;
Tags

Saham

( 1717 )

Daya Beli Jadi Vitamin Emiten Rokok

HR1 31 Jul 2023 Kontan

Saham-saham produsen rokok mempunyai prospek yang menarik pada tahun ini. Tingkat daya beli yang mulai membaik akan memudahkan pemain di bisnis ini menaikkan harga di tengah himpitan tarif cukai yang terus naik. Head of Research Investasiku, produk dari Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya mengatakan, sentimen positif bagi sektor rokok berasal dari kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) yang meningkat. Hal ini memicu berlanjutnya pemulihan ekonomi. Dengan begitu, meski ada kenaikan harga jual dari para produsen, harga rokok masih bisa dijangkau. Sebagai gambaran, pada semester I-2023, kinerja PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mengalami kenaikan. Pendapatan HMSP meningkat 4,95% secara tahunan menjadi Rp 56,15 triliun dari Rp 53,50 triliun. Sejalan dengan itu, laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk ikut meningkat 23,02% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp 3,75 triliun pada semester I-2023. Emiten lain yakni PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) juga melaporkan kenaikan kinerja cukup signifikan. Pada semester I-2023, WIIM mencatatkan kenaikan laba bersih 200% secara tahunan menjadi Rp 247 miliar. Sementara pada periode yang sama, pendapatan WIIM tumbuh 46% menjadi Rp 2,38 triliun. Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama mengatakan, dengan bukti kenaikan laba, WIIM sejauh ini terbukti menjadi pemenang. Ini karena harga jual produk WIIM lebih terjangkau ketimbang produsen emiten rokok yang lain. WIIM secara aktif menetapkan harga jual rata-rata di posisi harga yang harus ditinggalkan oleh pesaingnya seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM), HMSP dan Djarum. Ini karena para pesaing WIIM harus memulai siklus kenaikan harga jual rata-rata rokok yang agresif. Dus, WIIM bisa merebut sebagian pangsa pasar dari para produsen rokok raksasa. Ke depan, Analis Ciptadana Sekuritas Putu Chantika Putri dalam riset 28 Juli 2023 berharap, menjelang momen pemilu daya beli masyarakat bisa lebih kuat.

Reli Pasar Saham Berlanjut Pekan Ini

KT1 31 Jul 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan  reli pekan ini kisaran 6.836-6.930, ditopang sejumlah sentimen positif, seperti rilis laporan keuangan emiten semester I tahun dan  penetapan suku bunga acuan  di domestik dan diluar negeri yang sesuai ekspektasi, Namun, investor diminta mewaspadai aksi profit taking, mengingat indeks telah menguat dalam dua pekan terakhir. Pekan lalu, indeks naik 0,28% menembus level 6.900. Sepanjang 2023, indeks tumbuh 0,7%, setelah sebelumnya sempat turun 4%.  CEO Edvisor.id Paska Putrantyo memprediksi indeks melanjutkan penguatan pekan ini dikisaran 6.836-6.968. Pergerakan indeks akan dibayangi  oleh berbagai sentimen global, diantaranya penetapan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), Federal Funds Rate (FFR), dan BI-7 Day Reserve Repo Rate (BI7DDR) pada pekan lalu yang sesuai ekspektasi. Selain itu, kinerja emiten kuartal II-2023 cukup solid dan direspons positif oleh pelaku pasar dalan dua pekan terakhir. "Ke depan, indeks manufaktur dan jasa serta data tenaga kerja AS akan menjadi sorotan public. Lantaran menjadi penentu The Fed dalam menaikkan suku bunga terakhir tahun ini. Terakhir, The Fed menaikkan FFR 25 bps menjadi berkisar 5,25-5,5% untuk meredam inflasi," ujar dia kepada Investaro Daily, akhir pekan lalu. (Yetede)

IPO Meraja, Bursa Saham Indonesia Jadi Jawara

HR1 31 Jul 2023 Kontan (H)

