;
Tags

Saham

( 1717 )

Emiten Rokok Belum Bebas dari Batuk-Batuk

HR1 04 Aug 2023 Kontan

Kinerja emiten rokok semakin mengepul. Terlihat dari laporan keuangan emiten rokok yang menjadi salah satu penguasa pasar domestik. Kinerja PT Gudang Garam Tbk misalnya. Laba bersih emiten dengan kode GGRM ini melesat dua kali lipat lebih menjadi Rp 3,28 triliun di semester I-2023. Itu adalah cuan yang diatribusikan ke pemilik GGRM. Padahal di semester I-2022, pabrikan rokok berbasis di Kediri, Jawa Timur ini cuma mengantongi laba bersih sebesar Rp 956,14 miliar saja. Dari sisi pendapatan GGRM di separuh pertama 2023 ini justru turun tipis 9,4% dibandingkan periode sebelumnya menjadi Rp 55,85 triliun. Sedangkan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mengalami lonjakan penjualan di semester I-2023 sebesar 4,95%. Yakni dari sebelumnya Rp 53,5 triliun menjadi Rp 56 triliun. Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan melihat emiten rokok masih diuntungkan dari pemulihan konsumsi masyarakat Indonesia di semester I-2023 ini. Terlihat dari data indeks keyakinan konsumen Indonesia yang berada di rata-rata 125 di semester I-2023. Selain itu, menurut dia, faktor pendorong lain adalah upaya inovasi produk dari emiten rokok. Langkah tersebut perlu dilakukan para produsen rokok dalam negeri untuk meredam dampak masifnya kampanye dengan penempelan label peduli kesehatan di kemasan rokok. Namun tantangan dari emiten rokok jelas tidak akan berhenti. Yang harus mendapat perhatian adalah kecenderungan kenaikan cukai rokok dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal ini membuat produsen rokok harus mengerek harga jual untuk menjaga margin keuntungan. Kondisi tersebut menurut Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani sempat membuat pergerakan harga saham GGRM secara year to date (ytd) mencatat return 55,14% pada penutupan perdagangan 31 Juli 2023 yang lalu.

Pesta Laba Besar Emiten Saham Indeks Kompas 100

HR1 04 Aug 2023 Kontan (H)

Mayoritas emiten saham penghuni indeks Kompas 100 sudah merilis laporan kinerja semester I-2023. Dari hasil kinerja emiten Kompas 100, tercatat sekitar 30 emiten berhasil menorehkan hasil berkilau. Mereka bahkan berpesta laba besar karena sukses menorehkan kenaikan laba triple digit. Lonjakan paling kencang ditorehkan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Meski pendapatan tertekan, laba bersih produsen rokok berlabel Gudang Garam ini mencapai Rp 3,28 triliun di semester I-2023. Nilai ini melesat 243,9% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 956,14 miliar di semester I-2022. Kenaikan laba hingga triple digit juga ditorehkan oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang berada di peringkat kedua. Laba emiten saham milik taipan Prajogo Pangestu itu melesat 243,40% menjadi US$ 30,37 juta di paruh pertama tahun ini. Tak mau ketinggalan, emiten properti Grup Sinarmas, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga unjuk gigi dengan mencetak laba senilai Rp 1,2 triliun atau melesat 159,02% yoy dari Rp 463,83 triliun. Terlepas dari faktor pemulihan ekonomi, Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut pencapaian para emiten properti juga ditopang upaya pengembang untuk menggaet pembeli. Emiten bank penghuni indeks ini juga masih bertumbuh. Salah satunya adalah Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 55,18 triliun atau bertumbuh 22,18% secara tahunan. Senior Research Analyst Reliance Sekuritas, Lukman Hakim menuturkan, sektor bank masih berpotensi untuk bertumbuh. Meski lambat, tetapi masih ada permintaan kredit di masyarakat. Secara pergerakan indeks, Kompas100 masih lebih unggul dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Per Kamis (3/8), indeks Kompas100 sudah naik hingga 1,96% sementara IHSG baru meningkat 0,69%.

