Saham
( 1722 )Usai Restruksiturisasi Utang, PBRX RIght Issue Semester II
Emiten tekstil, PT Pan Brothers Tbk (PBRX) akan melakukan aksi korporasi tahun ini dengan menggelar right issue atau penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu. PBRX membidik dana sebesar US$ 50 juta dari rights issue tersebut. Seluruh dana hasil rights issue akan digunakan sebagai modal kerja. Pihak PBRX pun yakin pasar akan mampu menyerap penerbitan saham baru yang dilakukan oleh perusahaan ini. Standby buyer rights issue kami sudah ada, imbuh dia tanpa menyebut nama investor strategis tersebut. Optimisme PBRX atas prospek kinerja tahun ini dan selanjutnya tak lepas dari adanya pendanaan bilateral dari perbankan untuk modal kerja perusahaan ini. Saat ini, total fasilitas kredit yang dimiliki PBRX berkisar antara US$ 43 juta-US$ 45 juta dari HSBC, Maybank, UOB, serta Bank Permata dengan jangka waktu pinjaman dua tahun.
January Effect Terganjal The Fed
January effect nampaknya belum terjadi pada awal tahun ini. Menjelang penghujung Januari 2022, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik 0,97% ke level 6.645,51, pada penutupan bursa, Jumat (28/1). Jika dibandingkan performa IHSG pada Januari 2020 dan 2021 yang negatif, kinerja indeks di bulan ini masih lebih baik. Tapi, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, IHSG biasanya naik cukup kencang setiap Januari. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, IHSG belum dapat menguat signifikan pada Januari 2022 karena dipengaruhi sikap pelaku pasar yang menanti kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Oleh sebab itu, bisa dikatakan bahwa January effect tidak terjadi pada tahun ini. Senada, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, IHSG pada Januari 2022 tertahan oleh sikap investor yang menunggu kepastian terkait seberapa agresif The Fed dalam menaikkan suku bunga acuannya. Meskipun begitu, ia menilai january effect masih ada meski dampaknya tidak signifikan.
Ekspansi HRUM
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengubah komposisi keanggotaan saham dalam indeks LQ45 periode Februari-Juli 2022. Dalam evaluasi mayor kali ini, ada lima anggota baru. Saham-saham anggota baru indeks LQ45 terdiri dari AMRT, BFIN, HRUM, dan WSKT. Dari kelima saham anggota baru indeks LQ45, analis menjagokan PT Harum Energy Tbk (HRUM) paling menarik. Dia bilang, HRUM ekspansif ke bisnis dengan mengakuisisi pertambangan nikel.
Menguji Daya Tahan Indeks Komposit
Kendati bergerak fluktuatif sepanjang awal tahun, indeks harga saham gabungan atau IHSG masih tetap mencatatkan pertumbuhan moderat sebesar 0,45% selama bulan berjalan (month to date/mtd) Januari 2022. Pada perdagangan kemarin (27/1), indeks komposit ditutup menguat di level 6.611,16. Tercatat, 215 saham menguat, 317 saham terkoreksi, dan 141 saham bergerak di tempat. Investor asing dalam perdagangan kemarin masih membukukan aksi jual bersih senilai total Rp172,55 miliar. Penguatan indeks di pasar domestik bertolak belakang dengan tren pergerakan di bursa Asia Pasifik yang mayoritas anjlok kemarin. Hal itu dipengaruhi langsung oleh pernyataan kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed yang diumumkan Kamis dini hari.
Peluang Penguatan Saham Konstruksi
Saham emiten konstruksi memiliki potensi penguatan di tahun ini. Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur bakal mendorong kontrak emiten sektor ini, terutama bagi perusahaan BUMN. Analis UOB KayHian Selvi Ocktaviani dalam risetnya menulis, tahun ini akan ada kenaikan kontrak baru sekitar 20%-40% dibanding 2021. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael dalam risetnya, Senin (24/1), memaparkan, ada beberapa faktor positif bagi emiten konstruksi paruh pertama tahun ini.
Peluang Melanjutkan Rebound
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,16% ke level 6.611,16 pada perdagangan Kamis (27/1). Ada peluang IHSG melanjutkan penguatan pada Jumat (28/1) ini. Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan juga memperkirakan, rebound IHSG masih berlanjut ke kisaran 6.650 pada perdagangan di akhir pekan ini. "Indikator stochastic RSI memasuki oversold area, sementara MACD berpotensi membentuk golden cross," tulis dia dalam risetnya, Kamis (27/1). Adapun hari ini IHSG akan bergerak antara support di 6.580 dan resistance di 6.650. Valdy pun memperkirakan pergerakan IHSG lebih stabil di akhir pekan nanti. Ini tidak terlepas dari respons pelaku pasar terhadap hasil FOMC, yang salah satunya mengindikasikan Fed Fund rate akan naik di bulan Maret 2022. Sentimen ini telah terefleksi dari fluktuasi IHSG di awal perdagangan Kamis (27/1).
