;
Tags

Saham

( 1736 )

Terganjal Pemulihan Ekonomi AS

KT1 29 Jan 2024 Investor Daily (H)
Reli Indeks  Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berlangsung sejak November 2023 terganjal oleh pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS)  yang melampui prediksi. Pada pekan lalu, IHSG terpangkas 1,25% ke level 7.137, sedangkan market cap terkikis 0,65% menjadi  Rp11,345 triliun dari Rp11.420 riliun. Selama Januari 2024, indeks turun 1,87%, dibandingkan  sepanjang 2023 yang tumbuh 6%. Tren ini diprediksi terus berlanjut dalam   beberapa bulan kedepan . Alasannya, perbaikan ekonomi AS, yang terlihat pada kuatnya pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja bisa membuat rencana penurunan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) mundur dari Maret 2024 menjadi semester II. Keadaan ini membuat indeks AS menguat, sehingga rupiah terpukul. Sementara itu, imbal hasil (yield) US Treasury (UST) seri banchmark 10 tahun kembali menembus level 4%. (Yetede)

Mitra Pack Masuk LQ45, Penilaian BEI Dipertanyakan

KT1 27 Jan 2024 Investor Daily (H)

Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi mayor sejumlah indeks pada bulan ini. Salah satu rebalancing indeks yang cukup menyita perhatian pelaku pasar adalah LQ45. Sebab, Saham PT Mitra Pack Tbk (PTPM)  tiba-tiba merangsek masuk menggeser emitan milik Prajogo Pangestu seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan emiten menara, PT Towers Bersama Infrastucture Tbk (TBIG). Selain dua emiten tersebut, rebalancing indeks LQ45 juga mendepak PT Indika Energy Tbk (IND) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dari daftar saham likuid. Sebagai gantinya, BEI kemudian memasukkan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MTEL), dan PT Pertamina Geothormal Energy Tbk (PGEO), disamping PTMP. Masuknya PTMP sebagai konstituen LQ45 layaknya kuda hitam yang mendadak memunculkan perbincangan di kalangan  para pelaku pasar. Sebab, diukur dari sisi likuiditas dan fundamental, PTPM dinilai tidak layak menjadi penghuni indeks LQ45. Bahkan yang paling ekstrem, kehadiran PTPM dibarisan saham-saham unggulan dipandang seabagai pesenan. (Yetede)

Ada Saham Lapis Tiga Masuk LQ45

HR1 27 Jan 2024 Kontan (H)
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengocok ulang sejumlah indeks konstituen, salah satunya indeks LQ45. Penilaian BEI kali cukup mengagetkan pelaku pasar. Ada empat penghuni baru Indeks LQ45. Mereka emiten yang baru melantai di bursa tiga tahun terakhir. Mereka adalah PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Mitra Pack Tbk (PTMP). Nama terakhir ini menjadi perhatian pasar. Perdagangan saham PTMP tak terlalu istimewa. Kriteria pemilihan saham LQ45 di antaranya mempertimbangkan likuiditas, kapitalisasi pasar, minimal 3 bulan terdaftar di BEI, serta aktivitas transaksi di pasar reguler, yang dilihat dari volume, nilai, dan jumlah transaksi. 

Dihitung kasar, nilai kapitalisasi pasar PTMP tak sampai Rp 1 triliun, tepatnya cuma Rp 900,05 miliar per 26 Januari 2024. Artinya, emiten yang bergerak di bisnis kemasan ini masuk kategori saham third liner. Setahun terakhir (25 Januari 2023 - 25 Januari 2024) nilai perdagangan saham PTMP hanya Rp 2,2 triliun. Jumlah yang diperdagangkan sekitar 12,7 miliar saham. Otoritas bursa bersikukuh dengan keputusannya. 

Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI menyebut, BEI menggunakan parameter kuantitatif dan kualitatif termasuk nilai, volume, frekuensi, rasio fundamental dan parameter lain dalam penetapan konstituen suatu indeks. Ia enggan membeberkan metodologi rebalancing indeks. Hal ini untuk mencegah penyalahgunaan dari pihak-pihak tertentu. "BEI tidak bisa buka secara penuh, supaya tidak ada pihak yang melakukan upaya tertentu untuk bisa mengikuti rumus perhitungannya," katanya, Jumat (26/1). 

Perubahan susunan LQ45 biasanya diikuti rebalancing portofolio manajer investasi. Tapi, Guntur Putra, CEO Pinnacle Investment Indonesia mengatakan, belakangan, karakteristik LQ45 berbeda dengan IHSG, karena ada perubahan metode pembobotan. "Masuknya PTMP cukup membuat kaget pasar, market cap yang kecil," katanya. Belum memenuhi kriteria masuk reksadana Pinnacle.