Laba Lima Emiten Semen Melesat 41% Saham Menggeliat

KT1 04 Aug 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Laba bersih lima emiten semen melesat 41% menjadi Rp 2,05 triliun semester I-2023, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 1,45 triliun. Seiring dengan itu, saham semen menggeliat pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis (3/8/2023). Kelima emiten semen itu adalah PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Indocement/Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT), PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), dan PT Semen Baturaja Tbk (SMBR). Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2023, laba bersih Semen Indonesia tumbuh 3% menjadi Rp866 miliar dari Rp 840 miliar semester I tahun lalu. Sementara itu, laba bersih Indocement meroket 139% menjadi Rp 698 miliar dari Rp 291 miliar. Lompatan laba bersih  juga melanda Cemindo, yakni dari Rp50,07 miliar menjadi Rp223,24 miliar. Begitu juga dengan laba bersih Semen Baturaja yang naik dari Rp16,25 miliar menjadi Rp16,62 miliar. Adapun laba bersih SBI turun tipis dari Rp258,27 miliar menjadi Rp254 miliar. Sementara itu, kemarin, saham SMGR naik 5,8% ke level Rp7.225 INTP 4,9% menjadi Rp 935, SMCB 0,6% ke level Rp 1.630, dan SMBR 3,28% menjadi Rp378. (Yetede)

Pemulihan Ekonomi Topang Kinerja Ritel

HR1 04 Aug 2023 Kontan

Meski ekonomi bergulir, emiten ritel membukukan kinerja bervariasi sepanjang semester I-2023. Misal PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mengalami penurunan laba bersih. Keuntungan LPPF merosot 25,53% year on year (YoY) menjadi Rp 683,87 miliar. Hasil ini terjadi ketika pendapatan LPPF masih bisa tumbuh 2,39% menjadi Rp 3,85 triliun. Begitu juga PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Pendapatan MAPI menanjak 27,37% secara tahunan (yoy) ke posisi Rp 15,59 triliun. Tapi laba bersihnya terpangkas 5,45% menjadi Rp 1,04 triliun. Serupa dengan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Laba bersih ERAA melorot 9,62% menjadi Rp 458,66 miliar ketika penjualan neto melonjak 23,50% ke level Rp 28,90 triliun. Nasib lebih baik dialami Grup Alfamart & Alfamidi, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI). Kinerja mereka tumbuh. Analis Panin Sekuritas, Andhika Audrey menilai, secara umum kinerja emiten ritel setengah tahun ini sesuai dengan ekspektasi. Sementara itu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menjagokan saham ACES dan MAPI dengan strategi buy on support.

Nusantara Sejahtera Raya Raih Rp 2,25 Triliun

KT3 03 Aug 2023 Kompas

Pada akhir sesi kedua di hari perdana pencatatan, saham PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk ditutup naik 17,04 persen atau Rp 46 menjadi Rp 316 dari harga perdana Rp 270 per saham. Dari penerbitan saham perdana ini, Nusantara Sejahtera berhasil mendapatkan total dana publik Rp 2,25 triliun. Demikian disampaikan Direktur Utama Nusantara Sejahtera Raya Hans Gunadi di Bursa Efek  Indonesia, Jakarta, Rabu (2/8/2023). (Yoga)

Antara Risiko dan Cuan Besar Saham-Saham IPO

HR1 03 Aug 2023 Kontan (H)

Di Agustus ini, penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO) semakin ramai. Di awal Agustus ini saja, sudah ada 10 perusahaan yang sedang menjalani proses penawaran dan telah menetapkan harga IPO. Para calon penghuni Bursa Efek Indonesia (BEI) itu berasal dari sektor dan bisnis  beragam. Kebanyakan  berasal dari perusahaan sektor properti dan barang konsumsi non-primer. Nah, investor yang berminat di saham IPO perlu jeli. Karena memilih saham IPO boleh jadi urusan yang susah-susah gampang. Saham-saham IPO cenderung jadi ajang cari cuan jangka pendek, namun juga bisa menjanjikan  untuk investasi jangka panjang. Pandhu Dewanto, Analis Investindo Nusantara Sekuritas mengatakan, perlu hitungan cermat agar bisa menemukan potensi pertumbuhan saham di masa mendatang. Di sisi lain, bukan perkara mudah juga untuk melakukan trading saham yang baru listing. Data historis pergerakan harga saham dan indikator teknikal belum maksimal. Muhamad Alfatih, Senior Technical Analyst Samuel Sekuritas menjelaskan, pada hari pertama, investor dapat menggunakan chart intraday. Misalnya periode 15 menit. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menimpali, kalau ada indikator yang belum muncul, investor juga  dapat memperhatikan sisi volume dan volatilitas saham. Senior Technical Analyst Sinarmas Sekuritas, Mayang Anggita juga menyebut trading saham IPO di pasar sekunder tergolong berisiko tinggi karena hanya berpegang pada analisis dari prospektus.

