;
Tags

Saham

( 1722 )

Otomotif Masih Jadi Tumpuan Bisnis ASII

HR1 19 Sep 2023 Kontan

Penjualan mobil dengan merek di bawah PT Astra International Tbk (ASII) masih melaju. Melansir data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil Astra pada Agustus 2023 mencapai 50.816 unit. Angka ini naik 4,52% dari penjualan ASII di Juli 2023 yang 48.618 unit. Secara rinci, penjualan ASII didominasi oleh merek Toyota dan Lexus, yakni sebanyak 30.385 unit. Disusul Daihatsu sebanyak 17.481 unit, Isuzu 2.800 unit, UD Trucks sebanyak 136 unit, dan penjualan Peugeot sebanyak 14 unit. Jika diakumulasikan, penjualan mobil ASII mencapai 377.358 unit sepanjang delapan bulan pertama 2023. Jumlah tersebut naik 5,57% dari penjualan mobil di periode yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak 357.442 unit. Boy Kelana Soebroto, Head of Corporate Communications Astra International menyebut, ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) pada Agustus 2023, menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan penjualan mobil nasional periode Agustus. Kepala riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Yanuar Hardy menilai, segmen otomotif serta jasa keuangan ASII akan pulih pada paruh kedua tahun ini. Pemulihan ini terutama karena sedikitnya hari libur. Analis Henan Putihrai Sekuritas Alroy Soeparto menambahkan, akuisisi OLX akan memperkuat posisi ASII di pasar mobil bekas. Selain itu, akuisisi OLX akan menguntungkan segmen pembiayaan dari bisnis pembiayaan mobil dan asuransi milik ASII. Selain otomotif, ASII juga ditopang segmen bisnis yang terkait dengan komoditas, yakni segmen alat berat, tambang, konstruksi dan energi. Ditambah lagi El Nino berpotensi mendongkrak produksi tambang.

Sektor Teknologi Belum Bertaji

HR1 18 Sep 2023 Kontan

Kinerja keuangan dan performa saham emiten sektor teknologi masih lesu. Dari laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sektor teknologi merupakan satu-satunya sektor yang secara absolut mencatatkan laporan keuangan negatif. Kendati begitu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, kinerja beberapa emiten sektor teknologi masih berpotensi membaik di sisa tahun ini. Contohnya, PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang nilai kerugiannya sudah mulai turun jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Beban operasional yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan memang menjadi faktor penekan bottom line emiten sektor ini. Pelemahan kurs rupiah juga menjadi salah satu faktor penggerus kinerja emiten saham sektor teknologi. CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo mengatakan, berakhirnya pandemi juga memperberat kinerja sektor teknologi. khususnya di industri perangkat lunak dan jasa teknologi informasi. Mayoritas saham emiten teknologi mencatatkan performa negatif sejak awal tahun ini. Setidaknya, ada lebih dari 10 saham sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang kinerjanya masih minus. Emiten yang sahamnya tertekan paling dalam di antaranya PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX) dan PT Indosterling Technomedia Tbk (TECH). Ini akibat kinerja fundamental yang masih turun.

