;
Tags

Saham

( 1717 )

INPP Membidik Pertumbuhan Pendapatan Hingga 30%

HR1 30 Jan 2024 Kontan
Ekonomi yang tengah tumbuh menyebabkan bisnis properti semakin menggeliat. Maka, PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) menargetkan pendapatan bisa tumbuh di rentang 20% hingga 30% tahun ini. Target tersebut menurut Direktur Keuangan INPP, Surina berdasarkan atas sejumlah asumsi. Seperti pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan masih tumbuh kisaran 5%, "Namun kami tetap mewaspadai inflasi hingga kebijakan suku bunga,” terang Surina, dalam paparan publik, Senin (29/1). INPP juga mewaspadai sentimen geopolitik dari luar negeri, mengingat ada sekitar 25 pemilihan umum di berbagai negara pada tahun ini. Presiden Direktur INPP, Anthony Prabowo Susilo menambahkan, industri pariwisata dalam negeri yang mulai tumbuh menjadi angin segar bagi INPP. Maklum, emiten ini mempunyai sejumlah hotel serta pusat perbelanjaan. Anthony memproyeksi, kuartal pertama 2024 akan menjadi musim kunjungan yang rendah (low season). Kuartal pertama biasanya hanya menyumbang 18% dari  pendapatan INPP setiap tahun. Surina membeberkan alasan Bandung dan Semarang dipilih sebagai lokasi ekspansi INPP. Di Bandung, permintaan pelanggan ritel INPP untuk ekspansi cukup tinggi. Ditambah tingkat kunjungan mal di Bandung cukup tinggi, terlebih di akhir pekan. Untuk menunjang ekspansi bisnis tahun ini, INPP akan menggelontorkan belanja modal sekitar Rp 1 triliun. Porsi terbesar akan dialokasikan untuk sektor komersial dengan adanya proyek di Semarang dan Bandung.

Laba Kuat Meski Tumbuh Melambat

HR1 30 Jan 2024 Kontan

Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil menuai laba jumbo sepanjang tahun lalu. Tapi tak dipungkiri, perlambatan laju pertumbuhan kinerja BBCA masih akan terjadi pada tahun ini. Tahun lalu, emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia itu mencetak pertumbuhan laba bersih 19,4% menjadi Rp 48,6 triliun. Tapi, pertumbuhan laba BBCA melambat jika dibandingkan tahun 2022 yang naik hingga 29,6% secara tahunan. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, melambatnya pertumbuhan BBCA disebabkan beban operasional naik hingga Rp 5 triliun atau 5,45% dari 2022. Sehingga tetap ada potensi perlambatan pertumbuhan BBCA pada tahun ini. Oleh karena itu, Nico memperkirakan, tahun ini BBCA tetap melanjutkan kinerja apiknya. Potensi penurunan tingkat suku bunga Federal Reserve berpeluang mendorong peningkatan kredit. Aktivitas transaksi juga bakal naik akibat pertumbuhan daya beli dan konsumsi dari pemilu. Analis Senior Sucor Sekuritas, Edward Lowis juga memperkirakan, kinerja laba bersih BBCA hanya akan tumbuh 12% pada 2024 menjadi Rp 54,39 triliun.

"Kami mengantisipasi peningkatan pendapatan bunga dengan peningkatan imbal hasil aset," katanya. BBCA juga akan menyesuaikan suku bunga kredit sebesar 25-50 basis poin tahun ini setelah mempertahankannya selama kenaikan suku bunga baru-baru ini. Net interest margin (NIM) secara konservatif diproyeksikan stabil di level 5,5%-5,6%. Di sisi lain, kualitas aset secara keseluruhan diproyeksikan akan membaik lebih lanjut dengan rasio kredit berisiko (LAR) kemungkinan menurun menjadi 4%-6% dibanding tahun 2023 sebesar 6,9%. Edward mengatakan, perbaikan ini memungkinkan BBCA mempertahankan biaya kredit rendah pada 30-40 bps karena cakupan LAR tetap pada 70% di tahun 2023. Analis BRI Danareksa, Victor Stefano mengatakan, proyeksi kinerja BBCA masih sejalan dengan perkiraannya. "Namun, kami memangkas estimasi laba BBCA tahun 2024 sebesar 3% karena biaya yang lebih rendah dari perkiraan di tahun 2023," katanya dalam riset Senin (29/1). Kendati begitu, Victor memperkirakan kinerja BBCA akan tetap tumbuh. Laba bersih BBCA diperkirakan menyentuh angka Rp 58,09 triliun atau naik 9,64% yoy tahun ini.Pertumbuhan kinerja BBCA didorong dari penyaluran kredit. Tahun 2023, pertumbuhan kredit BBCA mencapai 13,9%, lebih tinggi dari rata-rata industri sebesar 10%.

