;
Tags

Saham

( 1722 )

Menangguk Cuan Saham di Akhir Tahun

HR1 19 Dec 2023 Bisnis Indonesia

Seperti halnya akhir tahun-tahun sebelumnya, kalangan analis makin mencermati dan terus membahas peluang terjadinya aksi window dressing emiten yang menjadi modal dasar bagi indeks harga saham gabungan untuk memperkuat tren perbaikan pada 2024.Bukan tanpa sebab. Harapan perbaikan prospek indeks tersebut sejalan dengan berkurangnya kekhawatiran terjadinya kenaikan suku bunga global di tengah tekanan geopolitik yang belum mereda. Begitu pula dengan tekanan yang berasal dari kenaikan harga minyak dunia yang berangsur menurun seiring dengan bertambahnya pasok dan stabilnya permintaan.Secara umum, aksi window dressing merupakan hal lazim dilakukan korporasi untuk mempercantik diri dengan cara memoles laporan keuangan agar terlihat lebih baik sebelum dipublikasikan. Adapun, tujuan window dressing ini bertujuan untuk memberikan headlightatas hasil bisnis yang lebih menjanjikan.Strategi window dressing tersebut merupakan tindak lanjut dari fenomena Santa Claus Rally atau Reli Sinterklas yang menggambarkan kondisi peningkatan nilai pasar saham selama pekan terakhir bulan Desember. Bahkan tanda-tanda penguatan itu bisa saja terjadi jauh sebelum itu seperti halnya yang terjadi pada laju IHSG saat ini. Beberapa analis melihat Santa Claus Rally sebagai preview kinerja pasar selama setahun penuh pada berikutnya. Optimisme bullish menunjukkan kepercayaan investor serta ekspektasi yang kuat atas prospek pasar. Meskipun asumsi ini masih harus dibuktikan kebenarannya, peluang indeks untuk berkinerja lebih baik sangat beralasan apalagi The Fed telah mengisyaratkan untuk memangkas suku bunga sebanyak tiga kali di tahun depan. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan pada November 2023 mencapai 2,86% atau berada dalam kisaran 3% ± 1%. Level inflasi yang relatif rendah ini menunjukkan harga komoditas pangan dalam negeri yang masih stabil dan dalam kendali.Realisasi inflasi yang stabil ini merupakan bekal kuat bagi Tanah Air untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Tingkat inflasi terkendali menjadi salah satu faktor penting bagi laju ekspansi konsumsi yang menjadi salah satu penggerak produk domestik bruto.Selain itu, Purchasing Managers Index manufaktur yang berada dalam level ekspansif, belanja masyarakat yang meningkat serta indeks penjualan riil yang tumbuh. Bullish IHSG yang dimaksud jika AS dipastikan tidak mengalami resesi, harga komoditas turun lebih dalam, perekonomian Indonesia masih tumbuh di atas 5% serta presiden terpilih sesuai dengan keinginan pelaku pasar.Alhasil, potensi window dressing atau Santa Claus Rallymembuka kesempatan bagi para investor kembali berburu saham-saham unggulan. Sejumlah analis memperkirakan saham-saham blue chips dengan valuasi terdiskon menarik untuk dicermati.

