukan modal untuk terus bertumbuh dan juga untuk mengeksekusi strategi ritel omnichannel dan memperkuat neraca keuangan. PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek membeli saham PT Matahari Putra Prima Tbk, yang merupakan pengelola hipermarket Hypermart. Dana yang dikeluarkan Gojek untuk akuisisi saham ini sekitar Rp 355 miliar. Transaksi tersebut telah diselesaikan pada 4 Oktober 2021. Pemegang saham lama, yaitu PT Multipolar Tbk, menjual saham Matahari Putra Prima sebanyak 6,74 persen kepada Gojek. Adapun harga per saham senilai Rp 700.”Tujuan transaksi adalah untuk investasi dengan status kepemilikan saham langsung,” demikian keterangan CEO Gojek Andre Soelistyo kepada Bursa Efek Indonesia, Kamis (7/10/2021). Sebelumnya, Gojek tidak memiliki saham di Matahari Putra Prima.

Itama Akuisisi Produsen Alat Suntik

HR1 04 Oct 2021 Kompas

Emiten Bursa Efek Indonesia yang bergerak di bidang kesehatan, PT Itama Ranoraya Tbk, memperluas bisnisnya dengan membeli saham PT Oneject Indonesia sebagai bagian transformasinya.Berbagai aksi korporasi masih dilakukan emiten pada paruh kedua tahun ini. Emiten yang bergerak pada bidang kesehatan, PT Itama Ranoraya Tbk, misalnya, memperluas bisnisnya dengan membeli saham PT Oneject Indonesia. Akuisisi ini menjadi bagian dari transformasi Itama menjadi manufacturing high tech di sektor kesehatan.Itama melakukan perjanjian pengikatan jual beli saham bersyarat (PPJB) untuk pembelian atau akuisisi Oneject. Oneject merupakan produsen alat suntik autodisable syringe (ADS). Setelah akuisisi ini selesai, Itama akan menjadi pemegang saham mayoritas di Oneject dengan porsi kepemilikan mencapai 51 persen.

Transaksi pembelian akan dilakukan dalam dua tahapan. Demikian disampaikan manajemen Itama kepada Bursa Efek Indonesia akhir pekan ini. ”Saham Oneject yang akan dibeli terdiri dari saham lama dan juga saham baru. Penerbitan saham baru tersebut ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan modal kerja dan juga belanja modal Oneject,” kata Direktur Utama PT Itama Ranoraya Tbk Heru Firdausi Syarif, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/10/2021).Pada pembelian saham bagian pertama, Itama akan membayar saham tersebut senilai Rp 198,8 miliar saat penandatanganan PJBB. Adapun sumber dana yang digunakan untuk mendanai akuisisi tahap ini berasal dari penjualan 100 juta unit saham simpanan seharga Rp 1.988 per saham.


BI: Posisi Investasi RI Turun Karena Harga Saham Lesu

HR1 29 Sep 2021 CNN Indonesia, 24 September 2021

Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mencatat kewajiban neto sebesar US$264,1 miliar atau sekitar 23,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II 2021. Posisi ini menurun US$3,4 miliar atau 1,27 persen dari US$267,5 miliar yang setara 25,2 persen dari PDB pada kuartal I 2021. Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono mengatakan terjadi peningkatan nilai Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) lebih rendah dari Aset Finansial Luar Negeri (AFLN). Tercatat, KFLN hanya meningkat tipis dari US$677,7 miliar menjadi US$679,1 miliar. Sementara AFLN naik lebih tinggi dari US$410,2 miliar menjadi US$415 miliar.Erwin mengatakan peningkatan KFLN agak tertahan karena harga saham di pasar modal di dalam negeri agak lesu dalam beberapa bulan terakhir.

Pilihan Editor