;
Tags

Saham

( 1717 )

Bersih-bersih Emiten Zombi

HR1 19 Jan 2024 Bisnis Indonesia

Pertumbuhan jumlah emiten di Bursa Efek Indonesia meningkat signifikan dalam 3 tahun terakhir. Pencatatan perdana saham PT Griptha Putra Persada Tbk. (GRPH), kemarin (18/1), menambah daftar perusahaan tercatat ke-911 serta menjadi emiten ke-8 yang melantai di pasar saham sejak awal 2024. Jika dihitung sejak 2020, jumlah emiten sudah bertambah 243 perusahaan atau melonjak 36,4%. Semarak pendatang baru boleh saja dimaknai positif, tetapi kualitas IPO dan profil emiten debutan ini kerap menjadi gunjingan di tengah-tengah pelaku pasar. Sebagian besar emiten anyar tercatat di papan akselerasi dan pengembangan, hanya segelintir di antaranya yang masuk ke papan pencatatan utama. Ini menandai prospek saham-saham emiten tersebut secara fundamental relatif kurang menjanjikan karena belum memenuhi sejumlah kriteria yang salah satunya mencakup pembukuan laba bersih. Memang, dinamika pasar dan korporasi ke depan diharapkan mendorong perbaikan terhadap kinerja emiten. Akan tetapi, juga tidak sedikit emiten yang kepayahan melewati tantangan dan gagal untuk keluar dari si­tua­si sulit.

Kinerja keuangan yang buruk hampir selalu inline dengan performa saham perusahaan. Keputusan untuk menjadi perusahaan terbuka harus disadari melibatkan ekspektasi masyarakat melalui kepemilikan saham. Sejak akhir tahun lalu, Bursa Efek Indonesia telah memperingatkan 38 emiten agar memperbaiki kinerja jika tidak ingin ditendang dari pasar saham atau sahamnya di-delisting. Beberapa nama emiten yang berpotensi didepak dari papan pencatatan tahun ini di antaranya PT Armidian Karyatama Tbk. (ARMY), PT Panasia Indo Resources Tbk. (HDTX), PT Bliss Properti Indonesia Tbk. (POSA), PT Triwira Insanlestari Tbk. (TRIL), hingga PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT). Seperti kita ketahui, penghapusan saham dilakukan oleh otoritas bursa jika emiten mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan hidup perusahaan, baik secara finansial maupun hukum. Saham WSKT, misalnya, telah disuspensi di seluruh pasar selama 6 bulan. Adapun masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 8 Mei 2025. Suspensi ini berkaitan dengan penundaan pembayaran bunga dan pokok atas sejumlah obligasi yang diterbitkan perusahaan. Emiten infrastruktur Group Salim yakni PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) juga menempuh langkah serupa dan telah mengajukan delisting sejak November tahun lalu. Ada beragam alasan META berencana meninggalkan pasar saham, yang terkuat tentu saja terkait dengan kondisi perusahaan yang merugi sejak kuartal III/2023.

Konflik Makin Panas, Minyak Mendidih

HR1 19 Jan 2024 Kontan
Konflik di Timur Tengah kian meluas. Setelah aksi genosida Israel terhadap Palestina di Jalur Gaza, giliran konflik Houthi Yaman dengan Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang terjadi di Laut Merah. Walhasil, jalur transportasi di Laut Merah terganggu  yang bisa mengerek tarif angkutan laut. Termasuk juga berdampak terhadap komoditas minyak lantaran negara Timur Tengah memegang peranan penting terhadap komoditas energi ini. Per Kamis (18/1) kemarin, harga minyak Brent berada di level US$ 78 per barel. Analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan menilai, tensi geopolitik saat ini belum memiliki tanda mereda. Ia menilai, ada risiko keterlambatan pengiriman barang dan juga gangguan produksi minyak di wilayah setempat apabila perang semakin meluas. Namun Felix menilai, sentimen utama dari harga minyak saat ini masih berasal dari pemotongan produksi oleh OPEC+. 
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Hasan Barakwan menilai, sentimen yang bisa mempengaruhi pasar minyak adalah kemungkinan konflik yang meluas ke Selat Hormuz. Selat yang dilalui lebih dari 20% ekspor minyak global. Catatan dia, harga minyak dunia mendidih dua kali lipat selama terjadinya perang Teluk karena terganggunya distribusi minyak di titik utama ini. Harga minyak akhirnya terkoreksi ketika distribusi kembali normal. Dengan mengesampingkan risiko geopolitik dan potensi perang harga, Hasan meyakini harga minyak akan tetap berada di atas level US$ 70 barel tahun  yakni di   US$ 78 per barel. BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham MEDC dengan target harga Rp 1.900 per saham. BRI Danareksa Sekuritas juga menyematkan buy terhadap saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dengan target harga Rp 2.000 per saham. Volume distribusi bahan bakar minyak (BBM) AKRA diestimasi tumbuh 3% year-on-year (yoy) menjadi 2,8 juta liter tahun ini. Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya juga menjadikan MEDC dan AKRA sebagai pilihan utama alias top picks di sektor migas.

