Saham
( 1722 )Lebih Aman dan Cuan dengan Big Caps
Sejumlah sentimen eksternal cukup mendominasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Saham-saham berkapitalisasi pasar besar atau
big caps
bisa menjadi pilihan investasi di sisa tahun ini. Equity Research Analyst
Phintraco Sekuritas, Rio Febrian mengatakan, salah satu sentimen yang masih menjadi perhatian pasar adalah kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve.
Jika pada FOMC 1920 September 2023 nanti The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 bps, maka tingkat
fed rate
akan sama besar dengan BI 7-day reverse repo rate
di 5,75%.
Di tengah tekanan yang ada, saham-saham
big cap
yang tahan banting bisa menjadi pilihan. Apalagi sejak berlakunya ketetapan
auto rejection
simetris, risiko investor semakin tinggi.
Setali tiga uang,
Head of Investment Information
Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina menjelaskan, saham
big caps
bisa dilirik, tapi akan lebih baik investor menunggu harga sahamnya terkoreksi dahulu.
Yang perlu dicermati juga, beberapa saham
big caps
sudah memiliki valuasi mahal. Contohnya, saham-saham perbankan besar, seperti PT BBCA, BBRI, BMRI dan BBCA. Kendati begitu, bukan berarti saham-saham ini tak layak beli.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto mengatakan, valuasi saham perbankan sudah di atas rata-rata valuasi lima tahun.
Berharap Kenaikan Volume Batubara
Pemulihan ekonomi global yang diiringi kekhawatiran resesi ekonomi yang makin mereda, akan menjadi sentimen positif pada permintaan batubara. Kondisi ini akan menguntungkan emiten batubara, termasuk PT Harum Energy Tbk (HRUM).
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan dan Abyan H Yuntoharjo mengatakan, kinerja HRUM pada semester I-2023 masih di atas ekspektasi. Sepanjang Januari-Juni 2023, pendapatan HRUM meningkat 30,4% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi US$ 492 juta.
Realisasi tersebut setara dengan 50,8% dari proyeksi pendapatan HRUM hasil kalkulasi Mirae Asset Sekuritas untuk setahun penuh tahun ini dan 67,3% dari proyeksi konsensus. Kenaikan pendapatan ini didorong oleh pendapatan kuartal I-2023 yang lebih tinggi secara tahunan karena penundaan penjualan dari kuartal IV-2022.
Sepanjang separuh pertama 2023, volume penjualan batubara HRUM melonjak 71,8% yoy menjadi 1,8 juta ton. Kenaikan volume penjualan ini menjadi penopang pendapatan HRUM. Sebab pada dasarnya harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) HRUM merosot 23,4% yoy menjadi US$ 136 per ton.
Terkait operasi nikel, produksi nickel pig iron (NPI) di smelter pertama milik HRUM di perusahaan asosiasinya, PT Infei Metal Industry (IMI), mencapai 89.000 ton pada separuh pertama 2023 atau meningkat 26,3% yoy.
"Produksi komersial diperkirakan akan dimulai secara bertahap pada kuartal IV-2023. WMI akan memiliki empat lini smelter RKEF dengan kapasitas produksi hingga 56.000 ton logam nikel setiap tahun dalam bentuk NPI dan nikel matte bermutu tinggi," tulis kedua analis Mirae Asset Sekuritas tersebut, dalam riset 4 Agustus 2023.
Sementara Analis Sinarmas Sekuritas Axel Leonardo menaikkan estimasi laba bersih HRUM untuk setahun penuh 2023 setelah melihat hasil kinerja kuartal II. Axel mengerek estimasi laba bersih HRUM sebesar 11% menjadi US$ 224 juta untuk 2023 dan 8% menjadi US$ 298 juta untuk tahun 2024.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta melihat permintaan batubara akan relatif membaik di semester II-2023 mengingat pemulihan ekonomi global telah terjadi. Secara teknikal, HRUM dalam keadaan uptrend, namun indikator RSI sudah berada di area overbought. Ia menargetkan harga saham HRUM di posisi Rp 1.870 per saham.
INTA Bidik Penjualan Alat Berat Rp 809,6 Miliar
PT Intraco Penta Tbk (INTA) berharap bisa mengantongi nilai penjualan alat berat sebesar Rp 809,60 miliar hingga akhir tahun ini. Target itu menimbang tingginya permintaan dari sektor pertambangan.
Per semester I-2023, INTA membukukan penjualan alat-alat berat senilai Rp 283,10 miliar. Nilai penjualan alat berat INTA tersebut naik 68,4% dari penjualan semester I-2022 yang hanya Rp 168,14 miliar. Astri Duhita Sari, Sekretaris Perusahaan INTA mengatakan, nilai penjualan ini setara dengan 206 unit alat berat.
