;
Tags

Saham

( 1717 )

IHSG Berpotensi Menguat Terbatas

KT1 05 Feb 2024 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi menguat terbatas pada Minggu ini, setelah pekan lalu ditutup naik 1,42% ke posisi 7.238. Pergerakan IHSG akan dipengaruhi data ekonomi dari dalam dan luar negeri, serta waktu perdagangan yang  relatif pendek akibat adanya libur panjang (long weekend). "Kami memperkirakan pergerakan IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan support 7.152 dan resistance 7.271. Selama sepekan ini, IHSG  akan pengaruhi oleh beberapa rilis  data ekonomi seperti  produk domsetik bruto  (gross domestic product/GDP) Indonesia yang secara konsensus akan berada di angka 5% YoY, kemudian ada rilis  inflasi China bulan Januari  yang masih dipengaruhi pergerakan harga komoditas dunia," kata analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana kepada Investor Daily. Didit mengungkapkan, dengan waktu yang relatif pendek karena  adanya libur pada 8-9 Febrauari 2024, pelaku pasar dapat mencermati beberapa saham seperti MDKA dengan target harga Rp 2.750-2.850, ASII target harga Rp 5.425-5.500, dan MPMX target harga Rp 1.040-1.060. (Yetede)

Pilih Tunggu Hasil Pemilu Sebelum Tancap Gas

HR1 05 Feb 2024 Kontan (H)

Dalam dua pekan ke depan fokus pelaku pasar tertuju ke hajatan rakyat pemilihan umum presiden (pilpres) yang bakal digelar 14 Februari 2024. Pelaku pasar diprediksi cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar saham. Pengamat Pasar Modal CSA Insitute David Sutyanto menilai, investor asing masih berpotensi melanjutkan capital inflow, tapi dengan nilai yang lebih terbatas. David merujuk hasil survei dari Capital Sensitivity Analysis (CSA) Index untuk bulan Februari 2024. Dari data yang dikumpulkan pada 16–29 Januari 2024, CSA Index Februari berada di level 59,7 yang mengindikasikan penurunan tingkat optimisme dibandingkan bulan Januari yang mencapai angka 83,7. Indikasi penurunan gairah pelaku pasar ini terutama didorong oleh pemilu dan pelemahan nilai tukar rupiah. Dalam CSA Index Februari, pelaku pasar melihat ketidakpastian akibat pemilu cukup tinggi. Jika selesai dengan satu putaran, maka cenderung menjadi hal positif. Dengan demikian pelaku pasar dapat segera mengalokasikan dananya menyesuaikan dengan hasil pilpres.

Tetapi, jika berlangsung dua putaran, maka ketidakpastian masih akan berlanjut. Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan mengatakan, pasar cenderung berharap pilpres kali ini hanya berjalan satu putaran saja. Tapi, jika terjadi dua putaran, dampaknya ke IHSG pun tak terlalu signifikan, sepanjang pilpres berjalan lancar. Sementara itu, pengamat pasar modal & founder WH-Project William Hartanto justru punya pandangan berbeda. Menurut dia, aksi beli justru berpotensi lebih marak terjadi sebelum pilpres. Langkah antisipasi dari investor ini dapat menjadi penyokong stabilitas pasar. Di samping efek pemilu, jangan lupa juga kalau pekan ini adalah pekan pendek di pasar saham. Masa efektif perdagangan hanya pada Senin hingga Rabu (5, 6 dan 7 Februari) karena libur peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW dan cuti bersama Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili. Head of Research Mega Capital Sekuritas (Investasiku) Cheril Tanuwijaya mengatakan, kendati transaksi pasar saham berpotensi lebih sepi, volatilitas bisa tetap tinggi lantaran pelaku pasar akan mencerna data-data ekonomi yang banyak rilis pada pekan ini. Salah satunya, data pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2023.

