Saham
( 1717 )UNTR Makin Panas di Bisnis Panas Bumi
Aksi korporasi salah satu lini bisnis Grup Astra, yakni PT United Tractors Tbk di ranah energi baru terbarukan (EBT) masih terus berlangsung. Terbaru, perusahaan dengan kode saham UNTR ini menambah kepemilikan saham di perusahaan listrik panas bumi, yakni PT Supreme Energy Sriwijaya.
Dalam keterbukaan informasi, di Bursa Efek Indonesia (BRI) Selasa (19/12), UNTR mengumumkan amandemen terhadap rencana perjanjian pengambilan bagian alias
subscription agreement
atas saham Supreme Energy Sriwijaya oleh perusahaan terkendali milik UNTR. Perusahaan tersebut yakni PT Energia Prima Nusantara (EPN).
Pada 18 Desember 2023, Energia Prima Nusantara telah menandatangani amandemen terhadap subscription agreement dengan PT Supreme Energy dan PT Supreme Energy Sriwijaya. Ini terkait dengan perubahan rencana pengambil bagian saham.
Berdasarkan amandemen, Energia Prima Nusantara berencana akan mengambil bagian saham-saham baru dalam Supreme Energy Sriwijaya sebanyak 984.127 saham baru.
Nilai tersebut setara dengan 49,6% dari total saham yang dikeluarkan oleh Supreme Energy Sriwijaya kepada Energia Prima Nusantara. Adapun total nilai keseluruhan dari pengambil bagian ini sebesar US$ 51,87 juta atau setara Rp 804,01 miliar.
Sara K. Loebis, Sekretaris Perusahaan United Tractors menyatakan, penambahan saham Supreme Energy Sriwijaya diputuskan berdasarkan pertimbangan bisnis. Yakni untuk meningkatkan keterlibatan United Tractor di bisnis listrik panas bumi alias geotermal.
Adapun akuisisi ini menandakan masuknya UNTR ke bisnis panas bumi, sekaligus melebarkan sayap UNTR ke bisnis non batubara. Supreme Energy Sriwijaya merupakan salah satu pemegang saham PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD). Ini adalah perusahaan pemegang izin panas bumi dengan kapasitas 2 x 49 megawatt (MW) yang telah beroperasi. Lokasinya berada di Kabupaten Lahat, Kota Pagar Alam dan Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatra Selatan.
ATURAN FREE FLOAT : RACIK TAKTIK TAMBAH SAHAM PUBLIK
Emiten perbankan yang belum memenuhi kewajiban pemenuhan porsi saham publik atau free float sebesar 7,5% ancang-ancang untuk menyesuaikan dengan regulasi tersebut. Berbagai strategi disiapkan agar porsi saham yang beredar makin besar dan likuid.
Ketentuan mengenai kewajiban perusahaan tercatat dapat memiliki saham free float paling sedikit 50 juta saham dan porsi 7,5% paling lambat 2 tahun sejak aturan diberlakukan pada 21 Desember 2021.Kendati demikian, otoritas bursa memberi kesempatan bagi emiten untuk mengajukan permohonan agar pemegang saham tertentu dapat dikategorikan sebagai pemegang saham free float, tetapi dengan ketentuan kepemilikan berupa portofolio investasi dengan penerima manfaat investor publik.Dari sisi pergerakan harga saham sepanjang tahun berjalan, emiten perbankan yang bakal memenuhi ketentuan pemenuhan saham publik sebesar 7,5% mencatatkan performa yang kurang apik.Hanya saham PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) yang harga sahamnya sepanjang tahun berjalan bergerak naik lebih dari 40%.
Menurut Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, pihaknya sedang menjalankan tahapan pemenuhan ketentuan free float sesuai dengan arah dari regulator.
Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Compliance Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga Fransiska Oei menuturkan bank sedang dalam proses memenuhi ketentuan tersebut dengan menggelar private placement. Aksi private placement tersebut direncanakan sebanyak-banyaknya 10,59 juta saham dengan nilai nominal sebesar Rp50 per saham. Sementara itu, PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) yang tengah berupaya untuk memenuhi ketentuan free float, bakal mengalami perubahan komposisi pemegang saham.Direktur Kepatuhan Bank Oke Efdinal Alamsyah menyatakan pemegang saham pengendali yakni APRO Financial Co. Ltd. sudah berbicara dengan beberapa investor potensial, yang tertarik untuk membeli sebagian saham dari pengendali.
