Saham
( 1722 )Mobilitas, Kunci Kinerja Emiten Tol
Kinerja emiten jalan tol diproyeksi masih prospektif di periode kuartal IV 2023 ini. Meski, kinerja sejumlah emiten jalan tol terbilang beragam.
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian menyatakan, secara umum, emiten jalan tol per Juni 2023 masih mencatatkan pertumbuhan kinerja. Sentimen penggeraknya terkait mobilitas masyarakat yang sudah semakin normal.
Namun Fajar memperkirakan, kinerja emiten jalan tol pada kuartal IV 2023 dan tahun 2024 masih prospektif. Terlebih tahun depan konsumsi masyarakat diprediksi melonjak seiring dengan hajatan pemilu 2024. Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto juga sependapat, melihat kinerja rata-rata emiten jalan tol sejauh ini positif dari sisi
top line. Ini seiring semakin tingginya lalu lintas masyarakat.
Maka Pandhu melihat prospek jalan tol cenderung positif seiring pembangunan yang terus berlanjut. Namun, Pandhu mengingatkan, proyek jalan tol adalah padat modal, sehingga sulit melakukan balik modal secara cepat.
Sentimen utama positif dari kinerja emiten jalan tol tentu masih pada proyek infrastruktur yang akan dibangun oleh pemerintah.
Berbeda, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana yang merekomendasikan
buy if break
untuk JSMR dengan target harga Rp 4.800 - Rp 5.000 per saham. Serta
speculative buy
untuk CMNP dengan target harga Rp 1.650 - Rp 1.700 per saham.
PT FREEPORT INDONESIA, Tahap Akhir Pembahasan Tambah Saham
Presiden Jokowi mengharap pembahasan penambahan saham pemerintah
sebanyak 10 % di Freeport Indonesia segera diputuskan. Dengan demikian, perpanjangan
kontrak izin usaha pertambangan khusus atau IUPK PT Freeport Indonesia di Tambang
Grasberg, Papua, setelah tahun 2041 bisa segera dikeluarkan. Hal ini
disampaikan Presiden Jokowi saat menerima Chairman Freeport McMoran Richard
Adkerson di Hotel Waldorf Astoria, Washington DC, AS, Senin (13/11). ”Saya
senang mendengar pembahasan penambahan 10 % saham Freeport di Indonesia dan perpanjangan
izin tambang selama 20 tahun telah capai tahap akhir,” kata Presiden Jokowi.
Presiden berharap agar pembahasan dapat diselesaikan pada
akhir November ini. Sejauh ini, Pemerintah Indonesia memberikan dua syarat
untuk perpanjangan kontrak IUPK PT Freeport Indonesia di Tambang Grasberg,
Papua. Syarat tersebut adalah penambahan saham pemerintah sebanyak 10 % dan pembangunan
smelter baru di Papua. Adapun perpanjangan masa operasi yang diberikan 2 x 10 tahun
setelah 2041. Secara terpisah, Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Ad
Interim Erick Thohir menambahkan, saat ini BUMN melalui MIND ID sudah memiliki
51 % saham PT Freeport Indonesia. Ke depan, diharapkan hilirisasi dan
industrialisasi bisa berlanjut. Karena itu, pembangunan smelter untuk mengolah
hasil pertambangan emas dan tembaga diperlukan. (Yoga)
61% Saham RI di Freeport Dekati Kepastian
Habiskan Rp 35 Triliun, Grup Astra Lanjut Ekspansi Bisnis
ASII Masih Akan Rajin Ekspansi
PT Astra International Tbk (ASII) masih akan menginjak gas dalam ekspansi tahun depan. ASII membuka peluang investasi, baik investasi baru ataupun investasi yang berhubungan dengan bisnis inti perusahaan.
Presiden Direktur Astra International, Djony Bunarto Tjondro mengatakan, seluruh investasi ASII dilakukan berdasarkan kajian dengan prospek bisnisnya.
Saat ini, ASII memiliki tujuh lini bisnis utama. Di antaranya, otomotif, alat berat, dan pertambangan, jasa keuangan, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, serta properti.
Ekspansi ASII ini terus dilakukan kendati kas internal ASII cenderung turun dan jumlah kewajiban meningkat. Djony melihat penurunan kas dan kenaikan liabilitas bisa terjadi di tengah gencarnya ekspansi.
Sayangnya, Djony belum memaparkan secara gamblang sektor atau perusahaan apa yang dibidik ASII tahun depan. Yang jelas, investasi atau akuisisi tersebut bisa memberikan return yang baik dan potensial untuk dibawa ke dalam portofolio Astra.