Astri bilang, peningkatan penjualan alat berat INTA didorong oleh tingginya permintaan dari industri pertambangan baik batubara, nikel, dan emas.
Melihat target penjualan alat berat itu, INTA meyakini bisa mencetak pendapatan sebesar Rp 1,2 triliun. "Target belum kami revisi. Kami masih mengupayakan dengan memonitor ketat perkembangan di pasar alat berat," sambung Astri.
Untuk menggapai target itu, INTA akan melakukan penetrasi pasar secara intensif sekaligus menggandeng prinsipal. Tahun ini, INTA menyiapkan belanja modal alias
capital expenditure
(capex) sebesar Rp 84 miliar.
Di bidang jasa, INTA membukukan pendapatan dari segmen jasa perbaikan senilai Rp 4,78 miliar, dan jasa persewaan sebesar Rp 45,3 miliar. INTA juga membukukan pendapatan dari segmen manufaktur senilai Rp 2,06 miliar.
Menadah Saham Yang Dibuang Asing
Beberapa investor asing terpantau mulai berkemas-kemas dari bursa saham Indonesia. Mereka bersiap mengantisipasi keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) pada pekan depan.
Memang pada Senin (11/9), asing tercatat melakukan aksi beli bersih alias net buy senilai Rp 891,37 miliar. Namun sepanjang tahun 2023, investor asing mencetak net sell sebesar Rp 1,39 triliun.
Padahal sampai dengan Juli 2023, investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp 18,92 triliun. Sejak Agustus 2023, investor asing mulai terendus melakukan aksi jual.
Equity and Economics Analyst
KGI Sekuritas, Rovandi menjelaskan aksi penjualan oleh asing karena The Fed berpotensi menaikkan suku bunga sampai 5,75%.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, kalau The Fed menaikkan suku bunga, investasi di Amerika akan lebih menarik.
"Imbal hasil SUN juga akan mengalami penurunan, sehingga harga obligasi kian murah. Ini menjadi sebuah kesempatan bagi asing untuk melirik pasar obligasi," ucap dia.
Rovandi menilai, agar bisa kembali memanggil investor asing yang sudah pergi, kenaikan suku bunga BI menjadi salah satu jalan yang bisa ditempuh.
Investor asing terpantau tercatat melakukan
net sell
terbesar pada TLKM sebesar Rp 2,3 triliun sepanjang 2023. Ini turut menekan harga TLKM 1,33%
year to date
(ytd) ke level Rp 3.700.
Ruang Penguatan Otot IHSG Mulai Teratas
Ruang penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemungkinan tak terlalu besar lagi. Pergerakan IHSG cenderung terbatas akibat sejumlah sentimen eksternal dan internal.
Sejumlah sekuritas memangkas target IHSG hingga akhir tahun ini. Ciptadana Sekuritas misalnya, menurunkan target IHSG akhir tahun 2023 dari semula 7.500 menjadi 7.200. Target ini mencerminkan
price to earnings ratio
(PER) IHSG sebesar 12,6 kali dari sebelumnya 13,2 kali.
Saat ini, IHSG diperdagangkan pada PER 11,8 kali, berada di batas bawah kisaran valuasi indeks di Asia Tenggara yaitu 10,8 kali sampai 14,9 kali. Kepala Riset Ciptadana Sekuritas, Arief Budiman menilai, ketidakpastian pasar yang lebih tinggi telah memperburuk ekspektasi investor terhadap valuasi emiten dan mengurangi partisipasi investor di pasar saham.
Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve dan situasi politik dalam negeri memberatkan psikologis investor, yang pada akhirnya membebani kinerja pasar saham.
Mandiri Sekuritas bahkan memangkas target IHSG dari 7.510 menjadi 7.180. Dengan kata lain, IHSG hanya naik 3,6% dari level saat ini.
Samuel Sekuritas Indonesia merevisi proyeksi IHSG di akhir 2023 dari semula 7.600 menjadi 7.300. Kepala Riset Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi mengatakan, revisi ini seiring dengan penurunan target PER IHSG menjadi 14 kali akibat peningkatan premi risiko ekuitas.
Sedangkan Andrey Wijaya, Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia, mempertahankan target IHSG di level 7.450. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi akan lebih cepat di semester kedua, sehingga akan mempercepat pertumbuhan laba bersih emiten.
