;
Tags

Saham

( 1722 )

INA Berminat Akuisisi 35% Saham Jasamarga Transjawa Tol

KT1 10 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Indonesia Investment Authority (INA) menunjukkan minatnya unutk mengakuisisi sebanyak 35% saham PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) PT Jasa Marga Tbk (JSMR). JTT merupakan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang mengoperasikan Tol Trans Jawa sepanjang 676 km atau mencerminkan 56% dari total panjang jalan tol yang dikelola Jasa Marga Group. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo sebelumnya mengungkapkan, porsi Jasa Marga di JTT yang akan ditawarkan kepada mitra strategis mencapai 35%. Aksi equity financing ini bertujuan untuk membiayai proyek tol perseroan kedepan. Deputy CEO INA Arief Budiman mengaku, pihaknya bersama beberapa mitra investasi terus memantau dan mengevaluasi berbagai ruas tol diseluruh Indonesia untuk melihat peluang investasi di masa mendatang. "Saat ini (INA) sedang berjalan diskusi dengan beberapa pemilik jalan tol seperti Jasa Marga dan Hutama Karya," kata Arief kepada Investor Daily, Senin (9/10/2023). (Yetede)

Kinerja Emiten Tertekan Otot Dolar

HR1 09 Oct 2023 Kontan

Nilai tukar rupiah masih dalam tren melemah.  Sampai perdagangan akhir pekan, Jum'at (6/10) harga spot JISDOR telah menyentuh Rp 15.628 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini bisa membawa dampak beragam bagi emiten yang sensitif terhadap fluktuasi kurs. Salah satunya yang mempunyai utang valuta asing, terutama dolar AS. "Jika porsi utang dolar AS lebih dari 60% dari total utang keseluruhan,  akan mempengaruhi cost untuk membayar beban bunga utang," terang Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro ke KONTAN, Minggu (8/10). Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy sependapat  kinerja sejumlah emiten yang punya utang dolar AS akan terdampak negatif akibat pelemahan rupiah. Terlebih ada sejumlah emiten besar yang mempunyai utang valas lumayan besar di semester I-2023. Di sektor telekomunikasi, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) juga punya utang dolar AS yang nilainya setara Rp 2,16 triliun per 30 Juni 2023, naik dari periode serupa 2022 yang tercatat Rp 1,64 triliun. Di bidang energi, utang usaha PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) tercatat US$ 365,8 juta di periode yang sama. Adapun total liabilitas ADRO tembus US$ 2,71 miliar per 30 Juni 2023. Di sektor properti ada LPKR memiliki utang obligasi per 30 Juni 2023 senilai Rp 6,4 triliun. ASRI memiliki utang obligasi dalam dolar AS yang jika dirupiahkan Rp 3,68 triliun. PWON memiliki utang usaha dalam dolar AS setara Rp1,3 triliun per 30 Juni 2023. Emiten manufaktur, seperti PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) juga punya utang usaha dalam dolar AS setara Rp 669,23 miliar dan utang obligasi Rp 2,55 triliun.

Ada 70 Perusahaan Baru Melantai di Bursa Tahun Ini

HR1 09 Oct 2023 Kontan

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memecahkan rekor baru dalam pencatatan saham perdana alias listing yakni 68 perusahaan dengan nilai  total Rp 49,60 triliun sepanjang tahun ini. Rekor inipun makin tejaga setelah Senin ini (9/10), masih akan ada dua yang akan mencatatkan sahamnya yakni PT Pulau Subur Tbk (PTPS) serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Dus, dengan begitu, jumlah perusahaan atau emiten anyar yang tercatat BEI di 2023 akan mencapai 70 emiten. Ini mengalahkan rekor sebelumnya pada tahun 1990 dengan 66 pencatatan saham perdana. Artinya, BEI berhasil rekor Initial Public Offering (IPO) selama 33 tahun terakhir. Perinciannya, sebanyak  27 perusahaan atau sekitar 39,7% merupakan perusahaan dengan aset skala besar. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki total aset di atas Rp 250 miliar. Kemudian, ada 31 emiten atau sekitar 45,6% masuk dalam perusahaan dengan  aset skala menengah. Sisanya, sebanyak 10 perusahaan atau sekitar 14,7% termasuk dalam perusahaan dengan aset skala kecil. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan seiringan dengan itu, BEI juga kedatangan empat perusahaan dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 3 triliun serta memiliki free float di atas 15%. Tiga tahun terakhir, nilai pencatatan terbesar di BEI masih dipegang  PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) senilai Rp 21,9 triliun. Lalu diikuti oleh PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dengan perolehan dana IPO sebesar Rp 18,8 triliun. Catatan BEI, masih ada 28 perusahaan dalam jalur pencatatan saham di BEI. Rinciannya, dua perusahan dengan aset di bawah Rp 50 miliar. Kemudian  15 perusahaan aset skala menengah dengan aset di antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Lalu sebanyak 10 merupakan perusahaan aset skala besar. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus melihat di tahun politik akan ada beberapa perusahaan yang memilih  akan menahan diri untuk IPO menunggu kebijakan pemerintah. 

