Saham
( 1717 )Emiten Kontruksi Geber Kontrak Baru
Memasuki separuh kedua tahun 2023, emiten konstruksi mengejar pemenuhan target kontrak baru. Harapannya, kinerja di akhir tahun juga bisa terangkat.
PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), misalnya, tengah mengejar target kontrak baru sebesar Rp 2,6 triliun di tahun 2023. TOTL masih punya bekal proyek di
pipeline
sekitar Rp 6,5 triliun.
Sekretaris Perusahaan TOTL Anggie S. Sidharta mengatakan, nilai kontrak baru sampai dengan akhir Juni 2023 mencapai Rp 1,33 triliun.TOTL berharap bisa mengail pendapatan Rp 2,3 triliun dan laba bersih Rp 95 miliar pada tahun ini.
Sedangkan PT Acset Indonusa Tbk (ACST), mencatatkan nilai kontrak baru sebesar Rp 1,6 triliun. Sekretaris Perusahaan dan Hubungan Investor ACST, Kadek Ratih Paramita Absari mengatakan, kinerja perusahaan sepanjang semester I-2023 cenderung lebih baik dibandingkan periode sama tahun lalu. Hal ini juga tercermin dari kenaikan pendapatan serta berkurangnya jumlah kerugian.
Tak cuma emiten konstruksi swasta, para kontraktor pelat merah juga berharap bisa mendapatkan nilai kontrak baru yang lebih jumbo pada sisa tahun ini. PT PP Tbk (PTPP), misalnya, membidik raihan nilai kontrak baru di tahun 2023 sebesar Rp 34 triliun, tumbuh 10% dari tahun lalu. Sekretaris Perusahaan PTPP, Bakhtiyar Efendi mengatakan, PTPP telah mengantongi kontrak baru Rp 11,62 triliun per Juni 2023, naik 6,31% secara tahunan.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Johan Trihantoro menambahkan, proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dapat menjadi peluang bagi emiten konstruksi terutama BUMN Karya dalam mendapatkan kontrak baru dari pemerintah.
Inflasi Amerika Mengerut, Pasar Saham Menggeliat
Harapan para pelaku di bursa saham akhirnya terwujud. Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) pada Kamis (13/7) dinihari waktu Indonesia, mengumumkan, laju inflasi negeri Paman Sam pada Juni 2023 turun ke 3% secara tahunan.
Sebagai pembanding, pada bulan Mei 2023, laju inflasi AS masih bertengger di angka 4%. Dus, penurunan laju inflasi AS ini merupakan yang terendah sejak Maret 2021 yang sempat menyentuh angka 2,6%.
Melandainya laju inflasi AS, menyebabkan pasar saham global sumringah. Tak terkecuali di Indonesia. Pada perdagangan saham kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,03% atau 2 poin ke 6.810,21.
Tak hanya IHSG yang menguat, mata uang Garuda juga tampil perkasa hingga akhir perdagangan Kamis (13/7). Kemarin, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 14.966 per dollar AS, naik 0,73% dibanding hari sebelumnya, yaitu Rp 15.075 per dollar AS.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, dampak dari laju inflasi di AS sangat besar terhadap pasar saham global.
Head of Research
Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan sepakat, penurunan inflasi AS yang lebih dalam dari perkiraan pasar, membangun keyakinan bahwa The Fed akan berada pada
track
kebijakan moneter yang diharapkan. Salah satu efek positif langsung ke Indonesia adalah penguatan nilai tukar rupiah.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menimpali, dengan tingkat inflasi AS rendah, akan membuat The Fed mengakhiri siklus kenaikan suku bunga acuannya. Bahkan, diperkirakan pada akhir tahun ini The Fed mulai menurunkan bunga.
Prospek Cerah Bisnis Sertifikasi
PT Mutuagung Lestari Tbk atau Mutu International optimistis penawaran perdana saham mereka bakal menarik banyak investor. Penyedia jasa pengujian, inspeksi, dan sertifikasi ini yakin akan prospek cerah di industri yang mereka geluti. Presiden Direktur Mutu International, Arifin Lambaga, menuturkan industri pengujian, inspeksi, dan sertifikasi atau testing, inspection, and certification (TIC) terus bertumbuh. Merujuk pada data Markets and Markets 2020, nilai pasar industri TIC Indonesia mencapai US$ 1,99 miliar pada 2020. "Angkanya terus naik dari 2017 yang berada di kisaran US$ 1,71 miliar," tutur Arifin di Jakarta, kemarin. Dari hasil riset tersebut, nilai pasar di dalam negeri diestimasi tumbuh hingga US$ 2,73 miliar pada 2025.