Gelagat Positif di Bursa Saham

HR1 18 Sep 2023 Bisnis Indonesia

Setelah mencatatkan beragam pencapaian yang menggembirakan pada pekan lalu, indeks harga saham gabungan atau IHSG diyakini bakal terus mempertahankan tren positif ke depan. Terlebih, Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan IDX New Listing Information untuk makin meningkatkan akses informasi dan merangsang gairah investasi di pasar modal. Pencapaian pertumbuhan di sejumlah indikator perdagangan pekan lalu tentu menjadi gelagat yang baik di lantai bursa. Kinerja indeks komposit memang masih relatif berfluktuasi kendati beberapa kali menyentuh level psikologis di angka 7.000-an. Catatan saja, IHSG mengalami penguatan 0,84% dalam sepekan dari 6.924,78 ke level 6.982,79. Kapitalisasi pasar turut mengalami peningkatan 1,03% menjadi Rp10.339 triliun dari Rp10.233 triliun pada pekan sebelumnya. Pertumbuhan tertinggi selama sepekan terjadi pada rata-rata volume transaksi, yaitu sebesar 56,84% menjadi 29,18 miliar lembar saham dari 18,61 miliar saham pada sepekan yang lalu. Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian ikut terkatrol. Data BEI mencatat, rata-rata transaksi harian melonjak 34,9% menjadi sebesar Rp13,44 triliun, dari Rp9,96 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata frekuensi transaksi harian di bursa pekan lalu pun menguat 5,46% dari 1,12 juta kali menjadi 1,18 juta kali transaksi. Pergerakan indeks komposit pekan lalu dipengaruhi oleh sentimen global, terutama dari pemulihan ekonomi China yang berasal dari rilis produksi industri yang naik 4,5% dan penjualan ritel yang tumbuh 4,6% pada periode Agustus 2023. Pekan ini, agenda kedua bank sentral itu kembali menjadi sorotan pelaku pasar. The Fed mengadakan pertemuan Federal Open Market Committee pada 19—20 September 2023, sedangkan jadwal Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia berlangsung pada 20—21 September 2023. Jika The Fed dan Bank Indonesia tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuannya, hal itu bisa memberikan dorongan positif ke pasar saham. Jika suku bunga naik, ini berpotensi memicu ketidakpastian dan tekanan jual sejenak.

Market Cap Barito Renewables Jauh Lampaui PGEO

KT1 16 Sep 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Unit usaha energi terbarukan milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), siap menggelar hajatan berupa penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. BREN bakal melepas 4,5 miliar saham baru yang setara dengan 3,35% dari modal disetor, sehingga pasca_IPO jumlah saham perseroan menjadi 132,27 miliar. Dengan mematok harga pelaksanaan sebesar Rp670-780 per saham, anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini berpeluang menghimpun dana sebesar Rp 3,5 triliun. Sementara bila diasumsikan harga IPO diambil di posisi Rp780 per saham dan dengan jumlah saham BREN selepas IPO, maka kapitalisasi pasar (market cap) Barito Renewables Energy mencapai Rp104,73 triliun. Market cap tersebut jauh melampaui kapitalisasi pasar PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) pada saat IPO yang sebesar  Rp36,2 triliun. Kala itu, PGEO mematok harga penawaran sebesar Rp875 per saham dengan jumlah saham selepas IPO sebanyak 41,3 miliar unit. Bahkan, hingga penutupan perdagangan hari ini, Jumat (14/9/2023), market cap PGEO baru menyentuh kisaran Rp 59 triliun. (Yetede)

Saatnya Menjerat Para Penggoreng

HR1 16 Sep 2023 Kontan (H)

Bau sangit saham gorengan kembali tercium. Setelah Jiwasraya dan Asabri, dugaan manipulasi saham kembali terjadi. Kali ini menerpa Grup Kresna. Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri menetapkan status tersangka terhadap Michael Steven pemilik Grup Kresna. Bareskrim menyebut Michael terindikasi melakukan aksi goreng menggoreng saham. Aksi pendiri Grup Kresna tersebut, mengakibatkan para investor mengalami kerugian hingga Rp 300 miliar lebih. Lewat produk equity link agreement (ELA) dan jual beli saham meliputi jual beli, gadai saham, dan hak jual beli yang ditawarkan PT Kresna Sekuritas, Steven diduga menjalankan aksi tersebut. Status tersangka pun akhirnya disematkan kepada pria kelahiran Jakarta tahun 1963 tersebut. Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menilai, Bareskrim menghentikan aksi Michael karena Michael tersandung kasus kontrak pengelolaan dana (KPD), sehingga investor korban membuat laporan. Aksi goreng menggoreng saham ini tersibak dari hasil penyelidikan dan penyidikan. Setelah Jiwasraya dan Asabri, kasus Kresna harus jadi momentum otoritas bursa dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menindak para pelaku. Apalagi domain ada di mereka yang bisa membuka kedok kode broker saat perdagangan bursa yang saat ini ditiadakan. Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan mengatakan sebenarnya BEI sudah menyediakan informasi unusual market activities (UMA), yakni saham yang pergerakannya harganya tidak wajar. Informasi ini sejatinya bisa membantu pelaku pasar mendeteksi saham gorengan. Maka Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menyarankan investor untuk mulai memperhatikan grafik pergerakan saham yang biasanya tersaji di ragam aplikasi perdagangan bursa.