Sektor Saham Barang Baku Masih Jitu

HR1 18 Dec 2023 Kontan

Emiten sektor barang baku menantikan prospek perekonomian yang lebih baik di tahun 2024. Perputaran roda ekonomi diharapkan meningkatkan lagi pemintaan bahan-bahan mentah. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengamati, sampai saat ini masih belum ada sentimen benar-bener kuat dalam menopang kinerja emiten barang baku, terutama emiten tambang logam. Seperti diketahui, industri logam masih menunggu pemulihan ekonomi China yang relatif lambat sehingga berdampak pada rantai industri manufaktur. Sebagai salah satu konsumen terbesar, permintaan China berdampak bagi tingkat harga komoditas tambang semacam nikel, tembaga dan timah. Situasi ini ikut menahan ketertarikan investor terhadap saham-saham yang ada di sektor barang baku seperti saham tambang logam seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Timah Tbk (TINS). Namun, Miftahul mencermati bahwa saham sektor barang baku tak sepenuhnya suram. Ada segmen bisnis yang dinilai punya kinerja apik seperti pada emiten semen. Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi menilai, penurunan harga komoditas yang masih terjadi akan berdampak pada kinerja emiten pertambangan logam. Harga nikel global kemungkinan akan tetap tertekan pada tahun 2024 - 2025 karena melimpahnya pasokan, terutama dari Indonesia akibat peningkatan kapasitas smelter nikel di Indonesia. Saat ini, Samuel Sekuritas menyukai emas sejalan dengan sikap The Fed yang kurang hawkish dan akan berefek pada pelemahan dollar AS. Ketidakpastian global setelah perang Israel-Hamas mungkin juga akan mendorong investor untuk beralih ke aset safe haven seperti emas. Di sisi lain, kondisi manufaktur Indonesia saat ini terpantau sedikit membaik pada November 2023, setelah dua bulan berturut-turut melemah. Meningkatnya aktivitas manufaktur artinya bisa mengangkat permintaan barang baku. S&P Global mencatat, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada November 2023 berada di level 51,7. Angka ini naik 0,2 poin dibandingkan dengan Oktober 2023 yaitu 51,5. Secara teknikal, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengamati, pergerakan sektor saham barang baku yang tercermin dari IDX Basic Materials masih berada pada fase uptrend di tahun ini. Meskipun terjadi koreksi pada semester pertama 2023.  Sebagai informasi, sektor saham barang baku terdiri dari perusahaan yang menjual produk atau jasa yang nantinya digunakan industri lain sebagai bahan baku untuk memproduksi barang jadi. Contohnya, perusahaan yang memproduksi barang kimia, material konstruksi, kemasan, wadah, pertambangan logam atau mineral non-energi, serta produk kayu dan kertas. Menurut Herditya, emiten sektor ini yang dapat dicermati adalah ANTM, MDKA, serta SMGR. Sedangkan Miftahul merekomendasikan beli SMGR dan INTP dengan target harga masing-masing di Rp 8.000 dan Rp 12.905.

Ekonomi Jadi Kunci Emiten Multisektor

HR1 18 Dec 2023 Kontan

Ekonomi yang tumbuh menjadi barometer emiten multisektor bisa melaju. Ekonomi 2024 yang bisa tumbuh menjadi katalis penting bagi emiten multisektor. Tira Ardianti, Kepala Hubungan Investor PT Astra International Tbk (ASII) menyatakan, Grup Astra memiliki berbagai bisnis yang kinerja dan prospeknya dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya pertumbuhan ekonomi. "Kami berharap, ekonomi Indonesia bertumbuh dengan baik pada 2024 yang bisa mendukung kinerja bisnis Astra," katanya kepada KONTAN, Minggu (17/12). Tira menyebutkan, selama ini ASII sudah melakukan beberapa aksi korporasi. Seperti melakukan akuisisi Bank Jasa Jakarta untuk mendukung ekosistem jasa keuangan dengan layanan digital yang disebut Bank Saqu. "Kami senantiasa menjajaki peluag-peluang bisnis untuk memperkuat dan keberlanjutan bisnis Astra," tambahnya. Tak mau ketinggalan, PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) bersiap mengembangkan unit-unit usahanya di tahun 2024. Seperti di industri komponen otomotif, industri baju, konstruksi bangunan ramah lingkungan. "Hingga pengembangan sektor energi baru terbarukan termasuk elektrifikasi transportasi," kata Direktur BNBR, Roy Hendrajanto M. Sakti ke KONTAN (15/12). Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi melihat, kinerja emiten holding pada tahun 2024 justru tumbuh melambat. Penyebabnya harga komoditas energi moderat. Kondisi ini mempengaruhi lini sektor pertambangan. Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division , Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan sependapat sentimen domestik dan global bisa mempengaruhi kinerja emiten multisektor. Ia merekomendasikan buy ASII di Rp 8.000, ABMM di harga Rp 2.500-Rp 3.000 dan BMTR di harga Rp 1.000-Rp 1.200.Oktavianus hanya merekomendasikan buy ASII di harga Rp 6.350.

Window Dressing & Isu Merger Menyetir Saham BUMN Karya

HR1 18 Dec 2023 Kontan

Saham sejumlah emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya masih fluktuatif. Menurut data RTI, saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI) naik 4,85% pada hari Kamis lalu dibandingkan sehari sebelumnya. Meski pada Jumat (15/12) turun lagi 1,73% ke Rp 340 per saham. Saham PT PP Tbk (PTPP) juga naik 4,85% pada hari Kamis lalu. Lalu melorot 1,85% pada Jumat (15/12) ke Rp 530 per saham. Saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga tercatat naik 24,10% pada perdagangan Kamis (14/12), sebelum turun 0,83% ke posisi Rp 240 pada Jumat lalu. Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, kinerja saham BUMN karya pada akhir tahun kemungkinan disebabkan window dressing. Kinerja BUMN Karya dalam waktu dekat juga berpeluang positif lantaran ada Penyertaan Modal Negara (PMN). Berkat injeksi negara, arus kas mereka sedikit membaik. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan, kenaikan harga saham emiten BUMN karya juga didorong oleh spekulasi merger antar BUMN karya. Meski begitu, Azis menilai kinerja emiten BUMN Karya pada tahun depan masih tertekan. Apalagi liabilitas emiten pelat merah itu masih tinggi. Alhasil, Azis dan Budi belum memberikan rekomendasi ataupun proyeksi terhadap saham BUMN karya.

