Saham
( 1737 )MEMBURU CUAN DI MUSIM DIVIDEN
Kendati indeks IDX High Dividend 20 melemah seiring dengan situasi pasar yang bearish, saham-saham papan atas masih menjadi magnet bagi investor karena didorong oleh pembagian dividen yang menggiurkan. Tantangan pasar tidak mengurangi minat terhadap saham-saham di indeks ini, yang dikenal secara konsisten menawarkan yield dividen di atas rata-rata pasar. Berdasarkan data BEI, indeks IDX High Dividend (Hidiv) 20 menurun 4,97% menjadi 546,27 secara year-to-date (YtD) hingga akhir perdagangan 26 April 2024, di tengah sejumlah emiten yang telah mengumumkan pembagian dividen. Penurunan itu lantaran IDX Hidiv 20 diterpa sejumlah tantangan. Di lingkup eksternal, kondisi geopolitik global sejak awal April 2024 sudah memberikan ketidakpastian di pasar modal. Selain itu, penetapan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai Presiden dan Wapres terpilih, belum cukup mampu mengangkat IHSG, termasuk IDX Hidiv 20, keluar dari zona merah. Faktor lainnya adalah rupiah yang semakin tertekan sehingga membuat BI menaikkan suku bunga acuan. Secara spesifik, performa konstituen IDX Hidiv 20 berada dalam situasi yang dilematis.
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto mengatakan peluang tersebut dapat terjadi selama kinerja IDX Hidiv 20 masih disertai dengan pertumbuhan kinerja dan dividen yield yang tinggi sehingga masih membuat saham-saham di indeks ini masih menarik. "Untuk saham pilihannya yaitu BBCA, PTBA, ADRO, dan AMRT. Ini rekomendasinya buy on weakness untuk memanfaatkan pelemahan pasar," ujar William kepada Bisnis, Jumat (26/4). Berdasarkan data Bloomberg, sektor yang menjadi penyokong utama konstituen IDX Hidiv 20 selama ini adalah sektor perbankan dan batu bara. Ada 5 emiten utama di situ yakni PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), dan PT United Tractor Tbk. (UNTR). Sementara itu, beberapa emiten yang menjadi pemberat utama IDX Hidiv 20 di antaranya PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR), PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), serta PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR).
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi berujar sebelum membagikan dividen, emiten bank yang masuk jajaran indeks dividen jumbo tersebut mencatatkan performa positif, bahkan sempat naik sebesar 7,14% (YtD). “Pasca-pembagian dividen empat bank jumbo, performa IDX High Dividend 20 menjadi negatif, bahkan sampai per hari ini kenaikan tensi geopolitik, dan keputusan BI yang di luar ekspektasi menaikkan suku bunga acuan,” ujar Audi. Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli terhadap sejumlah saham konstituen IDX High Dividend 20 di antaranya yaitu ICBP dengan target price (TP) Rp14.750, BMRI dengan TP Rp7.350, BBCA (TP Rp10.300) dan TLKM (TP Rp4.300). Angga Septianus, Community & Retail Equity Analyst Lead Indo Premier Sekuritas, menambahkan koreksi saham-saham royal dividen diakibatkan saham big caps mayoritas sedang mengalami koreksi karena kondisi global yang belum stabil. Pengamat BUMN sekaligus Akademisi Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menyebut terjadinya ketidakstabilan global yang dipicu oleh faktor eksternal dapat mengancam ketahanan ekonomi Tanah Air.
IHSG di Proyeksi Masih Tertekan Pekan Ini
20% Saham BSI Siap Lepas ke Investor Strategis
Saham Emiten Emas Bersinar
Saham Barito Renewables Terus Menanjak
Jejak Goto di Krisis Saham Telkom
Sinar Mas Muktiartha Jual 15 % Saham Paramitra
LOGAM MULIA : Saham Emiten Emas Unjuk Gigi
Harga emas global yang mengukir rekor harga di atas US$2.300 per ons menyulut apresiasi harga saham emiten-emiten yang memiliki portofolio bisnis emas. Pada perdagangan Selasa (16/4), mayoritas saham emiten-emiten pertambangan emas parkir di zona hijau. Hal itu tak terlepas dari sentimen harga emas global yang meroket di tengah perang Iran-Israel. Merujuk Bloomberg, harga emas spot bertengger di level US$2.372,88 per ons dan emas Comex dibanderol US$2.390 per ons pada perdagangan kemarin. Di lantai bursa, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menguat 8,38% ke level Rp1.810.
Selanjutnya, tambang emas PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) milik Garibaldi Thohir juga melesat 9,92% atau 260 poin ke level Rp2.880 per saham. Selain itu, saham PT Bumi Resources Mineral Tbk. (BRMS) milik Grup Bakrie menguat 6,25% ke Rp170 per saham. Saham PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) juga mendarat di teritori positif dengan penguatan 2,25% ke level Rp364. Senada, saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) memantul 3,96% ke level Rp26.250 per saham. Dari sisi emiten, Corporate Secretary Division Head Antam Syarif Faisal Alkadrie meyakini kenaikan harga emas merupakan berkah bagi ANTM. Dia menyebutkan sampai dengan saat ini, komoditas emas yang menjadi instrumen safe haven itu masih menjadi penyumbang 62% pendapatan ANTM.
