;
Tags

Saham

( 1722 )

Kinerja Solid, BRI Jadi Bank Terbesar di Indonesia versi Fortune Indonesia 100

KT1 14 Aug 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA-Kinerja terbaik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus diapresiasi oleh berbagai lembaga, baik nasional maupun internasional. Terbaru, Fortune kembali merilis deretan perusahaan besar di Indonesia bertajuk Fortune Indonesia 100. Peringkat tersebut berdasarkan empat hal, diantaranya adalah nilai pendapatan, laba, asset, dan ekuitas perusahaan pada 2022. Terkait hal ini, BRI menjadi perusahaan dari industri perbankan yang menduduki posisi tertinggi diantara bank lainnya, sedangkan dari seluruh industri BRI menempati peringkat 4. Sebagai bank terbesar di Indonesia, tercatat pendapatan BRI mencapai Rp 208,1 triliun pda tahun 2022. Selain pendapatan, data yang di release Fortune juga menampilkan laba BRI sepanjang 2022 sebesar Rp51,7 triliun, dengan aset mencapai Rp1.865 triliun, dan ekuitas mencapai Rp299,2 triliun. Dari sisi kerja harga saham, pada penutupan perdagangan  Jumat (11/08) BBRI telah berada di level Rp 5.650, atau telah meningkat 14,37% apabila dibandingkan dengan penutupan  harga tahun 2022 lalu. (Yetede)

MSCI Kocok Ulang Small Cap Index

KT3 12 Aug 2023 Kontan

Morgan Stanley Capital International (MSCI) melakukan penyesuaian atau rebalancing terhadap para penghuni indeksnya. Susunan anyar ini akan berlaku 1 September 2023. Dalam rebalancing minor ini, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) bergabung ke dalam MSCI Small Caps Index. Ketiganya menggeser posisi PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX), PT Temas Tbk (TMAS), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Masuknya AUTO tak lepas dari kinerja anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) itu. Laba bersihnya per Juni 2023 sebesar Rp 801,55 miliar, melesat 85,33 % dibandingkan periode sama tahun lalu.  (Yoga)


Harapan Emiten Kimia di Domestik

HR1 11 Aug 2023 Kontan

Emiten industri kimia mencetak kinerja yang bervariasi pada separuh pertama tahun ini. Harga komoditas yang melandai membawa sentimen berbeda pada emiten industri kimia. Tengok kinerja PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang bisa memperbaiki kinerja bottom line, meski top line mengalami koreksi. Pendapatan TPIA menyusut 19,54% secara tahunan alias year on year (yoy) menjadi US$ 1,07 miliar. Hanya saja, emiten petrokimia anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini mengais berkah dari penurunan harga minyak mentah. Sehingga secara bottom line, TPIA memangkas rugi bersih signifikan dari US$ 64,62 juta menjadi US$ 586.000 per semester I-2023. Direktur SDM & Urusan Korporat TPIA, Suryandi mengatakan ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi akan rentan membawa volatilitas yang berlanjut di sisa tahun ini. Dus, permintaan di pasar domestik masih menjadi penentu. Suryandi meyakini, permintaan domestik akan jadi penopang lantaran produk TPIA menyokong sektor industri lainnya seperti otomotif, mesin, elektronika, konstruksi dan aplikasi rumah tangga. Analis Ekuator Swarna Sekuritas, David Sutyanto memperkirakan level pertumbuhan kinerja emiten kimia masih akan terbatas. David mempertimbangkan kondisi makro ekonomi dan posisi industri kimia sebagai sektor bahan baku untuk mendukung industri lainnya. Research Analyst Erdikha Elit Sekuritas Ika Baby Fransiska menambahkan, kinerja ekspor industri kimia dasar memang sedang tertekan. Ika memprediksi pelemahan ini masih belum pulih pada semester II-2023 di tengah penurunan permintaan global.

TOWR Menggelar Ekspansi Fiber Optik

HR1 10 Aug 2023 Kontan

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mengambil peluang dari potensi bisnis serat optik yang tengah berkembang pesat. TOWR akan menggeber pembangunan fiber optik hingga 2024 mendatang. Wakil Direktur Utama Sarana Menara Nusantara Tbk, Adam Gifari mengatakan, saat ini industri telekomunikasi lebih membutuhkan fiber optik ketimbang menara. "Kami akan belanjakan modal sebesar Rp 3 triliun untuk fiber optik di 2023 sampai 2024," kata Adam, Rabu (9/8). Per Juni 2023, jaringan optik dari segmen fiber to the tower (FTTT) entitas Grup Djarum ini mencapai 172.593 kilometer (km). Nilai tersebut meningkat 80,9% secara tahunan atau year on year (yoy). Gencarnya pembangunan aset fiber optik itu sejalan dengan serapan belanja modal (capex) TOWR. Jika dicermati, alokasi capex untuk lini di luar menara semakin gemuk. Di sisi lain, kinerja TOWR masih tertekan. Sepanjang semester I-2023 laba bersih TOWR mencapai Rp 1,55 triliun, turun 7,8% yoy. Padahal pendapatan TOWR masih tumbuh 8,65% secara tahunan menjadi Rp 5,77 triliun. Equity Research Analyst Sucor Sekuritas, Christofer Kojongian memperkirakan, pendapatan TOWR dari segmen fiber optik akan tumbuh 30% dan pendapatan konektivitas naik 20% sepanjang 2023. Harapannya, kontribusi bisnis non-menara bisa mencapai 26% di tahun ini. Sucor Sekuritas menyematkan rekomendasi beli TOWR dengan target Rp 1.600 per saham.