Sentimen Negatif Bayangi Pergerakan IHSG Pekan Ini
JAKARTA,ID-Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini akan diselimuti awan hitam, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap perekomian Amerika Serikat (AS) yang masih belum stabil, kenaikan inflasi, dan peningkatan harga minyak dunia. Pada pekan ini, IHSG diperkirakan bergerak terbatas dengan kisaran support 6.865 dan resistance 7.050, dari posisi penutupan Jumat (6/9/2023) di level 6.24. CEO Edvisor.id Praska Putrantyo mengatakn, IHSG masih berpeluang menguat meski terbatas karena banyaknya sentimen negatif dari luar. Sepanjang pekan ini, IHSG diproyeksikan sulit melewati 7.000 akibat sentimen dari perekonomian AS yang masih belum stabil dan perlambatan laju inflasi Tiongkok hingga level 0,1% per Agustus 2023. Para pelaku pasar juga masih menanti rilis inflasi tahunan AS yang diproyeksikan kembali naik 3,4%. "Sentimen perlambatan ekonomi Tiongkok dan estimasi GDP Uni Eropa yang melemah di kuartal III-2023 membuat investor kembali wait and see, ditambah lagi kurs nilai tukar rupiah masih cenderung melemah terhadap dolar AS. Peluang kenaikan lanjutan suku bunga The Fed juga menjadi katalis pemberat IHSG untuk mencoba bertahan diatas level 7.000, di samping aksi jual investor asing di akhir pekan kemarin yang mencapai Rp1,11 triliun" kata Praska kepada Investor Daily di Jakarta, Sabtu (9/9/2023). (Yetede)
Menunggu Koreksi Saham Energi
JAKARTA – Indeks saham di sektor energi, IDXEnergy, menguat karena terimbas kenaikan harga minyak mentah dunia. Sentimen positif masih akan menyelubungi sektor tersebut, tapi investor perlu waspada. PT Bursa Efek Indonesia mencatat IDXEnergy menguat 10,71 persen sepanjang Juli 2023, tertinggi di antara jajaran indeks lainnya. Penguatan indeks tersebut masih berlangsung hingga perdagangan akhir pekan lalu. Pada periode 4-8 September 2023, indeks ini naik 2,26 persen.
Kepala Riset Samuel Sekuritas, Suria Dharma, mengatakan penguatan sektor energi didorong keputusan Arab Saudi serta anggota lain Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC memangkas sukarela pasokan minyak mentah mereka pada Juli lalu. Arab Saudi memotong produksinya sebesar 1 juta barel per hari, sementara Rusia mengurangi 300 ribu barel per hari. Jumlahnya melebihi kesepakatan anggota OPEC sebelumnya. "Cadangan minyak Amerika juga dikabarkan menurun," tutur Suria kepada Tempo, kemarin, 10 September 2023.
Kebijakan tersebut membuat harga minyak mentah, baik West Texas Intermediate (WTI) maupun Brent, terus naik. Hingga pekan lalu, Brent menyentuh US$ 90 per barel untuk pertama kali sejak 16 November 2022. Menurut Suria, emiten minyak yang mendapat sentimen positif dari kondisi tersebut adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). "MEDC juga diuntungkan karena investasinya di AMMN, yang harganya sudah naik berkali-lipat dari IPO," tuturnya. (Yetede)
Manuver China, Saham Teknologi AS Rontok
Saham Apple, Qualcomm, TSMC, dan ASML terus terpangkas dalam beberapa waktu terakhir. Kabar larangan penggunaan ponsel Apple kepada seluruh pegawai pemerintah dan badan usaha milik negara China menjatuhkan nilai pasar Apple. Sementara penjualan ponsel terbaru Huawei memangkas saham perusahaan teknologi lainnya. Pada penutupan perdagangan Kamis (7/9) sore waktu New York, AS, atau Jumat pagi WIB, akumulasi penurunan saham Apple menyentuh 7 %, sehingga nilai pasar Apple berkurang 200 miliar USD.
