Saham
( 1722 )Menguji Efek Rotasi Emiten Big Caps
Emiten saham dengan nilai kapitalisasi pasar
(market cap)
jumbo mengalami rotasi. Saat ini, ada 15 emiten saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tercatat memiliki market cap di atas Rp 100 triliun.
BBCA masih kokoh di puncak dengan market cap senilai Rp 1.140,29 triliun. BBRI membuntuti dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 848,73 triliun. Emiten saham berkode saham BYAN, BMRI, dan TLKM masih menghuni daftar lima besar
market cap
terbesar.
Sementara itu, emiten pendatang baru, AMMN langsung tancap gas merangsek ke jajaran emiten big caps. Bercokol di posisi keenam dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 321,46 triliun.
BRPT juga ikut ngebut. Hingga Rabu (30/8), market cap BRPT mencapai Rp 105,91 triliun. Padahal, hingga akhir Juli 2023, nilai kapitalisasi pasar BRPT masih berkisar di angka Rp 72,65 triliun.
Berbeda nasib dengan UNTR yang saat ini market cap-nya menciut ke level Rp 98,29 triliun. Sebagai perbandingan, hingga Juli market cap UNTR masih bernilai Rp 102,67 triliun.
Analis Ekuator Swarna Sekuritas, David Sutyanto melihat perubahan posisi market cap di bursa mencerminkan adanya dinamika pasar. Kondisi ini ikut menggambarkan rotasi sektor yang sedang terjadi secara industri maupun pergeseran saham pilihan dari pelaku pasar.
Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan menyoroti saham UNTR. Fluktuasi harga maupun market cap UNTR tak lepas dari segmen bisnis batubara yang melandai. Ketika sentimen negatif lebih dominan menerpa, maka harga sahamnya akan ikut terseret.
Berbeda dengan BRPT yang dalam sebulan terakhir sahamnya melejit hingga 41,14%. Pergerakan harga saham BRPT terpapar sentimen positif, termasuk dari prospek penyelenggaraan bursa karbon.
Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menimpali, market cap tidak menjadi parameter utama. Dalam menentukan keputusan berinvestasi, investor juga menimbang fundamental, prospek kinerja dan valuasi sahamnya.
KINERJA INDEKS ACUAN : DAYA PIKAT EMITEN BUMN
Indeks yang menaungi saham emiten-emiten pelat merah pilihan, IDX BUMN20 mencetak kinerja lebih unggul dari indeks bergengsi LQ45 dan IDX30. Namun, laju saham emiten-emiten pelat merah dibayangi sejumah sentimen negatif.
Dari total 20 konstituen, sebanyak 8 saham membukukan penguatan sementara 12 saham lainnya terkoreksi. Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan bahwa penguatan itu tidak terlepas dari besarnya komposisi sektor perbankan di dalam indeks BUMN 20. Perinciannya, sektor perbankan menyumbang porsi sebesar 51,9%, disusul telekomunikasi 18,1%, infrastruktur 11,4%, pertambangan 10,9%, minyak dan gas 5,7%, sementara konstruksi hanya menyumbang 1,99%. Keperkasaan IDXBUMN20 setidaknya ditopang oleh tiga saham yaitu BMRI, BBRI, dan JSMR yang memiliki porsi 33,05% terhadap indeks. Sepanjang tahun berjalan, ketiga saham itu masing-masing meningkat 19,9%; 13,4%; dan 34,56%. Berlandaskan komposisi tersebut, Alfred berpendapat bahwa performa IDXBUMN20 ke depan masih akan mengandalkan sektor perbankan, infrastruktur, dan sektor telekomunikasi.
Alfred menilai saham-saham perbankan seperti BBNI dan BBTN, yang sepanjang tahun berjalan masih terkoreksi, bisa menjadi pilihan bagi investor. Begitu pun dengan saham PGAS yang melemah 17% YtD dan saham TLKM terkoreksi 0,8% YtD.