Mengejar Peluang Cuan Sebelum Tutup Tahun

HR1 18 Dec 2023 Kontan (H)

Masih ada dua pekan lagi sebelum tahun berganti. Investor masih berkesempatan menjaring cuan dan menunggangi potensi kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sisa tahun. Akhir pekan lalu, IHSG bertengger di level 7.190,98 atau posisi tertinggi sepanjang tahun ini. Jika dihitung sejak awal 2023, IHSG menguat sebesar 4,97%, level penguatan tertinggi nomor dua kawasan ASEAN. Nikkei menjadi jawara di Asia. Serbuan investasi Berkshire Hathaway, kendaraan investasi Warren Buffett, ke Jepang, menambah daya tarik bursa saham Jepang di mata investor global. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati, penguatan IHSG didorong katalis global yang relatif kondusif. Ratih menyoroti bank sentral negara maju mulai menahan suku bunga, bahkan berpotensi memangkas suku bunga tahun depan. Investor asing kembali ke pasar ekuitas domestik, menyusul sinyal dovish bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang berpotensi memangkas suku bunga 75 basis poin (bps) pada tahun depan. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina sepakat, IHSG berpeluang menguat. Tapi, Martha memperkirakan penguatan IHSG sudah terbatas. Dua pekan terakhir ini sudah minim sentimen yang bisa mendongkrak pasar. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana turut memperhitungkan, IHSG menuju 7.200-7.250 di akhir tahun. Sentimen pengiringnya adalah rilis data ekonomi di AS dan China, serta arah suku bunga acuan dalam RDG BI. Senior Equity Analyst Phillip Sekuritas Indonesia, Helen Vincentia menambahkan, pergerakan harga komoditas dunia di akhir tahun turut menjadi katalis penting bagi IHSG. Selain itu, investor memperhatikan perkembangan politik dalam negeri pada masa kampanye pemilu. Helen melihat, saham di sektor infrastruktur, properti dan bank masih punya prospek apik. Pilihan Helen adalah PGEO, CTRA, SMRA, serta empat bank big caps BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI. Helen juga melirik saham ASII. Martha turut melirik saham bank dan sektor infrastruktur. Ia menyematkan strategi buy atau hold saham BBCA, BMRI, TLKM dan JSMR. Secara teknikal, Herditya menyodorkan tiga saham. Meliputi ANTM, ERAA, dan ITMG. Sedangkan Ratih menyoroti capital inflow mengalir, sehingga berpotensi window dressing pada big caps akan terakselerasi.

Saham-Saham Blue Chip Yang Sip

HR1 18 Dec 2023 Kontan

Saham-saham emiten papan atas alias blue chip mulai kembali bangkit. Hal itu tercermin dari pergerakan indeks paling likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakn indeks LQ45. Sepanjang tahun ini, indeks LQ45 menguat 2,22% ke level 957,97 per Jumat (15/12). Namun laju indeks LQ45 masih di bawah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sepanjang tahun ini menguat 4,97%.  Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan laju IHSG lebih tinggi ketimbang LQ45. Terlihat dari pergerakan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melesat hingga puluhan persen sejak listing di bursa. Apalagi BREN sudah melesat 848,72% ke level Rp 7.400. Walhasil, kapitalisasi pasar BREN sempat nyaris menyalip BBCA.  Nico mengatakan, dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di BEI, BREN mampu menyetir pergerakan IHSG dan saham-saham penggerak itu yang tidak ada di LQ45. "Saat ini pasar lebih sehat karena memegang blue chip ," kata Adi Wicaksono, Retail Analyst Maybank Sekuritas. Robertus Hardy, Head of Research Mirae Asset Sekuritas melihat, IHSG berpeluang mengalami window dressing atau Santa Claus Rally terutama pada beberapa saham blue chip. Dan saat ini masih ada sejumlah saham unggulan yang masih memiliki valuasi cukup menarik untuk dilirik. Saham pilihan Nico yakni BBCA, target Rp 10.327, BBRI di Rp 6.350 dam BBNI di Rp 5.751. Sementara target BMRI di Rp 6.802, AMRT di Rp 3.389, INDF di Rp 8.178 dan ICBP Rp 13.620.

