;
Tags

Saham

( 1717 )

MIND ID Harus Menjadi Pengendali Vale Indonesia

KT1 15 Aug 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID- PT Mineral Industri Indonesia atau MIND ID, holding BUMN pertambangan, harus jadi pengendali PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Alasannya, pemerintah ingin memastikan  potensi nilai tambah (add value) industri nikel terjadi di Indonesia. "Jadi, Insya Allah, MIND ID akan jadi pengendali Vale Indonesia. Mohon doa restunya. Belum tentu saham 14% saham Vale akan diakuisisi MIND ID, karena sejauh ini masih dalam proses negosiasi," Ujar Direktur Utama MIND ID Hendi Prio Santoso di jakarta, Senin (14/8/2023). Saat ini, Vale Canada Limited Metals (VCL), unit usaha Vale Base Metals (VBM), menjadi pemegang saham terbesar Vale Indonesia dengan kepemilikan 43,8%, lalu Sumitomo Metal Mining 15%, sedangkan MIND ID 20%, dan publik 20,3%. Vale harus mendivestasi saham  sebagai salah satu syarat untuk mengubah kontrak karya (KK) yang berakhir pada 28 Desember 2025 menjadi izin usaha pertambangan  khusus (IUPK). Jumlah saham yang dilepas minimal 11%. Namun, sejumlah kalangan meminta  Vale melepas saham diatas jumlah itu agar MIND ID menjadi pengendali. (Yetede)

Mobilitas Dorong Emiten Jalan Tol

HR1 14 Aug 2023 Kontan

Kinerja emiten jalan tol diprediksi bisa lebih baik tahun ini ketimbang tahun sebelumnya. Aktivitas ekonomi yang mulai pulih menjadi salah satu faktor pendorong kinerja emiten ini. Hal ini tergambar dari kinerja salah satu emiten jalan tol yakni PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. Perusahaan dengan kode saham CMNP ini menjadi emiten satu-satunya yang merilis kinerja semester I-2023. Hasilnya terbilang positif. Di periode tersebut, CMNP mencatatkan pendapatan Rp 3,15 triliun di semester I 2023. Hasil tersebut melonjak 82,14% ketimbang pendapatan di periode serupa tahun lalu yang hanya Rp 1,73 triliun. Imbasnya, laba yang jadi jatah ke pemilik CMNP menanjak 5,95% menjadi Rp 546,2 miliar. Melihat hasil tersebut, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta meramal kinerja emiten jalan tol di semester I bisa positif. Faktor lain yang tidak kalah penting, menurut Analis Henan Putihrai Sekuritas, Jono Syafei adalah beberapa ruas jalan tol tarifnya naik pada tahun ini. Maka proyeksinya, di separuh kedua tahun ini, volume kendaraan yang melewati jalan tol justru bisa semakin melonjak. Selain faktor ekonomi, ada sentimen lain yang krusial. Technical Analyst Kanaka Hita Solvera, Andhika Cipta Labora sependapat. Apalagi inflasi domestik mulai turun. Ini bisa membuat Bank Indonesia (BI) berpeluang menurunkan suku bunga.

Emiten Syariah Belum Merekah

HR1 14 Aug 2023 Kontan

Indeks saham berkategori syariah masih belum merekah sepanjang tahun berjalan ini. Tampak dari lima indeks saham syariah yang kompak parkir di zona merah hingga perdagangan akhir pekan lalu. Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) secara year to date (ytd) melemah 4,34%. IDX Sharia Growth ambles lebih dalam dengan minus 7,19%, IDX-MES BUMN 17 terjun 6,30%, Jakarta Islamic Index (JII) merosot 5,90%, dan JII70 turun 3,97%. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih menyoroti pelemahan indeks syariah terseret oleh rotasi sektor, penurunan saham berbobot jumbo, serta merosotnya kinerja sejumlah emiten. Chartered Financial Analyst Head of Research & Fund Manager Syailendra Capital, Rizki Jauhari mengamini saham-saham dari sektor energi dan barang baku menjadi pemberat indeks syariah. Hal ini menjadi katalis signifikan yang menahan laju performa indeks saham syariah di tahun 2023. Rizki mengamati, saat ini jumlah emiten berkategori syariah yang punya kapitalisasi pasar jumbo dan likuiditas tinggi masih relatif minim. Adapun, jumlah emiten yang sesuai dengan prinsip syariah akan tumbuh selaras dengan pertumbuhan ekonomi. Semakin maraknya saham-saham baru hasil Initial Public Offering (IPO) juga menjadi katalis penting pendongkrak pasar saham syariah. Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik optimistis, pasar saham syariah akan terus tumbuh. Adapun, OJK menargetkan tambahan 10.000 investor syariah baru sepanjang 2023. Artinya, dalam setengah tahun sudah terpenuhi 76,9% dari target. "Prospeknya masih sangat besar," ungkap Jeffrey.