MEMANTIK EBT HIJAUKAN BURSA

HR1 16 Sep 2023 Bisnis Indonesia (H)

Geliat sektor energi bersih di Bursa Efek Indonesia bakal tambah semarak dengan aksi penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO) bernilai jumbo dari perusahaan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Adalah konglomerat Prajogo Pangestu yang memboyong bisnis renewable energy, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) ke lantai bursa dengan mengincar dana segar hingga Rp3,51 triliun. Saat ini, grup perusahaan mengoperasikan tiga aset panas bumi yang berlokasi di Jawa Barat, yakni Wayang Windu, Darajat, dan Salak. Total kapasitas terpasang sebesar 886 megawatt (MW), mewakili sekitar 38% pangsa pasar di Indonesia. Masuknya BREN ke dalam jajaran emiten energi baru terbarukan (EBT) di bursa jadi momentum menarik di tengah upaya pemerintah menargetkan bebas dari emisi karbon pada 2060. Apalagi, dalam revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, PT PLN (Persero) bakal memacu porsi penambahan pembangkit listrik EBT mencapai 75% dari total rencana penambahan pembangkit hingga 2040. Manajemen BREN dalam prospektusnya menyebut kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi di Tanah Air diperkirakan tumbuh pesat dari estimasi 2,6 gigawatt (GW) pada 2023 menjadi 6,7 GW pada 2030, dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 14,6%. Berdasarkan analisis Wood Mackenzie, pada 2030 Indonesia diharapkan memiliki kapasitas panas bumi terbesar di dunia yang merupakan 35% dari estimasi kapasitas neto panas bumi global. Equity Analyst Panin Sekuritas Felix Darmawan mengatakan saat ini secara umum emiten-emiten EBT dalam jangka menengah dan panjang cukup menjanjikan. Saham induk usaha BREN, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) naik 10,94% ke level Rp1.420, sedangkan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) melaju 13,72%, demikian juga PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) terkerek 9,6% ke Rp3.150 per saham. Seluruh dana akan digunakan sebagai suntikan modal kepada Star Energy Geothermal untuk melunasi utang kepada bank, Star Energy Oil & Gas, serta kepada BREN. Bertindak sebagai penjamin emisi efek adalah BNI Sekuritas.

Gelar Right Issue, PANI Incar Dana Rp 11 Triliun

HR1 16 Sep 2023 Kontan

Bisnis properti yang sudah menggeliat membuat PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) berbenah.  Pengembang proyek Pantai Indah Kapuk ini tengah berupaya mencari pendanaan. Untuk itulah PANI sudah memutuskan akan mencari dana dari para pemegang sahamnya. Yakni lewat penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD II) atau rights issue. Hal tersebut diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta Utara, Jumat (15/9). Presiden Komisaris PANI, Phiong Phillipus Darma menyatakan jumlah saham yang bakal ditambah bisa mencapai 8 miliar saham. Penerbitan 8 miliar saham itu setara dengan 37,16% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue. Nilai nominal yang dipatok Rp 100 per saham. Adapun PT Multi Artha Pratama, sebagai pemegang utama saham PANI, menyatakan akan melaksanakan seluruh hak rights sebanyak 7,04 miliar saham yang akan disetorkan dalam bentuk uang. Ketujuh perusahaan itu adalah PT Bumindo Mekar Wibawa (BMW), PT Cahaya Inti Sentosa (CISN), PT Jaya Indah Sentosa (JIS), PT Kemilau Karya Utama (KKU), PT Karunia Utama Selaras (KUS), PT Sumber Cipta Utama (SCU), dan PT Sharindo Matratama (SHM).