Tiga Perusahaan Bidik IBST, Nilai Akuisisi Rp 11,4 Triliun

KT1 26 Jan 2024 Investor Daily (H)
Penjualan saham emiten penyewaan menara  telekomunikasi (tower) terafiliasi Group Sinar Mas, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) ditaksir bisa menyentuh angka Rp9,8-11,4 triliun.  sebanyak tiga perusahaan tower papan atas berpotensi tertarik untuk mengakuisisi saham IBST. Inti Bangun Sejahtera merupakan perusahaan tower terbesar kelima di indonesia yang memiliki 3.383 menara telekomunikasi, 5.791 penyewa, dan 16.642 km serat optik di fiber to the building (FFTB) fiber/ to the home (FTTH)/fiber to the tower (FTTT). Sebanyak 79,9% saham IBST dikuasai PT Bakti Taruna Sejati, disusul 8,5% milik PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), 0.00001% milik PT Inovasi Mas Mobilitas, dan 11,6 saham publik. "Meskipun data peserta tender tidak diungkapkan, kami yakin bahwa tiga perusahaan tower teratas di indonesia  kemungkinan besar akan berada diantara para pelamar tersebut," tulis Indo Premier Sekuritas dalam riset terbarunya, yang dikutip Kamis (25/1/2024). (Yetede)

Trisula Textile Membidik Pertumbuhan Positif Tahun ini

HR1 26 Jan 2024 Kontan
PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) optimistis bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan pada tahun ini. Optimisme emiten tekstil tersebut berkaca dari hasil kinerja hingga kuartal III-2023. Di periode tersebut, BELL mencatatkan pendapatan Rp 359,45 miliar, naik 15% dari periode serupa tahun lalu. BELL membukukan laba yang diatribusikan ke pemilik sebesar Rp 8,79 miliar, tumbuh 23,57% dari periode September 2022. 

Direktur Utama BELL, Karsongno Wongso Djaja optimistis, kinerja  anak usaha PT Trisula International Tbk (TRIS) ini bakal tumbuh tahun ini dibandingkan periode 2023. Untuk itu BELL sebutnya, terus berupaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Misalnya melakukan pembelian mesin-mesin baru untuk menopang produksi BELL. Trisula Textile sendiri merupakan perusahaan tekstil yang menyasar segmen menengah atas. 

Perusahaan ini membuat beragam merek produk pakaian. Yakni Jobb dan Jack Nicklaus. Karsongno menjelaskan jika sebelumnya pihaknya sudah bisa memproduksi kain yang dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Lantas saat pandemi lalu, BELL  membuat jaket dari kain anti bakteri dan anti air. Dengan upaya tersebut, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana merekomendasikan speculative buy saham BELL, dengan support di Rp 71 per saham dan resistance di Rp 78 per saham. Sementara Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto merekomendasikan wait and see untuk saham BELL.

Berharap Harga Ayam Bisa Membaik

HR1 26 Jan 2024 Kontan
Harga jual ayam hidup di tingkat peternak saat ini masih menghadapi tantangan. Menurut Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) harga jual ayam saat ini masih di rentang Rp 16.000–17.000 per kilogram. Harga tersebut masih jauh dari biaya produksi yang dikeluarkan peternak. Yakni rata-rata Rp 20.500–Rp 21.500 per kilogram. Salah satu kendala utama adalah kenaikan pakan ternak. Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto melihat anjloknya harga ayam saat ini bisa mempengaruhi kinerja emiten perunggasan. "Jika harga harga ayam terus anjlok maka kinerja emiten pakan ternak diprediksi akan turun pada tahun ini," ujarnya kepada KONTAN, Kamis (25/1). 

Sementara Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan menambahkan, emiten perunggsan dan pakan ternak tahun ini memang menghadapi tantangan. Ini akibat gejolak harga bahan baku pakan. Terutama kedelai yang lebih banyak diimpor. "Harga ayam yang anjlok juga berpengaruh pada kinerja emiten pakan ternak, karena menurunkan daya beli peternak," ujar Reza kepada KONTAN Kamis (25/1). Terlihat dari kinerja emiten perunggasan seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) pada 9 bulan pertama tahun 2023 yang cenderung bervariasi. Maka ia rekomendasi JPFA targetnya Rp 1.700–Rp 1.750. CPIN hold di harga Rp 7.300, dan buy MAIN dengan target Rp 930. Sementara Pandhu masih wait and see saham tersebut meski secara valuasi sudah menarik.