DAMPAK GEOPOLITIK : FLUKTUASI PASAR SAHAM MENINGKAT
Eskalasi geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed kembali meniupkan volatilitas tinggi di pasar saham Indonesia. Hal itu diikuti dengan aksi investor merotasi dana ke instrumen berisiko rendah (low risk). Pada perdagangan perdana setelah libur Lebaran 2024, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,68% atau 122,07 poin ke level 7.164,80. Merosotnya indeks komposit juga terjadi di mayoritas bursa saham Asia Pasifik dan Asean. Bursa Vietnam melorot 4,7%, Malaysia turun 0,55%, Filipina terkoreksi 1,46%, Singapura melandai 1,04%, Hong Kong -0,72%, serta Jepang dan Korea Selatan masing-masing terkoreksi 0,74% dan 0,42%. Memerahnya bursa saham global tak terlepas dari memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah Iran melancarkan serangan ke Israel.Di dalam negeri, pelemahan IHSG disebabkan oleh penurunan harga saham BBRI (-5,3%), TLKM (-6,1%), BBCA (-3,6%), BMRI (-2,9%), dan AMRT (-6,3%). Pada saat yang sama, investor asing membukukan aksi jual bersih Rp2,47 triliun pada perdagangan kemarin, sehingga akumulasi net buy menyusut menjadi Rp14,15 triliun sepanjang 2024.
Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan, IHSG masih akan cenderung tertekan dalam beberapa waktu ke depan, dan saat ini pelaku pasar pun masih mewaspadai tensi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah. Lebih lanjut, dia mengatakan, pascarilis data infl asi AS yang di atas ekspektasi pasar pada pekan lalu, potensi pemangkasan suku bunga The Fed menurun hanya menjadi dua kali, atau di bawah ekspektasi pasar sebelumnya pada tahun ini. Dampaknya, dalam jangka panjang berpotensi akan menggerus daya beli masyarakat dan melambatkan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, investor akan mengalihkan investasi pada aset yang berisiko rendah (low risk), sehingga dapat memberikan sentimen negatif untuk pasar saham.
Senada, Equity Research Analyst Panin Sekuritas Felix Darmawan mengatakan, pelemahan IHSG hari ini mayoritas disebabkan sentimen negatif dari tensi geopolitik Timur Tengah. Namun, selain itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan terjadi kenaikan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) net di level 0,82% periode Februari 2024, naik dari bulan sebelumnya di angka 0,79%. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy mengatakan, ada bebe-rapa faktor yang memengaruhi pelemahan IHSG hari ini, baik dari domestik maupun global.
Sementara itu, dari sentimen domestik, beberapa rilis data ekonomi dalam 2 pekan terakhir turut memengaruhi terkoreksinya IHSG.“Selain itu, cadangan devisa Maret 2024 tercatat sebesar US$140,4 miliar, turun dibandingkan dengan Februari 2024 yang sebesar US$144 miliar,” ujarnya.
PROYEKSI PASAR SAHAM : Tenaga IHSG Masih Lemah
Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksi cenderung melemah pada perdagangan pekan ini atau usai libur panjang Idulfitri 2024. Gejolak nilai tukar, inflasi tinggi, dan memanasnya tensi geopolitik membayangi gerak pasar saham.Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali dibuka pada Selasa (16/4). Sebelum libur Lebaran, IHSG parkir di level 7.286,88 pada Jumat (5/4). IHSG menguat tipis 0,19% year-to-date. Pada saat yang sama, akumulasi net buy investor asing terus menyusut menjadi Rp16,63 triliun. Head of Research Panin Sekuritas Nico Laurens dalam risetnya memperkirakan IHSG akan bergerak mendatar pada April 2024 dengan kecendrungan melemah. Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pergerakan tersebut.
Pertama, inflasi yang masih tinggi, lalu resesi di beberapa negara, dan pelemahan nilai rupiah setelah outflow pada beberapa pekan terakhir. Di sisi lain, lanjutnya, pelaku pasar mencermati keputusan The Fed yang menjaga suku bunga di level 5,25%—5,5% pada pertemuan Maret 2024. Selain itu, The Fed juga menegaskan pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2024. Dalam riset terpisah, Tim Analis MNC Sekuritas memperkirkan IHSG kembali terkoreksi dalam jangka pendek. Indeks komposit diperkirakan bergerak pada level support 7.045—7.099 dan resistance 7.396—7.454. Pada perdagangan hari ini, MNC Sekuritas merekomendasikan investor untuk mencermati saham BBCA dengan rekomendasi speculative buy. Selain itu, saham ELSA, ESSA, dan MAHA mendapat rekomendasi buy on weakness.Sementara itu, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya menyarankan investor mencermati saham INDF, BBCA, ASII, JSMR, AALI, BSDE, dan PWON.
Pilihan Editor
-
Perekonomian di Kota Penyangga Kembali Bergeliat
14 Jun 2020 -
Perhotelan Siapkan Standar Operasi Baru
14 Jun 2020 -
Kemenkeu akan Terbitkan Surat Utang Diaspora
07 Jun 2020 -
China Berkomitmen Bantu RI Hadapi Covid
07 Jun 2020 -
Inilah Konsekuensi Akibat Batal Berangakat Haji
07 Jun 2020









