Saham
( 1717 )Investor Mulai Lepas Saham Teknologi
Pamor saham-saham teknologi mulai meredup. Dalam tiga bulan terakhir, indeks saham sektor teknologi anjlok hingga 15%, terburuk dibandingkan indeks saham sektoral lainnya. Sementara dalam sebulan terakhir, penurunan indeks saham sektor teknologi sebesar 9,67%. Saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) tercatat mengalami penurunan paling dalam selama tiga bulan terakhir. Kemarin, BUKA kembali menyentuh batas auto reject bawah alias ARB pada perdagangan sesi pertama, dengan penurunan sebesar 6,58% jadi Rp 426 per saham.
Tekanan Belum Reda, Saham BUKA Jatuh Hingga Kena ARB
Saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) semakin longsor. Pada perdagangan Senin (6/12), saham BUKA terkoreksi 6,945% ke Rp 456 dan terkena auto rejection bawah (ARB). Ini artinya, saham BUKA sudah melorot 46,35% dari harga IPO Rp 850. Pada sembilan bulan pertama tahun ini, BUKA mampu mengurangi kerugian bersih menjadi Rp 1,1 triliun. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, BUKA menanggung rugi Rp 1,4 triliun. Pendapatan BUKA pada periode itu juga masih tumbuh 42% yoy menjadi Rp 1,3 triliun. Secara teknikal, analis teknikal Henan Putihrai Sekuritas Mayang Anggita menyebut, saham BUKA bergerak downtrend di dalam pola parallel channel, dengna kondisi saat ini menghadapi uji support pada lower channel di Rp 456. Target konservatif berada pada MA10, Rp 560.
Pasar Saham Lebih Optimistis Tahun Depan
Tahun depan, pasar saham berpeluang bergerak bullish, seiring dengan peluang membaiknya perekonomian. Meski demikian, pelaku pasar tetap akan mencermati dampak varian baru Covid-19 yang berpeluang membuat lonjakan kasus infeksi korona secara global. Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan, peningkatan kasus Covid-19 global bisa menjadi pemberat laju IHSG tahun depan. Namun, pasar masih optimistis pertumbuhan ekonomi tahun depan akan lebih baik dari tahun ini.
Varian Baru Covid-19 Mencemaskan Bursa Saham Lagi
Bursa saham global kembali bergejolak. Varian baru Covid-19, omicron, memicu kekhawatiran baru yang menekan laju bursa saham global. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG pun terseret penurunan tersebut. Pada penutupan pasar saham Jumat (26/11), IHSG merosot -2,06% menjadi 6.561,55. Padahal, bursa saham dalam negeri tengah dalam tren kenaikan dan berpotensi mengukir rekor baru
Kinerja Emiten Grup Triputra Ditopang CPO dan Logistik
Grup Tiputra berencana mengantarkan salah satu entitasnya yang bergerak di bidang otomotif ke Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Dharma Polimetal. Di pasar modal, saham-saham Grup Triputra disebut memiliki prospek yang baik, bersamaan dengan kinerja dan prospek yang baik pula. Di sektor minyak sawit (CPO), Grup Triputra mencatatkan saham Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG). Kinerja penjualan dan laba kedua perusahaan ini positif hingga akhir kuartal III-2021 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Konglomerat dalam Peta Baru Juragan Bank Kecil
Pemenuhan aturan modal minimum menjadi alasan bank kecil untuk membuka pintu bagi kehadiran pemodal baru, termasuk konglomerat dari dalam negeri. Setelah Chairul Tanjung mengambilalih Allo Bank, kini muncul pengambilalihan 93% saham PT Bank Fama International senilai US$ 908,9 miliar oleh Emtek Grup. Allo Bank yang akan dikembangkan jadi bank digital akan menggelar rights issue pada Desember mendatang guna memenuhi aturan modal inti dengan menerbitkan 10 miliar saham atau 46,24% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Harganya telah ditetapkan Rp 478 per lembar. Namun, CT Group selaku pemegang 90% saham Allo Bank hanya akan mengeksekusi 30% dari seluruh haknya. Selebihnya akan dialihkan ke beberapa investor strategis. Sehingga kepemilikan CT akan berkurang jadi 60,8%.
EMTK Membeli Saham Raffi Ahmad
Emtek Grup alias PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) kini menggenggam saham di Rans Entertaiment yang didirikan oleh artis kondang Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Grup EMTK berkolaborasi dengan Rans Entertaiment lewat unit bisnis di anak perusahaannya, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Direktur PT Surya Citra Media Tbk, Sutanto Hartono mengungkapkan, melalui anak usahanya, yaitu Indonesia Entertaiment Group (IEG), SCMA telah menyuntikkan investasi kepada Rans Entertaiment. Sayang, Sutanto belum membeberkan berapa nilai investasi dan juga porsi saham yang saat ini digenggam SCMA.
