;
Tags

Saham

( 1722 )

Saham Emiten Bank Besar Menanti Tuah Rilis Kinerja

HR1 23 Jan 2024 Kontan (H)
Sejumlah bank papan atas siap merilis laporan kinerja keuangan tahun 2023 dalam waktu dekat. Laporan kinerja tahun lalu diproyeksi bakal mempengaruhi laju saham bank-bank brkapitalisasi pasar besar alias big cap. Jika rapor keuangan di 2023 positif, ada peluang saham bank big cap melaju kencang. Tapi, jelang rilis laporan kinerja 2023 dalam dua pekan ke depan, saham bank-bank besar yang masuk Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) 4 justru mengalami koreksi terbatas. 

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) misalnya. Pada Kamis (22/1), saham emiten bank wong cilik ini terkoreksi paling dalam di antara bank KBMI 4 lainnya. Kemarin, saham BBRI turun 0,43% jadi Rp 5.775 per saham. Nasib serupa dialami saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).Kemarin, saham BMRI merosot 0,38% jadi Rp 6.500 per saham. Sementara  saham bank swasta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup stagnan dan bertahan di level Rp 9.625 per saham. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi satu-satunya bank KBMI 4 yang sahamnya berada di zona hijau. Harga saham ini naik 0,45% ke Rp 5.525 per saham. 

Associate Director of Research & Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai, musim rilis laporan kinerja bisa jadi momentum bagus bagi investor mengoleksi saham bank big cap. Ia yakin, emiten bank berkapitalisasi pasar besar mencetak kinerja positif di 2023. Nico memproyeksi, saat ini saham bank big cap yang layak dicermati jelang paparan kinerja adalah BBRI. Nico melihat, kehadiran holding ulta mikro yang dipimpin BRI telah menunjukkan kontribusi signifikan bagi bank yang fokus pada segmen UMKM ini. Selain itu, saham BBCA juga layak dicermati kinerjanya. Terlebih, secara historis, bank milik Grup Djarum ini secara konsisten terus mengalami pertumbuhan kinerja. 

CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo menilai, pergerakan saham bank big cap akan terbatas jelang paparan kinerja 2023. Sebab, investor cenderung sudah mengantisipasi rilis kinerja  bank sejak akhir 2023 dan jelang pembagian dividen. 

IHSG Diprediksi Bergerak Sideways

KT1 22 Jan 2024 Investor Daily
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akan cenderung bergerak mandatar (sideway) sepanjang minggu ini, setelah ditutup terkoreksi ke level 7.227 di akhir pekan lalu. Langkah IHSG akan diwarnai sentimen dari dalam dan luar negeri, mulai dari data pertumbuhan investasi hingga tensi geopolitik di Timur Tengah. "Pergerakan IHSG ke depan relatif sideway dengan level support 7.212-7.153 dan resitance 7.279-7.308," kata Senior Investment Information Mirea Asset Nafan Aji Gusta Utama kepada Investor Daily. Dari dalam negeri, Nafan mengatakan, IHSG akan mendapat sentimen pengumuman data penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) kuartal IV-2023. "Kelihatannya tren cenderung menguat. Dan kalau hasil investasi di kuartal IV-2023 diatas ekepktasi, tentu ini memberikan katalis positif dan optimisme bagi investor, terutama asing, terkait outlook perekonomian Indonesia yang lebih positif lagi ke depan," ungkap dia. (Yetede)

