;
Tags

Saham

( 1717 )

PROSPEK KUAT PASAR SAHAM

HR1 30 Sep 2023 Bisnis Indonesia (H)

Kendati tertatih menggapai level 7.000 pada kuartal III, penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) bakal lebih solid pada sisa tahun ini. IHSG cenderung menguat sepanjang kuartal III/2023 berkat sokongan investor domestik yang optimistis terhadap prospek pasar saham, meskipun sentimen eksternal cenderung kurang bersahabat. Dalam 3 bulan terakhir, IHSG tercatat menguat 4,32% hingga akhirnya ditutup di level 6.939,89 pada hari terakhir perdagangan kuartal III/2023, Jumat (29/9). Sepanjang tahun berjalan, IHSG bertahan di teritori hijau dengan penguatan 1,3% Year-to-Date (YtD). IHSG sempat kembali menyentuh level psikologis 7.000 akhir pekan lalu, tetapi gagal bertahan pekan ini akibat sentimen suku bunga the Fed yang masih bertahan di level tinggi, bahkan disinyalir bakal naik sekali lagi tahun ini. Akan tetapi, dengan kinerja yang terbatas tersebut, IHSG masih berada di posisi kedua terkuat di antara indeks komposit Asean. Padahal, investor asing agresif melepas aset mereka dengan net sell Rp21,18 triliun sepanjang 3 bulan terakhir. Secara YtD, net sell asing mencapai Rp4,44 triliun. Kondisi ini menjadikan pasar keuangan AS lebih memikat bagi investor global. Jika the Fed kembali menaikkan suku bunga acuan tahun ini, maka Fed Fund Rate dan BI 7 Day Reverse Repo Rate akan sama tingginya, padahal peringkat investasi Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan AS. Meskipun demikian, melihat penguatan IHSG sepanjang kuartal III/2023 dengan sokongan investor domestik, masih cukup beralasan untuk meyakini potensi penguatan lanjutan pada sisa tahun ini. Apalagi, pasar akan ditopang oleh sentimen positif dalam negeri berupa persiapan Pemilu 2024. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger MM menilai sulitnya IHSG menembus level 7.000 pekan ini akibat adanya risiko kenaikan kembali suku bunga the Fed. Hal ini tidak terlepas dari faktor inflasi AS yang belum jinak.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan sentimen the Fed memang menjadikan pasar cenderung wait and see. Kendati begitu, dia sependapat IHSG memiliki peluang lebih besar menghijau karena fundamental ekonomi Indonesia yang baik.“Panin AM menilai level wajar IHSG di akhir tahun 2023 adalah 7.400,” ujarnya. Sementara itu, Head of research NH Korindo Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan dalam skenario terbaik, IHSG dapat parkir di level 7.350 hingga 7.400 di akhir tahun. Namun, pada skenario terburuk, IHSG kemungkinan tertahan di kisaran 7.050 hingga 7.100. Meski begitu, Equity & Fixed Income Analyst KGI Sekuritas Rovandi memberi catatan sentimen pelemahan rupiah, serta penurunan cadangan devisa akibat aktivitas dagang yang menurun dan harga ekspor batu bara yang belum pulih akan menjadi penekan IHSG. Oleh karena itu, KGI Sekuritas memperkirakan level IHSG yang lebih rendah di akhir tahun 2023, yaitu sekitar 7.175. Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe juga meyakini sentimen Pemilu bakal menjadi alasan yang kuat bagi investor untuk melakukan window dressing jelang pergantian tahun. Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus sepakat potensi window dressing yang berimbas pada penguatan signifikan IHSG pada tahun ini cukup besar. Adapun, window dressing merupakan strategi manajer investasi mempercantik kinerja portofolio agar menampilkan laporan kinerja yang lebih cantik di akhir tahun. 

