;
Tags

Saham

( 1722 )

Anak Usaha SGER Bakal IPO Bidik Dana Segar Rp 200 Miliar

HR1 29 Sep 2023 Kontan
PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) membentangkan sayap bisnis ke segmen nikel dan mineral lain. Demi ekspansi itu, SGER sedang bersiap membawa anak usahanya melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini. Anak usaha SGER yang akan dilepas ke pasar saham adalah PT Sumber Mineral Global Abadi (SMGA). Business Development Head SGER, Julius Edy Wibowo mengatakan, secara internal, SGER menargetkan initial public offering (IPO) anak usahanya itu bisa tuntas pada 30 November 2023. Dalam IPO SMGA ini, SGER membidik dana segar sekitar Rp 200 miliar. "SMGA sudah persiapan untuk IPO. Target realisasi tahun ini, sekitar akhir November, untuk pengembangan trading usaha kami," ungkap Julius, dalam paparan publik, Rabu (27/9). SMGA sedang menjajaki peluang bisnis pengolahan mineral pasir silika dan pasir besi untuk kebutuhan pasar lokal dan ekspor. Di samping itu, Julius mengatakan, pertambangan batu gamping (limestone) ditargetkan akan beroperasi pada tahun 2024. Hingga semester I-2023, penjualan batubara masih mendominasi pendapatan SGER. Kontribusi dari penjualan batubara mencapai Rp 6 triliun atau 99,5% dari total pendapatan bersih SGER. Sedangkan penjualan nikel baru menyumbang sekitar Rp 28,82 miliar. Harga saham SGER juga masih melaju. Jika dihitung sejak awal tahun 2023, harga saham SGER sudah naik 233,85%. Pada Rabu (27/9), harga SGER ditutup turun 3,12% ke posisi Rp 2.170 per saham.

Sinyal Window Dressing di Ujung Tahun

HR1 27 Sep 2023 Kontan (H)
Mari bersiap-siap.  Masih ada peluang bagi investor untuk menadah cuan di sisa tahun ini. Setelah tahun lalu absen, para analis memproyeksikan fenomena memoles kinerja alias window dressing akan kembali hadir di tahun 2023. Selama lima tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mencatatkan imbal hasil positif pada akhir tahun. Rata-rata lima tahun terakhir, IHSG sudah menguat 2,21% di bulan Desember. Equity and Economics Analyst KGI Sekuritas, Rovandi  melihat dari pergerakan IHSG yang sideways satu tahun terakhir, fenomena window dressing tahun ini akan terjadi. Jika dicermati, IHSG baru menguat 1,07% ke level 6.998,38 per Selasa (26/9). Di kawasan ASEAN, bursa saham Indonesia hanya kalah dengan Vietnam yang telah melesat 12,99%. Rovandi menyebutkan, pergerakan IHSG akan tersulut oleh sentimen  pemilu di 2024. Jika proses perhelatan kampanye dan pemilu berjalan lancar bakal menjadi sentimen positif. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menambahkan, meski dihembus sentimen negatif global, tapi Indonesia masih punya fundamental kuat. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani juga melihat, hilal window dressing mulai terlihat, kendati laporan keuangan kuartal III-2023 belum dirilis. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyebut, September adalah bulan yang baik untuk akumulasi, tetapi masih belum terlambat untuk mulai mencicil. Sedangkan Nico meramal sektor yang akan berjaya di akhir tahun ini adalah sektor energi, perbankan, infrastruktur dan konsumen primer.  Secara teknikal, saham pilihan Nico dari sektor perbankan jatuh pada BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI. Sektor ini juga menjadi pilihan dari analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto.

Bersiap Menadah Dividen Interim di Akhir Tahun

HR1 25 Sep 2023 Kontan (H)
Para pemburu dividen bisa mulai mempersiapkan dana investasi. Pasalnya, di kuartal keempat tahun ini, ada sederet emiten yang kemungkinan bakal membagikan dividen interim untuk para pemegang sahamnya. Secara historis, sejumlah emiten big caps jarang absen membagikan dividen interim pada kuartal IV saban tahun. Contohnya adalah PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Emiten penghuni Indeks LQ45 lain seperti PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga langganan membagikan dividen di kuartal terakhir. CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo mengatakan, kemungkinan emiten-emiten ini masih akan membagikan dividen interim. Meski demikian, bisa jadi nilainya mungkin tak akan sebesar tahun buku 2022. Sementara Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat menyebut, pembagian dividen interim di kuartal keempat biasanya akan dimulai pada bulan November. Dus, investor bisa mulai melakukan pembelian saham pembagi dividen interim paling lambat di awal Oktober 2023. Sementara Praska menilai, rencana dividen ASII, ADRO, dan SIDO lebih menarik untuk dicermati pada kuartal akhir ini. "Terutama jika dipertimbangkan dari sisi dividend yield, ujarnya, Minggu (24/9).