Target Emiten Baru BEI Terlampaui

KT3 09 Aug 2023 Kompas

Empat emiten baru secara bersamaan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (8/8/2023). Dengan demikian, ada 59 emiten baru yang tercatat di BEI melalui penjualan saham perdana. Jumlah itu melampaui target 57 emiten baru untuk tahun ini. Direktur BEI I Gede Nyoman Yetna mengingatkan, harapan-harapan para investor harus diperhatikan emiten. (Yoga)

Empat Emiten Baru Penghuni Bursa

HR1 09 Aug 2023 Kontan

Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan empat emiten baru, Selasa (8/8). Mereka adalah PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), PT ITSEC Asia Tbk (CYBR), PT Paperocks Indonesia Tbk (PPRI), dan PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA). Pada debut perdananya, saham-saham baru ini bergerak bervariasi. Pada pembukaan awal perdagangan saham, keempat saham ini kompak menguat. Namun, di akhir perdagangan saham kemarin, hanya saham ERAL dan CYBR yang bertahan di zona hijau. Saham ERAL dibuka naik 9,23% ke level Rp 426 dari harga penawaran awal Rp 390 per saham. Kemudian, saham ERAL cenderung bergerak turun dan ditutup dengan kenaikan yang lebih tipis, sebesar 3,08%. Sedangkan saham CYBR melesat ke batas atas auto rejection (ARA) dan tetap ditutup dengan kenaikan 35% ke harga Rp 135 per saham. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, prospek keempat saham ini akan kembali ke prospek fundamental masing-masing. Keempat saham yang sudah melantai di BEI menjadikan total emiten baru di bursa pada tahun 2022 sudah mencapai capaian tahun lalu, yakni 59 emiten. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, pada pekan ini saja, ada tujuh perusahaan baru yang melantai di bursa.

KOKOK Emiten Ayam Semakin Pelan

HR1 09 Aug 2023 Kontan

Nyaring kokok emiten unggas (poultry) nampaknya masih tersendat. Hal ini nampak dari kinerja sejumlah emiten ternak unggas sepanjang semester pertama 2023. Teranyar, kinerja PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) terjun bebas sepanjang semester pertama 2023. Emiten unggas ini hanya membukukan laba bersih senilai Rp 81,97 miliar pada enam bulan pertama 2023. Realisasi ini merosot 92,62% dari laba bersih yang dibukukan pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 1,11 triliun Penurunan pendapatan ini sejalan dengan penurunan pendapatan. Konstituen Indeks Kompas100 ini membukukan pendapatan Rp 24,15 triliun, menurun 1,3% dari pendapatan di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 24,48 triliun. Menyusul JPFA, ada PT Charoen Pokphand Tbk (CPIN) yang laba bersihnya merosot 43% menjadi Rp1,37 triliun dari sebelumnya Rp 2,41 triliun. Nasib PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) malah lebih parah. MAIN mencatatkan rugi bersih atau rugi tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 130,60 miliar. Rugi bersih ini membengkak 96,15% secara tahunan jika dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang hanya Rp 66,58 miliar. Melihat hasil tesebut, analis Ciptadana Sekuritas Asia, Muhammad Gibran memperkirakan, kenaikan harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) produk pakan tidak akan berdampak signifikan terhadap volume penjualan emiten. Sementara itu, analis Indo Premier Sekuritas, Andrianto Saputra menilai, dari sisi permintaan, konsumsi per kapita unggas nasional belum pulih ke tingkat sebelum pandemi.