Mitratel Akuisisi Emiten Tower Grup Sinar Mas di Semester I-2024

KT1 19 Jan 2024 Investor Daily (H)
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mengatakan akan mengakuisi saham  emiten penyewaan menara telekomunikasi (tower Grup Sinar Mas, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) pada semester I-2024. Akuisisi IBST akan menjadi transaksi  terbesar perseroan pada tahun ini. IBST merupakan perusahaan yang bergerak di industri jasa telekomunikasi nirkabel yang hampir memiliki 16.642 km serat optik di fiber to the building  (FTTB) fiber to the home (FTTH), fiber to the tower (FTTT), bersama dengan 3.383 menara telekomunikasi. Saat ini, sebanyak 79,88% saham dimiliki PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (Grup Sinar Mas), dan 11,62% saham dimiliki publik. Direktur investasi sekaligus  Sekretaris Perusahaan Mitratel menyampaikan bahwa rencana transaksi tersebut sampai saat ini masih dalam proses, sehingga perseroan belum dapat mengumumkan besaran nilai transaksinya. (Yetede)

MYRX & COWL Bisa Didepak dari Bursa

HR1 18 Jan 2024 Kontan
Bertambah lagi emiten yang terancam terdepak dari lantai bursa. Terbaru, saham PT Hanson International Tbk (MYRX) dan saham PT Cowell Development Tbk (COWL). Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam keterangan Rabu (17/1) mencatat perdagangan sahamnya MYRX sudah dihentikan atau suspensi sejak 16 Januari 2020 silam. Kepala Divisi Penilaian Perusahaan III, Lidia M Panjaitan menyampaikan, mengacu pada peraturan Bursa No I-I tentang Penghapusan Pencatatan dan Pencatatan Kembali atau Relisting Saham, bursa dapat menghapus pencatatan saham. Pertama, perusahaan mengalami kondisi atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan tercatat. Kedua, saham perusahaan tercatat yang akibat suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir. Suspensi MYRX  sendiri sudah berlangsung 48 bulan per 16 Januari 2024. Lantas saham PT Cowell Development Tbk juga terancam dihapus oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan peraturan serupa, BEI berhak melakukan pencabutan perdagangan sebuah saham. Untuk COWL porsi publik sebanyak 6,41% yang memegang 312 juta saham COWL. Pemegang saham COWL terbesar adalah PT Gama Nusapala memegang 3,46 miliar saham. Jumlah tersebut setara 71,12% dari total saham COWL. Sedangkan pemegang saham MYRX adalah Asabri 5,4%, terpidana Benny Tjokrosaputro 4,25% saham MYRX. Dan sisanya yakni 90,35% dipegang publik. Bursa meminta investor publik mencermati informasi perseroan ini.

Antrean IPO Panjang Jangan Terkecoh Harga Murah

HR1 18 Jan 2024 Kontan (H)

