;
Tags

Saham

( 1717 )

Menjala Bonus Akhir Tahun dari Emiten

HR1 09 Nov 2023 Kontan
Menjelang tutup tahun, emiten yang memberi bonus akhir tahun berupa dividen interim masih semarak. Per Rabu (8/11),, paling tidak 10 emiten yang akan membagikan dividen interim. Teranyar, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) siap menebar dividen interim sebesar Rp 1,63 triliun. Setiap pemegang saham CPIN memperoleh Rp 100 setiap saham. Manajemen CPIN menjelaskan pembagian dividen ini merupakan keputusan sirkular direksi CPIN pada 3 November 2023 dan keputusan sirkular dewan komisaris pada 6 November 2023. Mayoritas para emiten pembagi dividen interim menawarkan dividend yield di bawah 2%. Saat ini, dividend yield terendah diberikan oleh PT Trisula International Tbk (TRIS). Kendati begitu, Direktur Utama Trisula International, Widjaya Djohan menyampaikan pembagian dividen ini mengacu pada pencapaian kinerja Grup Trisula per kuartal III-2023. Di sisi lain, dividend yield tertinggi diberikan oleh  PT Trans Power Marine Tbk (TPMA). Dengan harga penutupan Rabu (8/11) di Rp 30 per saham, dividend yield TPMA mencapai 4,44%. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mencermati, mayoritas emiten yang membagikan dividen berasal dari golongan small cap hingga mid cap. Ini akan mempengaruhi risiko investor. Equity Analyst Phintraco Sekuritas, Rio Febrian menyarankan bagi investor  orientasi jangka panjang, membeli atau menambah porsi saham saat ini bisa menjadi pilihan.

Domestik Tumpuan Emiten Saham Sawit

HR1 08 Nov 2023 Kontan
Harga minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) tampaknya mulai membaik. Melansir trading economics, Selasa (7/11), harga CPO sebulan terakhir naik 3,19%. Meski secara tahunan harga CPO anjlok 14,58%. Rupanya, kenaikan harga CPO sebulan terakhir ini berimbas ke kinerja ekspor komoditas tersebut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor CPO per kuartal III-2023 tercatat US$ 6,52 miliar. Realisasinya tumbuh 25,83% secara kuartalan, tapi turun  27,15% secara tahunan. Fenny Sofyan, Communications and Investor Relations Manager PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menilai, secara fundamental kenaikan harga CPO dalam sebulan terakhir karena terkerek oleh harga minyak nabati lain yang tengah naik. Salah satunya minyak kedelai. Untuk meningkatkan kinerja, AALI konsisten dengan target maupun strategi penjualan yang oportunis.  Tak heran, AALI memasang target pertumbuhan penjualan naik 5% setiap tahunnya. Sedangkan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) memproyeksi produksi tandan buah segar dan minyak kelapa sawit akan sedikit terkoreksi pada kuartal IV 2023. TAPG mencatatkan produksi tandan buah segar sebanyak 2,25 juta ton hingga bulan September 2023. Joni Tjeng, Sekretaris Korporat TAPG menyatakan produksi TBS dan CPO TAPG pada kuartal III 2023 diperkirakan mencapai titik tertinggi pada tahun ini. Secara kuartalan, pertumbuhan TBS dan CPO TAPG meningkat 10% dan 12%. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta melihat potensi pertumbuhan kinerja emiten CPO di kuartal IV 2024 masih bisa terjadi secara kuartalan. Sebab masih ada permintaan dari pasar domestik yang diprediksi meningkat.

Berburu Dividen Jelang Akhir Tahun

HR1 06 Nov 2023 Kontan

Musim pembagian bonus akhir tahun telah tiba. Sejumlah emiten akan segera membagikan dividen interim dalam waktu dekat. Misalnya, PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO) yang akan membagikan dividen interim  tahun buku 2023 sebesar Rp 2 per saham. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga akan membayarkan dividen interim untuk tahun buku 2023 sebesar Rp 15 per saham. Emiten farmasi lain,  PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) secara resmi juga akan membagikan dividen tengah tahun atau interim sebesar Rp 50 per saham. Tak mau ketinggalan, PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI) berencana untuk membagikan dividen interim kepada pemegang saham periode tahun buku 2023. Direktur Kiwoom Sekuritas Indonesia, Chang-kun Shin melihat, dampak pembagian dividen interim akan menyebabkan kinerja saham emiten tersebut berpeluang menguat. Khususnya menjelang cum date. Shin menilai  TSPC dan BUDI punya peluang melanjutkan tren pertumbuhan. Hal itu terlihat dari kinerja kedua emiten tersebut sampai bulan September 2023 yang menunjukkan pertumbuhan. Kepala Riset Praus Capital, Marolop Alfred Nainggolan menilai pembagian dividen dan dividen interim akan selalu menjadi katalis positif bagi performa saham emiten yang bersangkutan.