Head of Investor Relations
ASII, Tira Ardianti mengatakan, total rencana capex ASII di tahun 2023 sebenarnya sekitar Rp 26,5 triliun. Sehingga, nilai penyerapan ini juga lebih tinggi dari tahun lalu. Wajar saja, ASII banyak melakukan akuisisi penambahan modal ataupun pengambilan saham di beberapa perusahaan.
"Lalu, ada beberapa aksi korporasi lain, termasuk pengambilan saham di Nickel Industries Limited (NIC), penambahan investasi di Halodoc, akuisisi OLX, dan akuisisi Hotel Mandarin Oriental, ujarnya.
Analis NH Korindo Sekuritas, Axell Ebenhaezer menilai, kinerja ASII ke depan masih akan kuat, disokong pemulihan ekonomi dan keyakinan konsumen. Dia menilai, saham ASII
undervalue.
Laba Bersih dari Bisnis Energi Bersih
Usai mencatatkan saham perdana pada Oktober 2023, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melaporkan kinerja periode Januari-September 2023. Hasilnya, BREN mencetak kenaikan pendapatan dan laba bersih dari bisnis energi baru terbarukan alias energi bersih.
Anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini mencetak laba bersih senilai US$ 84,47 juta atau senilai Rp 1,32 triliun dengan asumsi kurs rupiah Rp 15.701 per dollar AS. Realisasi ini naik 12,4% secara tahunan. Kenaikan laba bersih ini sejalan dengan pertumbuhan pendapatan BREN US$ 445,27 juta, atau naik 5,14% secara tahunan.
Pendapatan BREN didominasi penjualan ke pihak ketiga. Penjualan listrik menjadi tulang punggung BREN, mencapai US$ 205,46 juta, naik 8,5% secara tahunan.
Adapun penjualan listrik dan uap, pendapatan sewa operasi dan pendapatan sewa pembiayaan dihasilkan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Namun, penjualan kredit karbon BREN merosot 99,8% menjadi hanya US$ 4.000 dari US$ 3,26 juta.
Beban BREN terpantau meningkat. Seperti beban usaha naik 6,8% menjadi US$ 127,12 juta dan beban keuangan melompat 60,44% menjadi US$ 100,54 juta dari s US$ 62,66 juta.
Penguatan yang signifikan menyebabkan perdagangan saham BREN sempat dihentikan sementara pada Jumat (10/11). Penguatan harga saham ini menjadikan kapitalisasi pasar BREN melonjak. Per Senin (13/11),
market cap
BREN menyentuh Rp 709 triliun dan membayangi
market cap
BBRI yang senilai Rp 761,58 triliun.
Saat ini BREN melalui anak usahanya, Star Energy Group Holdings Pte Ltd berkomitmen untuk mengembangkan usahanya salah satunya melalui Proyek Salak Binary. "Selain itu BREN melalui Star Energy juga tetap aktif mencari prospek pengembangan usaha melalui akuisisi atas perusahaan energi baru dan terbarukan baik di dalam negeri dan di luar negeri," tulis Merly, Sekretaris Perusahaan BREN.
Head of Equities Investment
Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni menilai, di tengah lonjakan saham BREN, investor bisa memulai
profit taking
secara bertahap.
Head of Business Development
FAC Sekuritas, Kenji Putera Tjahaja menilai, bisnis BREN cukup menarik seiring isu energi baru terbarukan (EBT) yang sedang jadi fokus perhatian baik dalam dan luar negeri.
Tekanan ke Emiten Batubara Belum Reda
Laba bersih emiten tambang batubara sepanjang Januari hingga September 2023 merosot mengikuti penurunan harga batubara. Penurunan kinerja ini diprediksikan masih berlangsung pada kuartal akhir tahun ini.
Terkini, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melaporkan penurunan laba bersih menjadi US$ 405,83 juta. Realisasi ini tergerus 54,6% secara tahunan. Pendapatan ITMG pun turun sebesar 30,19% menjadi US$ 1,82 miliar.
Penurunan kinerja juga dialami PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan koreksi laba bersih hingga 62,21% menjadi Rp 3,8 triliun. PT Indika Energy Tbk (INDY) juga bernasib sama. Bahkan, laba bersih INDY tergerus 72,26% secara tahunan menjadi sebesar US$ 93,83 juta per akhir September 2023.
Sedangkan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) melaporkan pendapatan dan laba bersih yang kompak turun, masing-masing minus 15,76% dan minus 35,96%.