Pasar Bersiap Hadapi Tapering AS
Pasar saham diyakini lebih tenang menghadapi pengumuman tapering off dari bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve. The Fed dijadwalkan menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa-Rabu pekan ini waktu setempat. Pada pertemuan sebelumnya, The Fed menyatakan akan melakukan pengurangan pembelian obligasi, yang bisa dimulai November atau Desember tahun ini, sehingga selesai di pertengahan 2022. Pengurangannya bertahap, sekitar US$ 10 miliar untuk obligasi negara dan US$ 5 miliar MBS per bulan. Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus juga yakin pelaku pasar sudah siap menerima keputusan The Fed untuk melakukan tapering. Apalagi, inflasi AS yang terjaga di atas 2%. "Tidak mungkin The Fed menaikkan suku bunga tanpa adanya tapering," tutur Nico.
Gurih Saham Juragan Menara
Tempo, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal kedatangan emiten baru di pengujung tahun ini. PT. Dayamitra Telekomunikasi (Miratel), anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), akan menggelar penawaran saham perdana (initial public offering/IPO). Mitratel memiliki peluang merebut investor, apalagi saat ini telah ada dua investor institusi yang berkomitmen untuk masuk. Mitratel dinilai bakal menjadi pesaing berat emiten telekomunikasi yang lebih dulu melantai di BEI. Mitratel bakal menggelar IPO dengan target perolehan dana US$ 1-1,4 miliar atau sekitar Rp 14-19,6 triliun. Wakil Menteri BUMN mengatakan Mitratel siap melepas 25 persen saham ke publik. Pengumuman penawaran saham perdana Mitratel layak dicermati investor karena memiliki prospek valuasi yang menarik di masa depan.
Dukungan Telkom sebagai induk usaha turut menambah kekuatan Mitratel. Pada September lalu, aset menara telekomunikasi Mitratel bertambah 4.000 unit yang berasal dari anak usaha Telkom lainnya, yaitu PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel). Kesepakatan alih aset tersebut dituangkan dalam perjanjian jual-beli yang dilakukan kedua perusahaan. Dengan pengalihan tersebut, Mitratel memiliki lebih dari 28 ribu menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Pertumbuhan menara telekomunikasi Mitratel mencapai 45 persen secara tahunan dengan tenancy ratio 1,57 kali. Angka ini naik dari Juni 2020 yang mencapai 1,54 kali.
Saham Properti Segera bangkit
Mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) rebound hingga mendongkrak indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level 6,633 diakhir pekan lalu, Jum'at (15/10/2021). Sentimen positif yang kini masih menyelimuti para pelaku pasar bakal mendongkrak Indeks hingga menembus level 7.000 diakhir tahun 2021. Hampir semua disektor BEI mengalami kenaikan indeks , kecuali industri pasar, konsumen nonsiklus, dan properti, Indeks Sektor Properti selama Januari 15 Oktober 2021 minus 8,95%. Pada periode yang sama, IHSG naik 10,94% dan saham-saham berkapitalis besar yang tergabung dalam LQ-45 meningkat meningkat 3,99%. Lonjakaan tertinggi terjadi pada saham sama big tech. Indeks Teknologi melonjak 710,64%.
Penjualan rumah tapak LPKR selama kuartal ketiga 2021 boleh disebut sebagai indikasi kebangkitan real estate dan properti Indonesia pada umumnya. Ada sejumlah faktor yang membuat sektor properti bangkit. Pertama, penanganan pandemi Covid-19 sudah menunjukkan hasil. Sudah lebih dari enam pekan kasus baru Covid melandai. Angka kasus aktif yang sempat di atas 550.000, kini sudah di bawah 20.000 dan positivity rate di bawah 1%. Penduduk Indonesia yang dua kali vaksin sudah mencapai 26%.
Kedua, saat ini terdapat 11 juta rumah tangga yang belum memiliki rumah layak huni. Dari jumlah itu, 7,6 juga adalah backlog atau rumah yang belum dibangun. Sisanya, 2,3 juta adalah rumah tidak layak huni. Kepemilikan rumah di Indonesia baru 84%, lebih rendah dibandingkan India yang sudah mencapai 86,6%. Di DKI Jakarta, homeownership justru baru 46%. PDB per kapita India pada tahun 2020 hanya US$ 1.900, sedangkan PDB per kapita Indonesia di tahun yang sama US$ 3.900. Data ini menunjukkan, prospek bisnis properti di Indonesia sangat cerah.
Ketiga, tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) sudah cukup rendah, yakni di bawah 6%. Dengan bunga KPR yang sudah menurun jauh dari masa sebelum pandemi, masyarakat dipermudah untuk mendapatkan rumah. Perbankan kini berlomba memberikan KPR.
Keempat, pemerintah terus mendorong kemajuan properti. Selain kontribusinya yang mencapai 15% terhadap PDB, pembangunan properti memengaruhi sekitar 170 jenis industri. Setiap pembangunan properti membutuhkan semen, kawat, baja, cat, kaca, dan sebagainya. Untuk menggerakkan ekonomi, sektor properti akan dipacu dengan sejumlah insentif oleh pemerintah.
Kinerja perusahaan sektor properti mulai membaik dan akan terus membaik pada tahun 2022. Sebagai leading indicator, harga saham sektor properti akan terangkat mulai kuartal keempat tahun ini.









