;
Tags

Saham

( 1722 )

Sentimen Buruk Saham Pelat Merah

HR1 24 May 2024 Kontan

Sejumlah saham emiten BUMN tengah dilanda kabar negatif. Tak cuma soal masalah keuangan dan tingginya beban utang, terdapat pula dugaan korupsi dan fraud. Hal ini bisa membuat kepercayaan investor terhadap saham emiten pelat merah kembali memudar. PT Indofarma Tbk (INAF) misalnya, tengah dihantui masalah keuangan hingga Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Lalu, ada dugaan fraud yang merugikan negara. INAF juga membenarkan terkait kabar belum membayar upah atau gaji kepada karyawan untuk periode Maret 2024. Saat ini perusahaan belum memiliki kecukupan dana operasional untuk memenuhi kewajiban pembayaran upah karyawan," ujar Direktur Utama Indofarma, Yeliandriani, Rabu (17/4).

Terkait indikasi pidana dan masalah keuangan, Sekretaris Perusahaan INAF, Warjoko Sumedi mengatakan, INAF akan menindaklanjuti rekomendasi Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), baik secara pidana dan perdata sesuai ketentuan dan perundangan yang berlaku. BUMN lain tengah jadi sorotan adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Ada dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa fiktif di dalam tubuh Grup Telkom. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mengusut kasus ini. Emiten lain yang kita ketahui tersandung kasus korupsi adalah PT Timah Tbk (TINS). Selain itu, ada PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang belum juga dapat menuntaskan masalah keuangannya. WSKT kembali gagal mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) untuk Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap IV Tahun 2019.

Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan menjelaskan, kasus TLKM melengkapi daftar panjang BUMN yang bermasalah dengan good corporate governance (GCG). Mulai dari BUMN Karya, farmasi, tambang, baja, transportasi, sampai BUMN asuransi dengan nilai yang fantastis. Tapi, beberapa tahun terakhir, emiten BUMN justru jauh dari prestasi. Profitabilitas kinerja menurun hingga merugi. Sudah tentu, hal ini bisa mengurangi minat investor untuk berinvestasi di saham pelat merah. Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat melihat, kinerja BUMN yang bermasalah sudah terlihat dari kinerja saham dan keuangan. Misalnya, laba INAF sudah negatif sejak lima tahun terakhir. Anomali kinerja juga dialami WSKT dan TLKM. Sedangkan menurut Pengamat Pasar Modal, Budi Frensidy, investor bisa memilih emiten yang memiliki earning per share (EPS) dan membagi dividen secara konsisten, seperti sektor perbankan dan telekomunikasi.

Aksi Buyback Belum Tentu Menjadi Solusi

HR1 24 May 2024 Kontan

Aksi pembelian kembali ( buyback ) saham masih ramai. Beberapa emiten berencana mengejar restu dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada bulan Juni mendatang. Pengumuman buyback terbaru berasal dari PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). Emiten yang juga dikenal sebagai Harita Nickel ini mengalokasikan dana Rp 400 miliar untuk buyback sahamnya. "Berdasarkan alasan tersebut, perseroan dapat memiliki fleksibilitas dan mekanisme untuk menjaga stabilitas harga pasar saham," ungkap manajemen NCKL, Selasa (21/5). Sehari sebelumnya, PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) mengungkapkan aksi serupa. PALM menyiapkan dana hingga Rp 80,61 miliar untuk memborong sebanyak-banyaknya 162 juta saham atau 1,03% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh. PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII) dan PT Data Sinergitama Jaya Tbk (ELIT) juga akan melakukan buyback. Bahkan, saham yang masih masuk papan pemantauan khusus juga mencoba peruntungan dari buyback . Salah satunya PT Quantum Clovera Investama Tbk (KREN). Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menyarankan, pelaku pasar untuk lebih selektif dalam melirik saham-saham yang akan dan sedang menggelar buyback. Hendra mengingatkan, emiten kecil masih akan rentan terhadap fluktuasi pasar dan keadaan ekonomi global. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni menyarankan, di tengah fluktuasi pasar saham saat ini, lebih baik melakukan selective buying. Di antara saham-saham yang akan dan sedang menggelar buyback, Agung menjagokan NCKL, ECII, dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO). Sedang Hendra merekomendasikan NCKL, ADRO dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP).

