Saham
( 1717 )Menunggu Koreksi Saham Energi
JAKARTA – Indeks saham di sektor energi, IDXEnergy, menguat karena terimbas kenaikan harga minyak mentah dunia. Sentimen positif masih akan menyelubungi sektor tersebut, tapi investor perlu waspada. PT Bursa Efek Indonesia mencatat IDXEnergy menguat 10,71 persen sepanjang Juli 2023, tertinggi di antara jajaran indeks lainnya. Penguatan indeks tersebut masih berlangsung hingga perdagangan akhir pekan lalu. Pada periode 4-8 September 2023, indeks ini naik 2,26 persen.
Kepala Riset Samuel Sekuritas, Suria Dharma, mengatakan penguatan sektor energi didorong keputusan Arab Saudi serta anggota lain Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC memangkas sukarela pasokan minyak mentah mereka pada Juli lalu. Arab Saudi memotong produksinya sebesar 1 juta barel per hari, sementara Rusia mengurangi 300 ribu barel per hari. Jumlahnya melebihi kesepakatan anggota OPEC sebelumnya. "Cadangan minyak Amerika juga dikabarkan menurun," tutur Suria kepada Tempo, kemarin, 10 September 2023.
Kebijakan tersebut membuat harga minyak mentah, baik West Texas Intermediate (WTI) maupun Brent, terus naik. Hingga pekan lalu, Brent menyentuh US$ 90 per barel untuk pertama kali sejak 16 November 2022. Menurut Suria, emiten minyak yang mendapat sentimen positif dari kondisi tersebut adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). "MEDC juga diuntungkan karena investasinya di AMMN, yang harganya sudah naik berkali-lipat dari IPO," tuturnya. (Yetede)
Manuver China, Saham Teknologi AS Rontok
Saham Apple, Qualcomm, TSMC, dan ASML terus terpangkas dalam beberapa waktu terakhir. Kabar larangan penggunaan ponsel Apple kepada seluruh pegawai pemerintah dan badan usaha milik negara China menjatuhkan nilai pasar Apple. Sementara penjualan ponsel terbaru Huawei memangkas saham perusahaan teknologi lainnya. Pada penutupan perdagangan Kamis (7/9) sore waktu New York, AS, atau Jumat pagi WIB, akumulasi penurunan saham Apple menyentuh 7 %, sehingga nilai pasar Apple berkurang 200 miliar USD.
Penurunan menyusul kabar China akan melarang penggunaan Apple pada seluruh pegawai pemerintah dan BUMN. Dalam laporan The Wall Street Journal dan Bloomberg disebutkan, Beijing melarang ponsel dan aneka produk Apple dibawa ke kantor atau dijadikan alat kerja. Larangan berlaku bagi pegawai pemerintah, BUMN, dan lembaga lain yang didanai APBN. Bersama Taiwan dan Hong Kong, China menyumbang 400 miliar USD pendapatan Apple. Pada triwulan II-2023, China menyumbangkan 15,7 miliar USD ke kantong Apple. Analis pada Bernstein Research, Toni Sacconaghi, mengatakan, larangan itu sebenarnya hanya akan memangkas 5 % penjualan Apple. Masalahnya, ada kekhawatiran larangan itu tidak berhenti di pegawai pemerintah dan BUMN. Bisa jadi, larangan itu akan mendorong warga China memprioritaskan penggunaan ponsel dalam negeri. (Yoga)
GAIRAH BURSA MEREKAH
Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menarik minat sejumlah perusahaan melantai di pasar modal. Dalam bulan ini, dapat dipastikan jumlah perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana (IPO) memecahkan rekor yang sudah tersemat selama lebih dari 3 dekade. Berdasarkan data BEI, sudah ada 65 emiten baru sepanjang tahun berjalan dengan total dana IPO mencapai Rp49,3 triliun. Adapun, rekor jumlah IPO terbanyak tercatat pada 1990 dengan 66 emiten yang melantai sepanjang tahun. Artinya, hanya butuh 2 emiten tambahan guna memecahkan rekor yang selama 33 tahun terakhir ini tak tersentuh. Menariknya, saat ini sudah ada dua perusahaan yang dalam proses bookbuilding yakni PT Kokoh Exa Nusantara Tbk. (KOCI) dan PT Lovina Beach Brewery Tbk. (STRK) sehingga jumlah IPO tahun ini segera pecah rekor pada bulan ini. BEI bahkan menyebut ada 25 saham yang sudah ada dalam antrean (pipeline) IPO, termasuk 2 emiten yang tengah bookbuilding. Apabila seluruhnya terealisasi, total emiten baru pada tahun ini bisa mencapai 90 emiten. