;
Tags

Saham

( 1722 )

Taktik Baru Setelah Usai Pesta Politik

HR1 21 Feb 2024 Kontan
Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 sudah terlaksana. Laju bisnis sektor transportasi dan logistik diproyeksi bakal positif. Presiden Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA), Prodjo Sunarjanto menjelaskan ASSA tidak terlibat banyak dalam melayani distribusi logistik selama Pemilu 2024. Sebab, pangsa pasar ASSA masih meliputi kebutuhan korporasi dan institusi. "Terkait rencana bisnis ASSA, kami akan menyesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca pemilu dan pembentukan kabinet," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (20/2). Untuk itu Prodjo memprediksi, pendapatan ASSA Group antara Rp 4,7 triliun - Rp 4,8 triliun di tahun 2024 ini. Namun ia tidak merinci proyeksi pendapatan di tahun 2023. Sementara pendapatan ASSA hingga 30 September 2023 sebesar Rp 3,46 triliun. Yang jelas agar bisa mengejar target tersebut, ASSA, menurut Prodjo, sudah menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar Rp 1,5 triliun - Rp 1,6 triliun tahun ini. Salah satunya adalah untuk melakukan peremajaan dan tambahan armada, antara 4.500- 5.000 unit armada tahun ini. Direktur Keuangan PT MPX Logistics International Tbk (MPXL), James S Chandra  menyatakan, distribusi pemilu 2024 tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Sebab, bisnis MPXL berfokus pada angkutan komoditas infrastruktur. Maka, di tahun 2024 ini, MPXL menargetkan pendapatan Rp 222 miliar. Target ini naik 59% secara tahunan alias year on year (yoy) dibanding pendapatan tahun 2023. Menurut James, target di tahun 2024 sudah sangat realistis. Target tersebut sudah memprediksi dampak langsung maupun tidak langsung selama masa pemilu. Dalam waktu dekat, MPXL akan melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Agendanya adalah membahas beberapa poin terkait kinerja perusahaan tahun 2023, strategi  di tahun 2024 dan pembagian deviden. Reza Priyambada, Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia melihat, pergerakan saham-saham emiten transportasi dan logistik cenderung bervariasi satu sama lainnya. Ini tergantung dari kinerja bisnis dan likuiditas saham para emiten. Di kedua sektor itu, Reza  merekomendasikan beli saham Hasnur Internasional Shipping (HAIS) dan ASSA dengan target harga masing-masing Rp 248 dan Rp 750 per saham. 

Saham-saham Perbankan Kian Berkibar

KT1 21 Feb 2024 Investor Daily (H)
Kinerja bank-bank besar seperti Himbara dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kian berkibar. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bahkan menyentuh rekor tertinggi atau all time high (ATH)  pada perdagangan Selasa (20/2/2024) di level Rp 6.300. Dividen menggiurkan dan potensi gain yang masih cukup besar juga menjadi magnet tersendiri bagi investor untuk  memburu saham bank-bank tersebut. Daya tarik bank-bank  besar makin menjadi ditengah memudarnya sentimen ketidakpastian sejalan dengan transisi pemerintah yang dinilai kalangan analis akan berjalan smooth. Para pelaku pasar tak lagi bersikap wait and see dibayangi ketidakpastian. Hal ini didorong aliran dana investor asing yang turut mendongkrak performa saham-saham bank besar. Selain BBRI yang naik 3,28%, saham PT Bank  Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Tabungan  Negara Tbk (BBTN) pada perdagangan Selasa (20/202024) juga kompak bertengger di zona hijau. (Yetede)