Rencana Stock Split Memoles Prospek Saham DSSA

HR1 24 May 2024 Kontan

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) bakal lebih menarik usai memecah nominal saham alias stock split. Meski secara angka jadi saham termahal di Bursa Efek Indonesia (BEI). saham DSSA masih banyak diburu dan menjadi salah satu saham movers IHSG. Saham DSSA sudah terbang 122,5% sejak awal tahun ini, ke harga Rp 178.000, Rabu (22/5). Lonjakan ini membawa DSSA ke daftar teratas top gainers IHSG sepekan ini. Sekretaris Perusahaan DSSA Susan Chandra mengatakan, posisi harga DSSA yang sudah di atas Rp 100.000 per saham menjadi perhatian manajemen. Level harga ini menyebabkan nilai pembelian untuk satu lot saham DSSA hanya dapat terjangkau bagi sebagian kecil investor, sehingga perdagangan sahamnya menjadi tidak likuid.

Susan mengatakan, tahun ini, DSSA sudah menyiapkan belanja modal sekitar US$ 350 juta tahun ini. Capex itu akan dialokasikan terutama untuk mengembangkan infrastruktur multimedia. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, dengan posisi harga yang sudah tinggi, likuiditas saham DSSA di pasar menjadi sangat kecil. Kenaikan harga saham DSSA disebabkan permintaan yang masih lebih tinggi dibandingkan tekanan jual. Sukarno melihat, rencana stock split memberikan sentimen positif terhadap saham DSSA. Sukarno menyarankan trading buy dengan support Rp 147.700 dan resistance Rp 163.000–Rp 170.000.

KINERJA SEKTORAL : ADU MONCER EMITEN PROPERTI

HR1 22 May 2024 Bisnis Indonesia

Emiten-emiten di sektor properti dan real estat beradu strategi untuk mendulang prapenjualan dan laba bersih yang moncer pada tahun ini. Meski demikian, prospek emiten di sektor ini masih dibayangi oleh insentif perpajakan, era suku bunga tinggi, dan daya beli konsumen. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sebanyak 10 emiten properti membukukan perolehan laba bersih yang cukup variatif pada kuartal I/2024. PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) menjadi emiten yang paling moncer dengan lonjakan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 62,55% secara year-on-year (YoY) menjadi Rp1,43 triliun. Selain BSDE, PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) dan PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) juga mampu memperbesar pundi-pundi cuan pada 3 bulan pertama 2024. Pada periode tersebut, Laba bersih SMRA tumbuh 62,45% YoY menjadi Rp441,39 miliar dan laba bersih CTRA meningkat 17,08% secara tahunan menjadi Rp483,39 miliar. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) dan PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) justru membukukan penurunan laba bersih pada kuartal I/2024. Sementara itu, PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) milik keluarga Riady justru berbalik rugi. 

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyatakan ada beberapa sentimen positif yang akan menaungi sektor properti. Pertama, penerapan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Kedua, adanya peluang kebijakan pelonggaran suku bunga The Fed pada akhir tahun ini yang berpotensi mendorong penurunan BI Rate. Senada, Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menuturkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi angin segar untuk properti karena membuka jalan normalisasi suku bunga pinjaman setelah terjadi kenaikan. Kiwoom merekomendasikan beli untuk saham CTRA dengan target harga Rp1.330, SMRA Rp780, dan BSDE dengan target harga Rp1.370. Sebelumnya, Direktur BSDE Hermawan Wijaya menyampaikan manajemen cukup optimistis dapat meraih target marketing sales Rp9,5 triliun pada 2024. Hal itu seiring dengan realisasi prapenjualan yang tembus Rp2,2 triliun pada kuartal I/2024. 

Terpisah, Presiden Direktur PANI Sugianto Kusuma mengatakan perseroan terus berupaya melakukan inovasi dan meluncurkan produk-produk yang sesuai dengan permintaan pasar yang akan ditranslasikan menjadi target marketing sales. Pada kuartal I/2024, PANI mengantongi prapenjualan Rp1,5 triliun atau 27% dari target Rp5,5 triliun sepanjang tahun ini. Sementara itu, LPKR mencatat prapenjualan sebesar Rp1,5 triliun pada kuartal I/2024. Pencapaian tersebut setara 28% dari target marketing sales LPKR tahun ini yang mencapai Rp5,37 triliun.Group CEO LPKR John Riady mengatakan LPKR terus memperkuat posisinya di segmen pasar pemilik rumah perdana dengan merilis lebih banyak unit di Park Serpong dan di Lippo Cikarang Cosmopolis.