Nasib Saham Emiten Nikel di Tengah Ancaman Baterai LFP

KT1 29 Jan 2024 Investor Daily (H)
Komoditas nikel sebagai bahan baku utama pembuatan kendaraan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berjenis Nickle Cobalt Manganese (NMC) menghadapi tantangan berat, dengan makin berkembangnya beterai alternatif berbasis tanpa nikel, Lithium Ferro Phosphate (LFP). Popularitas LFP yan terus menanjak dikhawatirkan berdampak pada performa saham emiten-emiten penambang bijih nikel, diantaranya PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Vale Indonesia Tbk (VALE), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MDKA), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickle. Tim analis Indo Primier Sekuritas yang terdiri dari Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan dalam risetnya menyebutkan bahwa kemajuan teknologi baterai seperti LFP, Lithium Manganese Ferro-Ion (Na-Ion) terus menimbulkan risiko terhadap kelangsungan baterai berbasis nikel untuk kendaraan listrik. (Yetede)

Terganjal Pemulihan Ekonomi AS

KT1 29 Jan 2024 Investor Daily (H)
Reli Indeks  Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berlangsung sejak November 2023 terganjal oleh pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS)  yang melampui prediksi. Pada pekan lalu, IHSG terpangkas 1,25% ke level 7.137, sedangkan market cap terkikis 0,65% menjadi  Rp11,345 triliun dari Rp11.420 riliun. Selama Januari 2024, indeks turun 1,87%, dibandingkan  sepanjang 2023 yang tumbuh 6%. Tren ini diprediksi terus berlanjut dalam   beberapa bulan kedepan . Alasannya, perbaikan ekonomi AS, yang terlihat pada kuatnya pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja bisa membuat rencana penurunan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) mundur dari Maret 2024 menjadi semester II. Keadaan ini membuat indeks AS menguat, sehingga rupiah terpukul. Sementara itu, imbal hasil (yield) US Treasury (UST) seri banchmark 10 tahun kembali menembus level 4%. (Yetede)

Mitra Pack Masuk LQ45, Penilaian BEI Dipertanyakan

KT1 27 Jan 2024 Investor Daily (H)

Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi mayor sejumlah indeks pada bulan ini. Salah satu rebalancing indeks yang cukup menyita perhatian pelaku pasar adalah LQ45. Sebab, Saham PT Mitra Pack Tbk (PTPM)  tiba-tiba merangsek masuk menggeser emitan milik Prajogo Pangestu seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan emiten menara, PT Towers Bersama Infrastucture Tbk (TBIG). Selain dua emiten tersebut, rebalancing indeks LQ45 juga mendepak PT Indika Energy Tbk (IND) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dari daftar saham likuid. Sebagai gantinya, BEI kemudian memasukkan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MTEL), dan PT Pertamina Geothormal Energy Tbk (PGEO), disamping PTMP. Masuknya PTMP sebagai konstituen LQ45 layaknya kuda hitam yang mendadak memunculkan perbincangan di kalangan  para pelaku pasar. Sebab, diukur dari sisi likuiditas dan fundamental, PTPM dinilai tidak layak menjadi penghuni indeks LQ45. Bahkan yang paling ekstrem, kehadiran PTPM dibarisan saham-saham unggulan dipandang seabagai pesenan. (Yetede)

Ada Saham Lapis Tiga Masuk LQ45

HR1 27 Jan 2024 Kontan (H)
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengocok ulang sejumlah indeks konstituen, salah satunya indeks LQ45. Penilaian BEI kali cukup mengagetkan pelaku pasar. Ada empat penghuni baru Indeks LQ45. Mereka emiten yang baru melantai di bursa tiga tahun terakhir. Mereka adalah PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Mitra Pack Tbk (PTMP). Nama terakhir ini menjadi perhatian pasar. Perdagangan saham PTMP tak terlalu istimewa. Kriteria pemilihan saham LQ45 di antaranya mempertimbangkan likuiditas, kapitalisasi pasar, minimal 3 bulan terdaftar di BEI, serta aktivitas transaksi di pasar reguler, yang dilihat dari volume, nilai, dan jumlah transaksi. 