Kinerja Reksadana Belum Bertaji

HR1 05 Feb 2024 Kontan
Kinerja reksadana cenderung mendatar di bulan Januari 2024. Berdasarkan data Infovesta, beragam  jenis reksadana masih mencatatkan pertumbuhan positif di periode itu. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani melihat pertumbuhan imbal hasil produk reksadana di periode tesebut  cenderung tipis. Ini mencerminkan pasar berada di fase konsolidasi. Ditengarai penyebabnya terkait geopolitik hingga soal suku bunga acuan global. Arjun memaparkan penurunan tipis IHSG di bulan Januari sebesar -0,89% turut mempengaruhi performa reksadana saham. Ini terlihat dari Infovesta 90 Equity Fund Index & Infovesta Equity Fund Index yang hanya  mencatat pertumbuhan  tahunan 0,29% dan 0,05% secara bulanan. Sedangkan Direktur Batavia Prosperindo Asset Manajemen (BPAM) Eri Kusnadi mencermati kinerja reksadana pasar uang lebih stabil dan konsisten di tengah volalitas yang terjadi selama Januari 2024. Sementara reksadana berbasis saham ataupun obligasi sedikit terpengaruh volatilitas yang membayangi pasar di awal tahun. Selain itu reksadana pendapatan tetap juga bisa dilirik. Ini berdasarkan ekspektasi pemangkasan suku bunga mulai kuartal kedua tahun 2024 yang bisa memicu kenaikan harga obligasi. Namun, pilihan reksadana, sebut Eri, tetap tergantung profil investasi investor.

Austindo Mengincar Kenaikan Produksi CPO Tahun Ini

HR1 03 Feb 2024 Kontan
Meski ada gangguan iklim, emiten sawit masih sanggup mendongkrak kinerja. Seperti PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANTJ). Emiten ini  mencatatkan produksi minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) sebesar 283,65 ton di tahun 2023. Pencapaian itu naik 2,9% secara tahunan. Selain itu, perkebunan muda ANJT di Papua Barat Daya menyumbang peningkatan produksi TBS. Alhasil, produksi CPO turut tumbuh sekitar 2,9% di tahun kemarin menjadi 283.659 ton. Rasa optimistis ini Nopri sebut, setelah melihat hasil produksi tanaman sawit muda di Papua Barat Daya, Pulau Belitung dan di Sumatera Utara serta Kalimantan Barat. Selain itu, beberapa strategi untuk mengerek produksi sudah ANJT siapkan. Pertama, melanjutkan proyek laterisasi jalan di perkebunan Papua Barat Daya. Kedua, melanjutkan program replanting di perkebunan Pulau Belitung dan Sumatera Utara I. Ketiga, melanjutkan inovasi di praktik agronomi untuk menjaga produktivitas yang berkelanjutan.

Jumlah Emiten Tak Layak di Bursa Makin Banyak

HR1 02 Feb 2024 Kontan (H)
Tahun lalu Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan 79 emiten baru via penawaran umum perdana (IPO) dengan  penggalangan dana  Rp 54,1 triliun. "Penambahan 79 saham ini tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia," kata Iman Rachman, Direktur Utama BEI, pada jumpa pers akhir tahun lalu. Menurutnya, Indonesia di urutan ke-6 dunia dari jumlah emiten baru. Dari sisi nilai penggalangan dana, Indonesia menempati urutan ke-9. BEI boleh saja menepuk dada dengan pencapaian tersebut. Namun, dari 914 emiten, tercatat  220 emiten atau  25%  masuk dalam pemantauan khusus. Ada 11 penyebab emiten masuk kriteria itu. Nah, dari jumlah itu beririsan pula dengan emiten yang tidak memenuhi tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) dan buruknya sisi kinerja keuangan. Ini tercermin dari kriteria nomor 2, 3, 5, 8 dan 9. I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI berdalih bahwa BEI sudah ketat memantau emiten. BEI juga menyediakan papan pemantauan khusus sebagai salah satu upaya melindungi investor. Pengamat Pasar Modal & Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menilai, jika kriteria emiten bermasalah diperluas, misalnya emiten saham yang masih rugi,  jumlah emiten bermasalah, bisa lebih banyak. "Bisa ada dua dari lima saham di BEI bermasalah," kata dia ke KONTAN, Kamis (1/2). Artinya, 40% emiten di bursa masuk kategori yang disebut oleh Teguh. Teguh mencermati permasalahan muncul karena persyaratan IPO semakin mudah. Alhasil, perusahaan yang kinerjanya kurang bagus dan tidak menerapkan GCG bisa mudah masuk ke BEI. Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, juga berpendapat bahwa BEI masih mengejar emiten IPO daripada meningkatkan kualitas kinerja dari perusahaan tercatat.