Dibanding nilai pasar secara global, ruang untuk tumbuh semakin besar. Arifin mengatakan nilai pasar industri TIC global pada 2027 diperkirakan mencapai US$ 270 miliar. Berdasarkan laporan Allied Market Research yang diterbitkan pada Januari 2022, angkanya bisa tumbuh sampai US$ 349 miliar pada 2030. Arifin mengatakan ada banyak potensi yang belum terjamah, antara lain karena belum banyak perusahaan yang terlibat dalam proses TIC. Selain itu, belum banyak konsumen yang menyadari pentingnya sertifikasi produk atau jasa. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor pendorong perusahaan melantai di bursa. "Selain untuk modal, tujuan kami, IPO itu agar perusahaan lebih dikenal masyarakat." (Yetede)
Pilihan Menarik Saham Bank di Jajaran Lapis Dua
Prospek saham perbankan lapis kedua dan lapis ketiga menarik untuk ditelisik. Sejumlah harga saham di kelompok ini, bergerak cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Masuk katagori saham tersebut adalah saham PT Bank Bumi Artha Tbk (BNBA), PT Bank Ganesha Tbk (BGTG), dan PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA). Walau pada penutupan Kamis (13/7) hanya BNBA bergerak positif sebesar 3,57%, namun ketiganya sama-sama naik tinggi dalam sepekan.
Mengutip data RTI, saham BNBA melesat 40,32% dalam sepekan dan meroket 103,91% dalam satu bulan terakhir. BGTG melonjak 32,86% dalam sepekan dan MAYA telah meningkat 24,47%.
Menurut Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto, pergerakan saham lapis dua lebih banyak dipengaruhi aksi korporasi masing-masing bank. Misalnya, rencana bakal diakuisisi perusahaan besar atau ada rencana
rights issue
untuk memperbaiki struktur modal.
Pandhu melihat kenaikan saham BGTG karena pemegang saham lama yakni Equity Global International Ltd menambah porsi kepemilikannya secara signifikan. Harga saham bank lapis dua yang tergolong murah dengan
price to book value
(PVB) rendah, kata dia, bisa jadi alasan lain investor beli saham bank kecil.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menekankan bahwa membeli saham tidak bisa hanya berpatokan pada PBV saja. Dijajaran lapis dua, ia lebih merekomendasikan saham bank yang fundamentalnya lebih oke meski PVB-nya lebih tinggi yang lain. "Saya lebih merekomendasikan BRIS," ujar dia.
Laju Saham Dipacu Harga Komoditas
Setelah jadi indeks paling longsor di sepanjang semester pertama tahun ini, saham-saham di sektor energi dan barang baku mulai bangkit di awal semester II-2023.
Hingga penutupan perdagangan Juni, IDX Sector Energy turun paling dalam dibandingkan sektor lainnya, yakni ambles -23,76%. IDX basic materials membuntuti dengan koreksi mencapai -18,35%.
Nah, kemarin (12/7), gerak kedua sektor tersebut lebih apik. Penurunan indeks sektor energi tersisa -19,24% dan indeks barang baku susut jadi -14,73% sejak awal tahun ini.
Equity Research Analyst
Panin Sekuritas, Felix Darmawan menyebut, saham sektor energi terpapar sentimen positif dari kenaikan harga komoditas karena ekspektasi meningkatnya permintaan.
Sementara
Research Analyst
Reliance Sekuritas Ayu Dian melihat kenaikan saham barang baku lebih didorong menguatnya sektor industri semen, kertas, dan nikel.
Sejumlah katalis penopang sektor bahan baku antara lain, pengembangan industri kendaraan listrik, penjualan semen yang berpotensi meningkat, serta ekspor kertas yang berpeluang naik.
Asing Kembali Borong Saham Bank Besar
JAKARTA,ID-Pemodal asing kembali memborong saham empat bank besar pada pekan ini, setelah sebelumnya mencetak net sell Rp 2,3 triliun selama 1 Juni hingga 7 Juli 2023. Seiring dengan itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) naik 0,17% ke level 6.808, kemarin, tertinggi sejak 11 Mei 2023 atau dalam dua bulan terakhir. Kemarin, dari total net buy asing Rp 545 miliar, sebesar Rp340 miliar mengalir kedua bank besar, yakni PT Bank Central Asia (BCA/BBCA) Rp340,05 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 64,25 miliar, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp37,19 miliar, dan PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GPTO) senilai Rp31,15 miliar. BCA dan BRI adalah emiten dengan market cap nomor satu dan dua di BEI, masing-masing Rp1.120 triliun dan Rp 818 triliun per Rabu (12/7/2023). Selain BCA dan BRI, dua bank dengan markep cap besar adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT bank Mandiri Indonesia (BNI/BBNI) RP490 triliun dan Rp 166 triliun. Keempat bank itu masuk Top 10 emiten dengan market cap besar di BEI. Dengan demikian, pergerakan empat saham bank itu menentukan kinerja IHSG, (Yetede)
Dividen Batubara Tak Lagi Membara
Pesta dividen jumbo emiten tambang batubara diproyeksi akan berakhir. Hal ini seiring estimasi loyonya kinerja keuangan emiten batubara. Maklum, di sepanjang tahun 2023, harga komoditas batubara terus melandai.