Regulasi Buyback Abai Transparansi

HR1 22 Jan 2024 Kontan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan aturan anyar di bidang pasar modal. Yakni, Peraturan OJK (POJK) Nomor 29 Tahun 2023 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Perusahaan Terbuka. Aman Santosa, Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK menjelaskan penerbitan POJK 29/2023 merupakan upaya OJK untuk mengatasi kendala implementasi ketentuan pembelian kembali alias buyback saham. Aman bilang POJK ini dapat mengakomodir mekanisme pengalihan saham hasil pembelian kembali yang dalam praktiknya sudah dapat dilakukan. Tetapi mekanismenya belum diatur secara rinci dalam ketentuan yang sudah ada sebelumnya. Sebenarnya, pengalihan saham hasil pembelian kembali telah diatur dalam POJK Nomor 30/POJK.04/2017. Dengan diterbitkannya aturan anyar ini, maka POJK 30/2017 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Adapun dalam aturan anyar ini, ada beberapa tambahan kewajiban yang harus dipenuhi oleh emiten. Misalnya emiten wajib menginfokan sumber dana yang akan digunakan untuk buyback. Yakni harus berasal dari dana internal dan bukan dari dana penawaran umum serta utang.  Sayangnya, isu penting soal transparansi identitas pihak penjual saham yang dibeli kembali belum disentuh sama sekali oleh OJK. Selain di pasar reguler, regulasi memungkinkan buyback dilakukan di pasar negosiasi dan di luar bursa. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menuturkan, dirinya pernah dirugikan karena aksi buyback hanya untuk membeli saham dari segelintir investor. Praktisi pasar modal Hans Kwee menyarankan ada aturan bagi pihak terafiliasi yang menjual saham via buyback.

Memburu Anggota Baru Keping Biru Pilihan

HR1 22 Jan 2024 Kontan (H)

Tak lama lagi, Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal mengocok ulang susunan sejumlah indeks konstituen, termasuk indeks terlikuid LQ45. Sesuai jadwal, para penghuni baru Indeks LQ45 akan diumumkan pada akhir Januari mendatang. Ada beberapa saham yang digadang-gadang berpeluang besar menjadi penghuni baru LQ45. Beberapa di antaranya adalah saham pendatang baru PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Belakangan ini saham-saham tersebut mencuri perhatian lantaran berperan besar menggerakkan arah bursa saham. CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo mengatakan, BREN dan AMMN berpeluang masuk ke indeks LQ45 dan IDX30 karena likuiditasnya yang tinggi.  "Likuiditas AMMN dan BREN di atas Rp 100 miliar per hari, rasio free float juga relatif besar di atas 10%, serta kapitalisasi pasar besar di atas Rp 500 triliun," katanya kepada KONTAN, kemarin. Di samping itu, Praska menyebut prospek bisnis AMMN dan BREN dalam jangka panjang masih didukung oleh kinerja fundamental kuat dari pos pendapatan dan laba. Hal ini akan menambah daya tarik bagi investor. Selain kedua nama pendatang baru itu, Praska menilai saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) juga memiliki potensi besar untuk masuk ke indeks LQ45. Kedua saham ini juga telah memenuhi kriteria sebagai penghuni LQ45.

Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas juga sepakat kalau BREN dan AMMN menjadi saham yang punya peluang paling kuat untuk masuk ke indeks LQ45. Kendati begitu, valuasi kedua saham ini sudah relatif tinggi. "BEI punya fasilitas fast track untuk saham-saham yang baru IPO. Ini semestinya bisa menjadi peluang BREN dan AMMN masuk dalam rebalancing LQ45 Januari ini," katanya.Kendati belum lama listing di bursa, saham BREN memberikan bobot 42,2% terhadap kenaikan IHSG sejak bulan Januari 2023 hingga saat ini. Hal ini pula yang membuat performa saham LQ45 tertinggal jauh dari IHSG. Sepanjang tahun 2023, pergerakan IHSG turut terdorong oleh harga BREN yang terus menguat sejak IPO. Alhasil, di akhir 2023, IHSG ditutup naik 6,2%. Sedangkan laju LQ45 hanya tumbuh 3,6% sepanjang tahun lalu. "Kalau BREN jadi masuk LQ45, pergerakan LQ45 bakal sejalan dengan IHSG. Disamping bobot, faktor free float juga menjadi pertimbangan utama," ujar Praska. Investment Consultant Reliance Sekuritas Reza Priyambada menambahkan, selain AMMN, BREN atau pun ADMR, saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), juga berpotensi masuk gerbong LQ45. Soal ADMR, Bukan pertama kali anak usaha ADRO itu digadang sebagai calon penghuni baru LQ45. Pada rebalancing Agustus 2023 lalu, sejumlah analis juga memperkirakan ADMR masuk ke indeks ini. Tapi, likuiditas AMDR masih kalah dengan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang akhirnya jadi penghuni baru LQ45 periode itu. Sedangkan saham yang berpeluang tercoret dari daftar LQ45 adalah PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Pasalnya, rata-rata transaksi harian SCMA relatif kecil dibanding peers lain yang tergabung sebagai konstituen LQ45 dalam enam bulan terakhir. Harga saham ini juga masih dalam tren bearish jangka panjang, disertai kinerja fundamental yang melambat. Pengamat Pasar Modal & Founder WH Project William Hartanto menyarankan sell on strength saham BREN jika terjadi penguatan terbatas. Sementara untuk AMMN, William merekomendasikan beli dengan target harga di Rp 8.000 hingga Rp 8.350 dalam jangka pendek.

