;
Tags

Saham

( 1717 )

Berburu Saham di Tahun Macan

HR1 27 Jan 2022 Kontan

Berdasarkan kalender China, tak lama lagi tahun kerbau logam akan berganti menjadi tahun macan air. Tak ada salahnya Anda mencermati peruntungan saham tahun ini berbasis feng shui. CEO Arah Investasi Mandiri Hendra Martono Liem menambahkan, tahun macan air akan lebih harmonis ketimbang kerbau logam, Yang air melambangkan samudera yang penuh kuasa, intelegensi, antusias, dan pionir. Sehingga, sektor yang bergerak di bisnis komunikasi, intelektualitas dan logika akan menguasai pasar selama enam bulan pertama 2022. CLSA dalam CLSA Feng Shui Index 2022, juga menyebut, berdasar feng shui, industri berunsur air akan berjaya di tahun ini. Sektor yang bisa diperhatikan di antaranya sektor yang menerapkan prinsip environtment, social & good governance (ESG). 

Saham Bank Merah Jelang Aksi Korporasi

HR1 26 Jan 2022 Kontan

Beberapa emiten perbankan siap melakukan aksi korporasi di tahun ini. Namun, harga saham-saham bank ini malah cenderung lemas. Ambil contoh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang berencana mengakuisisi Bank Mayora dalam upaya untuk mendirikan bank digitalnya. Sepekan terakhir, harga saham BBNI melorot 3,89%. Pada penutupan perdagangan Selasa (25/1) sahamnya turun 4,23% ke Rp 6.800. Selain itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga berencana menggelar aksi korporasi dengan melakukan pembelian kembali atau buyback saham. Dana yang disiapkan mencapai Rp 3 triliun. Periode buyback direncanakan pada 1 Maret 2022-31 Agustus 2023. Tapi saham BBRI juga turun 2,86% dalam sepekan. Kemarin harganya merosot 1,21% ke Rp 4.070.

Nasib sama juga dirasakan beberapa bank lain yang berencana menggelar aksi korporasi. Ambil contoh PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) yang berencana menggelar penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement bulan ini. Dari aksi korporasi ini, BABP mengincar dana segar Rp 325 miliar. Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga berencana menerbitkan sukuk hijau sekitar Rp 1 triliun pada semester I-2022. Dalam sepekan terakhir, saham BABP merosot 4,38% dan BNGA turun 1,55%.


Lebih Selektif Saat Pasar Tertekan

HR1 26 Jan 2022 Kontan

Sejumlah tekanan membayangi pasar keuangan dalam negeri. Selain dari meningkatnya kasus Covid-19, pasar juga tertekan kebijakan pengetatan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve. Dalam dua hari terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,35%. Ditengah kondisi ini, investor dinilai perlu lebih selektif dalam memilih instrumen investasi. Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi mengatakan, pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, masih akan tertekan dalam jangka pendek.  

Adu Kilau Saham Emiten Logam

HR1 25 Jan 2022 Bisnis Indonesia

Harga saham di kelompok komoditas logam seperti emas, perak, tembaga, nikel dan aluminium terus mengilap pada awal 2022. Ini sejalan dengan tingginya permintaan kelompok komoditas tersebut di pasar global yang mengatrol harga logam. Investor mulai pasang kuda-kuda untuk tetap berada di jalur hoki. Menurut data Bloomberg, harga sejumlah komoditas logam tersebut tercatat mengalami kenaikan sepanjang tahun berjalan atau year-to-date (YtD) hingga Senin (24/1).

Saham produsen nikel, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) misalnya, meningkat 6,62% YtD dan ditutup di level 4.990 pada perdagangan kemarin. Demikian pula dengan produsen emas, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang menyundul 9,48% dalam periode yang sama, dan ditutup pada level 127 pada perdagangan Senin (24/1). Emiten emas lainnya yaitu PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) tercatat juga meningkat kendati tipis yaitu sebesar 0,51% YtD ke level 3.910. Namun, ketiga emiten ini menjadi empat emiten teratas penggerak IDX Basic Materials setelah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA). Saham-saham ketiga emiten ini berada di rumpun IDX Basic Materials. Rumpun ini juga diisi oleh emiten berbasis industri kimia, semen, pertambangan mineral, dan industri kertas.


Komoditas dan Rekor Indeks Saham

KT3 24 Jan 2022 Kompas

Sepanjang pekan lalu, pergerakan IHSG berfluktuasi, tetapi akhirnya indeks menguat, bahkan menutup perdagangan dengan rekor. IHSG Jumat (22/1/2022) naik 0,49 % menjadi 6.726,3. Mengalahkan rekor sebelumnya di level 6.723 pada 22 November 2021. Sementara untuk rekor intraday belum terkalahkan pada posisi 6.754 pada 22 November 2021. Kapitalisasi BEI naik 1,22 % menjadi Rp 8.463 triliun dari Rp 8.360 triliun pada pekan sebelumnya.Penguatan saham emiten sektor komoditas menjadi pendorong, hal ini tidak terlepas dari kenaikan harga beberapa produk komoditas. Harga CPO  masih terus naik. Kontrak CPO berjangka 3 bulan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange naik 3,12% menjadi MYR 5.322 ringgit per ton, level tertinggi CPO yang pernah ada.

