Saham
( 1736 )DIVESTASI VALE INDONESIA : Harga Khusus Saham INCO untuk Pemerintah
PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) selangkah lebih dekat untuk mendapatkan izin usaha pertambangan khusus sebagai pengganti kontrak karya, setelah menyepakati harga divestasi 14% sahamnya kepada PT Mineral Industri Indonesia (Persero).Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif membeberkan, PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID telah mencapai kesepakatan dengan INCO mengenai harga untuk 14% yang akan didivestasikan oleh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tersebut. Meski belum secara gamblang menyampaikan harga per lembar saham INCO yang disepakati dalam salah satu proses untuk tetap bisa beroperasi di Indonesia, Arifin memastikan bahwa harga yang akan dibayarkan MIND ID nantinya di bawah harga pasar saat ini.
“Sudah deal atas harganya. Sesuai dengan proporsi saham yang dilepas. Kepalanya tetap Rp3.000 [per saham],” katanya, Jumat (16/2).
INCO memang tengah menyelesaikan proses divestasi 14% kepemilikan saham Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd kepada MIND ID yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN) holding pertambangan.
Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Axell Ebenhaezer menilai harga divestasi INCO di sekitar Rp3.000 tergolong cukup murah jika dibandingkan dengan nilai pasar saat ini.
Harga divestasi yang berada di bawah harga pasar atau harga diskon memberikan sentimen negatif bagi saham INCO. Axell mengatakan, kemungkinan saham INCO akan tertekan, karena harga divestasi ini dapat dianggap sebagai implied fair value atau nilai wajar untuk saham INCO.
Pada penutupan perdagangan kemarin, saham INCO bergerak di jalur merah dan parkir di level Rp3.690 per saham. Posisi ini tergerus 7,75% atau 310 poin dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di level Rp4.000.
Divestasi Vale Indonesia Ditargetkan Tuntas Pekan Depan
Saham-saham Bank Catat Rekor
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG masih melanjutkan
kenaikan seusai pemungutan suara 14 Februari 2024. Emiten keuangan menjadi
salah satu sektor yang menunjukkan penguatan harga saham. Namun, situasi ini
patut diwaspadai karena investor domestik rawan melakukan aksi jual saham. IHSG
kembali menguat pada perdagangan Jumat (16/2) ditutup di posisi 7.335 atau naik
0,44 % dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya di posisi 7.303. Tren
kenaikan berlanjut meskipun tidak setinggi kenaikan pada Kamis (15/2) ketika
IHSG sempat meroket ke posisi 7.322 atau naik 1,57 % dibandingkan perdagangan
sehari sebelum libur pemilu, Selasa (13/2). Emiten keuangan menjadi salah satu
sektor penopang penguatan tersebut dua hari terakhir.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyentuh harga saham
tertinggi (all time high/ATH) Rp 10.000 pada hari ini, saham PT Bank Negara Indonesia
Persero Tbk (BBNI) juga menyentuh harga ATH setidaknya dalam lima tahun
terakhir hingga Rp 6.000. Dari perbankan swasta, ada Bank CIMB Niaga Tbk yang
juga mencapai harga ATH Rp 2.020. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana,
mengatakan, saham emiten dalam indeks IDX Financial secara teknikal masih
berada pada fase tren kenaikan harga. ”Secara sentimen, kami memperkirakan
menguatnya emiten perbankan dipengaruhi oleh rilis kinerja tahunan pada 2023
yang baik dan adanya rencana pembagian dividen,” ucapnya kepada Kompas. (Yoga)
Bank Muamalat Targetkan Penyaluran KPR Rp 5,3 Triliun
Telkom Terus Perkuat Bisnis Satelit
Melihat Isi Si Pendatang Baru Yang Kontroversial
Euforia Pemilu Berefek Sesaat
Hasil hitung cepat pemilihan presiden dan wakil presiden
menjadi sentimen positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa
Efek Indonesia, Kamis (15/2). Akan tetapi, sentimen ini diperkirakan hanya berdampak
sesaat. Fundamen perekonomian masih menjadi penentu. IHSG hari Kamis ditutup di
level 7.303,28 poin, tumbuh 1,3 % disbanding penutupan perdagangan Selasa (13/2),
sebelum libur pemilu. Namun, posisi itu melorot dari indeks di pembukaan perdagangan
yang sempat melonjak hingga 7.365,68 poin. Analis pasar Head of Research Mirae
Asset, Robertus Hardy, mengatakan, penurunan ini mengindikasikan investor segera
melakukan aksi ambil untung daripada membeli atau menahan sahamnya. Robertus
berpandangan, pemilu yang berlangsung pada Rabu (14/2) hanya merupakan sentimen
jangka pendek bagi IHSG yang menjadi indikator kinerja pasar saham.
”Kalau dilihat, kenaikan indeks saham hari ini (Kamis) tidak
setinggi yang diharapkan,” katanya. Ia membaca, kenaikan IHSG hanya terjadi
sesaat karena reli tidak berlanjut pada hari yang sama. Ini terlihat dari nilai
IHSG pada saat penutupan yang lebih rendah daripada di awal pembukaan
perdagangan. ”Kalau kenaikan harganya cukup kuat, biasanya ditandai dengan
kenaikan level penutupan yang lebih tinggi dari saat pembukaan,” ujar Robertus.
Sentimen positif pemilu ini ditopang oleh hasil hitung cepat berbagai survei
yang menunjukkan indikasi keunggulan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka,
yang mendapat dukungan lebih dari 50 % suara berdasarkan hasil hitung cepat,
mengungguli dua pasangan calon lain. Robertus mengingatkan, investor perlu mempertimbangkan
potensi perlawanan. Ditambah keprihatinan banyak kalangan akan pelanggaran
etika yang dianggap menyebabkan kemenangan pasangan calon tertentu. Jika ini
berkembang pascapemilu sampai timbul kekacauan publik, IHSG bisa anjlok. (Yoga)
Pasar Respons Positif Hasil Pemilu
Pemilu Menjadi Pintu Masuk Pulihnya Sektor Ritel
Adira Finance Incar Kredit Tumbuh 14%
Pilihan Editor
-
Industri Otomotif Banting Setir Buat Ventilator
09 Apr 2020 -
THR Wajib Dibayarkan
03 Apr 2020