Mencari Sumber Dana dari Investor

HR1 22 May 2024 Kontan

Sejumlah emiten bakal melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD ) atau private placement. Langkah ini untuk memperkuat struktur permodalan dari emiten yang bersangkutan. Misalnya PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI). Pengembang Pantai Indah Kapuk ini berencana melakukan private placement maksimal 1,56 miliar saham dengan nilai nominal Rp100 per saham. Ini setara maksimum 10% dari jumlah seluruh modal disetor dan ditempatkan perseroan. Manajemen PANI menjelaskan, langkah ini untuk memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan kinerja  keuangan. Selain itu diharapkan aksi tersebut bisa memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan perseroan. Beberapa emiten lain juga berencana melakukan aksi serupa.

Misalnya saja PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT) akan private placement sebanyak 8,60 miliar saham dengan nilai nominal Rp100 per saham. Ini setara dengan sebanyak-banyaknya 10% dari seluruh saham yang telah disetor penuh dalam Perseroan. Berikutnya PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) bakal private placement 2.447.298.366 saham atau maksimal 10% dari modal ditempatkan dan disetor. Sekretaris Perusahaan, Merdeka Copper Gold Adi Adriansyah Sjoekri mengungkapkan, MDKA berencana menggunakan 70% dana private placement untuk belanja modal. Sisanya untuk modal kerja. Persentase tersebut dapat berubah sesuai kebutuhan MDKA atau Grup Merdeka. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, private placement untuk mendapat dana segar dari investor baru. Dari para emiten  yang bakal menggelar aksi terebut, peluang untuk menyerap saham baru cukup setara. 

Harapan Baru Emiten Batu Bara

KT1 21 May 2024 Investor Daily (H)

Hasil kinerja emiten batu bara yang kurang memuaskan pada kuartal I-2024, menurunkan minat investor terhadap sahamnya. Meski demikian, ekspektasi membaiknya harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan peningkatan volume produksi, membawa harapan baru terhadap kinerja emiten emas hitam tersebut di kuartal dua ini. Hal itu pula yang tampaknya telah dilihat sebagai pelaku pasar, yang terbukti dari harga saham sejumlah emiten batu bara mulai beranjak naik.

Hasil kinerja emiten  produsen batu bara pada kuartal I-2024 relatif beragam, meskipun ASP lebih baik dari asumsi kami. Kami melihat potensi pemulihan volume penjualan di kuartal II-2024," kata Analis Indo Premier Sekuritas Reggie Parengkuan dan Ryan Winipta dalam riset terbarunya, Senin (20/5.2025). Dalam catatan reggie dan Ryan, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) mempu mencatatkan kinerja di atas konsensus masing-masing 37% dan 27% terhadap estimasi sepanjang 2024. (Yetede)

Menuai Hasil Investasi Besar Saham Freeport

KT1 21 May 2024 Investor Daily (H)
Pemerintah melalui MIND ID menggelontorkan investasi besar, US$ 3,8 miliar untuk mengakuisisi 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFI), perusahaan tambang dan pengolahan bijih tembaga, emas, dan perak di Papua. Kini, MIND ID mulai memetik hasil dari investasi tersebut. Tahun 2023, MIND ID meraih bagian laba bersih PTFI sebesar Rp24,68 triliun, melonjak dari tahun 2018 sebesar Rp 184,1 miliar, berdasarkan laporan keuangan MIND ID di Bursa Efek Singapura. Sepanjang 2023, PTFI berhasil memproduksi tembaga 1,65 miliar pound serta 1,97 juta ounces emas. Pendapatan PTFI mencapai Rp 128 triliun, turun dari Rp125 triliun, sedangkan laba bersih turun tipis menjadi Rp48,2 triliun dari Rp49,6 triliun. Adapun setoran dividen PTFI ke MIND ID tahun lalu mencapai US$ 277 juta atau Rp4,2 triliun. Memang, jumlah itu berkurang dari tahun 2022 sebesar US$ 575,5 juta atau Rp8,5 triliun, tetapi lebih besar dari 2021 sebesar US$ 243 juta. (Yetede)

