;
Tags

Saham

( 1717 )

Pilih-Pilih LQ45 dengan Cuan Tinggi

HR1 02 Nov 2023 Kontan
Di tengah musim rilis kinerja, sejumlah emiten LQ45 tampil mentereng dengan laba bersih yang tinggi. Emiten dengan perolehan laba terbesar masih dipegang oleh bank big caps. Sedangkan emiten LQ45 yang mendulang pertumbuhan laba tertinggi secara tahunan berasal dari sektor yang bervariasi. Sementara ini, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi emiten LQ45 dengan pertumbuhan laba tertinggi sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2023. Pada periode itu, laba bersih BRPT meroket 217,45% secara tahunan menjadi US$ 35,84 juta. Kinerja ini disusul emiten rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Indofood CBP Suskes Makmur Tbk (ICBP). Karena itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus melihat, net profit margin tertinggi secara kuartalan masih didominasi oleh perbankan besar. Kinerja fundamental sektor bank cenderung stabil sehingga, valuasi di masa mendatang berpeluang naik. Research Analyst Erdikha Elit Sekuritas, Ika Baby Fransiska menimpali, kinerja emiten bervariasi mengikuti kondisi sektor industrinya. Bersamaan dengan sentimen sektoralnya, pergerakan harga saham emiten juga cenderung sudah priced in. Tapi, masih ada beberapa saham yang menarik. Ika menyarankan buy on weakness BBCA dan BBRI dengan target Rp 8.925 dan Rp 5.125. Lalu, ASII, INCO, dan INDF dengan target masing-masing Rp 6.275, Rp 5.800 dan Rp 7.100. Lalu, Cheril menjagokan MEDC dengan target harga Rp 1.300 dan ACES dengan target harga Rp 880 per saham.

Proyek Besar Topang Emiten Konstruksi

HR1 02 Nov 2023 Kontan
Kinerja sejumlah emiten konstruksi hingga kuartal III 2023 mencatatkan hasil  beragam. Baik itu emiten konstruksi plat merah maupun yang swasta. Misalnya, emiten badan usaha milik negara (BUMN) karya yakni PT PP Persero. Emiten berkode saham PTPP ini  mencatatkan pendapatan per September 2023 sebesar sebesar Rp 12,22 triliun. Pencapaian ini turun 9,17% daripada hasil di  periode serupa tahun lalu yang senilai Rp 13,46 triliun.  Di sisi lain, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatat kenaikan rugi ke Rp 2,83 triliun hingga kuartal III 2023. Padahal, per September 2022, WSKT masih mencatat laba Rp 425,2 juta. Melansir laporan keuangan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan usaha WSKT menurun hingga kuartal III 2023. WSKT membukukan pendapatan usaha  Rp 7,8 triliun, turun 24,1% dari September 2022, Rp 10,3 triliun. Dari perusahaan swasta, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) mencatatkan pendapatan Rp 2 triliun hingga akhir kuartal III 2023. Hasil ini naik 12,9% dari periode serupa 2022 yakni Rp 1,76 triliun. Alhasil, NRCA membukukan laba bersih Rp 82,2 miliar di periode tersebut, naik 23,6% dari periode sama tahun lalu. Analis Kanaka Hita Solvera, Raditya Krisna Pradana menilai, katalis utama dari kinerja emiten konstruksi hingga kuartal III 2023 adalah proyek Ibu Kota Nusantara (IKN).  Raditya melihat, NRCA masih unggul dari sisi emiten konstruksi swasta. Sementara, PTPP unggul untuk emiten konstruksi BUMN. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama melihat, kinerja emiten konstruksi bisa membaik di kuartal IV 2023 . Para kontraktor yang berusaha memenuhi target kontrak baru tahunan. 

Laba Bersih AMMN Melorot 91,57%

HR1 01 Nov 2023 Kontan
Kinerja PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) berada dalam tekanan hingga akhir kuartal III-2023. Pada periode itu, AMMN meraup penjualan bersih US$ 1,15 miliar, turun 41,62% secara tahunan. Penjualan bersih AMMN berasal dari penjualan tembaga US$ 697,07 juta dan penjualan emas senilai US$ 453,68 juta. Dalam periode yang sama, beban operasional AMMN juga meningkat 20,45% menjadi US$ 90,40 juta. Hasil ini membuat laba operasional AMMN terpangkas 60,67% secara tahunan dari US$ 1,04 miliar menjadi US$ 411,12 juta. Alhasil, laba bersih tercatat sebesar US$ 62,67 juta per September 2023. Angka ini melorot 91,57% secara tahunan.

