Saham
( 1717 )Saham Cuan Saat Ramadan
Bunga Turun, Bursa Saham Kompak Terbang
Investor saham semringah. Sejumlah bursa global mengalami tren Indeks bursa di Amerika Serikat (AS) yakni Dow Jones tembus rekor di 39.781,37 pada Kamis (21/3). Sepekan terakhir Dow Jones menguat 2,25% dan sejak awal tahun naik 5,55%. Begitu juga indeks Nikkei 225 yang mencatat tembus 40.888,43, pada Jumat (22/3). Indeks Bursa Jepang ini juga menguat 5,62% selama sepekan. Dan sejak awal tahun ini juga sangat perkasa 22,44%. Berikutnya bursa Euro Stoxx 50 naik 11,74% dan FTSE 100 Index London juga sedikit menguat 1,93% secara . Lima hari terakhir, Euro Stoxx 50 naik 1,19% dan FTSE 100 menguat 1,80%. Tak mau kalah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat kembali mencatatkan . Kemarin IHSG ditutup menguat 0,16% ke 7.350,15 dan 1,06% sejak awal tahun ini. Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menilai, menghijaunya bursa-bursa global dipengaruhi kinerja makro ekonomi masing-masing negara. "April-Mei ini kinerja makro ekonomi global terpantau positif, ini membuat bursa global positif," ujarnya ke KONTAN, Jumat (22/3). Direktur Ekuator Swarna Investama, Hans Kwee melihat, sentimen yang memicu bursa global menghijau adalah rencana pemangkasan suku bunga The Fed dan beberapa bank sentral negara-negara maju. Hans memprediksi, The Fed kemungkinan akan menurunkan suku bunga Juni atau Juli 2024. Bank Sentral Eropa alias European Central Bank (ECB) juga akan memangkas suku bunga Juni nanti. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, IHSG bisa berada di level 7.500 pada semester I 2024 dan 8.000 pada akhir tahun ini. Sedang menurut Hans, IHSG bisa berada di level 7.650 - 7.850 di akhir tahun. Adapun untuk Nikkei, Audi memproyeksi bisa mencapai 42.300 akhir tahun. Berikutnya Nasdaq akan tercatat di 17.120 dan Strait Times Index (STI) bisa mencapai 3.320 hingga akhir 2024 nanti.
Pendapatan Naik 4,42% Laba BREN Melejit 17,88%
Entitas Group Barito, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), menorehkan kinerja positif tahun lalu. Laba bersih emiten saham energi hijau ini mampu tumbuh dobel digit sepanjang tahun 2023. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk BREN berhasil tumbuh 17,88% secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi US$ 107,41 juta sepanjang 2023 dari US$ 91,12 juta di tahun sebelumnya. Lonjakan laba bersih emiten milik Prajogo Pangestu ini antara lain ditopang oleh kenaikan pendapatan sebesar 4,42% menjadi US$ 594,93 juta pada tahun 2023. Direktur Utama Barito Renewables Energy, Hendra Soetjipto menjelaskan, pertumbuhan operasional itu disebabkan oleh peningkatan produksi listrik panas bumi sebesar 3,4%.
Menguji Tuah Saham Prajogo Pangestu
Kendati sempat naik ke harga tertinggi sepanjang masa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru naik tipis 0,41% jika dihitung sejak awal tahun ini. Beberapa saham big caps masih menjadi pemberat IHSG, termasuk saham emiten milik taipan Prajogo Pangestu. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi pemberat utama IHSG. Harga BREN sudah turun 30,8% sejak awal tahun ke Rp 5.175, Senin (18/3). Selain BREN, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga sudah terkoreksi 64,84% year to date (ytd). Begitu juga PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Dengan kapitalisasi pasar Rp 90 triliun, BRPT telah menggerus IHSG sebesar 24,01 poin. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, salah satu penyebab turunnya harga saham Grup Barito adalah aksi profit taking dari investor. Kendati harganya sudah turun dalam, masih ada kesempatan untuk mencermati saham Grup Barito, terutama di tengah musim laporan keuangan ini.
