;
Tags

Saham

( 1722 )

Jumlah Emiten Tak Layak di Bursa Makin Banyak

HR1 02 Feb 2024 Kontan (H)
Tahun lalu Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan 79 emiten baru via penawaran umum perdana (IPO) dengan  penggalangan dana  Rp 54,1 triliun. "Penambahan 79 saham ini tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia," kata Iman Rachman, Direktur Utama BEI, pada jumpa pers akhir tahun lalu. Menurutnya, Indonesia di urutan ke-6 dunia dari jumlah emiten baru. Dari sisi nilai penggalangan dana, Indonesia menempati urutan ke-9. BEI boleh saja menepuk dada dengan pencapaian tersebut. Namun, dari 914 emiten, tercatat  220 emiten atau  25%  masuk dalam pemantauan khusus. Ada 11 penyebab emiten masuk kriteria itu. Nah, dari jumlah itu beririsan pula dengan emiten yang tidak memenuhi tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) dan buruknya sisi kinerja keuangan. Ini tercermin dari kriteria nomor 2, 3, 5, 8 dan 9. I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI berdalih bahwa BEI sudah ketat memantau emiten. BEI juga menyediakan papan pemantauan khusus sebagai salah satu upaya melindungi investor. Pengamat Pasar Modal & Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menilai, jika kriteria emiten bermasalah diperluas, misalnya emiten saham yang masih rugi,  jumlah emiten bermasalah, bisa lebih banyak. "Bisa ada dua dari lima saham di BEI bermasalah," kata dia ke KONTAN, Kamis (1/2). Artinya, 40% emiten di bursa masuk kategori yang disebut oleh Teguh. Teguh mencermati permasalahan muncul karena persyaratan IPO semakin mudah. Alhasil, perusahaan yang kinerjanya kurang bagus dan tidak menerapkan GCG bisa mudah masuk ke BEI. Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, juga berpendapat bahwa BEI masih mengejar emiten IPO daripada meningkatkan kualitas kinerja dari perusahaan tercatat.

Goto Siap Buyback Saham

KT1 01 Feb 2024 Investor Daily (H)
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham, seiring dengan arah profitabilitas dan perbaikan arus kas perusahaan. Langkah strategis  tersebut ditempuh setelah emiten teknologi ini merampungkan mega transaksi senilai Rp33 triliun dengan TikTok Pte Ltd, perusahaan platform entertainment global asal China. Direktur Utama Group Go To Patrick Walujo mengatakan, pihaknya telah menyelesaikan transaksi kerja sama dengan TikTok, yang akan terus memberikan manfaat kepada Indonesia dengan para pelaku UMKM. Ini juga merupakan langkah besar bagi Grup Go To. 

Setelah berhasil mencapai EBITDA yang disesuaikan positif  pada kuartal IV-2023, perusahan  mengakselerasi pertumbuhan, salah satunya melalui dukungan dan kerja sama dengan ekosistem mitra bisnis Go To. "Seiring dengan arah profitabilitas dan perbaikan arus kas GoTo, perusahaan akan mengoptimalkan  penggunaan modal dan sedang menyusun rencana alokasi modal ke depan. Rencana tersebut mencakup beberapa inisiatif, termasuk kemungkinan  dilakukannya buyback saham, di mana hal ini akan bergantung pada persetujuan regulator dan pemegang saham," kata Patrick Walujo. (Yetede)

Saham Astra Internasional Bangkit

KT1 31 Jan 2024 Investor Daily (H)
Saham PT Astra Internasional  Tbk (ASII) menguat (rebpund)  170 poin (3,45%) ke posisi Rp5.100 pada Selasa (30/10/2024), setelah mengalami tren penurunan sejak awal tahun ini. Penguatan itu disebut analis berpotensi menjadi momentum kebangkitan bagi saham raksasa otomotif Tanah Air ini untuk menuju Rp 7.000. Apalagi, harga saham ASII saat ini terbilang sudah sangat murah, dengan PER 6X dan PBV di bawah 1x. "Rebound hari ini bisa saja menjadi titik balik. Momentum kenaikan sudah dekat. Begitu laporan keuangan keluar, investor sudah bisa menghitung dividen yang akan dibagi Astra. Target ASII akan menuju Rp7.000, untuk selanjutnya ke Rp7.500," kata Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe kepada Investor Daily, Selasa (30/1/2024). Kiswoyo menambahkan, isu skandal mesin diesel kendaraan Toyota (Hilux, Fortuner, Innova) tidak berdampak signifikan terhadap ASII. "Tidak ada pengaruhnya ke Astra. Kontribusi jenis kendaraan itu ke penjualan Astra juga kecil. Buktinya, saat isu mesin diesel itu mengemuka hari ini, sahamnya justru rebound," tutur dia. (Yetede)

