Saham
( 1717 )Divestasi Vale Dikukuhnya Dalam HoA
Saham OCBC Naik Seusai Akuisisi
Asing Mulai Aksi Beli Tapi Masih Hati-Hati
Peluang Setelah Kocok Ulang Indeks MSCI
Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali merombak Indeks Saham MSCI Global Standard dan MSCI Small Cap. Ada tiga saham yang masuk dan enam saham yang tergusur sebagai konstituen indeks MSCI.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) masuk ke dalam daftar MSCI Global Standard Index. Emiten big caps pendatang baru itu menggeser posisi PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Di kategori Small Cap Index, MSCI menambahkan PT Bank Jago Tbk (ARTO) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Lantas PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Timah Tbk (TINS) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) tersingkir MSCI Small Cap Index.
Pelaku pasar merespons positif saham-saham yang menjadi konstituen Indeks MSCI Global Standard maupun MSCI Small Cap. Tengok saja pergerakan harga AMMN yang kembali menanjak, naik 1,05% ke level Rp 7.225 pada Rabu (15/11).
Saham EMTK dan ARTO melaju lebih kencang, masing-masing 7,41% dan 12,20%. Membawa harga EMTK ke Rp 580 dan ARTO ke Rp 2.300 per saham.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto menilai,
rebalancing
indeks MSCI cukup sesuai ekspektasi mempertimbangkan market cap, free float dan nilai rata-rata transaksi harian. Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menambahkan, masuk menjadi anggota indeks MSCI dapat memoles prospek saham.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus sepakat, masuk ke indeks MSCI membawa angin segar bagi pergerakan harga saham. Namun, investor tetap perlu cermat menilai kondisi fundamental, prospek bisnis dan valuasi emiten tersebut. Sementara Analis dan Branch Manager Jasa Utama Capital Sekuritas Solo, Robin Haryadi mengingatkan, manager investasi yang menjadikan MSCI sebagai referensi akan ikut me-rebalancing
portofolio
fund
. Situasi ini menyetir harga saham yang terkena kocok ulang.
Beda lagi
Research Analyst
Erdikha Elit Sekuritas, Ika Baby Fransiska yang menilai saham AMMN layak koleksi. Namun, dia menyarankan strategi
buy on weakness
pada Rp 7.000, dengan target Rp 7.500.
Mobilitas, Kunci Kinerja Emiten Tol
Kinerja emiten jalan tol diproyeksi masih prospektif di periode kuartal IV 2023 ini. Meski, kinerja sejumlah emiten jalan tol terbilang beragam.
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian menyatakan, secara umum, emiten jalan tol per Juni 2023 masih mencatatkan pertumbuhan kinerja. Sentimen penggeraknya terkait mobilitas masyarakat yang sudah semakin normal.
Namun Fajar memperkirakan, kinerja emiten jalan tol pada kuartal IV 2023 dan tahun 2024 masih prospektif. Terlebih tahun depan konsumsi masyarakat diprediksi melonjak seiring dengan hajatan pemilu 2024. Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto juga sependapat, melihat kinerja rata-rata emiten jalan tol sejauh ini positif dari sisi
top line. Ini seiring semakin tingginya lalu lintas masyarakat.
Maka Pandhu melihat prospek jalan tol cenderung positif seiring pembangunan yang terus berlanjut. Namun, Pandhu mengingatkan, proyek jalan tol adalah padat modal, sehingga sulit melakukan balik modal secara cepat.
Sentimen utama positif dari kinerja emiten jalan tol tentu masih pada proyek infrastruktur yang akan dibangun oleh pemerintah.
Berbeda, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana yang merekomendasikan
buy if break
untuk JSMR dengan target harga Rp 4.800 - Rp 5.000 per saham. Serta
speculative buy
untuk CMNP dengan target harga Rp 1.650 - Rp 1.700 per saham.
PT FREEPORT INDONESIA, Tahap Akhir Pembahasan Tambah Saham
Presiden Jokowi mengharap pembahasan penambahan saham pemerintah
sebanyak 10 % di Freeport Indonesia segera diputuskan. Dengan demikian, perpanjangan
kontrak izin usaha pertambangan khusus atau IUPK PT Freeport Indonesia di Tambang
Grasberg, Papua, setelah tahun 2041 bisa segera dikeluarkan. Hal ini
disampaikan Presiden Jokowi saat menerima Chairman Freeport McMoran Richard
Adkerson di Hotel Waldorf Astoria, Washington DC, AS, Senin (13/11). ”Saya
senang mendengar pembahasan penambahan 10 % saham Freeport di Indonesia dan perpanjangan
izin tambang selama 20 tahun telah capai tahap akhir,” kata Presiden Jokowi.
Presiden berharap agar pembahasan dapat diselesaikan pada
akhir November ini. Sejauh ini, Pemerintah Indonesia memberikan dua syarat
untuk perpanjangan kontrak IUPK PT Freeport Indonesia di Tambang Grasberg,
Papua. Syarat tersebut adalah penambahan saham pemerintah sebanyak 10 % dan pembangunan
smelter baru di Papua. Adapun perpanjangan masa operasi yang diberikan 2 x 10 tahun
setelah 2041. Secara terpisah, Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Ad
Interim Erick Thohir menambahkan, saat ini BUMN melalui MIND ID sudah memiliki
51 % saham PT Freeport Indonesia. Ke depan, diharapkan hilirisasi dan
industrialisasi bisa berlanjut. Karena itu, pembangunan smelter untuk mengolah
hasil pertambangan emas dan tembaga diperlukan. (Yoga)
61% Saham RI di Freeport Dekati Kepastian
Habiskan Rp 35 Triliun, Grup Astra Lanjut Ekspansi Bisnis
ASII Masih Akan Rajin Ekspansi
PT Astra International Tbk (ASII) masih akan menginjak gas dalam ekspansi tahun depan. ASII membuka peluang investasi, baik investasi baru ataupun investasi yang berhubungan dengan bisnis inti perusahaan.
