;
Tags

Saham

( 1722 )

Nusantara Sejahtera Raya Raih Rp 2,25 Triliun

KT3 03 Aug 2023 Kompas

Pada akhir sesi kedua di hari perdana pencatatan, saham PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk ditutup naik 17,04 persen atau Rp 46 menjadi Rp 316 dari harga perdana Rp 270 per saham. Dari penerbitan saham perdana ini, Nusantara Sejahtera berhasil mendapatkan total dana publik Rp 2,25 triliun. Demikian disampaikan Direktur Utama Nusantara Sejahtera Raya Hans Gunadi di Bursa Efek  Indonesia, Jakarta, Rabu (2/8/2023). (Yoga)

Antara Risiko dan Cuan Besar Saham-Saham IPO

HR1 03 Aug 2023 Kontan (H)

Di Agustus ini, penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO) semakin ramai. Di awal Agustus ini saja, sudah ada 10 perusahaan yang sedang menjalani proses penawaran dan telah menetapkan harga IPO. Para calon penghuni Bursa Efek Indonesia (BEI) itu berasal dari sektor dan bisnis  beragam. Kebanyakan  berasal dari perusahaan sektor properti dan barang konsumsi non-primer. Nah, investor yang berminat di saham IPO perlu jeli. Karena memilih saham IPO boleh jadi urusan yang susah-susah gampang. Saham-saham IPO cenderung jadi ajang cari cuan jangka pendek, namun juga bisa menjanjikan  untuk investasi jangka panjang. Pandhu Dewanto, Analis Investindo Nusantara Sekuritas mengatakan, perlu hitungan cermat agar bisa menemukan potensi pertumbuhan saham di masa mendatang. Di sisi lain, bukan perkara mudah juga untuk melakukan trading saham yang baru listing. Data historis pergerakan harga saham dan indikator teknikal belum maksimal. Muhamad Alfatih, Senior Technical Analyst Samuel Sekuritas menjelaskan, pada hari pertama, investor dapat menggunakan chart intraday. Misalnya periode 15 menit. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menimpali, kalau ada indikator yang belum muncul, investor juga  dapat memperhatikan sisi volume dan volatilitas saham. Senior Technical Analyst Sinarmas Sekuritas, Mayang Anggita juga menyebut trading saham IPO di pasar sekunder tergolong berisiko tinggi karena hanya berpegang pada analisis dari prospektus.

Kinerja Emiten Semen Masih Solid

HR1 02 Aug 2023 Kontan

Ekonomi dalam negeri yang semakin melaju menyebabkan permintaan semen makin positif. Mayoritas emiten saham semen di Bursa Efek Indonesia (BEI) pun masih mencatatkan kenaikan laba bersih sepanjang semester pertama 2023. Produsen semen terbesar di Tanah Air, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), sebagai contoh, membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 866 miliar. Jumlah ini naik tipis 3,1% ketimbang laba bersih SMGR di periode sebelumnya yang sebesar Rp 840 miliar. Menyusul SMGR, ada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Produsen semen terbesar kedua di Indonesia ini meraup laba bersih senilai Rp 698,43 miliar. Tumbuh 139,5% dari laba bersih di periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 291,54 miliar. Tak mau kalah, emiten produsen semen merah putih, yakni PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) juga mencetak kinerja mentereng sepanjang semester pertama 2023. CMNT mencetak kenaikan laba bersih hingga 345,8% menjadi Rp 223,24 miliar. Tak mau ketinggalan, PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) juga mencetak pertumbuhan kinerja, meski tumbuh moderat sepanjang semester pertama 2023. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andreas Saragih optimistis, produsen semen tanah air akan mencetak kinerja keuangan yang lebih solid ke depannya. Hal ini didorong salah satunya harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) yang relatif stabil. Ini didukung oleh persaingan yang terkendali.