Dia merekomendasikan saham BBNI dengan target harga Rp10.400, diikuti saham BBTN sebesar Rp1.600 per lembar, dan saham PGAS senilai Rp1.700. Sementar itu, saham TLKM memiliki target harga Rp4.150 dan ANTM sebesar Rp2.220. Dihubungi terpisah, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina memperkirakan pelemahan harga komoditas berimbas terhadap penurunan laba BUMN di bidang pertambangan. Akibatnya, aliran dividen dari BUMN berisiko menyusut pada 2024.
Di antara emiten dari keluarga BUMN, Martha menyatakan ada beberapa yang menarik untuk dicermati, yakni saham BBRI, BMRI, JSMR, dan SMGR.CGS-CIMB Sekuritas mempertahankan rekomendasinya dan menaikkan target harga JSMR dari sebelumnya Rp4.550 menjadi Rp4.700.Terkait dengan prospek dividen BUMN, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Mahendra Sinulingga menyatakan target dividen BUMN 2024 jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi pada 2022. Berdasarkan data Kementerian BUMN, setoran dividen pada 2022 mencapai Rp39,7 triliun.
Berkah Hengkangnya Dana Asing dari China
Para pemodal asing mulai mengurangi eksposur di saham-saham China. Keluarnya dana asing dari negeri Tirai Bambu ini kemungkinan bisa menguntungkan sejumlah negara di pasar ASEAN, termasuk Indonesia. Krisis properti di China dinilai berpotensi menular ke ekonomi negara itu. Para pemodal asing seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs pun turut memangkas target indeks saham utama China.
Goldman Sachs misalnya, memangkas indeks saham China sebesar 4%. Goldman juga mengurangi eksposur saham teknologi informasi.
Maximilianus Nico Demus,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, krisis properti di China bisa menyeret dana investor asing kembali ke pasar saham Indonesia. CEO CTA Saham Andri Zakarias turut mengamini, peluang
hot money
masuk ke pasar saham Indonesia masih terbuka. Namun dia memproyeksikan penguatan aliran dana asing masih akan terbatas. Memang, sejak awal tahun ini asing masih mencatatkan
net buy
di bursa saham Indonesia.
Secara valuasi pun, IHSG masih punya daya tarik bagi asing. Praska Putrantyo, CEO Edvisor Profina Visindo bilang, jika dibanding
emerging market
lain seperti India, Korea hingga Taiwan, valuasi pasar saham Indonesia berada di level rata-rata.
Dengan potensi aliran
capital inflow
ke pasar saham Indonesia, ada beberapa sektor yang diperkirakan menarik minat asing. Pengamat Pasar Modal Hans Kwee menilai, sektor energi berpotensi bangkit karena cuaca ekstrim akan mendorong permintaan.
Di sektor barang konsumsi primer, saham jagoan Hans jatuh pada MYOR, INDF, ICBP. Sedangkan Praska menilai sektor bahan baku, batubara, transportasi dan logistik serta konsumer menarik bagi investor asing. Hal ini juga terlihat dari daftar saham yang jadi sasaran beli asing sepekan ke belakang. Tapi, Praska mengingatkan untuk selalu mencermati valuasi harga saham.
Membidik Pasar Generasi Muda
Semakin banyak perusahaan yang fokus pada pasar generasi muda, terutama generasi Z dan milenial. Maklum, jumlah generasi tersebut sekitar 60% dari penduduk Indonesia. Salah satu perusahaan yang menyasar kalangan muda adalah PT Multi Garam Utama Tbk.
Emiten berkode saham FOLK ini perusahaan yang bergerak di beberapa sektor. Menurut Direktur Utama FOLK, Danny Sutradewa, perusahaan yang berdiri pada tahun 2019 tersebut mempunyai dua bidang usaha utama.
Melalui beberapa entitas anaknya, FOLK Group memiliki tiga pilar utama. Ini menjadi fondasi inti dari ekosistem FOLK Group.
Pilar
pertama
adalah
new media commerce.
