;
Tags

Saham

( 1722 )

Momentum Kebangkitan Pasar Saham

KT1 06 Nov 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menahan suku bunga acuan diyakini menjadi momentum kebangkitan pasar saham Indonesia, yang tertekan hebat dalam tiga bulan terakhir. Apalagi, dalam pertemuan FOMC terakhir, The Fed mengirimkan banyak sinyal dovish kuat, yang menjadi angin segar pasar saham. Tak ayal lagi, begitu kabar itu mencuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung reli dalam dua hari beruntun, yakni Kamis dan Jumat pekan lalu, masing-masing sebesar 1,64% dan 0,55%, setelah sebelumnya babak belur dihajar ketidakpastian global dan maraknya aksi menghindari investasi berisiko tinggi (risk off). Asing kembali memborong saham dan mencetak net buy Rp309 miliar pada Jumat pekan lalu. Sejalan dengan itu, IHSG ditutup menguat 0,44 pada pekan lalu ke level 6.639, terendah dalam tiga bulan terakhir. Indeks tercatat melemah, 1,45% dalam sebulan,0 96% dalam tiga bulan, 0,44% dalam enam bulan, dan 0,9% secara year to date (ytd), berdasarkan data RTI. (Yetede)

Menanti Sinterklas Berbagi Kado Akhir Tahun di Bursa

HR1 06 Nov 2023 Kontan (H)
Sentimen suku bunga tinggi yang selama ini menghantui pasar keuangan nampak mulai mereda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramal bergerak lebih bertenaga di sisa tahun ini. Pasar lebih optimistis lantaran ada penurunan probabilitas kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve. Bank Indonesia (BI) menyebut probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun sudah di bawah 50%. Sedangkan dari Fed guidance yang dihimpun CME Group Fedwatch Tool, fed fund rate (FFR) masih akan tetap sebesar 5,25%-5,50% pada akhir tahun ini. Peluang kenaikan FFR dalam pertemuan Desember 2023 mendatang hanya sekitar 4,82%. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell yang bilang kalau tingkat suku bunga The Fed sudah berada di puncaknya membuat ketidakpastian berkurang. Sentimen pemilu pun bakal menggairahkan pasar saham. Tapi, Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan, kendati masih ada ruang kenaikan IHSG, nilainya sudah tak banyak lagi. Di sisa tahun ini, IHSG bakal lebih banyak disokong oleh sentimen dalam negeri, seperti pemilu dan rilis laporan keuangan emiten. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy mengatakan, peluang IHSG untuk naik di akhir tahun akan lebih besar jika The Fed tetap menahan bunga acuannya di pertemuan Desember mendatang. Bahkan, santa claus rally pun berpeluang terjadi di bulan depan. Pengamat dan Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee bilang, sikap dovish The Fed membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah mulai berkurang. Hitungan Hans, IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support 6.639-6.600 dan resistance 6.878-6.986 hingga akhir 2023. Sedangkan prediksi Nico, IHSG hingga akhir tahun bisa ke 7.120-7.180.

Geopolitik Tegang, Komoditas Panas

HR1 06 Nov 2023 Kontan
Tensi geopolitik di Timur Tengah kian memanas. Ini menyebabkan kekhawatiran baru muncul. Yakni terkait perkembangan harga-harga komoditas yang biasanya sangat terkait dengan gejolak global. Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, jika berbicara tensi geopolitik di Timur Tengah maka komoditas yang berpotensi langsung mendidih tak lain adalah komoditas minyak bumi. "Hal yang dikhawatirkan adanya perluasan dari tensi geopolitik yang tengah terjadi saat ini. Meskipun masih terkendali, tetapi volatilitas di pasar masih sangat tinggi," ujarnya kepada Kontan, Minggu (5/11). Berdasarkan data Bloomberg, sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, harga minyak berangsur-angsur naik. Harga minyak tertinggi berada pada level US$ 88,37 per barel pada tanggal 19 Oktober 2023. Bob Setiadi, analis CGS-CIMB Sekuritas Indonesia menjelaskan  meskipun Israel dan Palestina bukanlah pemain minyak utama, namun risiko dapat berasal dari dampak spillover ke wilayah dan negara penghasil minyak terdekat seperti Iran. "Kami pikir risiko konflik Israel-Hamas dapat menyebabkan sanksi Amerika Serikat (AS) yang lebih ketat terhadap ekspor minyak Iran tetap ada, sementara Iran dapat mengancam untuk menutup Selat Hormuz," paparnya. Analis Sinarmas Sekuritas, Isfhan Helmy menambahkan, semakin lama konflik tersebut berlanjut dan jika aktor-aktor regional lainnya juga turut terlibat, risiko harga minyak menembus US$ 100 per barel kian menguat. Hal ini terjadi di saat pasar minyak global sudah mengalami defisit yang cukup signifikan. Sebagai bagian dari kesepakatan ini, Arab Saudi telah merencanakan untuk meningkatkan pasokan minyaknya tahun depan. Namun, konflik Israel-Palestina mempersulit upaya untuk menormalkan hubungan antara Arab Saudi dan Israel, sehingga membatasi kemungkinan peningkatan pasokan minyak. Seiring dengan potensi kenaikan harga minyak dunia, harga komoditas lainnya juga berpotensi akan bergerak selaras. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa harga komoditas seperti batubara juga akan terkerek imbas dari kenaikan harga minyak dunia.