Pendapatan Berulang Topang Pengembang

HR1 01 Nov 2023 Kontan
Kinerja sektor properti sejauh ini terbilang masih cukup terjaga. Kondisi ini tercermin dari kinerja keuangan per 30 September 2023 sejumlah emiten properti. Misalnya PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatatkan pendapatan Rp 5,08 triliun hingga kuartal III 2023. Realisasi tersebut naik 20,6% dari periode yang sama lalu, yaitu Rp 4,21 triliun. Sedangkan dari sisi laba, SMRA   mencetak kenaikan laba hingga 110,8% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 653,02 miliar. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) juga  mencatatkan pendapatan bersih per 30 September 2023 sebesar Rp 4,57 triliun, naik 1,65% dari periode di tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4,49 triliun. Dari pendapataan tersebut, yang berasal dari pendapatan berulang sebesar Rp 3,42 triliun, naik 22,7% secara tahunan. "Berdasarkan per segmen, pendapatan PWON terbagi retail leasing 51%, hotel dan serviced apartment 19%, office leasing 5%, kondominium 11%, landed houses sales 12%, dan office sales 2%,” papar Direktur dan Sekretaris Perusahaan PWON Minarto Basuki, Senin (30/10). Untuk menjaga kinerja, sejauh ini PWON sudah menyerap belanja  modal sebesar Rp 1,44 triliun. Belanja modal tersebut digunakan untuk  membiayai pembangunan Pakuwon Mall Bekasi dan Pakuwon City Mall, renovasi Pakuwon Mall Jogja dan Solo Baru, pembelian hotel Four Points by Sheraton Bali, serta lahan di Semarang dan Batam. Emiten lain yakni PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) berhasil memperbaiki kinerja keuangannya. LPKR berbalik meraih laba bersih sebesar Rp 787,79 miliar hingga 30 September 2023. LPKR meraup pendapatan senilai Rp 12,43 triliun dalam sembilan bulan 2023, naik 17,93% secara tahunan. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan, kinerja SMRA dan PWON hingga kuartal III 2023 ini didorong dari pendapatan berulang yang kuat, terutama dari mal.

Musim Kinerja Warnai Laju Bursa Saham

HR1 01 Nov 2023 Kontan (H)
Musim laporan kinerja keuangan emiten saham kuartal III-2023 mewarnai pergerakan pasar saham, terutama dorongan kinerja emiten blue chips yang tergabung dalam indeks LQ45. Seperti diduga para analis, kinerja emiten di kuartal ketiga tahun ini cenderung melandai akibat volatilitas harga komoditas dan depresiasi rupiah. Sektor saham yang sensitif terhadap pergerakan harga komoditas global, terutama emiten saham sektor energi, sebagian besar mencetak penurunan laba bersih pada sembilan bulan pertama tahun ini. Misalnya, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang labanya turun dua digit. Sementara kinerja emiten saham perbankan relatif masih solid, dipimpin oleh Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mencatat pertumbuhan laba bersih tertinggi. Bank plat merah ini menorehkan kenaikan laba bersih sebesar 27,4% secara tahunan menjadi sebesar Rp 39,1 triliun.Berbeda nasib dengan perbankan, emiten saham teknologi masih boncos. Pada kuartal III-2023, emiten teknologi masih membukukan nilai kerugian yang signifikan kendati mulai tampak perbaikan dari sisi pendapatan. Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian mengatakan, pelemahan rupiah menjadi penekan kinerja emiten pada kuartal III-2023. Salah satu sektor saham yang mendapatkan tekanan besar dari pelemahan kurs rupiah adalah sektor kesehatan. Maklum, mayoritas emiten saham kesehatan masih mengandalkan bahan baku impor, sehingga volatilitas kurs berpengaruh terhadap beban keuangannya. Toh, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus memberi catatan khusus untuk saham perbankan. Ia menilai, kendati mengalami penurunan harga dan banyak dijual asing, saham perbankan berpeluang berbalik arah alias naik lagi.