Kinerja Emiten Semen Masih Solid

HR1 02 Aug 2023 Kontan

Ekonomi dalam negeri yang semakin melaju menyebabkan permintaan semen makin positif. Mayoritas emiten saham semen di Bursa Efek Indonesia (BEI) pun masih mencatatkan kenaikan laba bersih sepanjang semester pertama 2023. Produsen semen terbesar di Tanah Air, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), sebagai contoh, membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 866 miliar. Jumlah ini naik tipis 3,1% ketimbang laba bersih SMGR di periode sebelumnya yang sebesar Rp 840 miliar. Menyusul SMGR, ada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Produsen semen terbesar kedua di Indonesia ini meraup laba bersih senilai Rp 698,43 miliar. Tumbuh 139,5% dari laba bersih di periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 291,54 miliar. Tak mau kalah, emiten produsen semen merah putih, yakni PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) juga mencetak kinerja mentereng sepanjang semester pertama 2023. CMNT mencetak kenaikan laba bersih hingga 345,8% menjadi Rp 223,24 miliar. Tak mau ketinggalan, PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) juga mencetak pertumbuhan kinerja, meski tumbuh moderat sepanjang semester pertama 2023. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andreas Saragih optimistis, produsen semen tanah air akan mencetak kinerja keuangan yang lebih solid ke depannya. Hal ini didorong salah satunya harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) yang relatif stabil. Ini didukung oleh persaingan yang terkendali.

Suku Bunga Tinggi, Utang Emiten Naik

HR1 01 Aug 2023 Kontan

Kebijakan sejumlah bank sentral, menimbulkan era suku bunga tinggi. Contohnya Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, yang kembali mendongkrak suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5,25%-5,50% pada Rabu (26/7). Sehari berselang, giliran European Central Bank (ECB) mengerek naik suku bunga acuan Eropa 25 bps jadi 3,75%. Pasar masih melihat kemungkinan The Fed maupun ECB kembali mengungkit suku bunga acuan, demi mengejar target penurunan inflasi. Pelaku pasar dinilai perlu menakar dampak suku bunga tinggi bagi kinerja emiten, terutama yang memiliki utang dalam mata uang asing. CEO Pinnacle Investment Indonesia, Guntur Putra mengingatkan, kenaikan suku bunga bisa menyebabkan beban bunga naik dan berpotensi mengurangi profit emiten. Research & Consulting Manager Infovesta Utama, Nicodimus Kristiantoro mengamati, sejumlah emiten yang memiliki utang obligasi dalam dolar AS. Pada periode yang sama, sejumlah emiten properti punya utang obligasi dollar AS setara lebih dari Rp 3 triliun. Yakni, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) setara Rp 6,4 triliun dan PT Modernland Realty Tbk (MDLN) Rp 5,4 triliun. CEO Edvisor.id, Praska Putrantyo menambahkan, secara tidak langsung biaya bunga tinggi dalam valuta asing membuat pencatatan dalam rupiah menurun dan memangkas margin. Jadi, laba bersih akan tampak merosot dibandingkan periode sebelumnya. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta sepakat, naiknya utang dollar AS bisa menggerus net profit margin emiten. "Emiten harus bisa menjalani mitigasi risiko dengan baik," katanya.

