;
Tags

Saham

( 1717 )

KILAU SAHAM ENERGI HIJAU

HR1 09 Dec 2023 Bisnis Indonesia (H)

Tingginya gairah investor terhadap emiten-emiten sektor energi baru terbarukan atau EBT di pasar modal menjadi sinyal positif yang patut disyukuri. Sebab, dukungan investor menjadi prasyarat penting bagi terwujudnya visi pemerintah untuk beralih ke energi bersih. Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo turut semringah ketika harga saham emiten EBT di pasar modal melesat akhir-akhir ini, yakni PT PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO). Bahkan, kemarin saham BREN sempat melesat ke level Rp8.175 sehingga menjadikan nilai kapitalisasi pasarnya mencapai Rp1.094 triliun. Lonjakan tersebut menjadikan BREN sempat menyentuh tahta emiten dengan nilai market cap terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalahkan penghuni lama yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang turun ke Rp1.078,66 triliun. Namun, di akhir perdagangan, saham BREN kembali turun ke posisi Rp8.050 sehingga nilai kapitalisasi pasarnya menjadi Rp1.076,98 triliun. Dengan posisi tersebut, saham BREN tercatat sudah melesat 932% dibanding harga perdananya saat tercatat pada 9 Oktober 2023 lalu yang senilai Rp780. Sementara itu, saham PGEO naik 7,34% ke level Rp1.170 dalam sehari. Meski tidak setinggi BREN, dengan posisi tersebut, saham PGEO kini juga sudah naik cukup tinggi, yakni 34% dari harga IPO pada 24 Februari 2023 lalu yang sebesar Rp875. Lonjakan saham emiten EBT ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mencapai target bauran EBT sebesar 23% pada 2025 dan 31% pada 2050. Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas Changkun Shin mengatakan target tersebut menjadikan bisnis EBT prospektif baik untuk jangka pendek, menengah, maupun panjang. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan faktor lain yang menopang sektor EBT adalah tren pembiayaan hijau yang terus meningkat di kalangan perbankan. Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus belum merekomendasikan saham-saham EBT untuk jangka panjang. Dia mengimbau investor untuk tetap memperhatikan momentum dan rasionalitas. Sementara itu, baik BREN maupun PGEO pun telihat agresif dalam mengembangkan investasi mereka di sektor EBT. Kemarin, BREN mengumumkan anak perusahaannya yakni PT Barito Wind Energy telah mencapai kesepakatan secara prinsip dengan UPC Renewables Asia Pacific Holdings Pte. Ltd. dan ACEN Renewables untuk akuisisi 100% saham PT UPC Sidrap Bayu Energy (Sidrap). CEO Barito Renewables Hendra Tan mengatakan hal ini menandai awal dari jejak langkah BREN di bidang energi terbarukan selain panas bumi. Sementara itu, PGEO baru saja membentuk perusahaan patungan dengan Chevron New Energies Holdings Indonesia Ltd. (Chevron) untuk pengembangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Way Ratai, Lampung, yang akan dilaksanakan hingga 2028. Direktur Utama PGEO Julfi Hadi mengatakan perusahaan patungan tersebut adalah PT Cahaya Anagata Energy, dengan porsi kepemilikan PGEO sebesar 40%, sedangkan Chevron menggenggam 60%. “Semua ini berfokus dan sejalan dengan agenda pemerintah untuk mencapai net zero emission 2060,” ujar Julfi.

