;
Tags

Saham

( 1717 )

Aksi Korporasi Kunci Grup Barito

HR1 03 May 2024 Kontan

Kinerja keuangan mayoritas emiten milik taipan Prajogo Pangestu menciut pada kuartal I-2024. Top line dan bottom line tiga emiten di bawah naungan Grup Barito kompak merosot. Pendapatan sang induk, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 4,93% menjadi US$ 618,59 juta selama tiga bulan pertama 2024. Secara bottom line , laba bersih BRPT anjlok 61,98% menjadi US$ 8,85 juta di periode tersebut. Penurunan kinerja BRPT ini tak lepas dari performa dua anak usahanya, yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Pada kuartal I-2024, TPIA berbalik menderita rugi bersih US$ 33,12 juta ketika pendapatan menyusut 6,05% menjadi US$ 471,91 juta. 

Direktur Utama BRPT Agus Salim Pangestu mengungkapkan hasil kinerja kuartal I 2024 menunjukkan fluktuasi yang terjadi di sektor petrokimia global. Meningkatnya ketegangan geopolitik, menurutnya ikut melemahkan pasar. Grup Barito pun akan terus mewaspadai volatilitas tersebut. "Kami memprioritaskan kehati-hatian sambil menjaga ketahanan finansial untuk meraih peluang pertumbuhan baru," kata Agus dalam keterbukaan informasi, Selasa (30/4). Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai tren naik harga saham emiten milik Prajogo Pangestu seperti BREN dan TPIA kemungkinan dipicu sentimen positif dari kabar ekspansi dan akuisisi yang dilakukannya. Terlebih bagi BREN yang terdorong prospek jangka panjang energi terbarukan. Analis Stocknow.id Abdul Haq Alfaruqy mengamati secara valuasi saham-saham Prajogo Pangestu sudah terbilang mahal.

Kinerja Tak Seragam, Laju IHSG Teredam

HR1 03 May 2024 Kontan (H)

Musim pelaporan kinerja untuk kuartal pertama tahun ini hampir usai. Sejauh ini, hasilnya cukup beragam. Emiten yang bersinggungan dengan konsumsi masyarakat, tampak masih ketiban berkah dari dorongan daya beli di momentum pemilu dan bulan Ramadan. Dari 100 emiten dengan likuiditas tinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tergabung di Indeks KOMPAS100, sebanyak 54 emiten mengantongi pertumbuhan laba bersih. Sedangkan 30 emiten lainnya harus rela keuntungannya terpangkas pada tiga bulan pertama 2024. "Secara historis, pada periode ini tingkat konsumsi masyarakat cenderung meningkat. Selain itu level daya beli masyarakat masih optimis," jelas Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, Kamis (2/5). 

Di sisi lain, emiten berbasis komoditas rata-rata masih mengalami penurunan kinerja lantaran pelemahan harga komoditas di kuartal pertama tahun ini. Senior Investment Information Mirae Asset Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan pertumbuhan ekonomi global masih akan memengaruhi kinerja emiten tahun ini. Apalagi, masih ada sentimen suku bunga acuan tinggi yang lebih lama. Pengamat Pasar Modal dan Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy juga bilang, kinerja sejumlah emiten di kuartal I-2024 ini masih belum meyakinkan. Terutama, emiten-emiten di sektor perbankan. "Pertumbuhan labanya tidak sebesar kenaikan untuk tahun-tahun sebelumnya," kata dia. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menilai, sektor ritel masih akan unggul dan berpotensi tumbuh positif hingga semester I-2024.

Bunga Tinggi dan Rupiah Hantui Pasar

HR1 02 May 2024 Kontan

Sebagian besar emiten penghuni Indeks LQ45 telah merilis kinerja kuartal I-2024. Catatan KONTAN, hanya ada tujuh emiten yang belum merilis laporan kinerja karena masih dalam proses audit. Artinya, sudah ada 38 emiten konstituen LQ45 yang sudah menyampaikan kinerja keuangannya. Hasilnya, ada 22 emiten yang mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi emiten dengan pertumbuhan pendapatan paling tinggi. Pendapatan GOTO melonjak 22,4% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 2,07 triliun. 

Menyusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dam PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) yang pendapatannya masing-masing tumbuh sebesar 17,85%, 17,77% dan 17,05%. Emiten yang terafiliasi dengan Garibaldi "Boy" Thohir ini mengantongi pendapatan US$ 10,21 juta di kuartal I-2024. Dibandingkan periode sebelumnya di 2023, laba bersih ESSA hanya mencapai US$ 3,11 juta. Investment Consultant Reliance Sekuritas, Reza Priyambada menjelaskan, sekilas kinerja para emiten di kuartal I-2024 masih cukup baik. Ini seharusnya bisa berimbas positif ke kinerja saham mereka. 

