Saham
( 1717 )Menuai Hasil Investasi Besar Saham Freeport
SEKTOR KOMODITAS : LETUPAN TEMPORER SAHAM LOGAM
Memanasnya harga komoditas logam di pasar global memantik pergerakan saham emiten-emiten produsen emas, tembaga, dan nikel di Bursa Efek Indonesia. Sentimen itu berpotensi turut memoles kinerja penjualan emiten pada kuartal II/2024. Berdasarkan data Bloomberg, harga emas telah menyentuh rekor baru. Emas Comex berada di level US$2.444 per troy ounce, sedangkan emas spot di level US$2.438 per troy ounce. Fase bullish juga tengah menyelimuti dua komoditas logam dasar, yaitu tembaga dan nikel. Di bursa London Metal Exchange, tembaga berjangka menguat 2,34% ke level US$10.668 per ton dan nikel menguat lebih dari 2,64% ke level US$21.696 per ton pada Senin (20/5). Secara year-to-date, harga emas spot sudah menguat 18,35%, tembaga memantul 24,64%, dan nikel melejit 26,97%. Kenaikan harga itu menjadi pelecut kenaikan harga saham emiten-emiten logam dalam jangka pendek. Pada perdagangan kemarin, apresiasi harga dibukukan oleh emiten logam, seperti INCO yang naik 7,52%, MBMA menguat 6,61%, BRMS 5,48%, ARCI 3,97%, MDKA 3,65%, serta AMMN dan ANTM yang meningkat masing-masing sebesar 2,44% dan 2,16%. Mayoritas saham emiten logam juga makin berkilau dalam sepekan terakhir a.l. INCO dan MBMA yang naik dobel digit berturut-turut 14,19% dan 15,18%.
Analis NH Korindo Sekuritas Axell Ebenhaezer mengungkapkan beberapa sentimen pendongkrak harga logam yang kompak menguat. Axell menjelaskan sentimen utama pendorong harga tembaga adalah semakin naik nya permintaan tembaga untuk proyek-proyek energi baru terbarukan (EBT) dan serta pembuatan kendaraan listrik. Untuk harga nikel, sentimen utama pendorongnya ialah gangguan pasokan karena tensi politik di New Caledonia—produsen nikel ketiga terbesar di dunia. Sementara itu, harga emas utamanya dipengaruhi oleh data-data ekonomi, seperti CPI AS yang tercatat turun dan berdampak pada peningkatan harapan adanya pemotongan suku bunga the Fed, serta pelemahan dolar AS yang berdampak positif terhadap harga emas. Selain menjadi sentimen jangka pendek untuk saham-saham emiten logam, kenaikan harga komoditas underlying juga akan mendongkrak kinerja fundamental setidaknya pada kuartal II/2024. Naiknya harga komoditas undeerlying akan meningkatkan rata-rata harga jual atau ASP serta berpotensi mendongkrak pendapatan.
Equity Research Ciptadana Sekuritas Thomas Radityo mengatakan harga logam terutama nikel saat ini telah mencapai titik puncak dan diproyeksi kembali normal setelah kuartal II/2024. Meski demikian, Thomas memproyeksikan penurunan harga nikel tidak akan tajam dan akan berakhir di level US$18.000— US$18.500 per ton pada akhir tahun. Senada, analis Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer menyebutkan dampak kenaikan harga logam terhadap emitennya akan sangat bervariasi tergantung jenis logam. Menurut Khaer, kenaikan harga emas akan berdampak signifi kan terhadap emiten yang didominasi oleh emas dibandingkan dengan tembaga. Dihubungi terpisah, Vice President of Corporate Communications Amman Mineral Internasional Kartika Oktaviana menyebutkan secara teoritis kenaikan harga emas dan tembaga pada kuartal II/2024 akan tecermin dari kinerja yang akan diumumkan pada Juli mendatang.
Lebih lanjut, dia menjelaskan saat ini perubahan harga tidak berdampak pada strategi produksi dan penjualan AMNN karena pihaknya terus memproduksi dan menjual seoptimal mungkin untuk memenuhi permintaan pasar. Fokus AMMN ialah peningkatan efi siensi operasional dan mempertahankan status sebagai salah satu produksi tembaga dan emas berbiaya rendah.Kenaikan harga logam disebut juga akan berdampak pada kinerja BRMS. Direktur BRMS Herwin Hidayat mengatakan kenaikan harga jual emas akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan BRMS pada kuartal II/2024.