Ekonomi Indonesia yang relatif stabil membuat sejumlah perusahaan lumayan percaya diri untuk mencari dana dari pasar modal dengan melepas saham ke publik. Bahkan, gelaran initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia dengan nilai jumbo cukup ramai pada tahun ini. Padahal, kalau dilihat secara global, tren IPO cenderung turun, baik dari jumlah IPO maupun nilai emisinya. Berdasarkan riset Ernst & Young (EY), terdapat 615 perusahaan yang IPO di seluruh bursa dunia sepanjang semester pertama tahun ini. Angka itu turun 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan dari total emisi yang diraih, nilainya turun 36% menjadi US$ 60,9 miliar atau sekitar Rp 918,25 triliun. EY mencatat, angka ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi global yang lebih lambat, kebijakan moneter yang cenderung ketat, dan ketegangan geopolitik yang meningkat. Meski demikian, aktivitas IPO di beberapa pasar negara berkembang justru bergerak sebaliknya. Betul, secara global, China masih tetap mendominasi sebagai negara dengan IPO terbanyak. Namun di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat wahid dengan total emisi IPO terbanyak dan nilai emisi terbesar. Strategy and Transactions Partner EY Indonesia Sahala Situmorang mengatakan, sektor yang paling populer untuk go public ialah sektor industri dan material. "Ini didorong oleh pesatnya industrialisasi di Indonesia dan meningkatnya jumlah perusahaan yang ingin memanfaatkan peluang sumber daya alam Indonesia," kata dia, akhir pekan lalu. CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo menilai IPO di Indonesia masih mampu untuk tumbuh karena ditopang oleh beberapa katalis. Mulai dari meningkatnya inklusi dan literasi keuangan serta jumlah investor yang semakin banyak, "Prospek ekonomi Indonesia yang relatif stabil dalam jangka panjang," tandasnya.

Saham Bank Lapis Dua dan Tiga Bisa Dilirik

HR1 30 Jul 2023 Kontan

Kinerja keuangan sejumlah emiten perbankan yang sahamnya masuk dalam kategori lapis dua dan tiga, cukup mengesankan sepanjang paruh pertama tahun 2023 ini. Namun, analis menilai sebagian besar saham bank pada kelompok tersebut belum cukup menarik untuk menjadi portofolio investor. Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) misalnya, sukses membukukan laba bersih Rp 11,45 miliar pada semester pertama 2023, melesat 122% secara tahunan. Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) mencetak pertumbuhan laba bersih 125% secara tahunan menjadi Rp 20,75 triliun. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai, pertumbuhan kinerja tersebut akan banyak berpengaruh pada harga sahamnya. Sebabnya, saham bank-bank kategori lapis tiga tersebut kurang likuid dan tak menarik dikoleksi. Laba bank-bank kecil tersebut masih minim walau tumbuhnya tinggi. Dia lebih menyarankan investasi di saham yang mapan yang mempunyai laba dan bisnis yang stabil dibanding bank bermodal minim dan belum punya ekspektasi pertumbuhan yang berkelanjutan.

ASII Mengantongi Laba Bersih Rp 17,4 Triliun

HR1 29 Jul 2023 Kontan

PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan pertumbuhan pendapatan dua digit sepanjang semester I-2023 lalu. Meski begitu, laba bersih ASII justru terkoreksi. Merujuk laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia, ASII mencetak pendapatan bersih senilai Rp 162,39 triliun. Kinerja ini naik 13,01% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 143,69 triliun. Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ASII mencapai Rp 17,44 triliun. Raihan tersebut turun 3,98% yoy dari Rp 18,17 triliun pada semester I-2022. Angka tersebut telah memperhitungkan penyesuaian nilai wajar investasi ASII di PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) yang cuma sebesar Rp 130 miliar. Padahal pada semester I-2022, nilai wajar atas investasi di kedua entitas itu mencapai Rp 3,7 triliun. Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro mengatakan, kinerja ASII masih positif pada semester pertama tahun 2023, didukung oleh kinerja yang lebih baik dari hampir seluruh divisi bisnis. Rinciannya, dari segmen otomotif tumbuh 18,23% menjadi Rp 65,72 triliun. Hal ini ditopang penjualan mobil secara nasional yang meningkat 7% menjadi menjadi 506.000 unit pada semester pertama tahun 2023. Penjualan mobil Astra juga naik 7% menjadi 278.000 unit, dengan pangsa pasar sedikit meningkat menjadi 55%. Sementara itu, segmen jasa keuangan naik 9,87% secara tahunan menjadi Rp 14,25 triliun. Sedangkan segmen alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi yang berada di bawah PT United Tractors Tbk (UNTR) tercatat naik 13,96% yoy menjadi Rp 68,67 triliun. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, laba bersih dari bisnis inti ASII masih tetap bertumbuh. Dia meyakini kalau akan ada peluang apresiasi saham GOTO dan HEAL sehingga bisa mengerek laba bersih ASII pada semester kedua ini. Sementara itu, sektor otomotif dan alat berat masih akan tetap menjadi penopang utama bisnis Grup Astra hingga akhir tahun ini. Secara teknikal saham ASII mengalami fail uptrend dan berada dalam fase koreksi wajar untuk menguji level support Rp 6.225 per saham.