Berburu Saham EBT

KT1 25 Sep 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Rencana peluncuran bursa karbon pada 26 September 2023 telah memantik euforia saham-saham perusahaan energi baru terbarukan (EBT) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Investor terus berburu saham EBT, sehingga harganya terus melambung jauh melampaui kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG). Berdasarkan data RTI, lima saham EBT, yakni PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE/PGEO), PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN), PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), PT Barito Pasific Tbk (BRPT), dan PT Medco Energi Internasional (MEDC) kompak menguat dalam sebulan terakhir. Perinciannya, saham PGEO melejit 47,8% ke level Rp1.575, KEEN 31% ke level Rp 1.040, ARKO 15% ke Rp 840, BRPT 44% menjadi 1.600. Saham-saham yang terkait EBT dan bursa karbon juga ikut terkerek. Contohnya, PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) melesat 16%, PT SLJ Global Tbk (SULI) 37%, dan PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) 6,25% dalam sebulan terakhir. (Yetede)

Harga Naik, Saham Energi Mendaki

HR1 22 Sep 2023 Kontan
Setelah sempat lesu, harga komoditas energi seperti batubara dan energi mulai bergairah.  Batubara misalnya. Harga batubara Newcastle untuk kontrak pengiriman November 2023 senilai US$ 167,90 per ton pada perdagangan Rabu (20/9). Harga batubara sudah naik 3,32% sejak awal bulan. Demikian juga harga minyak mentah yang cenderung menguat di bulan ini. Harga minyak jenis West Texas Intermediate untuk pengiriman November 2023 stabil di atas US$ 80, tepatnya di US$ 88,70 per barel. Harga minyak WTI sudah menguat 6,91% sejak awal bulan. Penguatan harga komoditas energi menyulut pergerakan harga sejumlah saham berbasis energi, yang tercermin dari pelemahan indeks sektor energi (IDX energi) yang semakin menipis. Per Rabu (20/9), indeks yang berisi saham-saham komoditas energi ini hanya melemah 5,83% sejak awal tahun. Bandingkan  IDX Healthcare yang turun 7,31%  sementara IDX teknologi loyo hingga sekitar 16,65%. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, kenaikan saham-saham ini sejalan dengan penguatan harga komoditas batubara dan minyak. Ia memperkirakan, kenaikan harga komoditas bisa berlanjut, terutama harga minyak seiring dengan pengetatan produksi. Senada, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan menilai, penguatan harga minyak kini lebih dikarenakan pemangkasan supply minyak oleh OPEC+. Alhasil Mirae Asset Sekuritas menyematkan hold saham ADRO, PTBA, dan ITMG dengan target harga masing-masing Rp 2.795, Rp 2.875, dan Rp 30.400. HRUM buy dengan target Rp 2.150. Sedang analis Samuel Sekuritas Indonesia Muhammad Farras Farhan merekomendasi buy MEDC dengan target harga 2.200. Prediksi harga minyak hingga akhir tahun US$ 85 per barel.