Ini adalah sebuah bisnis kekinian yakni pembuat konten digital. Salah satunya lewat media sosial. Pilar
kedua, yakni
omni-channel retail brands. Yakni mulai dari produk label Amazara, SYCA dan Dr Soap.
Cara ini dilakukan mengingat sejak 6 tahun -7 tahun lalu, terjadi perubahan perilaku generasi muda saat mengkonsumsi media.
Di sisi lain, produk ritel di FOLK juga lahir karena perubahan perilaku generasi muda tersebut. Generasi ini mulai mau memakai produk lokal dibandingkan merek luar negeri.
Melihat potensi tersebut, FOLK ingin mengembangkan pasar ini. Salah satu langkahnya adalah dengan masuk bursa melalui penjualan saham perdana ke publik atau
initial public offering
(IPO).
Maka, menguatkan kinerja perusahaan dan juga harga saham, FOLK memiliki tiga strategi utama.
Pertama, menumbuhkan entitas anak perusahaan FOLK. Menurut Danny, perusahaan ritel biasanya membutuhkan
working capital
yang cukup besar.
Kedua, merger dan akuisisi di perusahaan induk. Jika ada perusahaan yang bagus dan bisa bersinergi, FOLK tidak ragu bakal melakukan akusisi sebagian sahamnya.
Ketiga, mendorong anak perusahan untuk bertumbuh dan juga menjadi perusahaan terbuka laiknya FOLK.
Strategi tersebut perlu FOLK lakoni. Sebab, kata Danny, perilaku generasi Z termasuk generasi milenial kerap berubah-berubah.
Lolos Pailit, Waskita Fokus Selesaikan Proyek Berjalan
PT Waskita Karya Tbk (WSKT) telah lolos dari gugatan pailit melalui sidang Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (24/8).
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Majelis Hakim Ketua telah menolak permohonan PKPU yang diajukan oleh salah satu pemegang obligasi WSKT (obligor) yakni Donny Hartanto, melalui kuasa hukumnya, Ferdie Soethiono.
Direktur Utama WSKT, Mursyid mengungkapkan, Bendungan Bener ini akan melayani kebutuhan irigasi untuk lahan pertanian seluas 15.519 hektare (ha), suplai air untuk kebutuhan rumah tangga, dan pemenuhan kebutuhan industri.
"Bendungan ini diharapkan bermanfaat sebagai kawasan pengembangan pariwisata, disamping juga sebagai konservasi air serta mencegah bencana alam seperti banjir dan longsor," kata Mursyid, Kamis (24/8).
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menilai, tantangan bagi WSKT saat ini yakni bagaimana terus meningkatkan performa
cashflow
yang selama ini masih negatif. Sentimen positif bagi mereka saat ini masih dengan adanya kebijakan pemerintah terkait infrastruktur.
Order Jasa Tambang Masih Terbentang
Para emiten jasa tambang, baik pengangkutan maupun kontraktor tambang, terus memacu kinerja operasional. Tergambar dari kenaikan kinerja operasional per Juli 2023.
PT RMK Energy Tbk (RMKE) misalnya, sudah memuat 887.500 metrik ton (MT) batubara ke tongkang pada bulan Juli 2023. Realisasi ini melonjak 48,1% secara bulanan.
Direktur Operasional RMKE, William Saputra mencatat, kinerja operasional RMKE pada segmen jasa batubara tumbuh jauh lebih besar dibandingkan rata-rata kinerja operasional bulanan pada semester I ini.
Hingga Juli 2023, RMKE telah memuat 664 tongkang berkapasitas 5,2 juta metrik ton batubara, naik 31,4% secara year on year (yoy). Di periode itu, emiten yang berbasis di Sumatera Selatan ini juga sudah membongkar 2.867 kereta dengan muatan 7,5 juta metrik ton, naik 20,5% yoy.