Brick Mengakuisisi Saham Perusahaan Remitansi

KT3 07 Oct 2023 Kompas
Brick, bersama mitra strategisnya di Indonesia, telah mengakuisisi saham mayoritas PT Eastern Global Remittance (ETR), pemilik lisensi Penyelenggara Jasa Pembayaran (PJP) Kategori 3 untuk layanan pengiriman uang dari Bank Indonesia. Co-Founder dan CEO Brick Gavin Tan, Kamis (5/10/2023), mengatakan, akuisisi ini merupakan langkah strategis Brick untuk menyediakan solusi pembayaran bisnis yang lebih inovatif bagi para pelanggannya. ”Kami akan memanfaatkan keunggulan kami di bidang teknologi dan infrastruktur pembayaran,” katanya. (Yoga)

Dua Perusahaan Teknologi dan Konstruksi Masuk Bursa

KT3 07 Oct 2023 Kompas
Perusahaan teknologi PT Sumber Sinergi Makmur Tbk dan perusahaan konstruksi PT Kokoh Exa Nusantara Tbk, Jumat (6/10/2023), resmi terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejauh ini, sudah ada 68 emiten yang terdaftar atau melampaui rekor di 1990 di mana ada 66 emiten baru yang terdaftar. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, secara jumlah korporasi baru yang melantai di bursa memang membuat rekor. Namun, tidak dari segi dana yang dihimpun. Pada 2021 lalu, emiten Bukalapak berhasil menghimpun dana Rp 21,9 triliun. (Yoga)

Bonus Akhir Tahun dari Dividen Interim

HR1 06 Oct 2023 Kontan
Pembagian dividen interim kembali datang di ujung tahun ini. Kendati tak berdampak signifikan bagi laju  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara umum, pembagian dividen interim ini seperti bonus akhir tahun. Pada penutupan perdagangan  saham, Kamis (5/10), IHSG terkoreksi 0,17% atau turun 11,75 poin ke level 6.874,82. Sepanjang tahun ini, IHSG menguat 0,35%. Roger MM, Head of Research Center Mirae Asset Sekuritas  menilai, saat ini pelaku pasar lebih fokus pada isu global, seperti data ekonomi Amerika Serikat (AS). Yang paling dekat akan ada rilis data ketengakerjaan dari Negeri Paman Sam itu yang akan dipublikasikan pada Jumat (6/10). Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo melihat bahwa pembagian dividen interim di sisa tahun ini merupakan pemanis bagi investor jangka panjang. Namun agenda tersebut bukan sentimen positif bagi IHSG secara umum. "Rata-rata dividend yield pembagian dividen interim saat ini di kisaran 1% hingga 3% sehingga tidak terlalu berdampak," jelas Roger. Dividend yield dari Grup Astra, misalnya, masih di bawah  5%. Jika menggunakan harga penutupan Kamis (10/5), dividend yield terbesar ada di PT United Tractor Tbk (UNTR) sebesar 2,68%. Equity Analyst Phintraco Sekuritas Rio Febrian menuturkan bagi investor yang berorientasi jangka panjang, membeli atau menambah porsi saham bisa menjadi pilihan.  Investor juga dapat fokus pada saham dengan dividend yield besar yang masuk IDX High Dividend 20.