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan di tengah tingginya tingkat suku bunga akibat inflasi, IPO merupakan salah satu alternatif pendanaan yang sering digunakan karena tingginya suku bunga pinjaman. Pasar IPO pun bakal semakin semarak seiring dengan kenaikan biaya dana (cost of fund) yang semakin tinggi. Hal ini tentu memberikan pilihan investasi yang semakin beragam bagi para investor di pasar modal. Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Djustini Septiana mengatakan pihaknya terus mendorong peningkatan kualitas emiten dari sisi kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, meningkatkan fungsi enforcement, dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik. “Perlu dipahami bahwa pada saat akan IPO, OJK memastikan agar informasi yang akan disampaikan ke publik dalam rangka IPO sudah cukup informatif bagi investor sebelum berinvestasi,” ujarnya, kemarin. Investment Analyst Infovesta Capital Advisory Fajar Dwi Alfian menyarankan kepada investor baru untuk memperhatikan rencana penggunaan dana IPO apakah alokasinya untuk kebutuhan belanja modal atau membayar utang. Selain itu, perhatikan juga prospek emiten apakah akan diuntungkan dengan kondisi ekonomi saat ini atau tidak.
Menadah Berkah dari Saham Bank Syariah
Pilihan saham bank syariah di bursa saham bakal bertambah. Akhir tahun ini, Bank Muamalat bakal ikut mencatatkan sahamnya di bursa saham.
Secara tidak langsung, masuknya Bank Muamalat di pasar saham memberikan sentimen pada saham-saham bank syariah. Selain rencana listing Bank Muamalat, industri bank syariah juga diramaikan rencana divestasi saham Bank Syariah Indonesia (BRIS).
Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) yang saat ini jadi pemegang saham BRIS akan mendivestasi saham bank ini. Aksi korporasi ini juga membuka pintu masuk bagi investor baru, yang konon adalah investor asing.
Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengakui BSI akan melakukan aksi korporasi. Ini ditandai dengan proses audit terhadap laporan keuangan. "Harus diaudit karena ada rencana divestasi. Pemegang saham yang divestasi, bukan kami,” ujar Hery, Rabu (6/9).
Dari empat emiten bank syariah yang saat ini ada di bursa saham, hanya saham BRIS yang masih mencatat pertumbuhan tahun ini. Harga BRIS berada di level Rp 1.640 pada penutupan perdagangan kemarin, naik 27,13% sejak awal tahun ini.
Sementara performa paling jeblok dicatat saham Bank BTPN Syariah (BTPS), yang terjun 29,21% sepanjang tahun ini. Saham Bank Aladin Syariah (BANK) juga turun 16,96%.
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian melihat rencana divestasi BRIS akan menambah kekuatannya untuk menyamai bank-bank konvensional. Alhasil, ini bisa mendorong performa sahamnya.
Associate Director of Research & Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus melihat, prospek perbankan syariah sejatinya bagus. Hanya saja, ia melihat bank-bank yang ada belum begitu berkembang. Baru BRIS dan BTPS yang sudah punya basis nasabah. "Target harga BRIS di Rp 1.900.” ujarnya.