Kinerja Operasional Sejumlah Emiten Sawit Tumbuh Positif

HR1 31 Jan 2024 Kontan
Sejumlah emiten kelapa sawit mencatat kinerja operasional yang positif sepanjang tahun 2023. Tren tersebut ditargetkan bakal berlanjut pada tahun ini. Salah satunya PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) yang mencatatkan produksi minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) sebesar 48.663 ton di tahun 2023. Realisasinya melonjak 36,31% dari produksi CPO CSRA tahun lalu yang tercatat 35.701 ton. Sekretaris Perusahaan CSRA Iqbal Prastowo mengakui, produksi tandan buah sawit (TBS) CSRA turun 1,86%, dari 342.001 ton pada 2022 menjadi 335.654 ton di tahun 2023. Penurunan produksi TBS tersebut diakibatkan pembukuan dari produksi pabrik kelapa sawit CSRA yang kedua hanya tercatat beberapa bulan saja. Tak mau kalah, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) juga mencatatkan kenaikan produktivitas CPO sebesar 3,5% secara tahunan atau year on year (yoy). Presiden Direktur DSNG Andrianto Oetomo menjelaskan kenaikan itu didorong oleh membaiknya produktivitas kebun dan pabrik mereka sepanjang 2023. Sayang, Andrianto tidak merinci lebih lanjut besarannya. “Perbandingan produksi TBS pada semester pertama dan kedua 2023 adalah sebesar 46% banding 54%,” ungkapnya dalam rilis, Selasa (30/1). Sementara CSRA tahun ini menargetkan produksi TBS sebesar 400.000 ton dan  CPO ditargetkan sebesar 60.000 ton. Untuk produksi palm kernel ditargetkan sekitar 15.000 ton di tahun 2024.

Dana Asing Bersiap di Depan Pintu BEI

HR1 31 Jan 2024 Kontan
Potensi penurunan suku bunga global diproyeksi berlangsung tahun ini. Jika hal tersebut terjadi, diprediksi bakal mendorong migrasi dana investasi milik pemodal asing. Dus, Indonesia sebagai salah satu emerging market diyakini bakal  menjadi pasar potensial bagi asing. Head of Equity Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer menjelaskan secara historis satu sampai tiga bulan setelah The Fed mengerek suku bunga, pasar keuangan Amerika Serikat (AS) baik surat utang dan saham akan diuntungkan. Namun 12 bulan sejak terakhir kali The Fed menaikkan suku bunga, pasar ekuitas di kawasan emerging market bakal merekah jika dibandingkan dengan pasar ekuitas di negara-negara maju. Adapun Mandiri Sekuritas memproyeksikan The Fed bisa tiga sampai empat kali memangkas bunga acuan, dimulai pada Mei 2024. Secara keseluruhan, The Fed berpotensi menurunkan suku bunga sebesar 125 basis poin (bps). Nah, dari sisi valuasi price to earning (P/E), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tergolong murah. Kemudian dari sisi pertumbuhan laba bersih para emiten juga masih berpotensi tumbuh. Joezer menilai valuasi IHSG masih masuk akal. Dalam hitungan Mandiri Sekuritas, P/E IHSG di 2024 berada di level 13,8 kali. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas memasang target IHSG berada di level 8.100 akhir tahun ini. Level tersebut bakal tercapai jika Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga dan kepastian hasil pemilu sudah terlihat. Head of Research Team Mirae Asset Sekuritas Robertus Hardy pun sepakat jika valuasi IHSG masih tergolong lebih rendah, jika dibandingkan dengan emerging market lainnya seperti India. "Meskipun punya risk-free rate yang sama dan profitabilitas yang hampir sama tetapi valuasinya masih lebih rendah," kata dia.