Hati-Hati, Saham Afiliasi Kresna Rawan Jeblok

HR1 16 Sep 2023 Kontan

Penetapan pendiri Grup Kresna Michael Steven sebagai tersangka dapat mempengaruhi prospek sejumlah emiten saham yang terafiliasi dengan Grup Kresna. Setidaknya, ada enam emiten Grup Kresna yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham-saham ini kebanyakan merupakan saham yang bergerak di bidang teknologi. Mereka adalah PT NFC Indonesia Tbk (NFCX), PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS), PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX). Lalu ada PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA), PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS), dan PT Quantum Clovera Investama Tbk (KREN). Saat ini, seluruh saham Grup Kresna yang listing di bursa masih memberikan performa negatif sejak awal tahun 2023. Saham DMMX dan DIVA misalnya telah merosot lebih dari 66%. Tapi penurunan kinerja saham ini tak lepas dari kinerja fundamental perusahaan yang juga boncos. Per semester pertama 2023, tak ada satupun emiten Grup Kresna yang mencetak pertumbuhan laba bersih. Sebaliknya, laba bersih emiten-emiten ini kompak melorot. Bahkan sejumlah emiten mengalami kerugian. BEI meminta masing-masing emiten terafiliasi Grup Kresna memberikan penjelasan. Dalam suratnya ke BEI, Direktur Utama DMMX, Budiasto Kusuma mengatakan tidak mengetahui terkait kasus hukum yang menyangkut Michael Steven. Sehingga, DMMX tidak dapat mengklarifikasi berita yang tengah bermunculan di media massa. Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian mengatakan, kasus tersebut memang tak berdampak ke pasar modal secara keseluruhan. "Buktinya, hari ini dan kemarin kinerja IHSG masih naik, ujarnya kepada KONTAN, Jumat (15/9). Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat mengatakan, saham-saham emiten Grup Kresna sejak awal tidak memiliki kinerja yang bagus secara fundamental. Bahkan Teguh berani menyebut kalau rata-rata semua saham Grup Kresna adalah saham gorengan. Harga saham emiten Grup Kresna kerap tiba-tiba naik tinggi dan turun dalam.

Kantong Tebal MDKA untuk Ekspansi

HR1 15 Sep 2023 Kontan

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) gencar menggelar refinancing utang. Emiten ini juga tengah menggeber sejumlah rencana ekspansi. Belum lama ini, MDKA sudah melunasi dan membayar bunga atas dua seri obligasi senilai total Rp 1,64 triliun. Sumber pendanaan MDKA untuk melunasi pokok dan membayar bunga obligasi tersebut berasal dari penerbitan Obligasi Berkelanjutan IV Tahap III Tahun 2023. Dalam penawaran umum berkelanjutan itu, MDKA menargetkan bisa menghimpun dana hingga Rp 15 triliun. "Sampai akhir Agustus lalu telah diterbitkan Rp 8,1 triliun. Waktu penerbitan Rp 6,9 triliun akan disesuaikan dengan kondisi perusahaan dan kondisi pasar," kata Head of Corporate Communication MDKA Tom Malik kepada KONTAN, Kamis (14/9). Selain itu, per 30 Juni 2023 MDKA memiliki fasilitas pinjaman revolving credit facility sebesar US$ 160 juta yang belum ditarik. Sumber-sumber pendanaan itu melengkapi arus kas operasional yang dibutuhkan MDKA untuk memenuhi belanja modal (capex) jumbo. Tom merinci, capex MDKA itu dialokasikan untuk menunjang tambang emas Tujuh Bukit dan tambang tembaga Wetar sebesar US$ 70 juta, Proyek Tembaga Tujuh Bukit akan dibangun secara bertahap, dengan potensi puncak produksi tahunan sebesar 112 ribu ton tembaga dan juga 366.000 ounces emas. Lalu, Proyek Emas Pani. Saat ini tengah melakukan studi kelayakan, yang diharapkan tuntas di kuartal IV-2023. Potensi produksi puncak tahunan proyek ini lebih dari 450.000 ounces emas per tahun. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, di tengah fluktuasi harga komoditas, top line MDKA masih berpotensi tumbuh. Meski begitu, perlu dicermati bagaimana strategi MDKA dalam meredam lonjakan pada beban pokok pendapatan.