Ruang Ritel Tumbuh di Tahun Pemilu

HR1 26 Jan 2024 Kontan
Momentum pemilihan umum (pemilu) bisa menjadi pendongkrak kinerja emiten ritel. Lonjakan perputaran uang dan daya beli berpotensi mengangkat omzet. Head of Legal & Corporate Secretary PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), Amelia Allen menyampaikan optimisme peritel datang dari perekonomian yang kondusif. Pesta demokrasi ini diharapkan mendorong daya beli masyarakat. PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) juga ingin menangkap peluang dari momentum ini. Hanya saja, Head of Corporate Communications ACES Melinda Pudjo menegaskan pihaknya akan lebih berhati-hati dan mempersiapkan segala kemungkinan di tengah tahun politik ini. 

Research Analyst Phintraco Sekuritas, Nurwachidah mengamati secara historis konsumsi rumah tangga selama Pemilu 2014 dan 2019 sudah meningkat sejak enam bulan sebelum penyelenggaraan, dan mencapai puncaknya pada saat Pemilu. Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas, Janice Kohar menambahkan, tingkat inflasi yang rendah ikut memperkuat daya beli konsumen. Kondisi ini membawa kecenderungan yang mendukung pertumbuhan penjualan dan profitabilitas peritel. 

Analis Panin Sekuritas, Andhika Audrey menyoroti kencangnya perputaran uang menjelang pemilu. Mulai dana kampanye hingga kucuran bantuan sosial (bansos) dan bantuan langsung tunai. Hal ini akan menjadi katalis pendongkrak daya beli masyakarat, yang utamanya dialokasikan untuk kebutuhan pokok. Dus, peritel penyedia kebutuhan primer akan terpapar sentimen positif. 

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Vicky Rosalinda menimpali, pemilu memang menyediakan ruang bagi emiten ritel untuk menumbuhkan kinerja. Tapi dampaknya tidak begitu signifikan atau tidak berlaku sama untuk semua emiten ritel. Vicky melihat momentum pemilu  membawa peluang lebih banyak bagi emiten dengan jaringan distribusi luas dan menyediakan produk yang dibutuhkan rutin masyarakat. Dengan tingkat daya beli saat ini, emiten ritel yang menyasar segmen menengah-atas juga bisa diuntungkan. 

Selain pemilu Associate Director Erdikha Sekuritas Yunia Lie menyoroti sejumlah hari libur pada Februari. Adanya libur panjang akan membawa dampak positif untuk meningkatkan penjualan, terutama ritel kategori F&B.

Masih Berpotensi, Dibayangi Ekosistem

HR1 25 Jan 2024 Kontan
Tahun ini bakal menjadi tantangan bagi emiten nikel. Harga komoditas logam dasar ini terus tertekan sepanjang 2024. Dikutip dari Bloomberg, harga nikel di London Metal Exchange (LME)  kontrak 3 bulan berada di level US$ 16.306 per ton  Selasa (23/1). Harga nikel sempat melemah ke level terendah sejak tahun 2021, pada Senin (22/1) yakni di  US$ 16.007 per ton. Anjloknya harga nikel mulai berdampak pada operasional perusahaan nikel global. 

Perusahaan Wyloo Metals milik pengusaha Andrew Forrest menutup operasinya di Australia Barat. Wyloo adalah sumber utama bagi smelter nikel yakni BHP yang ada di Kambalda. "Biaya telah meningkat tajam dan terus naik sementara harga jual turun seiring dengan masuknya pasokan baru ke pasar," kata Presiden BHP Nickel West Asset, Jessica Farrell. Sejumlah analis sepakat, harga nikel masih akan berat ke depan. 

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan menilai, harga nikel sulit kembali ke harga puncak di level US$ 30.000 per ton tahun ini.  Naiknya produksi nikel Indonesia menghambat pergerakan harga nikel. Mirae Asset juga mencermati adanya potensi peralihan industri baterai kendaraan listrik ke baterai lithium ferro-phosphate (LFP). Ini karena baterai jenis ini diklaim memiliki keunggulan dibandingkan nickel manganese cobalt (NMC). 

Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya menilai, sektor nikel masih dibayangi risiko dari sisi makroekonomi. Misalnya potensi pemulihan ekonomi China yang lebih lambat. Tapi sentimen ini bisa diimbangi dari ekspektasi depresiasi nilai tukar dolar AS di akhir 2024, yang bisa  berdampak langsung pada harga komoditas. 

