Saham
( 1717 )Emiten Sektor Ritel Masih Bertenaga
Pelemahan Indeks Diprediksi Terjadi Sementara
E-Commerce GOTO Menatap Profit
Yang Bersahabat Dengan Pasar Menjadi Pilihan Investor Saham
Menggali Peluang di Bisnis Solusi TI
PT Mastersystem Infotama Tbk optimistis dengan persaingan usaha di sektor teknologi informasi (TI). Perkembangan zaman menuju era serba digital, menjadi peluang bisnis bagi emiten teknologi yang memiliki kode saham MSTI ini. MSTI menawarkan berbagai solusi Information and Communication Technology (ICT) secara komprehensif kepada pelanggan dengan mengintegrasikan berbagai komponen perangkat keras, perangkat lunak, jaringan, dan komunikasi ke dalam sistem yang kohesif dan fungsional. Sehingga memungkinkan kolaborasi dan interaksi tanpa hambatan sistem teknologi yang beragam. VP Corporate Communication Mastersystem Infotama, Miranti mengatakan, MSTI yakin bahwa bisnis di industri teknologi memiliki pertumbuhan yang bagus di Indonesia seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang terus berkembang pesat. Menurut Laporan Euromonitor, pasar solusi TI Indonesia akan mengalami pertumbuhan yang kuat antara tahun 2023 hingga 2027 dengan CAGR sebesar 18,0%. Miranti meyakini, MSTI dapat terus bertumbuh dengan menggaet lebih banyak pelanggan dan memperluas kemitraan. "MSTI menargetkan pertumbuhan positif di tahun 2024, baik dari sisi penjualan maupun dari sisi laba, kata Miranti, belum lama ini. Emiten yang baru listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 November 2023 MSTI meraup dana segar Rp 637,96 miliar melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Dana IPO ini, untuk melunasi utang bank dan modal kerja. Pelanggan MSTI sebagian besar bergerak di industri jasa keuangan dan telekomunikasi. Kedua industri ini bergantung perkembangan teknologi dalam menjalankan aktivitas usaha. Sebagai contoh, industri jasa keuangan membutuhkan teknologi-teknologi terbaru untuk memperkuat keamanan (security) terhadap cyber attack dan industri telekomunikasi membutuhkan teknologi yang dapat memperkuat kecepatan akses internet. MSTI memberikan layanan menyeluruh untuk pelanggan dengan merencanakan, mendesain, mengimplementasi dan mengoptimasi infrastruktur ICT. Dalam menyediakan solusi cloud platform, MSTI memberikan jasa untuk membangun sendiri infrastruktur cloud berdasarkan spesifikasi pelanggan maupun bekerjasama dengan beberapa prinsipal, seperti Amazon, Google, VMWare, Cisco dan HP. Perusahaan ini menawarkan paket layanan purna jual berupa layanan pasca implementasi dan pemeliharaan infrastruktur TI. Kondisi pandemi merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam mempercepat transformasi digital. Preferensi dan gaya hidup konsumen beralih ke kanal online akibat pembatasan mobilitas, tercermin dari pertumbuhan kuat pada tren e-commerce dan pola kerja hybrid.
Gelontorkan Rp940 Miliar, Petrindo Jadi Pengendali Baru Petrosea
Mengamankan Portofolio di Tahun Politik
Barito Renewables Diprediksi Masuk Indeks MSCI, Potensi Gain 25%
Efek Januari, Investor Tetap Perlu Selektif Pilih Saham
Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan berlanjut
di awal tahun 2024. Kondisi ini memberikan sinyal bahwa investor bisa
memanfaatkan ”January Effect” untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat.