Jelang Akhir Tahun, Asing Mencari Peluang

HR1 16 Dec 2023 Kontan
Setelah sempat mencatatkan jual bersih atau net sell,  investor asing kembali membukukan beli bersih atau net buy di pasar saham Indonesia. Investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp 3,87 triliun pada Jumat (15/12). Angka ini merupakan foreign net inflow tertinggi sejak April 2023. Sejalan dengan arus dana investor asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ikut menguat. IHSG menutup pekan kedua Desember 2023 dengan menguat 0,21%. Indeks komposit ini menguat 14,97 poin ke level 7.190,98 hingga akhir perdagangan di pekan ini. Terpantau asing mulai kembali masuk ke saham-saham blue chip. Pada perdagangan Jumat (15/12),  PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan net buy Rp 1 triliun. Asing juga mengakumulasi saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Astra International Tbk (ASII) dengan masing-masing beli bersih Rp 301,7 miliar, Rp 143,4 miliar dan Rp 86,8 miliar. Analis ritel Maybank Sekuritas, Adi Wicaksono melihat, memang pasar tengah merespons positif sikap The Fed dalam menahan suku bunga dan ekspektasi penurunan suku bunga tahun depan. Asing  sudah beralih dari saham sektor bahan baku. "Perbankan big cap ditutup menguat. Hampir sebagian besar saham blue chip kompak menguat," ujar Adi. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menyatakan, sikap dovish The Fed menjadi angin surga bagi pasar global. Pasalnya The Fed menjadi tolak ukur bagi bank sentral lainnya. Nico mengatakan penurunan suku bunga akan menjadi sentimen positif. Suku bunga yang rendah bakal mendorong tingkat konsumsi masyarakat yang lebih tinggi. Untuk akhir tahun ini, Pilarmas Investindo Sekuritas menjagokan sektor perbankan, telekomunikasi, konsumen primer, transportasi dan logistik. Adapun sahamnya adalah  saham BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, TLKM dan JSMR. 

NCKL Bakal Tambah Tambang Nikel Lagi

HR1 14 Dec 2023 Kontan
Tren energi bersih  memicu para penambang nikel semakin bergairah. Misalnya PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) membuka opsi  mengakuisisi tambang nikel lain. Akuisisi ini untuk menambah cadangan nickel ore perusahaan tersebut. Lukito Gozali, Hubungan Investor NCKL menyebutkan, ada sejumlah pertimbangan NCKL mengakuisisi tambang nikel. Seperti harga dan kandungan nikel yang ada dalam tambang tersebut. Saat ini, emiten terafiliasi Grup Harita tersebut memiliki lima konsesi tambang. Lukito menyebut, ada satu tambang lagi yang sedang dalam proses untuk masuk ke daftar konsesi milik NCKL. Pada akhir November 2023, NCKL mengakuisisi 99% saham PT Gane Tambang Sentosa. Ini adalah perusahaan tambang nikel yang berlokasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Akuisisi sebesar Rp 7,9 miliar ini akan meningkatkan sumber daya dan cadangan bijih nikel NCKL menjadi 302 juta wet metric ton (wmt). Sehingga menjadikan Harita Nickel sebagai perusahaan tambang nikel terbesar kelima di Indonesia berdasarkan sumber daya. Ia berharap, akuisisi ini bisa meningkatkan produksi nikel perusahaan. Sebab kenaikan kinerja  NCKL hingga 30 September 2023 berkat lonjakan produksi nikel anak perusahaan. Yakni  PT Halmahera Persada Lygend dan PT Harita Jayaraya Feronikel. Dari sisi kinerja, emiten pertambangan nikel ini membukukan laba bersih senilai Rp 4,64 triliun. Realisasi ini naik 23,8% dari laba bersih NCKL di periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 3,60 triliun. Selama periode sembilan bulan pertama 2023, anak usaha NCKL di bisnis pertambangan itu telah memproduksi sekitar 10 juta bijih nikel limonite dan 4,4 juta bijih nikel saprolite. Jika ditotal, produksi bijih nikel NCKL mencapai 14,48 juta ton, melesat 119% secara year-on-year (yoy). Analis Samuel Sekuritas Indonesia Juan Harahap dalam risetnya menyematkan rating buy saham NCKL dengan target harga Rp 1.500 per saham. Menurut Juan  akuisisi akan menjadi katalis yang positif bagi NCKL.