Uji Daya Tahan Lawan Resesi Global

HR1 20 Feb 2024 Kontan

Selain efek pemilihan umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, investor juga perlu mencermati ketidakpastian ekonomi global. Apalagi usai Jepang dan Inggris tumbang ke jurang resesi. Pasar juga dihadapkan pada bayang-bayang perlambatan ekonomi dua negara adikuasa, Amerika Serikat (AS) dan China. Founder & CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto memandang, resesi dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara maju sudah diprediksi cukup lama. Fendi optimistis, ketahanan ekonomi Indonesia masih bisa meredam dampak situasi tersebut. Meski kontribusi ekspor terpangkas, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa stabil di 5% dengan dorongan konsumsi dalam negeri. Begitu pula terhadap pasar modal Indonesia, Fendi meyakini daya tariknya masih memikat investor asing. "Justru flow of fund kalau terjadi resesi global, masuk ke Indonesia. Yield of return Indonesia masih sangat atraktif dari kacamata investor asing," kata Fendi, Senin (19/2). CEO Pinnacle Persada Investama, Guntur Putra menimpali, banyak faktor yang mempengaruhi prospek bursa saham Indonesia. Jika resesi dan perlambatan ekonomi global berkepanjangan, apalagi di mitra dagang Indonesia, membawa sentimen negatif. Emiten berorientasi ekspor yang rentan terdampak antara lain di sektor industri dan komoditas seperti manufaktur, tambang dan energi. Komoditas energi seperti batubara dan minyak mentah bisa tertekan.

Sedangkan komoditas pertanian seperti kelapa sawit berpeluang stabil. Emiten non-tambang yang mengandalkan ekspor kayu, makanan dan barang konsumsi lain bisa turut terimbas penurunan permintaan. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menyarankan tetap waspada terhadap saham-saham komoditas tambang dan energi. Terutama yang berfundamental lemah dan eksposur tingggi terhadap volatilitas harga komoditas. Head of Research & Fund Manager Syailendra Capital Rizki Jauhari menambahkan, umumnya karakteristik bisnis emiten di Indonesia cenderung di pasar domestik. Sehingga, penting menilik lebih dalam mengenai ketahanan daya beli di dalam negeri. Di sisi yang lain, Rizki memandang resesi global bisa meningkatkan probabilitas bank sentral memangkas tingkat suku bunga. Hal ini dapat membawa katalis positif terhadap emiten yang sensitif terhadap penurunan tingkat suku bunga seperti properti, teknologi, perbankan, menara telekomunikasi, dan jalan tol. Investment Consultant Reliance SekuritasIndonesia, Reza Priyambada sepakat dengan dibayangi potensi resesi, bank sentral dapat menurunkan suku bunga. Dengan sentimen resesi dan perlambatan ekonomi global, Reza menyarankan mewaspadai atauwait and see saham tambang energi dan mineral seperti INDY, ITMG, ADRO dan BRMS.

Saham Berorientasi ESG Berprospek Cerah

KT3 20 Feb 2024 Kompas

Saham perusahaan yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG dapat menjadi pilihan bagus bagi investor untuk mendulang keuntungan lebih. Perusahaan, khususnya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, dipastikan memiliki fundamen keuangan dan bisnis yang berkualitas. Prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) yang diterapkan suatu perusahaan tercatat di bursa atau emiten tidak hanya mementingkan keuntungan finansial, tetapi juga keuntungan dari tata kelola yang baik dalam hal menjaga lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini sejalan dengan upaya global untuk menahan laju perubahan iklim dan mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Retail Research Analyst CGS International Sekuritas Indonesia, Andrian A Saputra, mengatakan, ESG harus menjadi faktor nonfinansial yang dipertimbangkan investor dalam menilai aktivitas bisnis suatu perusahaan. Sejauh ini, ESG telah menjadi matriks utama investasi dan referensi emiten melaporkan dampak bisnis mereka yang akan membantu menjaga reputasi perusahaan.

”Ketika berinvestasi, selama ini kita banyak mempertimbangkan faktor kinerja keuangan, seperti perhatikan net income, liabilitas, dan aspek keuangan lainnya. Aspek non-financial seperti ESG ini dapat jadi indikator juga untuk pilih perusahaan selain yang bisa kasih potensi cuan oke, tapi juga secara bisnis mampu merawatlingkungan," ujar Andrian dalam seminar daring, Senin (19/2). Investor dalam negeri bisa dengan mudah mengenali perusahaan lokal yang telah berorientasi ESG dengan membaca daftar emiten di empat Indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI). Empat indeks itu adalah Indeks ESG Leaders (IDXESGL), ESG Sector Leaders IDX Kehati SRI-Kehati, dan ESG Quality 45 IDX Kehati. Indeks tersebut mengumpulkan puluhan saham dengan kinerja keuangan dan likuiditas transaksi baik, termasuk yang bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati). (Yoga) 

