Saham
( 1717 )Windows Dressing Dimulai IHSG Menuju 7.300
Mengejar Muatan Lebih Besar
Satu lagi perusahaan jasa transportasi atau freight forwarding belum lama ini melantai di bursa, yakni PT Logisticplus International Tbk. Emiten berkode LOPI resmi menjadi anggota bursa pada Oktober 2023.
Logisticsplus berdiri pada tahun 2013. Perusahaan ini merupakan hasil kerja sama para pengusaha nasional bidang logistik dan jasa pengiriman dengan anak perusahaan Logisticsplus Inc, asal Amerika Serikat yang berada di Indonesia.
Namun kiprah LOPI di kancah jasa transportasi dan logistik dimulai pada tahun 2016. Saat itu LOPI baru mendapatkan tiga mitra dengan dua armada truk. Di tahun tersebut, LOPI mendapat kontrak dari GE Healthcare.
Pelan tapi pasti, kontrak yang didapat LOPI terus berkembang. Satu tahun kemudian, LOPI mendapat kontrak distribusi ritel dari perusahaan yang sama ke 1.800 lokasi.
Melihat prospek bisnis yang terus berkembang, di tahun berikutnya LOPI mulai mengembangkan lini bisnis di layanan jasa kapal tongkang. Ekspansi ini digelar seiring dengan maraknya pertambangan di periode tersebut.
Alhasil, dengan beragamnya layanan tersebut, Logisticsplus Plus Inc masuk menjadi salah satu pemegang saham dari LOPI. Kerjasama ini membuat LOPI kini memiliki kantor di Amerika Serikat. Tak hanya itu, LOPI juga punya kantor perwakilan di hampir 180 negara.
Direktur Utama Logisticsplus International, Wahyu Dwi Jatmiko mengatakan kerja sama tersebut salah satu strategi LOPI setelah resmi melantai di BEI. Selain dengan Pertamina, ia mengklaim, LOPI telah menekan kontrak dengan beberapa perusahaan, dengan nilai yang bervariatif dengan rentang Rp 30 miliar hingga Rp 60 miliar.
Adapun sekitar 60% dana initial public offering (IPO) bakal dipakai untuk modal kerja. Selain itu juga untuk pembelian perangkat teknologi logistik untuk mendukung operasional perusahaan dan penjualan.
Saat ini, LOPI memiliki pelanggan utama yaitu PT GE Operations Indonesia, PT Abi Mandiri Perkasa, dan PT Wijaya Karya Industri & Konstruksi. Kerja sama ini terus berlanjut hingga saat ini.
Saham Pilihan Para Juragan
Sudah lazim, suhu politik menghangat menjelang proses pemilihan umum (pemilu). Tanpa terkecuali menjelang pemilu tahun 2024. Situasi ini acap membuat investor saham bersikap wait and see dan ekstra waspada untuk masuk bursa saham. Namun demikian, sejumlah investor saham kawakan menilai situasi kali ini lebih adem ketimbang suhu politik beberapa pemilu yang sudah-sudah. Alhasil, pilihan-pilihan sahamnya pun lebih fleksibel.
Menurut Kartika Sutandi, salah satu investor kawakan di bursa, tahun pemilu saat ini, terutama pemilu presiden, bukan sentimen besar yang bisa mempengaruhi investor menata ulang portofolio mereka.
Perempuan yang akrab disapa Tjoe Ai ini justru melihat ada sentimen lain yang lebih berpengaruh terhadap keputusan investasi di pasar saham ketimbang sentimen pemilu.
"Sentimen The Fed itu lebih penting, dibandingkan dengan pemilu yang akan berlangsung nanti. Pemilu sekarang sepertinya tidak sehuru-hara tahun 2019 lalu," kata Tjoe Ai, kepada KONTAN, Jumat (24/11).
Sukarto Bujung, investor saham dan pemilik PT Buyung Putra Sembada Tbk (HOKI), juga menyatakan perhelatan pemilu tidak akan mengubah portofolionya. Saat ini Sukarto berinvestasi di saham sektor teknologi, asuransi, dan sektor konsumer. "Saya tidak takut investasi di pasar modal Indonesia dalam keadaan apapun," tandas dia.
Selain sektor konsumer, Tjoe Ai juga melihat saham-saham sektor teknologi hingga perbankan sebagai sektor yang prospektif.
Di sektor teknologi misalnya, kabar rencana merger antara dua perusahaan telekomunikasi, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL), masuk dalam radar pantauan Tjoe Ai. Ia menambahkan saat ini terus memupuk
cash, sebagai amunisi untuk berburu saham pilihannya.
Ihwal saham pilihan, Lo mengaku sedang tertarik dengan saham sektor perbankan dan batubara. Dia menilai emiten di dua sektor ini bisa membukukan laba besar, serta memiliki valuasi murah.
