Saham
( 1717 )Saham Batubara Mulai Hangat Lagi
Pelemahan Rupiah Menekan Saham
Sinyal Waspada Menyala Lagi dari Bursa Saham
Rupiah Rontok, IHSG Anjlok
Terangkat Kenaikan Harga Minyak
Kinerja PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) berpotensi membaik di akhir tahun ini. Sentimen positif itu datang dari kenaikan harga minyak. Sebagai gambaran, pada semester I-2023, emiten yang bergerak di sektor tambang minyak dan gas (migas) ini membukukan laba bersih senilai US$ 119,46 juta. Realisasi ini turun 60,58% dari laba bersih di periode yang sama tahun lalu yang mencapai sebesar US$ 303,05 juta. Turunnya harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) komoditas andalan MEDC, yakni minyak dan gas menjadi salah satu pemicu turunnya kinerja emiten ini. Meski begitu, Hilmi Panigoro, Direktur Utama MEDC dalam keterangan Selasa (3/10), optimistis terhadap kinerja MEDC ke depannya. Dia menambahkan, MEDC juga sudah menetapkan panduan kinerja operasional hingga akhir tahun ini. Lantas di segmen energi hijau, MEDC sudah mendapat persetujuan bersyarat dari Energy Market Authority (EMA) Singapura atas proyek pembangkit tenaga surya berkapasitas 600 MW. Persetujuan ini didapatkan MEDC melalui anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya, yakni Medco Power Global beserta mitra konsorsiumnya Pacific Light Renewables Pte Ltd dan Gallant Venture Ltd. Per semester I-2023, belanja modal di segmen minyak dan gas telah mencapai US$ 99 juta terutama untuk pengembangan Blok Natuna dan Corridor. Sementara belanja modal ketenagalistrikan sebesar US$ 28 juta, terutama untuk pengembangan proyek geotermal Ijen. Analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan menilai, kinerja MEDC di paruh kedua 2023 berpeluang membaik. Ini seiring dengan kenaikan harga minyak yang cukup masif karena pengetatan produksi minyak dari OPEC+. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Hasan Barakwan sependapatn kinerja MEDC akan membaik di kuartal III-2023. Sebab, AMMN telah menerima perpanjangan izin ekspor sebanyak 900.000 ton, sehingga AMMN bisa melanjutkan aktivitas ekspor konsentratnya.
Suntikan Dana GOTO Untuk Modal Kerja
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akan diguyur dana jumbo US$ 150 juta dari International Finance Corporation (IFC) dan firma investasi privat Franke & Company Inc. Nilai tersebut setara Rp 2,3 triliun dengan menggunakan kurs Rp 15.341 per dolar Amerika. Patrick Walujo, Direktur Utama Grup GoTo menjelaskan GOTO akan menerima investasi dari private placement serta penerbitan surat utang terstruktur kepada Bhinneka Holdings (22) Limited. Ini merupakan upaya GOTO untuk mengeksekusi aksi private placement. Aksi ini sudah mendapat restu Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 Juni 2023. GOTO mematok harga private placement sebesar Rp 90 per saham. Dari gelaran ini, Bhinneka Holdings (22) Limited harus menggelontorkan dana US$ 100 juta. "Notes Subscription Agreement akan diterbitkan oleh entitas usaha, GoTo International Finance (22) Limited kepada Bhinneka Holdings (22) Limited senilai US$ 50 juta," jelas Patrick, Selasa (3/10). Nah, secara bersamaan Bhinneka Holdings (22) Limited akan menerbitkan obligasi bersifat ekuitas alias equity-linked bond sebesar US$ 150 juta. Kemudian IFC akan mengambil bagian dari surat utang tersebut sebesar US$ 125 juta. Sementara Franke & Company Inc. akan berkontribusi US$ 25 juta. Adapun obligasi bersifat ekuitas tersebut memiliki tingkat kupon sebesar 5% per tahun. Kupon ini akan dibayarkan dua kali setahun dan akan jatuh tempo pada bulan Oktober 2028. Kemudian PT Tokopedia, PT Swift Logistic Solutions, PT Multifinance Anak Bangsa dan PT GoTo Solusi Niaga masing-masing akan memperoleh 15% atau sekitar Rp 345,17 miliar. Paulus Jimmy, Deputy Head of Research Sucor Sekuritas menilai, tambahan modal ini akan menjadi sentimen positif untuk kinerja operasional GOTO.
Mulai Offering, Barito Renewables Pasang Harga IPO Premium
Tahun Politik Bisa Memicu Daya Beli
Sektor konsumer sepertinya tetap menjadi idola investor. Di tahun pemilu yang menyebabkan kondisi politik memanas, sektor konsumen justru semakin terlihat seksi. Pemerintah mengucurkan dana Rp 76,6 triliun untuk pemilu serentak di tahun 2024. Anggaran tersebut naik tiga kali lipat dibandingkan anggaran tahun 2019 yang sebesar Rp 25,7 triliun. Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan menuturkan, pada umumnya pelaksanaan pemilu berpotensi mendorong pertumbuhan konsumsi masyarakat. Di sisi lain daya beli masyarakat relatif terjaga. Tercermin dari kondisi inflasi tahunan Indonesia relatif stabil di kisaran 3%. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis meramal konsumsi domestik berpotensi tumbuh, tapi konsumsi masyarakat menengah ke bawah masih belum tumbuh signifikan. Namun, ia nilai emiten konsumer di segmen food & beverage (F&B), rokok hingga distribusi konsumen akan diuntungkan adanya anggara pemilu. Tim Riset CGS-CIMB Sekuritas Indonesia melaporkan, dari 40 emiten konsumer pada pemilu 2014 dan 2019, ternyata segmen menengah dan bawah mengalami pertumbuhan pendapatan. Valdy menyebut, emiten konsumer di segmen F&B, households products, hingga ritel akan mendapat sentimen. Seperti INDF, ICBP, UNVR, MAPI, ACES, ERAA, AMRT. Rut Yesika Simak, Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas mengatakan, selain perputaran uang selama pemilu, emiten konsumer akan diuntungkan dari normalisasi harga soft commodity.
Saham Bank Lapis Kedua Masih Tampil Mempesona
Saham emiten perbankan masih menunjukkan kinerja moncer. Tak hanya saham bank berkapitalisasi pasar besar (big cap), kinerja saham bank lapis kedua juga masih ciamik. Ambil contoh kinerja saham Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). Mengutip data RTI, harga saham BNGA pada penutupan pasar Senin (2/10) menclok di level Rp 1.690 per saham, tidak berubah dibandingkan hari sebelumnya. Namun, jika diakumulasi sejak awal tahun ini, harga saham BNGA terbang 42,62%. Kemarin, saham BNGA yang ditransaksikan sebanyak 2,58 juta saham dengan frekuensi 1.091 kali. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani melihat, menterengnya kinerja saham bank lapis kedua disokong fundamentalnya yang kuat. Valuasi saham emiten bank lapis kedua juga murah. Ini tercermin dari price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV) yang masih di bawah industri. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus melihat, saham BNGA menarik dilirik. Sebab, pertumbuhan kinerja BNGA kian solid. "Ini terlihat dari return on equity (ROE) BNGA yang mencapai 15,4% dan yang penting ada perbaikan kualitas aset," ujarnya. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengingatkan, saham-saham bank lapis kedua mayoritas dalam tahap sideways atau tren menurun. Dia bilang, saham bank lapis kedua sudah tumbuh tinggi sejak awal tahun hingga paruh pertama tahun 2023.