KILAU SAHAM EMAS TAHUN NAGA

HR1 20 Jan 2024 Bisnis Indonesia (H)

Potensi kenaikan permintaan logam mulia dan perhiasan menjelang momentum Imlek menjadi katalis positif yang berembus untuk emiten-emiten emas. Sentimen itu diperkuat dengan harga emas spot yang masih bertahan di atas US$2.000 per troy ounces. Emas spot bertengger di level US$2.027,49 per troy ounces pada perdagangan Jumat (19/1) hingga pukul 15.00 WIB. Emas terus bermanuver di atas level U$2.000 meski telah menjauh dari rekor tertinggi US$2.077,49 yang disentuh pada 27 Desember 2023. Optimisme terhadap prospek harga emas pada kuartal I/2024 diungkap oleh sejumlah lembaga. Mengutip Bloomberg, MUFG Bank dan Commerzbank AG memperkirakan harga emas spot pada kuartal ini berada di level US$2.080 dan US$2.050 per troy ounces. Di tengah tren harga emas yang mengilap, saham emiten-emiten yang memiliki lini bisnis emas bergerak variatif. Sepanjang tahun berjalan 2024, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) memimpin dengan penguatan 14,12% ke level Rp7.475. Selain AMMN, saham PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) juga menguat 6,32%. Apresiasi saham juga dicetak PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang menjalankan lini bisnis tambang emas Martabe melalui anak usahanya PT Agincourt Resources. Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe menjelaskan momentum Imlek seharusnya dapat mendorong permintaan emas. Namun, kondisi ekonomi China yang melemah membuat permintaan emas tidak akan banyak mendongkrak harga. “Jadi permintaan emas dari China ada kenaikan menjelang Imlek, tapi tidak besar. Yang makan emas dunia adalah bank sentral,” kata Kiswoyo kepada Bisnis, Jumat (19/1). Di sektor ini, Kiswoyo mengatakan emiten yang menarik untuk diperhatikan ialah PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA). Menurutnya, emiten yang terafiliasi dengan Garibaldi 'Boy' Thohir itu masih memiliki cadangan emas besar dan membutuhkan belanja modal jumbo, termasuk untuk PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA).

Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan mengatakan outlook harga emas masih positif pada 2024. Proyeksi itu dinilai berdampak positif terhadap kinerja emiten emas, termasuk ANTM. Dalam risetnya, Felix memaparkan harga emas yang relatif tinggi di atas US$2.000 per troy ounces menjadi faktor kunci terjaganya margin ANTM. Menurutnya, tingginya harga emas mendorong penjualan oleh investor logam mulia atau buyback dari ANTM untuk taking profit. Ke depan, prospek harga emas bakal dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat dan ruang pelonggaran moneter The Fed melalui opsi penurunan suku bunga acuan. Terpisah, analis JP Morgan memperkirakan harga emas pada 2024 di level US$2.051 per troy ounces. JP Morgan mengulas dua emiten yang memiliki lini bisnis emas, yakni UNTR dan MDKA. JP Morgan menilai potensi kenaikan target volume penjualan emas sebagai salah satu faktor pendorong UNTR pada tahun ini. Apalagi, UNTR akan mendapat tambahan 25.000 ounces dari tambang baru PT Sumbawa Juta Raya (SRJ) yang mulai berproduksi April 2024. Sementara itu, entitas Grup Astra, UNTR menargetkan volume penjualan emas pada 2024 dapat mencapai 235.000 ounce. Hingga November 2023, total penjualan setara emas dari tambang emas Martabe turun 36,82% secara tahunan menjadi 166.468 ounce. Corporate Secretary United Tractors Sara K. Loebis menambahkan perseroan mengalokasikan belanja modal Rp1,8 triliun untuk pengembangan lini bisnis emas. Optimisme terhadap prospek harga emas disampaikan Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) Herwin W. Hidayat. Dengan asumsi harga emas bisa bertahan di kisaran US$2.000 per troy ounce, Herwin menilai dampaknya akan sangat positif terhadap kinerja keuangan BRMS.

Pilih Saham Sebagai Investasi Utama

HR1 20 Jan 2024 Kontan

Investasi membawa Lie Kurniawan mengenal dan memasuki dunia ekonomi. Ia bercerita, awal mula mengenal dunia investasi melalui kakaknya pada tahun 2000. Pada saat itu, dirinya masih mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA). "Kakak saya lima tahun lebih tua dan saya diperkenalkan dengan saham," ceritanya kepada KONTAN, Jumat (19/1). Perkenalan itu memunculkan kesan bagi Kurniawan muda. Sehingga, akhirnya ia memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai dunia investasi, khususnya saham. Apalagi Kurniawan menilai bahwa investasi sebagai sebuah industri yang memiliki masa depan cerah. Lie kemudian memutuskan memperdalam ilmu finansial dengan memasuki kuliah jurusan keuangan perbankan. Karena saat itu, hanya jurusan itu yang paling dekat dengan dunia investasi. Tak berhenti di saham, ia juga sempat mencoba beberapa instrumen lain. Dirinya pernah mencoba produk derivatif seperti kontrak opsi saham, futures,foreign exchange (forex), hingga aset kripto. Hanya saja, ia merasa instrumen-instrumen tersebut tidak cocok dengan dirinya yang cenderung tipe konservatif. Menurutnya, instrumen-instrumen tersebut membutuhkan kecekatan dan cenderung spekulatif.

Sementara investasi di saham, sudah ada teori yang jelas, setidaknya dengan melihat aspek fundamental keuangan perusahaan. Selain memperhatikan fundamental, momentum untuk masuk pada suatu saham juga di nilainya penting diperhatikan. Ia mencontohkan, tahun 2002, saat peristiwa bom Bali, harga saham turun 7%-10%. Ia sampai harus izin keluar kelas untuk cek saham miliknya. Kala itu ia memilih membeli saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Pada akhir 2003, dirinya melepas saham itu dengan keuntungan lima kali lipat. Contoh lainnya saat booming saham batubara pada tahun 2022 lalu. Menurutnya, apabila mengikuti tren dengan memutuskan untuk ikut membeli maka bisa berpotensi mendapatkan kenaikan yang banyak. Sementara apabila memilih sektor lain, kemungkinan besar return-nya akan lebih kecil. Karena berbagai hal itu, pria asal Jakarta ini memantapkan menaruh seluruh investasinya pada instrumen saham. Hanya saja, belakangan ini sedikit bergeser. "Saat ini alokasi ke saham menjadi 80% dan 20% cash," sebutnya. Ia mencontohkan lagi, saat Covid-19, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 20%. Hal itu dinilai sebagai sebuah peluang, tetapi kondisi krisis tersebut berbeda dengan saat krisis ekonomi sebelumnya lantaran kondisi ekonomi Indonesia yang lebih baik. Sementara saat Covid-19 seluruh negara mengalami krisis, sehingga investor harus cermat karena perusahaan bisa terancam bangkrut.

