Saham
( 1722 )GOTO Ditengah Ancaman Berakhirnya Lock Up Saham Pendiri
RUPST BRI 2024: BRI Bagikan Dividen Rp48,10 Triliun
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Memutuskan untuk membagikan dividen senilai Rp48,10 triliun atau meningkat 10,59% dibandingkan dengan yang dibayarkan pada 2023 yang mencapai Rp43,49 triliun. Angka dividen itu setara dengan Rp319 per lembar saham atau mewakili dividend payout ratio kurang lebih 80,04% dari laba atribusi. Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan Perseroan memiliki struktur modal yang kuat dan likuiditas yang cukup dalam rangka ekspansi bisnis dan antisipasi risiko yang mungkin terjadi dalam pengelolaan bank. “Dengan pembayaran Dividen untuk laba Tahun Buku 2023, CAR Perseroan tetap terjaga pada kisaran 20% masih di atas ketentuan minimum regulator,” katanya. Dividen yang dibagikan tersebut sudah termasuk jumlah Dividen Interim yang telah dibagikan kepada Pemegang Saham pada tanggal 18 Januari 2024 lalu sejumlah Rp12,67 triliun atau sebesar Rp84 per saham.
Sunarso menambahkan, pembagian dividen ini menunjukkan komitmen BRI sebagai BUMN dalam menjalankan perannya sebagai agent of developmentdan value creator dapat menjalankan peran economic dan social value secara simultan. “Melalui pembayaran pajak dan dividen, keuntungan tersebut akan kembali ke negara untuk digunakan dalam berbagai program pemerintah demi kesejahteraan masyarakat Indonesia,” tuturnya. RUPST tahun ini juga memasukkan agenda perubahan dalam susunan pengurus BRI, diantaranya memberhentikan dengan hormat dan mengangkat kembali Catur Budi Harto sebagai Wakil Direktur Utama BRI, Agus Noorsanto sebagai Direktur Bisnis Wholesale & Kelembagaan dan Agus Sudiarto sebagai Direktur Manajemen Risiko. RUPST juga mem berhentikan dengan hormat Hendrikus Ivo sebagai Komisaris Independen dan mengangkat Haryo Baskoro Wicaksono sebagai Komisaris Independen BRI. Selanjutnya, RUPST juga memutuskan untuk mengubah nomenklatur jabatan anggota-anggota Direksi Perseroan diantaranya Direktur Bisnis Kecil dan Menengah menjadi Direktur Commercial, Small, and Medium Business serta Direktur Jaringan dan Layanan menjadi Direktur Retail Funding and Distribution. Dengan demikian, RUPST mengalihkan penugasan Amam Sukriyanto semula Direktur Bisnis Kecil dan Menengah menjadi Direktur Commercial, Small, and Medium Business dan Andrijanto semula Direktur Jaringan dan Layanan menjadi Direktur Retail Funding and Distribution.
IHSG Berpotensi Menguji Level Baru 7.400 di Bulan Maret
Rezeki Bertambah di Bulan Penuh Berkah
Risiko Turun, Saatnya Mengintip Blue Chip
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup bulan Februari dengan pelemahan 0,17%, Kamis (29/2). Hasil ini membawa IHSG ke posisi 7.316,11. Meski melandai sepekan terakhir, tapi IHSG mampu mengakumulasi penguatan 2,22% dalam periode bulanan. Jika dihitung sejak awal tahun 2023, IHSG masih naik tipis 0,60%. Gerak menanjak IHSG ikut terdorong oleh arus dana dari investor asing yang secara year to date berada di posisi net buy Rp 18,43 triliun. Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengamati, katalis yang menggerakkan IHSG pada Februari berasal dari dalam negeri. Pertama, indikator ekonomi nasional masih menunjukkan fundamental yang kuat. Situasi ini membuka peluang bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga pada kuartal II atau kuartal III-2024. Kedua, penyelenggaraan pemilu berlangsung dengan kondusif, dengan hasil yang relatif sesuai perkiraan. Ketiga, musim rilis laporan keuangan menjadi sentimen penggerak pasar, terutama dari saham bank berkapitalisasi pasar jumbo (big caps) yang membukukan pertumbuhan kinerja. Sebaliknya, sentimen eksternal cenderung belum kondusif dengan adanya ketegangan geopolitik di Laut Merah, kontraksi dan resesi ekonomi di sejumlah negara, dan kehati-hatian The Fed memangkas suku bunga acuan.