Harga Komoditas Melambung, IHSG Tembus 7.000
JAKARTA,ID-Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek jakarta (BEI) sempat menembus level psikologis 7.000 pada perdagangan Rabu (6/9/2023), ditopang melambungnya harga komoditas. Namun indeks akhirnya ditutup di level 6.995, seiring maraknya aksi profit taking ketika berada di level 7.044. Dalam jangka pendek, analis memprediksi IHSG menguji rentang area 7.025-7.070. Selain harga komoditas, indeks mendapatkan angin segar dari data perekonomian nasional yang sesuai ekspektasi pasar. "Secara teknikal, IHSG masih berpeluang menguat. Namun, demikian yang perlu diperhatikan, dalam jangka pendek penguatan IHSG akan cenderung terbatas untuk menguji rentang area 7.025-7.070," kata Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana kepada Investor Daily, Rabu (06/09/2023). "Dengan demikian, indeks dalam jangka pergerakan IHSG lebih cenderung limited upside dengan range antara 6961 hingga 7044 sehubungan dengan indikator RSI yang hampir menyentuh area overbought," jelasnya kepada Investor Daily. (Yetede)
Penjualan Bisa Ngebul Saat Pemilu
Emiten rokok bakal lebih ngebul menjelang musim kampanye pemilihan umum atau pemilu. Secara historis, permintaan rokok biasanya lebih tinggi pada tahun pemilu.
Hajatan politik itu katalis positif bagi kinerja PT Gudang Garam Tbk (GGRM) hingga akhir tahun 2023. Analis UOB Kay Hian Sekuritas, Stevanus Juanda mengatakan, secara historis, penjualan GGRM cenderung bertumbuh selama pemilu. Pada pemilu 1999 misalnya, penjualan GGRM naik 27,3% secara tahunan atau
year on year
(yoy).
Lalu, pada pemilu 2004, penjualan GGRM naik 5% yoy dan pada pemilu 2009 meningkat 9% yoy. Pada dua pemilu terakhir, GGRM mencetak pertumbuhan dobel
digit.
Rinciannya, penjualan GGRM naik 17,6% pada pemilu 2014 dan mendaki 15,5% pada pemilu tahun 2019 lalu.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama juga sepakat, penyelenggaraan pemilu di semester kedua ini bakal mengerek volume penjualan GGRM. Dari data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, produksi rokok pada tahun pemilu 2019 juta meningkat. "Ini menggambarkan saat pemilu daya beli masyarakat menguat," sambungnya. Hanya saja, GGRM dan perusahaan rokok besar terancam produk rokok yang harganya lebih murah.
RHB Sekuritas dalam riset 23 Agustus juga menilai, permintaan rokok mulai pulih dan bisa memicu pertumbuhan volume GGRM. Kinerja penjualan ini juga disebabkan menurunnya agresivitas GGRM dalam meningkatkan harga produk.
Di antara emiten rokok lainnya, RHB Sekuritas memilih GGRM sebagai saham pilihan teratas. Hal ini seiring dengan pulihnya margin dan kenaikan pangsa pasar di segmen sigaret kretek mesin (SKM).
Laba Emiten Bank Tembus Rp105 T, Saham Berpotensi Naik 20%
JAKARTA,ID-Emiten perbankan berhasil mencatatkan kinerja moncer selama tujuh bulan 2023 dengan raihan laba bersih mencapai Rp 105 triliun, atau tumbuh 18,7% dibanding periode sama tahun lalu. Kenaikan yang didorong penurunan biaya provisi ini, berpotensi berlanjut seiring likuiditas perbankan Indonesia yang masih cukup besar. Kondisi tersebut membuka peluang peningkatan harga sahamnya di lantai bursa dengan potensi kenaikan harga 20%. "Sejumlah bank yang kami pantau telah merilis kinerja bank-onlynya di Januari-September 2023, dengan laba bersih gabungan sebesar Rp105,6 triliun atau tumbuh 18,7% year on year (yoy)." kata Analis Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi, dan Brandon Boedhiman dalam riset yang dikutip Selasa (5/9/2023). Bank-bank tersebut membukukan angka kredit gabungan sebesar Rp4,0 triliun atau naik 0,9% yoy pada Juli kemarin. Likuiditas perbankan Indonesia juga masih cukup besar, dengan LDR gabungan sebanyak 83,5% pada Juli, dengan total simpanan gabungan mencapai Rp4,8 triliun. "Yang menarik, kami melihat adanya peningkatan performa BBNI setelah kuartal II-2023 yang cenderung lemah, didukung oleh ekspansi NII yang kuat, yang mendorong ekpansi NIM pada bulan Juli 2023," ujar Prasetya. (Yetede)
IHSG September Tertekan, Momentum Tepat Akumulasi Saham
JAKARTA,ID-Memasuki bulan September, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Saham Indonesia (BEI) akan dibayangi aksi ambil untung (profit taking) investor yang membuat pergerakannya cenderung tertekan. Kondisi ini bisa dimnafaatkan untuk mengakumulasi saham yang harganya sudah terdiskon. Sepanjang September, IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran support 6.750 dan resistance 70.30 dari penutupan tahun lalu di posisi 6.977. IHSG pada September 2023 berpotensi bergerak sideway cenderung melemah dalam kisaran 6.850-7.50. Jika IHSG mengalami koreksi, momentum tersebut bisa dijadikan peluang untuk akumulasi saham saat harga sedang terdiskon," kata financial expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih kepada Investor Daily, Minggu (3/9/2023). Ratih menyebutkan, katalis domestik dan global berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG pada September tahun ini. Dari domestik, sentimen yang dicermati pelaku pasar adalah inflasi tahunan yang tercatat pada Agustus 2023, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 3,08%. (Yetede)
Solusi Teknologi Bisnis Transportasi
Teknologi punya peran penting bagi berbagai bidang industri. Sehingga, banyak perusahaan yang berlomba-lomba berinovasi demi menghadirkan teknologi mutakhir. Salah satunya adalah PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk.