JARINGAN GAS RUMAH TANGGA : ALOKASI TEBAL BELANJA MODAL

HR1 20 Feb 2024 Bisnis Indonesia

PT Perusahaan Gas Negara Tbk. menyiapkan alokasi belanja modal atau capital expenditure yang cukup tebal pada tahun ini guna mempercepat bisnis hilir perseroan, terutama untuk jaringan gas rumah tangga pada 2024. Perusahaan dengan kode saham PGAS itu menyiapkan capital expenditure (capex) sebanyak US$227 juta atau sekitar Rp3,54 triliun untuk program kerja sisi hilir perseroan pada tahun ini. Porsi belanja modal sisi hilir itu sudah ikut menghitung rencana kerja pembangunan jaringan gas atau jargas rumah tangga sepanjang 2024.“Komponen hilir, capexnya sebesar US$227 juta, karena ada pemanfaatan untuk program hilir lainnya,” kata Sekretaris Perusahaan Perusahaan Gas Negara (PGN) Rachmat Hutama saat dihubungi Bisnis, Senin (19/2). Rencanannya, PGAS bakal membangun 117.701 sambungan rumah tangga pada tahun ini. Sebagian besar investasi untuk jargas ini dilakukan di Pulau Sumatra dan Jawa. “Target PGN pada 2024 adalah 117.701 sambungan untuk kami selesaikan dengan sebaran di Pulau Sumatra dan Jawa,” jelasnya. Pemerintah juga memutuskan untuk memberikan insentif harga gas dari hulu dengan ketetapan maksimal US$4,72 per juta British thermal unit (MMBtu) bagi pengembang. Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa hingga akhir 2023, jargas rumah tangga yang sudah terpasang mencapai 900.000 sambungan rumah. Dari jumlah tersebut, sebagian besar didominasi pendanaan yang berasal dari APBN sebanyak 703.308 sambungan rumah, dan sisanya dibangun melalui penugasan pemerintah kepada PGN. Adapun, PGN area Palembang mencatat realisasi jumlah pelanggan yang tersambung jarga per Desember 2023 di Provinsi Sumatra Selatan sebanyak 52.487 sambungan. Area Head PT PGN Palembang Agus Muhammad Mirza mengatakan bahwa total pelanggan tersebut mencapai 98,77% dari pencapaian per bulan. Jumlah pelanggan itu tidak jauh berbeda dengan rata-rata realisasi di bulan sebelumnya sepanjang 2023. Menurutnya, jumlah pelanggan pada Januari tercatat sebanyak 51.612 sambungan, Februari 52.867 sambungan, Maret 52.224 sambungan, April 53.735 sambungan, bulan Mei 53.666 sambungan, dan Juni 53.529 sambungan. Di sisi lain, Kementerian ESDM juga tengah berencana membuka lelang internasional untuk mengakselerasi pembangunan jaringan gas rumah tangga yang telah lama melempem. Sebelum keran investasi swasta dibuka lebar, pemerintah lebih dahulu mematangkan muatan kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) dalam revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6/2019. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji menjelaskan bahwa revisi beleid itu berkaitan dengan upaya untuk memasukkan opsi kerja sama anyar KPBU ke dalam program pengadaan jaringan gas domestik mendatang. Selain revisi Perpres, Tutuka mengatakan bahwa Kementerian ESDM tengah menaruh perhatian khusus untuk skema KPBU yang saat ini masih didorong di Kota Batam dan Palembang. KPBU awal di Kota Batam ditargetkan dapat membangun 280.000 sambungan rumah tangga (SR), sementara untuk Kota Palembang masih dalam tahap survei permintaan di tengah masyarakat.