Analis MNC Sekuritas, Alif Ihsanario mencermati, di sepanjang tahun berjalan ini, harga batubara di Bursa Newcastle telah menukik 68%. Sementara itu, harga batubara acuan (HBA) China dan Indonesia telah melemah masing-masing 38% dan 37%.
Seiring itu, Alif menganalisa, besaran dividen yang akan dibagikan emiten batubara untuk tahun buku 2023 akan melorot dibanding 2022. Dia mengantisipasi adanya penurunan besaran dividend payout ratio.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Richard Suherman memproyeksi, dengan posisi neraca solid dan rasio utang per modal bersih rendah, DPR dividen ADRO tahun ini bisa tembus 45% dari laba bersih.
UU Kesehatan Dongkrak Saham Emiten Rumah Sakit
JAKARTA,ID-Pengesahan Undang-Undang Kesehatan bakal mendongkrak saham emiten rumah sakit dalam jangka pendek hingga panjang. Sebab, UU itu akan mempermulus ekspansi para pemain RS ke kota lapis kedua dan ketiga nasional, yang dapat mengerek kinerja keuangan sekaligus harga saham. Imbas pengesahan UU Kesehatan langsung terasa ke pergerakan harga saham emiten RS. Kemarin, saham sektor kesehatan melesat dan menjadi motor utama pendongkrak indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data BEI, indeks saham sektor kesehatan melambung 2,88% atau tertinggi dibandingkan sektor lainnya, sedangkan IHSG melesat 65,88 poin (0,98%) ke level 6.796,9. IHSG hari ini bergerak dalam rentang 6.730-66,796,9 dengan nilai transaksi Rp7,87 triliun. Lonjakan harga saham emiten RS tertinggi dicetak PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) sebesar Rp180 atau 9,89% ke posisi Rp 2.00. Hal serupa juga melanda saham PT Bundamedik Tbk (BMHS) yang menguat 5,03% menjadi Rp 376, PT Medialoka Hermina Tbk (HEAL) 3,94% menjadi Rp 1.450, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) 2,78% menjadi Rp370, dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MILA) 1,92% menjadi Rp 2.650. (Yetede)
Royaltama Mulia Bidik Dana IPO 112 Miliar
JAKARTA,ID-PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO IJ) berencana menggelar penawaran umum perdana (Initial public offering/IPO) saham dan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan akan melepas 250 juta saham atau maksimal 20% melalui IPO dengan target dana Rp 122,5 miliar. Perseroan melaksanakan penawaaran awal atau bookbuilding IPO 10-13 Juli 2023, dengan harga penawaran Rp350-450. Pemesanan saham dapat dilakukan di website www,e-ipo.co.id. Perseroan akan menggunakan dana dari hasil IPO untuk modal kerja dalam mendukung kode saham RMKO dalam keperluan perdagangan saham di,setelah diterimanya izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi dalam IPO perseroan adalah PT Victoria Sekuritas Indonesia. RMKO merupakan perusahaan dengan spesialisasi bisnis jasa batu bara terintegrasi yang menyediakan jasa penunjang pertambangan dan jasa penyewa alat-alat berat. Jasa yang ditawarkan oleh MRKO di antaranya persiapan infrastruktur pertambangan, penambangan batu bara, persiapan dan pembangunan jalan pengangkutan, jasa pengangktan batu bara, persiapan infratsruktur emplasemen sampai pemuatan batu bara, serta penyewaan alat-alat berat. (Yetede)
Berburu Saham Pendatang Baru
Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan emiten baru. Kemarin (10/7), empat perusahaan resmi mencatatkan saham perdana di BEI lewat skema penawaran umum perdana saham alias
initial public offering
(IPO).
Emiten anyar tersebut berasal dari berbagai sektor bisnis. Misalnya, PT Widiant Jaya Krenindo Tbk (WIDI) dan PT Carsurin Tbk (CRSN) yang bergerak di sektor industri.
Lalu, dari sektor konsumer primer, ada PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) yang mencoba peruntungannya di BEI. Terakhir, dari sektor transportasi dan logistik ada PT Graha Prima Mentari Tbk (GRPM).
Sayang, dari empat emiten baru itu, tidak ada satupun yang masuk ke papan pencatatan utama di BEI. Contohnya, saham GRPM dan WIDI tercatat di papan akselerasi. Sedang CRSN dan TGUK masuk di papan pengembangan.
Terkait pencatatan TGUK, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki melihat, bidang makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) memiliki peluang
market
yang cukup luas. Hal ini terbukti saham TGUK mendapatkan respons bagus dari kalangan investor saat
go public.
Dus, Kementerian Koperasi dan BEI akan menjemput bola dengan melakukan induksi dan koneksi pelaku UKM dengan
securities crowdfunding
(SCF).
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian menilai, dari empat emiten yang baru listing di BEI, emiten di sektor konsumer yang punya prospek paling baik.









