Pelemahan Rupiah Menekan Saham
Ekspektasi suku bunga yang masih tinggi membuat dolar Amerika Serikat (AS) perkasa di tengah mata uang lainnya, termasuk rupiah. Hal ini bisa menjadi sentimen negatif bagi sejumlah emiten di bursa saham. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih dalam tren melemah. Rupiah di pasar spot terdepresiasi 0,34% ke Rp 15.634 per dolar AS, Rabu (10/4). Ini menjadi pelemahan terburuk sejak 29 Desember 2022. Rupiah pun menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia. Pengamat mata uang dan komoditas Lukman Leong mengatakan, sikap agresif The Fed dalam menaikkan suku bunga serta perlambatan ekonomi global, terutama China menjadi biang kerok pelemahan rupiah. Sementara, untuk satu tahun ke depan, Lukman memperkirakan keadaan akan berbalik. Sebab, bank-bank sentral akan mulai menurunkan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi akan mulai membaik. Hitungan Lukman, rupiah akan bergerak di level Rp 15.800–Rp 16.000 per dollar AS hingga akhir 2023. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus menambahkan, spread premium antara suku bunga The Fed dan suku bunga Bank Indonesia menjadi nol jika The Fed menaikkan tingkat suku bunga. Akibatnya, daya tarik terhadap dollar AS jauh lebih besar. Sentimen ini membuat emiten saham yang kinerjanya bergantung terhadap transaksi impor bisa mengalami penurunan kinerja. Sebaliknya, emiten yang kinerjanya bergantung terhadap transaksi ekspor bisa diuntungkan. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, sektor yang bahan bakunya masih mengandalkan impor seperti farmasi, elektronik, dan otomotif bakal terdampak pelemahan rupiah. Ambil contoh, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO). Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menilai, sektor teknologi juga sebaiknya dihindari dahulu. Sebab, selain dibayangi suku bunga tinggi, emiten teknologi banyak yang masih merugi. Sedangkan Nico menilai sektor properti bakal terkena imbas. Maka, lebih baik pilih saham defensif seperti sektor barang konsumsi.
Tags :
#SahamPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023