Seperti diketahui, tekanan pada nilai tukar rupiah menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar emiten. Nilai tukar rupiah belum kunjung turun dari level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Inilah yang membuat Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan 25 basis poin. Ike Widiawati, Deputy Head of Research Sinarmas Sekuritas menilai, kenaikan suku bunga akan membuat likuiditas dalam negeri semakin ketat. Jika asumsinya, nilai tukar rupiah akan kembali menguat, emiten di farmasi dan kesehatan akan mendapatkan keuntungan. 

Mengingat mayoritas bahan baku emiten farmasi merupakan impor. Sektor lainnya adalah ritel dan barang konsumsi, yakni seperti ACES dan ICBP. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus sependapat. Meski begitu, investor masih bisa mencermati saham big banks seperti BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI. Untuk sektor telko, investor juga dapat melirik TLKM serta EXCL.

Diversifikasi Usaha Menopang Kinerja Astra International

HR1 02 May 2024 Kontan

Awal tahun 2024 menyajikan tantangan ke sejumlah emiten kakap, seperti PT Astra International Tbk (ASII). Salah satu emiten big caps ini mencatat penurunan kinerja di kuartal I 2024. Melansir laporan keuangan di Bursa Efek Indonesai (BEI), (30/4), ASII mencatat penurunan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk di kuartal I-2024 sebesar 14,3% menjadi Rp 7,46 triliun, Di periode serupa tahun 2023, laba ASII tercatat Rp 8,71 triliun. Penurunan ini imbas dari merosotnya kinerja ASII di periode serupa. Selama kuartal I-2024, ASII mencatatkan penurunan pendapatan 2,1% menjadi Rp 81,2 triliun ketimbang laba periode serupa 2023 sebesar Rp 82,9 triliun. Presiden Direktur Astra International, Djony Bunarto Tjondro menjelaskan, penurunan kinerja Astra imbas dari kondisi ekonomi yang melemah di periode tersebut. 

Sentimen lain, berasal dari penurunan harga komoditas seperti batubara. Djony mencatat, pada kurtal I 2024 ini laba bersih grup otomotif menurun 9% menjadi Rp2,8 triliun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2023 yaitu Rp 3 triliun. Menurutnya hal itu merefleksikan penurunan volume penjualan. Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat sudah memperkirakan penurunan kinerja Astra tersebut. Mengingat penjualan otomotif sudah menurun di awal 2024. Gaikindo mencatat, penjualan mobil domestik turun 24% secara tahunan menjadi 215.000 unit di kuartal I-2024.024. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menyarankan, ASII melakukan diversifikasi usaha. Kebetulan, ASII tengah mengoptimalkan bisnis di kendaraan listrik.  

Aset Safe Haven Jadi Jawara Portofolio Sepanjang Bulan April

HR1 02 May 2024 Kontan

Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang cukup tinggi pada bulan lalu membuat sejumlah kinerja portofolio investasi terpuruk. Mata uang kripto yang sebelumnya mampu naik tinggi, terkoreksi pada April 2024. Bitcoin turun 9,50% secara bulanan ke level 63.385 pada Selasa (30/4). Bitcoin terseret derasnya arus dana keluar dari ETF BTC spot sebagai respon kebijakan bunga acuan Fed. Instrumen safe haven seperti dolar Amerika Serikat (AS) dan emas terus menguat. Pairing USD/IDR naik 2,64% sepanjang April dibanding Maret 2024 ke level Rp 16.276 per dolar AS pada Selasa (30/4). Adapun emas di pasar spot menguat 4,15% secara bulanan ke US$ 2.331 per ons troi. 

Namun, angka tersebut lebih kecil dibandingkan pada Maret 2024 yang naik hingga 8,94%.  Sementara emas batangan Antam juga ikut terkerek 6% ke Rp 1,325 juta per gram. Kenaikannya juga lebih rendah dari Maret 2024 yang mencapai 9,75%. CEO Pinnacle Investment Indonesia Guntur Putra mengatakan, investor bisa mengandalkan portofolio investasi emas yang dapat menjadi safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik atau ketika ada gejolak pasar.  Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C mengatakan, investasi emas Antam cukup menarik dalam jangka panjang karena mempunyai jaminan keamanan, dan potensi gain yang cukup signifikan. Fikri mencermati, harga emas dunia masih bisa berpotensi menguat pada tahun ini. Harga emas didukung oleh kebijakan pivot atau pembalikan arah kebijakan moneter Fed dan pemangkasan suku bunga yang diprediksi akan terjadi pada September 2024.