Presiden Direktur dan
Chief Executive Officer
ADRO Garibaldi Thohir mengatakan,
average selling price
(ASP) ADRO turun 25%. Padahal, produksi dan penjualan batubara ADRO masing-masing naik sebesar 12% dan 11% menjadi 50,73 juta ton dan 49,12 juta ton.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan menilai, belum akan ada
rebound
signifikan kinerja emiten batubara di kuartal IV-2023. Biasanya, memang ada kenaikan permintaan batubara seiring masuknya musim dingin di negara-negara importir batubara seperti China, Jepang dan India.
Proyeksi dia, harga rata-rata batubara Newcastle pada di kuartal IV-2023 berkisar di US$ 135 per ton.Kinerja emiten tambang batubara bisa terbantu dari sisi biaya tunai (
cash cost
), yang kemungkinan akan sedikit menurun. Ini karena ada normalisasi harga minyak dan penurunan
royalty rate
. Oleh karena itu, Rizkia lebih merekomendasikan emiten batubara yang mulai mendiversifikasikan bisnis seperti HRUM dan ADRO.
Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan merekomendasikan
hold
saham PTBA dan dengan menurunkan target harga menjadi Rp 2.700 per saham.
Menanti Kendali Penuh Indonesia atas PT Vale Indonesia Tbk
Keputusan final negosiasi terkait divestasi saham PT Vale
Indonesia Tbk kepada induk perusahaan industri pertambangan BUMN, Mind.id,
dinanti. Dengan tambahan akuisisi saham 14 % lagi, Mind.id akan menjadi
pemegang saham mayoritas dan menjadi penentu kebijakan dalam menjalankan
perusahaan tambang mineral itu. Sebagaimana dipaparkan pihak Kementerian ESDM
dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Selasa (29/8). PT Vale Indonesia,
dulu bernama PT International Nickel Indonesia (Inco), pertama kali melepas
saham pada 1990. Saat itu, 20 % saham perusahaan yang didirikan pada 1968
tersebut dilepas melalui Bursa Efek Indonesia. Pada 2020, PT Vale Indonesia
(PTVI) memenuhi kewajiban divestasi tahap kedua dengan menjual 20 % saham milik
Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Co Ltd (SMM) kepada pembeli
yang ditunjuk pemerintah, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero)/Mind.id
(sebelum dipisahkan), sebagai kewajiban PTVI untuk melanjutkan operasinya
setelah 2025, saat berakhirnya kontrak karya.
Dengan demikian, dikutip dari laman perusahaan, komposisi
pemegang saham PTVI saat ini ialah VCL 43,79 %, SMM 15,03 %, Mind.id 20 persen,
publik (di BEI) 20,64 %, dan Vale Japan Limited 0,54 %. Untuk memperpanjang kontrak
operasi produksi, menjadi izin usaha penambangan khusus (IUPK), PTVI wajib
mendivestasikan saham paling sedikit 51 % secara bertahap kepada pemerintah
pusat, pemda, BUMN, BUMD, dan/atau badan usaha swasta nasional. Hal itu
tertuang dalam PP No 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan
Minerba. Artinya, kewajiban divestasi PTVI tinggal 11 %. Namun, dalam
perkembangannya, seiring dengan keinginan pemerintah dan Mind.id untuk menjadi
pemegang saham mayoritas, Vale Canada dan SMM bersedia menawarkan penjualan
saham hingga 14 %. Hal itu dilakukan untuk memastikan Mind.id menjadi pemegang
saham terbesar, yakni dari 20 % menjadi 34 %. (Yoga)
Komoditas Menyetir Emiten Pelayaran
Kinerja sejumlah emiten pelayaran per September 2023 masih melambat. Ini terlihat dari pendapatan yang mengalami tekanan sehingga berimbas pada bottom line.
Misalnya, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) yang membukukan pendapatan US$ 575,41 juta hingga kuartal III-2023. Ini turun 32,61% secara tahunan. Alhasil, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 62,90% secara tahunan dari US$ 171,53 juta menjadi US$ 63,62 juta. Pendapatan usaha PT IMC Pelita Logistik Tbk (PSSI) juga turun 7,76% secara tahunan menjadi US$ 79,31 juta. Sementara laba bersih PSSI merosot sebesar 59,37%.
Namun masih ada beberapa emiten yang mencetak pertumbuhan positif. Salah satunya, PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) yang sanggup mencetak laba bersih. Per 30 September 2023, WINS membukukan laba bersih US$ 2,74 juta. Ini berbalik dari rugi bersih US$ 2 juta per kuartal III-2022.