PENGUATAN MODAL FINTECH : OJK RESTUI PINJOL MELANTAI DI BURSA

HR1 09 Dec 2023 Bisnis Indonesia

Otoritas Jasa Keuangan merestui platform financial technology peer-to-peer lending atau pinjaman online melakukan initial public offering di Bursa Efek Indonesia untuk memperkuat permodalannya. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan bahwa penguatan permodalan di industri financial technology atau fintech peer-to-peer lending dapat dilakukan oleh pemegang saham. “Tidak ditutup kemungkinan melalui IPO di Bursa Efek Indonesia, dan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya, dikutip Jumat (8/12). Berdasarkan data OJK per 30 November 2023, masih terdapat 23 penyelenggara pinjaman online atau pinjol yang belum memenuhi ketentuan pemenuhan ekuitas minimum sebesar Rp2,5 miliar. Di sisi lain, Agusman menyebut bahwa sejauh ini belum ada pemain peer-to-peer lending yang mengajukan diri untuk melantai di Bursa. “Sampai dengan saat ini belum ada peer-to-peer lending yang melakukan IPO melalui bursa efek,” ujarnya. Dalam kesempatan terpisah, Edi Setijawan, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK mengatakan bahwa sejauh ini sebagian besar sumber pendanaan perusahaan fintech masih berasal dari investor korporasi, sehingga regulator mendorong pemain untuk meraih pendanaan dari investor ritel. “ we’ll see. Ada , we’ll see. Tergantung market-nya, karena kami maunya evaluasinya kami apa adanya,” kata Direktur Utama AdaKami Bernardino M. Vega beberapa waktu lalu. Meski demikian, Dino —panggilan akrabnya— enggan membeberkan kapan AdaKami akan melantai di pasar modal. Sebab, kata dia, untuk melantai di pasar modal memerlukan banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Berdasarkan catatan Bisnis, usai OJK mengumumkan induk usaha fintech PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran), PT Akselerasi Usaha Indonesia Tbk. (AKSL) telah mengantongi pernyataan pra-efektif per 27 Juni 2023, manajemen AKSL memutuskan untuk menunda IPO hingga Juni 2024. Saat itu, perusahaan menyatakan tengah menjalani proses penawaran umum perdana saham dan berencana untuk menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 9 Agustus 2023. Group CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan mengungkapkan bahwa penundaan IPO tersebut dikarenakan perusahaan membutuhkan waktu lebih panjang untuk mendapatkan strategic investor yang tepat untuk dapat mendukung rencana perusahaan di masa mendatang. Adapun, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebut industri fintech lending membutuhkan momentum agar dapat melantai di pasar modal. Momentum itu pun dapat terlihat dari sisi kualitas pinjaman fintech yang harus menunjukkan perbaikan.

Demi Diversifikasi, Semakin Rajin Akuisisi

HR1 08 Dec 2023 Kontan (H)

Sejumlah emiten konglomerasi lumayan sibuk melakukan akuisisi bisnis pada tahun ini. Para emiten ini merogoh kocek cukup dalam demi melakukan diversifikasi bisnis ataupun memperluas pangsa pasar. Tahun ini, konglomerasi yang paling gencar melakukan ekspansi bisnis adalah Grup Astra. Setidaknya, ada 10 target akuisisi yang dituntaskan oleh Grup Astra. Akuisisi dengan nilai paling besar dilakukan oleh PT United Tractors Tbk (UNTR). Sepanjang tahun 2023 ini saja, UNTR sudah mencaplok lima perusahaan, dengan nilai lebih dari Rp 14 triliun. UNTR masuk ke bisnis pertambangan dan pengolahan nikel, hingga bisnis pembangkit listrik panas bumi. Sekretaris Perusahaan UNTR, Sara K. Loebis mengatakan, UNTR masih membuka peluang untuk mencaplok tambang mineral lain, mengingat posisi kas UNTR yang melimpah. Kami masih terbuka untuk potensi akuisisi mineral lain, terang Sara kepada KONTAN, Kamis (7/11). Tak cuma Grup Astra, kong-lomerasi yang dikomandani taipan Prajogo Pangestu juga lincah melakukan akuisisi. Misalkan, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang mencaplok dua entitas usaha Krakatau Steel. Emiten batubara yang dikendalikan Prajogo, yakni PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga rajin belanja. CUAN mengumumkan niat masuk ke bisnis emas, pasir silika, hingga batubara kokas di tahun ini. Terkini, CUAN masuk ke bisnis kontraktor tambang dengan mengakuisisi sebagian saham PT Petrosea Tbk (PTRO). Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, Grup Barito dan Grup Indika menjadi dua teratas emiten konglomerasi yang banyak menyasar bisnis EBT. Dalam jangka pendek, bisnis EBT itu bagus dan menguntungkan, ujarnya kepada KONTAN, Kamis (7/12). Analis CGS-CIMB Sekuritas Handy Noverdanius menilai, Grup Astra nampak semakin fokus diversifikasi. Tapi dia punya catatan, berbagai akuisisi ini bisa menguras posisi kas UNTR ke level terendah dalam 10 tahun terakhir.

