Saham
( 1717 )Hati-Hati, IHSG Masih Rawan Terkoreksi
Tren IPO Tetap Naik di Tahun Politik
APEX Berupaya Optimalkan Pemakaian Big
Utang Terpangkas Indeks Terangkat
Otomotif Masih Jadi Tumpuan Bisnis ASII
Penjualan mobil dengan merek di bawah PT Astra International Tbk (ASII) masih melaju. Melansir data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil Astra pada Agustus 2023 mencapai 50.816 unit. Angka ini naik 4,52% dari penjualan ASII di Juli 2023 yang 48.618 unit. Secara rinci, penjualan ASII didominasi oleh merek Toyota dan Lexus, yakni sebanyak 30.385 unit. Disusul Daihatsu sebanyak 17.481 unit, Isuzu 2.800 unit, UD Trucks sebanyak 136 unit, dan penjualan Peugeot sebanyak 14 unit.
Jika diakumulasikan, penjualan mobil ASII mencapai 377.358 unit sepanjang delapan bulan pertama 2023. Jumlah tersebut naik 5,57% dari penjualan mobil di periode yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak 357.442 unit.
Boy Kelana Soebroto,
Head of Corporate Communications
Astra International menyebut, ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) pada Agustus 2023, menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan penjualan mobil nasional periode Agustus.
Kepala riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Yanuar Hardy menilai, segmen otomotif serta jasa keuangan ASII akan pulih pada paruh kedua tahun ini. Pemulihan ini terutama karena sedikitnya hari libur.
Analis Henan Putihrai Sekuritas Alroy Soeparto menambahkan, akuisisi OLX akan memperkuat posisi ASII di pasar mobil bekas. Selain itu, akuisisi OLX akan menguntungkan segmen pembiayaan dari bisnis pembiayaan mobil dan asuransi milik ASII.
Selain otomotif, ASII juga ditopang segmen bisnis yang terkait dengan komoditas, yakni segmen alat berat, tambang, konstruksi dan energi. Ditambah lagi El Nino berpotensi mendongkrak produksi tambang.
Sektor Teknologi Belum Bertaji
Kinerja keuangan dan performa saham emiten sektor teknologi masih lesu. Dari laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sektor teknologi merupakan satu-satunya sektor yang secara absolut mencatatkan laporan keuangan negatif.
Kendati begitu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, kinerja beberapa emiten sektor teknologi masih berpotensi membaik di sisa tahun ini. Contohnya, PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang nilai kerugiannya sudah mulai turun jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Beban operasional yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan memang menjadi faktor penekan
bottom line
emiten sektor ini. Pelemahan kurs rupiah juga menjadi salah satu faktor penggerus kinerja emiten saham sektor teknologi.
CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo mengatakan, berakhirnya pandemi juga memperberat kinerja sektor teknologi. khususnya di industri perangkat lunak dan jasa teknologi informasi.
Mayoritas saham emiten teknologi mencatatkan performa negatif sejak awal tahun ini. Setidaknya, ada lebih dari 10 saham sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang kinerjanya masih minus.
Emiten yang sahamnya tertekan paling dalam di antaranya PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX) dan PT Indosterling Technomedia Tbk (TECH). Ini akibat kinerja fundamental yang masih turun.
Gelagat Positif di Bursa Saham
Setelah mencatatkan beragam pencapaian yang menggembirakan pada pekan lalu, indeks harga saham gabungan atau IHSG diyakini bakal terus mempertahankan tren positif ke depan. Terlebih, Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan IDX New Listing Information untuk makin meningkatkan akses informasi dan merangsang gairah investasi di pasar modal. Pencapaian pertumbuhan di sejumlah indikator perdagangan pekan lalu tentu menjadi gelagat yang baik di lantai bursa. Kinerja indeks komposit memang masih relatif berfluktuasi kendati beberapa kali menyentuh level psikologis di angka 7.000-an. Catatan saja, IHSG mengalami penguatan 0,84% dalam sepekan dari 6.924,78 ke level 6.982,79. Kapitalisasi pasar turut mengalami peningkatan 1,03% menjadi Rp10.339 triliun dari Rp10.233 triliun pada pekan sebelumnya. Pertumbuhan tertinggi selama sepekan terjadi pada rata-rata volume transaksi, yaitu sebesar 56,84% menjadi 29,18 miliar lembar saham dari 18,61 miliar saham pada sepekan yang lalu. Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian ikut terkatrol. Data BEI mencatat, rata-rata transaksi harian melonjak 34,9% menjadi sebesar Rp13,44 triliun, dari Rp9,96 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata frekuensi transaksi harian di bursa pekan lalu pun menguat 5,46% dari 1,12 juta kali menjadi 1,18 juta kali transaksi. Pergerakan indeks komposit pekan lalu dipengaruhi oleh sentimen global, terutama dari pemulihan ekonomi China yang berasal dari rilis produksi industri yang naik 4,5% dan penjualan ritel yang tumbuh 4,6% pada periode Agustus 2023. Pekan ini, agenda kedua bank sentral itu kembali menjadi sorotan pelaku pasar. The Fed mengadakan pertemuan Federal Open Market Committee pada 19—20 September 2023, sedangkan jadwal Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia berlangsung pada 20—21 September 2023. Jika The Fed dan Bank Indonesia tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuannya, hal itu bisa memberikan dorongan positif ke pasar saham. Jika suku bunga naik, ini berpotensi memicu ketidakpastian dan tekanan jual sejenak.