Menurutnya, transaksi jual-beli saham DNAR itu akan dilaksanakan pada akhir tahun ini.
Sementara itu, PT Bank BTPN Tbk. (BTPN) melaporkan telah memenuhi ketentuan free float 7,5% saham publik menyusul Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) melepas kepemilikan sahamnya di BTPN sebanyak 200 juta lembar.Berdasarkan keterbukaan informasi pada Selasa (12/12), SMBC menjalankan transaksi pelepasan jumlah saham BTPN yang digenggamnya sebanyak 200 juta lembar dengan harga penjualan Rp2.600 per saham.
Alhasil, sebanyak 2,45% porsi saham SMBC di BTPN ini merosot seiring dengan upaya BTPN memenuhi ketentuan free float dari otoritas bursa.Demikain halnya dengan PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) yang melaporkan telah memenuhi porsi saham publik.Manajemen BNII melaporkan adanya transaksi penjualan kepemilikan saham UBS AG London sebanyak 13,95 miliar lembar saham dengan harga Rp252 per lembar kepada Multi Dynamic Fund, Global Agility Fund, dan Vital Solution Fund.
TANGKAP CUAN RELI SAHAM
Peluang cuan di pasar saham kian menjanjikan. Apalagi, pasar saham melaju di teritori hijau menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2024. Belakangan investor memang kembali berburu saham blue chips bervaluasi atraktif untuk mempercantik portofolionya sebelum tutup buku.Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,55% sepanjang 1-18 Desember 2023 dan parkir di level 7.119,52 pada Senin (18/12). IHSG kompak menghijau bersama sejumlah bursa utama dunia.Secara month-to-date (MtD), indeks Dow Jones naik 3,77%, S&P 500 menguat 3,31%, Nasdaq memantul 4,13%, dan FTSE 100 meningkat 2,03%. Kinerja positif juga dicetak indeks komposit di Asia, seperti Kospi 1,25%, PSEi Filipina 4,05%, dan FTSE Straits Time yang naik 1,31%.Penguatan pasar saham menjelang libur Natal dan Tahun Baru itu kerap dikaitkan dengan "Santa Claus rally" dan window dressing. Aksi itu biasanya dimotori oleh investor institusi yang memanfaatkan momentum akhir tahun untuk memoles kinerja portofolio efeknya dan memantik pandangan bullish para investor ritel.
Bursa Efek Indonesia mencatat sahamblue chips masuk dalam jajaran top leaders indeks komposit sepanjang bulan ini, seperti TPIA, BRPT, BBRI, TLKM, BBCA, ASII, dan BMRI. Tiga saham pendorong utama IHSG Desember, yakni TPIA yang melesat 72%, BRPT naik 40,2%, dan BBRI menguat 4,3%.Secara umum, Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas ChangKun Shin menuturkan pasar saham cenderung menguat pada kuartal IV. Kecenderungan itu juga terjadi pada tahun ini karena faktor peningkatan aktivitas perdagangan menjelang akhir tahun, meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi pada 2024, dan kecenderungan penarikan dana dari pasar saham untuk keperluan liburan.
Pendapat senada disampaikan Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus. Menurutnya, euforia mewarnai pasar saham pada akhir tahun ini. Meski begitu, arah IHSG tetap dibayangi kebijakan moneter The Fed, Bank of Japan, dan Bank Indonesia.Sinyal kuat Santa Claus rally juga diamini oleh Head of Research Team Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Hardy. Dia memperkirakan saham blue chipsberpotensi menjadi motor penguatan IHSG yang diteropong mampu menembus kisaran 7.200—7.300 pada akhir tahun ini.
Dari kacamata Mirae Asset Sekuritas, beberapa saham blue chips yang menarik untuk dicermati investor, yakni ASII, TLKM, EXCL, dan AKRA. ASII dinilai memiliki valuasi PER yang terus turun mendekati level Maret 2020, meskipun valuasi return on equity (ROE) merangkak naik.Robertus juga menilai harga saham dan valuasi TLKM juga membaik, serta rasio harga per nilai buku (price to book value/PBV) EXCL telah turun ke bawah satu kali.