Berharap dari Window Dressing

HR1 30 Sep 2023 Bisnis Indonesia

Sepanjang tahun ini, Indeks Harga Saham Gabungan menghijau hanya sekitar 1,3%, disertai aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp4,44 triliun, sedangkan dalam 3 bulan terakhir naik 4,32% dengan aksi jual bersih investor asing sebesar Rp21,18 triliun. Sepanjang tahun ini, IHSG juga sulit untuk menembus level psikologis 7.000. Data Bloomberg mencatat indeks sempat menembus level 7.000 pada akhir pekan lalu. Melihat data-data tersebut agak berat rasanya bagi IHSG untuk bertengger di level 7.000. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah sinyal kebijakan suku bunga The Fed yang tetap hawkish, inflasi AS yang belum jinak hingga tren kenaikan harga minyak yang berkelindan menjadi satu. Investor di pasar modal pun kemudian memanfaatkan kondisi tersebut dengan berbelanja saham yang pada gilirannya mengangkat kinerja sejumlah saham dan tentu saja IHSG. Namun, perlu dicatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap tinggi di tengah tren perlambatan ekonomi global. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II/2023 tercatat sebesar 5,17% (YoY), meningkat dari pertumbuhan pada kuartal yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,04% (YoY). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi didukung oleh peningkatan permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga tumbuh tinggi sebesar 5,23% (YoY), seiring dengan naiknya mobilitas, membaiknya ekspektasi pendapatan, terkendalinya inflasi, dan dampak positif dari pemberian gaji ke-13 kepada Aparatur Sipil Negara.

Adu Taji Saham Bank BUMN

HR1 30 Sep 2023 Kontan
Kompetisi bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kian ketat. Tak hanya dari sisi fundamental keuangan, bank BUMN juga adu moncer kinerja saham. Menilik data RTI, Rabu (27/9), sejumlah emiten bank BUMN mampu mencatat return atau imbal hasil dobel digit di sepanjang tahun berjalan ini. Sebut saja, misalnya, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Pada penutupan perdagangan saham Rabu (27/9), saham BMRI mencetak return 20,91% sejak awal tahun ini. Tak mau kalah dengan sang induk, saham anak usaha Bank Mandiri, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), juga membukukan return dobel digit. Rabu (27/9), saham bank syariah dengan kode BRIS ini mencatat return 25,19% sejak awal tahun. Imbal hasil saham BRIS paling tinggi di antara saham bank-bank BUMN. Sayangnya, tak semua kinerja saham bank BUMN kinclong. Ambil contoh saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN). Di sepanjang tahun berjalan ini, saham BBTN masih terkoreksi. Jika dihitung sejak awal tahun, saham BBTN turun 9,26%. Secara historis, return saham BBTN terus turun dalam periode 5 tahun terakhir. Direktur Utama Bank BTN Nixon LP Napitupulu berdalih, salah satu pemicu jebloknya saham BBTN adalah restrukturisasi kredit yang masih cukup besar, meskipun trennya turun. Kini, lanjutnya, fokus kerja BTN untuk mendongkrak fundamental adalah mempercepat proses transformasi digital. Nixon menargetkan sampai akhir tahun ini, BTN bisa menyambungkan satu juta nasabah di aplikasi digital. Associate Director of Research & Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus melihat, koreksi saham BBTN merupakan efek kenaikan suku bunga tinggi. "Kalau fundamentalnya masih baik," ujarnya. Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto mencermati, secara valuasi saham BBTN masih relatif murah. Saham BTN diperdagangkan dengan PER 5,77 kali dan PBV 0,58 kali.