SIKAP THE FED : JALUR TERJAL PEMULIHAN PASAR SBN

HR1 22 Sep 2023 Bisnis Indonesia

Pemulihan pasar Surat Berharga Negara (SBN) bakal melewati jalur yang terjal akibat aliran dana asing tertahan sebagai imbas dari sikap hawkish Federal Reserve. Federal Reserve (The Fed) telah mengambil keputusan untuk mempertahankan suku bunga tetap 5,25%—5,55%. Kendati demikian, bank sentral Amerika Serikat itu masih memiliki amunisi untuk menaikkan suku bunga acuan sekali lagi sepanjang tahun ini. Pelonggaran moneter pun baru dimulai pada tahun depan. Gelagat hawkish Federal Reserve pun membuat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun naik 0,67% secara harian ke 6,77%. SUN tenor 2 tahun justru turun 0,41% ke 6,2%. Kenaikan imbal hasil SUN menandai bahwa minat di pasar turun. Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan faktor global menunjukkan pengaruhnya pada kinerja imbal hasil SUN. Kala imbal hasil Tresuri Amerika Serikat naik, begitu juga dengan indeks dolar AS, aset di negara berkembang menjadi tak menarik.  Lebih lanjut dia mengatakan, koreksi yield SBN Indonesia juga disebabkan karena tekanan jual investor asing, sementara support dari domestik menurutnya masih cukup solid. Hal itu yang membuat pemulihan pasar SBN melalui jalan terjal. Dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, porsi asing dalam SBN sebelum pandemi yakni 2019 misalnya hampir menyentuh 39% terhadap total SBN beredar. Namun, kondisi berubah kala pandemi datang. Investor asing meninggalkan SBN dan belum kembali sepenuhnya.  Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan ketidakpastian masih membayangi pasar surat utang. Tak heran bila untuk sementara pasar lebih memilih instrumen bertenor pendek karena terdapat risiko yang datang dari infl asi dan gejolak nilai tukar yang bisa menggerus imbal hasil nyata. Dia menilai risiko infl asi RI datang dari harga beras dan energi. Lalu, kinerja rupiah yang masih tertekan di hadapan greenback turut membebani aksi asing masuk ke Tanah Air.  Kepala Ekonom dan Kepala Riset Divisi Surat Utang BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto mengatakan dalam hasil risetnya bahwa di tengah pelemahan rupiah dan upaya BI mengendalikan nilai tukar melalui penerbitan sekuritas rupiah BI (SRBI) dia mengantisipasi dampaknya terhadap pasar surat utang. Dia menyebut bahwa penerbitan SRBI tenor pendek dengan SBN sebagai aset dasarnya bisa memicu gejolak pada tenor jangka panjang. Artinya, gerak kenaikan imbal hasil SUN tenor panjang bisa semakin volatil.

Hati-Hati, IHSG Masih Rawan Terkoreksi

HR1 21 Sep 2023 Kontan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berhasil tembus ke level psikologis 7.000. Pada perdagangan Rabu kemarin (20/9), IHSG ditutup menguat 0,45% atau naik 31,36 poin ke level  7.011,68. Jika diukur untuk sepanjang tahun ini, IHSG sudah menguat 2,35%. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat penguatan IHSG dalam dua hari terakhir terjadi karena aksi beli bersih alias net buy oleh investor asing. Jika dicermati investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 795,96 miliar pada Rabu (20/9). Di sisi lain, sepanjang 2023 ini asing masih membukukan jual bersih atau net sell sebesar Rp 2,75 triliun. Herditya memproyeksikan, pada perdagangan Kamis (20/9), IHSG akan turun dari posisi 7.000. Namun investor dapat mencermati area support di level 6.900. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus memandang, pergerakan IHSG nantinya  masih tergantung dengan keputusan  yang bakal diambil The Fed. Hingga saat ini, pelaku pasar masih berekspektasi bahwa The Fed masih akan mempertahankan tingkat suku bunga dalam FOMC pada September 2023. Nico bilang kalau Jerome Powell, Gubernur The Fed akan menahan suku bunga bahkan hingga akhir tahun nanti. Maka pelaku pasar pun akan merespons sangat positif. Setali tiga uang, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menuturkan pelaku juga menunggu keputusan The Fed. Sementara Nico masih menjagokan saham-saham sektor perbankan dan konsumen primer. Selain itu, investor dapat mencermati sektor energi, transportasi dan logistik serta industri. 

Tren IPO Tetap Naik di Tahun Politik

HR1 21 Sep 2023 Kontan (H)
Tahun ini pasar saham menjadi favorit korporasi untuk mencari pendanaan mudah nan murah. Indikasinya, sejak awal 2023 hingga 15 September saja sudah ada 66 emiten yang menggelar initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai penghimpunan dananya mencapai Rp 49,4 triliun. Jumlah IPO di tahun ini bakal terus bertambah. Saat ini saja ada tujuh calon calon emiten dari berbagai sektor yang sedang dan telah melakukan proses bookbuilding. I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI akhir pekan lalu (15/9) merilis data, masih ada 29 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Enam diantaranya berasal dari sektor konsumer non-siklikal dan lima dari sektor bahan baku. Memanasnya tensi politik menjelang Pemilu 2024, juga tak menyurutkan minat korporasi. Perusahaan dengan korelasi yang kuat terhadap regulasi, ujar Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, bisa saja memilih wait and see. Sementara emiten yang bermain di sektor konsumer non-siklikal relatif mendapat sambutan hangat. Performa harga saham PT Hatten Bali Tbk (WINE) misalnya, menjadi salah satu emiten anyar yang terbaik. Prospek bisnis minuman beralkohol memang dikatrol oleh pulihnya sektor pariwisata. Nafan Aji Gusta Utama, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas menilai, secara sektoral pendatang dari sektor energi akan diuntungkan, di antaranya oleh pembatasan produksi minyak oleh Rusia dan Arab Saudi. Ini akan ikut mengerek permintaan dan harga komoditas substitusi seperti batubara.