Saham memang jenis investasi yang tergolong high risk and high return. Dalam konteks saham emiten pendatang baru, skala potensi risiko dan peluang keuntungannya bahkan terbukti jauh lebih besar lagi. Tengok saja, dari tujuh saham anyar yang dicatatkan pada Januari 2024, tiga diantaranya; ASLI, ACRO dan MANG sudah berada di bawah harga perdana. Hingga Rabu (17/1), ketiga saham tersebut belum juga mampu kembali ke posisi harga saat IPO.Kondisi serupa juga terjadi pada saham emiten yang menggelar initial public offering (IPO) tahun lalu. Betul, dari 79 pendatang baru hanya 19 emiten yang di hari perdana nyungsep di bawah harga IPO. Namun, dari 19 saham tersebut, hingga kemarin hanya tiga yang mampu merangkak kembali ke atas harga perdana, yakni KING, PTPS dan SURI. Di sisi lain, tak ada jaminan emiten yang moncer di hari perdana bakal terus bersinar. Sebab faktanya, dari 60 saham yang menghijau di hari perdana, 31 saham diantaranya kini sudah melorot ke bawah harga IPO. Sejatinya banyak faktor yang bisa menjadi pedoman bagi calon investor untuk memilih saham IPO.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mengakui tingkat permintaan saham IPO bukan satu-satunya jaminan performa suatu saham bakal apik. "Calon investor juga tak boleh terkecoh hanya oleh valuasi pasca IPO yang murah. Sebab," kata Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi, penting untuk membandingkan valuasi perusahaan dengan para pesaing di industri yang sama. "Selain itu, perlu juga mengevaluasi rekam jejak dan pengalaman manajemen perusahaan," ujarnya. Tipikal pembeli saham IPO juga bisa berpengaruh terhadap performa di pasar sekunder. Investor ritel misalnya, banyak yang memilih menggunakan strategi jangka pendek untuk mengamankan keuntungan. Sehingga jika pembeli suatu saham IPO didominasi investor ritel, potensi tekanan harganya bisa saja lebih besar. Tak kalah pentingnya, risiko tinggi di saham IPO sebetulnya bisa diredam jika saringan awalnya sudah ketat. Orientasi otoritas bursa tak boleh semata menarik sebanyak-banyaknya emiten baru. Kualitas calon emiten sama sekali tak boleh diabaikan. Dus, pengamat pasar modal Teguh Hidayat sepakat otoritas bursa perlu memperketat syarat bagi perusahaan untuk menggelar IPO. "Kembalikan (aturannya) seperti dulu, misalnya perusahaan harus profit tiga tahun berturut-turut baru bisa IPO," tandasnya.

Waspadai Saham Gorengan Menjelang Pemilu

KT3 17 Jan 2024 Kompas

Pasar modal berisiko disalahgunakan untuk pencucian uang terkait aktivitas pemilu. Manipulasi pasar menjadi salah satu modus yang paling berisiko. Otoritas perlu lebih memperketat pengawasan perdagangan dan peningkatan literasi agar investor tidak dirugikan. Selama masa kampanye pemilihan presiden dan pemilihan legislatif 2024, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melaporkan adanya kenaikan transaksi keuangan yang besar pada rekening bendahara parpol atau rekening pribadi calon anggota legislatif. Sebaliknya, dana pada rekening khusus dana kampanye (RKDK) yang seharusnya menjadi sarana transparansi kampanye cenderung datar. Kepala PPATK Ivan Yustiavandana, yang sempat melaporkan temuan tersebut dalam ”Refleksi Akhir Tahun 2023 dan Proyeksi Kerja serta Langkah-langkah Strategis PPATK Tahun 2024”, mengatakan fenomena ini dapat terjadi melalui mekanisme industri keuangan, seperti pasar modal.

”Iya (pasar modal), termasuk dari industri nonperbankan,” katanya kepada Kompas, Selasa (16/1). Aliran dana kampanye yang tidak transparan atau pencucian uang di pasar modal berpotensi terjadi. PPATK sejauh ini menemukan beberapa modus transaksi dana kampanye yang tidak sesuai, antara lain pemanfaatan rekening lain yang bukan RKDK untuk kepentingan pendanaan kampanye 2024 dan penerimaan setoran tunai dalam jumlah signifikan oleh nomine ke rekening calon anggota legislatif. PPATK dengan Bareskrim Polri pada 2020 membuat penilaian risiko sektoral tindak pidana pencucian uang hasil tindak pidana pasar modal. Menggunakan data kuantitatif dan kualitatif periode 2017 - 2019, ditemukan bahwa manipulasi pasar menjadi satu dari lima jenis delik pidana pasar modal dengan risiko tertinggi.

Manipulasi pasar,  dilakukan dengan menciptakan gambaran semu atau menyesatkan harga efek di bursa efek sehingga harga saham naik atau turun dengan tujuan memengaruhi pihak lain untuk membeli, menjual, atau menahan efek. Indikator dari transaksi mencurigakan lewat skema ini antara lain penggunaan nomine untuk bertransaksi pada satu saham melalui perusahaan efek berbeda dan adanya pembukaan rekening dana nasabah dari para pihak nomine pada bank yang sama dalam periode waktu yang berdekatan. Kemudian, ada kenaikan atau penurunan yang signifikan pada volume, nilai, lalu frekuensi transaksi. Indikasi mencolok lainnya adalah drastisnya naik turun harga saham yang kerap mencirikan ”saham gorengan”. (Yoga)

Tiga Saham Emiten Prajogo Pangestu Kompak Melesat

KT1 17 Jan 2024 Investor Daily (H)