Emiten Jumbo Gencar Ekspansi

HR1 06 Nov 2023 Kontan
Kendati ekonomi dilanda ketidakpastian sepanjang tahun ini, sejumlah emiten tetap gencar melakukan ekspansi. Hal ini terlihat dari penyerapan belanja modal atau capital expenditure (capex) emiten yang lumayan besar hingga akhir September 2023 lalu. Contohnya, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang menggelontorkan capex US$ 473 juta hingga September 2023. Nilai ini meningkat 71% dibandingkan capex yang diserap ADRO sebanyak US$ 277 juta pada periode yang sama tahun lalu. Sebelumnya Adaro menargetkan capex 2023 antara US$ 400 juta - US$ 600 juta. Artinya jika di batas atas, jumlah penyerapan capex itu sudah 78%. Emiten lain yang agresif merealisasikan ekspansinya adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). AMMN menggarap ekspansi di sisi hulu tambang dan hilirisasi, dan telah menyerap capex US$ 480 juta, naik sekitar 119% secara tahunan. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) tak kalah agresif. Direktur INCO, Bernardus Irmanto mengatakan, sudah merealisasikan capex sekitar US$ 196 juta hingga September 2023. Sedangkan Sekretari Perusahaan UNTR, Sara K. Loebis mengatakan, UNTR telah menyerap capex senilai Rp 13,8 triliun hingga kuartal III-2023. Angka ini naik 160,3% secara tahunan. Tak cuma sektor energi yang lumayan agresif ekspansi. Sektor infrastruktur seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga sudah menyerap capex senilai Rp 22,1 triliun, naik 11,11% ketimbang periode yang sama tahun lalu. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo melihat penyerapan capex ]sepanjang sembilan bulan 2023 relatif ekspansif, khususnya pada perusahaan tambang. "Aksi ini memungkinkan lantaran emiten-emiten ini memiliki posisi kas dan permodalan yang solid," kata dia, Minggu (5/11).

Momentum Kebangkitan Pasar Saham

KT1 06 Nov 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga acuan diyakini menjadi momentum kebangkitan pasar saham Indonesia, yang tertekan hebat dalam tiga bulan terakhir. Apalagi, dalam pertemuan FOMC terakhir, The Fed mengirimkan banyak sinyal dovish kuat, yang menjadi angin segar pasar saham. Tak ayal lagi, begitu kabar itu mencuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung reli dalam dua hari beruntun, yakni Kamis dan Jumat pekan lalu, masing-masing sebesar 1,64% dan 0,55%, setelah sebelumnya babak belur dihajar ketidakpastian global dan maraknya aksi menghindari investasi berisiko tinggi (risk off). Asing kembali memborong saham dan mencetak net buy Rp309 miliar pada Jumat pekan lalu. Sejalan dengan itu, IHSG ditutup menguat 0,44 pada pekan lalu ke level 6.639, terendah dalam tiga bulan terakhir. Indeks tercatat melemah, 1,45% dalam sebulan,0 96% dalam tiga bulan, 0,44% dalam enam bulan, dan 0,9% secara year to date (ytd), berdasarkan data RTI. (Yetede)