Sinyal Kuat Emiten Telekomunikasi

HR1 01 Aug 2023 Kontan

Kinerja emiten telekomunikasi pada separuh pertama tahun ini cukup beragam. Kendati laba bersih masih turun, pemulihan sektor ini ini mulai terlihat  dari kinerja operasional yang kompak menguat. PT XL Axiata Tbk (EXCL) misalnya, berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 15,76 triliun per Juni 2023. Nilai itu naik 12% secara tahunan atau year on year (yoy). Meski tak setinggi EXCL, pendapatan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga tumbuh 2,08% yoy menjadi Rp 73,47 triliun. Sedangkan pendapatan PT Indosat Tbk (ISAT) naik 9,54% yoy menjadi Rp 24,67 triliun dari Rp 22,52 triliun pada semester I-2022. Kinerja pendapatan ini salah satunya didorong oleh peningkatan average revenue per user atau ARPU. Presiden Direktur EXCL, Dian Siswarini mengatakan, industri telekomunikasi pada semester I-2023 sudah kembali pulih seperti pra-pandemi. Meskipun pendapatannya sudah naik 12% di semester I-2023, EXCL masih mempertahankan target pendapatan high single digit, di kisaran 6%-10% hingga akhir 2023. Research Analyst NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi menilai, potensi peningkatan konsumsi data diharapkan bisa meningkatkan ARPU emiten telekomunikasi. Tak hanya itu, layanan fixed mobile convergence (FMC) juga bakal jadi mesim baru sektor ini. Analis Panin Sekuritas, Aqil Triyadi juga menilai, layanan FMC bakal memperkuat margin pemain telekomunikasi. Aqil menyarankan beli TLKM dan EXCL. dengan target masing-masing Rp 4.800 dan Rp 2.730. Lalu, Leonardo merekomendasikan beli TLKM dengan target harga Rp 5.000.

PROSPEK BISNIS SEMESTER II/2023 : ADU KUAT ‘SINYAL’ EMITEN TELEKOMUNIKASI

HR1 01 Aug 2023 Bisnis Indonesia

Pemain industri telekomunikasi bakal memasuki periode menantang pada semester II/2023. Namun, sejumlah emiten tetap menyiapkan strategi ekspansif untuk memperkuat performa bisnis yang sempat tertekan pada awal tahun ini. Dari sejumlah emiten telekomunikasi yang merilis kinerjanya sepanjang 6 bulan pertama tahun ini, perolehan pendapatan masih mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik. Namun, laju laba bersih cenderung kontraksi, bahkan ada yang mencetak rugi.PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT XL Axiata Tbk. (EXCL), PT Indosat Tbk. (ISAT), dan PT Smarfren Telecom Tbk. (FREN) kompak membukukan pendapatan.Pendapatan EXCL naik paling tinggi sebesar 12,01% year-on-year (YoY) dari Rp14,07 triliun pada semester I/2022 menjadi Rp15,76 triliun pada 6 bulan pertama 2023. Di belakang EXCL, ISAT mengantongi pendapatan Rp24,67 triliun atau naik 9,54% secara tahunan. Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini mengatakan bahwa kendati pendapatan XL Axiata atau EXCL tumbuh hingga 12% atau double digit pada semester I/2023, perseroan tetap mempertahankan target pertumbuhan high single digit pada akhir tahun. “Beberapa analis mengatakan semester II/2023 agak lebih soft market kita,” kata Dian, Senin (31/7).Menurut Dian, pada semester I/2023 dari sisi telekomunikasi cukup menggembirakan, karena semua operator mengalami pertumbuhan pendapatan. Artinya, ujar Dian, industri telekomunikasi kembali tumbuh seperti saat sebelum pandemi. Terpisah, President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengatakan performa pendapatan selama paruh pertama 2023 mengantarkan EBITDA perusahaan ke Rp11,38 triliun atau tumbuh 24% YoY. Dia mengatakan pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi. Sementara itu, Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah mengatakan kinerja pendapatan perseroan pada paruh pertama 2023 tak lepas dari stategi utama Five Bold Moves. Telkom juga terus berupaya meningkatkan kualitas layanan melalui pengembangan infrastruktur.Dari sudut pandang lain, analis Aldiracita Sekuritas Selvi Ocktaviani mengharapkan inisiatif FMC dapat mendorong performa TLKM pada semester II/2023. Pada 2023, TLKM diestimasi meraih pendapatan Rp150,35 triliun dan laba bersih Rp25,28 triliun. Saham TLKM direkomendasikan beli dengan target harga Rp4.200 per saham.

Pilihan Editor