Tiga saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), kompak mengalami kenaikan pada  penutupan perdagangan Selasa (16/1/2024). Ketiga saham ini bahkan menjadi penggerak utama indeks harga saham gabungan (IHSG),  yang pada perdagangan kemarin menguat 18,78 poin (0,26%) ke posisi 7.242. Berdasarkan data RTI, saham BREN mencatat keniakan 450 poin atai 10,16% ke posisi Rp4.880. Saham emiten energi baru terbarukan (EBT) ini ditransaksikan sebanyak 30.340 kali dengan jumlah saham berpindah tangan 70,24 juta saham senilai Rp336,29 miliar. Kenaikan tinggi lainnya juga ditorehkan oleh saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Saham emiten kimia dan infrastruktur ini menguat 330 poin atau 10,22% ke level Rp3.560. Sepanjang perdagangan kemarin, saham berkode TPIA ini ditransaksikan sebanyak  13.831 kali dengan jumlah saham berpindah tangan 52,6 juta kembar dan total transaksi Rp 178,38 miliar. (Yetede)

Emiten Konstruksi Swasta Masih Berpeluang Tumbuh Tahun Ini

HR1 17 Jan 2024 Kontan
Emiten konstruksi swasta berpeluang meraih nilai kontrak proyek yang lebih besar pada tahun 2024. Kendati begitu, masih ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi emiten sektor ini. PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) misalnya, membidik pertumbuhan kinerja sebesar 15% hingga 21% pada tahun 2024. Sekretaris Perusahaan Total Bangun Persada, Anggie S. Sidharta mengatakan, TOTL sedang terlibat dalam sejumlah proses tender dengan nilai sekitar Rp 8,7 triliun, antara proyek gedung mixed used, hotel, data center, industrial dan lainnya. Sepanjang tahun 2023 lalu, TOTL membukukan nilai kontrak baru Rp 4,2 triliun. Pencapaian ini lebih tinggi 43% dari target 2023 Rp 2,9 triliun. Sedangkan di tahun 2024, TOTL membidik nilai kontrak baru Rp 3,5 triliun. TOTL juga mengincar pendapatan Rp 3,1 triliun tahun ini. Direktur Utama Kiwoom Sekuritas Indonesia, Chang-kun Shin mengatakan, ada beberapa sentimen pendorong kinerja emiten konstruksi swasta. Seperti gencarnya pembangunan infrastruktur, peluang pemulihan permintaan properti dan pembangunan infrastruktur digital, Antara lain, jaringan telekomunikasi dan data center. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, kinerja emiten konstruksi swasta bakal lebih baik dari emiten BUMN Karya. Sebab, debt to equity ratio (DER) emiten swasta masih lebih rendah. Misalnya, DER PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) di 0,9 kali, PT Acset Indonusa Tbk (ACST) 2,6 kali dan TOTL 1,4 kali. Nafan merekomendasikan hold TOTL dengan target harga Rp 410 per saham.

Emiten Batubara Kejar Produksi Lebih Tinggi

HR1 17 Jan 2024 Kontan
Di tengah tren penurunan harga komoditas batubara, emiten tambang batubara mencetak pertumbuhan kinerja operasional. Para emiten juga membidik kenaikan volume produksi dan penjualan tahun ini. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) misalnya, membukukan volume produksi sebanyak 41,9 juta ton. Angka ini tumbuh 13% dibanding tahun 2022 sebesar 37,1 juta ton. Pencapaian produksi ini juga melampaui target produksi yang dipasang PTBA, yakni sebesar 41 juta ton. Salah satu pendorong kinerjanya produksi batubara PTBA adalah kontribusi dari kontraktor jasa pertambangan dan cucu usaha PTBA yakni PT Satria Bahana Sarana (SBS) sebesar 37,7 juta ton. Sedangkan sebesar 4,2 juta ton merupakan hasil produksi swakelola PTBA. Volume penjualan batubara PTBA juga naik 16,9% menjadi 37 juta ton pada tahun 2023. Sekretaris Perusahaan PTBA, Niko Chandra mengatakan, penjualan ekspor PTBA sepanjang tahun lalu mencapai 15,6 juta ton atau naik 25% dibanding tahun 2022. Sementara itu, penjualan domestik mencapai 21,4 juta ton atau tumbuh 12% secara tahunan. Pasar ekspor PTBA pada 2023 juga semakin beragam. Tercatat ada beberapa pasar baru yang berhasil dioptimalkan, di antaranya Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, hingga Bangladesh. Selain PTBA, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga mengantongi pertumbuhan kinerja operasional. Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, Dileep Srivastava memperkirakan, volume produksi BUMI tahun 2023 berada di kisaran 78 juta metrik ton, atau naik 11,4% dari produksi tahun 2022. Menurut Dileep, salah satu faktor yang mendorong kenaikan produksi BUMI tahun lalu adalah cuaca yang lebih kering. Sedangkan PT United Tractors Tbk (UNTR) baru melaporkan penjualan per November 2023. Melalui PT Tuah Turangga Agung, UNTR telah menjual 10,45 juta ton batubara dalam sebelas bulan pertama 2023. Capaian ini naik 14,24% secara tahunan. Nah tahun 2024 ini, emiten batubara masih berharap bisa mengejar produksi lebih tinggi.BUMI membidik volume produksi dapat melampaui 80 juta ton batubara hingga akhir 2024. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga berencana meningkatkan kapasitas produksi di tahun depan. Apalagi, tambang baru milik ITMG, yakni Graha Panca Karsa akan mulai beroperasi tahun ini. Kepala Riset Trimegah Sekuritas, Willinoy Sitorus mengatakan, kendati cenderung turun, harga komoditas batubara tahun ini masih cukup prospektif, dengan adanya sejumlah katalis. Sektor batubara dalam negeri mendapat katalis dari berlakunya Mitra Instansi Pengelola (MIP). Menurut Trimegah, penerapan MIP akan memberikan keuntungan terbesar bagi PTBA sebagai emiten dengan pangsa pasar domestik yang besar. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan memperkirakan, harga rata-rata batubara Newcastle akan berada di level US$ 120 per ton. Erindra masih mempertahankan peringkat netral pada sektor batubara seiring dengan valuasi di sektor ini yang murah.