Presiden Direktur Astra International, Djony Bunarto Tjondro mengatakan, seluruh investasi ASII dilakukan berdasarkan kajian dengan prospek bisnisnya.
Saat ini, ASII memiliki tujuh lini bisnis utama. Di antaranya, otomotif, alat berat, dan pertambangan, jasa keuangan, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, serta properti.
Ekspansi ASII ini terus dilakukan kendati kas internal ASII cenderung turun dan jumlah kewajiban meningkat. Djony melihat penurunan kas dan kenaikan liabilitas bisa terjadi di tengah gencarnya ekspansi.
Sayangnya, Djony belum memaparkan secara gamblang sektor atau perusahaan apa yang dibidik ASII tahun depan. Yang jelas, investasi atau akuisisi tersebut bisa memberikan return yang baik dan potensial untuk dibawa ke dalam portofolio Astra.
Head of Investor Relations
ASII, Tira Ardianti mengatakan, total rencana capex ASII di tahun 2023 sebenarnya sekitar Rp 26,5 triliun. Sehingga, nilai penyerapan ini juga lebih tinggi dari tahun lalu. Wajar saja, ASII banyak melakukan akuisisi penambahan modal ataupun pengambilan saham di beberapa perusahaan.
"Lalu, ada beberapa aksi korporasi lain, termasuk pengambilan saham di Nickel Industries Limited (NIC), penambahan investasi di Halodoc, akuisisi OLX, dan akuisisi Hotel Mandarin Oriental, ujarnya.
Analis NH Korindo Sekuritas, Axell Ebenhaezer menilai, kinerja ASII ke depan masih akan kuat, disokong pemulihan ekonomi dan keyakinan konsumen. Dia menilai, saham ASII
undervalue.
Laba Bersih dari Bisnis Energi Bersih
Usai mencatatkan saham perdana pada Oktober 2023, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melaporkan kinerja periode Januari-September 2023. Hasilnya, BREN mencetak kenaikan pendapatan dan laba bersih dari bisnis energi baru terbarukan alias energi bersih.
Anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini mencetak laba bersih senilai US$ 84,47 juta atau senilai Rp 1,32 triliun dengan asumsi kurs rupiah Rp 15.701 per dollar AS. Realisasi ini naik 12,4% secara tahunan. Kenaikan laba bersih ini sejalan dengan pertumbuhan pendapatan BREN US$ 445,27 juta, atau naik 5,14% secara tahunan.
Pendapatan BREN didominasi penjualan ke pihak ketiga. Penjualan listrik menjadi tulang punggung BREN, mencapai US$ 205,46 juta, naik 8,5% secara tahunan.
Adapun penjualan listrik dan uap, pendapatan sewa operasi dan pendapatan sewa pembiayaan dihasilkan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Namun, penjualan kredit karbon BREN merosot 99,8% menjadi hanya US$ 4.000 dari US$ 3,26 juta.
Beban BREN terpantau meningkat. Seperti beban usaha naik 6,8% menjadi US$ 127,12 juta dan beban keuangan melompat 60,44% menjadi US$ 100,54 juta dari s US$ 62,66 juta.
Penguatan yang signifikan menyebabkan perdagangan saham BREN sempat dihentikan sementara pada Jumat (10/11). Penguatan harga saham ini menjadikan kapitalisasi pasar BREN melonjak. Per Senin (13/11),
market cap
BREN menyentuh Rp 709 triliun dan membayangi
market cap
BBRI yang senilai Rp 761,58 triliun.
Saat ini BREN melalui anak usahanya, Star Energy Group Holdings Pte Ltd berkomitmen untuk mengembangkan usahanya salah satunya melalui Proyek Salak Binary. "Selain itu BREN melalui Star Energy juga tetap aktif mencari prospek pengembangan usaha melalui akuisisi atas perusahaan energi baru dan terbarukan baik di dalam negeri dan di luar negeri," tulis Merly, Sekretaris Perusahaan BREN.
Head of Equities Investment
Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni menilai, di tengah lonjakan saham BREN, investor bisa memulai
profit taking
secara bertahap.
Head of Business Development
FAC Sekuritas, Kenji Putera Tjahaja menilai, bisnis BREN cukup menarik seiring isu energi baru terbarukan (EBT) yang sedang jadi fokus perhatian baik dalam dan luar negeri.
Pilihan Editor
-
Tingkat Keterisian Penginapan Murah Melejit
20 Jan 2020 -
Jiwasraya Diduga Lalai Kembangkan Bisnis
20 Jan 2020 -
Model Bisnis Usaha Rintisan Bakal Berubah
20 Jan 2020 -
Momentum Reformasi Industri Asuransi
20 Jan 2020