UPAYA EKSTRA DULANG LABA

HR1 31 Oct 2023 Bisnis Indonesia (H)

Mata investor saham sedang tertuju pada rapor keuangan emiten-emiten per 9 bulan 2023. Apalagi, korporasi tengah berjibaku mencetak pertumbuhan laba di tengah berbagai tantangan ekonomi seperti kenaikan suku bunga, penurunan harga komoditas, maupun krisis geopolitik. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sebanyak 79 dan 162 emiten membukukan pertumbuhan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sepanjang Januari-September 2023. Adapun, 9 emiten berbalik mendulang laba, 54 emiten mengalami penurunan laba bersih, 9 emiten membukukan penurunan rugi bersih, dan 3 emiten ruginya meningkat secara tahunan per 30 September 2023. Laba bersih yang lebih tebal a.l. dibukukan oleh emiten di sektor perbankan, properti, transportasi, komponen otomotif, pengelola rumah sakit, rokok, dan barang konsumsi. Di sektor perbankan, laba bersih BMRI tumbuh 27,36% year-on-year (YoY) menjadi Rp39,1 triliun sepanjang 9 bulan 2023. Adapun, GGRM membukukan lompatan laba bersih 197,62% secara tahunan menjadi Rp4,45 triliun pada periode tersebut. Kontras, emiten teknologi GOTO dan BUKA masih bergelut dengan rugi bersih per 30 September 2023 berturut-turut Rp9,54 triliun dan Rp776,22 miliar. Namun, kerugian GOTO menyusut 53% dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp20,32 triliun. Patrick Walujo, Direktur Utama Grup GoTo, mengatakan sinergi ekosistem yang makin kuat menjadi keunggulan perusahaan di tengah kompetisi yang kian ketat.

Terpisah, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Darmawan Junaidi mengatakan perseroan terus berfokus dalam peningkatan pelayanan dengan memberikan solusi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan nasabah untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo menambahkan kinerja laba bersih bank juga terdorong oleh kinerja pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang naik 10,8% yoy menjadi Rp24,55 triliun pada kuartal III/2023. Adapun, Sekretaris Perusahaan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) Syarif Faisal Alkadrie melaporkan produk emas menjadi kontributor terbesar penjualan Antam dengan proporsi 62% atau Rp19,29 triliun. Faktanya, dalam sebulan terakhir, IHSG tercatat merosot 3,24% dan parkir di level 6.735,89 pada akhir perdagangan kemarin, Senin (30/10). Hal itu sejalan dengan arus modal keluar asing yang mencatat net sell Rp11,97 triliun secara year-to-date. Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas Indonesia Changkun Shin menilai kinerja emiten per kuartal III/2023 bervariasi, tetapi rapor emiten blue chips mayoritas tumbuh positif. Meski demikian, daya dorong sentimen positif itu disebut tidak begitu kuat terhadap IHSG mengingat pasar cenderung wait and see menanti keputusan suku bunga The Fed dalam FOMC 31 Oktober-1 November 2023.

Emiten Sektor Kesehatan Semakin Bugar

HR1 30 Oct 2023 Kontan
Di tengah tren pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sektor kesehatan justru menjadi salah satu sektor yang bisa melaju di zona hijau. Sepekan terakhir ini indeks tepangkas sekitar 1,32%. Pada perdagangan bursa saham Jumat (27/10), indeks sektor saham kesehatan ditutup  menguat 16,85 poin atau 1,13% menjadi 1.504,83. Kondisi ini melanjutkan penguatan di hari sebelumnya. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus melihat, penguatan sektor kesehatan ini salah satunya karena kenaikan suku bunga. Sektor kesehatan menjadi salah satu sektor yang defensif terhadap kondisi tersebut. Tapi Nico menegaskan, sektor kesehatan hanya menjadi alternatif  berinvestasi, Jadi bukanlah menjadi sektor prioritas. Maka ia menyarankan investor  tetap memilih emiten kesehatan yang tidak memiliki komponen impor yang besar. Lantaran pada saat ini kondisi rupiah masih terus mengalami tekanan. Meski begitu, analis Henan Putihrai Sekuritas, Jono Syafei menambahkan, sektor kesehatan biasanya mengalami peningkatan kinerja pada semester kedua, termasuk pada periode saat ini. Jono memproyeksi, kinerja sektor kesehatan akan terus tumbuh. Salah satu emiten kesehatan yakni PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) sebelumnya juga sudah merilis kinerja keuangan kuartal III-2023. Hasilnya adalah, salah satu emiten dari Grup Lippo mencatatkan kenaikan laba 91,2% di periode tersebut menjadi Rp 858,90 miliar, dari periode serupa tahun lalu sebesar Rp 449,21 miliar.

