Saham
( 1722 )Antrean IPO Panjang Jangan Terkecoh Harga Murah
Saham memang jenis investasi yang tergolong high risk and high return. Dalam konteks saham emiten pendatang baru, skala potensi risiko dan peluang keuntungannya bahkan terbukti jauh lebih besar lagi. Tengok saja, dari tujuh saham anyar yang dicatatkan pada Januari 2024, tiga diantaranya; ASLI, ACRO dan MANG sudah berada di bawah harga perdana. Hingga Rabu (17/1), ketiga saham tersebut belum juga mampu kembali ke posisi harga saat IPO.Kondisi serupa juga terjadi pada saham emiten yang menggelar initial public offering (IPO) tahun lalu. Betul, dari 79 pendatang baru hanya 19 emiten yang di hari perdana nyungsep di bawah harga IPO. Namun, dari 19 saham tersebut, hingga kemarin hanya tiga yang mampu merangkak kembali ke atas harga perdana, yakni KING, PTPS dan SURI. Di sisi lain, tak ada jaminan emiten yang moncer di hari perdana bakal terus bersinar. Sebab faktanya, dari 60 saham yang menghijau di hari perdana, 31 saham diantaranya kini sudah melorot ke bawah harga IPO. Sejatinya banyak faktor yang bisa menjadi pedoman bagi calon investor untuk memilih saham IPO.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mengakui tingkat permintaan saham IPO bukan satu-satunya jaminan performa suatu saham bakal apik. "Calon investor juga tak boleh terkecoh hanya oleh valuasi pasca IPO yang murah. Sebab," kata Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi, penting untuk membandingkan valuasi perusahaan dengan para pesaing di industri yang sama. "Selain itu, perlu juga mengevaluasi rekam jejak dan pengalaman manajemen perusahaan," ujarnya. Tipikal pembeli saham IPO juga bisa berpengaruh terhadap performa di pasar sekunder. Investor ritel misalnya, banyak yang memilih menggunakan strategi jangka pendek untuk mengamankan keuntungan. Sehingga jika pembeli suatu saham IPO didominasi investor ritel, potensi tekanan harganya bisa saja lebih besar. Tak kalah pentingnya, risiko tinggi di saham IPO sebetulnya bisa diredam jika saringan awalnya sudah ketat. Orientasi otoritas bursa tak boleh semata menarik sebanyak-banyaknya emiten baru. Kualitas calon emiten sama sekali tak boleh diabaikan. Dus, pengamat pasar modal Teguh Hidayat sepakat otoritas bursa perlu memperketat syarat bagi perusahaan untuk menggelar IPO. "Kembalikan (aturannya) seperti dulu, misalnya perusahaan harus profit tiga tahun berturut-turut baru bisa IPO," tandasnya.
Waspadai Saham Gorengan Menjelang Pemilu
Pasar modal berisiko disalahgunakan untuk pencucian uang
terkait aktivitas pemilu. Manipulasi pasar menjadi salah satu modus yang paling
berisiko. Otoritas perlu lebih memperketat pengawasan perdagangan dan
peningkatan literasi agar investor tidak dirugikan. Selama masa kampanye pemilihan
presiden dan pemilihan legislatif 2024, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
(PPATK) melaporkan adanya kenaikan transaksi keuangan yang besar pada rekening
bendahara parpol atau rekening pribadi calon anggota legislatif. Sebaliknya, dana
pada rekening khusus dana kampanye (RKDK) yang seharusnya menjadi sarana transparansi
kampanye cenderung datar. Kepala PPATK Ivan Yustiavandana, yang sempat melaporkan
temuan tersebut dalam ”Refleksi Akhir Tahun 2023 dan Proyeksi Kerja serta Langkah-langkah
Strategis PPATK Tahun 2024”, mengatakan fenomena ini dapat terjadi melalui
mekanisme industri keuangan, seperti pasar modal.
”Iya (pasar modal), termasuk dari industri nonperbankan,” katanya
kepada Kompas, Selasa (16/1). Aliran dana kampanye yang tidak transparan atau
pencucian uang di pasar modal berpotensi terjadi. PPATK sejauh ini menemukan
beberapa modus transaksi dana kampanye yang tidak sesuai, antara lain pemanfaatan
rekening lain yang bukan RKDK untuk kepentingan pendanaan kampanye 2024 dan
penerimaan setoran tunai dalam jumlah signifikan oleh nomine ke rekening calon
anggota legislatif. PPATK dengan Bareskrim Polri pada 2020 membuat penilaian
risiko sektoral tindak pidana pencucian uang hasil tindak pidana pasar modal. Menggunakan
data kuantitatif dan kualitatif periode 2017 - 2019, ditemukan bahwa manipulasi
pasar menjadi satu dari lima jenis delik pidana pasar modal dengan risiko
tertinggi.
