Saham
( 1717 )STRATEGI EMITEN : BELANJA MODAL MENGALIR PELAN
Di tengah tingginya ketidakpastian global dan dinamika ekonomi domestik, emiten-emiten berhitung dengan cermat untuk mengucurkan belanja modal pada 2024. Alhasil, kucuran capital expenditure (capex) relatif mengalir pelan pada awal tahun ini.
Dua emiten yang mengalokasikan capex dengan nilai jumbo ialah PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN). ADMR menyiapkan belanja modal US$175 juta hingga US$250 juta, sedangkan BREN senilai US$160 juta. Direktur Adaro Minerals Indonesia Heri Gunawan menjelaskan, capex tersebut rencananya akan digunakan untuk keperluan smelter dan infrastruktur PT Maruwai Coal. “Yang terserap sudah US$77 juta, karena banyak belanja modal untuk pembangunan smelter aluminium maupun proyek infrastruktur untuk Maruwai Coal,” kata Heri usai RUPS ADMR, Selasa (14/5).
Sementara itu, BREN menyerap belanja modal sekitar US$13 juta sepanjang kuartal I/2024. Dana tersebut digunakan BREN untuk persiapan ke giatan pengeboran aset Drajat yang akan dimulai dalam waktu dekat ini. Dengan demikian, BREN masih mengantongi alokasi capex tebal, yakni sekitar US$147 juta untuk dikucurkan dalam tiga kuartal berikutnya. Direktur Utama Barito Renewables Energy Tan Hendra Soetjipto mengatakan, BREN menargetkan kenaikan kapasitas menjadi sebesar 2.002 megawatt (MW) untuk pembangkit geotermal, dan 396 MW dari pembangkit listrik tenaga angin.
Direktur dan Corporate Secretary Barito Pacifi c David Kosasih mengatakan BRPT sebagai holding menganggarkan belanja modal sebesar US$600 juta hingga US$650 juta pada tahun ini. Mayoritas belanja modal tersebut akan digunakan untuk proyek pabrik CAEDC atau pabrik ethylene dichloride, drilling geotermal dan beberapa proyek lainnya.
Serapan belanja modal yang rendah juga dialami oleh emiten panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO). Sepanjang kuartal I/2024, entitas usaha PT Pertamina (Persero) itu menghabiskan belanja modal sebesar US$18,08 juta atau 3,3% dari alokasi capex tahun ini yang mencapai US$547 juta. Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy Yurizki Rio mengeklaim perseroan berupaya menjaga kinerja keuangannya sembari memaksimalkan belanja modal untuk akselerasi ekspansi bisnis. Berbanding terbalik, emiten di sektor telekomunikasi masih jor-joran untuk mengalirkan belanja modal demi ekspansi jaringan dan memperkuat infrastruktur telekomunikasi. PT Indosat Tbk. (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison, misalnya telah menyerap belanja modal sebesar Rp2 triliun hingga kuartal I/2024.
Jumlah itu setara dengan 16,66% dari alokasi capex Rp12 triliun pada tahun ini. Sekitar 88% dari serapan belanja modal ISAT mengalir ke bisnis seluler untuk mendukung permintaan layanan data. Direktur Indosat Nicky Lee menuturkan, anggaran capex ISAT pada tahun ini akan difokuskan untuk memperluas jangkauan, menambah kapasitas, dan membuat jaringan yang lebih tahan banting. Senada, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) tercatat menghabiskan belanja modal sebesar Rp5,1 triliun sepanjang 3 bulan pertama 2024. “Telkom memprioritaskan optimalisasi nilai sinergi dari capex di seluruh jaringan akses, backbone, dan sistem IT untuk efi siensi yang lebih baik,” tulis manajemen TLKM.
Emiten Teknologi Belum Unjuk Gigi
Sempat menghijau, laju indeks sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terkoreksi Selasa (14/5). Indeks sektor teknologi ditutup melemah 1,14%. Sejak awal tahun, indeks ini tergerus 23,52%. Situasi ini berbeda dengan saham teknologi di bursa Amerika Serikat (AS). Malah, saham-saham teknologi menjadi salah satu sektor penopang utama laju saham di Dow Jones. Ini dikarenakan saham-saham teknologi di negeri Paman Sam sudah diibaratkan sebagai salah satu safe haven. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta melihat, saham teknologi masih sulit mencapai titik profitabilitas. Penyebabnya, dinamika sektor teknologi di Indonesia dan AS amat berbeda.