Market Cap Barito Renewables Jauh Lampaui PGEO
JAKARTA,ID-Unit usaha energi terbarukan milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), siap menggelar hajatan berupa penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. BREN bakal melepas 4,5 miliar saham baru yang setara dengan 3,35% dari modal disetor, sehingga pasca_IPO jumlah saham perseroan menjadi 132,27 miliar. Dengan mematok harga pelaksanaan sebesar Rp670-780 per saham, anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini berpeluang menghimpun dana sebesar Rp 3,5 triliun. Sementara bila diasumsikan harga IPO diambil di posisi Rp780 per saham dan dengan jumlah saham BREN selepas IPO, maka kapitalisasi pasar (market cap) Barito Renewables Energy mencapai Rp104,73 triliun. Market cap tersebut jauh melampaui kapitalisasi pasar PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) pada saat IPO yang sebesar Rp36,2 triliun. Kala itu, PGEO mematok harga penawaran sebesar Rp875 per saham dengan jumlah saham selepas IPO sebanyak 41,3 miliar unit. Bahkan, hingga penutupan perdagangan hari ini, Jumat (14/9/2023), market cap PGEO baru menyentuh kisaran Rp 59 triliun. (Yetede)
Saatnya Menjerat Para Penggoreng
Bau sangit saham gorengan kembali tercium. Setelah Jiwasraya dan Asabri, dugaan manipulasi saham kembali terjadi. Kali ini menerpa Grup Kresna.
Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri menetapkan status tersangka terhadap Michael Steven pemilik Grup Kresna. Bareskrim menyebut Michael terindikasi melakukan aksi goreng menggoreng saham. Aksi pendiri Grup Kresna tersebut, mengakibatkan para investor mengalami kerugian hingga Rp 300 miliar lebih.
Lewat produk
equity link agreement
(ELA) dan jual beli saham meliputi jual beli, gadai saham, dan hak jual beli yang ditawarkan PT Kresna Sekuritas, Steven diduga menjalankan aksi tersebut. Status tersangka pun akhirnya disematkan kepada pria kelahiran Jakarta tahun 1963 tersebut.
Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menilai, Bareskrim menghentikan aksi Michael karena Michael tersandung kasus kontrak pengelolaan dana (KPD), sehingga investor korban membuat laporan. Aksi goreng menggoreng saham ini tersibak dari hasil penyelidikan dan penyidikan.
Setelah Jiwasraya dan Asabri, kasus Kresna harus jadi momentum otoritas bursa dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menindak para pelaku. Apalagi domain ada di mereka yang bisa membuka kedok kode broker saat perdagangan bursa yang saat ini ditiadakan.
Head of Research
Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan mengatakan sebenarnya BEI sudah menyediakan informasi
unusual market activities
(UMA), yakni saham yang pergerakannya harganya tidak wajar. Informasi ini sejatinya bisa membantu pelaku pasar mendeteksi saham gorengan.
Maka
Research Analyst
Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menyarankan investor untuk mulai memperhatikan grafik pergerakan saham yang biasanya tersaji di ragam aplikasi perdagangan bursa.
MEMANTIK EBT HIJAUKAN BURSA
Geliat sektor energi bersih di Bursa Efek Indonesia bakal tambah semarak dengan aksi penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO) bernilai jumbo dari perusahaan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Adalah konglomerat Prajogo Pangestu yang memboyong bisnis renewable energy, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) ke lantai bursa dengan mengincar dana segar hingga Rp3,51 triliun. Saat ini, grup perusahaan mengoperasikan tiga aset panas bumi yang berlokasi di Jawa Barat, yakni Wayang Windu, Darajat, dan Salak. Total kapasitas terpasang sebesar 886 megawatt (MW), mewakili sekitar 38% pangsa pasar di Indonesia. Masuknya BREN ke dalam jajaran emiten energi baru terbarukan (EBT) di bursa jadi momentum menarik di tengah upaya pemerintah menargetkan bebas dari emisi karbon pada 2060. Apalagi, dalam revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, PT PLN (Persero) bakal memacu porsi penambahan pembangkit listrik EBT mencapai 75% dari total rencana penambahan pembangkit hingga 2040. Manajemen BREN dalam prospektusnya menyebut kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi di Tanah Air diperkirakan tumbuh pesat dari estimasi 2,6 gigawatt (GW) pada 2023 menjadi 6,7 GW pada 2030, dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 14,6%. Berdasarkan analisis Wood Mackenzie, pada 2030 Indonesia diharapkan memiliki kapasitas panas bumi terbesar di dunia yang merupakan 35% dari estimasi kapasitas neto panas bumi global. Equity Analyst Panin Sekuritas Felix Darmawan mengatakan saat ini secara umum emiten-emiten EBT dalam jangka menengah dan panjang cukup menjanjikan. Saham induk usaha BREN, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) naik 10,94% ke level Rp1.420, sedangkan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) melaju 13,72%, demikian juga PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) terkerek 9,6% ke Rp3.150 per saham. Seluruh dana akan digunakan sebagai suntikan modal kepada Star Energy Geothermal untuk melunasi utang kepada bank, Star Energy Oil & Gas, serta kepada BREN. Bertindak sebagai penjamin emisi efek adalah BNI Sekuritas.