Waspadai Fenomena Sell in May

HR1 02 May 2024 Bisnis Indonesia

Kinerja indeks harga saham gabungan atau IHSG kembali terkoreksi dalam sebulan terakhir. Sepanjang periode April, indeks komposit secara akumulatif merosot 0,75% setelah ditutup di level 7.234,20 pada Selasa (30/4). Tren negatif ini sejatinya telah dimulai sejak pertengahan Maret lalu. Selepas menyentuh level tertinggi di 7.433,32, IHSG berfluktuasi tajam dengan kecenderungan melemah. Ketidakpastian ekonomi global yang diperburuk oleh situasi geopolitik terus-terusan memberikan tekanan ke pasar saham. Pada awal pekan ini, indeks komposit memang berbalik arah dengan menguat selama 2 hari perdagangan berturut-turut. IHSG melesat 1,70% pada Senin dan keesokannya kembali mencatatkan kenaikan 1,10%. Akan tetapi, kami menilai apresiasi ini lebih banyak didorong oleh sentimen ekonomi domestik serta kinerja emiten kuartal I/2024. 

Di sisi lain, kami memandang bahwa investor sesungguhnya masih mengambil sikap wait and see sembari menanti rilis data ekonomi penting di global pada pekan ini. Selain itu, pelaku pasar juga tengah menantikan hasil pertemuan The Fed, bank sentral Amerika Serikat, yang berakhir dini hari tadi. Situasi ekonomi di Negeri Paman Sam juga belum cukup menggembirakan. Biaya tenaga kerja meningkat pada kuartal pertama tahun ini, di tengah kenaikan upah dan tunjangan. Ini mengisyaratkan tingkat inflasi di negara itu bakal terus terkerek.

Karena itulah, kami melihat bahwa keberuntungan sedang menjauh dari pasar saham. Tidak banyak katalis yang cukup kuat mendorong pergerakan indeks komposit, setidaknya dalam beberapa waktu ke depan. Sebaliknya, sentimen negatif seolah tengah mengepung pasar. Belum lagi, ada fenomena psikologis sell in May and go away yang selalu menghantui periode perdagangan di bulan ini. Secara historis, fenomena ini berpengaruh langsung terhadap performa indeks komposit. 

Jika dirinci, IHSG turun 3,14% selama Mei 2018, terkoreksi 3,81% pada Mei 2019, minus 0,8% sepanjang Mei 2021, dan melemah 1,11% pada Mei 2022. Adapun pada tahun lalu, indeks anjlok lebih dalam 4,08% selama periode Mei. Fenomena sell in May sejatinya tidak dapat menjadi acuan mutlak untuk mengukur kinerja IHSG bulan ini. Kecenderungannya, performa pasar akan relatif bergerak dengan tren melemah dalam 2 pekan pertama untuk selanjutnya terjadi akumulasi positif pada pekan-pekan terakhir di periode Mei. Kendati dibayangi fenomena sell in May dan hasil pertemuan The Fed, kami meyakini bahwa beberapa katalis yang berasal dari perkembangan ekonomi domestik tetap berpeluang mendorong penguatan indeks kendati dalam intensitas terbatas.

Peritel Berharap Bisa Ketiban Berkah Lagi

HR1 02 May 2024 Kontan

Kinerja emiten ritel masih positif selama kuartal I 2024. Hasil ini berkat dari adanya beberapa perayaan di tiga bulan pertama tahun ini. Beberapa peritel tercatat mengalami kenaikan pendapatan dan laba sepanjang kuartal I 2024. Misalnya, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mencatatkan pendapatan Rp 8,78 triliun di kuartal I 2024. Ini naik 17,8% secara tahunan alias year on year (yoy) dari sebelumnya Rp 7,5 triliun. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) juga mencatatkan pendapatan Rp 829,09 miliar di kuartal I 2024. Raihan ini melonjak 42,02% yoy dari sebelumnya Rp 583,75 miliar. 

Sementara, laba tahun berjalan Rp 106,81 miliar di kuartal I 2024, melesat 254,01% yoy dari Rp 30,17 miliar. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, kinerja peritel yang positif itu berkat penjualan dan laba yang tumbuh signifikan di kuartal I 2024. Di periode tersebut, beberapa Hari Raya jadi penopang. Mulai dari Imlek, hingga periode puasa dan Lebaran. Ia memprediksi, emiten ritel masih bisa mencatatkan pertumbuhan positif hingga akhir tahun 2024. 

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menilai, pertumbuhan kinerja emiten ritel agak lambat. Namun masih menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, pergerakan saham ACES berada di level support Rp 890 per saham dan resistance Rp 940 per saham. Herditya merekomendasikan buy if break untuk ACES dengan target harga Rp 975 – Rp 1.005 per saham. Equity Analyst Kanaka Hita Solvera, William Wibowo melihat, pergerakan saham MAPI berada di level support Rp 1.300 per saham dan resistance Rp 1.775 per saham. Rekomendasinys adalah wait and see.

