Saham
( 1722 )Tembaga Memoles Prospek MDKA
Angka produksi tembaga yang menguat bakal memoles kinerja PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Emiten pertambangan bijih logam ini berpeluang kembali menadah laba bersih pada tahun ini, setelah di tahun 2023 lalu menelan kerugian. Analis KB Valbury Sekuritas, Benyamin Mikael mengatakan, tahun ini, MDKA membidik 14.000-16.000 ton tembaga. Naik dibandingkan dengan produksi tembaga di tahun lalu yang sebesar 12.706 ton.Dengan kenaikan produksi tembaga pada tahun ini, MDKA diprediksikan bisa mencapai laba tipis, setelah merugi pada tahun 2023 sebesar US$ 20,7 juta. Pada kuartal IV-2023, MDKA mencetak laba bersih sebesar US$ 3,1 juta, turun hingga 87,8% secara kuartalan. Sedangkan pendapatan MDKA tumbuh cukup kuat sebesar 120% year on year (yoy) pada kuartal IV-2023.
Dalam riset 5 April 2024, Benyamin mengatakan, harga komoditas nikel yang lebih rendah akan menjadi tantangan utama MDKA pada tahun 2024. Benyamin memperkirakan, pendapatan MDKA pada tahun 2024 akan mencapai US$ 2,29 miliar, tumbuh dari tahun 2023 yang mencapai US$ 1,7 miliar. Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, banyak peluang yang dapat diraih MDKA pada tahun ini, sejalan dengan kenaikan produksi tembaga. Selain itu, Nico mengatakan ada indikasi peningkatan cadangan tembaga di proyek Tujuh Bukit Banyuwangi. Cadangan tembaga naik dari sebelumnya 442 juta ton menjadi 755 juta ton. Hal ini menjadi katalis positif untuk MDKA, di tengah sejumlah risiko yang masih membayangi sektor tambang nikel. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menilai, prospek bisnis MDKA di tahun ini masih positif, di tengah banyaknya proyek yang sedang digarap.
Mendongkrak Kinerja, ELPI Mulai Fokus di Logistik Migas
Emiten terus melancarkan aksi korporasi pada tahun ini. Misalnya PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI). Salah satu emiten pelayaran logistik ini menyiapkan dana Rp 1 triliun untuk belanja modal atau capital expenditure (capex) sepanjang tahun 2024. Pada periode Januari–Maret 2023, Eka Taniputra, Direktur Utama Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari menjelaskan bahwa sumber dana capex itu rencananya berasal dari kas internal dan pendanaan pihak ketiga, yaitu perbankan. Namun komposisi tersebut masih belum pasti, mengingat ELPI masih mencermati potensi dan risiko yang akan datang, terutama untuk pembelian kapal. Eka bilang, jika risikonya besar, ELPI akan mengandalkan pendanaan internal terlebih dulu.
Emiten yang berbasis di Surabaya ini juga berencana menambah empat unit offshore support vessel sepanjang tahun ini. ELPI akan kedatangan 10 unit armada baru pada tahun ini. Menurut Eka langkah tersebut diambil, lantaran ELPI tahun ini bakal fokus pada bidang logistik pendukung migas dan gas (migas) serta batubara. Untuk itu, ELPI lebih banyak menambah armada di komoditas curah, khususnya batubara. Sejalan dengan penambahan armada itu, ELPI mengincar pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di akhir tahun ini. Yakni masing-masing bisa tumbuh 15% dibandingkan pencapaian pada 2023. ELPI berencana membagikan dividen Rp 46,69 miliar atau Rp 6,3 per saham dari tahun buku 2023.