Di AS, para pelaku sektor teknologi selalu berupaya melakukan inovasi. Tujuannya adalah agar produk mereka bisa dipakai di pasar global. Di sisi lain, para emiten di sektor teknologi masih melakukan bakar duit untuk penetrasi pasar. Baik itu dalam melakukan promosi atau program diskon. Sementara Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat, indeks teknologi masih menjadi beban laju pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Secara teknikal indeks tersebut menunjukkan pergerakan yang melandai kemarin (14/5). Ramalannya, indeks ini masih rawan koreksi untuk menguji di 3.304 – 3.356. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Vicky Rosalinda melihat, salah satu faktor adanya penguatan indeks ini adanya aksi buy back GOTO pekan lalu. Pasar pun menyambut positif yang secara teknikal sempat membuat indeks ini menguat.
Mengail Saham Big Caps yang Sudah Murah
Tekanan jual asing yang masih terjadi semakin menggerus kinerja saham berkapitalisasi pasar besar (big caps). Selain saham-saham perbankan, sejumlah saham big caps di jajaran Indeks Kompas100 sempat menyentuh level terendahnya. Penurunan saham big caps turut membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 1,16% dalam sebulan terakhir ke 7.088,76. Dengan koreksi besar-besaran yang terjadi belakangan ini, beberapa saham big caps pun bisa dibilang sudah murah. Saham PT Astra International Tbk (ASII), misalnya. Pada pedagangan Selasa (14/5), saham ASII anjlok 9,75% atau turun 495 poin ke Rp 4.580 per saham. Berdasarkan data RTI, ini merupakan level terendah ASII dalam tiga tahun terakhir. Beberapa saham big caps lain juga berada di zona merah.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, saat ini memang tengah terjadi diskon besar-besaran pada saham dari sejumlah emiten yang memiliki fundamental baik. Nico mencontohkan, penurunan harga saham ASII salah satunya disebabkan rencana pembagian dividen. Pasalnya, ex-date dividen ASII jatuh pada 14 Mei 2024. Meski demikian, secara fundamental, ASII masih punya landasan dan prospek yang kokoh. Hal yang sama juga terjadi kepada saham bank-bank besar setelah mendistribusikan dividen. Nah untuk menilai suatu saham sudah murah atau mahal, Equity Research Analyst Bahana Sekuritas Christine Natasya mengatakan, dari valuasi harganya, saham ASII diperdagangkan dengan PER sekitar 5,3 kali untuk tahun 2024. Menurutnya valuasi ini tersebut tergolong menarik.
Selain saham perbankan, Nico menilai, saham di sektor konsumen primer dan ritel dapat dicermati. Contohnya, seperti saham PT Ace Hard-ware Tbk (ACES), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Adrian Joezer, Head of Equity Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas mengatakan, dalam tiga sampai enam bulan ke depan, pertumbuhan percepatan paling tinggi akan dirasakan oleh emiten non-perbankan. Sementara secara teknikal, Vice President Samuel Sekuritas Indonesia, M. Alfatih mengatakan, penguatan pada saham perbankan bisa menjadi awal tren kenaikan kembali setelah melalui tren penurunan sejak Maret 2024. Namun perubahan tren ini masih perlu konfirmasi. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, sinyal pelonggaran moneter bisa memicu kembalinya dana asing di semester kedua.
Berharap Sentimen dari Stock Split
Sederet emiten siap menggelar aksi pemecahan nilai nominal saham alias stock split. Ada delapan emiten yang mengumumkan penyelenggaraan stock split tahun ini. Sebagian menunggu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Emiten yang belum lama ini mengumumkan rencana stock split yakni PT Indospring Tbk (INDS). Emiten suku cadang otomotif ini akan melakukan pemecahan saham dengan rasio 1:10. INDS akan menggelar RUPS pada 12 Juni 2024. Sebelumnya, ada PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) yang lebih dulu membuka rencana stock split. Emiten lainnya, PT Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP) dengan rasio pemecahan saham 1:2, PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) dengan rasio 1:5, PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) dengan rasio 1:20, dan PT Asuransi Ramayana Tbk (ASRM) dengan rasio 1:4.
