Saham
( 1722 )Konglomerat Cuan Besar dari Kenaikan Harga Saham
Pasar saham menjadi salah satu tambang bagi para konglomerat menambang cuan tahun lalu. Kekayaan konglomerat di saham melesat hingga ratusan persen, bahkan ribuan persen. Kenaikan ini terutama dirasakan oleh konglomerat yang memiliki investasi di perusahaan yang bergerak di bisnis terkait new economy. Tengok saja portofolio taipan Grup Salim, Anthoni Salim. Konglomerat ini menikmati kenaikan aset dari melesatnya harga saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Sepanjang 2021, saham ini meroket 10.370%. Anthoni merupakan pemegang saham DCII dengan kepemilikan sebesar 11%. Ini membuat portofolio saham Grup Salim secara rata-rata naik 1.288,91% . Kenaikan harga DCII menghapus kerugian yang dialami di saham ICBP, INDF, LSIP dan IMAS.
Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, ada sejumlah faktor yang membuat saham-saham teknologi konglomerasi tersebut naik tinggi. Alasannya tak selalu disebabkan fundamental dan prospek yang baik.
Budi menilai tren kenaikan saham teknologi tak akan berlangsung lama. Ia memprediksi portofolio tambang dan perkebunan akan jadi sumber cuan tahun ini.
Saham Bank Digital Terus Diburu
Penerbitan saham baru dengan hak memesan efek dahulu (right issue) oleh PT Bank Neo Commerce Tbk sangat diminati, dengan kelebihan permintaan Rp 882,5 miliar, dana yang didapatkan sebesar Rp 2,5 triliun. Bank-bank berlomba memenuhi ketentuan OJK agar memiliki modal inti minimal Rp 2 triliun akhir tahun ini, sehingga terjadi banyak akuisisi. Bank-bank kecil diakuisisi pemodal besar dan sebagian diubah jadi bank digital. Dirut Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan (22/12)berkata, seluruh dana hasil right issue V akan digunakan untuk modal kerja. Bank Neo bertransformasi jadi bank digital hingga perlu investasi teknologi informasi, penyaluran kredit, sekaligus kegiatan operasional. (Yoga)
Sri Mulyani: Perempuan Punya Andil Besar di Pasar Saham
Menkeu Sri Mulyani menyatakan, perempuan miliki andil besar terhadap investasi pasar modal Indonesia, hingga November 2021 investor perempuan mencapai 38 % keseluruhan investor individual di pasar modal, menguasai Rp. 234.1 triliun atau 25,1 % total aset investor individual. Mengutip data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dalam penjualan SBN ritel, investor perempuan cukup dominan ujar menkeu dalam Capital Capital Market Women Empowerment Forum (22/12). Pemerintah menciptakan penguatan kapasitas dan kesempatan sama dalam pemberdayaan perempuan melalui PNM, Mekaar yang memberi pinjaman pada 10,8 juta pengusaha UMKM yang didominasi wanita. Menkeu juga mengungkapkan, APBN jadi instrument keuangan negara yang mengenali kesetaraan gender, dituangkan melalui APBN 2021 yakni Dana Alokasi Khusus (DAK) non fisik untuk dana pelayanan dan perlindungan perempuan dan anak. (Dini)
Dua Indeks Saham ”Hijau” Diluncurkan
BEI luncurkan dua indeks berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola (environment, social, and good governance/ESG) yaitu Indeks ESG Sector Leaders IDX Kehati dan Indeks ESG Quality 45, yang bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia atau Kehati. Menurut Dirut BEI Inarno Djajadi (20/12/2021) Indeks ESG Sector Leaders IDX Kehati merupakan indeks berisi saham dengan kinerja ESG di atas rata-rata pada sektornya dan memiliki likuiditas baik. Sementara indeks ESG Quality 45 IDX Kehati berisi 45 saham terbaik hasil penilaian kinerja ESG, yang diharap jadi acuan manajer investasi menyusun produk berbasis indeks, terutama yang menekankan pada lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik.
Direktur Eksekutif Yayasan Kehati Riki Frindos jelaskan, indeks baru ini menanggapi kebutuhan pasar akan investasi berbasis ESG yang semakin diminati. Investor dan manajer investasi dapat gunakan indeks ini untuk diversifikasi portofolionya. Hingga Oktober 2021, dana kelolaan reksa dana yang mengacu indeks saham bertema ESG tercatat Rp 3,4 triliun, naik 80 kali lipat dibanding total dana kelolaan berbasis ESG tahun 2016 yang sebesar Rp 42,2 miliar.
