Saham
( 1717 )MAPI Didorong Lebaran & Ekspansi
Divestasi Tak Jamin Kenaikan Harga Saham Vale Indonesia
Saham perusahaan tambang nikel PT ValeIndonesia Tbk yang
tercatat di bursa dengan nama INCO naik sesaat pascadivestasi saham, Senin
(26/2). Namun, tren ini dinilai analis tidak akan bertahan lama karena factor eksternal
yang memengaruhi perdagangan komoditas nikel. Pada perdagangan sesi pertama
Rabu (28/2), harga saham INCO menyentuh angka tertinggi Rp 4.120 per lembar, setelah
terus naik pada kisaran Rp 3.800 per lembar sejak dua hari sebelumnya. Namun,
harga itu mulai turun di pengujung perdagangan sesi pertama. ”Menurut saya, ini
karena sentimen divestasi berakhir. Sekarang INCO mencapai fase jenuh jual dan
mulai rebound,” kata pengamat pasar modal sekaligus founder WH-Project, William
Hartanto.
Sentimen itu terjadi setelah Pemerintah Indonesia melalui PT
Mineral Industri Indonesia Persero (Mind Id) resmi mengakuisisi 14 % saham dari
perusahaan pengendali lain, yakni Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining
Co Ltd (SMM). Dengan itu, perusahaan induk (holding) industri pertambangan BUMN
itu menjadi pemegang saham mayoritas, sebesar 34 %. Analis Henan Putihrai Sekuritas,
Ezaridho Ibnutama, berpendapat, kenaikan harga saham INCO hanya akan terjadi
sesaat. Bahkan, harga cenderung turun setelah PT Vale Indonesia Tbk menawarkan right
issue atau saham baru kepada investor di Bursa Efek Indonesia dengan harga Rp 3.050
per lembar. Harga tersebut adalah harga divestasi yang disepakati bersama. ”Top-line
(pendapatan) dan bottom-line (laba bersih) INCO akan mengalami kontraksi sampai
tahun depan jika kondisi ekonomi global masih ada banyak ketidakpastian,”
ujarnya. (Yoga)
Dihantui Tekanan Harga Komoditas
Memilah Saham Pembagi Dividen Jumbo
Menanti Tuah Maraknya, Aksi Korporasi di BUMN
Barisan saham emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) layak menjadi perhatian pelaku pasar. Selain getol menggelar aksi korporasi dan restrukturisasi, sejumlah katalis mengiringi emiten pelat merah tersebut. Aksi terbaru, Mining Industri Indonesia (Mind ID) resmi mengakuisisi 14% saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Langkah ini menambah kepemilikan holding tambang BUMN tersebut dari sebelumnya 20% menjadi 34% atas saham INCO.
Pasar merespons aksi ini. Saham INCO melonjak 3,92% ke level Rp 3.980 pada Selasa (27/2). Tapi saham emiten tambang anggota Mind ID, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), justru melorot 2,31% ke Rp 1.480.
Research Analyst
Phintraco Sekuritas, Nurwachidah menjelaskan, akuisisi saham INCO oleh Mind ID tidak banyak berpengaruh signifikan bagi emiten tambang BUMN.
Selain akuisisi,
Associate Director
Jasa Utama Capital Sekuritas, Hadrian Maynard juga menyoroti aksi BUMN lain yakni restrukturisasi utang pada sejumlah emiten pelat merah.
Investment Consultant
Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada sepakat, butuh waktu sebagai pembuktian, sejauh mana restrukturisasi tersebut bisa menyehatkan fundamental dan kinerja keuangan emiten.
Hadrian turut melirik saham bank BUMN yang menunjukkan ketahanan dan potensi pertumbuhan yang signifikan. Terlebih sebentar lagi memasuki musim pembagian dividen yang bisa menambah daya tarik pelaku pasar terhadap saham perbankan.
Sentimen itu akan menjadi katalis positif pendongkrak emiten terkait infrastruktur seperti PT PP Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR).
Masih dari sektor infrastruktur, analis Stocknow.id, Muhammad Thoriq Fadilla menilai, PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) akan mendapatkan momentum yang menarik menjelang musim mudik Idul Fitri. Dus, Thoriq menilai JSMR layak koleksi dengan target harga Rp 5.800.
Astra Bakal Tebar Dividen Jumbo Rp 21 Triliun
Usaha BUMN Karya Kurangi Beban Utang
Sejumlah emiten saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya tengah berupaya memperbaiki kinerja keuangan. Caranya, lewat restrukturisasi utang untuk melancarkan arus kas. Teranyar, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) baru menggelar empat rapat umum pemegang obligasi (RUPO) pada 21-22 Februari 2024.
Hasil RUPO itu menyetujui perpanjangan tanggal jatuh tempo dan besaran bunga utang, serta mekanisme pembayaran bunga untuk tiga obligasi yang diterbitkan WSKT. Yaitu, Obligasi Berkelanjutan III Tahap III Tahun 2018, Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I Tahun 2020, dan Obligasi Berkelanjutan III Tahap II Tahun 2018.