Penurunan menyusul kabar China akan melarang penggunaan Apple pada seluruh pegawai pemerintah dan BUMN. Dalam laporan The Wall Street Journal dan Bloomberg disebutkan, Beijing melarang ponsel dan aneka produk Apple dibawa ke kantor atau dijadikan alat kerja. Larangan berlaku bagi pegawai pemerintah, BUMN, dan lembaga lain yang didanai APBN. Bersama Taiwan dan Hong Kong, China menyumbang 400 miliar USD pendapatan Apple. Pada triwulan II-2023, China menyumbangkan 15,7 miliar USD ke kantong Apple. Analis pada Bernstein Research, Toni Sacconaghi, mengatakan, larangan itu sebenarnya hanya akan memangkas 5 % penjualan Apple. Masalahnya, ada kekhawatiran larangan itu tidak berhenti di pegawai pemerintah dan BUMN. Bisa jadi, larangan itu akan mendorong warga China memprioritaskan penggunaan ponsel dalam negeri. (Yoga)
GAIRAH BURSA MEREKAH
Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menarik minat sejumlah perusahaan melantai di pasar modal. Dalam bulan ini, dapat dipastikan jumlah perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana (IPO) memecahkan rekor yang sudah tersemat selama lebih dari 3 dekade. Berdasarkan data BEI, sudah ada 65 emiten baru sepanjang tahun berjalan dengan total dana IPO mencapai Rp49,3 triliun. Adapun, rekor jumlah IPO terbanyak tercatat pada 1990 dengan 66 emiten yang melantai sepanjang tahun. Artinya, hanya butuh 2 emiten tambahan guna memecahkan rekor yang selama 33 tahun terakhir ini tak tersentuh. Menariknya, saat ini sudah ada dua perusahaan yang dalam proses bookbuilding yakni PT Kokoh Exa Nusantara Tbk. (KOCI) dan PT Lovina Beach Brewery Tbk. (STRK) sehingga jumlah IPO tahun ini segera pecah rekor pada bulan ini. BEI bahkan menyebut ada 25 saham yang sudah ada dalam antrean (pipeline) IPO, termasuk 2 emiten yang tengah bookbuilding. Apabila seluruhnya terealisasi, total emiten baru pada tahun ini bisa mencapai 90 emiten. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan di tengah tingginya tingkat suku bunga akibat inflasi, IPO merupakan salah satu alternatif pendanaan yang sering digunakan karena tingginya suku bunga pinjaman. Pasar IPO pun bakal semakin semarak seiring dengan kenaikan biaya dana (cost of fund) yang semakin tinggi. Hal ini tentu memberikan pilihan investasi yang semakin beragam bagi para investor di pasar modal. Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Djustini Septiana mengatakan pihaknya terus mendorong peningkatan kualitas emiten dari sisi kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, meningkatkan fungsi enforcement, dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik. “Perlu dipahami bahwa pada saat akan IPO, OJK memastikan agar informasi yang akan disampaikan ke publik dalam rangka IPO sudah cukup informatif bagi investor sebelum berinvestasi,” ujarnya, kemarin. Investment Analyst Infovesta Capital Advisory Fajar Dwi Alfian menyarankan kepada investor baru untuk memperhatikan rencana penggunaan dana IPO apakah alokasinya untuk kebutuhan belanja modal atau membayar utang. Selain itu, perhatikan juga prospek emiten apakah akan diuntungkan dengan kondisi ekonomi saat ini atau tidak.
Menadah Berkah dari Saham Bank Syariah
Pilihan saham bank syariah di bursa saham bakal bertambah. Akhir tahun ini, Bank Muamalat bakal ikut mencatatkan sahamnya di bursa saham.
Secara tidak langsung, masuknya Bank Muamalat di pasar saham memberikan sentimen pada saham-saham bank syariah. Selain rencana listing Bank Muamalat, industri bank syariah juga diramaikan rencana divestasi saham Bank Syariah Indonesia (BRIS).
Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) yang saat ini jadi pemegang saham BRIS akan mendivestasi saham bank ini. Aksi korporasi ini juga membuka pintu masuk bagi investor baru, yang konon adalah investor asing.
Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengakui BSI akan melakukan aksi korporasi. Ini ditandai dengan proses audit terhadap laporan keuangan. "Harus diaudit karena ada rencana divestasi. Pemegang saham yang divestasi, bukan kami,” ujar Hery, Rabu (6/9).
Dari empat emiten bank syariah yang saat ini ada di bursa saham, hanya saham BRIS yang masih mencatat pertumbuhan tahun ini. Harga BRIS berada di level Rp 1.640 pada penutupan perdagangan kemarin, naik 27,13% sejak awal tahun ini.
Sementara performa paling jeblok dicatat saham Bank BTPN Syariah (BTPS), yang terjun 29,21% sepanjang tahun ini. Saham Bank Aladin Syariah (BANK) juga turun 16,96%.
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian melihat rencana divestasi BRIS akan menambah kekuatannya untuk menyamai bank-bank konvensional. Alhasil, ini bisa mendorong performa sahamnya.
Associate Director of Research & Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus melihat, prospek perbankan syariah sejatinya bagus. Hanya saja, ia melihat bank-bank yang ada belum begitu berkembang. Baru BRIS dan BTPS yang sudah punya basis nasabah. "Target harga BRIS di Rp 1.900.” ujarnya.









