Saham
( 1722 )Nyaris Rp 10 Triliun Dana Buyback Siap Masuk Bursa
Pasar saham akan dibanjiri dana dari aksi pembelian kembali ( buyback ) saham emiten. Buyback ini dilakukan di tengah kondisi pasar saham yang memang cenderung sideways. Sejumlah emiten yang akan menggelar aksi korporasi ini merupakan emiten berkapitalisasi pasar besar ( big caps ) yang harga sahamnya sedang jeblok. Berdasarkan hitungan KONTAN, sejumlah emiten menyiapkan sekitar Rp 9,5 triliun atau nyaris Rp 10 triliun untuk membiayai buyback saham. Salah satu emiten yang akan melakoni buyback adalah Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), yang menyiapkan Rp 1,5 triliun untuk buyback. BBRI telah mendapatkan restu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 13 Maret 2023, dan akan berlangsung 18 bulan sejak persetujuan diperoleh dari pemegang saham. Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Sunarso mengatakan pihaknya melakukan buyback untuk memberikan sinyal bahwa kondisi BBRI jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang dipersepsikan pasar.
Menyusul harga saham BBRI yang mengalami koreksi signifikan pasca publikasi laporan keuangan kuartal I-2024. Dari sisi pergerakan harga saham secara bulanan maupun Year to Date (YtD), saham-saham emiten di atas punya kinerja yang beragam. Ada yang bergerak naik, tapi ada juga yang sedang melandai, seperti BBRI yang dalam sebulan terakhir melemah hingga 24,6% atau mengakumulasi penurunan 17,03% secara YtD. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mengamati tren harga saham yang sedang melandai sering menjadi momentum bagi emiten untuk menggelar buyback. Terutama bagi emiten yang memiliki posisi kas yang kuat di samping untuk keperluan ekspansi. Aksi ini sekaligus untuk menarik kepercayaan pelaku pasar, menjadi sinyal dari manajemen bahwa emiten punya fundamental keuangan dan prospek kinerja yang apik.
Di sisi yang lain, Reza melihat ramainya aksi buyback tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pasar saham secara umum. Sekalipun banyak emiten big caps yang akan menggelar buyback, tapi aksi ini dilakukan secara bertahap dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto sepakat, aksi buyback tidak akan memberi dampak signifikan terhadap kondisi pasar saham. Buyback lebih memberikan dorongan positif untuk saham tersebut, karena berpotensi menahan laju penurunan atau mendorong kenaikan harga saham saat tren sedang menguat. Di sisi lain, Analis Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mencermati rencana buyback BBRI akan memberikan dampak positif, baik itu kepada harga saham maupun kepada permintaan ke depan. Nafan yakin, kondisi penurunan harga saham BBRI ini hanya bersifat sementara.
Ia mengingatkan, prospek fundamental emiten perbankan besar cukup menjanjikan, terutama dengan melihat kinerja perbankan.
Adapun pada kuartal I-2024, BBRI telah menyalurkan kredit sebanyak Rp 1.308,6 triliun, atau tumbuh 10,89% yoy.
Untuk investasi jangka panjang, Nafan menargetkan harga saham BBRI bisa mencapai kisaran Rp 7.350 per lembar. Target investasi jangka panjang darinya adalah di atas satu tahun. Equity Analyst
OCBC Sekuritas Budi Rustanto dan Farrell Nathanael juga merekomendasikan membeli saham BBRI, dengan target harga di kisaran Rp 6.000 per lembar, dengan asumsi Return on Equity (ROE) sebesar 18,4% dan cost of equity sebesar 10,7%.
Hanya, Budi dan Farrell mengingatkan, tetap ada risiko investasi di saham BBRI, yaitu terkait pertumbuhan kredit yang tak setinggi dari perkiraan dan juga kondisi Net Interest Margin (NIM) dari BBRI).