Saatnya Melirik Saham Lapis Dua dan Tiga

HR1 07 Dec 2023 Kontan (H)

Menjelang penghujung tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai tancap gas. Saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar memang masih menjadi pendorong utama pergerakan indeks. Tapi, saham lapis dua dan tiga juga terlihat mulai unjuk gigi. Kemarin (6/12), IHSG berhasil menembus level 7.140, kendati di akhir perdagangan terpeleset 0,19% ke posisi 7.087,39. Dengan posisi itu, IHSG sudah mencetak penguatan 3,46% year to date (ytd). Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menyoroti, pendorong IHSG dominan berasal dari saham baru yang harganya langsung melejit. Seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). BREN dan AMMN bahkan memimpin di posisi teratas. Sebaliknya, William memandang kontribusi saham-saham lapis kedua dan lapis ketiga terbilang mini. Equity Sales Jasa Utama Capital Sekuritas Alfredo Gusvirli mengamini hal itu. Menurut dia, kondisi ini juga menunjukkan saham lapis kedua dan ketiga cenderung sideways dalam memberikan kontribusi terhadap IHSG. William sepakat, saham-saham lapis kedua dan lapis ketiga yang pergerakannya masih tertinggal, justru berpeluang melaju. Apalagi, pelaku pasar mulai cenderung menghindari risiko mengejar saham-saham yang penguatannya sudah signifikan. Toh, cukup banyak saham blue chips anggota indeks LQ45 yang juga menjadi konstituen dari IDX SMC Liquid. Meski demikian, William menyarankan agar lebih cermat mengkombinasikan analisa teknikal dan menelaah kinerja keuangan terbaru. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengamati secara teknikal sejumlah saham di IDX SMC berpotensi menguat. Saham pilihannya adalah ANTM, ERAA, dan ADMR.

Pendapatan XL Axiata Bakal Tembus Rp 35 Triliun

KT1 07 Dec 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-PT XL Axiata Tbk (EXCL) diyakini bisa mencapai pendapatan hingga Rp 35 triliun pada tahun depan, seiring rencana perseroan mengonsolidasi 750 ribu  pelanggan milik PT Link Net Tbk (LINK) untuk mengakselerasi perubahan strategis menjadi serverCo dan FiberCo. Perolehan pendapatan tersebut  akan naik 10,79% dibanding proyeksi tahun ini yang sebesar Rp 32 tahun. "Konsolidasi basis pengguna Link Net dengan perjanjian grosir infrastruktur dan kemungkinan konsolidasi dengan PT Smartfren Telcom Tbk (FREN) akan meningkatkan potensi  pendapatan anorgenik perseroan," kata Senior Research Analist Mirea Asset Robertus Hardy dalam riset yang dikutip Rabu (6/12/20203). Robertus berpendapat, ke depan kinerja EXCL masih cukup tangguh dididukung dengan eskpansi dan inovasinya di bisnis fixed Broadband (FBB) dan IT Managed Service segmen melalui XL Home dan Hypernet. Karena itu, dirinya mempertahankan rekomendasi trending buy bagi saham  EXCL dengan target harga Rp2.450 atau menyiratkan 4,7x/4,2x rasio EV/EBITDA 23F/24F. "Nilai ini sedikit lebih rendah dibanding sebelumya Rp2.700  karena adanya  pemeringkatan ulang penilaian pasar secara  keseluruhan baru-baru ini akibat tingkat suku bunga yang lebih tinggi." ungkap dia. (Yetede)

2024, IHSG Tembus 8.000

KT1 06 Dec 2023 Investor Daily (H)
Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi naik kencang pada 2023 sehingga menembus level 8.000, dan berakhir di 8.050. Proyeksi selama 12 bulan ke depan tersebut bisa terealisasi apabila didukung sejumlah sentimen positif dari dalam dan luar negeri, sehingga IHSG memasuki tren bullish.  "Kalau resesi Amrika Serikat (AS) tidak terjadi, kemudian harga komoditas menurun dan ekonomi Indonesia tumbuh diatas 5%, serta presiden yang terpilih merupakan pilihan favorit, skenario IHSG adalah bullish dan bisa mengakhiri 2024 di anagka 8.050 denan asumsi 15,3x price to-earning ratio," kata Head of Institusional Reserach Sinarmas Sekuritas Isfhan dalam Monthly Market Outlook:Melihat peluang investasi di sektor pilihan Tahun 2024, Selasa (5/12/2023). (Yetede)

