Saham
( 1722 )Laba Minuman Beralkohol Menebal
Penjualan dan laba mayoritas emiten minuman beralkohol semakin nikmat di semester I-2023. Prospek bisnis minuman keras pun ditaksir masih mentereng hingga tutup tahun ini.
Dari empat emiten minuman beralkohol di Bursa Efek Indonesia (BEI), semisal, hanya PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) yang kinerjanya menyusut. Penjualan DLTA merosot 5,98% secara tahunan atau
year on year
(yoy) menjadi Rp 361,50 miliar pada semester I-2023.
Laba bersih DLTA ikut menciut 9,58% yoy menjadi Rp 107,04 miliar per Juni 2023. Berbeda dari DLTA, kinerja PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI), PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk (BEER), dan PT Hatten Bali Tbk (WINE) kompak menanjak.
MLBI meraup penjualan Rp 1,50 triliun, melesat 13,63% yoy sekaligus mendongkrak laba bersih 16,10% menjadi Rp 457,73 miliar. Sedangkan BEER membukukan penjualan bersih Rp 25,37 miliar dalam enam bulan pertama 2023, tumbuh 10,30%.
Laba paling tinggi dicatatkan WINE, dengan lonjakan 341,88% yoy menjadi Rp 20,68 miliar hingga Juni 2023. Direktur dan Sekretaris Perusahaan WINE, Ketut Sumarwan mengatakan, pertumbuhan kinerja WINE tak lepas dari dorongan industri pariwisata yang pulih usai pandemi.
Research Analyst
Reliance Sekuritas, Ayu Dian mengatakan, bertumbuhnya industri pariwisata setelah pandemi dan banyaknya hari libur pada semester pertama turut mendorong mobilitas dan meningkatkan konsumsi masyarakat. Momentum ini berbarengan dengan penurunan tingkat inflasi dan daya beli masyarakat yang masih terjaga.
Analis Ekuator Swarna Sekuritas, David Sutyanto sepakat, sebagai barang konsumsi yang sifatnya tersier, prospek emiten minuman beralkohol masih positif selama daya beli masyarakat meningkat. Hanya saja, sebagai pilihan investasi, perlu kembali mencermati valuasi dan momentum teknikal tiap sahamnya.
Pasar Finansial Cermati Risiko Inflasi AS dan Tiongkok
NEW YORK,ID-Pasar saham dunia memulai aktivitas perdagangan pekan ini pada Senin (7/8/2023) dengan lesu. Setelah diakhir perdagangan pekan lalu laporan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) memicu reli di pasar obligasi, tantangan baru membentang pekan ini karena akan muncul laporan inflasi konsumen AS dan Tiongkok. Pasar mencermati keduanya, karena seperti dikatakan Dana Moneter Internasional (IMF) akhir bulan lalu, inflasi tetap menjadi momok bagi pasar saham. Indeks saham global MSCI melemah 0,2% dalam volume perdagangan yang tipis, setelah turun 2,6% pada minggu lalu. Sedangkan indeks saham Eropa Stoxx turun 0,3%, dipimpin penurunan saham-saham pertambanagn, bawang merah, dan minyak yang hanya dapat diimbangi sebagian oleh saham-saham produsen obat. Sementara itu di pasar AS, yang saat naskah ini disusun belum dibuka, kemungkinan menguat. Indeks futures untuk S&P menguat 0,2% Nasdaq naik o,4%. Dari sekitar 90%, perusahaan dalam indeks S$P 500 telah mengeluarkan laporan keuangan kuartal II, data Refinitiv I/B/E/S menunjukkan hasilnya 4% lebih baik dari perkiraan kalangan analis dan lebih dari 79% mengalahkan prediksi Wall Street. (Yetede)
Pasar Aspirasi Pertumbuhan Ekonomi RI, IHSG Menuju 7.600
JAKARTA,ID-Pelaku pasar mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2023 sebesar 5,17%, di atas konsensus analis sebesar 5% dan kuartal I sebesar 5,03%. Sejalan dengan itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) kini menuju fase bullish consolidation dan menuju level 7.600 akhir 2023. Kemarin, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 33,53 poin (0,49%), ke level 6.886,3 Senin (7/8/2023), ditopang pertumbuhan keluarnya data PDB terbaru. Indeks bergerak dalam rentang 6.852-6.904, dengan nilai transaksi Rp7,27 triliun. Penguatan IHSG didukung keniakan sejumlah sektor saham, seperti keuangan sebesar 0,8%, teknologi 0,64%, dan industri 0,53%. sebaliknya, pelemahan melanda saham sektor teknologi 0,71%, infrastruktur 0,38%, dan properti 0,07%. "Market mengapresiasi kinerja PDB Indonesia kuartal II-2023 yang diatas survei. Proyeksinya di 5% sedangkan hasilnya 5,17%, karena memang sangat ditopang peningkatan konsumsi domestik," ujar Senior Investment Information Mirea Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta kepada Investaor Daily, Senin (7/8/2023). (Yetede)
Emiten Konglomerasi Mulai Unjuk Gigi
Emiten saham milik para taipan dalam negeri masih menangguk laba besar. Berdasarkan laporan keuangan emiten sepanjang separuh pertama 2023, grup konglomerat yang memiliki bisnis sektor barang konsumsi baik primer atau non-primer menuai untung paling tebal.