Indeks Naik, Reksadana Justru Menyusut
Tren positif pasar saham memberikan efek positif indeks LQ45. Indeks yang berisi saham berkapitalisasi besar paling likuid memimpin pergerakan 1,47%. Kenaikan diikuti indeks IDX30 0,97%, SMInfra18 1,32% dan SRI-KEHATI 1,32%. hanya indeks JII yang minus 9,19%. Infovesta Utama menyebut hal tersebut tidak serta-merta berpengaruh pada kinerja reksadana indeks. Per November 2021, dana kelolaan reksadana indeks berdenominasi rupiah turun dari Rp 9,39 triliun menjadi Rp 9,15 triliun atau turun 2,66% ytd.
Adu Kuat Presepsi Investor di Saham Bukalapak.com
Setelah 12 hari berturut-turut memerah, harga saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) pada tiga hari terakhir hingga Jumat (10/12) berbalik arah. Jumat, harga saham BUKA naik 3% dari hari sebelumnya ke level Rp 515 per saham. Meski begitu, harga saham BUKA masih berada jauh di bawah harga IPO, Rp 850 per saham. Padahal, mayoritas broker sejauh ini masih memasang rekomendasi bullish saham BUKA. Secara umum, saham Buka adalah contoh menarik area "pertempuran pengaruh dan persepsi" para analis maupun pelaku pasar saham.
Investor Mulai Lepas Saham Teknologi
Pamor saham-saham teknologi mulai meredup. Dalam tiga bulan terakhir, indeks saham sektor teknologi anjlok hingga 15%, terburuk dibandingkan indeks saham sektoral lainnya. Sementara dalam sebulan terakhir, penurunan indeks saham sektor teknologi sebesar 9,67%. Saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) tercatat mengalami penurunan paling dalam selama tiga bulan terakhir. Kemarin, BUKA kembali menyentuh batas auto reject bawah alias ARB pada perdagangan sesi pertama, dengan penurunan sebesar 6,58% jadi Rp 426 per saham.
Tekanan Belum Reda, Saham BUKA Jatuh Hingga Kena ARB
Saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) semakin longsor. Pada perdagangan Senin (6/12), saham BUKA terkoreksi 6,945% ke Rp 456 dan terkena auto rejection bawah (ARB). Ini artinya, saham BUKA sudah melorot 46,35% dari harga IPO Rp 850. Pada sembilan bulan pertama tahun ini, BUKA mampu mengurangi kerugian bersih menjadi Rp 1,1 triliun. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, BUKA menanggung rugi Rp 1,4 triliun. Pendapatan BUKA pada periode itu juga masih tumbuh 42% yoy menjadi Rp 1,3 triliun. Secara teknikal, analis teknikal Henan Putihrai Sekuritas Mayang Anggita menyebut, saham BUKA bergerak downtrend di dalam pola parallel channel, dengna kondisi saat ini menghadapi uji support pada lower channel di Rp 456. Target konservatif berada pada MA10, Rp 560.
Pasar Saham Lebih Optimistis Tahun Depan
Tahun depan, pasar saham berpeluang bergerak bullish, seiring dengan peluang membaiknya perekonomian. Meski demikian, pelaku pasar tetap akan mencermati dampak varian baru Covid-19 yang berpeluang membuat lonjakan kasus infeksi korona secara global. Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan, peningkatan kasus Covid-19 global bisa menjadi pemberat laju IHSG tahun depan. Namun, pasar masih optimistis pertumbuhan ekonomi tahun depan akan lebih baik dari tahun ini.
Varian Baru Covid-19 Mencemaskan Bursa Saham Lagi
Bursa saham global kembali bergejolak. Varian baru Covid-19, omicron, memicu kekhawatiran baru yang menekan laju bursa saham global. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG pun terseret penurunan tersebut. Pada penutupan pasar saham Jumat (26/11), IHSG merosot -2,06% menjadi 6.561,55. Padahal, bursa saham dalam negeri tengah dalam tren kenaikan dan berpotensi mengukir rekor baru