Perlambatan Ekonomi Global Membayangi IPO Tahun Depan

HR1 06 Dec 2023 Kontan
Bursa Efek Indonesia (BEI) memasang target konservatif terkait target penjaringan dana di pasar modal. BEI memperkirakan bakal ada 230 pencatatan penerbitan efek seluruh instrumen sepanjang 2024 atau lebih tinggi 30 efek dari tahun 2023. Target penerbitan efek itu meliputi efek saham, obligasi korporasi baru, Exchange Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE), Efek Beragun Aset (EBA), waran terstruktur dan lainnya.Sedangkan untuk pencatatan saham, BEI membidk 62 perusahaan baru yang tercatat. Target itu tak jauh berbeda dari target IPO tahun ini sebanyak 61 emiten. Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK mengatakan, target tersebut sejalan dengan proyeksi World Bank dan International Monetary Fund (IMF) yang merevisi pertumbuhan ekonomi global. IMF memproyeksikan ekonomi global berada di angka 3% untuk tahun ini. Sementara pada 2024, ekonomi global berada di level 2,9%. Per 30 November 2023, OJK masih mengantongi 96 rencana penggalangan dana senilai Rp 41,11 triliun. Sebanyak 64 di antaranya merupakan rencana IPO senilai Rp 11,18 triliun. Direktur Utama Kiwoom Sekuritas Indonesia, Chang-kun Shin memperkirakan, kondisi ekonomi global jusru akan lebih stabil pada tahun 2024. Sehingga bisa mendorong aksi IPO lebih tinggi. Menurutnya ketidakpastian pasar di 2024 akan mereda seiring pelonggaran kebijakan moneter. Ini akan menjadi angin segar untuk IPO. Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Robertus Hardy mengatakan, meski suku bunga masih tinggi, tetapi masih ada peluang IPO tetap ramai. Tapi dia menilai, pasar tak butuh IPO terlalu banyak. Investor justru menantikan IPO berkualitas dengan kapitalisasi pasar (market cap) yang tinggi. "Secara kuantitas tidak ada dibatasi karena perizinan sudah dipermudah," ucap Robertus.

Laba Melejit, JSMR Pastikan Bakal Membagikan Dividen

HR1 05 Dec 2023 Kontan
Ada kabar gembira buat pemegang saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Operator jalan tol terbesar di Indonesia itu memastikan bakal menebar dividen kepada pemegang sahamnya. Porsinya setidaknya 20% dari laba tahun buku 2023. "Rentang pembagian dividen akan mencapai 20% dari core profit bersih JSMR," ujar Haning Pangastuty, Corporate Finance and Investor Relations Senior Group Head JSMR, Senin (4/12). Namun, perlu dicatat bahwa angka pay out ratio itu belum final karena masih bergantung dari hasil diskusi dengan Kementerian BUMN. Kinerja JSMR sejauh ini memang kinclong. Hingga akhir September 2023, laba bersih JSMR melonjak 497% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 5,97 triliun. Sedangkan pendapatan mencapai Rp 14,08 triliun, naik 20,13% secara tahunan. "Terkait dengan pembiayaan capex, akan berasal dari perbankan dan pasar modal. Kami lihat mana yang bisa memberikan yang terbaik untuk JSMR," ujar Atika Dara Prahita, Operation and Maintenance Management Group Head JSMR. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan, kenaikan pendapatan JSMR dipengaruhi kenaikan trafik kendaraan dan tarif. "Sedangkan lonjakan laba disebabkan keuntungan nilai wajar investasi Rp 4 triliun," ujarnya.