Sentimen Kocok Ulang MSCI Cuma Sementara
Kocok ulang indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali terjadi. MSCI Indonesia mengumumkan rebalancing MSCI Global Standard Index dan MSCI Small Cap Index. Kocok ulang indeks MSCI ini akan berlaku pada penutupan tanggal 31 Mei 2024. Kemudian indeks tersebut mulai berlaku efektif per per 1 Juni 2024. Dalam kocok ulang indeks MSCI tersebut, salah satu emiten Grup Barito yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) masuk ke dalam daftar MSCI Global Standard Index. Sementara PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) harus tergeser dari indeks tersebut dan masuk ke kategori MSCI Small Cap Index. Selain itu, PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), dan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Compa Tbk (ULTJ) juga masuk dalam jajaran MSCI Small Cap Index. Sementara PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) keluar dari indeks tersebut.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menjelaskan, hasil perombakan MSCI merupakan hal yang wajar terjadi secara berkala. Menurutnya ini mencerminkan dinamika pasar modal dan perubahan kinerja perusahaan yang terdaftar. Pasca kocok ulang indeks MSCI tersebut, Sukarno melihat prospek jangka pendek saham yang masuk indeks MSCI cukup positif. Dan ini sudah direspons pelaku pasar, tercermin dari kenaikan saham yang signifikan. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy sependapat TPIA layak masuk MSCI Global Standard Index. Sebab kapitalisasi pasar TPIA sudah berada di angka Rp 789,42 triliun. Selain kapitalisasi pasar, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta melihat, aksi korporasi dari TPIA saat ini juga tengah dicermati oleh para investor. Langkah tersebut menurutnya merupakan upaya manajemen TPIA untuk menjaga kepercayaan para investor.
Merger FREN dan EXCL Kian Dekat
Hilal rencana konsolidasi atau merger antara PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dengan PT XL Axiata Tbk (EXCL) mulai nampak. Kedua induk emiten telekomunikasi itu telah menandatangani nota kesepahaman. Sinar Mas melalui PT Wahana Inti Nusantara dan PT Global Nusa Data bersama Axiata Group Berhad telah meneken nota kesepahaman dengan Axiata Group Berhad yang bersifat tidak mengikat, Rabu (15/5). Direktur Utama Smartfren Telecom, Merza Fachys mengatakan, pihaknya berharap dengan sinergi ini, akan terjadi efisiensi bisnis. Selain itu, sumber daya untuk melayani pelanggan bisa semakin kuat. Managing Director Sinar Mas, Ferry Salman memastikan, seluruh proses yang berlangsung saat ini akan mengikuti ketentuan dan regulasi yang berlaku. Dia menegaskan, dokumen nota kesepahaman masih bersifat tidak mengikat. Sehingga ada potensi merger ini tidak terlaksana. Namun, aksi korporasi ini diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi industri.
Menurut Ferry, rencana merger ini juga sejalan dengan strategi pengembangan portofolio bisnis pilar usaha Sinar Mas. Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/5), rencana merger antara XL Axiata dan Smartfren akan menciptakan entitas baru yang akan disebut dengan MergeCo. Manajemen Axiata meyakini MergeCo akan memiliki kelincahan yang strategis, kompetensi dan kemampuan yang mumpuni untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat dari konsumen, bisnis dan sektor publik. Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margaronis mengatakan, penggabungan antara FREN dan EXCL akan memberikan beberapa keuntungan bagi masing-masing emiten. "Keduanya memiliki posisi pasar fixed broadband dan fixed wireless access (FWA) yang tetap tinggi. Ini yang tidak ada dalam merger Indosat dan Hutchinson," tulisnya dalam riset.
