;
Tags

Saham

( 1722 )

Pasar Derivatif di BEI Masih Sunyi

HR1 11 Nov 2023 Kontan (H)
Transaksi saham masih mendominasi nilai transaksi perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sepanjang tahun 2023, total nilai transaksi di BEI mencapai  Rp 2.179,63 triliun per Jumat (10/11). Transaksi saham di seluruh pasar berkontribusi paling besar senilai Rp 1.826,43 triliun. Menyusul transaksi waran menjadi kontributor terbesar kedua yang mencapai Rp 7,38 triliun. Ini cuma 0,57% dari seluruh total transaksi BEI.  Sementara waran terstruktur hanya mencapai sekitar Rp 572,86 miliar. Di kategori derivatif, BEI juga memiliki empat produk, yaitu  IDX LQ45 Futures, IDX30 Futures, Indonesia Government Bond Futures dan Basket Bond Futures. Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik menuturkan untuk menggenjot transaksi di pasar waran terstruktur hingga derivatif, ke depan BEI akan menggencarkan sosialisasi. Nah, agar mendorong pasar keuangan derivatif, BEI tengah mengodok produk baru yaitu single stock future. Secara sederhana, single stock futures merupakan saham tunggal yang dijadikan kontrak derivatif. Ada dua kontrak yang dapat diikuti oleh kalangan investor. Pertama kontrak beli (long) dan kontrak jual (short). Biasanya kontrak long bisa diambil ketika pasar berpotensi bullish. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi melihat, minimnya nilai transaksi di pasar derivatif mengindikasi, produk-produk tersebut kurang diminati oleh investor lokal maupun asing. Ada beberapa penyebab. Pertama,  investor ritel belum familiar dengan produk turunan seperti futures, ETF hingga produk waran tersruktur karena kurangnya sosialisasi. "Kedua, tingginya risiko yang melekat pada produk futures, ETF dan waran terstruktur karena bersifat leverage," kata Reza. Arjun Ajwani, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori menilai, rendahnya likuiditas produk tersebut,  selain saham di pasar reguler, bukan  fenomena yang baru di pasar modal. 

Emiten Grup Barito Jadi Motor Penggerak Bursa

HR1 11 Nov 2023 Kontan
Harga saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu sedang menggila, Bahkan, seluruh saham emiten Grup Barito menjadi penggerak (top movers) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun. Salah satunya saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Meski baru melantai, BREN menjadi saham top movers bagi IHSG, dengan penguatan 569,9% sejak awal tahun. Kemarin, BREN memiliki nilai kapitalisasi pasar (market cap) Rp 699,03 triliun, dan berada di peringkat ketiga setelah BBCA dan BBRI. Penghentian sementara perdagangan saham BREN dilakukan BEI di pasar reguler dan pasar tunai. Tujuannya, memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang ada dalam setiap pengambilan keputusan investasi di saham BREN. Selain BREN, saham Prajogo Pangestu lain yang juga menguat gila-gilaan adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Lonjakan harga CUAN juga membuat saham ini terkena suspensi mulai sesi I perdagangan 10 November 2023 sampai dengan pengumuman bursa lebih lanjut. Kenaikan saham BREN dan CUAN juga diikuti saham emiten Grup Barito lain, yakni Barito Pacific (BRPT) dan PT Chandra Asri Petrochemical (TPIA). Saham TPIA sempat menguat 8,44% ke level Rp 3.210 di awal perdagangan Jumat (10/11).  Ini  level tertinggi sepanjang masa alias all time high saham TPIA sejak melantai di BEI  Mei 2008. Head of Business Development FAC Sekuritas, Kenji Putera Tjahaja menilai, kenaikan saham-saham Grup Barito tidak terlepas dari respons positif pasar  terhadap emiten-emiten Grup Barito yang terakhir melakukan IPO, seperti BREN. Analis Samuel Sekuritas, Yosua Zisokhi menilai, BREN memiliki kinerja keuangan yang stabil dan saat ini telah memegang beberapa kontrak penjualan jangka panjang. Samuel Sekuritas memperkirakan, BREN akan menghasilkan pendapatan US$ 643 juta pada 2024 yang berkontribusi terhadap 22,5% dari pendapatan BRPT.   BREN diperkirakan menghasilkan EBITDA sebesar US$ 503 juta yang akan menyumbang 68% dari total EBITDA BRPT pada 2024.