Harum Energi Akuisisi 60% Saham Westrong Rp3,4 Triliun

KT1 30 Jan 2024 Investor Daily (H)
PT harum Energy Tbk (HRUM) melalui anak usahanya, PT Harum Nickle Industry (HNI) mengakuisisi 1,21 juta saham atau mewakili 60,7% saham PT Westrong Metal Industry (WMI) senilai US$ 215 jta (setara Rp3,4 triliun) dari Prime Investment  Capital Limited (PICL) dan Walsin Singapore Pte Ltd (WS). Transaksi ini sekaligus  menempatkan HRUM  sebagai  pengendali WMI dengan kepemilikan sebanyak 80,7% dari sebelumnya 20% saham.  WMI merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pengolahan dan pemurnian nikel di Weda bay Industrial Park, Maluku Utara. Smelter ini mempunyai empat  lini rotary kiln eletric furnace dengan prasarana pendukung dan fasilitas konverter untuk menghasilkan  produk high-grade nikle-matte berkapasitas  produksi terpasang tahunan sebesar 56.000 ton nikel yang terkandung dalam produk high-grade nickle-matte. Saat ini, proyek WMI memasuki tahap akhir  konstruksi dan ditargetkan  dapat memulai operasi komersial pada kuartal II-2024. (Yetede)

INPP Membidik Pertumbuhan Pendapatan Hingga 30%

HR1 30 Jan 2024 Kontan
Ekonomi yang tengah tumbuh menyebabkan bisnis properti semakin menggeliat. Maka, PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) menargetkan pendapatan bisa tumbuh di rentang 20% hingga 30% tahun ini. Target tersebut menurut Direktur Keuangan INPP, Surina berdasarkan atas sejumlah asumsi. Seperti pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan masih tumbuh kisaran 5%, "Namun kami tetap mewaspadai inflasi hingga kebijakan suku bunga,” terang Surina, dalam paparan publik, Senin (29/1). INPP juga mewaspadai sentimen geopolitik dari luar negeri, mengingat ada sekitar 25 pemilihan umum di berbagai negara pada tahun ini. Presiden Direktur INPP, Anthony Prabowo Susilo menambahkan, industri pariwisata dalam negeri yang mulai tumbuh menjadi angin segar bagi INPP. Maklum, emiten ini mempunyai sejumlah hotel serta pusat perbelanjaan. Anthony memproyeksi, kuartal pertama 2024 akan menjadi musim kunjungan yang rendah (low season). Kuartal pertama biasanya hanya menyumbang 18% dari  pendapatan INPP setiap tahun. Surina membeberkan alasan Bandung dan Semarang dipilih sebagai lokasi ekspansi INPP. Di Bandung, permintaan pelanggan ritel INPP untuk ekspansi cukup tinggi. Ditambah tingkat kunjungan mal di Bandung cukup tinggi, terlebih di akhir pekan. Untuk menunjang ekspansi bisnis tahun ini, INPP akan menggelontorkan belanja modal sekitar Rp 1 triliun. Porsi terbesar akan dialokasikan untuk sektor komersial dengan adanya proyek di Semarang dan Bandung.

Laba Kuat Meski Tumbuh Melambat

HR1 30 Jan 2024 Kontan

Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil menuai laba jumbo sepanjang tahun lalu. Tapi tak dipungkiri, perlambatan laju pertumbuhan kinerja BBCA masih akan terjadi pada tahun ini. Tahun lalu, emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia itu mencetak pertumbuhan laba bersih 19,4% menjadi Rp 48,6 triliun. Tapi, pertumbuhan laba BBCA melambat jika dibandingkan tahun 2022 yang naik hingga 29,6% secara tahunan. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, melambatnya pertumbuhan BBCA disebabkan beban operasional naik hingga Rp 5 triliun atau 5,45% dari 2022. Sehingga tetap ada potensi perlambatan pertumbuhan BBCA pada tahun ini. Oleh karena itu, Nico memperkirakan, tahun ini BBCA tetap melanjutkan kinerja apiknya. Potensi penurunan tingkat suku bunga Federal Reserve berpeluang mendorong peningkatan kredit. Aktivitas transaksi juga bakal naik akibat pertumbuhan daya beli dan konsumsi dari pemilu. Analis Senior Sucor Sekuritas, Edward Lowis juga memperkirakan, kinerja laba bersih BBCA hanya akan tumbuh 12% pada 2024 menjadi Rp 54,39 triliun.