Secara teknikal, Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora mengatakan pelaku pasar perlu mewaspadai adanya koreksi jangka pendek pada IHSG seiring dengan Santa Claus rally ini. Risiko koreksi akibat profi t taking diproyeksi bakal membayangi saham fenomenal seperti CUAN, BREN, TPIA, dan BRPT yang turut berkontribusi terhadap penguatan IHSG.
Uji Kemanjuran Resep Bisnis KLBF
Emiten saham farmasi, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), akan menghadapi sejumlah tekanan pada tahun depan. Kendati kasus Covid-19 kembali naik belakangan ini, peralihan dari pandemi menuju endemi tahun ini cukup signifikan mengurangi minat pasar terhadap produk-produk kesehatan. Senior Investment Information
Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta mengatakan, pandemi Covid-19 telah mendorong peningkatan permintaan obat-obatan terutama obat anti Covid-19. Di sisi lain, permintaan vaksin dan
<i>booster </i>
Covid-19 juga terangkat selama periode tersebut. Namun, setelah kondisi berubah menjadi endemi, masyarakat cenderung tidak bergantung lagi terhadap produk kesehatan terkait pencegahan wabah Covid-19.
Analis Ciptadana Sekuritas Nicko Yosafat mengatakan, KLBF mencatatkan penurunan kinerja hingga ke bawah ekspektasi pasar. Angka yang lebih rendah dari perkiraan ini berkaitan dengan kenaikan biaya dan
operational expenditure
(opex).
Akibatnya, laba bersih KLBF turun 18,2% secara tahunan
year on year
(yoy) menjadi Rp 2,1 triliun di periode Januari-September 2023. Laba bersih KLBF tidak dapat mengikuti pendapatan yang masih naik 6,5% yoy menjadi Rp 22,6 triliun atau setara dengan 74,5% dari proyeksi pendapatan tahun 2023.
Namun demikian, Nicko melihat peluang kenaikan penjualan segmen obat resep KLBF, sejalan dengan diperolehnya izin edar Efesa, obat bioteknologi pertama di dunia untuk pasien anemia dengan penyakit ginjal kronis (CKD). Ini adalah peluang global karena CKD mendera lebih dari 10% populasi dunia pada tahun 2016.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto menilai kinerja KLBF di tahun depan akan bergantung pada pertumbuhan organik di segmen obat resep dengan produk onkologi atau biosimilar baru. Penjualan produk ini secara bertahap akan berkontribusi lebih tinggi terhadap KLBF.
Natalia pun merekomendasikan
hold
KLBF dengan target harga Rp 1.600 per saham seiring dengan prospek bisnis KLBF yang masih menantang.
Menangguk Cuan Saham di Akhir Tahun
Seperti halnya akhir tahun-tahun sebelumnya, kalangan analis makin mencermati dan terus membahas peluang terjadinya aksi window dressing emiten yang menjadi modal dasar bagi indeks harga saham gabungan untuk memperkuat tren perbaikan pada 2024.Bukan tanpa sebab. Harapan perbaikan prospek indeks tersebut sejalan dengan berkurangnya kekhawatiran terjadinya kenaikan suku bunga global di tengah tekanan geopolitik yang belum mereda. Begitu pula dengan tekanan yang berasal dari kenaikan harga minyak dunia yang berangsur menurun seiring dengan bertambahnya pasok dan stabilnya permintaan.Secara umum, aksi window dressing merupakan hal lazim dilakukan korporasi untuk mempercantik diri dengan cara memoles laporan keuangan agar terlihat lebih baik sebelum dipublikasikan. Adapun, tujuan window dressing ini bertujuan untuk memberikan headlightatas hasil bisnis yang lebih menjanjikan.Strategi window dressing tersebut merupakan tindak lanjut dari fenomena Santa Claus Rally atau Reli Sinterklas yang menggambarkan kondisi peningkatan nilai pasar saham selama pekan terakhir bulan Desember. Bahkan tanda-tanda penguatan itu bisa saja terjadi jauh sebelum itu seperti halnya yang terjadi pada laju IHSG saat ini.