Suku Bunga Tinggi, Utang Emiten Naik

HR1 01 Aug 2023 Kontan

Kebijakan sejumlah bank sentral, menimbulkan era suku bunga tinggi. Contohnya Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, yang kembali mendongkrak suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5,25%-5,50% pada Rabu (26/7). Sehari berselang, giliran European Central Bank (ECB) mengerek naik suku bunga acuan Eropa 25 bps jadi 3,75%. Pasar masih melihat kemungkinan The Fed maupun ECB kembali mengungkit suku bunga acuan, demi mengejar target penurunan inflasi. Pelaku pasar dinilai perlu menakar dampak suku bunga tinggi bagi kinerja emiten, terutama yang memiliki utang dalam mata uang asing. CEO Pinnacle Investment Indonesia, Guntur Putra mengingatkan, kenaikan suku bunga bisa menyebabkan beban bunga naik dan berpotensi mengurangi profit emiten. Research & Consulting Manager Infovesta Utama, Nicodimus Kristiantoro mengamati, sejumlah emiten yang memiliki utang obligasi dalam dolar AS. Pada periode yang sama, sejumlah emiten properti punya utang obligasi dollar AS setara lebih dari Rp 3 triliun. Yakni, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) setara Rp 6,4 triliun dan PT Modernland Realty Tbk (MDLN) Rp 5,4 triliun. CEO Edvisor.id, Praska Putrantyo menambahkan, secara tidak langsung biaya bunga tinggi dalam valuta asing membuat pencatatan dalam rupiah menurun dan memangkas margin. Jadi, laba bersih akan tampak merosot dibandingkan periode sebelumnya. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta sepakat, naiknya utang dollar AS bisa menggerus net profit margin emiten. "Emiten harus bisa menjalani mitigasi risiko dengan baik," katanya.

Sinyal Kuat Emiten Telekomunikasi

HR1 01 Aug 2023 Kontan

Kinerja emiten telekomunikasi pada separuh pertama tahun ini cukup beragam. Kendati laba bersih masih turun, pemulihan sektor ini ini mulai terlihat  dari kinerja operasional yang kompak menguat. PT XL Axiata Tbk (EXCL) misalnya, berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 15,76 triliun per Juni 2023. Nilai itu naik 12% secara tahunan atau year on year (yoy). Meski tak setinggi EXCL, pendapatan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga tumbuh 2,08% yoy menjadi Rp 73,47 triliun. Sedangkan pendapatan PT Indosat Tbk (ISAT) naik 9,54% yoy menjadi Rp 24,67 triliun dari Rp 22,52 triliun pada semester I-2022. Kinerja pendapatan ini salah satunya didorong oleh peningkatan average revenue per user atau ARPU. Presiden Direktur EXCL, Dian Siswarini mengatakan, industri telekomunikasi pada semester I-2023 sudah kembali pulih seperti pra-pandemi. Meskipun pendapatannya sudah naik 12% di semester I-2023, EXCL masih mempertahankan target pendapatan high single digit, di kisaran 6%-10% hingga akhir 2023. Research Analyst NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi menilai, potensi peningkatan konsumsi data diharapkan bisa meningkatkan ARPU emiten telekomunikasi. Tak hanya itu, layanan fixed mobile convergence (FMC) juga bakal jadi mesim baru sektor ini. Analis Panin Sekuritas, Aqil Triyadi juga menilai, layanan FMC bakal memperkuat margin pemain telekomunikasi. Aqil menyarankan beli TLKM dan EXCL. dengan target masing-masing Rp 4.800 dan Rp 2.730. Lalu, Leonardo merekomendasikan beli TLKM dengan target harga Rp 5.000.