Bersih-bersih Emiten Zombi

HR1 19 Jan 2024 Bisnis Indonesia

Pertumbuhan jumlah emiten di Bursa Efek Indonesia meningkat signifikan dalam 3 tahun terakhir. Pencatatan perdana saham PT Griptha Putra Persada Tbk. (GRPH), kemarin (18/1), menambah daftar perusahaan tercatat ke-911 serta menjadi emiten ke-8 yang melantai di pasar saham sejak awal 2024. Jika dihitung sejak 2020, jumlah emiten sudah bertambah 243 perusahaan atau melonjak 36,4%. Semarak pendatang baru boleh saja dimaknai positif, tetapi kualitas IPO dan profil emiten debutan ini kerap menjadi gunjingan di tengah-tengah pelaku pasar. Sebagian besar emiten anyar tercatat di papan akselerasi dan pengembangan, hanya segelintir di antaranya yang masuk ke papan pencatatan utama. Ini menandai prospek saham-saham emiten tersebut secara fundamental relatif kurang menjanjikan karena belum memenuhi sejumlah kriteria yang salah satunya mencakup pembukuan laba bersih. Memang, dinamika pasar dan korporasi ke depan diharapkan mendorong perbaikan terhadap kinerja emiten. Akan tetapi, juga tidak sedikit emiten yang kepayahan melewati tantangan dan gagal untuk keluar dari si­tua­si sulit.

Kinerja keuangan yang buruk hampir selalu inline dengan performa saham perusahaan. Keputusan untuk menjadi perusahaan terbuka harus disadari melibatkan ekspektasi masyarakat melalui kepemilikan saham. Sejak akhir tahun lalu, Bursa Efek Indonesia telah memperingatkan 38 emiten agar memperbaiki kinerja jika tidak ingin ditendang dari pasar saham atau sahamnya di-delisting. Beberapa nama emiten yang berpotensi didepak dari papan pencatatan tahun ini di antaranya PT Armidian Karyatama Tbk. (ARMY), PT Panasia Indo Resources Tbk. (HDTX), PT Bliss Properti Indonesia Tbk. (POSA), PT Triwira Insanlestari Tbk. (TRIL), hingga PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT). Seperti kita ketahui, penghapusan saham dilakukan oleh otoritas bursa jika emiten mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan hidup perusahaan, baik secara finansial maupun hukum. Saham WSKT, misalnya, telah disuspensi di seluruh pasar selama 6 bulan. Adapun masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 8 Mei 2025. Suspensi ini berkaitan dengan penundaan pembayaran bunga dan pokok atas sejumlah obligasi yang diterbitkan perusahaan. Emiten infrastruktur Group Salim yakni PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) juga menempuh langkah serupa dan telah mengajukan delisting sejak November tahun lalu. Ada beragam alasan META berencana meninggalkan pasar saham, yang terkuat tentu saja terkait dengan kondisi perusahaan yang merugi sejak kuartal III/2023.