Beberapa analis melihat Santa Claus Rally sebagai preview kinerja pasar selama setahun penuh pada berikutnya. Optimisme bullish menunjukkan kepercayaan investor serta ekspektasi yang kuat atas prospek pasar. Meskipun asumsi ini masih harus dibuktikan kebenarannya, peluang indeks untuk berkinerja lebih baik sangat beralasan apalagi The Fed telah mengisyaratkan untuk memangkas suku bunga sebanyak tiga kali di tahun depan.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan pada November 2023 mencapai 2,86% atau berada dalam kisaran 3% ± 1%. Level inflasi yang relatif rendah ini menunjukkan harga komoditas pangan dalam negeri yang masih stabil dan dalam kendali.Realisasi inflasi yang stabil ini merupakan bekal kuat bagi Tanah Air untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Tingkat inflasi terkendali menjadi salah satu faktor penting bagi laju ekspansi konsumsi yang menjadi salah satu penggerak produk domestik bruto.Selain itu, Purchasing Managers Index manufaktur yang berada dalam level ekspansif, belanja masyarakat yang meningkat serta indeks penjualan riil yang tumbuh.
Bullish IHSG yang dimaksud jika AS dipastikan tidak mengalami resesi, harga komoditas turun lebih dalam, perekonomian Indonesia masih tumbuh di atas 5% serta presiden terpilih sesuai dengan keinginan pelaku pasar.Alhasil, potensi window dressing atau Santa Claus Rallymembuka kesempatan bagi para investor kembali berburu saham-saham unggulan. Sejumlah analis memperkirakan saham-saham blue chips dengan valuasi terdiskon menarik untuk dicermati.
Sektor Saham Barang Baku Masih Jitu
Emiten sektor barang baku menantikan prospek perekonomian yang lebih baik di tahun 2024. Perputaran roda ekonomi diharapkan meningkatkan lagi pemintaan bahan-bahan mentah. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengamati, sampai saat ini masih belum ada sentimen benar-bener kuat dalam menopang kinerja emiten barang baku, terutama emiten tambang logam. Seperti diketahui, industri logam masih menunggu pemulihan ekonomi China yang relatif lambat sehingga berdampak pada rantai industri manufaktur. Sebagai salah satu konsumen terbesar, permintaan China berdampak bagi tingkat harga komoditas tambang semacam nikel, tembaga dan timah. Situasi ini ikut menahan ketertarikan investor terhadap saham-saham yang ada di sektor barang baku seperti saham tambang logam seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Timah Tbk (TINS). Namun, Miftahul mencermati bahwa saham sektor barang baku tak sepenuhnya suram. Ada segmen bisnis yang dinilai punya kinerja apik seperti pada emiten semen.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi menilai, penurunan harga komoditas yang masih terjadi akan berdampak pada kinerja emiten pertambangan logam. Harga nikel global kemungkinan akan tetap tertekan pada tahun 2024 - 2025 karena melimpahnya pasokan, terutama dari Indonesia akibat peningkatan kapasitas smelter nikel di Indonesia. Saat ini, Samuel Sekuritas menyukai emas sejalan dengan sikap The Fed yang kurang
hawkish
dan akan berefek pada pelemahan dollar AS. Ketidakpastian global setelah perang Israel-Hamas mungkin juga akan mendorong investor untuk beralih ke aset
safe haven
seperti emas.
Di sisi lain, kondisi manufaktur Indonesia saat ini terpantau sedikit membaik pada November 2023, setelah dua bulan berturut-turut melemah. Meningkatnya aktivitas manufaktur artinya bisa mengangkat permintaan barang baku.
S&P Global mencatat,
Purchasing Manager's Index
(PMI) Manufaktur Indonesia pada November 2023 berada di level 51,7. Angka ini naik 0,2 poin dibandingkan dengan Oktober 2023 yaitu 51,5. Secara teknikal, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengamati, pergerakan sektor saham barang baku yang tercermin dari IDX Basic Materials masih berada pada fase
uptrend
di tahun ini. Meskipun terjadi koreksi pada semester pertama 2023.