Mengisap Potensi Cuan Saham Rokok
Kinerja emiten rokok tidak mengepul optimal di tiga bulan pertama 2024. Ini tampak dari realisasi kinerja sejumlah emiten rokok. Misalnya saja PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Emiten rokok yang berbasis di Kediri, Jawa Timur ini mencatat laba yang dapat diatribusikan pada entitas induk Rp 595,5 di kuartal I-2024. Hasil itu merosot 69% dari periode serupa 2023 yang tembus Rp 1,96 triliun. Ini imbas dari penurunan pendapatan GGRM di kuartal I-2024 sebesar 11,7% menjadi Rp 26,26 triliun. PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) juga mencatatkan penurunan laba bersih pada kuartal I-2024. Begitu juga pendapatan emiten ini yang mengalami koreksi. Meski demikian hasil berbeda dicapai oleh PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Emiten saham milik Philip Morris ini berhasil mencetak pertumbuhan dan laba bersih positif.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo melihat secara kinerja hasil penjualan GGRM dan WIIM di kuartal I-2024 masih di bawah ekspektasi. Penurunan kinerja kedua emiten tersebut, menurutnya, karena adanya penurunan penjualan segmen sigaret kretek mesin (SKM). Masih mengepulnya kinerja HMSP, sebut Azis, dikarenakan emiten ini bisa menjaga pendapatan di segmen SKM. Sedangkan penurunan kinerja GGRM dan WIIM, ia lihat sebagai indikasi pelemahan daya beli perokok. Sedangkan Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta melihat kinerja emiten rokok masih sustainable. Terutama HMSP yang menunjukan kinerja relatif membaik dan stabil. Secara teknikal, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana merekomendasikan trading buy GGRM dengan target Rp 19.725-Rp 20.000 dan speculative buy WIIM dengan target Rp 1.200- Rp 1.260. Sedangkan Azis trading buy HMSP dengan target harga Rp 810-Rp 850.
Siap-Siap, Waktu Belanja Saham Segera Tiba
Usai dilanda tekanan jual, pasar saham dalam negeri kembali bergairah. Dalam tiga hari beruntun sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anteng di zona hijau. Indeks saham pun mengakumulasi kenaikan hingga 3,22% dalam sepekan dan kembali ke atas level 7.300. Apakah waktu belanja saham sudah tiba (time to buy). Sebagai gambaran, dua hari perdagangan terakhir, dana investor asing juga mulai kembali masuk ke pasar saham. Alhasil, sejumlah saham mulai berbalik arah dari tren pelemahan sebelumnya. Tak bisa dipungkiri, laju IHSG juga didongkrak dua saham emiten milik Prajogo Pangestu. Sepanjang pekan lalu saham BREN menguat 11,40% dan TPIA naik 14,11%. Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian mengatakan, salah satu agenda penting di pekan pendek ini adalah keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 21-22 Mei 2024.
Konsensus analis memperkirakan, BI akan mempertahankan suku bunga di level 6,25%. Pidato Ketua Fed Jerome Powell akan memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga di negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut. Belum lagi, akan ada Federal Open Market Committee FOMC minutes pada Kamis (23/5) mendatang. Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menambahkan, inflasi CPI AS yang lebih baik dari perkiraan telah menaikkan potensi pemangkasan suku bunga The Fed.
Hal inilah yang membuat IHSG menguat pada pekan lalu. Pelaku pasar pun berharap pemotongan suku bunga dua kali dapat dimulai pada September mendatang. Alhasil, Hans memperkirakan IHSG pekan ini berpeluang konsolidasi dengan kecenderungan menguat. Support ada di 7.200 sampai 7.052 dan resistance di level 7.356 hingga 7.454. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga meyakini, pasar saham berpeluang melanjutkan penguatannya. Terutama jika pejabat Fed menunjukkan sikap dovish. Reza Priyambada, Investment Consultant Reliance Sekuritas memperkirakan, IHSG di pekan pendek ini akan menguji support di 7.190-7.238 dan resistance di 7.378-7.396. Selain saham-saham yang berkaitan dengan suku bunga, Reza merekomendasikan sejumlah saham yang sudah mulai berbalik arah untuk menguat. Contohnya, saham BBCA, BMRI, ASII, PGAS dan ISSP.