Ekspansi Anorganik Poles Kinerja MTEL

HR1 29 Sep 2023 Kontan
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel gencar melakukan akuisisi anorganik. Emiten berkode saham MTEL ini telah mengakuisisi 105 menara telekomunikasi dari tiga perusahaan sepanjang September 2023.Teranyar, MTEL mengakuisisi 54 menara milik PT XL Axiata Tbk (EXCL). Keduanya sepakat melakukan penyewaaan kembali (lease back). Direktur Investasi MTEL, Hendra Purnama menjelaskan, transaksi pembelian menara dan penyewaan kembali dilakukan pada 25 September 2023 dengan nilai sebesar Rp 36,62 miliar. Adapun 54 menara telekomunikasi milik EXCL itu telah memiliki 63 tenant atau penyewa. Sehingga, tenancy ratio 54 menara tersebut mencapai 1,16 kali. "Menara yang menjadi objek transaksi Mitratel dan XL Axiata merata di seluruh Indonesia," jelas Hendra kepada KONTAN, Rabu (27/9). Menara EXCL yang diakuisisi MTEL itu tersebar dari Sumatera Bagian Tengah, Sumatera Bagian Selatan, Jawa Barat, Jakarta, Bogor, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan hingga Sulawesi. Beberapa hari sebelumnya, MTEL juga telah mengakuisisi 51 menara milik dua perusahaan lain. Namun Hendra tak merinci besaran transaksi tersebut. Hendra bilang, seluruh menara ini di Bali dan Jakarta Bogor. Dari pembelian itu, MTEL mendapatkan 79 tenant baru dengan tenancy ratio 1,55 kali. Selain melakukan akuisisi menara telekomunikasi. MTEL mengincar pertumbuhan dari segmen fiber optik. MTEL berencana mengakuisisi aset fiber optik. Sebagai amunisi, MTEL menyiapkan belanja modal (capex) senilai Rp 7 triliun pada tahun ini. Sebesar 40% capex untuk aktivitas anorganik dan sisanya ekspansi organik. Per Juni 2023, MTEL merealisasikan separuh dari anggaran capex.

Anak Usaha SGER Bakal IPO Bidik Dana Segar Rp 200 Miliar

HR1 29 Sep 2023 Kontan
PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) membentangkan sayap bisnis ke segmen nikel dan mineral lain. Demi ekspansi itu, SGER sedang bersiap membawa anak usahanya melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini. Anak usaha SGER yang akan dilepas ke pasar saham adalah PT Sumber Mineral Global Abadi (SMGA). Business Development Head SGER, Julius Edy Wibowo mengatakan, secara internal, SGER menargetkan initial public offering (IPO) anak usahanya itu bisa tuntas pada 30 November 2023. Dalam IPO SMGA ini, SGER membidik dana segar sekitar Rp 200 miliar. "SMGA sudah persiapan untuk IPO. Target realisasi tahun ini, sekitar akhir November, untuk pengembangan trading usaha kami," ungkap Julius, dalam paparan publik, Rabu (27/9). SMGA sedang menjajaki peluang bisnis pengolahan mineral pasir silika dan pasir besi untuk kebutuhan pasar lokal dan ekspor. Di samping itu, Julius mengatakan, pertambangan batu gamping (limestone) ditargetkan akan beroperasi pada tahun 2024. Hingga semester I-2023, penjualan batubara masih mendominasi pendapatan SGER. Kontribusi dari penjualan batubara mencapai Rp 6 triliun atau 99,5% dari total pendapatan bersih SGER. Sedangkan penjualan nikel baru menyumbang sekitar Rp 28,82 miliar. Harga saham SGER juga masih melaju. Jika dihitung sejak awal tahun 2023, harga saham SGER sudah naik 233,85%. Pada Rabu (27/9), harga SGER ditutup turun 3,12% ke posisi Rp 2.170 per saham.