Misalnya, kinerja Grup Salim yang punya bisnis utama sektor konsumer berhasil tumbuh subur. Contohnya, emiten duo Indofood mencetak pertumbuhan laba bersih dua kali lipat dibandingkan semester I tahun lalu. Sayang, kinerja Grup Salim masih tertekan oleh perusahaan dari sektor perkebunan yang kompak anjlok dua digit.
Senasib, kinerja Grup Astra juga mengalami tekanan dari sektor kelapa sawit. Maklum, harga komoditas crude palm oil (CPO) memang turun cukup dalam sepanjang semester I 2023 lalu. Untungnya, kinerja emiten Astra yang lain masih tumbuh bertumbuh. Salah satunya kinerja dari bisnis otomotif.
Sedangkan kinerja Grup Djarum masih disokong oleh Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang berhasil mencetak laba bersih Rp 24,19 triliun atau naik 34,02% secara tahunan. Sayangnya, lini bisnis Grup Djarum lainnya masih tertekan, bahkan merugi.
Praska Putrantyo, CEO Edvisor Profina Visindo mengatakan, kinerja emiten konglomerasi itu sangat didominasi oleh isu sektoral. Hal ini sejalan dengan fase pemulihan ekonomi.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, hasil kinerja para grup konglomerasi ini menunjukkan kegiatan ekonomi belum sepenuhnya pulih.
Dari berbagai grup konglomerasi yang ada di bursa, pilihan Nico jatuh pada Grup Salim dan Grup Djarum, Untuk Grup Salim, saham pilihan dia pada INDF dan ICBP, sementara di Grup Djarum ada di BBCA.
Di samping itu, Grup Salim juga bisa dicermati karena bermain di sektor konsumer primer sehingga sahamnya tergolong defensif. Dari grup ini saham pilihan Praska jatuh pada INDF. Praska juga menilai, saham BBCA dan TOWR masih menarik dicermati.
PDB Masih Solid, IHSG Berpeluang Bangkit
JAKARTA,ID-Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bangkit (rebound) pekan ini, ditopang oleh data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2023 yang diprediksi masih tumbuh solid. Pekan lalu, indeks berpangkas 0,69% ke level 6.852. Sementara itu, pekan ini, indeks ditaksir bergerak di level support 6.833-6.711 dan resistence 6.925-6.966. Selain data PDB Indonesia, pergerakan indeks akan dipengaruhi situasi pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang masih tetap ketat akibat kenaikan upah dan penurunan tingkat pengangguran. Direktur Ekuator Swarna Capital Hans Kwee menegaskan, para pelaku pasar memprediksi The Fed mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada pertemuan September mendatang. Adapun langkah Fitch Ratings yang menurunkan peringkat utang AS diyakini hanya berdampak jangka pendek terhadap pasar keuangan global dan Indonesia. "Inflasi Indonesia yang diprediksi melandai akan mendorong BI tetap mempertahankan kebijakan suku bunga sampai akhir tahun," kata Hans kepada Investor Daily, Minggu (6/8/2023). (Yetede)
PROSPEK SEKTORAL : RESEP EMITEN KESEHATAN JAGA STAMINA
Mayoritas emiten sektor kesehatan mengantongi tekanan profitabilitas kendati pendapatannya mampu tumbuh positif pada semester I/2023. Di tengah sentimen itu, para emiten mengatur ulang strategi untuk menjaga performa hingga akhir tahun ini.nBerdasarkan data yang dihimpun Bisnis, 12 dari 18 emiten kesehatan mampu membukukan pertumbuhan pendapatan sepanjang Januari—Juni 2023. Pendapatan dua emiten rumah sakit, PT Sejahteraraja Anugerahjaya Tbk. (SRAJ) dan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk. (SAME) kompak naik lebih dari 20% secara tahunan.nPendapatan SRAJ tercatat naik 24,94% year-on-year (YoY) menjadi Rp1,12 triliun, sedangkan SAME meraih pertumbuhan pendapatan 21,13% secara tahunan menjadi Rp772,71 miliar pada paruh pertama tahun ini.nKontras, pendapatan PT Indofarma Tbk. (INAF) merosot paling dalam dengan koreksi 