Saham
( 1717 )Tekanan ke Emiten Batubara Belum Reda
Laba bersih emiten tambang batubara sepanjang Januari hingga September 2023 merosot mengikuti penurunan harga batubara. Penurunan kinerja ini diprediksikan masih berlangsung pada kuartal akhir tahun ini.
Terkini, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melaporkan penurunan laba bersih menjadi US$ 405,83 juta. Realisasi ini tergerus 54,6% secara tahunan. Pendapatan ITMG pun turun sebesar 30,19% menjadi US$ 1,82 miliar.
Penurunan kinerja juga dialami PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan koreksi laba bersih hingga 62,21% menjadi Rp 3,8 triliun. PT Indika Energy Tbk (INDY) juga bernasib sama. Bahkan, laba bersih INDY tergerus 72,26% secara tahunan menjadi sebesar US$ 93,83 juta per akhir September 2023.
Sedangkan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) melaporkan pendapatan dan laba bersih yang kompak turun, masing-masing minus 15,76% dan minus 35,96%.
Presiden Direktur dan
Chief Executive Officer
ADRO Garibaldi Thohir mengatakan,
average selling price
(ASP) ADRO turun 25%. Padahal, produksi dan penjualan batubara ADRO masing-masing naik sebesar 12% dan 11% menjadi 50,73 juta ton dan 49,12 juta ton.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan menilai, belum akan ada
rebound
signifikan kinerja emiten batubara di kuartal IV-2023. Biasanya, memang ada kenaikan permintaan batubara seiring masuknya musim dingin di negara-negara importir batubara seperti China, Jepang dan India.
Proyeksi dia, harga rata-rata batubara Newcastle pada di kuartal IV-2023 berkisar di US$ 135 per ton.Kinerja emiten tambang batubara bisa terbantu dari sisi biaya tunai (
cash cost
), yang kemungkinan akan sedikit menurun. Ini karena ada normalisasi harga minyak dan penurunan
royalty rate
. Oleh karena itu, Rizkia lebih merekomendasikan emiten batubara yang mulai mendiversifikasikan bisnis seperti HRUM dan ADRO.
Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan merekomendasikan
hold
saham PTBA dan dengan menurunkan target harga menjadi Rp 2.700 per saham.
Menanti Kendali Penuh Indonesia atas PT Vale Indonesia Tbk
Keputusan final negosiasi terkait divestasi saham PT Vale
Indonesia Tbk kepada induk perusahaan industri pertambangan BUMN, Mind.id,
dinanti. Dengan tambahan akuisisi saham 14 % lagi, Mind.id akan menjadi
pemegang saham mayoritas dan menjadi penentu kebijakan dalam menjalankan
perusahaan tambang mineral itu. Sebagaimana dipaparkan pihak Kementerian ESDM
dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Selasa (29/8). PT Vale Indonesia,
dulu bernama PT International Nickel Indonesia (Inco), pertama kali melepas
saham pada 1990. Saat itu, 20 % saham perusahaan yang didirikan pada 1968
tersebut dilepas melalui Bursa Efek Indonesia. Pada 2020, PT Vale Indonesia
(PTVI) memenuhi kewajiban divestasi tahap kedua dengan menjual 20 % saham milik
Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Co Ltd (SMM) kepada pembeli
yang ditunjuk pemerintah, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero)/Mind.id
(sebelum dipisahkan), sebagai kewajiban PTVI untuk melanjutkan operasinya
setelah 2025, saat berakhirnya kontrak karya.
Dengan demikian, dikutip dari laman perusahaan, komposisi
pemegang saham PTVI saat ini ialah VCL 43,79 %, SMM 15,03 %, Mind.id 20 persen,
publik (di BEI) 20,64 %, dan Vale Japan Limited 0,54 %. Untuk memperpanjang kontrak
operasi produksi, menjadi izin usaha penambangan khusus (IUPK), PTVI wajib
mendivestasikan saham paling sedikit 51 % secara bertahap kepada pemerintah
pusat, pemda, BUMN, BUMD, dan/atau badan usaha swasta nasional. Hal itu
tertuang dalam PP No 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan
Minerba. Artinya, kewajiban divestasi PTVI tinggal 11 %. Namun, dalam
perkembangannya, seiring dengan keinginan pemerintah dan Mind.id untuk menjadi
pemegang saham mayoritas, Vale Canada dan SMM bersedia menawarkan penjualan
saham hingga 14 %. Hal itu dilakukan untuk memastikan Mind.id menjadi pemegang
saham terbesar, yakni dari 20 % menjadi 34 %. (Yoga)
Komoditas Menyetir Emiten Pelayaran
Kinerja sejumlah emiten pelayaran per September 2023 masih melambat. Ini terlihat dari pendapatan yang mengalami tekanan sehingga berimbas pada bottom line.