Tahun Depan, PTPP Siapkan Belanja Modal Rp 1,5 Triliun

HR1 14 Dec 2023 Kontan
PT PP Tbk (PTPP) menyiapkan sejumlah agenda bisnis di tahun depan. Emiten konstruksi pelat merah ini menyiapkan belanja modal alias capital expenditure (capex) hingga Rp 1,5 triliun pada 2024 mendatang. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTPP Agus Purbianto mengatakan, dana capex tersebut akan diperoleh melalui obligasi yang akan diterbitkan pada April atau Mei 2024. Selain untuk capex, hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan kembali utang atau refinancing. Direktur Strategi Korporasi dan HCM PTPP, Sinur Linda Gustina, memaparkan, belanja modal di tahun depan kemungkinan besar tidak akan digunakan untuk investasi proyek baru. "Kami hanya melanjutkan beberapa proyek yang sudah berlangsung. Kalau yang baru tidak ada," ujarnya dalam konferensi pers usai RUPSLB di Jakarta, Rabu (13/12). PTPP juga masih berencana untuk melepas aset atau divestasi dan membidik perolehan dana Rp 1,4 triliun pada tahun ini. Divestasi anak usaha nilainya ditargetkan hampir Rp 1 triliun dan divestasi aset terafiliasi senilai Rp 450 miliar. "Kami harapkan selesai tahun ini," ungkapnya. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan, kinerja PTPP dapat terdorong oleh proyek baru dan rencana divestasi aset. Sementara itu, Technical Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora mengatakan, prospek PTPP akan baik tahun depan jika presiden terpilih akan melanjutkan pembangunan Ibu Kota Nusantara. Karena masih ada ketidakpastian, Andhika menyarankan wait and see dahulu untuk saham PTPP.

Waspada di Paruh Pertama, Tancap Gas di Paruh Kedua

HR1 14 Dec 2023 Kontan (H)
Bukan hanya bagi Indonesia, tahun 2024 menjadi tahun politik global. Berdasarkan riset JP Morgan yang dirilis baru-baru ini, ada 27 negara yang menggelar pemilihan umum (pemilu) pada tahun depan. Pesta demokrasi ini bakal mempengaruhi psikologis pasar, karena tingkat ketidakpastian yang tinggi. Para pelaku pasar dan emiten lebih berhati-hati dan menahan diri untuk berekspansi. JP Morgan menyematkan peringkat overweight terhadap pasar Indonesia. Perusahaan jasa keuangan dari Amerika Serikat (AS)  memproyeksikan indeks MSCI Indonesia bisa naik 6% di tahun 2024. Tak hanya JP Morgan, Maybank Sekuritas juga memasang target yang optimistis pada pasar saham Indonesia. Hal ini didukung beberapa faktor makro dalam negeri yang dinilai kondusif. Pertama, pertumbuhan PDB Indonesia akan kuat tahun depan. Kedua, inflasi domestik masih bisa dijaga dengan baik. Ketiga, gelontoran belanja pemerintah akan mendorong aktivitas ekonomi pada kuartal III-2023 hingga kuartal I-2024. Head of Research Maybank Sekuritas, Jeffrosenberg Chen Lim menyarankan investor berhati-hati di semester I-2024. Terlebih pasar berpotensi bearish akibat perlambatan ekonomi global. Direktur Utama Kiwoom Sekuritas, Chang-kun Shin menilai, investor wait and see selama kampanye. Namun usai pemilihan presiden bursa saham berpotensi berfluktuasi. "Investor menunggu hingga presiden terpilih," katanya, Rabu (13/12). Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Robertus Hardy memperkirakan, masih ada potensi peningkatan volatilitas IHSG di sisa 2023 hingga semester I-2024. Sepanjang 2023  hingga kemarin investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 16,7 triliun. Maybank Sekuritas memproyeksi, IHSG bisa tembus level 8.000. Dengan catatan, pemilu berjalan lancar dan presiden terpilih bisa menjaga lingkungan yang kondusif bagi investor. Untuk separuh pertama tahun depan, Maybank Sekuritas melihat MYOR dan HMSP bisa menjadi pilihan. Jika bank sentral menunjukkan sikap dovish, BSDE, CTRA, PWON dan SMRA bisa dilirik. Pada separuh kedua 2024, ada peluang permintaan logam efek pemulihan ekonomi China, berimbas ke MDKA dan INCO.