Manipulasi pasar, dilakukan dengan menciptakan gambaran semu
atau menyesatkan harga efek di bursa efek sehingga harga saham naik atau turun
dengan tujuan memengaruhi pihak lain untuk membeli, menjual, atau menahan efek.
Indikator dari transaksi mencurigakan lewat skema ini antara lain penggunaan
nomine untuk bertransaksi pada satu saham melalui perusahaan efek berbeda dan
adanya pembukaan rekening dana nasabah dari para pihak nomine pada bank yang
sama dalam periode waktu yang berdekatan. Kemudian, ada kenaikan atau penurunan
yang signifikan pada volume, nilai, lalu frekuensi transaksi. Indikasi mencolok
lainnya adalah drastisnya naik turun harga saham yang kerap mencirikan ”saham
gorengan”. (Yoga)
Tiga Saham Emiten Prajogo Pangestu Kompak Melesat
Tiga saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), kompak mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan Selasa (16/1/2024). Ketiga saham ini bahkan menjadi penggerak utama indeks harga saham gabungan (IHSG), yang pada perdagangan kemarin menguat 18,78 poin (0,26%) ke posisi 7.242. Berdasarkan data RTI, saham BREN mencatat keniakan 450 poin atai 10,16% ke posisi Rp4.880. Saham emiten energi baru terbarukan (EBT) ini ditransaksikan sebanyak 30.340 kali dengan jumlah saham berpindah tangan 70,24 juta saham senilai Rp336,29 miliar. Kenaikan tinggi lainnya juga ditorehkan oleh saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Saham emiten kimia dan infrastruktur ini menguat 330 poin atau 10,22% ke level Rp3.560. Sepanjang perdagangan kemarin, saham berkode TPIA ini ditransaksikan sebanyak 13.831 kali dengan jumlah saham berpindah tangan 52,6 juta kembar dan total transaksi Rp 178,38 miliar. (Yetede)
Emiten Konstruksi Swasta Masih Berpeluang Tumbuh Tahun Ini
Emiten Batubara Kejar Produksi Lebih Tinggi
Utang Jumbo Menjerat Emiten BUMN Konstruksi
IHSG Berpeluang Menguat Terbatas
Pemilu Aman, Laju Kredit Lancar
Prospek saham-saham perbankan tahun ini terbilang kondusif. Meski begitu sejumlah sentimen masih akan mempengaruhi perkembangan saham sektor perbankan ini. Analis NH Korindo Sekuritas, Leonardo Liu melihat aliran dana asing sudah mulai nampak lagi ke pasar saham dan mulai rotasi ke big bank. Kinerja perbankan secara tahunan alias year on year (yoy) juga masih bertumbuh masif. Kredit perbankan di November 2023 tumbuh sekitar 9,7% yoy mencapai Rp 6.930 triliun dibanding Oktober 2023 yang 9% yoy. Namun, ada satu perhatian Leonardo, yakni pemilu. Menurutnya, laju pertumbuhan kredit kemungkinan sedikit melambat tahun ini. Lantaran pasar masih menunggu hasil pemilu. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis memprediksi, kredit perbankan besar akan tumbuh moderat tahun ini. Pertumbuhan kredit empat bank besar, yaitu BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI diperkirakan naik 8,8% di tahun 2024 dari 10,7% pada 2023. Tak ketinggalan, sentimen pemilu juga mempengaruhi pertumbuhan kredit perbankan di semester I-2024. Meski pertumbuhan kredit diprediksi melambat, keempat bank tersebut diyakini akan terus membukukan pertumbuhan laba bersih. Kenaikan laba bersih diperkirakan sebesar 8,7% year on year pada 2024, ternormalisasi dari kenaikan 2023 yang mencapai 21,6%. Pertumbuhan laba bersih ini didukung peningkatan rasio biaya terhadap pendapatan sebesar 32,3%-43,8% pada 2023 menjadi 31,8%-43,0% pada tahun 2024.