Misalnya, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) yang membukukan pendapatan US$ 575,41 juta hingga kuartal III-2023. Ini turun 32,61% secara tahunan. Alhasil, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 62,90% secara tahunan dari US$ 171,53 juta menjadi US$ 63,62 juta. Pendapatan usaha PT IMC Pelita Logistik Tbk (PSSI) juga turun 7,76% secara tahunan menjadi US$ 79,31 juta. Sementara laba bersih PSSI merosot sebesar 59,37%.
Namun masih ada beberapa emiten yang mencetak pertumbuhan positif. Salah satunya, PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) yang sanggup mencetak laba bersih. Per 30 September 2023, WINS membukukan laba bersih US$ 2,74 juta. Ini berbalik dari rugi bersih US$ 2 juta per kuartal III-2022.
Pek Swan Layanto, Investor Relation WINS optimistis kinerja WINS akan lebih kuat sepanjang sisa tahun ini.
PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) juga bisa mempertahankan pertumbuhan yang solid sepanjang sembilan bulan pertama di 2023. Pendapatan ELPI melonjak 76,22% secara tahunan ke Rp 806,05 miliar. Laba bersih ELPI menembus Rp 146,55 miliar atau melesat 76,58% tahunan dari Rp 82,99 miliar.
Efilya Kusumadewi, Direktur Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari menyebut realisasi ini didukung pembaruan beberapa kontrak eksisting dan tambahan kontrak baru.
Nafan Aji Gusta,
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas menjelaskan, kenaikan permintaan komoditas di akhir tahun ini bisa mendorong lonjakan harga komoditas. Ini akan berdampak positif bagi emiten pelayaran.
Equity Research Associate
Samuel Sekuritas Indonesia Daniel Widjaja menyampaikan ada beberapa katalis yang akan mendorong laju emiten pelayaran. Mulai dari normalisasi harga komoditas hingga kenaikan permintaan angkutan komoditas.
SINYAL KENDALI MIND ID DI VALE
Pemerintah memberikan sinyal holding pertambangan PT Mineral Industri Indonesia atau MIND ID bakal menjadi pengendali saham PT Vale Indonesia, Tbk., seiring disepakatinya proses divestasi sebesar 14% kepada negara. Sebelum perubahan ditetapkan, mayoritas saham perusahaan berkode emiten INCO itu dipegang oleh Vale Canada Limited dengan porsi mencapai 44,3% yang sahamnya dimiliki 100% oleh Vale S.A. Sisanya, saham Vale Indonesia dipegang oleh MIND ID sebesar 20%, Sumitomo Metal Mining Co. Ltd. 15%, dan publik 20,7%. Lewat kesepakatan terbaru, MIND ID akan menjadi pemegang saham mayoritas dari kepemilikan saat ini menjadi 34%. Sementara itu, baik saham Vale Canada maupun Sumitomo diproyeksikan serempak menyusut. Dalam negosiasi terakhir pada Agustus lalu, Vale Canada diketahui bersedia untuk melepas 10,5% sahamnya menjadi 33,29%. Adapun, Sumitomo siap melepas 3,5% sahamnya menjadi 11,53%. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menerangkan nantinya perusahaan pertambangan plat merah berhak untuk menentukan posisi direktur utama dan komisaris utama di tubuh Vale Indonesia.