Sinyal Window Dressing di Ujung Tahun

HR1 27 Sep 2023 Kontan (H)
Mari bersiap-siap.  Masih ada peluang bagi investor untuk menadah cuan di sisa tahun ini. Setelah tahun lalu absen, para analis memproyeksikan fenomena memoles kinerja alias window dressing akan kembali hadir di tahun 2023. Selama lima tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mencatatkan imbal hasil positif pada akhir tahun. Rata-rata lima tahun terakhir, IHSG sudah menguat 2,21% di bulan Desember. Equity and Economics Analyst KGI Sekuritas, Rovandi  melihat dari pergerakan IHSG yang sideways satu tahun terakhir, fenomena window dressing tahun ini akan terjadi. Jika dicermati, IHSG baru menguat 1,07% ke level 6.998,38 per Selasa (26/9). Di kawasan ASEAN, bursa saham Indonesia hanya kalah dengan Vietnam yang telah melesat 12,99%. Rovandi menyebutkan, pergerakan IHSG akan tersulut oleh sentimen  pemilu di 2024. Jika proses perhelatan kampanye dan pemilu berjalan lancar bakal menjadi sentimen positif. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menambahkan, meski dihembus sentimen negatif global, tapi Indonesia masih punya fundamental kuat. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani juga melihat, hilal window dressing mulai terlihat, kendati laporan keuangan kuartal III-2023 belum dirilis. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyebut, September adalah bulan yang baik untuk akumulasi, tetapi masih belum terlambat untuk mulai mencicil. Sedangkan Nico meramal sektor yang akan berjaya di akhir tahun ini adalah sektor energi, perbankan, infrastruktur dan konsumen primer.  Secara teknikal, saham pilihan Nico dari sektor perbankan jatuh pada BBCA, BBRI, BBNI dan BMRI. Sektor ini juga menjadi pilihan dari analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto.

Bersiap Menadah Dividen Interim di Akhir Tahun

HR1 25 Sep 2023 Kontan (H)
Para pemburu dividen bisa mulai mempersiapkan dana investasi. Pasalnya, di kuartal keempat tahun ini, ada sederet emiten yang kemungkinan bakal membagikan dividen interim untuk para pemegang sahamnya. Secara historis, sejumlah emiten big caps jarang absen membagikan dividen interim pada kuartal IV saban tahun. Contohnya adalah PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Emiten penghuni Indeks LQ45 lain seperti PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga langganan membagikan dividen di kuartal terakhir. CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo mengatakan, kemungkinan emiten-emiten ini masih akan membagikan dividen interim. Meski demikian, bisa jadi nilainya mungkin tak akan sebesar tahun buku 2022. Sementara Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat menyebut, pembagian dividen interim di kuartal keempat biasanya akan dimulai pada bulan November. Dus, investor bisa mulai melakukan pembelian saham pembagi dividen interim paling lambat di awal Oktober 2023. Sementara Praska menilai, rencana dividen ASII, ADRO, dan SIDO lebih menarik untuk dicermati pada kuartal akhir ini. "Terutama jika dipertimbangkan dari sisi dividend yield, ujarnya, Minggu (24/9).

Berburu Saham EBT

KT1 25 Sep 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Rencana peluncuran bursa karbon pada 26 September 2023 telah memantik euforia saham-saham perusahaan energi baru terbarukan (EBT) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Investor terus berburu saham EBT, sehingga harganya terus melambung jauh melampaui kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG). Berdasarkan data RTI, lima saham EBT, yakni PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE/PGEO), PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN), PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), PT Barito Pasific Tbk (BRPT), dan PT Medco Energi Internasional (MEDC) kompak menguat dalam sebulan terakhir. Perinciannya, saham PGEO melejit 47,8% ke level Rp1.575, KEEN 31% ke level Rp 1.040, ARKO 15% ke Rp 840, BRPT 44% menjadi 1.600. Saham-saham yang terkait EBT dan bursa karbon juga ikut terkerek. Contohnya, PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) melesat 16%, PT SLJ Global Tbk (SULI) 37%, dan PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) 6,25% dalam sebulan terakhir. (Yetede)