Emiten Teknologi Masih Belum Bisa Unjuk Gigi

HR1 14 Aug 2023 Kontan (H)

Perusahaan teknologi global sudah kembali naik daun berkat perkembangan teknologi. Katalisnya, mereka menggarap berbagai bisnis baru. Walhasil, saham-saham perusahaan teknologi global pun mencuat sepanjang tahun ini. Kinerja saham Apple Inc (AAPL) di bursa Nasdaq sepanjang tahun ini naik 15,56%. Begitu juga saham Microsoft Corp (MSFT) yang juga menandak 18,31% selama enam bulan terakhir. Sayang, kinerja baik korporasi global itu belum bisa menular ke saham-saham teknologi domestik. Saham-saham teknologi masih redup. Dikutip dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (13/8), IDX Sector Technology malah turun 13,84% secara year to date atau sejak awal tahun. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy menjelaskan, bisnis teknologi di Indonesia masih belum sepenuhnya sebagai perusahaan di bidang teknologi. Sebagian besar perusahaan teknologi yang melantai di bursa masih berbentuk perusahaan e-commerce. Supaya kinerja saham-saham teknologi di Tanah Air moncer, ia menyarankan emiten teknologi bisa mengurangi biaya untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Di sisi lain, perusahaan delivery express juga mengalami persaingan harga. Sementara, untuk ojek online, harga saat ini sudah relatif mahal. Perusahaan ojek online enggan bakar duit, maka sudah tidak ada lagi subsidi. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilian Nico Demus menyarankan ke perusahaan teknologi agar melakukan dua perubahan. Meski ia nilai kinerja IDX Sector Technology saat ini lebih baik dibandingkan dengan kinerja sektor serupa dalam dua tahun terakhir. Pertama, emiten teknologi harus mendorong adanya inovasi untuk mengembangkan ekosistem dan bisnis yang dimiliki saat ini. Kedua, menciptakan nilai tambah ke para pengguna. Tujuannya untuk bisa meningkatkan user engagement di aplikasi perusahaan teknologi yang bersangkutan.

Kinerja Solid, BRI Jadi Bank Terbesar di Indonesia versi Fortune Indonesia 100

KT1 14 Aug 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA-Kinerja terbaik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus diapresiasi oleh berbagai lembaga, baik nasional maupun internasional. Terbaru, Fortune kembali merilis deretan perusahaan besar di Indonesia bertajuk Fortune Indonesia 100. Peringkat tersebut berdasarkan empat hal, diantaranya adalah nilai pendapatan, laba, asset, dan ekuitas perusahaan pada 2022. Terkait hal ini, BRI menjadi perusahaan dari industri perbankan yang menduduki posisi tertinggi diantara bank lainnya, sedangkan dari seluruh industri BRI menempati peringkat 4. Sebagai bank terbesar di Indonesia, tercatat pendapatan BRI mencapai Rp 208,1 triliun pda tahun 2022. Selain pendapatan, data yang di release Fortune juga menampilkan laba BRI sepanjang 2022 sebesar Rp51,7 triliun, dengan aset mencapai Rp1.865 triliun, dan ekuitas mencapai Rp299,2 triliun. Dari sisi kerja harga saham, pada penutupan perdagangan  Jumat (11/08) BBRI telah berada di level Rp 5.650, atau telah meningkat 14,37% apabila dibandingkan dengan penutupan  harga tahun 2022 lalu. (Yetede)

MSCI Kocok Ulang Small Cap Index

KT3 12 Aug 2023 Kontan

Morgan Stanley Capital International (MSCI) melakukan penyesuaian atau rebalancing terhadap para penghuni indeksnya. Susunan anyar ini akan berlaku 1 September 2023. Dalam rebalancing minor ini, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) bergabung ke dalam MSCI Small Caps Index. Ketiganya menggeser posisi PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX), PT Temas Tbk (TMAS), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Masuknya AUTO tak lepas dari kinerja anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) itu. Laba bersihnya per Juni 2023 sebesar Rp 801,55 miliar, melesat 85,33 % dibandingkan periode sama tahun lalu.  (Yoga)