BREN misalnya, diharapkan masih menuai kinerja positif seperti pada kuartal III 2023 lalu. Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading MNC Sekuritas menambahkan, wajar saja kalau saham emiten Prajogo Pangestu menjadi pemberat. Saham-saham ini sudah rally tinggi sepanjang tahun 2023 lalu. Meski menjadi pemberat IHSG, Reza menilai ada sejumlah saham pemberat yang menarik dicermati. Saham BREN masih punya potensi kenaikan harga atau upside 15,94% di target Rp 6.000. Sedangkan saham CUAN menarik dicermati dengan target harga di Rp 5.450. Frankie menilai, pelemahan harga saham ASII turut disebabkan sentimen masuknya salah satu raksasa otomotif asal China yang berpotensi merenggut pangsa pasar Grup Astra. Namun, saat ini harga saham ASII sudah masih lebih rendah dibandingkan 2019. Reza juga menilai ASII menarik dicermati dengan target harga Rp 5.900. Saham laggard lain yang bisa dicermati investor adalah saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Reza memasang target harga MDKA Rp 2.600 per saham. Lalu, saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) diberikan target harga di Rp 1.600 per saham.
Emiten Menjaring Dana dari RIght Issue
Penambahan modal melalui rights issue maupun private placement cukup meriah di kuartal pertama tahun ini. Sederet emiten telah mengumumkan rencana untuk menggelar aksi korporasi tersebut dengan bermacam keperluan. Contohnya PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 603,44 juta saham baru. Rights issue ini merupakan bagian dari pemenuhan kewajiban divestasi INCO kepada pemerintah Indonesia, yang dilakukan melalui holding tambang BUMN, MIND ID. Lewat divestasi lanjutan ini, MIND ID akan mendapat tambahan 14% sehingga nantinya akan memiliki 34% saham INCO. Masih dari emiten nikel, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) alias Harita Nickel bahkan berencana untuk menggelar rights issue dan private placement. Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy mengatakan, aksi korporasi ini upaya memperkuat pertumbuhan dan pengembangan usaha. Dana dari rights issue akan digunakan untuk ekspansi, termasuk pembelian saham pada perusahaan di bidang pemurnian bijih nikel atau pertambangan lain.
Selain duo emiten nikel tersebut, ada juga dua emiten bank yang akan menggelar rights issue. Mereka adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) dan PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS). Estimasi perolehan dana dari aksi korporasi ini masing-masing mencapai Rp 3,2 triliun dan Rp 1,17 triliun. Emiten lain yang akan melakukan rights issue di antaranya ada PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) dan PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI). Sedangkan emiten yang berencana menggelar private placement ada PT SLJ Global Tbk (SULI) dan PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP). Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan mengamati sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan emiten menggelar aksi rights issue. Pertama, bisa terjadi ketika pendanaan melalui utang sudah maksimal, yang ditandai dengan rasio leverage tinggi. Dalam situasi itu, emiten perlu menambah modal melalui penerbitan saham, sehingga rasio leverage turun dan kembali memiliki ruang. Kedua, faktor makro ekonomi dalam memilih opsi penambahan modal. Seperti pada kondisi suku bunga tinggi sehingga pendanaan melalui utang bisa menimbulkan beban keuangan yang memberatkan perusahaan.