36,42% YoY dari Rp574,05 miliar pada semester I/2022 menjadi Rp364,96 miliar dalam 6 bulan pertama 2023. nSejalan dengan raihan top line itu, emiten-emiten kesehatan mendulang profitabilitas yang bervariasi. Tiga emiten yang mampu mempertebal laba bersih ialah PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) melesat 139,36% YoY menjadi Rp503,37 miliar, PT Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC) meningkat 82,87% YoY menjadi Rp692,84 miliar, dan PT Kedoya Adyaraya Tbk. (RSGK) naik 64,93% YoY menjadi Rp14,25 miliar. (Lihat infografis)nMeski melandai, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) masih menjadi emiten kesehatan yang mendulang laba paling tebal. Laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas KLBF pada semester I/2023 terkontraksi 6,59% dari Rp1,63 triliun pada paruh pertama 2022 menjadi Rp1,52 triliun. Profitabilitas itu dikantongi dari penjualan neto yang tumbuh 9,4% YoY dari Rp13,87 triliun menjadi Rp15,17 triliun. nKartika Setiabudy, Chief Financial Officer Kalbe Farma, memaparkan kontribusi penjualan bersih dari divisi obat resep sebesar Rp3,87 triliun, divisi nutrisi Rp3,93 triliun, divisi distribusi dan logistik Rp5,31 triliun, divisi produk kesehatan Rp2,05 triliun.
Terpisah, Presiden Direktur Siloam Benny Haryanto mengatakan SILO akan terus mendorong efisiensi dan profitabilitas di seluruh cabang rumah sakit Siloam. Emiten Grup Lippo itu, lanjutnya, juga berkomitmen untuk membangun 1—2 rumah sakit baru per tahunnya dengan fokus pada pasar premium.nSementara itu, Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty mengatakan capaian kinerja semester I/2023 menjadi bukti bahwa perseroan mampu menghasilkan kinerja yang positif meski status pandemi Covid-19 telah berakhir di Indonesia.
Emiten Rokok Belum Bebas dari Batuk-Batuk
Kinerja emiten rokok semakin mengepul. Terlihat dari laporan keuangan emiten rokok yang menjadi salah satu penguasa pasar domestik.
Kinerja PT Gudang Garam Tbk misalnya. Laba bersih emiten dengan kode GGRM ini melesat dua kali lipat lebih menjadi Rp 3,28 triliun di semester I-2023. Itu adalah cuan yang diatribusikan ke pemilik GGRM.
Padahal di semester I-2022, pabrikan rokok berbasis di Kediri, Jawa Timur ini cuma mengantongi laba bersih sebesar Rp 956,14 miliar saja.
Dari sisi pendapatan GGRM di separuh pertama 2023 ini justru turun tipis 9,4% dibandingkan periode sebelumnya menjadi Rp 55,85 triliun.
Sedangkan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mengalami lonjakan penjualan di semester I-2023 sebesar 4,95%. Yakni dari sebelumnya Rp 53,5 triliun menjadi Rp 56 triliun.
Head of Research
Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan melihat emiten rokok masih diuntungkan dari pemulihan konsumsi masyarakat Indonesia di semester I-2023 ini. Terlihat dari data indeks keyakinan konsumen Indonesia yang berada di rata-rata 125 di semester I-2023.
Selain itu, menurut dia, faktor pendorong lain adalah upaya inovasi produk dari emiten rokok. Langkah tersebut perlu dilakukan para produsen rokok dalam negeri untuk meredam dampak masifnya kampanye dengan penempelan label peduli kesehatan di kemasan rokok.
Namun tantangan dari emiten rokok jelas tidak akan berhenti. Yang harus mendapat perhatian adalah kecenderungan kenaikan cukai rokok dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal ini membuat produsen rokok harus mengerek harga jual untuk menjaga margin keuntungan.
Kondisi tersebut menurut Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani sempat membuat pergerakan harga saham GGRM secara
year to date
(ytd) mencatat
return
55,14% pada penutupan perdagangan 31 Juli 2023 yang lalu.