Menanti Rezeki dari Emiten Penebar Dividen

HR1 19 Feb 2024 Kontan (H)
Musim pembagian dividen segera tiba. Tak cuma emiten perbankan, emiten non perbankan juga menjadi  ladang penebar dividen. Tak ada salahnya bersiap untuk memburu saham pembagi dividen sekaligus dividennya. Salah satu emiten yang loyal membagikan dividen adalah emiten tambang batubara. Namun, melorotnya harga komoditas dunia menekan kinerja sejumlah emiten batubara. Alhasil laba turun dan menekan besaran dividen. Head of Proprietary Investment Mirae Asset Sekuritas, Handiman Soetoyo memperkirakan pembagian dividen tahun buku 2023 akan menciut karena penurunan kinerja dari sektor energi. Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan total dividen pada musim dividen tahun ini mencapai Rp 320,2 triliun. Angka itu lebih rendah 10,4% dibandingkan total dividen  tahun lalu senilai Rp 357,2 triliun. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas menilai selain sektor perbankan, investor juga  bisa mencermati sektor telekomunikasi. Khususnya PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Kiwoom Sekuritas memproyeksikan T,LKM bisa menghasilkan dividend per share (DPS) Rp 210. Angka tersebut menggunakan asumsi earning per share (EPS) TLKM mencapai Rp 263 dan dividend payout ratio (DPR) 80%. Selain itu ada juga sektor bahan baku. Yakni PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang ia nilai bisa menghasilkan dividen per saham Rp 210 dengan estimasi EPS Rp 263 dan DPR 80% dari laba bersih. Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mencermati, dari penghuni indeks High Dividend20, dividen emiten pertambangan dan konsumen masih menarik. Dari sektor konsumen, Nico menilai pembagian dividen dari PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menarik  dicermati. Kemudian dari sektor pertambangan, investor dapat mencermati pembagian dividen dari PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT United Tractors Tbk (UNTR). Research Analyst Reliance Sekuritas, Ayu Dian mencermati, dari emiten pelat merah, ada potensi pembagian dividen dari PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Meski bukan emiten yang rajin menebar dividen, emiten pelat merah ini sudah mengalokasikan 20% dari laba untuk dividen.

Apresiasi Pasar Pemilu Lancar

HR1 19 Feb 2024 Bisnis Indonesia

Performa indeks harga saham gabungan atau IHSG ngegas dalam 2 hari terakhir perdagangan pekan lalu. Pemilihan umum presiden dan legislatif yang berjalan lancar dan aman tentu menjadi katalis yang direspons positif oleh pelaku pasar. Kami tidak sedang berspekulasi bahwa keunggulan pasangan calon presiden Prabowo Subianto dan wakil presiden Gibran Rakabuming dalam hitung cepat oleh sejumlah lembaga survei telah menghadirkan sentimen positif ke bursa saham. Kendati, tak sedikit analis di lini masa meyakini bahwa kemenangan kedua pasangan itu dalam satu putaran pemilihan suara bakal menghadirkan kepastian lebih cepat atas keberlanjutan proyek-proyek ekonomi yang melibatkan dunia usaha ke depan. Di samping, stabilitas politik dan keamanan nasional bakal relatif lebih kondusif. Tak heran, pelaku pasar saham sungguh mengapresiasi situasi politik yang bergulir saat ini. Buktinya, saat banyak bursa global terkoreksi pada akhir pekan lalu, IHSG justru melanjutkan penguatan selepas pemilu yang digelar Rabu (14/2). Indeks-indeks Wall Street, misalnya, berguguran oleh sentimen laporan inflasi Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran pemangkasan suku bunga The Fed tidak akan terjadi secepat yang diperkirakan tahun ini. S&P 500 terperosok 0,48% ke level 5.005,57. Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 145,13 poin atau turun 0,37% menjadi 38.627,99. Adapun, Nasdaq Composite juga jatuh 0,82% ke level 15.775,65. Kondisi ini terjadi karena situasi geopolitik yang memicu tingkat permintaan domestik di sejumlah negara menuju ketidakpastian. Banyak negara bahkan telah diproyeksikan mengalami resesi sejak akhir 2023. Setelah Inggris, Jepang ikut terseret ke jurang resesi setelah perekonomiannya menyusut selama dua kuartal berturut-turut. Pekan lalu, investor asing mencatatkan beli bersih atau net buy senilai Rp8,22 triliun di Bursa Efek Indonesia. Dari pantauan kami, asing mengoleksi saham-saham big cap di sektor perbankan seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Derasnya aliran dana asing ke pasar saham pekan lalu mendorong indeks komposit tumbuh 1,39% dalam sepekan ke level 7.335,54.