Analis Stocknow.id M. Thoriq Fadilla juga menilai pasar akan lebih selektif. Apalagi dalam kondisi yang sedang fluktuatif seperti saat ini, investor akan lebih cenderung bersikap moderat. Thoriq pun menyoroti transaksi di pasar saham yang masih memperlihatkan sikap wait and see dari para investor. Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas memandang pelaksanaan rights issue bisa menjadi momentum yang tepat. Asalkan, emiten tersebut memiliki fundamental kuat dan prospek bisnis yang apik. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengingatkan umumnya rights issue membuat harga saham mengalami koreksi dalam jangka pendek. Namun, jika tambahan modal digunakan untuk ekspansi bisnis atau penguatan struktur modal, maka bisa menjadi sentimen positif yang mendongkrak harga sahamnya. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto punya catatan serupa bahwa seringkali rights issue membuat harga saham turun terlebih dulu, karena pergerakannya akan mengacu pada harga pelaksanaan. Pelaku pasar bisa mencermati peluang buy on weakness atau cicil beli saat koreksi.
Dari Laba, Saratoga Berbalik Rugi 10 Triliun
Emiten Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno, PT
Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mencatatkan rugi tahun berjalan yang
diatribusikan kepada pemilik perusahaan sebesar Rp 10,15 triliun pada 2023,
berbanding terbalik dari sebelumnya yang laba Rp 4,61 triliun. Hal ini
disebabkan kerugian atas investasi pada saham dan efek lainnya pada tahun lalu
yang mencapai Rp 13,81 triliun, dibading 2022 yang justru untung 3,72 triliun.
“Gejolak harga komoditas sepanjang 2023 telah
berdampak pada harga saham-saham perusahaan portofolio utama Saratoga yaitu, PT
Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Merdeka Copper Gold (MDKA). Fluktuasi
Harga saham tersebut ikut berdampak terhadap Nilai Aset Bersih (Net Asset Value/NAV)
Saratoga pada akhir tahun lalu,” kata Direktur Investasi Saratoga Devin Wirawan
dalam menuju diversivikasi keterangan resmi di Jakarta, Senin (18/3). (Yetede)
Tantangan Rendah Emisi Batubara
Industri Batubara menghadapi tantangan cukup
berat, yakni adanya tuntutan global terhadap penggunaan energi bersih, termasuk
dari pendanaan asing. Karenanya, Indonesia harus mampu mengoptimalkan potensi
batubara yang jumlahnya masih berlimpah, dengan penerapan teknologi serta
kaidah kegiatan pertambangan yang baik (good mining practices) sehingga
pemanfaatan batubara bisa bersanding dengan energi terbarukan lainnya.
Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan
Reggie Parengkuan dalam risetnya mengatakan, dana asing umumnya tidak
berinvestasi pada perusahaan batubara karena pertimbangan ESG. “Jika lebih
detail lagi, sebagian besar dana asing khususnya yang terafiliasi dengan
Eropa/AS, dibatasi membeli nama-nama yang berhubungan dengan batubara. Dan
beberapa dana asing lebih fleksibel dengan kemajuan perusahaan menuju
diversivikasi ESG,” ujar Ryan. (Yetede)
Cuan Terus dari Anggota Kompas 100
Saham-saham penghuni Indeks Kompas100 bergerak melaju. Pada pekan lalu, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor tertinggi sepanjang masa alias all time high (ATH), beberapa saham Kompas100 juga turut menyentuh rekor tertinggi baru. Jika dihitung dari awal Maret 2024, terdapat delapan emiten yang berhasil menyentuh ATH. Setengah dari saham penjebol rekor tersebut berasal dari sektor perbankan yang memiliki kapitalisasi pasar atau market caps terbesar di Indonesia. Sektor perbankan besar, memang terdorong euforia pembagian dividen. Kinerja emiten bank yang masih oke juga jadi alasan pelaku pasar memburu saham-saham ini. Tapi di luar sektor bank, ada beberapa saham lainnya yang juga unjuk gigi. Misalnya, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang sempat menyentuh ATH ke level Rp 1.810 pada perdagangan intraday 6 Maret 2024. Saham penghuni baru Indeks Kompas100, PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) juga menembus rekor tertinggi intraday pada 15 Maret 2024 ke Rp 184. Dua saham lainnya yang tembus ATH adalah PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo menilai, saham-saham emiten Kompas100 diwarnai sentimen positif terkait ekspektasi pemulihan kinerja fundamental dalam jangka panjang. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menambahkan, ada beberapa pemicu yang membuat saham-saham Kompas100 menembus ATH. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer juga sepakat, kenaikan harga minyak di awal tahun ini menjadi sentimen positif bagi distributor BBM seperti AKRA. Di sisi lain, pencapaian rekor harga tertinggi baru juga disebabkan oleh adanya aksi akumulasi. Contohnya seperti yang terjadi pada saham SSIA. Pengamat Pasar Modal dan pendiri WH Project William Hartanto menemukan adanya akumulasi (aksi beli) besar di saham SSIA, yang terjadi di kisaran harga Rp 340. William misalnya, melihat koreksi saham SSIA masih aman selama harga bertahan di atas Rp 855. Sedangkan, Praska mencermati ada peluang buy on weakness di saham AKRA dengan target harga Rp 1.580–Rp 1.670. Lalu SMIL dengan target harga Rp 158–Rp 166 per saham, TPIA dengan target harga Rp 3.710–Rp 4.240, serta saham SSIA dengan target harga Rp 535–Rp 670 per saham.
Mengintai Aksi Para Pengendali
Hingga Maret 2024, sejumlah "orang dalam" rajin melakukan transaksi saham. Mereka adalah pengendali, pemegang saham signifikan maupun top management, yang memborong maupun melepas saham emitennya. Sebagai contoh, PT Arthakencana Rayatama, salah satu pengendali dari PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang getol mengakumulasi saham AKRA sejak akhir 2023. Transaksi terakhir dilakukan 6-7 Maret 2024. Hasilnya, kepemilikan Arthakencana di AKRA kini membengkak menjadi 60,76%. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi Agung Ramadoni mengamati aktivitas transaksi "orang dalam" pada suatu emiten bukan tanpa alasan.
Motifnya beragam, mulai dari perubahan strategi, indikasi aksi korporasi, hingga memanfaatkan momentum saat valuasi saham dinilai sedang murah. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada sepakat, "orang dalam" yang getol memborong umumnya karena menilai harga sahamnya sedang rendah. Sementara pendiri WH-Project William Hartanto menilai transaksi itu memberikan dampak berbeda bagi setiap saham. Pertama, jumlah saham yang ditransaksikan. Kedua, siapa pihak atau investor yang melakoni transaksi. Ketiga, aksi korporasi lanjutan. CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo menilai dampak dari transaksi "orang dalam" bersifat jangka pendek. Jangka panjangnya tetap melihat kinerja keuangan dan valuasi.
Harita Nickel Dapat Restu Right Issue 18,92 Miliar Saham
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita
Nickel segera mengeksekusi rencana penawaran umum terbatas dengan hak memesan
efek terlebih dahulu(PMHMETD/right issue) sebanyak 18, 92 miliar saham, setelah
mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar
biasa (RUPSLB) yang digelar Jumat (15/3)
Dirut Harita Nickel Roy Arman Affandi
mengatakan, pemegang saham telah memberikan persetujuan terhadap agenda ke dua
yang diusulkan oleh manajemen yaitu rencana right issue, dimana jumlah saham
yang akan diterbitkan minimal 10 % yang setara 6,30 miliar saham dan
sebanyak-banyaknya 30 % atau sebanyak 18,92 miliar saham dari modal ditempatkan
dan disetor perseroan saat ini. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Perekonomian di Kota Penyangga Kembali Bergeliat
14 Jun 2020 -
Perhotelan Siapkan Standar Operasi Baru
14 Jun 2020 -
Kemenkeu akan Terbitkan Surat Utang Diaspora
07 Jun 2020 -
China Berkomitmen Bantu RI Hadapi Covid
07 Jun 2020 -
Inilah Konsekuensi Akibat Batal Berangakat Haji
07 Jun 2020









