Saham
( 1717 )Kilau Emiten Emas Saat Konflik Global
Saat ketidakpastian muncul, harga komoditas cenderung meningkat. Tengok saja saat konflik di Jalur Gaza kembali memanas, harga emas terlihat melonjak. Sebelum konflik, Jumat pekan lalu (6/10) kontrak pengiriman emas untuk Desember 2023 senilai US$ 1.845,20 per ons troi. Begitu konflik pecah, kontrak tersebut naik hingga US$ 1.864,30 per ons troi pada Senin pekan ini (9/10). Harga merangkak hingga 1.893,6 per ons troi, Kamis (12/10).Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan menilai konflik di Timur Tengah dalam jangka pendek akan memicu kenaikan aliran dana ke safe haven, termasuk emas. Senior Equity Research Analyst Jasa Utama Capital Sekuritas, Samuel Glenn Tanuwidjaja memperkirakan, harga emas untuk tahun ini berada di kisaran US$ 1.850 - US$ 1.910 per ons troi. “Di tahun 2024 saya menilai, sentimennya masih didominasi Amerika Serikat (AS) dan China,” ujar dia. Rizkia menilai, kenaikan harga emas dapat mendongkrak harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) emiten emas seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Sentimen ini dapat berdampak positif terhadap penjualan segmen emas dan berdampak positif kepada perusahaan. Ia memperkirakan, pendapatan segmen emas ANTM bersama dengan logam mulia lain dan segmen refinery akan relatif datar sekitar Rp 25,8 triliun dan Rp 26,2 triliun pada 2023 serta 2024. Pada kuartal kedua 2023, kontribusi segmen logam mulia dan refinery sekitar 26% terhadap laba bersih ANTM. Namun kontribusi lini tersebut terhadap total pendapatan ANTM lebih tinggi lagi, sekitar 62,0%. Analis MNC Sekuritas, Alif Ihsanario memasang rekomendasikan beli untuk saham HRTA dengan target harga Rp 560 per saham. Pendorongnya, potensi pasar perhiasan di luar negeri dan perluasan domestik.
Sejumlah Risiko Membayangi PGAS
KINERJA LAMPAUI IHSG : HASIL TEBAL REKSA DANA SAHAM
Sejumlah produk reksa dana saham menawarkan cuan tebal dan melampaui kinerja indeks harga saham gabungan yang hanya tumbuh 1,04% secara tahun berjalan. Berdasarkan data Infovesta hingga Jumat (6/10), sejumlah produk reksa dana saham mencetak return tebal di atas 11% hingga 17,3% pada periode yang sama. Hal itu bertolak belakang dengan kinerja indeks reksa dana saham justru terkoreksi 2,16% secara tahun berjalan. Sementara itu, pada rentang waktu yang lebih panjang, sejumlah produk reksa dana saham mampu memberikan keuntungan moncer. Imbal hasil tertinggi mencapai 108,2% dengan dana kelolaan mencapai Rp995,72 miliar. Kinerja reksa dana saham tersebut melampaui kinerja indeks reksa dana saham berikut indeks harga saham gabungan (IHSG). Dari data Pasardana.id, kinerja indeks reksa dana saham mencapai 25,29% dalam 3 tahun. Pada periode yang sama, kinerja IHSG tumbuh 42,24%. Head of Research Analyst Pasardana.id Beben Feri Wibowo mengatakan bahwa kinerja aset berisiko menunjukkan tajinya saat pasar tertekan. Periode 3 tahun lalu yang bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang membuat kinerja ekonomi tertekan ternyata memberikan peluang pertumbuhan kinerja kala pemulihan berlanjut. Beberapa saham seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang saat pandemi melemah, kini menguat. Sektor lainnya yang berkontribusi terhadap cuan tebal reksa dana saham itu yakni saham sektor batu bara.
Keunggulan tersebut ditawarkan beberapa saham seperti PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG). Menilik pada lembar fakta reksa dana saham Trim Kapital Plus yang tumbuh 12% sepanjang 2023 per akhir September, alokasi dana terbesar pada saham perbankan seperti BBRI, BBCA, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dengan porsi penempatan dana 5,39%—9,3%. Perusahaan juga menempatkan dana pada saham sektor riil seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Indosat Tbk. (ISAT), PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT Astra International Tbk. (ASII). Menurut lembar fakta produk pada akhir Agustus 2023, perusahaan turut mengoleksi saham BBRI, BMRI, TLKM, BBCA dan ASII sebagai beberapa saham dengan penempatan terbesar yakni mulai dari 5,44% hingga 7,25%. Dihubungi terpisah, CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra mengatakan prospek dan kinerja reksa dana saham akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor hingga akhir tahun ini. Faktor-faktor tersebut seperti kondisi ekonomi, suku bunga, perkembangan politik, dan sentimen pasar global.