Selain saham bank, investor kawakan lainnya, Presiden Direktur Adi Sarana Armada (ASSA), Prodjo Sunarjanto, menjagokan saham
fast moving consumer good
(FMCG) di tahun pemilu lantaran emiten sektor ini berpeluang menangguk paling besar perputaran duit pemilu.
Harga Saham 3 Emiten Melonjak Ratusan Persen
Sentimen Global hingga Judi Online Penyebab Pelemahan RNTH
Hingga September 2023, EXCL Mencetak Laba Bersih Rp 1,01 T
Kinerja PT XL Axiata Tbk (EXCL) masih mengalami pertumbuhan. Sepanjang Januari hingga September 2023, pendapatan EXCL naik 10,19% secara tahunan atau
year on year
(yoy) menjadi Rp 23,87 triliun.
Sejalan dengan pendapatan, laba bersih EXCL naik 2,99% menjadi Rp 1,01 triliun. Kenaikan laba itu di tengah beban EXCL yang meningkat 9,6% secara tahunan menjadi Rp 20,39 triliun.
"Kompetisi terus berlangsung ketat hingga saat ini, tapi EXCL mampu mencetak tingkat profitabilitas yang tumbuh positif dibanding periode yang sama tahun lalu," ujar Presiden Direktur & CEO EXCL, Dian Siswarini, Rabu (22/11).
Karena itu, EXCL terus berupaya membesarkan layanan
fixed broadband
(FBB) dan
fixed mobile convergence
(FMC) untuk menghadapi tantangan industri ke depan. "Kedua segmen ini terus menunjukkan potensi sangat menggembirakan," jelas Dian. Sementara itu, penetrasi layanan konvergensi XL Axiata mencapai 69% dari pelanggan layanan XL Home. Artinya, 69% dari pelanggan XL Home telah beralih menjadi pelanggan XL Satu.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas, Adityo Nugroho mengatakan, kinerja EXCL per kuartal III-2023 masih cukup solid. Di sisi lain, bisnis utama telekomunikasi mulai berkontraksi, tapi EXCL terus mencari peluang yang baru. Namun, hal ini membutuhkan dana investasi yang besar.
Aksi Korporasi Menopang Kinerja Grup Medco
Sepanjang sembilan bulan pertama 2023, kinerja Grup Medco masih terkontraksi. Kinerja PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) kompak menyusut seiring melemahnya harga komoditas minyak dan tembaga.
Meski demikian, analis menilai kinerja MEDC dan AMMN masih memiliki prospek cerah. MEDC misalnya, prospek kinerja didukung akuisisi sejumlah blok migas.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Hasan Barakwan memproyeksi, peningkatan 8,5% total volume produksi MEDC pada tahun 2024 menjadi 166
million barrel oil per day
(mbopd). Proyeksi ini dengan menimbang tambahan volume sebesar 13 mbopd dari hasil akuisisi blok Timur Tengah.
Di sisi lain, meski kinerja AMMN masih tertekan, Analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan menilai, kinerja AMMN akan kembali positif. "Kinerja Amman akan positif setelah mendapat izin ekspor konsentrat beberapa bulan lalu, positif bagi MEDC,” kata Felix.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Harahap memperkirakan, AMMN akan mencatatkan lonjakan laba yang besar di kuartal keempat 2023 ini.
Samuel Sekuritas mempertahankan rating
hold
saham AMMN dengan target harga baru Rp 7.000 per saham dari sebelumnya Rp 5.500.
Sementara Felix merekomendasikan beli saham MEDC dengan target harga di Rp 1.700 per saham. Salah satu katalisnya karena kinerja MEDC juga disokong oleh bisnis listrik.
Melirik Para Mantan Jawara Big Caps
Sejak tiga tahun terakhir peta saham yang mempunyai kapitalisasi pasar atau
market cap
terbesar mulai berubah. Terdapat beberapa emiten yang sebelumnya masuk sepuluh besar atau top ten saham yang punya
market cap
terbesar kini terlempar.
Sebut saja saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), kemudian ada saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), juga saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), hingga saham PT Bank Jago Tbk (ARTO). Kini, saham UNVR berada di urutan ke 11 sebagai saham dengan
market cap
terbesar menurut data per 21 November 2023. Lantas saham ADRO terlempar ke urutan 20. Sedangkan EMTK dan ARTO sudah jauh berada di luar 20 besar saham berkapitalisasi pasar terbesar di bursa.
Head of Investment Information
Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina menjelaskan, salah satu penyebab yang membuat beberapa big caps tersebut terlempar dari 10 besar terkait kinerja yang menurun.
Martha memproyeksi, kinerja ADRO, UNVR, dan EMTK sampai akhir tahun ini bakal mengalami kontraksi. Sementara kinerja ARTO, masih bisa tumbuh positif.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mencermati, penurunan kinerja emiten akibat sentimen global hingga peran regulasi.