Konflik Makin Panas, Minyak Mendidih

HR1 19 Jan 2024 Kontan
Konflik di Timur Tengah kian meluas. Setelah aksi genosida Israel terhadap Palestina di Jalur Gaza, giliran konflik Houthi Yaman dengan Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang terjadi di Laut Merah. Walhasil, jalur transportasi di Laut Merah terganggu  yang bisa mengerek tarif angkutan laut. Termasuk juga berdampak terhadap komoditas minyak lantaran negara Timur Tengah memegang peranan penting terhadap komoditas energi ini. Per Kamis (18/1) kemarin, harga minyak Brent berada di level US$ 78 per barel. Analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan menilai, tensi geopolitik saat ini belum memiliki tanda mereda. Ia menilai, ada risiko keterlambatan pengiriman barang dan juga gangguan produksi minyak di wilayah setempat apabila perang semakin meluas. Namun Felix menilai, sentimen utama dari harga minyak saat ini masih berasal dari pemotongan produksi oleh OPEC+. 
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Hasan Barakwan menilai, sentimen yang bisa mempengaruhi pasar minyak adalah kemungkinan konflik yang meluas ke Selat Hormuz. Selat yang dilalui lebih dari 20% ekspor minyak global. Catatan dia, harga minyak dunia mendidih dua kali lipat selama terjadinya perang Teluk karena terganggunya distribusi minyak di titik utama ini. Harga minyak akhirnya terkoreksi ketika distribusi kembali normal. Dengan mengesampingkan risiko geopolitik dan potensi perang harga, Hasan meyakini harga minyak akan tetap berada di atas level US$ 70 barel tahun  yakni di   US$ 78 per barel. BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham MEDC dengan target harga Rp 1.900 per saham. BRI Danareksa Sekuritas juga menyematkan buy terhadap saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dengan target harga Rp 2.000 per saham. Volume distribusi bahan bakar minyak (BBM) AKRA diestimasi tumbuh 3% year-on-year (yoy) menjadi 2,8 juta liter tahun ini. Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya juga menjadikan MEDC dan AKRA sebagai pilihan utama alias top picks di sektor migas.

Mitratel Akuisisi Emiten Tower Grup Sinar Mas di Semester I-2024

KT1 19 Jan 2024 Investor Daily (H)
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mengatakan akan mengakuisi saham  emiten penyewaan menara telekomunikasi (tower Grup Sinar Mas, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) pada semester I-2024. Akuisisi IBST akan menjadi transaksi  terbesar perseroan pada tahun ini. IBST merupakan perusahaan yang bergerak di industri jasa telekomunikasi nirkabel yang hampir memiliki 16.642 km serat optik di fiber to the building  (FTTB) fiber to the home (FTTH), fiber to the tower (FTTT), bersama dengan 3.383 menara telekomunikasi. Saat ini, sebanyak 79,88% saham dimiliki PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (Grup Sinar Mas), dan 11,62% saham dimiliki publik. Direktur investasi sekaligus  Sekretaris Perusahaan Mitratel menyampaikan bahwa rencana transaksi tersebut sampai saat ini masih dalam proses, sehingga perseroan belum dapat mengumumkan besaran nilai transaksinya. (Yetede)

MYRX & COWL Bisa Didepak dari Bursa

HR1 18 Jan 2024 Kontan
Bertambah lagi emiten yang terancam terdepak dari lantai bursa. Terbaru, saham PT Hanson International Tbk (MYRX) dan saham PT Cowell Development Tbk (COWL). Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam keterangan Rabu (17/1) mencatat perdagangan sahamnya MYRX sudah dihentikan atau suspensi sejak 16 Januari 2020 silam. Kepala Divisi Penilaian Perusahaan III, Lidia M Panjaitan menyampaikan, mengacu pada peraturan Bursa No I-I tentang Penghapusan Pencatatan dan Pencatatan Kembali atau Relisting Saham, bursa dapat menghapus pencatatan saham. Pertama, perusahaan mengalami kondisi atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan tercatat. Kedua, saham perusahaan tercatat yang akibat suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir. Suspensi MYRX  sendiri sudah berlangsung 48 bulan per 16 Januari 2024. Lantas saham PT Cowell Development Tbk juga terancam dihapus oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan peraturan serupa, BEI berhak melakukan pencabutan perdagangan sebuah saham. Untuk COWL porsi publik sebanyak 6,41% yang memegang 312 juta saham COWL. Pemegang saham COWL terbesar adalah PT Gama Nusapala memegang 3,46 miliar saham. Jumlah tersebut setara 71,12% dari total saham COWL. Sedangkan pemegang saham MYRX adalah Asabri 5,4%, terpidana Benny Tjokrosaputro 4,25% saham MYRX. Dan sisanya yakni 90,35% dipegang publik. Bursa meminta investor publik mencermati informasi perseroan ini.