Berkah Dividen Masih Mengalir
Agenda bagi-bagi dividen emiten belum usai. Ada beberapa emiten big caps yang siap membagikan dividen di bulan ini dan sayang dilewatkan Aksi ini diharapkan bisa memicu bursa lebih bergairah. Teranyar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengumumkan akan membagikan dividen senilai Rp 17,68 triliun atau setara 72% dari capaian laba bersih tahun buku 2023. Nantinya, setiap pemegang saham bakal memperoleh dividen Rp 178,5.
Selain itu masih ada kesempatan menadah dividen dari PT Astra International Tbk (ASII). Adapun ASII akan membagikan dividen final senilai Rp 421 per saham atau Rp 17,04 triliun. Di saham lapis kedua, ada PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), serta sejumlah emiten lain yang berpotensi memberikan imbal hasil dividen ( dividend yield) di kisaran 1% hingga 10%. IHSG berada di posisi 7.134,72, Jumat (3/5) atau melemah 3,14% dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya. Dalam sepekan, investor asing mencatatkan net sell Rp 6 triliun.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, rencana pembagian dividen bisa menjadi pemanis di tengah koreksi harga saham. Perlu dicermati, jika koreksi saham terjadi sebelum Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), investor bisa mempertimbangkan membeli saham tersebut. Hal ini juga bisa menjadi bentuk mitigasi dividend trap.
Head of Proprietary Investment
Mirae Asset Sekuritas Handiman Soetoyo menyarankan, para pemburu dividen sebaiknya mempunyai jangka waktu atau
time horizon
jangka panjang minimal 10 tahun.
Sambil menanti pengumuman dividen selanjutnya, Mirae Asset Sekuritas menyarankan investor mencermati saham PBID, EPMT, TOTL, NRCA, SIDO, MERK, POWR, dan MPMX.
Apple Buyback Saham, Siapkan US$ 110 Miliar
Apple bakal melakukan program pembelian kembali atau buyback saham. Nilainya US$ 110 miliar, sekitar Rp 1,76 kuadriliun. Aksi korporasi ini dilakukan di tengah tren penurunan harga sahamnya. Melansir Bloomberg, Jumat (3/2), nilai buyback saham tersebut sudah disetujui jajaran pengurus Apple. Dana yang disiapkan tersebut merupakan dana buyback terbesar yang dilakukan Apple sepanjang sejarahnya. Menurut data yang dikumpulkan perusahaan riset pasar Birinyi Associates, buyback terbesar sebelumnya dilakukan Apple, pada 2018 senilai US$ 100 miliar. Pada penutupan perdagangan Kamis (2/5), harga saham Apple ditutup naik 2,2% ke US$ 173,03. Tapi, posisi ini tercatat masih lebih rendah 12,6% dari level tertingginya pada US$ 198,11 di Desember 2023. Saham Apple tertekan sejak permintaan Iphone turun mengalami persaingan ketat di China.
Apple juga melaporkan penurunan kinerja sepanjang kuartal I-2024. Namun, realisasinya masih melampaui proyeksi konsensus analis. Laba dan pendapatan Apple lebih baik dari perkiraan. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, Apple membukukan pendapatan US$ 90,8 miliar, turun 4,3% secara tahunan. Konsensus analis sebelumnya memprediksi pendapatan produsen iphone ini hanya US$ 90,3 miliar. Namun, perusahaan ini memperkirakan pendapatannya pada kuartal II akan meningkat. Apple juga menaikkan dividen 4%. Ini memicu harapan bahwa perlambatan yang melanda kinerja Apple akan mulai mereda. CEO Apple Tim Cook mengatakan, Apple kemungkinan akan bisa mengembalikan dominasinya di pasar ponsel pintar, termasuk di pasar China. Kendati begitu, persaingan yang ketat dan tantangan peraturan memang tak bisa dihindarkan. "Penjualan Iphone masih mengalami pertumbuhan di beberapa pasar, termasuk China," ujarnya.