Grup Barito Kuasai Tiga Besar Market Cap Bursa
Saham Grup Barito, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), menguasai tiga besar kapitalisasi pasar (market cap) di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan kontribusi masing-masing mencapai 10,9% dan 6,49%. Saham BREN kokoh ini di posisi puncak dengan market cap Rp1.335 triliun, sedangkan saham yang dikendalikan Prajogo Pangestu lainnya, TPIA, berada di urutan ketiga dengan market cap Rp789 triliun. Sementara itu, di posisi kedua, ada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan market cap Rp 1.159 triliun. Kemarin, saham-saham Group Barito melejit, sehingga turut mengerek indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 1,36% ke level 7.279. Nilai transaksi di bursa pada perdagangan kemarin mencapai Rp11,73 triliun, dengan 296 saham mencatatkan kenaikan, 257 saham terkoreksi, dan 224 saham stagnan. "Derasnya capital inflow yang masuk ke BREN dan TPIA membuat market cap-nya terus meningkat, sehingga wajar saja kalau dua saham tersebut berhasil masuk tiga besar market cap bursa," kata Senior Invesment Information-Retail Business Mirea Aseet Sekurita Muhammad Nafan Aji Gusta Utama kepada Investor Daily. (Yetede)
Waskita Karya Berpacu Hindari ”Delisting”
PT Waskita Karya (Persero) Tbk optimistis hukuman suspensi saham akan segera dicabut sehingga saham perseroan bisa lolos ancaman pembatalan pencatatan atau delisting dari papan bursa. Kendati demikian, perseroan mesti berkejaran dengan waktu untuk menyelesaikan berbagai masalah keuangan. Saham Waskita Karya disuspensi sejak 8 Mei 2023 karena perseroan gagal menyelesaikan pembayaran bunga Obligasi Berkelanjutan IV Waskita Karya Tahap I Tahun 2020. Sejak itu, 7,1 miliar lembar saham berkode WSKT milik public tertahan. Sesuai dengan regulasi, otoritas bursa dapat mendepak saham Waskita Karya secara paksa bila periode suspensi telah mencapai 24 bulan. Artinya, perseroan saat ini hanya punya waktu kurang dari setahun untuk menyelesaikan seluruh urusan utang dan memperbaiki kondisi finansial mereka.
SVP Corporate Secretary PT Waksita Karya (Persero) Tbk Ermy Puspa Yunita optimistis suspensi saham perseroan akan dibuka kembali setelah mendapat seluruh persetujuan terkait skema restrukturisasi oleh seluruh kreditor. Dengan waktu yang tersisa, manajemen Waskita Karya berkomitmen melakukan percepatan proses kajian komprehensif terhadap perjanjian restrukturisasi induk (master restructuring agreement/MRA) dengan seluruh kreditor, baik perbankan maupun pemegang obligasi. ”Manajemen perseroan saat ini telah berhasilmendapat persetujuan dari 21 perbankan, baik BUMN maupun swasta, dan juga telah mendapat persetujuan restrukturisasi atas 3 seri obligasi terkait dengan usulan skema restrukturisasi Waskita,” ujarnya dalam pesan tertulis, Selasa (14/5). (Yoga)
STRATEGI EMITEN : BELANJA MODAL MENGALIR PELAN
Di tengah tingginya ketidakpastian global dan dinamika ekonomi domestik, emiten-emiten berhitung dengan cermat untuk mengucurkan belanja modal pada 2024. Alhasil, kucuran capital expenditure (capex) relatif mengalir pelan pada awal tahun ini.
Dua emiten yang mengalokasikan capex dengan nilai jumbo ialah PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN). ADMR menyiapkan belanja modal US$175 juta hingga US$250 juta, sedangkan BREN senilai US$160 juta. Direktur Adaro Minerals Indonesia Heri Gunawan menjelaskan, capex tersebut rencananya akan digunakan untuk keperluan smelter dan infrastruktur PT Maruwai Coal. “Yang terserap sudah US$77 juta, karena banyak belanja modal untuk pembangunan smelter aluminium maupun proyek infrastruktur untuk Maruwai Coal,” kata Heri usai RUPS ADMR, Selasa (14/5).
Sementara itu, BREN menyerap belanja modal sekitar US$13 juta sepanjang kuartal I/2024. Dana tersebut digunakan BREN untuk persiapan ke giatan pengeboran aset Drajat yang akan dimulai dalam waktu dekat ini. Dengan demikian, BREN masih mengantongi alokasi capex tebal, yakni sekitar US$147 juta untuk dikucurkan dalam tiga kuartal berikutnya. Direktur Utama Barito Renewables Energy Tan Hendra Soetjipto mengatakan, BREN menargetkan kenaikan kapasitas menjadi sebesar 2.002 megawatt (MW) untuk pembangkit geotermal, dan 396 MW dari pembangkit listrik tenaga angin.