Menanti Sinterklas Berbagi Kado Akhir Tahun di Bursa

HR1 06 Nov 2023 Kontan (H)
Sentimen suku bunga tinggi yang selama ini menghantui pasar keuangan nampak mulai mereda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramal bergerak lebih bertenaga di sisa tahun ini. Pasar lebih optimistis lantaran ada penurunan probabilitas kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve. Bank Indonesia (BI) menyebut probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun sudah di bawah 50%. Sedangkan dari Fed guidance yang dihimpun CME Group Fedwatch Tool, fed fund rate (FFR) masih akan tetap sebesar 5,25%-5,50% pada akhir tahun ini. Peluang kenaikan FFR dalam pertemuan Desember 2023 mendatang hanya sekitar 4,82%. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell yang bilang kalau tingkat suku bunga The Fed sudah berada di puncaknya membuat ketidakpastian berkurang. Sentimen pemilu pun bakal menggairahkan pasar saham. Tapi, Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan, kendati masih ada ruang kenaikan IHSG, nilainya sudah tak banyak lagi. Di sisa tahun ini, IHSG bakal lebih banyak disokong oleh sentimen dalam negeri, seperti pemilu dan rilis laporan keuangan emiten. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy mengatakan, peluang IHSG untuk naik di akhir tahun akan lebih besar jika The Fed tetap menahan bunga acuannya di pertemuan Desember mendatang. Bahkan, santa claus rally pun berpeluang terjadi di bulan depan. Pengamat dan Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee bilang, sikap dovish The Fed membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah mulai berkurang. Hitungan Hans, IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support 6.639-6.600 dan resistance 6.878-6.986 hingga akhir 2023. Sedangkan prediksi Nico, IHSG hingga akhir tahun bisa ke 7.120-7.180.

Geopolitik Tegang, Komoditas Panas

HR1 06 Nov 2023 Kontan
Tensi geopolitik di Timur Tengah kian memanas. Ini menyebabkan kekhawatiran baru muncul. Yakni terkait perkembangan harga-harga komoditas yang biasanya sangat terkait dengan gejolak global. Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, jika berbicara tensi geopolitik di Timur Tengah maka komoditas yang berpotensi langsung mendidih tak lain adalah komoditas minyak bumi. "Hal yang dikhawatirkan adanya perluasan dari tensi geopolitik yang tengah terjadi saat ini. Meskipun masih terkendali, tetapi volatilitas di pasar masih sangat tinggi," ujarnya kepada Kontan, Minggu (5/11). Berdasarkan data Bloomberg, sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, harga minyak berangsur-angsur naik. Harga minyak tertinggi berada pada level US$ 88,37 per barel pada tanggal 19 Oktober 2023. Bob Setiadi, analis CGS-CIMB Sekuritas Indonesia menjelaskan  meskipun Israel dan Palestina bukanlah pemain minyak utama, namun risiko dapat berasal dari dampak spillover ke wilayah dan negara penghasil minyak terdekat seperti Iran. "Kami pikir risiko konflik Israel-Hamas dapat menyebabkan sanksi Amerika Serikat (AS) yang lebih ketat terhadap ekspor minyak Iran tetap ada, sementara Iran dapat mengancam untuk menutup Selat Hormuz," paparnya. Analis Sinarmas Sekuritas, Isfhan Helmy menambahkan, semakin lama konflik tersebut berlanjut dan jika aktor-aktor regional lainnya juga turut terlibat, risiko harga minyak menembus US$ 100 per barel kian menguat. Hal ini terjadi di saat pasar minyak global sudah mengalami defisit yang cukup signifikan. Sebagai bagian dari kesepakatan ini, Arab Saudi telah merencanakan untuk meningkatkan pasokan minyaknya tahun depan. Namun, konflik Israel-Palestina mempersulit upaya untuk menormalkan hubungan antara Arab Saudi dan Israel, sehingga membatasi kemungkinan peningkatan pasokan minyak. Seiring dengan potensi kenaikan harga minyak dunia, harga komoditas lainnya juga berpotensi akan bergerak selaras. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa harga komoditas seperti batubara juga akan terkerek imbas dari kenaikan harga minyak dunia.