Goto Siap Buyback Saham

KT1 01 Feb 2024 Investor Daily (H)
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham, seiring dengan arah profitabilitas dan perbaikan arus kas perusahaan. Langkah strategis  tersebut ditempuh setelah emiten teknologi ini merampungkan mega transaksi senilai Rp33 triliun dengan TikTok Pte Ltd, perusahaan platform entertainment global asal China. Direktur Utama Group Go To Patrick Walujo mengatakan, pihaknya telah menyelesaikan transaksi kerja sama dengan TikTok, yang akan terus memberikan manfaat kepada Indonesia dengan para pelaku UMKM. Ini juga merupakan langkah besar bagi Grup Go To. 

Setelah berhasil mencapai EBITDA yang disesuaikan positif  pada kuartal IV-2023, perusahan  mengakselerasi pertumbuhan, salah satunya melalui dukungan dan kerja sama dengan ekosistem mitra bisnis Go To. "Seiring dengan arah profitabilitas dan perbaikan arus kas GoTo, perusahaan akan mengoptimalkan  penggunaan modal dan sedang menyusun rencana alokasi modal ke depan. Rencana tersebut mencakup beberapa inisiatif, termasuk kemungkinan  dilakukannya buyback saham, di mana hal ini akan bergantung pada persetujuan regulator dan pemegang saham," kata Patrick Walujo. (Yetede)

Saham Astra Internasional Bangkit

KT1 31 Jan 2024 Investor Daily (H)
Saham PT Astra Internasional  Tbk (ASII) menguat (rebpund)  170 poin (3,45%) ke posisi Rp5.100 pada Selasa (30/10/2024), setelah mengalami tren penurunan sejak awal tahun ini. Penguatan itu disebut analis berpotensi menjadi momentum kebangkitan bagi saham raksasa otomotif Tanah Air ini untuk menuju Rp 7.000. Apalagi, harga saham ASII saat ini terbilang sudah sangat murah, dengan PER 6X dan PBV di bawah 1x. "Rebound hari ini bisa saja menjadi titik balik. Momentum kenaikan sudah dekat. Begitu laporan keuangan keluar, investor sudah bisa menghitung dividen yang akan dibagi Astra. Target ASII akan menuju Rp7.000, untuk selanjutnya ke Rp7.500," kata Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe kepada Investor Daily, Selasa (30/1/2024). Kiswoyo menambahkan, isu skandal mesin diesel kendaraan Toyota (Hilux, Fortuner, Innova) tidak berdampak signifikan terhadap ASII. "Tidak ada pengaruhnya ke Astra. Kontribusi jenis kendaraan itu ke penjualan Astra juga kecil. Buktinya, saat isu mesin diesel itu mengemuka hari ini, sahamnya justru rebound," tutur dia. (Yetede)