APEX Berupaya Optimalkan Pemakaian Big

HR1 20 Sep 2023 Kontan
Lonjakan harga minyak mentah bukan saja menyulut kinerja emiten pertambangan  minyak dan gas (migas). PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX),  emiten  di bidang jasa migas juga turut kecipratan berkah  harga minyak dunia. Direktur APEX Mahar Atanta Sembiring berharap harga minyak dapat berada di level yang baik yang bisa bertranslasi positif terhadap kinerja APEX. Meskipun efek kenaikan harga minyak terhadap kinerja APEX akan dirasakan secara tidak langsung. "Saat penandatanganan kontrak, kami hanya tekan dari daily rate yang tidak dapat diubah. Daily rate merupakan gambaran kebutuhan dari rig dan itu adalah gambaran harga pasar yang berlaku,” kata Mahar, dalam public expose insidentil yang digelar secara virtual, Selasa (19/9). Saat ini, APEX juga aktif mengikuti tender, baik offshore maupun onshore, baik di lingkup PT Pertamina maupun perusahaan panas bumi (geotermal). Saat ini, APEX memiliki 5 rig yang aktif dan akan beroperasi. Yakni  satu rig jack up, dua rig swamp barge dan satu unit rig darat bagi Grup Pertamina. Pertama, Rig Tasha  yang beroperasi hingga Juli 2024 di Pertamina Hulu Mahakam, Kalimantan Timur. Kedua, Rig Yani  yang beroperasi hingga November 2024  di Pertamina Hulu Mahakam Kalimantan Timur. Ketiga, Rig Raisis yang beroperasi hingga Maret 2024 di Pertamina Hulu Mahakam, Kalimantan Timur. Keempat, Rig 9 yang beroperasi hingga kuartal I-2024 untuk PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) di Ulubelu, Lampung. Kelima, Rig 10  yang akan bekerja pada kuartal III- 2023 untuk PT Medco Energi Internasional Tbk di Suban, Sumatra Selatan.

Utang Terpangkas Indeks Terangkat

HR1 20 Sep 2023 Kontan
Secara perlahan, utang luar negeri (ULN) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mulai terpangkas. Bank Indonesia (BI) mencatat, utang luar negeri BUMN per akhir Juli 2023 sebesar US$ 48 miliar. Hasil ini turun 1,51% secara bulanan dari periode bulan sebelumnya yang  sebesar  US$ 48,74 miliar. Sedangkan secara tahunan, utang luar negeri BUMN ternyata sudah turun sebanyak 12,78% dari posisi  US$ 55,04 miliar. Sedangkan jika dirinci, utang luar negeri kelompok BUMN bukan lembaga keuangan turun 0,88% secara bulanan di periode Juli 2023. Begitu juga utang luar negeri BUMN bank turun 5,35% secara bulanan di periode yang sama. Sedangkan utang luar negeri lembaga keuangan bukan bank tetap. Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy  menilai,  sektor yang menunjang emiten BUMN adalah perbankan dan telekomunikasi. Budi melihat, untuk ke depan, sektor perbankan dan telekomunikasi masih akan menjadi pemimpin di antara emiten BUMN sepanjang  tahun ini. Hal  ini dikarenakan kinerja BUMN perbankan konsisten tumbuh dari waktu ke waktu. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani sependapat, kenaikan  IDX BUMN20 tertopang kinerja emiten perbankan yang konsisten positif. Penyebabnya antara lain  valuasi emiten bank BUMN yang  masih menarik dan disokong  fundamental yang  tetap solid. Sedangkan Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta  berpandangan sektor basic industry dan energi menopang kinerja emiten-emiten BUMN, khususnya yang tergabung dalam IDX BUMN20.

Pilihan Editor