GOTO Menargetkan Kinerja Positif di 2024

HR1 30 Apr 2024 Kontan

Kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan pertumbuhan. Pertumbuhan itu setelah GOTO melepas unit bisnis e-commerce, yakni PT Tokopedia kepada TikTok Pte. Ltd. Berdasarkan laporan keuangan, GOTO membukukan rugi diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 861,91 miliar di kuartal I-2024. Menyusut 77,68% dari Rp 3,86 triliun pada kuartal I-2023. Hasil tersebut tidak terlepas dari pencapaian pendapatan emiten ini. Di periode tersebut, pendapatan GOTO Rp 4,08 triliun. Tumbuh 22,41% dari periode serupa 2023 yang sebesar Rp 3,33 triliun. 

Direktur Utama Grup GoTo, Patrick Walujo menjelaskan ,pada kuartal I-2024, pihaknya telah mempercepat pelaksanaan strategi efisiensi serta kembali melakukan investasi pada produk-produk andalan. Adapun GOTO mengincar EBITDA positif untuk kinerja tahun buku 2024. Dengan target tersebut, manajemen GOTO optimistis tengah berada di jalur yang tepat.   Head of Indonesia Research & Strategy JP Morgan, Henry Wibowo di riset 24 April 2024, menilai segmen bisnis on demand services (ODS) akan menjadi pendorong pendapatan utama GOTO. Hitungannya, GOTO punya kas bersih US$ 1,3 miliar untuk pengembangan ODS dan tekfin. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Vicky Rosalinda menyarankan, GOTO memperluas pasar dan melakukan inovasi produk untuk memperkuat pasar. Kemarin harga GOTO di level Rp 63.

Barito Renewables Puncaki Kapitalisasi Pasar Saham di Bursa Saham

KT1 30 Apr 2024 Investor Daily (H)

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatatkan kapitalisasi pasar (market cap) sebesar Rp 1.207 triliun pada penutupan  perdagangan Senin (9/4/2024), yang membuatnya memuncaki posisi emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan energi baru terbarukan (EBT) milik konglomerat Parjogo Pangestu  ini berhasil menggeser posisi emiten Grup Djarum, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ke pringkat kedua dengan market cap Rp 1.196 triliun. Sepanjang perdagangan Senin (29/4/2024), saham BREN berhasil menguat +4,64% ke posisi Rp 9.025. Saham emiten Renewables energi ini terus mencatatkan penguatan selama sepekan terakhir, dan telah melesat 1.057% dari harga saat pencatatan (listing) perdana di BEI sebesar Rp 780 per saham pada Oktober 2023. Market cap BREN juga bertambah Rp 1.103 trliun atau lebih dari 10 kali lipat dari posisi saat listing sebesar Rp 104,3 triliun. (Yetede)

Menangkap Peluang Dengan Bisnis Baru

HR1 30 Apr 2024 Kontan

Emiten ramai-ramai menggelar ekspansi dengan merambah bisnis anyar. Sederet emiten berskala besar hingga kelas menengah sudah mengumumkan rencana penambahan usaha. Barisan emiten tersebut ada yang sudah dan akan mengajukan tambahan Klasifikasi Baku Lapangan usaha Indonesia (KBLI) dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Contohnya PT Astra International Tbk (ASII) yang akan ekspansi ke bisnis ekosistem kendaraan listrik alias electric vehicle (EV), mencakup industri baterai dan penjualan tenaga listrik. PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) dari Grup Saratoga mengambil langkah serupa untuk merambah bisnis kendaraan listrik. MPMX ingin menambah usaha berupa charging station, reparasi baterai dan aktivitas penunjang lainnya. 

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) tak ketinggalan untuk memperkuat bisnisnya. TBIG melalui anak usahanya akan mengembangkan bisnis penyewaan power supply. Sedangkan ASLC akan ekspansi merambah perdagangan eceran motor bekas. Tak hanya itu, sederet emiten lain juga mengumumkan rencana penambahan kegiatan usaha pada bulan ini. Di antaranya PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), PT Chitose Internasional Tbk (CINT), PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX), PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) dan PT FKS Food Sejahtera Tbk (AISA).

Pendiri Stocknow.id, Hendra Wardana memandang rencana ekspansi emiten menambah usaha baru memberikan sinyal positif di tengah kondisi ekonomi yang dibayangi ketidakpastian. Sejumlah emiten juga menunjukkan langkah antisipatif mengincar peluang bisnis masa depan, seperti ekosistem kendaraan listri yang mulai masif. CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo menambahkan, ekspansi bisnis ini menjadi salah satu manuver emiten di tengah era suku bunga yang masih tinggi. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengingatkan kontribusi dari penambahan usaha ini tidak bisa instan dan akan berbeda-beda pada setiap emiten. Tergantung dari keterkaitan dengan bisnis inti, prospek industri, kesiapan investasi, kondisi pasar dan strategi bisnis beserta eksekusinya.