Sebagai informasi, sektor saham barang baku terdiri dari perusahaan yang menjual produk atau jasa yang nantinya digunakan industri lain sebagai bahan baku untuk memproduksi barang jadi. Contohnya, perusahaan yang memproduksi barang kimia, material konstruksi, kemasan, wadah, pertambangan logam atau mineral non-energi, serta produk kayu dan kertas.
Menurut Herditya, emiten sektor ini yang dapat dicermati adalah ANTM, MDKA, serta SMGR. Sedangkan Miftahul merekomendasikan beli SMGR dan INTP dengan target harga masing-masing di Rp 8.000 dan Rp 12.905.
Ekonomi Jadi Kunci Emiten Multisektor
Ekonomi yang tumbuh menjadi barometer emiten multisektor bisa melaju. Ekonomi 2024 yang bisa tumbuh menjadi katalis penting bagi emiten multisektor.
Tira Ardianti, Kepala Hubungan Investor PT Astra International Tbk (ASII) menyatakan, Grup Astra memiliki berbagai bisnis yang kinerja dan prospeknya dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya pertumbuhan ekonomi.
"Kami berharap, ekonomi Indonesia bertumbuh dengan baik pada 2024 yang bisa mendukung kinerja bisnis Astra," katanya kepada KONTAN, Minggu (17/12).
Tira menyebutkan, selama ini ASII sudah melakukan beberapa aksi korporasi. Seperti melakukan akuisisi Bank Jasa Jakarta untuk mendukung ekosistem jasa keuangan dengan layanan digital yang disebut Bank Saqu.
"Kami senantiasa menjajaki peluag-peluang bisnis untuk memperkuat dan keberlanjutan bisnis Astra," tambahnya.
Tak mau ketinggalan, PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) bersiap mengembangkan unit-unit usahanya di tahun 2024. Seperti di industri komponen otomotif, industri baju, konstruksi bangunan ramah lingkungan.
"Hingga pengembangan sektor energi baru terbarukan termasuk elektrifikasi transportasi," kata Direktur BNBR, Roy Hendrajanto M. Sakti ke KONTAN (15/12).
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi melihat, kinerja emiten holding pada tahun 2024 justru tumbuh melambat. Penyebabnya harga komoditas energi moderat. Kondisi ini mempengaruhi lini sektor pertambangan.
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division
, Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan sependapat sentimen domestik dan global bisa mempengaruhi kinerja emiten multisektor.
Ia merekomendasikan
buy
ASII di Rp 8.000, ABMM di harga Rp 2.500-Rp 3.000 dan BMTR di harga Rp 1.000-Rp 1.200.Oktavianus hanya merekomendasikan
buy
ASII di harga Rp 6.350.
Window Dressing & Isu Merger Menyetir Saham BUMN Karya
Saham sejumlah emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya masih fluktuatif. Menurut data RTI, saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI) naik 4,85% pada hari Kamis lalu dibandingkan sehari sebelumnya. Meski pada Jumat (15/12) turun lagi 1,73% ke Rp 340 per saham.
Saham PT PP Tbk (PTPP) juga naik 4,85% pada hari Kamis lalu. Lalu melorot 1,85% pada Jumat (15/12) ke Rp 530 per saham. Saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga tercatat naik 24,10% pada perdagangan Kamis (14/12), sebelum turun 0,83% ke posisi Rp 240 pada Jumat lalu. Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, kinerja saham BUMN karya pada akhir tahun kemungkinan disebabkan
window dressing.
Kinerja BUMN Karya dalam waktu dekat juga berpeluang positif lantaran ada Penyertaan Modal Negara (PMN). Berkat injeksi negara, arus kas mereka sedikit membaik.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan, kenaikan harga saham emiten BUMN karya juga didorong oleh spekulasi merger antar BUMN karya.
Meski begitu, Azis menilai kinerja emiten BUMN Karya pada tahun depan masih tertekan. Apalagi liabilitas emiten pelat merah itu masih tinggi. Alhasil, Azis dan Budi belum memberikan rekomendasi ataupun proyeksi terhadap saham BUMN karya.
Mengejar Peluang Cuan Sebelum Tutup Tahun
Masih ada dua pekan lagi sebelum tahun berganti. Investor masih berkesempatan menjaring cuan dan menunggangi potensi kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sisa tahun.