"Kami memperkirakan, pertumbuhan pinjaman yang melambat dan
cost of fund
yang lebih tinggi mengakibatkan pertumbuhan laba bersih melambat jadi 8,7% di 2024, sebelum meningkat 11,1% di tahun 2025," tutur kedua analis tersebut.
BRI Danareksa Sekuritas yakin keempat bank ini akan tetap memiliki posisi baik di pasar. Ini didukung kekuatan penetapan harga dan
current account saving account
(CASA) selama kenaikan suku bunga. Di tengah kenaikan suku bunga, BBNI memiliki keuntungan terbesar karena memiliki porsi pinjaman dengan suku bunga mengambang tertinggi, yakni 82% dari pinjaman. BBCA juga diuntungkan karena rasio dana murah (CASA) tertinggi sebesar 80%. Dalam riset 8 Januari 2024, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Handiman Soetoyo dan Abyan H. Yuntoharjo menambahkan, sentimen positif lain saham perbankan berasal dari pembagian dividen. Sebagian besar bank besar diprediksi akan membagikan dividen menarik di musim pembagian dividen mendatang.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia dan BRI Danareksa Sekuritas menetapkan rekomendasi
overweight
untuk sektor perbankan. Risikonya pertumbuhan pinjaman yang lebih rendah dari prediksi dan
cost of fund
yang lebih tinggi dari ekspektasi.
Ngerem Ekspansi di Tahun Politik
Saham Gocapan, Bagai Jamur di Musim Hujan
Jumlah saham tidur yang mangkrak di level terendah Rp 50 alias gocap bak cendawan di musim hujan. Saham-saham penghuni zona gocap ini tak cuma berasal dari saham-saham emiten kecil ataupun saham dengan free float mini. Saham-saham milik para konglomerat juga banyak yang terkapar di zona gocap. Sejumlah saham itu bahkan punya jumlah kepemilikan publik yang lumayan besar. Dari data Bloomberg, jumlah saham yang ngepas di level gocap per 12 Januari 2024 sebanyak 120 saham. Jumlah ini naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 72 saham. Nah, dari 72 saham yang mangkrak di zona gocap pada tahun lalu, sebagian saham ambles di bawah Rp 50, bahkan ada yang menyentuh Rp 2 per saham. Jika ditotal, saham-saham yang berada di zona gocap punya nilai kapitalisasi pasar sekitar Rp 66,4 triliun. Jumlah ini belum termasuk saham-saham yang turun naik tak jauh dari Rp 50 per saham. Penghuni level gocap lainnya mayoritas diisi saham-saham anyar yang belum lama melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham-saham baru ini juga kebanyakan masuk ke papan akselerasi. Di papan ini, harga saham bisa longsor ke bawah Rp 50. CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo mengatakan, dari sekitar 120 saham yang bersarang di level gocap, sebanyak 30 saham tidak memiliki notasi khusus.
Sementara 89 saham punya notasi khusus. Sebanyak 48 di antaranya memiliki status "X" atau ada di papan pemantauan khusus. Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri membuat Papan Pemantauan Khusus ini sebagai perlindungan investor, agar investor bisa lebih mudah mengetahui kondisi likuiditas dan fundamental emiten sebelum berinvestasi. Semakin banyak saham gocap di bursa, makin banyak pula duit investor yang nyangkut. Potensi kerugian investor bisa semakin besar jika saham-saham ini kembali turun. Bahkan duit investor bisa menguap. Sebelumnya Kontan menulis, harga saham di bawah Rp 50 bikin investor tekor Rp 9,4 triliun (Harian KONTAN, 11 Januari 2024). "Emiten-emiten ini seharusnya memberi paparan keterbukaan publik terkait prospek atau rencana bisnis emiten ke depan. Jadi investor dapat menilai atau mendapat kejelasan prospek harga sahamnya ke depan," ujar Praska ke KONTAN Minggu (14/1). Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, penyebab utama saham tertidur di gocap adalah faktor fundamental, ada penurunan kinerja atau merugi. Termasuk untuk saham yang tergolong masih baru di bursa. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menimpali, saham-saham gocap identik dengan persepsi saham gorengan. Pergerakan harga sering tidak wajar, lalu kembali ke Rp 50, terutama setelah profit taking.Kepala Riset Praus Capital, Marolop Alfred Nainggolan bilang, sentimen penggerak harga saham gocap lebih sulit terprediksi. Jadi sebaiknya melirik saham lain saja.
Pilihan Editor
-
Bank Sentral Waspadai Kepanikan di Pasar Uang
09 Mar 2020