Harga Minyak Naik, Kinerja Mendaki

HR1 10 Nov 2023 Kontan
Emiten minyak dan gas (migas) dinilai masih punya prospek menarik seiring menghangatnya harga minyak dunia. Sejumlah emiten migas mengalami penurunan kinerja sepanjang per September 2023. Salah satunya disebabkan oleh penurunan harga jual. Namun, analis NH Korindo Sekuritas, Axell Ebenhaezer menilai, ada beberapa sentimen positif yang bisa mendorong kinerja emiten migas di kuaral IV-2023 dan awal tahun 2024. Selain konflik Timur-Tengah, faktor lain yang mendukung adalah The Fed yang menahan suku bunga. Juga  pernyataan pejabat The Fed bernada dovish, sebuah sentimen positif bagi harga migas. “Ditambah China, importir minyak terbesar,  mencoba mendorong perekonomiannya lewat insentif. Permintaan komoditas ini diprediksi naik stabil di kuartal IV-2023,” kata Axell. Kepala Riset Ciptadana Sekuritas, Arief Budiman memperkirakan, kinerja keuangan MEDC akan membaik di kuartal IV-2023. Mengingat rata-rata harga minyak mentah Brent per Oktober 2023 di level US$ 90 per barel dibandingkan kuartal III-2023 yang di kisaran US$ 86 per barel. Produksi tembaga AMMN diproyeksi naik 112% secara kuartalan dan produksi emas diperkirakan meningkat 178% secara kuartalan. MEDC juga telah meneken perjanjian menjual 32% hak partisipasi efektifnya di Blok 12W (ChimSao)  yang ditargetkan tuntas sebelum akhir 2023 dan bisa memberi untung bagi MEDC. Sementara untuk PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), analis Samuel Sekuritas, Farras Farhan melihat adanya potensi peningkatan penjualan minyak bumi ke perusahaan pertambangan dan pabrik pengolahan alias smelter.

Cermat Memilih Saham Pilihan di Tahun Pemilu

HR1 10 Nov 2023 Kontan (H)
Rangkaian proses pemilu calon presiden (capres) dan wakil presiden (cawapres) tahun 2024-2029 terus bergulir. Pasca keputusan Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK), tim tiga kandidat capres bersiap. MKMK tidak membatalkan keputusan kontroversi MK terkait batas umur cawapres. Terlepas dari kontroversi itu, Anda tentu penasaran terkait visi misi capres terkait pasar modal. Maka, Kamis (9/11) malam Kontan dan Bareksa mengadakan "Debat Tim Ekonomi Calon Presiden RI: Arah dan Wajah Pasar Modal Indonesia 2024-2029. Tim Visi-Misi Anies Baswedan - Muhaimin Iskandar, Wijayanto Samirin memaparkan, pihaknya akan mewujudkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,5% - 6,5% selama kepemimpinan mereka. Termasuk juga keinginan untuk memperbesar pasar modal. Deputi Politik 5.0 Tim Pemenangan Nasioal  (TPN) Ganjar Pranowo -Mahfud MD, Andi Widjajanto menyatakan, Ganjar-Mahfud berkomitmen memberi kepastian berinvestasi di pasar modal. Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming, Panji Irawan bilang, fokus mewujudkan pasar modal yang sesuai ekonomi Pancasila. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani melihat, semua calon mempunyai visi misi positif dan rencana realistis untuk mencapai tujuan itu. Namun pengamat Pasar Modal  Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, visi misi  capres tak berefek langsung terhadap pasar modal. Termasuk Proyek Strategis Nasional (PSN) dan IKN.  Sebagian besar proyek itu digarap  BUMN Karya yang bermasalah. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus  sependapat.  Yang paling menentukan kinerja pasar modal adalah fundamental emiten .Meski begitu, kemeriahan pesta demokrasi ini, bakal menguntungkan sektor konsumer.

Saham Tiga Pendatang Baru Kompak Naik

KT3 09 Nov 2023 Kompas
Pada hari perdana, ketiga pendatang baru menikmati kenaikan harga saham-saham mereka. Pendatang baru yang dimaksud meliputi PT Kian Santang Muliatama Tbk, PT Mastersystem Infotama Tbk, dan PT Ikapharmindo Putramas Tbk. Saham ketiga emiten itu kompak menguat pada pencatatan Rabu (8/11/2023). Dengan tambahan tiga perusahaan itu, kini total jumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 901 emiten. Hingga akhir tahun ini, setidaknya 26 perusahaan bersiap menyusul. (Yoga)