Direktur dan Corporate Secretary Barito Pacifi c David Kosasih mengatakan BRPT sebagai holding menganggarkan belanja modal sebesar US$600 juta hingga US$650 juta pada tahun ini. Mayoritas belanja modal tersebut akan digunakan untuk proyek pabrik CAEDC atau pabrik ethylene dichloride, drilling geotermal dan beberapa proyek lainnya.
Serapan belanja modal yang rendah juga dialami oleh emiten panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO). Sepanjang kuartal I/2024, entitas usaha PT Pertamina (Persero) itu menghabiskan belanja modal sebesar US$18,08 juta atau 3,3% dari alokasi capex tahun ini yang mencapai US$547 juta. Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy Yurizki Rio mengeklaim perseroan berupaya menjaga kinerja keuangannya sembari memaksimalkan belanja modal untuk akselerasi ekspansi bisnis. Berbanding terbalik, emiten di sektor telekomunikasi masih jor-joran untuk mengalirkan belanja modal demi ekspansi jaringan dan memperkuat infrastruktur telekomunikasi. PT Indosat Tbk. (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison, misalnya telah menyerap belanja modal sebesar Rp2 triliun hingga kuartal I/2024.
Jumlah itu setara dengan 16,66% dari alokasi capex Rp12 triliun pada tahun ini. Sekitar 88% dari serapan belanja modal ISAT mengalir ke bisnis seluler untuk mendukung permintaan layanan data. Direktur Indosat Nicky Lee menuturkan, anggaran capex ISAT pada tahun ini akan difokuskan untuk memperluas jangkauan, menambah kapasitas, dan membuat jaringan yang lebih tahan banting. Senada, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) tercatat menghabiskan belanja modal sebesar Rp5,1 triliun sepanjang 3 bulan pertama 2024. “Telkom memprioritaskan optimalisasi nilai sinergi dari capex di seluruh jaringan akses, backbone, dan sistem IT untuk efi siensi yang lebih baik,” tulis manajemen TLKM.
Emiten Teknologi Belum Unjuk Gigi
Sempat menghijau, laju indeks sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terkoreksi Selasa (14/5). Indeks sektor teknologi ditutup melemah 1,14%. Sejak awal tahun, indeks ini tergerus 23,52%. Situasi ini berbeda dengan saham teknologi di bursa Amerika Serikat (AS). Malah, saham-saham teknologi menjadi salah satu sektor penopang utama laju saham di Dow Jones. Ini dikarenakan saham-saham teknologi di negeri Paman Sam sudah diibaratkan sebagai salah satu safe haven. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta melihat, saham teknologi masih sulit mencapai titik profitabilitas. Penyebabnya, dinamika sektor teknologi di Indonesia dan AS amat berbeda.
Di AS, para pelaku sektor teknologi selalu berupaya melakukan inovasi. Tujuannya adalah agar produk mereka bisa dipakai di pasar global. Di sisi lain, para emiten di sektor teknologi masih melakukan bakar duit untuk penetrasi pasar. Baik itu dalam melakukan promosi atau program diskon. Sementara Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat, indeks teknologi masih menjadi beban laju pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Secara teknikal indeks tersebut menunjukkan pergerakan yang melandai kemarin (14/5). Ramalannya, indeks ini masih rawan koreksi untuk menguji di 3.304 – 3.356. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Vicky Rosalinda melihat, salah satu faktor adanya penguatan indeks ini adanya aksi buy back GOTO pekan lalu. Pasar pun menyambut positif yang secara teknikal sempat membuat indeks ini menguat.