Saham Batubara Mulai Hangat Lagi

HR1 06 Oct 2023 Kontan
Harga batubara berpeluang menghangat menjelang akhir tahun. Penguatan ini sejalan dengan kenaikan permintaan menjelang musim dingin. Hal ini pun dapat menjadi angin segar bagi saham emiten tambang. Senior Equity Research Analyst Jasa Utama Capital Sekuritas Samuel Glenn Tanuwidjaja mengatakan, penggunaan batubara di India dan China diprediksikan masih bertumbuh masing-masing sebesar 4,9% secara tahunan atau year on year (yoy) dan 3,5% yoy. Harga batubara ICE Newcastle pun berpeluang diperdagangkan di rentang US$ 153-US$ 173 per ton pada kuartal keempat tahun ini. Di sisi lain, prospek harga batubara juga masih dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan dan menurunnya harga gas alam yang berperan sebagai substitusi batubara sebagai sumber daya pembangkit listrik di negara-negara maju. Sehingga, permintaan gas alam bisa lebih tinggi dibanding batubara di musim dingin ini. Tren penguatan dollar Amerika Serikat (AS) juga bakal mempengaruhi kinerja emiten sektor ini. Dari sisi importir, pergerakan harga batubara sangat bergantung dengan dollar AS karena harga patokan global yang diperdagangkan menggunakan mata uang ini. Melihat sentimen ini, Glenn pun merekomendasikan saham PT United Tractors Tbk (UNTR) bagi investor yang suka saham defensif. Pendapatan anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini masih tumbuh 16% yoy pada semester I-2023. Meski pertumbuhannya masih di bawah rata-rata lima tahunan yakni 19%, namun UNTR mampu mencetak nilai pendapatan tertinggi dalam 10 tahun. Glenn juga menyukai saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO). Emiten milik Garibaldi "Boy" Thohir ini dipoles oleh prospek jangka panjangnya, terutama setelah resmi mendapat pembiayaan penuh untuk pembangunan proyek pabrik pengolahan alias smelter aluminium. Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan menyematkan peringkat netral terhadap saham sektor batubara. Peringkat ini menggambarkan masih berlanjutnya moderasi harga batubara dari posisi tahun lalu. Hal ini membuat normalisasi laba bersih emiten batubara masih akan terjadi hingga tahun 2024. Sementara itu, penguatan harga batubara Newcastle cenderung didorong oleh lonjakan harga minyak mentah yang baru-baru ini terjadi. Erindra melihat ada peluang penguatan saham batubara pada kuartal IV-2023 setelah rilis kinerja kuartal III-2023. Sebab, data perdagangan dan inventaris batubara terkini mengindikasikan adanya aktivitas permintaan musiman sedang berlangsung.

Pelemahan Rupiah Menekan Saham

HR1 05 Oct 2023 Kontan
Ekspektasi suku bunga yang masih tinggi membuat dolar Amerika Serikat (AS) perkasa di tengah mata uang lainnya, termasuk rupiah. Hal ini bisa menjadi sentimen negatif bagi sejumlah emiten di bursa saham. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih dalam tren melemah. Rupiah di pasar spot terdepresiasi 0,34% ke Rp 15.634 per dolar AS, Rabu (10/4). Ini menjadi pelemahan terburuk sejak 29 Desember 2022. Rupiah pun menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia. Pengamat mata uang dan komoditas Lukman Leong mengatakan, sikap agresif The Fed dalam menaikkan suku bunga serta perlambatan ekonomi global, terutama China menjadi biang kerok pelemahan rupiah. Sementara, untuk satu tahun ke depan, Lukman memperkirakan keadaan akan berbalik. Sebab, bank-bank sentral akan mulai menurunkan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi akan mulai membaik. Hitungan Lukman, rupiah akan bergerak di level Rp 15.800–Rp 16.000 per dollar AS hingga akhir 2023. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus menambahkan, spread premium antara suku bunga The Fed dan suku bunga Bank Indonesia menjadi nol jika The Fed menaikkan tingkat suku bunga. Akibatnya, daya tarik terhadap dollar AS jauh lebih besar. Sentimen ini membuat emiten saham yang kinerjanya bergantung terhadap transaksi impor bisa mengalami penurunan kinerja. Sebaliknya, emiten yang kinerjanya bergantung terhadap transaksi ekspor bisa diuntungkan. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, sektor yang bahan bakunya masih mengandalkan impor seperti farmasi, elektronik, dan otomotif bakal terdampak pelemahan rupiah. Ambil contoh, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO). Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menilai, sektor teknologi juga sebaiknya dihindari dahulu. Sebab, selain dibayangi suku bunga tinggi, emiten teknologi banyak yang masih merugi. Sedangkan Nico menilai sektor properti bakal terkena imbas. Maka, lebih baik pilih saham defensif seperti sektor barang konsumsi.