Di keterbukaan, manajemen PBID mengungkapkan dua tujuan aksi ini. Pertama, meningkatkan likuiditas saham dengan memperluas basis investor. Kedua, dengan harga saham lebih terjangkau bisa meningkatkan jumlah investor. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni mengamati stock split memberikan sinyal emiten masih optimistis terhadap prospek kinerja bisnisnya. Kepala Riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono mengingatkan stock split tidak memberikan dampak terhadap fundamental emiten tersebut. Ia menyarankan, agar investor tetap selektif, karena bisa saja ada emiten yang menggelar stock split agar harga sahamnya turun sehingga lebih likuid. Pendiri WH-Project, William Hartanto menambahkan, seberapa signifikan stock split menambah likuiditas saham akan tetap tergantung dari daya tarik emiten tersebut.
Unitlink Saham Dolar Mekar
Produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (Paydi) alias unitlink saham berbasis dolar Amerika Serikat (AS) mencatat kinerja positif per April 2024. Infovesta Utama mencatat, sejumlah unitlink berbasis dolar AS mencetak return dua digit. Contohnya unitlink besutan Prudential Life Assurance, yakni PRULink US Dolar Global Technology Equity Fund. Unitlink ini mencetak return 17,29% sejak awal tahun ini. Unitlink saham berbasis dolar AS milik Allianz Life, yakni Smartwealth Dollar Equity World Opportunities Funds US$, juga mencetak return dua digit di level 11,21% secara year to date. Sedangkan unitlink lainnya masing-masing membukukan imbal hasil satu digit.
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani bilang, kenaikan kinerja unitlink saham berbasis dolar AS ditopang menguatnya pasar saham negeri Paman Sam sejak awal tahun. Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia Karin Zulkarnaen menyebut, di Prudential, PRULink US Dolar Global Technology Equity Fund mencetak imbal hasil tertinggi dibanding produk sejenis lainnya. "Ini ditopang naiknya saham sektor teknologi global selama Januari hingga April 2024," ujarnya, Kamis (9/5). Karin optimistis, PRULink US Dolar Global Technology Equity Fund masih berpotensi mencatat kinerja positif. Ini seiring potensi kenaikan saham-saham teknologi global. Plt Direktur Utama BNI Life Insurance Eben Eser Nainggolan menyatakan, suku bunga tinggi akan berangsur turun di 2024.
Konflik dan Cuaca, Momok Emiten Sawit
Kinerja sejumlah emiten minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) masih mampu mencatatkan hasil positif pada kuartal I-2024. Meski ada emiten yang mencatatkan penurunan pendapatan di periode tersebut.Misalnya PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatatkan pendapatan Rp 879,46 miliar di kuartal I 2024. Pencapaian ini turun 2,73% secara tahunan alias year on year (yoy). Namun laba bersih LSIP melesat 141% yoy menjadi Rp 269 miliar di kuartal I-2024. Sedangkan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan kenaikan laba bersih 2,59% menjadi Rp 230,5 miliar di periode Januari-Maret 2024. Ini berkat kenaikan pendapatan bersih ALLI sebesar 0,8% menjadi Rp 4,79 triliun di kuartal I-2024.
Fenny Sofyan, Vice President Investor Relation & Public Affairs AALI memaparkan, hasil tersebut disebabkan kenaikan penjualan CPO dan turunannya sebesar 3,9% yoy. Analis Phillip Sekuritas, Marvin Lievincent melihat, kinerja keuangan mayoritas emiten CPO di kuartal I 2024 tercatat lebih baik dari periode serupa tahun lalu. Namun, ketidakstabilan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah masih menekan harga saham emiten CPO. Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan melihat kinerja emiten CPO di kuartal I-2024 masih dipengaruhi el nino pada akhir 2023. Untungnya, sejumlah emiten memiliki tanaman sawit di usia prima. Alhasil, produksi tanaman sawit mereka lebih tinggi dibandingkan emiten lainnya. Sedangkan transisi cuaca dari El Nino ke La Nina ia nilai bisa mengganggu produksi tanaman. Namun, di sisi lain, harga pupuk di tahun ini masih bisa lebih rendah, sehingga bisa mengurangi biaya operasional para emiten.