Mengail Saham Big Caps yang Sudah Murah
Tekanan jual asing yang masih terjadi semakin menggerus kinerja saham berkapitalisasi pasar besar (big caps). Selain saham-saham perbankan, sejumlah saham big caps di jajaran Indeks Kompas100 sempat menyentuh level terendahnya. Penurunan saham big caps turut membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 1,16% dalam sebulan terakhir ke 7.088,76. Dengan koreksi besar-besaran yang terjadi belakangan ini, beberapa saham big caps pun bisa dibilang sudah murah. Saham PT Astra International Tbk (ASII), misalnya. Pada pedagangan Selasa (14/5), saham ASII anjlok 9,75% atau turun 495 poin ke Rp 4.580 per saham. Berdasarkan data RTI, ini merupakan level terendah ASII dalam tiga tahun terakhir. Beberapa saham big caps lain juga berada di zona merah.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, saat ini memang tengah terjadi diskon besar-besaran pada saham dari sejumlah emiten yang memiliki fundamental baik. Nico mencontohkan, penurunan harga saham ASII salah satunya disebabkan rencana pembagian dividen. Pasalnya, ex-date dividen ASII jatuh pada 14 Mei 2024. Meski demikian, secara fundamental, ASII masih punya landasan dan prospek yang kokoh. Hal yang sama juga terjadi kepada saham bank-bank besar setelah mendistribusikan dividen. Nah untuk menilai suatu saham sudah murah atau mahal, Equity Research Analyst Bahana Sekuritas Christine Natasya mengatakan, dari valuasi harganya, saham ASII diperdagangkan dengan PER sekitar 5,3 kali untuk tahun 2024. Menurutnya valuasi ini tersebut tergolong menarik.
Selain saham perbankan, Nico menilai, saham di sektor konsumen primer dan ritel dapat dicermati. Contohnya, seperti saham PT Ace Hard-ware Tbk (ACES), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Adrian Joezer, Head of Equity Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas mengatakan, dalam tiga sampai enam bulan ke depan, pertumbuhan percepatan paling tinggi akan dirasakan oleh emiten non-perbankan. Sementara secara teknikal, Vice President Samuel Sekuritas Indonesia, M. Alfatih mengatakan, penguatan pada saham perbankan bisa menjadi awal tren kenaikan kembali setelah melalui tren penurunan sejak Maret 2024. Namun perubahan tren ini masih perlu konfirmasi. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, sinyal pelonggaran moneter bisa memicu kembalinya dana asing di semester kedua.
Berharap Sentimen dari Stock Split
Sederet emiten siap menggelar aksi pemecahan nilai nominal saham alias stock split. Ada delapan emiten yang mengumumkan penyelenggaraan stock split tahun ini. Sebagian menunggu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Emiten yang belum lama ini mengumumkan rencana stock split yakni PT Indospring Tbk (INDS). Emiten suku cadang otomotif ini akan melakukan pemecahan saham dengan rasio 1:10. INDS akan menggelar RUPS pada 12 Juni 2024. Sebelumnya, ada PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) yang lebih dulu membuka rencana stock split. Emiten lainnya, PT Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP) dengan rasio pemecahan saham 1:2, PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) dengan rasio 1:5, PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) dengan rasio 1:20, dan PT Asuransi Ramayana Tbk (ASRM) dengan rasio 1:4.
Di keterbukaan, manajemen PBID mengungkapkan dua tujuan aksi ini. Pertama, meningkatkan likuiditas saham dengan memperluas basis investor. Kedua, dengan harga saham lebih terjangkau bisa meningkatkan jumlah investor. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni mengamati stock split memberikan sinyal emiten masih optimistis terhadap prospek kinerja bisnisnya. Kepala Riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono mengingatkan stock split tidak memberikan dampak terhadap fundamental emiten tersebut. Ia menyarankan, agar investor tetap selektif, karena bisa saja ada emiten yang menggelar stock split agar harga sahamnya turun sehingga lebih likuid. Pendiri WH-Project, William Hartanto menambahkan, seberapa signifikan stock split menambah likuiditas saham akan tetap tergantung dari daya tarik emiten tersebut.
Pilihan Editor
-
Ekspor Pertanian Rp 451 T
09 Feb 2021 -
Warga Asing Bisa Punya Hak Milik Apartemen
08 Oct 2020