"Kami mengantisipasi peningkatan pendapatan bunga dengan peningkatan imbal hasil aset," katanya. BBCA juga akan menyesuaikan suku bunga kredit sebesar 25-50 basis poin tahun ini setelah mempertahankannya selama kenaikan suku bunga baru-baru ini. Net interest margin (NIM) secara konservatif diproyeksikan stabil di level 5,5%-5,6%. Di sisi lain, kualitas aset secara keseluruhan diproyeksikan akan membaik lebih lanjut dengan rasio kredit berisiko (LAR) kemungkinan menurun menjadi 4%-6% dibanding tahun 2023 sebesar 6,9%. Edward mengatakan, perbaikan ini memungkinkan BBCA mempertahankan biaya kredit rendah pada 30-40 bps karena cakupan LAR tetap pada 70% di tahun 2023. Analis BRI Danareksa, Victor Stefano mengatakan, proyeksi kinerja BBCA masih sejalan dengan perkiraannya. "Namun, kami memangkas estimasi laba BBCA tahun 2024 sebesar 3% karena biaya yang lebih rendah dari perkiraan di tahun 2023," katanya dalam riset Senin (29/1). Kendati begitu, Victor memperkirakan kinerja BBCA akan tetap tumbuh. Laba bersih BBCA diperkirakan menyentuh angka Rp 58,09 triliun atau naik 9,64% yoy tahun ini.Pertumbuhan kinerja BBCA didorong dari penyaluran kredit. Tahun 2023, pertumbuhan kredit BBCA mencapai 13,9%, lebih tinggi dari rata-rata industri sebesar 10%.

Nasib Saham Emiten Nikel di Tengah Ancaman Baterai LFP

KT1 29 Jan 2024 Investor Daily (H)
Komoditas nikel sebagai bahan baku utama pembuatan kendaraan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berjenis Nickle Cobalt Manganese (NMC) menghadapi tantangan berat, dengan makin berkembangnya beterai alternatif berbasis tanpa nikel, Lithium Ferro Phosphate (LFP). Popularitas LFP yan terus menanjak dikhawatirkan berdampak pada performa saham emiten-emiten penambang bijih nikel, diantaranya PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Vale Indonesia Tbk (VALE), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MDKA), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickle. Tim analis Indo Primier Sekuritas yang terdiri dari Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan dalam risetnya menyebutkan bahwa kemajuan teknologi baterai seperti LFP, Lithium Manganese Ferro-Ion (Na-Ion) terus menimbulkan risiko terhadap kelangsungan baterai berbasis nikel untuk kendaraan listrik. (Yetede)

Terganjal Pemulihan Ekonomi AS

KT1 29 Jan 2024 Investor Daily (H)
Reli Indeks  Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berlangsung sejak November 2023 terganjal oleh pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS)  yang melampui prediksi. Pada pekan lalu, IHSG terpangkas 1,25% ke level 7.137, sedangkan market cap terkikis 0,65% menjadi  Rp11,345 triliun dari Rp11.420 riliun. Selama Januari 2024, indeks turun 1,87%, dibandingkan  sepanjang 2023 yang tumbuh 6%. Tren ini diprediksi terus berlanjut dalam   beberapa bulan kedepan . Alasannya, perbaikan ekonomi AS, yang terlihat pada kuatnya pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja bisa membuat rencana penurunan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) mundur dari Maret 2024 menjadi semester II. Keadaan ini membuat indeks AS menguat, sehingga rupiah terpukul. Sementara itu, imbal hasil (yield) US Treasury (UST) seri banchmark 10 tahun kembali menembus level 4%. (Yetede)