Dihitung kasar, nilai kapitalisasi pasar PTMP tak sampai Rp 1 triliun, tepatnya cuma Rp 900,05 miliar per 26 Januari 2024. Artinya, emiten yang bergerak di bisnis kemasan ini masuk kategori saham third liner. Setahun terakhir (25 Januari 2023 - 25 Januari 2024) nilai perdagangan saham PTMP hanya Rp 2,2 triliun. Jumlah yang diperdagangkan sekitar 12,7 miliar saham. Otoritas bursa bersikukuh dengan keputusannya. 

Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI menyebut, BEI menggunakan parameter kuantitatif dan kualitatif termasuk nilai, volume, frekuensi, rasio fundamental dan parameter lain dalam penetapan konstituen suatu indeks. Ia enggan membeberkan metodologi rebalancing indeks. Hal ini untuk mencegah penyalahgunaan dari pihak-pihak tertentu. "BEI tidak bisa buka secara penuh, supaya tidak ada pihak yang melakukan upaya tertentu untuk bisa mengikuti rumus perhitungannya," katanya, Jumat (26/1). 

Perubahan susunan LQ45 biasanya diikuti rebalancing portofolio manajer investasi. Tapi, Guntur Putra, CEO Pinnacle Investment Indonesia mengatakan, belakangan, karakteristik LQ45 berbeda dengan IHSG, karena ada perubahan metode pembobotan. "Masuknya PTMP cukup membuat kaget pasar, market cap yang kecil," katanya. Belum memenuhi kriteria masuk reksadana Pinnacle.

Tiga Perusahaan Bidik IBST, Nilai Akuisisi Rp 11,4 Triliun

KT1 26 Jan 2024 Investor Daily (H)
Penjualan saham emiten penyewaan menara  telekomunikasi (tower) terafiliasi Group Sinar Mas, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) ditaksir bisa menyentuh angka Rp9,8-11,4 triliun.  sebanyak tiga perusahaan tower papan atas berpotensi tertarik untuk mengakuisisi saham IBST. Inti Bangun Sejahtera merupakan perusahaan tower terbesar kelima di indonesia yang memiliki 3.383 menara telekomunikasi, 5.791 penyewa, dan 16.642 km serat optik di fiber to the building (FFTB) fiber/ to the home (FTTH)/fiber to the tower (FTTT). Sebanyak 79,9% saham IBST dikuasai PT Bakti Taruna Sejati, disusul 8,5% milik PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), 0.00001% milik PT Inovasi Mas Mobilitas, dan 11,6 saham publik. "Meskipun data peserta tender tidak diungkapkan, kami yakin bahwa tiga perusahaan tower teratas di indonesia  kemungkinan besar akan berada diantara para pelamar tersebut," tulis Indo Premier Sekuritas dalam riset terbarunya, yang dikutip Kamis (25/1/2024). (Yetede)

Trisula Textile Membidik Pertumbuhan Positif Tahun ini

HR1 26 Jan 2024 Kontan
PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) optimistis bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan pada tahun ini. Optimisme emiten tekstil tersebut berkaca dari hasil kinerja hingga kuartal III-2023. Di periode tersebut, BELL mencatatkan pendapatan Rp 359,45 miliar, naik 15% dari periode serupa tahun lalu. BELL membukukan laba yang diatribusikan ke pemilik sebesar Rp 8,79 miliar, tumbuh 23,57% dari periode September 2022. 

Direktur Utama BELL, Karsongno Wongso Djaja optimistis, kinerja  anak usaha PT Trisula International Tbk (TRIS) ini bakal tumbuh tahun ini dibandingkan periode 2023. Untuk itu BELL sebutnya, terus berupaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Misalnya melakukan pembelian mesin-mesin baru untuk menopang produksi BELL. Trisula Textile sendiri merupakan perusahaan tekstil yang menyasar segmen menengah atas. 

Perusahaan ini membuat beragam merek produk pakaian. Yakni Jobb dan Jack Nicklaus. Karsongno menjelaskan jika sebelumnya pihaknya sudah bisa memproduksi kain yang dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Lantas saat pandemi lalu, BELL  membuat jaket dari kain anti bakteri dan anti air. Dengan upaya tersebut, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana merekomendasikan speculative buy saham BELL, dengan support di Rp 71 per saham dan resistance di Rp 78 per saham. Sementara Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto merekomendasikan wait and see untuk saham BELL.