Namun, kali ini, investor perlu lebih selektif. Rabu (3/1/2024), IHSG tertahan
di bawah area resistensi 7.300 poin setelah sempat memecahkan rekor tertinggi
sepanjang masa pada Selasa (2/1) di posisi 7.323 poin. Peneliti Phintraco
Sekuritas, Valdy K, menilai, posisi tersebut masih melanjutkan tren window
dressing di dua bulan terakhir 2023. Window dressing merupakan upaya para
investor besar untuk mempercantik portofolionya jelang akhir tahun dengan
banyak membeli saham bernilai tinggi dan fenomena tersebut berhasil memperbaiki
IHSG yang selama sepuluh bulan sebelumnya berada di bawah posisi 7.000.
Fenomena itu pun disebut akan berefek pada kenaikan kinerja saham pada
bulan Januari. Situasi ini dikenal dengan istilah ”January Effect”. Pada momentum
ini, investor bisa coba melakukan jual beli saham dalam waktu singkat untuk mendulang
bonus. Saham ”bluechip” Namun, tren itu tidak terjadi di semua saham.
”Saham-saham bluechip, terutama perbankan, diperkirakan masih menjadi penggerak
IHSG,” kata Valdy dalam keterangannya, Rabu (3/1). Pengamat pasar modal dan Founder
WH-Project, William Hartanto, juga berpendapat sama. Ia menemukan, penguatan
IHSG adalah efek bobot saham-saham tertentu saja. ”Jika berbicara bobot, kita
akan melihat saham-saham big caps (berkapitalisasi besar),” ungkapnya. (Yoga)
Pilihan Saham di Sektor Unggulan 2024
Memasuki pergantian tahun, bakal ada rotasi sektor unggulan penggerak bursa. Sepanjang tahun lalu sektor indeks sektor infrastruktur memimpin pasar saham dengan lonjakan sebesar 80,75%, jauh meninggalkan indeks sektoral lainnya.
Menempati posisi kedua, sektor barang baku (
basic materials
) hanya tumbuh 7,51%. Diikuti oleh sektor keuangan yang naik 3,07%. Sementara itu, sektor teknologi dan kesehatan turun paling dalam dengan mencetak kinerja minus 14,07% dan 12,07%.
Sedangkan sektor energi yang berjaya pada tahun 2022, berbalik mencatat minus 7,84% sepanjang 2023. CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo mengatakan, kinerja sektoral dan penguatan IHSG tahun 2023 lalu cenderung ditopang oleh saham-saham yang baru melantai di BEI.
Financial Expert
Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih menyoroti, pada tahun ini ada dua katalis penting yang bakal memengaruhi pergerakan sektoral saham di BEI.
Pertama
, potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, yang akan diikuti Bank Indonesia.
Kedua
, momentum politik pemilihan umum.
Secara historis, Ratih mengungkapkan pemilu menjadi katalis positif bagi sektor konsumsi primer. Selain faktor kenaikan konsumsi, sektor ini juga terpapar angin segar dari melandainya harga
soft commodity
seperti gandum.
Sektor lain yang berpotensi naik daun tahun ini adalah properti. Menurut Ratih, menarik mencermati sektor properti seiring potensi pemangkasan suku bunga acuan.
Sektor unggulan lainnya adalah keuangan, terutama saham perbankan yang menunjukkan stabilitas kinerja di tengah volatilitas pasar dan situasi ekonomi.
Dengan sejumlah pertimbangan tersebut, Ratih pun menyematkan rekomendasi beli untuk sejumlah saham. Misalnya, MYOR dengan target harga Rp 2.650, MDKA Rp 3.050, dan SMRA Rp 630. Kemudian,
buy on weakness
BBRI di area Rp 5.550 dengan target harga di Rp 5.900.
Sementara itu, Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menyematkan
rating overweight
untuk sejumlah sektor saham, seperti saham-saham telekomunikasi di sektor infrastruktur, perbankan di sektor keuangan, properti, transportasi dan logistik, serta ritel pada sektor barang konsumsi.
Pilihan Editor
-
Lampu Kuning Ekspor Indonesia
11 Feb 2020