Kinerja operasional PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) juga meningkat sepanjang semester pertama 2023. Direktur Dana Brata Luhur, Hendy Narindra Dewantoro melaporkan, volume angkut TEBE mencapai 6,33 juta metrik ton. Jumlah ini naik 15,6% dari realisasi volume angkut di separuh pertama 2022 sebesar 5,47 juta metrik ton.
Kinerja anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR) yang bergerak di segmen kontraktor tambang, yakni PT Pamapersada Nusantara (Pama) juga tumbuh subur. Sepanjang tujuh bulan pertama 2023, Pama mengeruk 71,1 juta ton batubara. Jumlah ini naik 17,13% dari volume produksi di periode serupa pada tahun lalu.
Di periode ini, Pama juga sudah memproduksi 627,4 juta bank cubic meter (bcm) lapisan overburden (OB) removal. Realisasi ini naik 20,8% dari volume produksi overburden di periode yang sama tahun lalu yang hanya 519,2 juta bcm.
Dari sisi kinerja keuangan, tahun ini TEBE menargetkan pendapatan di angka Rp 660 miliar dengan target laba bersih 40% dari pendapatan. TEBE memang belum merilis kinerja semester pertama 2023. Namun, manajemen memproyeksi pendapatan di kuartal kedua 2023 mencapai Rp 309 miliar, meningkat 12% secara tahunan.
Sedangkan Kepala Riset Ciptadana Sekuritas Asia Arief Budiman menyematkan rating beli untuk saham UNTR dengan target harga Rp 37.000. Arief merevisi naik proyeksi laba bersih UNTR tahun ini dan tahun depan masing-masing sebesar 15,5% dan 21,4%.
Trafik Naik, Dompet JSMR Semakin Tebal
Bisnis jalan tol masih menjanjikan. Itu yang bisa disimpulkan dari kinerja PT Jasa Marga Tbk di semester I tahun ini. Emiten berkode saham JSMR itu meraih laba bersih Rp 1,15 triliun, naik 56,3% dibandingkan semester I 2022.
Hasil itu tidak terlepas dari pendapatan JSMR yang mencapai Rp 8,9 triliun, atau meningkat 18,3% jika dibandingkan pada periode serupa tahun lalu yakni Rp 7,5 triliun.
Pendapatan tol mendominasi pendapatan JSMR yang mencatatkan hasil Rp 6,13 triliun. Angka itu naik tipis 1% dari semester I 2022 yang sebesar Rp 6,07 triliun.
JSMR juga mengantongi pendapatan usaha lain di separuh pertama 2023 sebesar Rp 848,9 miliar. Lalu, pendapatan konstruksi senilai Rp 1,94 triliun.
Corporate Communication and Community Development Group Head
Jasa Marga, Lisye Octaviana menjelaskan, pendapatan JSMR tidak terlepas dari peningkatan lalu lintas harian rata-rata (LHR) di jalan tol yang dikelola Jasa Marga Group.
Sementara itu, total konsesi jalan tol yang dimiliki oleh JSMR di semester I 2023 sepanjang 1.736 km. Ini sudah termasuk penambahan konsesi terbaru yang diperoleh perusahaan pelat merah ini yakni jalan tol akses Patimban sepanjang 37,05 km yang dikelola oleh PT Jasamarga Akses Patimban (JAP).
Tertopang Proyek Rumah Tapak Baru
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) masih konsisten mencetak pertumbuhan kinerja hingga semester I 2023. Ke depan, bisnis emiten properti ini bakal ditopang serangkaian peluncuran proyek rumah tapak (landed houses).
Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei menjelaskan,BSDE yang sukses mencetak pertumbuhan pendapatan pra penjualan alias marketing sales di semester pertama 2023 sebesar 3% secara tahunan menjadi Rp 4,79 triliun. Pencapaian itu sudah melampaui sekitar 54% dari target marketing sales sebesar Rp 8,8 triliun di 2023. Moncernya marketing sales BSDE didorong oleh segmen pendapatan berulang di tengah peluncuran proyek, terutama pada kuartal kedua 2023. Pendapatan berulang dari produk Hiera dan Layton pada kuartal II 2023 diperkirakan berkontribusi sebesar 51% terhadap marketing sales di segmen residensial pada periode tersebut.