Tantangan Mengadang BUMN Tambang

HR1 03 Nov 2023 Kontan
Kinerja emiten saham yang tergabung dalam induk pertambangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mind Id masih loyo. Dari tiga emiten di bawah Mind Id, hanya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang laba bersihnya masih bertumbuh meskipun hanya single digit. Sementara dua emiten lainnya yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Timah Tbk (TINS) harus rela kinerja keuangan mereka tergerus. Salah satu biang kerok penurunan kinerja emiten tambang BUMN adalah penurunan harga komoditas. Niko Chandra, Sekretaris Perusahaan PTBA mengatakan, rata-rata harga batubara ICI-3 terkoreksi sekitar 33% menjadi sebesar US$ 86,3 per ton pada Januari-September 2023. Dus, penurunan kinerja PTBA tidak bisa terelakkan. Laba bersih PTBA merosot 62% menjadi hanya Rp 3,8 triliun per akhir September 2023. Fina Eliani, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS mengatakan, harga logam timah dunia terus tertekan akibat penguatan dolar AS dan lambatnya pemulihan perekonomian ChinaPenurunan harga jual ini juga dibarengi dengan penurunan kinerja operasional TINS. Samuel Glenn Tanuwidjaja, Senior Equity Analyst Jasa Utama Capital Sekuritas mengatakan, harga sejumlah komoditas seperti batubara, nikel, timah, dan tembaga memang lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Hanya harga emas saja yang mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya permintaan aset safe haven di saat inflasi Amerika Serikat (AS) dan inflasi negara berkembang masih meningkat. Meskipun kinerja ketiga emiten tambang BUMN ini masih lemah, Glenn melihat bisnis PTBA dan ANTM akan tetap defensif pada tahun depan. Meskipun, akan tetap ada pengaruh volatilitas dari efek pemilu dan sentimen resesi. Di sisi lain, pergerakan harga timah kemungkinan masih suram dan menjadi kabar buruk bagi kinerja dan bisnis TINS. "Namun, proyek smelter Ausmelt Furnace TINS kemungkinan akan meningkatkan kinerja operasional perusahaan dalam mengolah bijih timah kadar rendah ke depannya," kata Glenn. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan mengatakan, realisasi pendapatan PTBA pada sembilan bulan pertama 2023 berada di bawah estimasi Mirae Asset Sekuritas, atau hanya mencerminkan 66% target 2023. Rizkia merevisi turun proyeksi pendapatan PTBA pada 2023 sebesar 7,2% menjadi Rp 38,9 triliun. Sedangkan estimasi laba bersih PTBA dipangkas 24% menjadi Rp 5,3 triliun tahun ini.