Utang Jumbo Menjerat Emiten BUMN Konstruksi

HR1 16 Jan 2024 Kontan
Utang menjadi momok yang menghantui prospek sejumlah perusahaan, termasuk emiten yang berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Jika dicermati, mayoritas emiten BUMN karya memiliki liabilitas yang lebih besar ketimbang perusahaan pelat merah dari sektor lainnya. Bahkan, satu per satu BUMN karya mulai tersangkut kasus gagal bayar. Salah satunya, PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Fitch Ratings melaporkan total gagal bayar obligasi korporasi di Indonesia mencapai Rp 5,6 triliun per November 2023 dan mayoritas berasal dari WSKT. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga mengalami nasib serupa. Pada Desember 2023, WIKA telah gagal membayar pokok sukuk Rp 184 miliar dan dan memperpanjang jatuh tempo obligasi korporasi senilai Rp 331 miliar. Menilik laporan keuangan per September 2023, total liabilitas WSKT mencapai Rp 84,11 triliun, naik 0,14% dibanding per 31 Desember 2023 yang senilai  Rp 83,99 triliun. Sementara jumlah liabilitas WIKA Rp 55,68 triliun, atau turun 3,29%. Beban liabilitas tinggi juga harus dipanggul oleh PT Adhi Karya Tbk (ADHI) sebesar Rp 30,44 triliun. Angkanya sedikit menurun, yakni -2,33% dibanding posisi per 31 Desember 2022 yang mencapai Rp 31,16 triliun. Lonjakan liabilitas juga terjadi pada PT PP Tbk (PTPP). Per 31 Desember 2023, total liabilitas PTPP mencapai Rp 42,79 triliun dan meningkat menjadi Rp 44,22 triliun per September 2023. Ratna Lim, Vice President Research and Corporate Finance Waterfront Sekuritas menjelaskan membengkaknya utang BUMN Karya disebabkan beberapa faktor. Pertama, proyek infrastruktur yang besar yang tidak menguntungkan tetapi diperlukan dalam pembangunan. Kedua, modal belanja yang terbatas, tetapi proyek harus terus berlangsung. Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas menambahkan masifnya kontrak yang diperoleh emiten konstruksi membuat investasi yang digelontorkan juga semakin besar. Pengamat Pasar Modal dan Direktur Avere Investama Teguh Hidayat bilang tak semua BUMN bermasalah. Misalnya, perusahaan perbankan dan pertambangan yang kinerja mentereng dengan posisi utang yang terjaga. Miftahul menjelaskan selain indikator DER, investor juga harus mencermati jenis utang baik secara jangka waktu jatuh tempo maupun secara struktur atau tingkat risiko utang tersebut. Dia memproyeksikan saham-saham BUMN yang tergabung di dalam Indeks BUMN20 masih akan melaju positif  tahun ini. Lantaran  ada beberapa sentimen positif yang bakal memengaruhi kinerja emiten penghuni indeks ini.