Otoritas Tunda Papan Pemantauan Khusus

HR1 05 Dec 2023 Kontan
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menunda implementasi papan pemantauan khusus tahap dua, yakni full call auction hingga enam bulan ke depan. Adapun BEI telah meluncurkan papan pemantauan khusus pada 12 Juli 2023. Pada tahap pertama, BEI menerapkan sistem hybrid call auction. Nah, tadinya tahap kedua atau full call auction akan diimplementasikan pada Desember 2023. Namun hasil evaluasi BEI menunjukkan para pelaku pasar masih belum siap. Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK menyampaikan pihaknya telah berkoordinasi dengan BEI soal penundaan implementasi ini. Inarno berharap dengan penundaan ini, kendala-kendala teknis yang sudah diidentifikasi oleh BEI dan OJK dapat diselesaikan. Penundaan implementasi ini juga telah dimuat dalam Surat Keputusan Direksi BEI. Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pihaknya masih terus memantau kesiapan seluruh pelaku pasar termasuk anggota bursa (AB), data vendor dan para investor. Sejalan dengan itu, Jeffrey bilang, BEI akan memberikan perpanjangan waktu yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia yang diterbitkan pada 1 Desember 2023. Otoritas bursa sejatinya telah meluncurkan papan pemantauan khusus pada 12 Juli 2023. Pada tahap pertama, BEI menerapkan sistem hybrid call auction. Di tahap awal tersebut, emiten yang masuk dalam kriteria tidak likuid akan masuk perdagangan call auction yang akan berlaku dua sesi dalam satu hari. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy  mencermati salah satu penyebab mundurnya implementasi full call auction ialah kurang sosialisasi. Direktur Infovesta Utama Parto Kawito menyadari kehadiran papan pemantauan khusus ini bisa membantu investor untuk mengetahui status saham tertentu. Tapi ia menyarankan kepada emiten yang masuk papan pengembangan untuk memperbaiki fundamentalnya. Supaya kenaikan saham sejalan dengan perbaikan kinerja.

Asing Waspada Pemilu, Bursa Saham Tetap Melaju

HR1 05 Dec 2023 Kontan (H)
Pasar keuangan global diramal bergerak lebih fluktuatif tahun depan. Pasalnya, selain Indonesia dan Amerika Serikat (AS), setidaknya ada 38 negara lain, termasuk di Asia yang akan menggelar pemilihan umum (pemilu) di 2024. Tentu saja, pesta rakyat ini bakal mempengaruhi psikologis pasar karena tingkat ketidakpastian yang tinggi. Hal ini juga kerap membuat pelaku pasar dan emiten lebih berhati-hati dan menahan diri untuk berekspansi. Dus, perusahaan perbankan dan jasa keuangan asal Prancis Societe Generale SA (SocGen) pun mengutak-atik peringkat pasar negara-negara tersebut. Khusus Indonesia dan India peringkatnya dipangkas. Mengutip laporan Reuters, SocGen memangkas peringkat Indonesia menjadi underweight. Bank Eropa ini menilai prospek Indonesia masih akan lemah di tengah ketidakpastian politik. Sedangkan peringkat India dipangkas menjadi netral dari sebelumnya overweight. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus tak menampik kalau isu pemilu merupakan hal yang sensitif bagi masyarakat. Pasalnya, ekonomi yang kuat dan politik yang stabil menjadi salah satu kunci penting untuk mendorong ekonomi dalam negeri. Perhelatan lima tahunan ini memang biasanya berdampak pada pergerakan bursa saham. Sehingga, volatilitas IHSG akan tetap tinggi menjelang pemilu. Apalagi kalau melihat data Poltracking, tingkat elektabilitas ketiga pasangan calon tidak ada yang di atas 50%. Ini membuka peluang terjadinya putaran kedua. Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati mengatakan, ketika putaran pemilihan umum semakin panjang, IHSG pun akan semakin lama untuk pulih. Sehingga, sebelum ada presiden baru yang terpilih, volatilitas IHSG akan tinggi. Namun, volatilitas itu hanya bersifat sementara. Robertus Hardy, Head of Research Mirae Asset Sekuritas juga menyebut, mulai akhir 2023 hingga semester I-2024, volatilitas pasar saham akan meningkat. Tiga sentimen utama penggerak IHSG adalah tensi geopolitik, suku bunga yang masih akan bertahan tinggi dan ketidakpastian politik karena pemilu. Menurut Robertus, sektor perbankan, telekomunikasi, otomotif dan barang konsumsi akan menjadi penopang IHSG di paruh kedua tahun depan. Dus, saham pilihannya adalah BBRI, BBCA, AMRT, HOKI, ACES, dan MAPI.