IHSG Berpeluang lanjutkan Tren Penguatan
Menyigi Kinerja, Prospek dan Rekomendasi Emiten Kontruksi
Emiten jasa konstruksi swasta menyajikan kinerja keuangan yang beragam. PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) misalnya, mengantongi kenaikan pendapatan usaha 32,31% secara tahunan menjadi Rp 818,87 miliar di kuartal I-2024. Laba bersih TOTL pun melonjak 77,60% yoy menjadi Rp 52,71 miliar di kuartal I 2024. PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) juga mencatatkan kenaikan pendapatan 9,6% di periode serupa menjadi senilai Rp 715,01 miliar. Tapi laba bersih emiten ini turun tipis 0,28% di kuartal I-2024 menjadi Rp 28,75 miliar. Sebaliknya PT Acset Indonesia Tbk (ACST) mencatatkan lonjakan rugi ke entitas pemilik sebesar 42,3% di kuartal I-2023 menjadi sebesar Rp 42,49 miliar.
Kerugian itu dialami ACST di tengah kenaikan pendapatan bersih 52,59% secara tahunan menjadi senilai Rp 549,86 miliar. Erlin Budiman, Vice President Head of Investor Relations PT Surya Semesta Iinternusa Tabk (SSIA), induk NRCA, menyebut realisasi kontrak baru itu melonjak 92,5% dibandingkan dengan kontrak baru pada kuartal I 2023 yang sebesar Rp 701,7 miliar. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas melihat TOTL masih memimpin di di kalangan emiten konstruksi swasta pada kuartal I 2024. Namun Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada melihat emiten konstruksi swasta dan BUMN karya justru bisa bersinergi. Masing-masing pihak juga sudah punya pasar masing-masing.
ARAL KINERJA ANAK BUMN KARYA
Anak usaha BUMN karya belum kehilangan asa untuk memperbaiki kinerja bisnis yang lesu pada awal tahun ini. Anggaran infrastruktur yang meningkat, rencana konsolidasi BUMN karya, dan strategi internal perusahaan menjadi tumpuan harapan untuk meredam dampak pandemi yang belum mereda. Meski kondisi ekonomi cenderung membaik usai pandemi, kelompok usaha ini membutuhkan waktu lebih panjang untuk bangkit. Namun, sektor ini bukannya tanpa harapan sama sekali. BUMN karya beserta anak usahanya masih menjadi ujung tombak dalam membangun proyek-proyek infrastruktur ambisius pada tahun terakhir masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Anggaran infrastruktur yang naik 5,8% menjadi Rp423,4 triliun pada 2024 berpeluang memberikan dampak positif bagi kinerja mereka. Di sisi lain, Kementerian BUMN telah menunjukkan upaya serius untuk menyelamatkan kelompok usaha ini. Terbaru, Kementerian BUMN menargetkan proses perampingan BUMN karya akan selesai pada September 2024 mendatang. Pemerintah akan merampingkan jumlah BUMN karya dari 7 perusahaan menjadi 3 perusahaan.
Rencananya, PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) akan menjadi induk bagi PT Brantas Abipraya (Persero) dan PT Nindya Karya (Persero). Sementara itu, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) akan bergabung ke PT Hutama Karya (Persero). Adapun, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) dipasangkan dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA). Langkah ini diharapkan bisa menopang proses pemulihan bisnis kelompok usaha ni. Hanya saja, tantangan pemulihan sektor ini memang tidak mudah. Associate Director BUMN Research Group Lembaga Management Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (UI), Toto Pranoto, mengungkapkan proyek sektor infrastruktur kurang cerah tahun ini karena masih memiliki segudang pekerjaan rumah, yakni restrukturisasi secara fundamental.
Sementara itu, ada enam emiten anak usaha BUMN karya yang tercatat di pasar modal mengalami penurunan laba pada kuartal I/2024. Perusahaan-perusahaan itu adalah anak usaha WIKA, yakni PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) dan PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk. (WEGE). Selain itu, PT PP Properti Tbk. (PPRO) dan PT PP Presisi Tbk. (PPRE) yang merupakan anak usaha PTPP. Ada pula, PT Adhi Commuter Properti Tbk. (ADCP) yang merupakan anak usaha ADHI. Terakhir, ada PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP), yang merupakan anak usaha WSKT. Dari keenam anak usaha BUMN karya itu, tiga di antaranya bahkan berbalik rugi, yakni WSBP, PPRO, dan PPRE. Presiden Direktur WSBP, FX Poerbayu Ratsunu, menyatakan perseroan berkomitmen untuk mengakselerasi pemulihan kinerja dan kondisi keuangan melalui implementasi program transformasi bisnis. Di sisi lain, Direktur Utama PPRE, I Gede Upeksa Negara, menyatakan perusahaan membidik kenaikan pendapatan sebesar 30% pada 2024. Hal ini seiring dengan arah program penghiliran pemerintah di sektor pertambangan.