SEKTOR KOMODITAS : LETUPAN TEMPORER SAHAM LOGAM

HR1 21 May 2024 Bisnis Indonesia

Memanasnya harga komoditas logam di pasar global memantik pergerakan saham emiten-emiten produsen emas, tembaga, dan nikel di Bursa Efek Indonesia. Sentimen itu berpotensi turut memoles kinerja penjualan emiten pada kuartal II/2024. Berdasarkan data Bloomberg, harga emas telah menyentuh rekor baru. Emas Comex berada di level US$2.444 per troy ounce, sedangkan emas spot di level US$2.438 per troy ounce. Fase bullish juga tengah menyelimuti dua komoditas logam dasar, yaitu tembaga dan nikel. Di bursa London Metal Exchange, tembaga berjangka menguat 2,34% ke level US$10.668 per ton dan nikel menguat lebih dari 2,64% ke level US$21.696 per ton pada Senin (20/5). Secara year-to-date, harga emas spot sudah menguat 18,35%, tembaga memantul 24,64%, dan nikel melejit 26,97%. Kenaikan harga itu menjadi pelecut kenaikan harga saham emiten-emiten logam dalam jangka pendek. Pada perdagangan kemarin, apresiasi harga dibukukan oleh emiten logam, seperti INCO yang naik 7,52%, MBMA menguat 6,61%, BRMS 5,48%, ARCI 3,97%, MDKA 3,65%, serta AMMN dan ANTM yang meningkat masing-masing sebesar 2,44% dan 2,16%. Mayoritas saham emiten logam juga makin berkilau dalam sepekan terakhir a.l. INCO dan MBMA yang naik dobel digit berturut-turut 14,19% dan 15,18%. 

Analis NH Korindo Sekuritas Axell Ebenhaezer mengungkapkan beberapa sentimen pendongkrak harga logam yang kompak menguat. Axell menjelaskan sentimen utama pendorong harga tembaga adalah semakin naik nya permintaan tembaga untuk proyek-proyek energi baru terbarukan (EBT) dan serta pembuatan kendaraan listrik. Untuk harga nikel, sentimen utama pendorongnya ialah gangguan pasokan karena tensi politik di New Caledonia—produsen nikel ketiga terbesar di dunia. Sementara itu, harga emas utamanya dipengaruhi oleh data-data ekonomi, seperti CPI AS yang tercatat turun dan berdampak pada peningkatan harapan adanya pemotongan suku bunga the Fed, serta pelemahan dolar AS yang berdampak positif terhadap harga emas. Selain menjadi sentimen jangka pendek untuk saham-saham emiten logam, kenaikan harga komoditas underlying juga akan mendongkrak kinerja fundamental setidaknya pada kuartal II/2024. Naiknya harga komoditas undeerlying akan meningkatkan rata-rata harga jual atau ASP serta berpotensi mendongkrak pendapatan. 

Equity Research Ciptadana Sekuritas Thomas Radityo mengatakan harga logam terutama nikel saat ini telah mencapai titik puncak dan diproyeksi kembali normal setelah kuartal II/2024. Meski demikian, Thomas memproyeksikan penurunan harga nikel tidak akan tajam dan akan berakhir di level US$18.000— US$18.500 per ton pada akhir tahun. Senada, analis Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer menyebutkan dampak kenaikan harga logam terhadap emitennya akan sangat bervariasi tergantung jenis logam. Menurut Khaer, kenaikan harga emas akan berdampak signifi kan terhadap emiten yang didominasi oleh emas dibandingkan dengan tembaga. Dihubungi terpisah, Vice President of Corporate Communications Amman Mineral Internasional Kartika Oktaviana menyebutkan secara teoritis kenaikan harga emas dan tembaga pada kuartal II/2024 akan tecermin dari kinerja yang akan diumumkan pada Juli mendatang. 

Lebih lanjut, dia menjelaskan saat ini perubahan harga tidak berdampak pada strategi produksi dan penjualan AMNN karena pihaknya terus memproduksi dan menjual seoptimal mungkin untuk memenuhi permintaan pasar. Fokus AMMN ialah peningkatan efi siensi operasional dan mempertahankan status sebagai salah satu produksi tembaga dan emas berbiaya rendah.Kenaikan harga logam disebut juga akan berdampak pada kinerja BRMS. Direktur BRMS Herwin Hidayat mengatakan kenaikan harga jual emas akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan BRMS pada kuartal II/2024.