PROSPEK BISNIS SEMESTER II/2023 : ADU KUAT ‘SINYAL’ EMITEN TELEKOMUNIKASI

HR1 01 Aug 2023 Bisnis Indonesia

Pemain industri telekomunikasi bakal memasuki periode menantang pada semester II/2023. Namun, sejumlah emiten tetap menyiapkan strategi ekspansif untuk memperkuat performa bisnis yang sempat tertekan pada awal tahun ini. Dari sejumlah emiten telekomunikasi yang merilis kinerjanya sepanjang 6 bulan pertama tahun ini, perolehan pendapatan masih mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik. Namun, laju laba bersih cenderung kontraksi, bahkan ada yang mencetak rugi.PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT XL Axiata Tbk. (EXCL), PT Indosat Tbk. (ISAT), dan PT Smarfren Telecom Tbk. (FREN) kompak membukukan pendapatan.Pendapatan EXCL naik paling tinggi sebesar 12,01% year-on-year (YoY) dari Rp14,07 triliun pada semester I/2022 menjadi Rp15,76 triliun pada 6 bulan pertama 2023. Di belakang EXCL, ISAT mengantongi pendapatan Rp24,67 triliun atau naik 9,54% secara tahunan. Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini mengatakan bahwa kendati pendapatan XL Axiata atau EXCL tumbuh hingga 12% atau double digit pada semester I/2023, perseroan tetap mempertahankan target pertumbuhan high single digit pada akhir tahun. “Beberapa analis mengatakan semester II/2023 agak lebih soft market kita,” kata Dian, Senin (31/7).Menurut Dian, pada semester I/2023 dari sisi telekomunikasi cukup menggembirakan, karena semua operator mengalami pertumbuhan pendapatan. Artinya, ujar Dian, industri telekomunikasi kembali tumbuh seperti saat sebelum pandemi. Terpisah, President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengatakan performa pendapatan selama paruh pertama 2023 mengantarkan EBITDA perusahaan ke Rp11,38 triliun atau tumbuh 24% YoY. Dia mengatakan pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi. Sementara itu, Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah mengatakan kinerja pendapatan perseroan pada paruh pertama 2023 tak lepas dari stategi utama Five Bold Moves. Telkom juga terus berupaya meningkatkan kualitas layanan melalui pengembangan infrastruktur.Dari sudut pandang lain, analis Aldiracita Sekuritas Selvi Ocktaviani mengharapkan inisiatif FMC dapat mendorong performa TLKM pada semester II/2023. Pada 2023, TLKM diestimasi meraih pendapatan Rp150,35 triliun dan laba bersih Rp25,28 triliun. Saham TLKM direkomendasikan beli dengan target harga Rp4.200 per saham.

Daya Beli Jadi Vitamin Emiten Rokok

HR1 31 Jul 2023 Kontan

Saham-saham produsen rokok mempunyai prospek yang menarik pada tahun ini. Tingkat daya beli yang mulai membaik akan memudahkan pemain di bisnis ini menaikkan harga di tengah himpitan tarif cukai yang terus naik. Head of Research Investasiku, produk dari Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya mengatakan, sentimen positif bagi sektor rokok berasal dari kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) yang meningkat. Hal ini memicu berlanjutnya pemulihan ekonomi. Dengan begitu, meski ada kenaikan harga jual dari para produsen, harga rokok masih bisa dijangkau. Sebagai gambaran, pada semester I-2023, kinerja PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mengalami kenaikan. Pendapatan HMSP meningkat 4,95% secara tahunan menjadi Rp 56,15 triliun dari Rp 53,50 triliun. Sejalan dengan itu, laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk ikut meningkat 23,02% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp 3,75 triliun pada semester I-2023. Emiten lain yakni PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) juga melaporkan kenaikan kinerja cukup signifikan. Pada semester I-2023, WIIM mencatatkan kenaikan laba bersih 200% secara tahunan menjadi Rp 247 miliar. Sementara pada periode yang sama, pendapatan WIIM tumbuh 46% menjadi Rp 2,38 triliun. Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama mengatakan, dengan bukti kenaikan laba, WIIM sejauh ini terbukti menjadi pemenang. Ini karena harga jual produk WIIM lebih terjangkau ketimbang produsen emiten rokok yang lain. WIIM secara aktif menetapkan harga jual rata-rata di posisi harga yang harus ditinggalkan oleh pesaingnya seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM), HMSP dan Djarum. Ini karena para pesaing WIIM harus memulai siklus kenaikan harga jual rata-rata rokok yang agresif. Dus, WIIM bisa merebut sebagian pangsa pasar dari para produsen rokok raksasa. Ke depan, Analis Ciptadana Sekuritas Putu Chantika Putri dalam riset 28 Juli 2023 berharap, menjelang momen pemilu daya beli masyarakat bisa lebih kuat.