Balapan Juara Kapitalisasi Pasar di Bursa
Persaingan emiten papan atas dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar semakin sengit. Di awal Mei ini PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengokohkan diri sebagai emiten dengan market cap paling jumbo di Bursa Efek Indonesia (BEI). Market cap BREN tercatat sebesar Rp 1.321 triliun. Posisi ini setelah saham BREN melonjak 7,05% ke level harga tertingginya di Rp 9.875 per saham Kamis (2/5). Dus, saham BREN telah melejit 1.166,92% sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Oktober 2023. "Tujuannya, memberikan waktu bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasinya di saham BREN,” tulis Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Donni Kusuma Permana. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, pergeseran posisi market cap tak lepas dari pergerakan harga saham emiten.
Reza mengingatkan, naik atau turun harga saham dipengaruhi oleh sentimen atau asumsi pelaku pasar terhadap kinerja emiten maupun prospek industri di sektor tersebut.
Contohnya BREN yang secara kinerja mengalami penurunan
top line
dan
bottom line
pada kuartal I-2024. Meski begitu, harga saham BREN tetap menanjak. Reza melihat, kemungkinan saham BREN terangkat oleh prospek masa depan dari emiten yang bersangkutan. Yakni yang berkutat di industri energi terbarukan atau energi hijau. Soal rotasi
market caps,
Research Analyst
Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani mengamati kenaikan peringkat BREN juga disebabkan oleh momentum saham-saham
big caps lain yang sedang lesu.
Sedangkan Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto menyoroti adanya efek dari evaluasi sejumlah indeks saham. Ini bisa membuat investor maupun fund manager melakukan rebalancing.
GoTo Gelar Private Placement Bernilai Rp 7,69 Triliun
PT GoTO Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berencana menerbitkan saham baru melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD)/private placement). Rencananya emiten teknologi tersebut akan meminta persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham pada 11 Juni mendatang, untuk menggelar private placement sebanyak maksimal 10% dari jumlah saham Seri A saat ini, atau sekitar 120,14 miliar. Untuk tujuan performa analis dan pembahasan mengenai kondisi keuangan ini, perseroan memakai asumsi harga penutupan saham pada tanggal 3 April 2023 sebesar Rp 64 per saham. Dengan jumlah baru diasumsikan sebanyak 120.140.966.283 lembar saham," kata manajemen GOTO. Manajemen GOTO menyebutkan, dana yang diperoleh akan digunakan untuk mendukung kebutuhan modal kerja serta pelunasan melalui konversi atas utang perseroan di kemudian hari (jika ada). Dengan rincian pembagian untuk perseroan sebesar 35% dari dana private placement, dan anak perusahaannya termasuk PT Dompet Anak Bangsa (20%) dan/atau PT Mulitfinance Anak Bangsa (25%) dan/atau PT GoTo Solusi Niaga (Sebelumnya adalah PT Multi Adiprakarsa Manunggal) dan setiap bisnis groceries yang dimiliki perseroan (20%). (Yetede)
Saham Bank Digital Masih Belum Optimal
Sebagian besar pelaku pasar tampaknya masih ogah menjadikan saham bank digital sebagai pilihan investasi. Bahkan, ketika harga saham bank besar turun, tidak tampak peralihan portofolio ke saham bank digital.
Di kuartal I lalu, laba ARTO tercatat tumbuh 24% menjadi Rp 21,72 miliar. Laba bank ini tetap tumbuh meski beban bunganya naik. Untuk menekan kenaikan biaya dana ke depan, Bank Jago telah menurunkan bunga deposito dan tabungan Kantong Terkunci mulai 2 Mei, kata Tjit Siat Fun, Direktur Kepatuhan Bank Jago, kemarin.
Laba bank digital lain juga melesat. Bank Raya mencetak peningkatan laba 109,5%. Sedang laba Krom Bank naik 10,25%. Laba Allo Bank meningkat sebesar 23,19%.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, valuasi rata-rata bank digital juga sudah cukup mahal. Ini membuat kinerja positif di triwulan I belum bisa mendongkrak harga sahamnya.