Obral Saham Bank, Cuan Besar Menanti
Penurunan tajam saham-saham perbankan dalam beberapa waktu terakhir, membuat valuasinya kembali murah dan menarik untuk berburu. Terlebih fundamental emiten perbankan masih solid, dan koreksi saham diyakini karena sentimen jangka pendek semata. Para analis juga kompak merekomondasikan beli saham-saham bank besar seperti Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dengan potensi gain hingga 35%. "Ada optimisme bahwa pasar dan investor hanya membutuhkan alasan untuk kembali berinvestasi di saham-saham perbankan. Saat ini harga saham perbankan dapat dikatakan cenderung murah dari sisi valuasi, karena fundamental dan prospek bisnisnya masih relatif stabil," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus kepada Investor Daily. Nico mengatakan, beberapa saham perbankan unggulan di pasar modal Indonesia telah mencatatkan rekor tertinggi tahun ini. Sehingga, adanya koreksi terhadap harganya menjadi hal yang dianggap wajar. (Yetede)
Elegi Saham di Bulan Mei
Bulan Mei menjadi momen pelaku perdagangan saham atau trader berbondong-bondong menjual saham dan meninggalkan indeks komposit terkoreksi dalam. Lalu, investor kembali menaruh uangnya pada bulan Oktober. Fenomena ini berasal dari Inggris, yakni sell in May and go away, and come back on St Leger’s Day. Head Online and Equity Sales NH Korindo Sekuritas, Hendra Stevin, menjelaskan, slogan tersebut awalnya ditujukan kepada investor di Inggris, kaum bangsawan, dan bankir untuk menjual saham mereka pada bulan Mei, lalu bersantai menikmati musim panas dan meninggalkan pasar sementara serta kembali aktif lagi saat St Leger’s Day, sebuah acara pacuan kuda di bulan September. ”Dari definisi di atas, investor mengasumsikan, bulan Mei saatnya berbondong-bondong menjual saham dan mulai aktif kembali di bulan Oktober,” katanya, Senin (6/5).
Pola tersebut cocok di negara empat musim di kawasan Eropa, juga AS. Mengutip ulasan Senior Portofolio Manager O’Neil Global Advisors, Randy Watts, di Forbes pada 12 Mei 2023, pasar AS juga meyakini fenomena tersebut sejak jatuhnya pasar pada Mei hingga akhir musim panas atau awal musim gugur tahun 1987. Berdasarkan data aktual, yang ia tarik lebih dari 50 tahun sampai 2023, kinerja saham lebih baik pada periode November-April dibanding Mei-Oktober.Hal ini terlihat pada Indeks Standard & Poor’s (S&P) 500 di AS yang rata-rata naik 6,5 % selama November-April dibanding hanya kenaikan 1,6 % pada sisa tahun, dengan perbedaan 4,9 % poin. Selisih cukup signifikan juga tergambar di indeks bursa Nasdaq sebesar 5,9 % poin dan Dow Jones Initial Average (DJIA) sebesar 6,9 % poin.
Data historis IHSG di bursa Indonesia selama 20 tahun terakhir, yang ditunjukkan Hendra, menemukan penurunan IHSG paling banyak pada periode Mei-Oktober. Tingkat pengembalian negatif atau koreksi IHSG di bulan Mei terjadi 10 kali dari 20 tahun terakhir. ”Jadi, ada benarnya, tetapi tidak 100 %. Terbukti November paling banyak koreksinya, lalu ada faktor lainnya yang lebih mendukung,” ujar Hendra. Kendati bulan Mei dan lima bulan berikutnya menjadi periode yang cukup sering mengalami tingkat pengembalian negatif selama 20 tahun terakhir, Mei tidak selalu mengawali tren pelemahan IHSG. Pada 2024, IHSG sampai Senin (6/5) masih tumbuh minus hingga 1,62 %. Investor berbondong-bondong menarik uangnya dari pasar modal, terlebih pada April lalu. Kemenkeu mencatat jumlah penarikan modal investor ke luar negeri sebesar Rp 29,73 triliun dalam sebulan, terdiri dari saham senilai Rp 13,08 triliun dan SBN Rp 16,65 triliun. (Yoga)
Saham Bata Belum Masuk Kualifikasi ”Delisting” Pasca penutupan Pabrik
Memburuknya kinerja keuangan yang membuat PT Sepatu Bata Tbk harus menghentikan operasi pabriknya menjadi sentiment negatif bagi saham perseroan. Namun, Bursa Efek Indonesia (BEI) belum melihat potensi pembatalan pencatatan atau delisting bagi emiten tersebut. Harga saham emiten dengan kode BATA pada Selasa (7/5) tercatat Rp 79 per lembar, merosot tajam hingga 15 % dari harga Rp 95 per lembar pada Jumat (3/5), bersamaan dengan hari pengumuman penghentian aktivitas pabrik mereka di Purwakarta, Jabar.