Berburu Saham di Tahun Macan
Berdasarkan kalender China, tak lama lagi tahun kerbau logam akan berganti menjadi tahun macan air. Tak ada salahnya Anda mencermati peruntungan saham tahun ini berbasis feng shui. CEO Arah Investasi Mandiri Hendra Martono Liem menambahkan, tahun macan air akan lebih harmonis ketimbang kerbau logam, Yang air melambangkan samudera yang penuh kuasa, intelegensi, antusias, dan pionir. Sehingga, sektor yang bergerak di bisnis komunikasi, intelektualitas dan logika akan menguasai pasar selama enam bulan pertama 2022. CLSA dalam CLSA Feng Shui Index 2022, juga menyebut, berdasar feng shui, industri berunsur air akan berjaya di tahun ini. Sektor yang bisa diperhatikan di antaranya sektor yang menerapkan prinsip environtment, social & good governance (ESG).
Saham Bank Merah Jelang Aksi Korporasi
Beberapa emiten perbankan siap melakukan aksi korporasi di tahun ini. Namun, harga saham-saham bank ini malah cenderung lemas. Ambil contoh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang berencana mengakuisisi Bank Mayora dalam upaya untuk mendirikan bank digitalnya. Sepekan terakhir, harga saham BBNI melorot 3,89%. Pada penutupan perdagangan Selasa (25/1) sahamnya turun 4,23% ke Rp 6.800. Selain itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga berencana menggelar aksi korporasi dengan melakukan pembelian kembali atau buyback saham. Dana yang disiapkan mencapai Rp 3 triliun. Periode buyback direncanakan pada 1 Maret 2022-31 Agustus 2023. Tapi saham BBRI juga turun 2,86% dalam sepekan. Kemarin harganya merosot 1,21% ke Rp 4.070.
Nasib sama juga dirasakan beberapa bank lain yang berencana menggelar aksi korporasi. Ambil contoh PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) yang berencana menggelar penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement bulan ini. Dari aksi korporasi ini, BABP mengincar dana segar Rp 325 miliar. Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga berencana menerbitkan sukuk hijau sekitar Rp 1 triliun pada semester I-2022. Dalam sepekan terakhir, saham BABP merosot 4,38% dan BNGA turun 1,55%.
Lebih Selektif Saat Pasar Tertekan
Sejumlah tekanan membayangi pasar keuangan dalam negeri. Selain dari meningkatnya kasus Covid-19, pasar juga tertekan kebijakan pengetatan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve. Dalam dua hari terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,35%. Ditengah kondisi ini, investor dinilai perlu lebih selektif dalam memilih instrumen investasi. Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi mengatakan, pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, masih akan tertekan dalam jangka pendek.
Adu Kilau Saham Emiten Logam
Harga saham di kelompok komoditas logam seperti emas, perak, tembaga, nikel dan aluminium terus mengilap pada awal 2022. Ini sejalan dengan tingginya permintaan kelompok komoditas tersebut di pasar global yang mengatrol harga logam. Investor mulai pasang kuda-kuda untuk tetap berada di jalur hoki. Menurut data Bloomberg, harga sejumlah komoditas logam tersebut tercatat mengalami kenaikan sepanjang tahun berjalan atau year-to-date (YtD) hingga Senin (24/1).
Saham produsen nikel, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) misalnya, meningkat 6,62% YtD dan ditutup di level 4.990 pada perdagangan kemarin. Demikian pula dengan produsen emas, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang menyundul 9,48% dalam periode yang sama, dan ditutup pada level 127 pada perdagangan Senin (24/1). Emiten emas lainnya yaitu PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) tercatat juga meningkat kendati tipis yaitu sebesar 0,51% YtD ke level 3.910. Namun, ketiga emiten ini menjadi empat emiten teratas penggerak IDX Basic Materials setelah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA). Saham-saham ketiga emiten ini berada di rumpun IDX Basic Materials. Rumpun ini juga diisi oleh emiten berbasis industri kimia, semen, pertambangan mineral, dan industri kertas.