"Hal ini berpengaruh terhadap pergerakan saham tersebut," jelasnya ke KONTAN.
Proyek Infrastruktur Menopang PTPP
Salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya, PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) tengah mengevaluasi proyeksi kinerja hingga akhir 2023. Hal ini berkaca dari kinerja PTPP hingga kuartal III-2023. Di periode tersebut, PTPP mencatatkan pendapatan sebesar Rp 12,22 triliun. Nilai perolehan tersebut turun 9,17% dari periode sama tahun lalu senilai Rp 13,46 triliun.
Sementara laba bersih sebesar Rp 239,72 miliar hingga akhir kuartal III-2023. Pencapaian itu naik 69,9% dari laba bersih di periode sama tahun lalu sebesar Rp 141,02 miliar.
Bakhtiyar Efendi, Sekretaris Perusahaan PTPP menjelaskan, pendapatan PTPP yang turun karena komposisi kerjasama operasional (KSO) saat ini lebih besar. Jadi, di jenis proyek PTPP tersebut tergantung pihak lain yang menjalin kerjasama dengan BUMN karya ini.
Sementara, penyerapan belanja modal alias
capital expenditure
(capex) PTPP hingga kuartal III 2023 sebesar Rp 611,33 miliar. Catatan KONTAN, PTPP sudah menganggarkan belanja modal Rp 3,4 triliun tahun ini.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai, sentimen kenaikan laba PTPP itu diakibatkan adanya perolehan nilai kontrak yang baik hingga kuartal III 2023. Kondisi ini membuat kinerja saham PTPP ikut terdongkrak.
Nafan melihat, kinerja PTPP pada kuartal IV dan sepanjang tahun 2023 ini masih bisa melonjak. Apalagi, PTPP saat ini tengah berkomitmen dalam meningkatkan portofolio yang mendukung proyek strategis nasional lewat pembangunan proyek Ibu Kota Negara (IKN) maupun pada skala BUMN.
Pengamat Pasar Modal dan pendiri WH Project, William Hartanto menambahkan secara teknikal, saham PTPP menunjukkan
pattern double bottom
dengan
neckline
pada harga Rp 620 per saham.
Upaya Menjadikan Saham Rokok Tetap Ngebul
Emiten rokok masih bakal menghadapi tantangan di tahun politik. Penyebabnya bukan lantaran memanasnya suhu politik, tapi terutama terkait kenaikan cukai rokok. Setelah tahun ini cukai rokok 10%, di tahun 2024 nanti, pemerintah bakal mengerek kembali tarif cukai rokok sama besar yakni 10%.
Kenaikan cukai rokok 10% tahun ini langsung menjadi pukulan bagi industri rokok. Berdasarkan data APBN Kita, kenaikan tarif cukai rokok belum mampu mendongkrak setoran ke kas negara. Penerimaan cukai rokok akhir September 2023 mengalami penurunan 5,37% secara tahunan jadi Rp 144,84 triliun. Penurunan ini lantaran rendahnya pemesanan pita cukai. Selain itu, penurunan ini disebabkan melorotnya produksi rokok sampai Juli 2023 sebesar 3,6% tahunan dan tarif rata-rata tertimbang yang hanya naik 1,0% secara tahunan. Kenaikan ini lebih rendah dari kenaikan tarif normatif sebesar 10%.
Dian Widyanarti,
Head of External Affairs
PT Bentoel International Investama Tbk (RMBA) menyatakan, kebijakan cukai
multi years
tersebut bisa membuat industri rokok menyusun strategi bisnis ke depan.
Selain itu, industri tembakau saat ini tengah menghadapi tantangan berupa rencana pelarangan dan pembatasan produk hasil tembakau yang termuat dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Kesehatan yang merupakan turunan Undang-Undang Kesehatan No. 17 Tahun 2023.
Sedangkan
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division
Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan menilai, dampak kenaikan cukai terhadap emiten rokok tergantung pada beberapa faktor. Yakni daya beli konsumen, strategi harga, dan persaingan pasar. Memang secara umum kenaikan cukai akan menurunkan volume penjualan rokok. Terutama segmen rokok mesin yang punya tarif cukai lebih tinggi.
Dengan syarat tersebut, BRI Danareksa Sekuritas memberikan peringkat
overweight
untuk sektor rokok, termasuk saham HMSP dan GGRM, dengan target harga masing-masing adalah di harga Rp 1.000 dan Rp 31.300 per saham.
Pilihan Editor
-
Giliran Bumiputera Ditagih Klaim Rp 9,6 Triliun
21 Jan 2020 -
Indonesia Kerjasama Pajak dengan 70 Negara
21 Jan 2020 -
Perbankan Agresif Konsolidasi Tahun Depan
20 Jan 2020 -
Libur Akhir Tahun Dongkrak Bisnis Travel Online
20 Jan 2020