Secara teknikal, analis Kanaka Hita Solvera William Wibowo menilai, saham ANTM, INCO, dan NKCL terkonfirmasi sedang downtrend. Mirae Asset Sekuritas menyematkan rating netral untuk sektor nikel Indonesia. Mirae Asset menyukai saham ANTM karena transformasi bisnisnya menjadi produsen baterai kendaraan listrik berbasis nikel yang terintegrasi. Emiten pelat merah ini juga memiliki kebijakan dividen yang besar, minimal dividen payout ratio (DPR) 30%.

Restrukturisasi Bukan Solusi Emiten BUMN Karya

HR1 25 Jan 2024 Kontan (H)
Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya tengah berupaya keluar dari persoalan utang yang membelit. Upaya restrukturisasi utang  menjadi opsi utama menyehatkan kinerja BUMN karya. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mendapat angin segar dari upaya restrukturisasi utang. Pada 23 Januari 2024 kemarin, Wijaya Karya dan sebelas lembaga keuangan, yang di antaranya terdapat beberapa bank BUMN,  menyepakati Master Restructuring Agreement (MRA) dengan nilai outstanding mencapai Rp 20,58 triliun. Nilai  tersebut setara  87,1% dari total utang WIKA yang direstrukturisasi per posisi 23 Januari 2024.  

Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito optimisitis, kesepakatan tersebut bisa   hal itu bisa menjadi langkah maju dalam proses restrukturisasi keuangan WIKA. Selain WIKA, BUMN karya lain juga tengah berjuang melakukan restrukturisasi utang. Salah satunya PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Dalam keterbukaan Jumat (19/1), WSKT akan melakukan rapat umum pemegang obligasi (RUPO) terhadap beberapa pemegang obligasi berkelanjutan III WSKT pada pertengahan Februari nanti. KONTAN telah menghubungi manajemen WSKT dan WIKA untuk mendapat keterangan detail restrukturisasi, namun kedua BUMN tersebut tidak memberikan keterangan lebih lanjut. 

Menurut Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani, finalisasi MRA WIKA tidak akan berpengaruh ke kinerja WIKA, terutama kinerja saham. Penyebabnya adalah karena saham WIKA hingga saat ini masih dalam status disuspensi Bursa Efek Indonesia (BEI). Nasib WIKA saat ini dinilai juga sudah mirip dengan PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Sebab, tren kinerja saham dua emiten BUMN karya ini ada kemiripan dalam waktu yang cukup lama. Arjun menilai  prospek jangka panjang emiten BUMN Karya juga masih negatif. Sebab, para emiten  tersebut  secara umum mengalami segudang masalah. 

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy melihat, restrukturisasi hanya bisa menyelamatkan BUMN karya untuk jangka pendek. Ia menyarankan, BUMN karya perlu memperbaiki fundamental keuangan. Mulai likuiditas, beban bunga dan rasio utang untuk jangka menengah. Jika tidak, WIKA  bisa bernasib seperti WSKT.

Bursa Karbon Dapat Tambahan Transaksi Pembangkit Listrik

HR1 24 Jan 2024 Kontan
Pemerintah mulai bergerak untuk menghidupkan bursa karbon. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan konsolidasi. Pada 22 Januari 2023, KLHK dan Kementerian ESDM meneken perjanjian integrasi data Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI) dan Aplikasi Penghitungan dan Pelaporan Emisi Ketenagalistrikan (Apple Gatrik). 

Direktur Pengawasan Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lufaldy Ernanda menjelaskan, dengan  perjanjian itu, maka proses integrasi pencatatan dan penerbitan Persetujuan Teknis Batas Atas Emisi Pelaku Usaha (PTBAE PU)  subsektor pembangkit listrik bisa dimulai. Berdasarkan POJK 14/2023 OJK berwenang memberi izin kepada penyelenggara bursa karbon untuk memperdagangkan unit karbon dalam bentuk PTABE-PU dan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah kaca (SPE-GRK). Tapi sebelum ada POJK 14/2023, perdagangan karbon sudah dimulai. 

Lufaldy bilang, ada beberapa perdagangan karbon PTBAE PU yang terjadi di Apple Gatrik. OJK berharap, ekosistem perdagangan karbon di bursa karbon kian lengkap agar bisa mendukung program pemerintah dalam pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) dan net zero. Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku penyelenggara IDXCarbon menargetkan tambahan minimal 50 pengguna jasa bursa karbon sepanjang tahun ini. Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik memastikan BEI  akan mengembangkan potensi perdagangan bursa karbon di tahun ini.