Menakar Gelagat Window Dressing

HR1 09 Nov 2023 Bisnis Indonesia

Memasuki akhir tahun, kinerja indeks harga saham gabungan atau IHSG masih kurang bertenaga akibat tertekan oleh sentimen ekonomi global. Padahal, pelaku pasar saham tentu saja mengharapkan fenomena window dressing terjadi di pengujung tahun ini setelah absen pada 2022. Indeks komposit sejatinya bergerak rebound dengan pertumbuhan positif sepanjang 6 hari perdagangan di awal November, setelah tersungkur 2,70% selama Oktober. Keputusan The Fed menahan suku bunga telah menjadi katalis yang mengungkit pasar saham global, terutama bursa di negara berkembang seperti Indonesia. Kami meyakini peluang terjadinya window dressing di akhir tahun ini tetap terbuka lebar. Manajer investasi yang selama ini menjadi pemain utama yang mendorong window dressing sepertinya bakal memburu beberapa sektor saham andalan yakni konsumer dan perbankan. Sejumlah saham emiten konsumer dan perbankan bakal menikmati dampak dari keriuhan Pemilu 2024 melalui belanja kampanye yang sudah dimulai sejak akhir tahun ini. Secara historis, momentum pemilu turut memengaruhi pasar saham karena tingginya pengeluaran konsumsi dan penyaluran kredit bank. Beberapa saham konsumer dan perbankan kini tergolong undervalued dan terdiskon cukup banyak dalam beberapa waktu terakhir. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), misalnya, sangat mungkin menguji level di atas 9.000 karena ditopang pertumbuhan kinerja yang konsisten. Begitu juga dengan saham emiten konsumer seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) yang relatif sudah undervalued. Selain kedua sektor saham itu, investor juga tetap harus mencermati potensi kenaikan harga saham berkapitalisasi besar di sektor properti dan telekomunikasi. Otoritas bursa mencatat ada 29 calon emiten yang siap mencatatkan sahamnya dalam waktu dekat. Dari 29 perusahaan itu, 12 di antaranya merupakan pendatang baru dengan aset berskala jumbo atau di atas Rp250 miliar. Sampai dengan Rabu (8/11), Bursa Efek Indonesia telah kedatangan 77 emiten baru. PT Ikapharmindo Putramas Tbk. (IKPM), PT Mastersystem Infotama Tbk. (MSTI), dan PT Kian Santang Muliatama Tbk. (RGAS) menjadi yang teranyar. Ketiganya kompak mencatatkan sahamnya kemarin. MSTI melepas 470,82 juta saham atau setara 15% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah proses IPO dengan harga penawaran Rp1.355 per saham.

Menjala Bonus Akhir Tahun dari Emiten

HR1 09 Nov 2023 Kontan
Menjelang tutup tahun, emiten yang memberi bonus akhir tahun berupa dividen interim masih semarak. Per Rabu (8/11),, paling tidak 10 emiten yang akan membagikan dividen interim. Teranyar, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) siap menebar dividen interim sebesar Rp 1,63 triliun. Setiap pemegang saham CPIN memperoleh Rp 100 setiap saham. Manajemen CPIN menjelaskan pembagian dividen ini merupakan keputusan sirkular direksi CPIN pada 3 November 2023 dan keputusan sirkular dewan komisaris pada 6 November 2023. Mayoritas para emiten pembagi dividen interim menawarkan dividend yield di bawah 2%. Saat ini, dividend yield terendah diberikan oleh PT Trisula International Tbk (TRIS). Kendati begitu, Direktur Utama Trisula International, Widjaya Djohan menyampaikan pembagian dividen ini mengacu pada pencapaian kinerja Grup Trisula per kuartal III-2023. Di sisi lain, dividend yield tertinggi diberikan oleh  PT Trans Power Marine Tbk (TPMA). Dengan harga penutupan Rabu (8/11) di Rp 30 per saham, dividend yield TPMA mencapai 4,44%. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mencermati, mayoritas emiten yang membagikan dividen berasal dari golongan small cap hingga mid cap. Ini akan mempengaruhi risiko investor. Equity Analyst Phintraco Sekuritas, Rio Febrian menyarankan bagi investor  orientasi jangka panjang, membeli atau menambah porsi saham saat ini bisa menjadi pilihan.