IHSG Diprediksi Bergerak Mixed to Higher

KT1 30 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi bergerak bervariasi  dengan kecenderungan menguat (mixed to higher) pada pekan ini, setelah minggu lalu ditutup naik 0,66% ke level 6.758. Banyaknya rilis data penting dn berpotensi  menjadi sentimen utama pasar, baik dari luar maupun dalam negeri, akan menjadi penentu laju IHSG sepanjang pekan ini. "IHSG diprediksi bergerak mixed to higher dengan support 6.740-.656 dan resistance 6.771-6.792," kata Senior Information Investment Mirea Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta kepada Investor Daily, Minggu. Nafan mengatakan, pergerakan IHSG pekan ini akan dipengaruhi melandainya hasil pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS, yang diharapkan  dapat meredam kekhawatiran terkait dengan potensi penerapan kenaikan suku bunga the fed. "Peluanganya lebih banyak kalau the Fed menahan suku bunganya di level saat ini, jadi ini akan bagus untuk pasar," ujar dia. (Yetede)

UJIAN RESILIENSI PASAR SAHAM

HR1 27 Oct 2023 Bisnis Indonesia (H)

Volatilitas tinggi sedang menyelimuti pasar saham Indonesia. Indeks harga saham gabungan (IHSG) pun tak kuasa membendung gempuran sentimen negatif yang datang bertubi-tubi dari sisi eksternal.Tekanan pasar saham datang dari antisipasi pelaku pasar terhadap sikap hawkish bank sentral global, terutama The Fed dan European Central Bank, dalam penentuan kebijakan suku bunga acuan.Selain itu, gejolak geopolitik yang memanas akibat konflik Israel-Hamas turut diwaspadai efek dominonya terhadap pergerakan harga komoditas energi global.Dari dalam negeri, kejutan Bank Indonesia yang mengerek 7-Days Reverse Repo Rate ke level 6% dan depresiasi rupiah yang nyaris menyentuh Rp16.000 per dolar AS juga menekan minat investor di pasar saham.Pada perdagangan Kamis (26/10), IHSG menukik turun 1,75% dan parkir di level 6.714,51. IHSG makin menjauhi level tertinggi tahun ini 7.016,84 yang disentuh pada 22 September 2023.Alhasil, indeks komposit terkoreksi 1,99% sepanjang tahun berjalan 2023. Namun, Bursa Efek Indonesia bukan satu-satunya pasar saham regional yang merah membara. narno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengatakan berbagai capaian ditorehkan dalam momentum 46 tahun reaktivasi pasar modal Indonesia. Di sisi lain, berbagai tantangan masih harus dihadapi. Meski tengah digempur sentimen negatif, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy mengaku optimistis pasar modal Indonesia masih berpeluang untuk balik arah dan membukukan kinerja positif hingga akhir 2023. Menurutnya, fluktuasi IHSG merupakan hal yang wajar di tengah dinamika sentimen global dan ekonomi Indonesia. Optimisme itu turut mendorong kepercayaan diri BEI terhadap prospek kenaikan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada 2024. BEI menargetkan RNTH menembus Rp12,25 triliun atau lebih tinggi dari target tahun ini yang direvisi turun menjadi Rp10,75 triliun. Dihubungi Bisnis, Head of Research NH Korindo Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan saat ini belum ada katalis positif yang dapat menopang pasar saham sehingga investor disarankan wait and see sambil menunggu IHSG mengalami pemulihan.Terkait dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, dia berpendapat investor asing harap-harap cemas sambil menunggu rencana kebijakan ketiga pasangan capres dan cawapres.Sementara itu, Managing Director UBS Indonesia Joshua Arief Tanja menuturkan kebijakan suku bunga yang lebih hawkish disoroti oleh pelaku pasar. Akibatnya, kalangan analis kembali mempertanyakan peluang penurunan suku bunga pada 2024.

Melego Saham demi Perbaikan Kinerja

KT1 26 Oct 2023 Tempo
JAKARTA – PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) memastikan tawaran pelepasan saham tidak akan mengganggu struktur kepemilikan pemerintah di Bandara Kertajati. Direktur Utama BIJB Muhammad Singgih mengatakan manajemen hanya mencari mitra untuk pengembangan layanan dan jaringan usaha lapangan terbang di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tersebut. Singgih menambahkan, masuknya investor juga dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi finansial perusahaan. "Yang penting adalah bagaimana BIJB menyelesaikan kewajiban keuangan sambil tetap melayani masyarakat dengan baik,” katanya kepada Tempo, kemarin.

Saat ini porsi kepemilikan saham Bandara Kertajati yang dipegang oleh BIJB selaku entitas milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar 82,29 persen. Porsi BIJB akan berkurang menjadi 60 persen jika PT Angkasa Pura II (Persero) yang kini memegang 15,41 persen saham memenuhi seluruh setoran modalnya.  Selanjutnya, sebanyak 1,62 persen porsi kepemilikan bandara berkapasitas 5,6 juta penumpang itu dipegang Koperasi Praja Sejahtera Jawa Barat serta 0,68 persen dimiliki PT Jasa Sarana, badan usaha bidang infrastruktur milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat. (Yetede)