Saham Bata juga mendapat notasi khusus dengan kategori L, karena perusahaan belum menyampaikan laporan keuangan terbaru setelah laporan kinerja 2023. Pada laporan tahun lalu mereka membukukan kenaikan kerugian komprehensif setidaknya tiga tahun terakhir, dari Rp 51,04 miliar pada 2021 menjadi Rp 188,41 miliar pada 2023. Dari sisi pendapatan penjualan neto, pada 2023 perusahaan mencatat penurunan 5 % menjadi Rp 609,6 miliar dari Rp 643,45 miliar pada 2022. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menilai, dengan kondisi tersebut, Bata tidak berpotensi dicoret dari bursa.
Mengacu Peraturan Bursa Nomor I-N tentang Pembatalan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting), saham suatu emiten bisa dikeluarkan karena adanya keputusan bursa, yang menyangkut tiga alasan, yakni perusahaan tercatat mengalami kondisi yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usahanya, baik secara finansial maupun hukum, dan tidak menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai. Kedua, perusahaan tercatat tidak memenuhi persyaratan pencatatan di bursa. Ketiga, saham telah mengalami suspensi efek, baik di pasar reguler maupun tunai dan/atau seluruh pasar paling kurang 24 bulan terakhir. (Yoga)
Ketidakpastian Global Bikin Saham Bank Himbara Ambles
Kinerja saham Himpunan Bank-bank Milik Negara atau Himbara anjlok hingga dua digit dibandingkan titik tertingginya sepanjang tahun ini, disebabkan dampak ketidakpastian global dan sentiment pertumbuhan laba bersih yang melambat. Selama April 2024, perekonomian global diselimuti ketidakpastian seiring ekspektasi penundaan pemangkasan suku bunga acuan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dan memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian itu mengakibatkan aliran modal portofolio dari negara berkembang berpaling ke instrumen yang lebih likuid (safe haven), seperti dollar AS dan emas.
Berdasarkan data transaksi 1-25 April 2024, investor asing telah membukukan jual neto di pasar keuangan domestik sebesar Rp 32 triliun. Aksi jual ini terjadi di pasar surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 13,28 triliun, pasar saham sebesar Rp 11,89 triliun, dan di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 6,83 triliun. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles hingga menyentuh level terendahnya di level 7.036,07 pada 26 April 2024 atau terkontraksi 5,64 % dibandingkan titik tertingginya di 7.433,31 pada 14 Maret 2024.
Pelemahan tersebut seiring kejatuhan saham yang dialami oleh berbagai emiten penggerak IHSG, tidak terkecuali emiten perbankan. Saham Bank Mandiri, terkontraksi 15,15 5 pada penutupan pasar Senin (6/5) dibanding level tertingginya pada 14 Maret 2024. Saham BTN juga terkontraksi 19,34 % dibanding rekor tertingginya pada 26 Maret. BNI turut terkontraksi 22,79 % dibanding capaian tertingginya pada 13 Maret 2024. Kontraksi terdalam dialami saham BRI sebesar 25,19 dibanding level tertingginya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Ekspor Pertanian Rp 451 T
09 Feb 2021 -
Warga Asing Bisa Punya Hak Milik Apartemen
08 Oct 2020