Batubara, yang pertengahan pekan lalu melemah, bangkit lagi pada akhir pekan di atas 210 USD per ton. Harga kontrak berjangka batubara ICE Newcastle ditutup naik 4,29 % menjadi 214,95 USD per ton. Jika memperhatikan grafik indeks komoditas, seperti grafik Commodity Research Bureau (CRB) Index, kenaikan sudah terlihat sejak 2020. Terlihat jelas korelasi positif indeks komoditas CRB dan IHSG. Dalam 6 bulan terakhir, kinerja IHSG tercatat naik 11,5 %, melampaui kinerja indeks S&P 500 yang bertumbuh 2,8 % dalam 6 bulan terakhir. Di tengah kekhawatiran lonjakan kasus Covid-19 akibat varian Omicron, kenaikan harga komoditas masih menjadi pendorong kenaikan indeks saham pekan ini. (Yoga)


Ketidakpastian Datang, Kurangi Aset Beresiko

HR1 24 Jan 2022 Kontan

Sejumlah sentimen menyumbang ketidakpastian di pasar saham Tanah Air. Pertama, percepatan kebijakan tapering bank sentral Amerika Serikat (AS). Bank Sentral AS, Federal Reserve, pada Desember 20221 membahas percepatan tapering menjadi US$ 30 miliar per bulan mulai Januari 2022 dan berakhir pada Maret 2022. Kedua, rencana kenaikan bunga AS. Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar pekan ini diperkirakan membahas kenaikan bunga AS lebih cepat dibanding perkiraan. Analis B-Trade Raditya Krisna Pradana menilai, kebijakan AS berpotensi melemahkan rupiah. Kenaikan bunga AS menjadi katalis negatif bagi pasar saham lantaran investor akan cenderung memilih dollar AS sebagai instrumen investasi. Ketiga, kenaikan kasus Covid-19 dan penyebaran omicron di Indonesia. Meski omicron tidak terlalu mematikan seperi varian delta, penyebarannya yang cepat menjadi kekhawatiran pasar.


Saham Bank Konvensional Merespon Positif Bunga BI

HR1 21 Jan 2022 Kontan

Saham perbankan merespons positif keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 3,50%. Kamis (20/1) saham-saham bank konvensional mayoritas ditutup di zona hijau. Saham BBCA ditutup menguat 1,30% jadi Rp 7.775, BMRI naik 2,14% ke Rp 7.175, dan BBNI naik 0,70% menjadi Rp 7.150. Hanya BBRI yang ditutup stagnan di Rp 4.130. Keputusan BI mempertahankan suku bunga ini menghalau kekhawatiran akan ada penurunan kredit bank karena bunga yang lebih tinggi. Kredit perbankan bisa tumbuh seperti ekspektasi, 8%-10% di tahun ini, lebih tinggi dari 2021 yang sebesar 5,2%.

Rotasi Sektor, Market Cap Emiten Menyusul

HR1 21 Jan 2022 Kontan

Banyak saham yang mengalami penurunan harga tahun ini. Akibatnya kapitalisasi pasar banyak juga merosot. Sejak awal tahun, ada 453 saham yang kapitalisasi pasarnya anjlok. Saham yang mencatatkan kehilangan market cap terbesar adalah Indo Komoditi Korpora (INcF). Dengan penurunan kapitalisasi pasar hingga Rp 234,45 miliar, INCF kehilangan hampir 60% kapitalisasinya tahun ini. Selain INCF, emiten yang terus berlanjut kehilangan kapitalisasi pasarnya dari akhir September lalu antara lain MPPA, IPTV, dan MLPL. Jika ditarik selama empat bulan terakhir, market cap ketiganya turun 71,68%, lalu 68,91%, dan 60,70%. Analisi Panin Sekuritas William Hartanto juga menambahkan, aksi profit taking dan rotasi sektor menekan kapitalisasi pasar sejumlah saham. Diantaranya saham-saham di sektor teknologi, William masih merekomendasikan untuk wait and see.

Saham Lapis Kedua Mulai Dijual

HR1 20 Jan 2022 Kontan

Sejumlah saham lapis dua dan tiga masih lesu di awal tahun ini. Indeks SMC Composite tercatat terkoreksi sebesar 2,61% sejak akhir tahun lalu hingga Rabu (19/1). Saham-saham yang menjadi pemberat indeks ini antara lain PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) dengan koreksi sebesar 55,95% year to date (ytd), disusul PT Pollux Properties Indonesia Tbk (POLL) yang mencatatkan penurunan 53,44% ytd, dan saham PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang turun 41,47%. Menilik data BEI, hanya saham lapis dua dan tiga di sektor energi dan keuangan yang mencatatkan penguatan. Tapi kedua sektor ini tak dapat mengangkat indeks IDX SMC Composite lantaran bobotnya hanya 36% dari indeks. "Minim sentimen positif jadi alasan saham-saham small medium cap mengalami penurunan," tutur Kepala Riset Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, Rabu (19/1).


Kecemasan Kasus Omicron Menjegal January Effect

HR1 19 Jan 2022 Kontan

Bagaikan de javu, bursa saham kembali dihantui kecemasan adanya gelombang besar kasus infeksi Covid-19. Kali ini, kasus varian baru omicron yang semakin bertambah, dikhawatirkan akan membuat kegiatan masyarakat kembali diperketat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun kembali berkubang di zona merah kemarin. Pada perdagangan Selasa (18/1), IHSG sempat jatuh hingga menyentuh level 6.534,27 pada sesi pertama perdagangan. Untunglah, di sesi kedua, IHSG berhasil mempersempit pelemahan dan ditutup cuma turun 0,47% ke level 6.614,05. Penurunan IHSG kemarin memperberat pergerakan IHSG yang sudah lesu sejak seminggu terakhir. Dalam sepekan ke belakang, IHSG mencetak penurunan 0,51%. Penurunan indeks saham ini juga mengindikasikan January effect di IHSG terhenti.


Pilihan Editor