Emiten berkode saham TRON ini merupakan perusahaan ke-26 yang resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tahun 2023 ini. Perusahaan ini bergerak di bidang teknologi informasi. Direktur Utama Teknologi Karya Digital Nusa David Santoso mengatakan, awalnya TRON terjun di sektor transportasi. TRON menyediakan solusi manajemen transportasi yang fokus pada
safety and monitoring fleets.
David mengatakan, TRON memiliki lima pilar solusi dalam bidang teknologi informasi.
Pertama,
IoT smart fleet
yang menyediakan solusi sistem manajemen armada bus dan kereta api.
Kedua, layanan
business process outsourcing
(BPO). Di lini bisnis ini, TRON menyediakan jasa layanan sebagai operator dan
command center.
Ketiga,
bisnis
transport payment solutions
yang menyediakan sistem dan perangkat untuk fasilitas pembayaran non tunai.
Keempat, layanan
Software as a Service
(SaaS). Lalu
kelima, layanan
smart infrastructure technology.
Pada segmen ini, TRON memberikan sistem dan perangkat yang terintegrasi pada infrastruktur jalan.
TRON juga mengincar ekspansi di luar negeri. David ingin memperkenalkan solusi teknologi terkini miliki TRON ke pasar Asia Tenggara dan Afrika Timur.
Kinerja TRON sepanjang tahun ini masih positif. Per 31 Juni 2023, TRON mengantongi pendapatan sebesar Rp 114,1 miliar. Raihan itu melesat 291,45% secara tahunan atau
year on year
(yoy) dari Rp 29,14 miliar.
Pertamax Green Jadi Bahan Bakar Emiten Etanol
PT Pertamina berencana memasarkan bahan bakar minyak (BBM) berlabel Pertamax Green 92 serta Pertamax Green 95 pada tahun 2024. Nantinya Pertamax Green 92 menggunakan campuran 7% etanol, sedangkan Pertamax Green 95 lebih banyak lagi, sekitar 8% etanol.
Melihat rencana tersebut, emiten yang berbisnis etanol bergejolak. Melansir RTI, Kamis (31/8), harga PT Indo Acidatama Tbk (SRSN) naik 9,43% dalam sehari. Harga saham PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI) juga tercatat 21,94% dalam sehari.
Pengamat pasar modal dan Founder WH Project, William Hartanto mengatakan, kenaikan harga saham tersebut bisa saja disebabkan oleh sentimen rencana penerapan Pertamax Green 92 dan 95.
Meskipun begitu, William belum bisa melihat seperti apa prospek emiten etanol ke depannya di tengah sentimen rencana pemberlakuan Pertamax Green 92 dan 95 mulai tahun depan. Dikarenakan kedua produk BBM tersebut relatif baru.
Yang jelas dinamika isu energi dan energi terbarukan saat ini, menurutnya bisa memberikan dampak bagi kinerja emiten etanol. Jika lebih mengarah ke energi baru terbarukan maka bisa memberi peluang bagi emiten-emiten ini.