Saham Bank Jago misalnya. Pada penutupan perdagangan Jumat (3/5), ARTO dilego di harga Rp 2.110 per saham. Nafan menyebut, target harga saham ini di Rp 1.885.
Nafan juga target harga lebih renndah untuk BBHI, yakni di Rp 960 per saham Kemarin, saham BBHI ditutup di level Rp 985 per saham.
Aksi Korporasi Kunci Grup Barito
Kinerja keuangan mayoritas emiten milik taipan Prajogo Pangestu menciut pada kuartal I-2024. Top line dan bottom line tiga emiten di bawah naungan Grup Barito kompak merosot. Pendapatan sang induk, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 4,93% menjadi US$ 618,59 juta selama tiga bulan pertama 2024. Secara bottom line , laba bersih BRPT anjlok 61,98% menjadi US$ 8,85 juta di periode tersebut. Penurunan kinerja BRPT ini tak lepas dari performa dua anak usahanya, yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Pada kuartal I-2024, TPIA berbalik menderita rugi bersih US$ 33,12 juta ketika pendapatan menyusut 6,05% menjadi US$ 471,91 juta.
Direktur Utama BRPT Agus Salim Pangestu mengungkapkan hasil kinerja kuartal I 2024 menunjukkan fluktuasi yang terjadi di sektor petrokimia global. Meningkatnya ketegangan geopolitik, menurutnya ikut melemahkan pasar.
Grup Barito pun akan terus mewaspadai volatilitas tersebut. "Kami memprioritaskan kehati-hatian sambil menjaga ketahanan finansial untuk meraih peluang pertumbuhan baru," kata Agus dalam keterbukaan informasi, Selasa (30/4).
Research Analyst
Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai tren naik harga saham emiten milik Prajogo Pangestu seperti BREN dan TPIA kemungkinan dipicu sentimen positif dari kabar ekspansi dan akuisisi yang dilakukannya. Terlebih bagi BREN yang terdorong prospek jangka panjang energi terbarukan.
Analis Stocknow.id Abdul Haq Alfaruqy mengamati secara valuasi saham-saham Prajogo Pangestu sudah terbilang mahal.
Kinerja Tak Seragam, Laju IHSG Teredam
Musim pelaporan kinerja untuk kuartal pertama tahun ini hampir usai. Sejauh ini, hasilnya cukup beragam. Emiten yang bersinggungan dengan konsumsi masyarakat, tampak masih ketiban berkah dari dorongan daya beli di momentum pemilu dan bulan Ramadan. Dari 100 emiten dengan likuiditas tinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tergabung di Indeks KOMPAS100, sebanyak 54 emiten mengantongi pertumbuhan laba bersih. Sedangkan 30 emiten lainnya harus rela keuntungannya terpangkas pada tiga bulan pertama 2024. "Secara historis, pada periode ini tingkat konsumsi masyarakat cenderung meningkat. Selain itu level daya beli masyarakat masih optimis," jelas Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, Kamis (2/5).
Di sisi lain, emiten berbasis komoditas rata-rata masih mengalami penurunan kinerja lantaran pelemahan harga komoditas di kuartal pertama tahun ini.
Senior Investment Information
Mirae Asset Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan pertumbuhan ekonomi global masih akan memengaruhi kinerja emiten tahun ini. Apalagi, masih ada sentimen suku bunga acuan tinggi yang lebih lama.
Pengamat Pasar Modal dan Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy juga bilang, kinerja sejumlah emiten di kuartal I-2024 ini masih belum meyakinkan. Terutama, emiten-emiten di sektor perbankan. "Pertumbuhan labanya tidak sebesar kenaikan untuk tahun-tahun sebelumnya," kata dia.
Head of Business Development Division
Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menilai, sektor ritel masih akan unggul dan berpotensi tumbuh positif hingga semester I-2024.