IPO Membludak Target BEI Terlampaui

KT1 09 Aug 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Aktivitas penawaran umum perdana (Initial public offering) saham membludak sepanjang 2023. Hingga kemarin,  jumlah IPO sudah mencapai 59, melampaui target Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini sebanyak 57 dan menyamai torehan tahunan lalu. Jumlah ini diyakini  terus bertambah sampai akhir tahun. Sebab, sebanyak 34 perusahaan antre menggelar IPO sepanjang Agustus-Desember 2023 dan sudah masuk pipeline BEI. Maka tak heran, jika BEI menyebut IPO tahun 2023 akan memecahkan rekor sepanjang sejarah. Analis menilai, IPO kini menjadi primadona perusahaan untuk mencari pendanaan. Sebab, proses IPO lebih mudah ketimbang penerbitan obliasi. Alhasil, terjadi booming IPO tahun ini. Bahkan, per Juni 2023, nilai IPO di Indonesia menjadi terbesar di Asia Tenggara dan nomor empat dunia. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I gede Nyoman Yetna mengatakan, tahun ini, BEI menargetkan pencataran 200 intrusmen baru di bursa, terdiri atas saham, obligasi, waran terstruktur, kontak investasi real estat (KIK), dana investasi real estat (DIRE), dana investasi infrastruktur (Dinfra), exchange traded fund (ETF) dan efek beragun aset (EBA). (Yetede)

MOMEN HARBOLNAS 8.8 : LOKAPASAR PANTIK EMITEN TEKNOLOGI

HR1 09 Aug 2023 Bisnis Indonesia

Momen belanja online yang makin semarak pada semester kedua berpotensi mendongkrak kontribusi segmen marketplace terhadap kinerja pendapatan emiten-emiten teknologi, seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA), dan PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) atau Blibli. Deputy Head of Research Sucor Sekuritas Paulus Jimmy mengatakan bahwa kontribusi segmen bisnis lokapasar ke pendapatan emiten-emiten teknologi berpotensi makin meningkat pada semester II/2023. “Hal itu didorong oleh proses monetisasi bisnis yang terus berjalan,” kata Jimmy kepada Bisnis, Selasa (8/8). Jimmy menuturkan performa keuangan BUKA pada semester I/2023 cukup baik. Realisasi itu membuka peluang bagi BUKA untuk mencapai target EBITDA yang disesuaikan pada kuartal IV/2023 sudah bisa mencapai titik impas atau breakevent. Berdasarkan laporan keuangan semester I/2023, pendapatan bersih BUKA meningkat 28,97% secara tahunan menjadi Rp2,18 triliun dari Rp1,69 triliun pada semester I/2022. Berdasarkan segmennya, pendapatan BUKA ditopang oleh segmen marketplace yang berkontribusi Rp1,2 triliun, diikuti segmen online to offline sebesar Rp1,03 triliun, dan pengadaan sebesar Rp10,56 miliar. Sementara itu, BELI membukukan peningkatan pendapatan bersih menjadi Rp7,77 triliun. Pendapatan ini naik 15,85% year-on-year (YoY) dari Rp6,71 triliun. CFO BELI Ronald Winardi menuturkan sepanjang kuartal II/2023, pihaknya berfokus pada penyelarasan bauran kategori produk di segmen Ritel 1P & Ritel 3P untuk mempercepat optimalisasi perolehan laba bruto BELI. Direktur Utama Sinar Eka Selaras Djohan Sutanto mengatakan ERAL atau Erajaya Active Lifestyle (EAL) selalu berpartisipasi dalam program-program yang ditawarkan platform e-commerce. Keikutsertaan ini sekaligus melengkapi strategi ERAL di kanal daring.

Emiten Mengebut Serapan Belanja Modal

HR1 08 Aug 2023 Kontan

Penyerapan belanja modal alias capital expenditure (capex) sejumlah emiten LQ45 masih bernilai minim. Meski demikian, emiten masih meyakini belanja modal dapat terserap di sisa tahun ini. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) misalnya, baru menyerap capex sebesar Rp 363 miliar per akhir Juni 2023. Nilai itu belum sampai separuh dari target capex yang dianggarkan tahun ini sebesar Rp 1,2 triliun. Sekretaris Perusahaan INTP Dani Handajani mengatakan, penggunaan capex akan digenjot pada semester kedua, terutama untuk perbaikan dan pemeliharaan operasional bisnis INTP. Sedangkan emiten pertambangan, menyiapkan capex lebih jumbo tahun ini. PT Indika Energy Tbk (INDY) mencatat realisasi belanja modal sebesar US$ 70,9 juta. Rinciannya, US$ 5,7 juta digunakan untuk Indika Indonesia Resources, lalu US$ 3,4 juta untuk Kideco Jaya Agung. Vice President Director dan Group CEO INDY Azis Armand mengatakan, selain mendorong ESG, INDY juga memperkuat diversifikasi di sektor nonbatubara , termasuk bisnis energi baru dan terbarukan, kendaraan listrik, dan nature-based solutions. Tahun ini, INDY menganggarkan belanja modal US$ 302,4 juta. Sedangkan PT United Tractors Tbk (UNTR) berhasil menyerap capex sebesar US$ 600 juta. Realisasi ini setara dengan 50% dari anggaran capex 2023 sebesar US$ 1,2 miliar. Sementara untuk growth capital, sebagian besar belanja modal adalah untuk keperluan akuisisi lahan dan sebagian lagi untuk pengerjaan awal proyek pabrik smelter.

Pilihan Editor