Akhir pekan lalu, IHSG bertengger di level 7.190,98 atau posisi tertinggi sepanjang tahun ini. Jika dihitung sejak awal 2023, IHSG menguat sebesar 4,97%, level penguatan tertinggi nomor dua kawasan ASEAN. Nikkei menjadi jawara di Asia.
Serbuan investasi Berkshire Hathaway, kendaraan investasi Warren Buffett, ke Jepang, menambah daya tarik bursa saham Jepang di mata investor global.
Financial Expert
Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati, penguatan IHSG didorong katalis global yang relatif kondusif. Ratih menyoroti bank sentral negara maju mulai menahan suku bunga, bahkan berpotensi memangkas suku bunga tahun depan.
Investor asing kembali ke pasar ekuitas domestik, menyusul sinyal
dovish
bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang berpotensi memangkas suku bunga 75 basis poin (bps) pada tahun depan.
Head of Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Martha Christina sepakat, IHSG berpeluang menguat. Tapi, Martha memperkirakan penguatan IHSG sudah terbatas. Dua pekan terakhir ini sudah minim sentimen yang bisa mendongkrak pasar.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana turut memperhitungkan, IHSG menuju 7.200-7.250 di akhir tahun. Sentimen pengiringnya adalah rilis data ekonomi di AS dan China, serta arah suku bunga acuan dalam RDG BI.
Senior Equity Analyst
Phillip Sekuritas Indonesia, Helen Vincentia menambahkan, pergerakan harga komoditas dunia di akhir tahun turut menjadi katalis penting bagi IHSG. Selain itu, investor memperhatikan perkembangan politik dalam negeri pada masa kampanye pemilu.
Helen melihat, saham di sektor infrastruktur, properti dan bank masih punya prospek apik. Pilihan Helen adalah PGEO, CTRA, SMRA, serta empat bank
big caps
BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI. Helen juga melirik saham ASII.
Martha turut melirik saham bank dan sektor infrastruktur. Ia menyematkan strategi
buy
atau
hold
saham BBCA, BMRI, TLKM dan JSMR.
Secara teknikal, Herditya menyodorkan tiga saham. Meliputi ANTM, ERAA, dan ITMG. Sedangkan Ratih menyoroti
capital inflow
mengalir, sehingga berpotensi
window dressing
pada
big caps
akan terakselerasi.
Saham-Saham Blue Chip Yang Sip
Saham-saham emiten papan atas alias
blue chip
mulai kembali bangkit. Hal itu tercermin dari pergerakan indeks paling likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakn indeks LQ45.
Sepanjang tahun ini, indeks LQ45 menguat 2,22% ke level 957,97 per Jumat (15/12). Namun laju indeks LQ45 masih di bawah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sepanjang tahun ini menguat 4,97%.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan laju IHSG lebih tinggi ketimbang LQ45.
Terlihat dari pergerakan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melesat hingga puluhan persen sejak listing di bursa. Apalagi BREN sudah melesat 848,72% ke level Rp 7.400. Walhasil, kapitalisasi pasar BREN sempat nyaris menyalip BBCA. Nico mengatakan, dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di BEI, BREN mampu menyetir pergerakan IHSG dan saham-saham penggerak itu yang tidak ada di LQ45.
"Saat ini pasar lebih sehat karena memegang
blue chip
," kata Adi Wicaksono, Retail Analyst Maybank Sekuritas.
Robertus Hardy,
Head of Research
Mirae Asset Sekuritas melihat, IHSG berpeluang mengalami
window dressing
atau
Santa Claus Rally
terutama pada beberapa saham blue chip. Dan saat ini masih ada sejumlah saham unggulan yang masih memiliki valuasi cukup menarik untuk dilirik.
Saham pilihan Nico yakni BBCA, target Rp 10.327, BBRI di Rp 6.350 dam BBNI di Rp 5.751. Sementara target BMRI di Rp 6.802, AMRT di Rp 3.389, INDF di Rp 8.178 dan ICBP Rp 13.620.
Pilihan Editor
-
India Turunkan Bea Masuk Kelapa Sawit
30 Jan 2020 -
Risiko Global Bertambah
29 Jan 2020 -
Industri Terbelit Masalah
29 Jan 2020