Sementara itu, Kementerian BUMN meyakini langkah perampingan BUMN karya dapat membantu mengakselerasi pemulihan kinerja sektor ini, termasuk bagi anak usahanya masing-masing. Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Mahendra Sinulingga, mengatakan peleburan 7 BUMN karya menjadi 3 entitas akan membuat perusahaan-perusahaan konstruksi pelat merah berjalan sesuai spesialisasinya. Di pasar saham, kinerja anak usaha BUMN karya masih terpuruk dan berada di bawah Rp100. Sebagai gambaran, saham PPRO sudah anjlok 78% year-to-date (YtD) ke level Rp11. Demikian juga WSBP yang turun 77,78% ke level Rp14. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa saham anak usaha BUMN karya tidak cukup menarik untuk dilirik karena fundamental keuangan perusahaan masih di jalur negatif. Head Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, juga memandang bahwa prospek saham anak usaha BUMN karya belum memperlihatkan adanya peluang perbaikan ke depan.
LPKR Siap Terjun ke Bisnis Parkir
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) kembali melakoni aksi korporasi. Setelah melepas sebagian saham PT Siloam Internationals Hospitals Tbk (SILO), salah satu entitas Grup Lippo tersebut berencana menambah kegiatan usaha. Melansir keterbukaan informasi, Jumat (17/5), salah satu emiten properti ini berencana menambah kegiatan usaha, yaitu pengelolaan lahan parkir. Maka, LPKR akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 19 Juni 2024 untuk meminta restu terkait aksi korporasi itu.
Studi kelayakan sudah disiapkan LPKR terkait aktivitas perparkiran di badan jalan (on street parking) dan aktivitas perparkirandi luar badan jalan (off street parking). Manajemen LPKR menjelaskan, kegiatan usaha aktivitas perparkiran ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan usaha real estat yang saat ini dijalankan oleh perseroan ini. Guna meningkatkan kinerja, LPKR mengintegrasikan jasa usaha perparkiran dalam kegiatan usaha utamanya. Dari studi kelayakan LPKR, net present value (NPV) dari penambahan kegiatan usaha ini sebesar Rp 8,96 miliar. Lalu, internal rate of return sebesar 64,38%. Sementara itu, profitability index sebesar 1,19 dan break even point 41%. Lantas titik impas bisnis ini bisa lebih cepat dari lima tahun menjadi 3 tahun 5 bulan.
IHSG Hattrick, Asing Serbu Saham Bank dan Emiten Prajogo Pangestu
Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak hattrick dengan kenaikan berturut-turut dalam tiga hari perdagangan, ke posisi 7.317 pada penutupan Jumat (17/5/2024). Peningkatan IHSG tidak lepas dari aksi beli bersih (net buy) asing yang mencapai Rp 869 miliar, dengan saham yang banyak diburu adalah saham perbankan (banking) dan saham emiten Prajogo pangestu. Indo Prem naik + 70,54 basis poin ke 7.317, dengan nilai transaksi pasar mencapai Rp 13,42 triliun dan volume transaksi 213,6 juta saham. Asing masih terus masuk pasar, diindikasikan dari besarnya net foreign buy di seluruh pasar yang mencapai Rp 866,61 miliar. Saham-saham yang paling banyak dibeli asing adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 337,2 miliar, disusul saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp176,8, saham emiten Prajogo pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp 176,8 miliar, serta saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp132,8 miliar. Saham-saham banking seperi BBCA,BBRI,BMRI serta saham emiten Prajogo Pangestu lainnya, PT barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga menjadi penggerak IHSG, kemarin. (Yetede)
Rupiah Menguat Pasar Saham Mengeliat
Pilihan Editor
-
Transaksi BUMN via PaDi Capai Rp 11,4 Triliun
16 Feb 2021 -
Rasio Utang Luar Negeri RI Nyaris 40% dari PDB
16 Feb 2021 -
Tersangka Baru Kasus Asabri Bertambah Lagi
17 Feb 2021 -
UMKM di Pare-Pare Dapat Bantuan Rp 4 Miliar
15 Feb 2021 -
Sejak Pandemi Fokus Pasar Lokal
15 Feb 2021