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Robertus Hardy mengatakan, pergerakan positif IHSG di bulan Februari sebagian besar ditopang oleh saham-saham perbankan (lihat tabel). Sebelumnya, sejumlah bank besar mengatakan pertumbuhan kredit tahun ini bisa lebih rendah akibat tingginya suku bunga dan ketidakpastian politik dalam negeri. Memasuki bulan Maret, Robertus menyarankan investor kembali mencermati saham-saham blue chip. Meskipun terdapat potensi peningkatan inflasi yang disebabkan oleh faktor musiman di bulan Ramadan, Robertus meyakini tren penurunan inflasi inti diperkirakan akan berlanjut dan memberikan ruang yang terbatas bagi BI untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Analis Stocknow.id Dinda Resty Angira mengatakan, musim pembagian dividen bakal menjadi katalis penting yang mendongkrak saham big caps, terutama perbankan. Sedangkan Ramadan akan menambah daya tarik bagi sektor barang konsumsi dan ritel. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus menilai, IHSG masih punya kecenderungan bergerak sideways pada rentang 7.000-7.350 dalam beberapa minggu ke depan. Sedangkan Valdy memprediksi IHSG akan mengalami fluktuasi dalam jangka pendek, tapi dengan kecenderungan menguat dalam rentang 7.200-7.400.
Risiko Keuangan Emiten Meningkat
MAPI Didorong Lebaran & Ekspansi
Divestasi Tak Jamin Kenaikan Harga Saham Vale Indonesia
Saham perusahaan tambang nikel PT ValeIndonesia Tbk yang
tercatat di bursa dengan nama INCO naik sesaat pascadivestasi saham, Senin
(26/2). Namun, tren ini dinilai analis tidak akan bertahan lama karena factor eksternal
yang memengaruhi perdagangan komoditas nikel. Pada perdagangan sesi pertama
Rabu (28/2), harga saham INCO menyentuh angka tertinggi Rp 4.120 per lembar, setelah
terus naik pada kisaran Rp 3.800 per lembar sejak dua hari sebelumnya. Namun,
harga itu mulai turun di pengujung perdagangan sesi pertama. ”Menurut saya, ini
karena sentimen divestasi berakhir. Sekarang INCO mencapai fase jenuh jual dan
mulai rebound,” kata pengamat pasar modal sekaligus founder WH-Project, William
Hartanto.
Sentimen itu terjadi setelah Pemerintah Indonesia melalui PT
Mineral Industri Indonesia Persero (Mind Id) resmi mengakuisisi 14 % saham dari
perusahaan pengendali lain, yakni Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining
Co Ltd (SMM). Dengan itu, perusahaan induk (holding) industri pertambangan BUMN
itu menjadi pemegang saham mayoritas, sebesar 34 %. Analis Henan Putihrai Sekuritas,
Ezaridho Ibnutama, berpendapat, kenaikan harga saham INCO hanya akan terjadi
sesaat. Bahkan, harga cenderung turun setelah PT Vale Indonesia Tbk menawarkan right
issue atau saham baru kepada investor di Bursa Efek Indonesia dengan harga Rp 3.050
per lembar. Harga tersebut adalah harga divestasi yang disepakati bersama. ”Top-line
(pendapatan) dan bottom-line (laba bersih) INCO akan mengalami kontraksi sampai
tahun depan jika kondisi ekonomi global masih ada banyak ketidakpastian,”
ujarnya. (Yoga)
Dihantui Tekanan Harga Komoditas
Memilah Saham Pembagi Dividen Jumbo
Pilihan Editor
-
Hotel-Hotel yang Pantang Menyerah
17 May 2020 -
Sektor Keuangan Stabil
17 May 2020 -
Pemerintah Evaluasi Pembukaan Pusat Belanja
13 May 2020 -
Tokopedia Selidiki Kebocoran Data Pengguna
10 May 2020