Efek Positif Koreksi Valuasi Startup

HR1 15 Sep 2023 Bisnis Indonesia

Sepanjang 2023, indeks harga saham Nasdaq (yang memiliki bobot lebih besar di saham teknologi) mengalami kenaikan 32,5% (per 8 September), hampir dua kali lipat kenaikan indeks harga saham S&P500 sebesar 16,6%. Bahkan kenaikan indeks Nasdaq tersebut lebih tujuh kali lipat dari kenaikan indeks harga saham Dow Jones Industrial sebesar 4,4%. Pada saat indeks Nasdaq naik tinggi, ternyata harga saham perusahaan rintisan privat (private startup) yang pemiliknya venture capital (VC) dan private equity (PE) cenderung mengalami penurunan. Misalnya Forge Private Market Index, terkoreksi 16% sepanjang 2023. Bila dilihat dari titik tertinggi 16.057 (19 November 2021), indeks Nasdaq saat ini masih lebih rendah 14%. Sedangkan Forge Private Market Index sendiri terkoreksi 53% dari titik tertinggi di Januari 2022. Divergensi arah pergerakan indeks tersebut menunjukkan perbedaan dinamika pasar perusahaan publik dengan pasar perusahaan privat. Pasar perusahaan publik menyediakan likuiditas dan transaksi harian, sehingga proses penyesuaian harga berlangsung cepat dengan volatilitas yang besar. Sebaliknya, kuotasi harga transaksi private startup tidak transparan, susah dikompilasi dalam jumlah besar, serta sering terjadi dengan senjang yang besar (discrete) antara transaksi satu dan lainnya. Akibatnya, penyesuaian harga saham perusahaan private startup berjalan lebih lambat. Lesunya pasar sekunder perusahaan private startup juga terlihat dari menurunnya nilai transaksi VC global menjadi US$87 miliar di kuartal II/2023 (Pitchbook.com, Juli 2023), jauh dibawah nilai transaksi rata-rata di periode kuartal III/2020—kuartal III/2022 yang mencapai US$155 miliar (tertinggi US$213 miliar di kuartal IV/2021). Jumlah transaksi VC di kuartal II/2023 juga turun ke 7.786, jauh di bawah jumlah rata-rata sekitar 13.000 transaksi per kuartal pada periode kuartal I/2021—kuartal II/2022 (terbanyak 15.130 transaksi di kuartal I/2022). Penyesuaian harga, nilai, dan frekuensi transaksi atas private startup terjadi saat pasar private capital memiliki dana menganggur (dry powder) mencapai US$3,2 triliun. PE dan VC sendiri masing-masing memiliki dry powder sebesar US$1,25 triliun dan US$0,6 triliun. Penggalangan dana (fund raising) oleh PE dan VC di 2022 tetap tinggi, masing-masing mencapai US$461 miliar dan US$254 miliar. Pertama, adanya reorientasi strategi pengembangan perusahaan startup yang lebih mengedepankan efisiensi, sustainabilitas operasional, dan profitabilitas. Kedua, kembalinya pendekatan creative destruction daripada disrupsi artifisial menggunakan modal besar VC/PE. Creative destruction (Schumpeter, 1942) adalah fenomena di mana inovasi melahirkan produk baru yang lebih superior sehingga produk lama akan tersingkir. Ketiga, mendorong perusahaan startup unggulan IPO lebih cepat.

Pilihan Editor