Analis Indopremier Sekuritas, Michelle Nugroho dalam riset 20 Juli 2023, menyoroti. ke depan, katalis pendorong bagi marketing sales BSDE akan dibantu peluncuran proyek-proyek baru terutama produk rumah tapak.
Analis UOB Kay Hian Sekuritas, Limartha Adhiputra mengatakan, saham-saham properti termasuk BSDE diperkirakan akan mengungguli IHSG di separuh kedua tahun ini karena marketing sales dan pertumbuhan laba dapat membaik. Hal itu seiring suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang berangsur meningkat.
Limartha melihat, potensi pertumbuhan laba bersih BSDE sebesar 6,8% secara tahunan di 2023. Dengan demikian, BSDE bisa mencapai target marketing sales setahun penuh hingga akhir 2023.
Analis Ciptadana Sekuritas, Yasmin Suolisa memproyeksi pendapatan BSDE bisa mencapai Rp 11,06 triliun hingga akhir tahun ini karena penjualan properti diperkirakan akan meningkat di kuartal III dan IV seiring lebih banyak serah terima proyek. Namun, Ciptadana memangkas proyeksi laba bersih BSDE menjadi Rp 2,45 triliun karena biaya non operasional yang lebih tinggi.
Bersiap Menadah Rezeki dari Bursa Karbon
Indonesia bakal segera memiliki bursa karbon, seiring terbitnya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 14/2023 tentang Bursa Karbon.
Penyelenggara bursa karbon tidak cuma satu. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik menyatakan, BEI segera mendaftar sebagai salah satunya.
Calon pemain lain, ICX, anak usaha Indonesia Commodity and Derivatives Exchange. Bahkan, ICX sudah memfasilitasi perdagangan perdana salah satu produk bursa karbon, yakni Renewable Energy Certificate (REC).
Sejumlah emiten diperkirakan bakal menuai berkah dari kehadiran bursa karbon, salah satunya PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). Manager Corporate Communication & Stakeholder Management PGEO, Muhammad Taufik bilang, PGEO siap berkontribusi di bursa karbon.
Analis Saham Rakyat by Samuel Sekuritas, Billy Halomoan membagi emiten yang bisa menuai berkah dari bursa karbon.
Pertama, emiten yang fokus ke ekonomi hijau, seperti PGEO, PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) dan PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN).
Kedua, emiten yang mengejar efisiensi energi dan reduksi emisi, serta diversifikasi ke energi hijau. Emiten di kelompok ini adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO).
Emiten Ritel dan Konsumsi Masih Prospektif Kendati El Nino Datang
El Nino atau musim kemarau panjang telah melanda wilayah Indonesia. Pada akhir Juli 2023, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat 63% wilayah di Indonesia sudah terdampak El Nino.
Berdasarkan catatan BMKG, El Nino kali ini akan lebih ekstrem dibandingkan dengan sebelumnya. Artinya wilayah yang terdampak kekeringan akan lebih kering dibandingkan El Nino yang melanda Indonesia pada tahun 2019. Melansir catatan KONTAN, daerah yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrem di antaranya adalah sebagian besar Pulau Sumatera dan Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
Melihat kondisi tersebut,
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian memproyeksikan, dampak terjadinya El Nino tersebut akan mengerek sejumlah harga komoditas pangan.
Untungnya, untuk harga komoditas pangan impor seperti gandum dan kedelai, ia nilai, belum menunjukkan kenaikan yang signifikan. Alhasil, efek ke ongkos emiten ritel dan konsumen masih minim.
Research Analyst
Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menyatakan, tahun politik bisa meminimalisir efek El Nino. Ia juga melihat daya beli masyarakat masih tinggi.