Bisnis telah menghubungi sejumlah direksi MIND ID maupun Vale Indonesia hingga Kementerian BUMN untuk memastikan pernyataan Arifin. Namun, belum ada tanggapan resmi dari pihak tersebut hingga berita ini naik cetak. Keputusan terkait pelepasan 14% saham Vale kepada negara juga diungkapkan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Pun demikian, kedua pejabat itu tidak menerangkan secara gamblang perusahaan pengendali Vale Indonesia ke depan. Di sisi lain, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal meminta Vale memberikan harga yang adil dan tidak terlalu mahal untuk BUMN. Kesepakatan divestasi tersebut sekaligus memastikan pemerintah akan memberi lampu hijau bagi kelanjutan operasional Vale Indonesia di Tanah Air. Pada Agustus lalu, Direktur Keuangan MIND ID Akhmad Fazri mengatakan arus kas holding tambang itu terbilang positif untuk dapat membiayai sendiri aksi korporasi tersebut. Beberapa anggota holding membagikan dividen cukup besar seiring dengan siklus komoditas 3 tahun terakhir. Meski begitu, aksi korporasi untuk akuisisi sisa kewajiban divestasi itu akan dilakukan sejauh MIND ID mendapat kepastian sebagai pengendali aset tambang nikel terintegrasi di luasan konsesi 118.017 hektare (ha) milik INCO. Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menegaskan akusisi saham Vale Indonesia tetap harus dilakukan meskipun berjalan alot. Menurutnya, akuisisi saham Vale bahkan perlu dipercepat karena sarat manfaat. “Ini menjadi momentum tepat untuk melakukan divestasi saham PT Vale,” kata Fahmy Sabtu (5/11).
Pasar Derivatif di BEI Masih Sunyi
Emiten Grup Barito Jadi Motor Penggerak Bursa
Harga Minyak Naik, Kinerja Mendaki
Cermat Memilih Saham Pilihan di Tahun Pemilu
Saham Tiga Pendatang Baru Kompak Naik
Menakar Gelagat Window Dressing
Memasuki akhir tahun, kinerja indeks harga saham gabungan atau IHSG masih kurang bertenaga akibat tertekan oleh sentimen ekonomi global. Padahal, pelaku pasar saham tentu saja mengharapkan fenomena window dressing terjadi di pengujung tahun ini setelah absen pada 2022. Indeks komposit sejatinya bergerak rebound dengan pertumbuhan positif sepanjang 6 hari perdagangan di awal November, setelah tersungkur 2,70% selama Oktober. Keputusan The Fed menahan suku bunga telah menjadi katalis yang mengungkit pasar saham global, terutama bursa di negara berkembang seperti Indonesia. Kami meyakini peluang terjadinya window dressing di akhir tahun ini tetap terbuka lebar. Manajer investasi yang selama ini menjadi pemain utama yang mendorong window dressing sepertinya bakal memburu beberapa sektor saham andalan yakni konsumer dan perbankan. Sejumlah saham emiten konsumer dan perbankan bakal menikmati dampak dari keriuhan Pemilu 2024 melalui belanja kampanye yang sudah dimulai sejak akhir tahun ini. Secara historis, momentum pemilu turut memengaruhi pasar saham karena tingginya pengeluaran konsumsi dan penyaluran kredit bank. Beberapa saham konsumer dan perbankan kini tergolong undervalued dan terdiskon cukup banyak dalam beberapa waktu terakhir. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), misalnya, sangat mungkin menguji level di atas 9.000 karena ditopang pertumbuhan kinerja yang konsisten. Begitu juga dengan saham emiten konsumer seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) yang relatif sudah undervalued. Selain kedua sektor saham itu, investor juga tetap harus mencermati potensi kenaikan harga saham berkapitalisasi besar di sektor properti dan telekomunikasi. Otoritas bursa mencatat ada 29 calon emiten yang siap mencatatkan sahamnya dalam waktu dekat. Dari 29 perusahaan itu, 12 di antaranya merupakan pendatang baru dengan aset berskala jumbo atau di atas Rp250 miliar. Sampai dengan Rabu (8/11), Bursa Efek Indonesia telah kedatangan 77 emiten baru. PT Ikapharmindo Putramas Tbk. (IKPM), PT Mastersystem Infotama Tbk. (MSTI), dan PT Kian Santang Muliatama Tbk. (RGAS) menjadi yang teranyar. Ketiganya kompak mencatatkan sahamnya kemarin. MSTI melepas 470,82 juta saham atau setara 15% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah proses IPO dengan harga penawaran Rp1.355 per saham.
Pilihan Editor
-
Pemerintah Atur Kehadiran Niaga Daring Asing
05 Dec 2019 -
Menjadikan Cashless Society Sebagai Kebutuhan
29 Nov 2019