Harapan Emiten Kimia di Domestik

HR1 11 Aug 2023 Kontan

Emiten industri kimia mencetak kinerja yang bervariasi pada separuh pertama tahun ini. Harga komoditas yang melandai membawa sentimen berbeda pada emiten industri kimia. Tengok kinerja PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang bisa memperbaiki kinerja bottom line, meski top line mengalami koreksi. Pendapatan TPIA menyusut 19,54% secara tahunan alias year on year (yoy) menjadi US$ 1,07 miliar. Hanya saja, emiten petrokimia anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini mengais berkah dari penurunan harga minyak mentah. Sehingga secara bottom line, TPIA memangkas rugi bersih signifikan dari US$ 64,62 juta menjadi US$ 586.000 per semester I-2023. Direktur SDM & Urusan Korporat TPIA, Suryandi mengatakan ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi akan rentan membawa volatilitas yang berlanjut di sisa tahun ini. Dus, permintaan di pasar domestik masih menjadi penentu. Suryandi meyakini, permintaan domestik akan jadi penopang lantaran produk TPIA menyokong sektor industri lainnya seperti otomotif, mesin, elektronika, konstruksi dan aplikasi rumah tangga. Analis Ekuator Swarna Sekuritas, David Sutyanto memperkirakan level pertumbuhan kinerja emiten kimia masih akan terbatas. David mempertimbangkan kondisi makro ekonomi dan posisi industri kimia sebagai sektor bahan baku untuk mendukung industri lainnya. Research Analyst Erdikha Elit Sekuritas Ika Baby Fransiska menambahkan, kinerja ekspor industri kimia dasar memang sedang tertekan. Ika memprediksi pelemahan ini masih belum pulih pada semester II-2023 di tengah penurunan permintaan global.

TOWR Menggelar Ekspansi Fiber Optik

HR1 10 Aug 2023 Kontan

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mengambil peluang dari potensi bisnis serat optik yang tengah berkembang pesat. TOWR akan menggeber pembangunan fiber optik hingga 2024 mendatang. Wakil Direktur Utama Sarana Menara Nusantara Tbk, Adam Gifari mengatakan, saat ini industri telekomunikasi lebih membutuhkan fiber optik ketimbang menara. "Kami akan belanjakan modal sebesar Rp 3 triliun untuk fiber optik di 2023 sampai 2024," kata Adam, Rabu (9/8). Per Juni 2023, jaringan optik dari segmen fiber to the tower (FTTT) entitas Grup Djarum ini mencapai 172.593 kilometer (km). Nilai tersebut meningkat 80,9% secara tahunan atau year on year (yoy). Gencarnya pembangunan aset fiber optik itu sejalan dengan serapan belanja modal (capex) TOWR. Jika dicermati, alokasi capex untuk lini di luar menara semakin gemuk. Di sisi lain, kinerja TOWR masih tertekan. Sepanjang semester I-2023 laba bersih TOWR mencapai Rp 1,55 triliun, turun 7,8% yoy. Padahal pendapatan TOWR masih tumbuh 8,65% secara tahunan menjadi Rp 5,77 triliun. Equity Research Analyst Sucor Sekuritas, Christofer Kojongian memperkirakan, pendapatan TOWR dari segmen fiber optik akan tumbuh 30% dan pendapatan konektivitas naik 20% sepanjang 2023. Harapannya, kontribusi bisnis non-menara bisa mencapai 26% di tahun ini. Sucor Sekuritas menyematkan rekomendasi beli TOWR dengan target Rp 1.600 per saham.

Target Emiten Baru BEI Terlampaui

KT3 09 Aug 2023 Kompas

Empat emiten baru secara bersamaan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (8/8/2023). Dengan demikian, ada 59 emiten baru yang tercatat di BEI melalui penjualan saham perdana. Jumlah itu melampaui target 57 emiten baru untuk tahun ini. Direktur BEI I Gede Nyoman Yetna mengingatkan, harapan-harapan para investor harus diperhatikan emiten. (Yoga)

Empat Emiten Baru Penghuni Bursa

HR1 09 Aug 2023 Kontan

Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan empat emiten baru, Selasa (8/8). Mereka adalah PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), PT ITSEC Asia Tbk (CYBR), PT Paperocks Indonesia Tbk (PPRI), dan PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA). Pada debut perdananya, saham-saham baru ini bergerak bervariasi. Pada pembukaan awal perdagangan saham, keempat saham ini kompak menguat. Namun, di akhir perdagangan saham kemarin, hanya saham ERAL dan CYBR yang bertahan di zona hijau. Saham ERAL dibuka naik 9,23% ke level Rp 426 dari harga penawaran awal Rp 390 per saham. Kemudian, saham ERAL cenderung bergerak turun dan ditutup dengan kenaikan yang lebih tipis, sebesar 3,08%. Sedangkan saham CYBR melesat ke batas atas auto rejection (ARA) dan tetap ditutup dengan kenaikan 35% ke harga Rp 135 per saham. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, prospek keempat saham ini akan kembali ke prospek fundamental masing-masing. Keempat saham yang sudah melantai di BEI menjadikan total emiten baru di bursa pada tahun 2022 sudah mencapai capaian tahun lalu, yakni 59 emiten. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, pada pekan ini saja, ada tujuh perusahaan baru yang melantai di bursa.

Pilihan Editor