Sinyal Waspada Menyala Lagi dari Bursa Saham

HR1 05 Oct 2023 Kontan (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berkubang di level 6.800-an. Secara teknikal, IHSG sudah berada di bawah rata-rata harga 50 hari terakhir atau moving average (MA) 50. Artinya, indeks komposit ini masih dalam fase bearish. Rabu (4/10), IHSG parkir di zona merah di level 6.886,57, turun 0,78% dari hari sebelumnya. Koreksi IHSG ini sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Kurs rupiah di pasar spot ditutup di level terburuk sepanjang tahun di level Rp 15.634 per dollar AS. Head of Research NH Korindo Sekuritas, Liza Camelia mengatakan, secara teknikal, IHSG menyerah dari support MA10 dan lower channel yang membatasi dua bulan terakhir ini. "Ini mengapa IHSG tak kunjung mantap menembus level 7.050 hingga 7.060 karena terhalang resistance upper channel," ujarnya, kemarin. Sebagai antisipasi kenaikan suku bunga, imbal hasil US Treasury 10 tahun dan 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak tahun 2017. Ketika surat utang atau obligasi menawarkan yield yang begitu tinggi, maka dana investor akan mengalir keluar dari instrumen investasi lain. Lonjakan yield US Treasury inilah yang mengerek nilai tukar dollar AS terhadap sejumlah mata uang lain. CEO CTASaham, Andri Zakarias mencermati, dalam jangka pendek IHSG masih dalam pola konsolidasi. Dalam grafik mingguan, IHSG menunjukkan pola jenuh beli atau overbought. Dalam jangka pendek, IHSG berada di fase bearish dengan rentang 6.790-6.990. Secara historis pun, pergerakan IHSG dalam lima tahun terakhir sebenarnya cenderung menguat, rata-rata sebesar 1,90% pada bulan Oktober. Dengan periode yang sama, IHSG tercatat menguat 1,74% di bulan November. Di sisi lain, potensi koreksi yang masih terus berlanjut, Liza menyarankan untuk investor agar tak terlena di area resistance jika ada technical rebound. Tapi, Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset mengatakan, koreksi IHSG bisa jadi kesempatan bagi investor untuk mengoleksi saham-saham yang terdiskon. Dia menyebut, investor yang baru ingin beli atau masuk ke suatu saham, bisa menerapkan metode swing agar potensi keuntungan bisa lebih besar. Secara teknikal, Nafan memproyeksikan IHSG akan berada di level 7.381 di akhir 2023. Saham pilihannya jatuh dari penghuni indeks IDX80, yaitu AALI AKRA, ANTM, BBNI, BUKA, ELSA, ENRG, GGRM, GOTO, INCO, INDF, PGAS dan TLKM.

Rupiah Rontok, IHSG Anjlok

KT1 05 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terkoreksi dalam hingga 54,31 ke posisi 0,78%k posisi 6.886 ada perdagangan Rabu (4/10/2023). Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menyentuh Rp15.636 per dolar AS, terendah sejak Maret 2023 . diduga menjadi biang kerok anjlokny IHSG. Sinyal hawkish  the fed dan kenaikan imbal hasil surat utang AS makin memberatkan langkah IHSG pada perdagangan kemarin. "Penguatan dolar AS (terhadap rupiah) menjadi sentimen negatif yang menekan IHSG," kata Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki kepada Investor Daily, Rabu (4/10/2023). Yakin menambahkan, koreksi di pasar AS dan kenaikan imbal hasil (yield) surat utang AS untuk tenos 10 tahun dan 30 tahun turut  memiliki andil dalam menyeret indeks ke zona merah. "Pasar mengekspektasikan potensi kenaikan the Fed dan bank Indonesia, dan memperkirakan kenaikan Fed Fund Rate akan terjadi sekali lagi pada November 2023," tulis Pilarmas dalam risetnya, Rabu (4/10/2023). (Yetede)

Pilihan Editor