Potensi Window Dressing Kembali Terbuka Lebar

HR1 03 Nov 2023 Kontan (H)
Investor saham  dalam negeri kembali sumringah setelah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan mata yang Garuda atau rupiah pun menguat sebagai respon atas keputusan The Fed. Pada penutupan perdagangan Kamis (2/11), IHSG menguat 1,64% atau naik 108,96 poin ke level 6.751,38. Sementara pada penutupan Kamis (2/11), rupiah di pasar spot juga menguat 0,51% menjadi Rp 15.855 per dolar Amerika Serikat (AS). Jika ditarik lebih jauh lagi, investor asing masih mencetak net sell sebesar Rp 14,45 triliun sepanjang tahun 2023. Hans Kwee, pengamat pasar modal dan akademisi Universitas Trisakti menjelaskan pelaku pasar happy lantaran The Fed memberikan sinyal dovish. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, meskipun keputusan The Fed dinilai positif, namun itu masih bersifat jangka pendek. Meski begitu, Sukarno mencermati masih ada potensi net buy investor asing di tengah harga saham yang sudah jatuh terlalu dalam.  Sehingga menjadikan saham itu lebih murah. Equity & Economics Analyst KGI Sekuritas, Rovandi memproyeksikan window dressing masih akan terjadi oleh beberapa faktor. Salah satunya, pergerakan IHSG yang cenderung datar dari awal tahun.

Harga Komoditas Anjlok, Laba Emiten MIND.ID Melorot

KT1 03 Nov 2023 Investor Daily
JAKARTA,ID-Tiga emiten anggota MIND.ID, BUMN Holding industri pertambangan Indonesia, mencatat total laba bersih Rp6,54 triliun sepanjang Januari-September 2023 atau susut 52,51% dibandingkan periode sama tahun lalu 13,77 triiun, seiring penurunan pendapatan akibat anjloknya harga komoditas di pasar internasional. Ketiga emiten tersebut adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS). Penurunan terbesar dialami oleh PT Timah Tbk, dari yang semula laba Rp1,14 triliun berbalik menjadi rugi Rp87 miliar. Disusul PT Bukit Asam Tbk yang turun 62,21% dari Rp 10 triliun menjadi Rp 3,78 triliun. Sementara Antam mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih 8,45% menjadi Rp 2,85 triliun. Perolehan laba bersih itu tidak lepas dari kinerja penjualan emiten BUMN pertambangan tersebut hingga akhir September 2023. Tercatat, Bukit Asam membukukan  pendapatan sebesar Rp27,74 triliun pada Januari-September 2023, turun 10,73% dibanding periode sama tahun lalu Rp 31,07 triliun. (Yetede)

Pilih-Pilih LQ45 dengan Cuan Tinggi

HR1 02 Nov 2023 Kontan
Di tengah musim rilis kinerja, sejumlah emiten LQ45 tampil mentereng dengan laba bersih yang tinggi. Emiten dengan perolehan laba terbesar masih dipegang oleh bank big caps. Sedangkan emiten LQ45 yang mendulang pertumbuhan laba tertinggi secara tahunan berasal dari sektor yang bervariasi. Sementara ini, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi emiten LQ45 dengan pertumbuhan laba tertinggi sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2023. Pada periode itu, laba bersih BRPT meroket 217,45% secara tahunan menjadi US$ 35,84 juta. Kinerja ini disusul emiten rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Indofood CBP Suskes Makmur Tbk (ICBP). Karena itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus melihat, net profit margin tertinggi secara kuartalan masih didominasi oleh perbankan besar. Kinerja fundamental sektor bank cenderung stabil sehingga, valuasi di masa mendatang berpeluang naik. Research Analyst Erdikha Elit Sekuritas, Ika Baby Fransiska menimpali, kinerja emiten bervariasi mengikuti kondisi sektor industrinya. Bersamaan dengan sentimen sektoralnya, pergerakan harga saham emiten juga cenderung sudah priced in. Tapi, masih ada beberapa saham yang menarik. Ika menyarankan buy on weakness BBCA dan BBRI dengan target Rp 8.925 dan Rp 5.125. Lalu, ASII, INCO, dan INDF dengan target masing-masing Rp 6.275, Rp 5.800 dan Rp 7.100. Lalu, Cheril menjagokan MEDC dengan target harga Rp 1.300 dan ACES dengan target harga Rp 880 per saham.