BREN Rajai Sektor Energi Terbarukan di Bursa Saham
PT Barito Renewables Energy Tbk resmi melantai di Bursa Efek
Indonesia dengan kode emiten BREN, Senin (9/10). Perusahaan yang memproduksi listrik
dari tenaga panas bumi ini mengalami kelebihan penawaran setelah mencetak
kapitalisasi terbesar di bursa untuk sektor energi terbarukan saat penawaran
saham perdana. Barito Renewables merupakan perusahaan induk energy dari Grup
Barito Pacific yang didirikan Prajogo Pangestu, orang terkaya ketujuh di RI
versi Forbes. Pada perdagangan perdana
saham BREN pagi ini, harga satuan saham melonjak 25 % ke level Rp 975 per saham
dari harga penawaran awal Rp 780 per saham.
Dirut Barito Renewables Hendra Soetjipto Tan, dalam acara
peluncuran saham di BEI, Jakarta, menyampaikan, penawaran saham perdana
(initial public offering/IPO) ini merupakan komitmen mereka untuk mendukung
Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan tranisi energi yang berkelanjutan. ”IPO
ini tidak hanya terbatas pada industri tenaga panas bumi, tetapi juga menuju ke
teknologi terbarukan lainnya, dengan didukung oleh keunggulan operasional yang
kuat,” kata Hendra. Dana IPO ini akan mereka gunakan untuk mengonsolidasikan
Star Energy Geothermal Group, yang sahamnya dipegang BREN, dengan teknologi canggih
dan tenaga ahli yang berpengalaman. (Yoga)
INA Berminat Akuisisi 35% Saham Jasamarga Transjawa Tol
Kinerja Emiten Tertekan Otot Dolar
Nilai tukar rupiah masih dalam tren melemah. Sampai perdagangan akhir pekan, Jum'at (6/10) harga spot JISDOR telah menyentuh Rp 15.628 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini bisa membawa dampak beragam bagi emiten yang sensitif terhadap fluktuasi kurs. Salah satunya yang mempunyai utang valuta asing, terutama dolar AS. "Jika porsi utang dolar AS lebih dari 60% dari total utang keseluruhan, akan mempengaruhi cost untuk membayar beban bunga utang," terang Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro ke KONTAN, Minggu (8/10). Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy sependapat kinerja sejumlah emiten yang punya utang dolar AS akan terdampak negatif akibat pelemahan rupiah. Terlebih ada sejumlah emiten besar yang mempunyai utang valas lumayan besar di semester I-2023. Di sektor telekomunikasi, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) juga punya utang dolar AS yang nilainya setara Rp 2,16 triliun per 30 Juni 2023, naik dari periode serupa 2022 yang tercatat Rp 1,64 triliun. Di bidang energi, utang usaha PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) tercatat US$ 365,8 juta di periode yang sama. Adapun total liabilitas ADRO tembus US$ 2,71 miliar per 30 Juni 2023. Di sektor properti ada LPKR memiliki utang obligasi per 30 Juni 2023 senilai Rp 6,4 triliun. ASRI memiliki utang obligasi dalam dolar AS yang jika dirupiahkan Rp 3,68 triliun. PWON memiliki utang usaha dalam dolar AS setara Rp1,3 triliun per 30 Juni 2023. Emiten manufaktur, seperti PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) juga punya utang usaha dalam dolar AS setara Rp 669,23 miliar dan utang obligasi Rp 2,55 triliun.
Ada 70 Perusahaan Baru Melantai di Bursa Tahun Ini
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memecahkan rekor baru dalam pencatatan saham perdana alias listing yakni 68 perusahaan dengan nilai total Rp 49,60 triliun sepanjang tahun ini. Rekor inipun makin tejaga setelah Senin ini (9/10), masih akan ada dua yang akan mencatatkan sahamnya yakni PT Pulau Subur Tbk (PTPS) serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Dus, dengan begitu, jumlah perusahaan atau emiten anyar yang tercatat BEI di 2023 akan mencapai 70 emiten. Ini mengalahkan rekor sebelumnya pada tahun 1990 dengan 66 pencatatan saham perdana. Artinya, BEI berhasil rekor Initial Public Offering (IPO) selama 33 tahun terakhir. Perinciannya, sebanyak 27 perusahaan atau sekitar 39,7% merupakan perusahaan dengan aset skala besar. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki total aset di atas Rp 250 miliar. Kemudian, ada 31 emiten atau sekitar 45,6% masuk dalam perusahaan dengan aset skala menengah. Sisanya, sebanyak 10 perusahaan atau sekitar 14,7% termasuk dalam perusahaan dengan aset skala kecil. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan seiringan dengan itu, BEI juga kedatangan empat perusahaan dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 3 triliun serta memiliki free float di atas 15%. Tiga tahun terakhir, nilai pencatatan terbesar di BEI masih dipegang PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) senilai Rp 21,9 triliun. Lalu diikuti oleh PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dengan perolehan dana IPO sebesar Rp 18,8 triliun. Catatan BEI, masih ada 28 perusahaan dalam jalur pencatatan saham di BEI. Rinciannya, dua perusahan dengan aset di bawah Rp 50 miliar. Kemudian 15 perusahaan aset skala menengah dengan aset di antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Lalu sebanyak 10 merupakan perusahaan aset skala besar. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus melihat di tahun politik akan ada beberapa perusahaan yang memilih akan menahan diri untuk IPO menunggu kebijakan pemerintah.