Berharap Harga Ayam Bisa Membaik

HR1 26 Jan 2024 Kontan
Harga jual ayam hidup di tingkat peternak saat ini masih menghadapi tantangan. Menurut Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) harga jual ayam saat ini masih di rentang Rp 16.000–17.000 per kilogram. Harga tersebut masih jauh dari biaya produksi yang dikeluarkan peternak. Yakni rata-rata Rp 20.500–Rp 21.500 per kilogram. Salah satu kendala utama adalah kenaikan pakan ternak. Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto melihat anjloknya harga ayam saat ini bisa mempengaruhi kinerja emiten perunggasan. "Jika harga harga ayam terus anjlok maka kinerja emiten pakan ternak diprediksi akan turun pada tahun ini," ujarnya kepada KONTAN, Kamis (25/1). 

Sementara Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan menambahkan, emiten perunggsan dan pakan ternak tahun ini memang menghadapi tantangan. Ini akibat gejolak harga bahan baku pakan. Terutama kedelai yang lebih banyak diimpor. "Harga ayam yang anjlok juga berpengaruh pada kinerja emiten pakan ternak, karena menurunkan daya beli peternak," ujar Reza kepada KONTAN Kamis (25/1). Terlihat dari kinerja emiten perunggasan seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) pada 9 bulan pertama tahun 2023 yang cenderung bervariasi. Maka ia rekomendasi JPFA targetnya Rp 1.700–Rp 1.750. CPIN hold di harga Rp 7.300, dan buy MAIN dengan target Rp 930. Sementara Pandhu masih wait and see saham tersebut meski secara valuasi sudah menarik.

Ruang Ritel Tumbuh di Tahun Pemilu

HR1 26 Jan 2024 Kontan
Momentum pemilihan umum (pemilu) bisa menjadi pendongkrak kinerja emiten ritel. Lonjakan perputaran uang dan daya beli berpotensi mengangkat omzet. Head of Legal & Corporate Secretary PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), Amelia Allen menyampaikan optimisme peritel datang dari perekonomian yang kondusif. Pesta demokrasi ini diharapkan mendorong daya beli masyarakat. PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) juga ingin menangkap peluang dari momentum ini. Hanya saja, Head of Corporate Communications ACES Melinda Pudjo menegaskan pihaknya akan lebih berhati-hati dan mempersiapkan segala kemungkinan di tengah tahun politik ini. 

Research Analyst Phintraco Sekuritas, Nurwachidah mengamati secara historis konsumsi rumah tangga selama Pemilu 2014 dan 2019 sudah meningkat sejak enam bulan sebelum penyelenggaraan, dan mencapai puncaknya pada saat Pemilu. Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas, Janice Kohar menambahkan, tingkat inflasi yang rendah ikut memperkuat daya beli konsumen. Kondisi ini membawa kecenderungan yang mendukung pertumbuhan penjualan dan profitabilitas peritel. 

Analis Panin Sekuritas, Andhika Audrey menyoroti kencangnya perputaran uang menjelang pemilu. Mulai dana kampanye hingga kucuran bantuan sosial (bansos) dan bantuan langsung tunai. Hal ini akan menjadi katalis pendongkrak daya beli masyakarat, yang utamanya dialokasikan untuk kebutuhan pokok. Dus, peritel penyedia kebutuhan primer akan terpapar sentimen positif. 

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Vicky Rosalinda menimpali, pemilu memang menyediakan ruang bagi emiten ritel untuk menumbuhkan kinerja. Tapi dampaknya tidak begitu signifikan atau tidak berlaku sama untuk semua emiten ritel. Vicky melihat momentum pemilu  membawa peluang lebih banyak bagi emiten dengan jaringan distribusi luas dan menyediakan produk yang dibutuhkan rutin masyarakat. Dengan tingkat daya beli saat ini, emiten ritel yang menyasar segmen menengah-atas juga bisa diuntungkan. 

Selain pemilu Associate Director Erdikha Sekuritas Yunia Lie menyoroti sejumlah hari libur pada Februari. Adanya libur panjang akan membawa dampak positif untuk meningkatkan penjualan, terutama ritel kategori F&B.