Tantangan Mengadang BUMN Tambang

HR1 03 Nov 2023 Kontan
Kinerja emiten saham yang tergabung dalam induk pertambangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mind Id masih loyo. Dari tiga emiten di bawah Mind Id, hanya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang laba bersihnya masih bertumbuh meskipun hanya single digit. Sementara dua emiten lainnya yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Timah Tbk (TINS) harus rela kinerja keuangan mereka tergerus. Salah satu biang kerok penurunan kinerja emiten tambang BUMN adalah penurunan harga komoditas. Niko Chandra, Sekretaris Perusahaan PTBA mengatakan, rata-rata harga batubara ICI-3 terkoreksi sekitar 33% menjadi sebesar US$ 86,3 per ton pada Januari-September 2023. Dus, penurunan kinerja PTBA tidak bisa terelakkan. Laba bersih PTBA merosot 62% menjadi hanya Rp 3,8 triliun per akhir September 2023. Fina Eliani, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS mengatakan, harga logam timah dunia terus tertekan akibat penguatan dolar AS dan lambatnya pemulihan perekonomian ChinaPenurunan harga jual ini juga dibarengi dengan penurunan kinerja operasional TINS. Samuel Glenn Tanuwidjaja, Senior Equity Analyst Jasa Utama Capital Sekuritas mengatakan, harga sejumlah komoditas seperti batubara, nikel, timah, dan tembaga memang lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Hanya harga emas saja yang mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya permintaan aset safe haven di saat inflasi Amerika Serikat (AS) dan inflasi negara berkembang masih meningkat. Meskipun kinerja ketiga emiten tambang BUMN ini masih lemah, Glenn melihat bisnis PTBA dan ANTM akan tetap defensif pada tahun depan. Meskipun, akan tetap ada pengaruh volatilitas dari efek pemilu dan sentimen resesi. Di sisi lain, pergerakan harga timah kemungkinan masih suram dan menjadi kabar buruk bagi kinerja dan bisnis TINS. "Namun, proyek smelter Ausmelt Furnace TINS kemungkinan akan meningkatkan kinerja operasional perusahaan dalam mengolah bijih timah kadar rendah ke depannya," kata Glenn. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan mengatakan, realisasi pendapatan PTBA pada sembilan bulan pertama 2023 berada di bawah estimasi Mirae Asset Sekuritas, atau hanya mencerminkan 66% target 2023. Rizkia merevisi turun proyeksi pendapatan PTBA pada 2023 sebesar 7,2% menjadi Rp 38,9 triliun. Sedangkan estimasi laba bersih PTBA dipangkas 24% menjadi Rp 5,3 triliun tahun ini.

Potensi Window Dressing Kembali Terbuka Lebar

HR1 03 Nov 2023 Kontan (H)
Investor saham  dalam negeri kembali sumringah setelah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan mata yang Garuda atau rupiah pun menguat sebagai respon atas keputusan The Fed. Pada penutupan perdagangan Kamis (2/11), IHSG menguat 1,64% atau naik 108,96 poin ke level 6.751,38. Sementara pada penutupan Kamis (2/11), rupiah di pasar spot juga menguat 0,51% menjadi Rp 15.855 per dolar Amerika Serikat (AS). Jika ditarik lebih jauh lagi, investor asing masih mencetak net sell sebesar Rp 14,45 triliun sepanjang tahun 2023. Hans Kwee, pengamat pasar modal dan akademisi Universitas Trisakti menjelaskan pelaku pasar happy lantaran The Fed memberikan sinyal dovish. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, meskipun keputusan The Fed dinilai positif, namun itu masih bersifat jangka pendek. Meski begitu, Sukarno mencermati masih ada potensi net buy investor asing di tengah harga saham yang sudah jatuh terlalu dalam.  Sehingga menjadikan saham itu lebih murah. Equity & Economics Analyst KGI Sekuritas, Rovandi memproyeksikan window dressing masih akan terjadi oleh beberapa faktor. Salah satunya, pergerakan IHSG yang cenderung datar dari awal tahun.

Harga Komoditas Anjlok, Laba Emiten MIND.ID Melorot

KT1 03 Nov 2023 Investor Daily
JAKARTA,ID-Tiga emiten anggota MIND.ID, BUMN Holding industri pertambangan Indonesia, mencatat total laba bersih Rp6,54 triliun sepanjang Januari-September 2023 atau susut 52,51% dibandingkan periode sama tahun lalu 13,77 triiun, seiring penurunan pendapatan akibat anjloknya harga komoditas di pasar internasional. Ketiga emiten tersebut adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS). Penurunan terbesar dialami oleh PT Timah Tbk, dari yang semula laba Rp1,14 triliun berbalik menjadi rugi Rp87 miliar. Disusul PT Bukit Asam Tbk yang turun 62,21% dari Rp 10 triliun menjadi Rp 3,78 triliun. Sementara Antam mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih 8,45% menjadi Rp 2,85 triliun. Perolehan laba bersih itu tidak lepas dari kinerja penjualan emiten BUMN pertambangan tersebut hingga akhir September 2023. Tercatat, Bukit Asam membukukan  pendapatan sebesar Rp27,74 triliun pada Januari-September 2023, turun 10,73% dibanding periode sama tahun lalu Rp 31,07 triliun. (Yetede)