Emiten Menjaring Dana dari RIght Issue
Penambahan modal melalui rights issue maupun private placement cukup meriah di kuartal pertama tahun ini. Sederet emiten telah mengumumkan rencana untuk menggelar aksi korporasi tersebut dengan bermacam keperluan. Contohnya PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 603,44 juta saham baru. Rights issue ini merupakan bagian dari pemenuhan kewajiban divestasi INCO kepada pemerintah Indonesia, yang dilakukan melalui holding tambang BUMN, MIND ID. Lewat divestasi lanjutan ini, MIND ID akan mendapat tambahan 14% sehingga nantinya akan memiliki 34% saham INCO. Masih dari emiten nikel, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) alias Harita Nickel bahkan berencana untuk menggelar rights issue dan private placement. Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy mengatakan, aksi korporasi ini upaya memperkuat pertumbuhan dan pengembangan usaha. Dana dari rights issue akan digunakan untuk ekspansi, termasuk pembelian saham pada perusahaan di bidang pemurnian bijih nikel atau pertambangan lain.
Selain duo emiten nikel tersebut, ada juga dua emiten bank yang akan menggelar rights issue. Mereka adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) dan PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS). Estimasi perolehan dana dari aksi korporasi ini masing-masing mencapai Rp 3,2 triliun dan Rp 1,17 triliun. Emiten lain yang akan melakukan rights issue di antaranya ada PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) dan PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI). Sedangkan emiten yang berencana menggelar private placement ada PT SLJ Global Tbk (SULI) dan PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP). Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan mengamati sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan emiten menggelar aksi rights issue. Pertama, bisa terjadi ketika pendanaan melalui utang sudah maksimal, yang ditandai dengan rasio leverage tinggi. Dalam situasi itu, emiten perlu menambah modal melalui penerbitan saham, sehingga rasio leverage turun dan kembali memiliki ruang. Kedua, faktor makro ekonomi dalam memilih opsi penambahan modal. Seperti pada kondisi suku bunga tinggi sehingga pendanaan melalui utang bisa menimbulkan beban keuangan yang memberatkan perusahaan.
Analis Stocknow.id M. Thoriq Fadilla juga menilai pasar akan lebih selektif. Apalagi dalam kondisi yang sedang fluktuatif seperti saat ini, investor akan lebih cenderung bersikap moderat. Thoriq pun menyoroti transaksi di pasar saham yang masih memperlihatkan sikap wait and see dari para investor. Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas memandang pelaksanaan rights issue bisa menjadi momentum yang tepat. Asalkan, emiten tersebut memiliki fundamental kuat dan prospek bisnis yang apik. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengingatkan umumnya rights issue membuat harga saham mengalami koreksi dalam jangka pendek. Namun, jika tambahan modal digunakan untuk ekspansi bisnis atau penguatan struktur modal, maka bisa menjadi sentimen positif yang mendongkrak harga sahamnya. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto punya catatan serupa bahwa seringkali rights issue membuat harga saham turun terlebih dulu, karena pergerakannya akan mengacu pada harga pelaksanaan. Pelaku pasar bisa mencermati peluang buy on weakness atau cicil beli saat koreksi.
Tags :
#SahamPostingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Peluang Bisnis PT Garuda Indonesia
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Perang Memanas, Saham Energi Kian Mendidih
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023