Pesta Laba Besar Emiten Saham Indeks Kompas 100
Mayoritas emiten saham penghuni indeks Kompas 100 sudah merilis laporan kinerja semester I-2023. Dari hasil kinerja emiten Kompas 100, tercatat sekitar 30 emiten berhasil menorehkan hasil berkilau. Mereka bahkan berpesta laba besar karena sukses menorehkan kenaikan laba
triple digit.
Lonjakan paling kencang ditorehkan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Meski pendapatan tertekan, laba bersih produsen rokok berlabel Gudang Garam ini mencapai Rp 3,28 triliun di semester I-2023. Nilai ini melesat 243,9% secara tahunan atau
year on year
(yoy) dari Rp 956,14 miliar di semester I-2022.
Kenaikan laba hingga
triple digit
juga ditorehkan oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang berada di peringkat kedua. Laba emiten saham milik taipan Prajogo Pangestu itu melesat 243,40% menjadi US$ 30,37 juta di paruh pertama tahun ini.
Tak mau ketinggalan, emiten properti Grup Sinarmas, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga unjuk gigi dengan mencetak laba senilai Rp 1,2 triliun atau melesat 159,02% yoy dari Rp 463,83 triliun.
Terlepas dari faktor pemulihan ekonomi, Maximilianus Nico Demus,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut pencapaian para emiten properti juga ditopang upaya pengembang untuk menggaet pembeli.
Emiten bank penghuni indeks ini juga masih bertumbuh. Salah satunya adalah Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 55,18 triliun atau bertumbuh 22,18% secara tahunan.
Senior Research Analyst
Reliance Sekuritas, Lukman Hakim menuturkan, sektor bank masih berpotensi untuk bertumbuh. Meski lambat, tetapi masih ada permintaan kredit di masyarakat.
Secara pergerakan indeks, Kompas100 masih lebih unggul dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Per Kamis (3/8), indeks Kompas100 sudah naik hingga 1,96% sementara IHSG baru meningkat 0,69%.
Laba Lima Emiten Semen Melesat 41% Saham Menggeliat
JAKARTA,ID-Laba bersih lima emiten semen melesat 41% menjadi Rp 2,05 triliun semester I-2023, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 1,45 triliun. Seiring dengan itu, saham semen menggeliat pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis (3/8/2023). Kelima emiten semen itu adalah PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Indocement/Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT), PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), dan PT Semen Baturaja Tbk (SMBR). Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2023, laba bersih Semen Indonesia tumbuh 3% menjadi Rp866 miliar dari Rp 840 miliar semester I tahun lalu. Sementara itu, laba bersih Indocement meroket 139% menjadi Rp 698 miliar dari Rp 291 miliar. Lompatan laba bersih juga melanda Cemindo, yakni dari Rp50,07 miliar menjadi Rp223,24 miliar. Begitu juga dengan laba bersih Semen Baturaja yang naik dari Rp16,25 miliar menjadi Rp16,62 miliar. Adapun laba bersih SBI turun tipis dari Rp258,27 miliar menjadi Rp254 miliar. Sementara itu, kemarin, saham SMGR naik 5,8% ke level Rp7.225 INTP 4,9% menjadi Rp 935, SMCB 0,6% ke level Rp 1.630, dan SMBR 3,28% menjadi Rp378. (Yetede)
Pemulihan Ekonomi Topang Kinerja Ritel
Meski ekonomi bergulir, emiten ritel membukukan kinerja bervariasi sepanjang semester I-2023.
Misal PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mengalami penurunan laba bersih. Keuntungan LPPF merosot 25,53%
year on year
(YoY) menjadi Rp 683,87 miliar. Hasil ini terjadi ketika pendapatan LPPF masih bisa tumbuh 2,39% menjadi Rp 3,85 triliun.
Begitu juga PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Pendapatan MAPI menanjak 27,37% secara tahunan (yoy) ke posisi Rp 15,59 triliun. Tapi laba bersihnya terpangkas 5,45% menjadi Rp 1,04 triliun.
Serupa dengan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Laba bersih ERAA melorot 9,62% menjadi Rp 458,66 miliar ketika penjualan neto melonjak 23,50% ke level
Rp 28,90 triliun.
Nasib lebih baik dialami Grup Alfamart & Alfamidi, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI). Kinerja mereka tumbuh.
Analis Panin Sekuritas, Andhika Audrey menilai, secara umum kinerja emiten ritel setengah tahun ini sesuai dengan ekspektasi.
Sementara itu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menjagokan saham ACES dan MAPI dengan strategi
buy on support.