Harga Naik, Saham Energi Mendaki

HR1 22 Sep 2023 Kontan
Setelah sempat lesu, harga komoditas energi seperti batubara dan energi mulai bergairah.  Batubara misalnya. Harga batubara Newcastle untuk kontrak pengiriman November 2023 senilai US$ 167,90 per ton pada perdagangan Rabu (20/9). Harga batubara sudah naik 3,32% sejak awal bulan. Demikian juga harga minyak mentah yang cenderung menguat di bulan ini. Harga minyak jenis West Texas Intermediate untuk pengiriman November 2023 stabil di atas US$ 80, tepatnya di US$ 88,70 per barel. Harga minyak WTI sudah menguat 6,91% sejak awal bulan. Penguatan harga komoditas energi menyulut pergerakan harga sejumlah saham berbasis energi, yang tercermin dari pelemahan indeks sektor energi (IDX energi) yang semakin menipis. Per Rabu (20/9), indeks yang berisi saham-saham komoditas energi ini hanya melemah 5,83% sejak awal tahun. Bandingkan  IDX Healthcare yang turun 7,31%  sementara IDX teknologi loyo hingga sekitar 16,65%. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, kenaikan saham-saham ini sejalan dengan penguatan harga komoditas batubara dan minyak. Ia memperkirakan, kenaikan harga komoditas bisa berlanjut, terutama harga minyak seiring dengan pengetatan produksi. Senada, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan menilai, penguatan harga minyak kini lebih dikarenakan pemangkasan supply minyak oleh OPEC+. Alhasil Mirae Asset Sekuritas menyematkan hold saham ADRO, PTBA, dan ITMG dengan target harga masing-masing Rp 2.795, Rp 2.875, dan Rp 30.400. HRUM buy dengan target Rp 2.150. Sedang analis Samuel Sekuritas Indonesia Muhammad Farras Farhan merekomendasi buy MEDC dengan target harga 2.200. Prediksi harga minyak hingga akhir tahun US$ 85 per barel.

SIKAP THE FED : JALUR TERJAL PEMULIHAN PASAR SBN

HR1 22 Sep 2023 Bisnis Indonesia

Pemulihan pasar Surat Berharga Negara (SBN) bakal melewati jalur yang terjal akibat aliran dana asing tertahan sebagai imbas dari sikap hawkish Federal Reserve. Federal Reserve (The Fed) telah mengambil keputusan untuk mempertahankan suku bunga tetap 5,25%—5,55%. Kendati demikian, bank sentral Amerika Serikat itu masih memiliki amunisi untuk menaikkan suku bunga acuan sekali lagi sepanjang tahun ini. Pelonggaran moneter pun baru dimulai pada tahun depan. Gelagat hawkish Federal Reserve pun membuat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun naik 0,67% secara harian ke 6,77%. SUN tenor 2 tahun justru turun 0,41% ke 6,2%. Kenaikan imbal hasil SUN menandai bahwa minat di pasar turun. Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan faktor global menunjukkan pengaruhnya pada kinerja imbal hasil SUN. Kala imbal hasil Tresuri Amerika Serikat naik, begitu juga dengan indeks dolar AS, aset di negara berkembang menjadi tak menarik.  Lebih lanjut dia mengatakan, koreksi yield SBN Indonesia juga disebabkan karena tekanan jual investor asing, sementara support dari domestik menurutnya masih cukup solid. Hal itu yang membuat pemulihan pasar SBN melalui jalan terjal. Dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, porsi asing dalam SBN sebelum pandemi yakni 2019 misalnya hampir menyentuh 39% terhadap total SBN beredar. Namun, kondisi berubah kala pandemi datang. Investor asing meninggalkan SBN dan belum kembali sepenuhnya.  Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan ketidakpastian masih membayangi pasar surat utang. Tak heran bila untuk sementara pasar lebih memilih instrumen bertenor pendek karena terdapat risiko yang datang dari infl asi dan gejolak nilai tukar yang bisa menggerus imbal hasil nyata. Dia menilai risiko infl asi RI datang dari harga beras dan energi. Lalu, kinerja rupiah yang masih tertekan di hadapan greenback turut membebani aksi asing masuk ke Tanah Air.  Kepala Ekonom dan Kepala Riset Divisi Surat Utang BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto mengatakan dalam hasil risetnya bahwa di tengah pelemahan rupiah dan upaya BI mengendalikan nilai tukar melalui penerbitan sekuritas rupiah BI (SRBI) dia mengantisipasi dampaknya terhadap pasar surat utang. Dia menyebut bahwa penerbitan SRBI tenor pendek dengan SBN sebagai aset dasarnya bisa memicu gejolak pada tenor jangka panjang. Artinya, gerak kenaikan imbal hasil SUN tenor panjang bisa semakin volatil.

Pilihan Editor