Pek Swan Layanto, Investor Relation WINS optimistis kinerja WINS akan lebih kuat sepanjang sisa tahun ini.
PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) juga bisa mempertahankan pertumbuhan yang solid sepanjang sembilan bulan pertama di 2023. Pendapatan ELPI melonjak 76,22% secara tahunan ke Rp 806,05 miliar. Laba bersih ELPI menembus Rp 146,55 miliar atau melesat 76,58% tahunan dari Rp 82,99 miliar.
Efilya Kusumadewi, Direktur Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari menyebut realisasi ini didukung pembaruan beberapa kontrak eksisting dan tambahan kontrak baru.
Nafan Aji Gusta,
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas menjelaskan, kenaikan permintaan komoditas di akhir tahun ini bisa mendorong lonjakan harga komoditas. Ini akan berdampak positif bagi emiten pelayaran.
Equity Research Associate
Samuel Sekuritas Indonesia Daniel Widjaja menyampaikan ada beberapa katalis yang akan mendorong laju emiten pelayaran. Mulai dari normalisasi harga komoditas hingga kenaikan permintaan angkutan komoditas.
SINYAL KENDALI MIND ID DI VALE
Pemerintah memberikan sinyal holding pertambangan PT Mineral Industri Indonesia atau MIND ID bakal menjadi pengendali saham PT Vale Indonesia, Tbk., seiring disepakatinya proses divestasi sebesar 14% kepada negara. Sebelum perubahan ditetapkan, mayoritas saham perusahaan berkode emiten INCO itu dipegang oleh Vale Canada Limited dengan porsi mencapai 44,3% yang sahamnya dimiliki 100% oleh Vale S.A. Sisanya, saham Vale Indonesia dipegang oleh MIND ID sebesar 20%, Sumitomo Metal Mining Co. Ltd. 15%, dan publik 20,7%. Lewat kesepakatan terbaru, MIND ID akan menjadi pemegang saham mayoritas dari kepemilikan saat ini menjadi 34%. Sementara itu, baik saham Vale Canada maupun Sumitomo diproyeksikan serempak menyusut. Dalam negosiasi terakhir pada Agustus lalu, Vale Canada diketahui bersedia untuk melepas 10,5% sahamnya menjadi 33,29%. Adapun, Sumitomo siap melepas 3,5% sahamnya menjadi 11,53%. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menerangkan nantinya perusahaan pertambangan plat merah berhak untuk menentukan posisi direktur utama dan komisaris utama di tubuh Vale Indonesia.
Bisnis telah menghubungi sejumlah direksi MIND ID maupun Vale Indonesia hingga Kementerian BUMN untuk memastikan pernyataan Arifin. Namun, belum ada tanggapan resmi dari pihak tersebut hingga berita ini naik cetak. Keputusan terkait pelepasan 14% saham Vale kepada negara juga diungkapkan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Pun demikian, kedua pejabat itu tidak menerangkan secara gamblang perusahaan pengendali Vale Indonesia ke depan. Di sisi lain, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal meminta Vale memberikan harga yang adil dan tidak terlalu mahal untuk BUMN. Kesepakatan divestasi tersebut sekaligus memastikan pemerintah akan memberi lampu hijau bagi kelanjutan operasional Vale Indonesia di Tanah Air. Pada Agustus lalu, Direktur Keuangan MIND ID Akhmad Fazri mengatakan arus kas holding tambang itu terbilang positif untuk dapat membiayai sendiri aksi korporasi tersebut. Beberapa anggota holding membagikan dividen cukup besar seiring dengan siklus komoditas 3 tahun terakhir. Meski begitu, aksi korporasi untuk akuisisi sisa kewajiban divestasi itu akan dilakukan sejauh MIND ID mendapat kepastian sebagai pengendali aset tambang nikel terintegrasi di luasan konsesi 118.017 hektare (ha) milik INCO. Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menegaskan akusisi saham Vale Indonesia tetap harus dilakukan meskipun berjalan alot. Menurutnya, akuisisi saham Vale bahkan perlu dipercepat karena sarat manfaat. “Ini menjadi momentum tepat untuk melakukan divestasi saham PT Vale,” kata Fahmy Sabtu (5/11).
Pilihan Editor
-
Pemerintah Atur Kehadiran Niaga Daring Asing
05 Dec 2019 -
Menjadikan Cashless Society Sebagai Kebutuhan
29 Nov 2019