Sementara, peserta RUPO Obligasi PUB III Tahap IV Tahun 2019 tidak menyetujui usulan WSKT. Maka WSKT berencana menggelar kembali RUPO untuk Obligasi PUB III Tahap IV Tahun 2019 pada 22 Maret 2024.
Waskita menargetkan restrukturisasi utang akan efektif pada akhir kuartal I 2024 ini. Manajemen WSKT pun berupaya merealisasikan master restructuring agreement (MRA) dengan 21 kreditur. Namun, skemanya belum diketahui.
"Diterimanya usulan restrukturisasi dalam RUPO diharapkan bisa membuat WSKT melakukan
settlement
atas suspensi saham perseroan," ujar Wiwi Suprihatno, Direktur Keuangan WSKT kepada KONTAN, Senin (26/2).
Selain WSKT, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan 11 lembaga keuangan juga sudah menyepakati MRA dengan nilai outstanding Rp 20,58 triliun. Nilai ini setara 87,1% dari jumlah utang yang direstrukturisasi per 23 Januari 2024.
"Kami konsisten membayar kupon obligasi dan sukuk yang sudah jatuh tempo," kata Mahendra Vijaya, Sekretaris Perusahaan WIKA kepada KONTAN, Senin (26/2).
Sementara PT PP Tbk (PTPP) memilih mendivestasikan aset. Sekretaris Perusahaan PTPP Bakhtiyar Efendi menyatakan, PTPP berupaya menurunkan utang melalui divestasi aset senilai Rp 3 triliun di tahun ini. Divestasi dilakukan terhadap aset properti, pabrik precast, peralatan dan saham sejumlah cucu usaha.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, masih susah memprediksi apakah langkah restrukturisasi BUMN karya, khususnya WSKT, bisa memperbaiki kinerjanya. Sebab sulit mengukur kekuatan dan kemampuan WSKT dalam membayar utangnya tersebut.
Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, kemampuan keuangan masing-masing emiten BUMN Karya dalam membayar utangnya berbeda-beda. Ia melihat, rasio utang ADHI lebih kecil dari WIKA. Rasio utang WIKA pun lebih kecil dari WSKT.
Membidik Incaran Saat Pasar Sedang Goyang
Barisan saham lapis kedua dan lapis ketiga kembali unjuk gigi saat saham blue chip melandai. Ini sejalan dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sudah berlangsung dalam empat hari perdagangan beruntun. Mengawali pekan ini, IHSG merosot 0,15% ke posisi 7.283,82 pada Senin (26/2). Situasi ini seiring arus dana investor asing yang sejak beberapa hari sebelumnya mulai berbalik melakukan aksi jual. Pada perdagangan Senin, terjadi net foreign sell sebesar Rp 846,23 miliar.
Analis Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengamati pelemahan IHSG beberapa hari terakhir terseret aksi profit taking pada saham blue chip, terutama saham perbankan yang sebelumnya sudah naik cukup signifikan. Meski begitu, Daniel melihat kondisi ini masih tergolong koreksi wajar.
Analis Stocknow.id Emil Fajrizki mengamini, situasi sekarang masih bersifat koreksi wajar dengan indikasi terjadi jenuh beli pada saham keping biru.
Sementara dari sisi teknikal Founder WH-Project William Hartanto menimpali, koreksi IHSG juga menjadi bagian dari pengujian support 7.300. Ia memprediksi uji support tersebut akan berlangsung hingga pergantian bulan di akhir pekan ini.
Daniel menambahkan, lompatan pada saham lapis kedua dan lapis ketiga terjadi setelah momentum naik saham blue chip. Apalagi, investor cenderung dalam posisi
wait and see
menanti katalis penggerak pasar berikutnya, seperti kelanjutan musim rilis laporan keuangan dan pengumuman pembagian dividen.
Momentum Ramadan, imbuh Emil, bakal membawa katalis penting yang bisa mendongkrak sejumlah saham lapis kedua. Secara historis, pasar juga merespons positif dengan kecenderungan penguatan IHSG pada awal bulan Ramadan.
Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas sepakat, harus tetap selektif memilah saham lapis kedua dan lapis ketiga. Dengan estimasi koreksi IHSG yang hanya sementara, saham lapis pertama sebenarnya masih layak menjadi prioritas, dengan mencermati saham blue chip yang penurunannya sudah terbatas.
Namun sebagai alternatif, bisa melirik saham-saham lapis kedua dan ketiga dengan tetap mencermati faktor fundamental, prospek bisnis, valuasi serta sinyal teknikalnya. Pelaku pasar bisa mempertimbangkan saham di indeks SMC Liquid seperti ERAA, JSMR dan JPFA.
IHSG Cenderung Menguat, Pemodal Cermati Data Global
Saham Perbankan Seret Turun IHSG
Pilihan Editor
-
Hotel-Hotel yang Pantang Menyerah
17 May 2020 -
Sektor Keuangan Stabil
17 May 2020 -
Pemerintah Evaluasi Pembukaan Pusat Belanja
13 May 2020 -
Tokopedia Selidiki Kebocoran Data Pengguna
10 May 2020