IHSG ke Level Psikologis Baru

HR1 19 Feb 2024 Kontan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menanjak seusai Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) pada Rabu (14/2). Secara mingguan, IHSG menutup pekan lalu dengan penguatan 1,39%. Pendiri dan CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto menilai, situasi ini sudah sesuai ekspektasi. Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres), Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka unggul dalam hitung cepat. Hasil ini tak banyak memberikan kejutan, lantaran sesuai hasil survei sebelum penyelenggaraan Pilpres. Menurut Fendi, hajatan politik berlangsung kondusif menjadi angin segar bagi pasar saham. Situasi ini tetap menjaga daya tarik, di tengah bayang-bayang perlambatan ekonomi global. Ini efek sejumlah negara maju seperti Jepang dan Inggris mengalami resesi. "Jika resesi global, arus dana masuknya ke Indonesia Yield of return masih atraktif," terang Fendi, Minggu (18/2). Pendiri WH-Project, William Hartanto mengingatkan agar pelaku pasar tetap berhati-hati. Setelah penguatan IHSG, bisa terjadi koreksi  akibat profit taking. Hingga kuartal I-2024, William meramal IHSG di level 7.400 - 7.600. Sedang sampai akhir tahun 2024 di rentang 7.600 - 7.700. Pekan ini menurut Head of Research Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya pasar akan memperhatikan arah bunga acuan Bank Indonesia (BI). Prediksi Cheril, BI akan mempertahankan suku bunga acuan 6%, hingga semester I-2024. Dengan kondisi itu, CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo, menaksir, sepekan ke depan IHSG akan bergerak di area 7.220 - 7.335.

United Tractors Tetap Ekspansi ke Bisnis Mineral

KT1 17 Feb 2024 Investor Daily (H)
Emiten tambang dan alat berat Grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR) tetap mempertahankan rencananya untuk ekspansi ke portfolio komoditas mineral, kendati ditengah tren pelemahan harga komoditas  seperti emas, nikel, dan tembaga secara global. Padahal jika menilik pergerakan harga komoditas mineral seperti emas, nikel, dan tembaga (copper) secara real time di pasar global, harga komoditas-komoditas  meniral tersebut  kompak penurunan secara baik secara mingguan maupun year-to-date (ytd). Harga emas misalnya, komoditas ini mengalami pelemahan harga sebesar 1,00% secara mingguan dan minus 2,58% secara ytd. Tren serupa juga terjadi pada harga nikel yang menurun sebanyak 1,89% secara ytd dan 36,84% secara yoy. Tanpa terkecuali, harga tembaga  yang menyusut 2,54% secara ytd di pasar US dan memerah sebesar 1,95% di pasar London. (Yetede)

DIVESTASI VALE INDONESIA : Harga Khusus Saham INCO untuk Pemerintah

HR1 17 Feb 2024 Bisnis Indonesia

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) selangkah lebih dekat untuk mendapatkan izin usaha pertambangan khusus sebagai pengganti kontrak karya, setelah menyepakati harga divestasi 14% sahamnya kepada PT Mineral Industri Indonesia (Persero).Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif membeberkan, PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID telah mencapai kesepakatan dengan INCO mengenai harga untuk 14% yang akan didivestasikan oleh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tersebut. Meski belum secara gamblang menyampaikan harga per lembar saham INCO yang disepakati dalam salah satu proses untuk tetap bisa beroperasi di Indonesia, Arifin memastikan bahwa harga yang akan dibayarkan MIND ID nantinya di bawah harga pasar saat ini. “Sudah deal atas harganya. Sesuai dengan proporsi saham yang dilepas. Kepalanya tetap Rp3.000 [per saham],” katanya, Jumat (16/2). INCO memang tengah menyelesaikan proses divestasi 14% kepemilikan saham Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd kepada MIND ID yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN) holding pertambangan. Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Axell Ebenhaezer menilai harga divestasi INCO di sekitar Rp3.000 tergolong cukup murah jika dibandingkan dengan nilai pasar saat ini. Harga divestasi yang berada di bawah harga pasar atau harga diskon memberikan sentimen negatif bagi saham INCO. Axell mengatakan, kemungkinan saham INCO akan tertekan, karena harga divestasi ini dapat dianggap sebagai implied fair value atau nilai wajar untuk saham INCO. Pada penutupan perdagangan kemarin, saham INCO bergerak di jalur merah dan parkir di level Rp3.690 per saham. Posisi ini tergerus 7,75% atau 310 poin dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di level Rp4.000.