Kinerja Operasional Sejumlah Emiten Sawit Tumbuh Positif

HR1 31 Jan 2024 Kontan
Sejumlah emiten kelapa sawit mencatat kinerja operasional yang positif sepanjang tahun 2023. Tren tersebut ditargetkan bakal berlanjut pada tahun ini. Salah satunya PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) yang mencatatkan produksi minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) sebesar 48.663 ton di tahun 2023. Realisasinya melonjak 36,31% dari produksi CPO CSRA tahun lalu yang tercatat 35.701 ton. Sekretaris Perusahaan CSRA Iqbal Prastowo mengakui, produksi tandan buah sawit (TBS) CSRA turun 1,86%, dari 342.001 ton pada 2022 menjadi 335.654 ton di tahun 2023. Penurunan produksi TBS tersebut diakibatkan pembukuan dari produksi pabrik kelapa sawit CSRA yang kedua hanya tercatat beberapa bulan saja. Tak mau kalah, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) juga mencatatkan kenaikan produktivitas CPO sebesar 3,5% secara tahunan atau year on year (yoy). Presiden Direktur DSNG Andrianto Oetomo menjelaskan kenaikan itu didorong oleh membaiknya produktivitas kebun dan pabrik mereka sepanjang 2023. Sayang, Andrianto tidak merinci lebih lanjut besarannya. “Perbandingan produksi TBS pada semester pertama dan kedua 2023 adalah sebesar 46% banding 54%,” ungkapnya dalam rilis, Selasa (30/1). Sementara CSRA tahun ini menargetkan produksi TBS sebesar 400.000 ton dan  CPO ditargetkan sebesar 60.000 ton. Untuk produksi palm kernel ditargetkan sekitar 15.000 ton di tahun 2024.

Dana Asing Bersiap di Depan Pintu BEI

HR1 31 Jan 2024 Kontan
Potensi penurunan suku bunga global diproyeksi berlangsung tahun ini. Jika hal tersebut terjadi, diprediksi bakal mendorong migrasi dana investasi milik pemodal asing. Dus, Indonesia sebagai salah satu emerging market diyakini bakal  menjadi pasar potensial bagi asing. Head of Equity Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer menjelaskan secara historis satu sampai tiga bulan setelah The Fed mengerek suku bunga, pasar keuangan Amerika Serikat (AS) baik surat utang dan saham akan diuntungkan. Namun 12 bulan sejak terakhir kali The Fed menaikkan suku bunga, pasar ekuitas di kawasan emerging market bakal merekah jika dibandingkan dengan pasar ekuitas di negara-negara maju. Adapun Mandiri Sekuritas memproyeksikan The Fed bisa tiga sampai empat kali memangkas bunga acuan, dimulai pada Mei 2024. Secara keseluruhan, The Fed berpotensi menurunkan suku bunga sebesar 125 basis poin (bps). Nah, dari sisi valuasi price to earning (P/E), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tergolong murah. Kemudian dari sisi pertumbuhan laba bersih para emiten juga masih berpotensi tumbuh. Joezer menilai valuasi IHSG masih masuk akal. Dalam hitungan Mandiri Sekuritas, P/E IHSG di 2024 berada di level 13,8 kali. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas memasang target IHSG berada di level 8.100 akhir tahun ini. Level tersebut bakal tercapai jika Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga dan kepastian hasil pemilu sudah terlihat. Head of Research Team Mirae Asset Sekuritas Robertus Hardy pun sepakat jika valuasi IHSG masih tergolong lebih rendah, jika dibandingkan dengan emerging market lainnya seperti India. "Meskipun punya risk-free rate yang sama dan profitabilitas yang hampir sama tetapi valuasinya masih lebih rendah," kata dia.

Harum Energi Akuisisi 60% Saham Westrong Rp3,4 Triliun

KT1 30 Jan 2024 Investor Daily (H)
PT harum Energy Tbk (HRUM) melalui anak usahanya, PT Harum Nickle Industry (HNI) mengakuisisi 1,21 juta saham atau mewakili 60,7% saham PT Westrong Metal Industry (WMI) senilai US$ 215 jta (setara Rp3,4 triliun) dari Prime Investment  Capital Limited (PICL) dan Walsin Singapore Pte Ltd (WS). Transaksi ini sekaligus  menempatkan HRUM  sebagai  pengendali WMI dengan kepemilikan sebanyak 80,7% dari sebelumnya 20% saham.  WMI merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan dan pemurnian nikel di Weda bay Industrial Park, Maluku Utara. Smelter ini mempunyai empat  lini rotary kiln eletric furnace dengan prasarana pendukung dan fasilitas konverter untuk menghasilkan  produk high-grade nikle-matte berkapasitas  produksi terpasang tahunan sebesar 56.000 ton nikel yang terkandung dalam produk high-grade nickle-matte. Saat ini, proyek WMI memasuki tahap akhir  konstruksi dan ditargetkan  dapat memulai operasi komersial pada kuartal II-2024. (Yetede)