Bunga Tinggi dan Rupiah Hantui Pasar
Sebagian besar emiten penghuni Indeks LQ45 telah merilis kinerja kuartal I-2024. Catatan KONTAN, hanya ada tujuh emiten yang belum merilis laporan kinerja karena masih dalam proses audit. Artinya, sudah ada 38 emiten konstituen LQ45 yang sudah menyampaikan kinerja keuangannya. Hasilnya, ada 22 emiten yang mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi emiten dengan pertumbuhan pendapatan paling tinggi. Pendapatan GOTO melonjak 22,4% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 2,07 triliun.
Menyusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dam PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) yang pendapatannya masing-masing tumbuh sebesar 17,85%, 17,77% dan 17,05%. Emiten yang terafiliasi dengan Garibaldi "Boy" Thohir ini mengantongi pendapatan US$ 10,21 juta di kuartal I-2024. Dibandingkan periode sebelumnya di 2023, laba bersih ESSA hanya mencapai US$ 3,11 juta. Investment Consultant Reliance Sekuritas, Reza Priyambada menjelaskan, sekilas kinerja para emiten di kuartal I-2024 masih cukup baik. Ini seharusnya bisa berimbas positif ke kinerja saham mereka.
Seperti diketahui, tekanan pada nilai tukar rupiah menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar emiten. Nilai tukar rupiah belum kunjung turun dari level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Inilah yang membuat Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan 25 basis poin. Ike Widiawati, Deputy Head of Research Sinarmas Sekuritas menilai, kenaikan suku bunga akan membuat likuiditas dalam negeri semakin ketat. Jika asumsinya, nilai tukar rupiah akan kembali menguat, emiten di farmasi dan kesehatan akan mendapatkan keuntungan.
Mengingat mayoritas bahan baku emiten farmasi merupakan impor. Sektor lainnya adalah ritel dan barang konsumsi, yakni seperti ACES dan ICBP.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus sependapat. Meski begitu, investor masih bisa mencermati saham
big banks
seperti BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI. Untuk sektor telko, investor juga dapat melirik TLKM serta EXCL.
Diversifikasi Usaha Menopang Kinerja Astra International
Awal tahun 2024 menyajikan tantangan ke sejumlah emiten kakap, seperti PT Astra International Tbk (ASII). Salah satu emiten big caps ini mencatat penurunan kinerja di kuartal I 2024. Melansir laporan keuangan di Bursa Efek Indonesai (BEI), (30/4), ASII mencatat penurunan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk di kuartal I-2024 sebesar 14,3% menjadi Rp 7,46 triliun, Di periode serupa tahun 2023, laba ASII tercatat Rp 8,71 triliun. Penurunan ini imbas dari merosotnya kinerja ASII di periode serupa. Selama kuartal I-2024, ASII mencatatkan penurunan pendapatan 2,1% menjadi Rp 81,2 triliun ketimbang laba periode serupa 2023 sebesar Rp 82,9 triliun. Presiden Direktur Astra International, Djony Bunarto Tjondro menjelaskan, penurunan kinerja Astra imbas dari kondisi ekonomi yang melemah di periode tersebut.
Sentimen lain, berasal dari penurunan harga komoditas seperti batubara.
Djony mencatat, pada kurtal I 2024 ini laba bersih grup otomotif menurun 9% menjadi Rp2,8 triliun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2023 yaitu Rp 3 triliun. Menurutnya hal itu merefleksikan penurunan volume penjualan.
Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat sudah memperkirakan penurunan kinerja Astra tersebut. Mengingat penjualan otomotif sudah menurun di awal 2024. Gaikindo mencatat, penjualan mobil domestik turun 24% secara tahunan menjadi 215.000 unit di kuartal I-2024.024.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menyarankan, ASII melakukan diversifikasi usaha. Kebetulan, ASII tengah mengoptimalkan bisnis di kendaraan listrik.
Pilihan Editor
-
Integrasi Data Perpajakan Berlanjut
11 Aug 2020 -
Penginapan Mulai Menggeliat
10 Aug 2020 -
Gaji Ke-13 Bisa Menstimulasi Ekonomi
22 Jul 2020