Domestik Tumpuan Emiten Saham Sawit

HR1 08 Nov 2023 Kontan
Harga minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) tampaknya mulai membaik. Melansir trading economics, Selasa (7/11), harga CPO sebulan terakhir naik 3,19%. Meski secara tahunan harga CPO anjlok 14,58%. Rupanya, kenaikan harga CPO sebulan terakhir ini berimbas ke kinerja ekspor komoditas tersebut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor CPO per kuartal III-2023 tercatat US$ 6,52 miliar. Realisasinya tumbuh 25,83% secara kuartalan, tapi turun  27,15% secara tahunan. Fenny Sofyan, Communications and Investor Relations Manager PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menilai, secara fundamental kenaikan harga CPO dalam sebulan terakhir karena terkerek oleh harga minyak nabati lain yang tengah naik. Salah satunya minyak kedelai. Untuk meningkatkan kinerja, AALI konsisten dengan target maupun strategi penjualan yang oportunis.  Tak heran, AALI memasang target pertumbuhan penjualan naik 5% setiap tahunnya. Sedangkan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) memproyeksi produksi tandan buah segar dan minyak kelapa sawit akan sedikit terkoreksi pada kuartal IV 2023. TAPG mencatatkan produksi tandan buah segar sebanyak 2,25 juta ton hingga bulan September 2023. Joni Tjeng, Sekretaris Korporat TAPG menyatakan produksi TBS dan CPO TAPG pada kuartal III 2023 diperkirakan mencapai titik tertinggi pada tahun ini. Secara kuartalan, pertumbuhan TBS dan CPO TAPG meningkat 10% dan 12%. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta melihat potensi pertumbuhan kinerja emiten CPO di kuartal IV 2024 masih bisa terjadi secara kuartalan. Sebab masih ada permintaan dari pasar domestik yang diprediksi meningkat.

Berburu Dividen Jelang Akhir Tahun

HR1 06 Nov 2023 Kontan

Musim pembagian bonus akhir tahun telah tiba. Sejumlah emiten akan segera membagikan dividen interim dalam waktu dekat. Misalnya, PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO) yang akan membagikan dividen interim  tahun buku 2023 sebesar Rp 2 per saham. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga akan membayarkan dividen interim untuk tahun buku 2023 sebesar Rp 15 per saham. Emiten farmasi lain,  PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) secara resmi juga akan membagikan dividen tengah tahun atau interim sebesar Rp 50 per saham. Tak mau ketinggalan, PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI) berencana untuk membagikan dividen interim kepada pemegang saham periode tahun buku 2023. Direktur Kiwoom Sekuritas Indonesia, Chang-kun Shin melihat, dampak pembagian dividen interim akan menyebabkan kinerja saham emiten tersebut berpeluang menguat. Khususnya menjelang cum date. Shin menilai  TSPC dan BUDI punya peluang melanjutkan tren pertumbuhan. Hal itu terlihat dari kinerja kedua emiten tersebut sampai bulan September 2023 yang menunjukkan pertumbuhan. Kepala Riset Praus Capital, Marolop Alfred Nainggolan menilai pembagian dividen dan dividen interim akan selalu menjadi katalis positif bagi performa saham emiten yang bersangkutan.

Emiten Jumbo Gencar Ekspansi

HR1 06 Nov 2023 Kontan
Kendati ekonomi dilanda ketidakpastian sepanjang tahun ini, sejumlah emiten tetap gencar melakukan ekspansi. Hal ini terlihat dari penyerapan belanja modal atau capital expenditure (capex) emiten yang lumayan besar hingga akhir September 2023 lalu. Contohnya, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang menggelontorkan capex US$ 473 juta hingga September 2023. Nilai ini meningkat 71% dibandingkan capex yang diserap ADRO sebanyak US$ 277 juta pada periode yang sama tahun lalu. Sebelumnya Adaro menargetkan capex 2023 antara US$ 400 juta - US$ 600 juta. Artinya jika di batas atas, jumlah penyerapan capex itu sudah 78%. Emiten lain yang agresif merealisasikan ekspansinya adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). AMMN menggarap ekspansi di sisi hulu tambang dan hilirisasi, dan telah menyerap capex US$ 480 juta, naik sekitar 119% secara tahunan. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) tak kalah agresif. Direktur INCO, Bernardus Irmanto mengatakan, sudah merealisasikan capex sekitar US$ 196 juta hingga September 2023. Sedangkan Sekretari Perusahaan UNTR, Sara K. Loebis mengatakan, UNTR telah menyerap capex senilai Rp 13,8 triliun hingga kuartal III-2023. Angka ini naik 160,3% secara tahunan. Tak cuma sektor energi yang lumayan agresif ekspansi. Sektor infrastruktur seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga sudah menyerap capex senilai Rp 22,1 triliun, naik 11,11% ketimbang periode yang sama tahun lalu. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo melihat penyerapan capex ]sepanjang sembilan bulan 2023 relatif ekspansif, khususnya pada perusahaan tambang. "Aksi ini memungkinkan lantaran emiten-emiten ini memiliki posisi kas dan permodalan yang solid," kata dia, Minggu (5/11).