Proyek Besar Topang Emiten Konstruksi

HR1 02 Nov 2023 Kontan
Kinerja sejumlah emiten konstruksi hingga kuartal III 2023 mencatatkan hasil  beragam. Baik itu emiten konstruksi plat merah maupun yang swasta. Misalnya, emiten badan usaha milik negara (BUMN) karya yakni PT PP Persero. Emiten berkode saham PTPP ini  mencatatkan pendapatan per September 2023 sebesar sebesar Rp 12,22 triliun. Pencapaian ini turun 9,17% daripada hasil di  periode serupa tahun lalu yang senilai Rp 13,46 triliun.  Di sisi lain, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatat kenaikan rugi ke Rp 2,83 triliun hingga kuartal III 2023. Padahal, per September 2022, WSKT masih mencatat laba Rp 425,2 juta. Melansir laporan keuangan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan usaha WSKT menurun hingga kuartal III 2023. WSKT membukukan pendapatan usaha  Rp 7,8 triliun, turun 24,1% dari September 2022, Rp 10,3 triliun. Dari perusahaan swasta, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) mencatatkan pendapatan Rp 2 triliun hingga akhir kuartal III 2023. Hasil ini naik 12,9% dari periode serupa 2022 yakni Rp 1,76 triliun. Alhasil, NRCA membukukan laba bersih Rp 82,2 miliar di periode tersebut, naik 23,6% dari periode sama tahun lalu. Analis Kanaka Hita Solvera, Raditya Krisna Pradana menilai, katalis utama dari kinerja emiten konstruksi hingga kuartal III 2023 adalah proyek Ibu Kota Nusantara (IKN).  Raditya melihat, NRCA masih unggul dari sisi emiten konstruksi swasta. Sementara, PTPP unggul untuk emiten konstruksi BUMN. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama melihat, kinerja emiten konstruksi bisa membaik di kuartal IV 2023 . Para kontraktor yang berusaha memenuhi target kontrak baru tahunan. 

Laba Bersih AMMN Melorot 91,57%

HR1 01 Nov 2023 Kontan
Kinerja PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) berada dalam tekanan hingga akhir kuartal III-2023. Pada periode itu, AMMN meraup penjualan bersih US$ 1,15 miliar, turun 41,62% secara tahunan. Penjualan bersih AMMN berasal dari penjualan tembaga US$ 697,07 juta dan penjualan emas senilai US$ 453,68 juta. Dalam periode yang sama, beban operasional AMMN juga meningkat 20,45% menjadi US$ 90,40 juta. Hasil ini membuat laba operasional AMMN terpangkas 60,67% secara tahunan dari US$ 1,04 miliar menjadi US$ 411,12 juta. Alhasil, laba bersih tercatat sebesar US$ 62,67 juta per September 2023. Angka ini melorot 91,57% secara tahunan.

Pendapatan Berulang Topang Pengembang

HR1 01 Nov 2023 Kontan
Kinerja sektor properti sejauh ini terbilang masih cukup terjaga. Kondisi ini tercermin dari kinerja keuangan per 30 September 2023 sejumlah emiten properti. Misalnya PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatatkan pendapatan Rp 5,08 triliun hingga kuartal III 2023. Realisasi tersebut naik 20,6% dari periode yang sama lalu, yaitu Rp 4,21 triliun. Sedangkan dari sisi laba, SMRA   mencetak kenaikan laba hingga 110,8% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 653,02 miliar. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) juga  mencatatkan pendapatan bersih per 30 September 2023 sebesar Rp 4,57 triliun, naik 1,65% dari periode di tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4,49 triliun. Dari pendapataan tersebut, yang berasal dari pendapatan berulang sebesar Rp 3,42 triliun, naik 22,7% secara tahunan. "Berdasarkan per segmen, pendapatan PWON terbagi retail leasing 51%, hotel dan serviced apartment 19%, office leasing 5%, kondominium 11%, landed houses sales 12%, dan office sales 2%,” papar Direktur dan Sekretaris Perusahaan PWON Minarto Basuki, Senin (30/10). Untuk menjaga kinerja, sejauh ini PWON sudah menyerap belanja  modal sebesar Rp 1,44 triliun. Belanja modal tersebut digunakan untuk  membiayai pembangunan Pakuwon Mall Bekasi dan Pakuwon City Mall, renovasi Pakuwon Mall Jogja dan Solo Baru, pembelian hotel Four Points by Sheraton Bali, serta lahan di Semarang dan Batam. Emiten lain yakni PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) berhasil memperbaiki kinerja keuangannya. LPKR berbalik meraih laba bersih sebesar Rp 787,79 miliar hingga 30 September 2023. LPKR meraup pendapatan senilai Rp 12,43 triliun dalam sembilan bulan 2023, naik 17,93% secara tahunan. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan, kinerja SMRA dan PWON hingga kuartal III 2023 ini didorong dari pendapatan berulang yang kuat, terutama dari mal.