Reli Pasar Saham Berlanjut Pekan Ini

KT1 31 Jul 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan  reli pekan ini kisaran 6.836-6.930, ditopang sejumlah sentimen positif, seperti rilis laporan keuangan emiten semester I tahun dan  penetapan suku bunga acuan  di domestik dan diluar negeri yang sesuai ekspektasi, Namun, investor diminta mewaspadai aksi profit taking, mengingat indeks telah menguat dalam dua pekan terakhir. Pekan lalu, indeks naik 0,28% menembus level 6.900. Sepanjang 2023, indeks tumbuh 0,7%, setelah sebelumnya sempat turun 4%.  CEO Edvisor.id Paska Putrantyo memprediksi indeks melanjutkan penguatan pekan ini dikisaran 6.836-6.968. Pergerakan indeks akan dibayangi  oleh berbagai sentimen global, diantaranya penetapan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), Federal Funds Rate (FFR), dan BI-7 Day Reserve Repo Rate (BI7DDR) pada pekan lalu yang sesuai ekspektasi. Selain itu, kinerja emiten kuartal II-2023 cukup solid dan direspons positif oleh pelaku pasar dalan dua pekan terakhir. "Ke depan, indeks manufaktur dan jasa serta data tenaga kerja AS akan menjadi sorotan public. Lantaran menjadi penentu The Fed dalam menaikkan suku bunga terakhir tahun ini. Terakhir, The Fed menaikkan FFR 25 bps menjadi berkisar 5,25-5,5% untuk meredam inflasi," ujar dia kepada Investaro Daily, akhir pekan lalu. (Yetede)

IPO Meraja, Bursa Saham Indonesia Jadi Jawara

HR1 31 Jul 2023 Kontan (H)

Ekonomi Indonesia yang relatif stabil membuat sejumlah perusahaan lumayan percaya diri untuk mencari dana dari pasar modal dengan melepas saham ke publik. Bahkan, gelaran initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia dengan nilai jumbo cukup ramai pada tahun ini. Padahal, kalau dilihat secara global, tren IPO cenderung turun, baik dari jumlah IPO maupun nilai emisinya. Berdasarkan riset Ernst & Young (EY), terdapat 615 perusahaan yang IPO di seluruh bursa dunia sepanjang semester pertama tahun ini. Angka itu turun 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan dari total emisi yang diraih, nilainya turun 36% menjadi US$ 60,9 miliar atau sekitar Rp 918,25 triliun. EY mencatat, angka ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi global yang lebih lambat, kebijakan moneter yang cenderung ketat, dan ketegangan geopolitik yang meningkat. Meski demikian, aktivitas IPO di beberapa pasar negara berkembang justru bergerak sebaliknya. Betul, secara global, China masih tetap mendominasi sebagai negara dengan IPO terbanyak. Namun di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat wahid dengan total emisi IPO terbanyak dan nilai emisi terbesar. Strategy and Transactions Partner EY Indonesia Sahala Situmorang mengatakan, sektor yang paling populer untuk go public ialah sektor industri dan material. "Ini didorong oleh pesatnya industrialisasi di Indonesia dan meningkatnya jumlah perusahaan yang ingin memanfaatkan peluang sumber daya alam Indonesia," kata dia, akhir pekan lalu. CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo menilai IPO di Indonesia masih mampu untuk tumbuh karena ditopang oleh beberapa katalis. Mulai dari meningkatnya inklusi dan literasi keuangan serta jumlah investor yang semakin banyak, "Prospek ekonomi Indonesia yang relatif stabil dalam jangka panjang," tandasnya.

Saham Bank Lapis Dua dan Tiga Bisa Dilirik

HR1 30 Jul 2023 Kontan

Kinerja keuangan sejumlah emiten perbankan yang sahamnya masuk dalam kategori lapis dua dan tiga, cukup mengesankan sepanjang paruh pertama tahun 2023 ini. Namun, analis menilai sebagian besar saham bank pada kelompok tersebut belum cukup menarik untuk menjadi portofolio investor. Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) misalnya, sukses membukukan laba bersih Rp 11,45 miliar pada semester pertama 2023, melesat 122% secara tahunan. Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) mencetak pertumbuhan laba bersih 125% secara tahunan menjadi Rp 20,75 triliun. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai, pertumbuhan kinerja tersebut akan banyak berpengaruh pada harga sahamnya. Sebabnya, saham bank-bank kategori lapis tiga tersebut kurang likuid dan tak menarik dikoleksi. Laba bank-bank kecil tersebut masih minim walau tumbuhnya tinggi. Dia lebih menyarankan investasi di saham yang mapan yang mempunyai laba dan bisnis yang stabil dibanding bank bermodal minim dan belum punya ekspektasi pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pilihan Editor