Mengisap Potensi Cuan Saham Rokok

HR1 20 May 2024 Kontan

Kinerja emiten rokok tidak mengepul optimal di tiga bulan pertama 2024. Ini tampak dari realisasi kinerja sejumlah emiten rokok. Misalnya saja PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Emiten rokok yang berbasis di Kediri, Jawa Timur ini  mencatat laba yang dapat diatribusikan pada entitas induk Rp 595,5 di kuartal I-2024. Hasil itu merosot 69% dari periode serupa 2023 yang tembus Rp 1,96 triliun. Ini imbas dari penurunan pendapatan GGRM di kuartal I-2024 sebesar 11,7% menjadi Rp 26,26 triliun. PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) juga mencatatkan penurunan laba bersih pada kuartal I-2024. Begitu juga pendapatan emiten ini yang mengalami koreksi. Meski demikian hasil berbeda dicapai oleh PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Emiten saham milik Philip Morris ini berhasil mencetak pertumbuhan dan laba bersih positif.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo melihat secara kinerja hasil penjualan GGRM dan WIIM di kuartal I-2024 masih di bawah ekspektasi. Penurunan kinerja kedua emiten tersebut, menurutnya, karena adanya penurunan penjualan segmen sigaret kretek mesin (SKM). Masih mengepulnya kinerja HMSP, sebut Azis, dikarenakan emiten ini bisa menjaga pendapatan di segmen SKM. Sedangkan penurunan kinerja GGRM dan WIIM, ia lihat sebagai indikasi pelemahan daya beli perokok. Sedangkan Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta melihat kinerja emiten rokok masih sustainable. Terutama HMSP yang menunjukan kinerja relatif membaik dan stabil. Secara teknikal, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana  merekomendasikan trading buy GGRM dengan target  Rp 19.725-Rp 20.000 dan speculative buy WIIM dengan target Rp 1.200-  Rp 1.260. Sedangkan Azis trading buy HMSP dengan target harga  Rp 810-Rp 850.

Siap-Siap, Waktu Belanja Saham Segera Tiba

HR1 20 May 2024 Kontan (H)

Usai dilanda tekanan jual, pasar saham dalam negeri kembali bergairah. Dalam tiga hari beruntun sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anteng di zona hijau. Indeks saham pun mengakumulasi kenaikan hingga 3,22% dalam sepekan dan kembali ke atas level 7.300. Apakah waktu belanja saham sudah tiba (time to buy). Sebagai gambaran, dua hari perdagangan terakhir, dana investor asing juga mulai kembali masuk ke pasar saham. Alhasil, sejumlah saham mulai berbalik arah dari tren pelemahan sebelumnya. Tak bisa dipungkiri, laju IHSG juga didongkrak dua saham emiten milik Prajogo Pangestu. Sepanjang pekan lalu saham BREN menguat 11,40% dan TPIA naik 14,11%. Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian mengatakan, salah satu agenda penting di pekan pendek ini adalah keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 21-22 Mei 2024.

Konsensus analis memperkirakan, BI akan mempertahankan suku bunga di level 6,25%. Pidato Ketua Fed Jerome Powell akan memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga di negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut. Belum lagi, akan ada Federal Open Market Committee FOMC minutes pada Kamis (23/5) mendatang. Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menambahkan, inflasi CPI AS yang lebih baik dari perkiraan telah menaikkan potensi pemangkasan suku bunga The Fed.

Hal inilah yang membuat IHSG menguat pada pekan lalu. Pelaku pasar pun berharap pemotongan suku bunga dua kali dapat dimulai pada September mendatang. Alhasil, Hans memperkirakan IHSG pekan ini berpeluang konsolidasi dengan kecenderungan menguat. Support ada di 7.200 sampai 7.052 dan resistance di level 7.356 hingga 7.454. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga meyakini, pasar saham berpeluang melanjutkan penguatannya. Terutama jika pejabat Fed menunjukkan sikap dovish. Reza Priyambada, Investment Consultant Reliance Sekuritas memperkirakan, IHSG di pekan pendek ini akan menguji support di 7.190-7.238 dan resistance di 7.378-7.396. Selain saham-saham yang berkaitan dengan suku bunga, Reza merekomendasikan sejumlah saham yang sudah mulai berbalik arah untuk menguat. Contohnya, saham BBCA, BMRI, ASII, PGAS dan ISSP.