Ramai -Ramai Dorong IPO Perusahaan Beraset Mini

KT1 28 Jul 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Perbankan turut aktif mendorong debitur korporasi termasuk perusahaan beraset kecil-menengah melakukan go public agar dapat mengakses alternatif pendanaan ekspansi. Saat ini, initial public offering (IPO) menjadi sumber pendanaan murah perusahaan ditengah suku bunga tinggi dan ketidakpastian ekonomi global. Animo perusahaan menggelar hajatan IPO makin menggebu, tergambar dari jumlah dan nilai penggalangan dana dari pasar modal yang tumbuh pesat. Tercatat sudah 51 perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan jumlah dana tergalang Rp 45,1 triliun secara year to date hingga 27 Juli 2023. Penggalangan dana tersebut jauh melampaui nilai penggalangan dana sepanjang 2022 yang tercatat Rp33,03 triliun dengan jumlah IPO sebanyak 65 perusahaan. Jumlah emiten baru tahun ini juga berpeluang lebih tinggi dari tahun 2022, saat ini setidaknya terdapat 43 perusahaan yang sedang dalam antrian (pipeline) IPO. Dengan begitu dapat dipastikan pula target listing saham baru yag dipatok BEI sebanyak 57 emiten tahun ini bakal terlampaui. (Yetede)


Saham Emiten Energi Masih Bertaji

HR1 28 Jul 2023 Kontan

Harga komoditas energi belum juga menunjukkan taji di sepanjang tahun 2023 berjalan. Tercermin dari penurunan harga komoditas energi seperti batubara dan minyak yang mulai terbatas di pertengahan 2023. Contohnya batubara. Pada Rabu (27/7), harga batubara ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman Desember 2023 berada di level US$ 160,20 per ton. Harga ini hanya turun tipis 0,87% dibandingkan hari sebelumnya. Sedangkan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak September 2023 justru menguat 0,88% menjadi US$ 79,47 per barel. Stabilnya harga komoditas energi dinilai bakal jadi sentimen positif bagi pergerakan saham-saham emiten di sektor ini. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menilai, secara teknikal, kinerja saham sektor energi sedang dalam fase uptrend sejak awal Juni 2023. Meski begitu, analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan mengingatkan, kinerja emiten energi masih dibayangi penurunan harga komoditas. Sejumlah faktor akan jadi pemberat kenaikan harga batubara. Pertama, proyeksi perlambatan ekonomi global. Kedua, stok batubara di berbagai negara saat ini berada pada level yang relatif aman. Ketiga, peningkatan produksi batubara dan membaiknya hubungan bilateral antara Australia dan China.

Menyisir Saham-Saham Legendaris yang Laris

HR1 28 Jul 2023 Kontan (H)

Bagi investor yang sudah lama berkecimpung di dunia investasi saham, boleh jadi,  mengenal betul sejumlah saham emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sempat melegenda di benak investor ritel Tanah Air. Tak hanya kerap membuat investor bahagia karena bisa mengail cuan besar dari berinvestasi di saham ini, saham emiten yang dianggap legendaris ini juga acap menimbulkan kecewa investor lantaran harga sahamnya tak stabil. Nah, salah satu saham emiten yang dinilai legendaris di bursa saham adalah saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Saham emiten Grup Bakrie ini punya sejarah panjang di bursa saham Indonesia. Saham BUMI pertama kali tercatat di BEI pada 30 Juli 1990. Head of Investment Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe menilai, beberapa emiten yang dianggap legendaris berasal dari sektor perbankan, terutama bank big four. Alasannya. emiten bank ini selalu mencetak profit tinggi. "Ini membuktikan resilient baik. Sehingga kinerja di luar masa pandemi akan lebih baik lagi, termasuk tahun ini," ujar Kiswoyo, kepada KONTAN, Kamis (27/7). Selain perbankan, saham emiten di sektor konsumer juga punya kinerja kinclong. Misalnya, INDF dan ICBP. Kedua emiten grup Salim ini merupakan raja industri konsumer, terutama di segmen bisnis mi instan. Mereka juga memiliki kebun sawit. Jadi, hampir dari hulu ke hilir ada bisnis yang menunjang produksi. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Martha Christina menimpali, saham emiten konsumer berpotensi jadi buruan investor karena sifatnya yang defensif. Dia melihat, saham MYOR dan ICBP masih sangat menarik dilirik. Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian mengingatkan, meski kinerja keuangan emiten moncer, belum ada jaminan, sahamnya  terus melaju. Setiap saham pasti akan mengalami koreksi setiap tahun.

Harga Komoditas Setir Harga Saham

HR1 26 Jul 2023 Kontan

Anomali terjadi pada indeks saham IDX Value30 (IDXV30). Lihat saja, di tengah tren penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), gerak indeks saham IDXV30 justru merosot. Kemarin, Selasa (25/7), indeks saham Value30 turun 0,76% dibanding hari sebelumnya. Jika diakumulasi sejak awal tahun 2023, kinerja indeks saham IDXV30 sudah longsor 5,99% di posisi 139,84. Pelemahan IDXV30 hanya kalah dari Jakarta Islamic Index yang ambles 6,33% secara year to date (YTD). Meski begitu, IDXV30 sempat melonjak paling tinggi di antara indeks lain, dengan kenaikan 1,28% pada awal pekan ini, Senin (24/7). Sejumlah faktor menjadi pemicu jebloknya kinerja indeks yang dihuni 30 saham emiten ini. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina mengamati, dengan porsi dominan dalam pembobotan indeks, laju saham emiten energi dan komoditas menyetir arah kinerja saham IDXV30. Tapi, ada juga saham yang punya kinerja ciamik dan menempati jajaran top gainer IDXV30, yakni DOID, ELSA, dan MEDC. Sedangkan saham jawara di IDXV30 adalah PT Gudang Garam Tbk (GGRM), yang mengalami lonjakan harga 57,78% di sepanjang tahun berjalan ini. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menilai, saham emiten energi mendominasi IDXV30. Sebab, secara valuasi masih terbilang murah dengan price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) yang cukup rendah. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menambahkan, secara teknikal pergerakan IDXV30 sedang berada di fase uptrend dalam jangka menengah. Hanya saja, secara jangka pendek akan rawan terkoreksi terlebih dulu.

Indeks Saham Kembali Menuju Jalur 7.000

HR1 26 Jul 2023 Kontan (H)

Sesuai ekspektasi pasar, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan di level 5,75%. Keputusan itu ditetapkan bank sentral dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar pada Senin (24/7) hingga Selasa (25/7) kemarin. Kini, para pelaku pasar masih tinggal menanti arah suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS). Pada hari ini hingga besok, bank sentral AS atau  The Federal Reserve (The Fed) bakal menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Pelaku pasar memperkirakan,  The Fed masih menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5,25%-5,5%. Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan menilai, The Fed masih menaikkan federal fund rate (FFR) satu kali lagi sebesar 25 bps di September 2023. Pasalnya, The Fed masih mengejar target inflasi di level 2%. Bank sentral Eropa alias European Central Bank (ECB) juga berpeluang mengambil sikap serupa The Fed. Analis Saham Rakyat by Samuel Sekuritas, Billy Halomoan menganalis, jika The Fed jadi mengerek suku bunga ke level 5,5%, maka selisih dengan suku bunga BI hanya tersisa 0,25% atau 25 bps. Dus, BI perlu menjaga arus capital outflow agar tidak deras mengalir keluar. Head of Research Center Mirae Asset Sekuritas, Roger MM, mengingatkan arah suku bunga acuan BI dan The Fed akan menentukan pergerakan pasar. Arah IHSG dan rupiah. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi melihat, jika The Fed masih menaikkan suku bunga, maka imbal hasil alias yield US Treasury masih bergerak sideways dalam rentang yang terbatas.

Pilihan Editor