Sejumlah Risiko Membayangi PGAS
Kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) bakal diwarnai sentimen beragam di sisa tahun 2023. Pengoperasian dua proyek pendistribusian minyak dan gas (migas), yakni Blok Rokan dan pipa transmisi gas Gresik-Semarang bisa mendongkrak pendapatan PGAS tahun ini. Head of Research Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya mengatakan, selain didorong dua proyek itu, PGAS juga disokong potensi kenaikan permintaan energi dari industri maupun pembangkit listrik. Kendati begitu, PGAS tidak bisa sepenuhnya menentukan harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) karena diintervensi pemerintah. Apalagi belum lama ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menolak usulan PGAS menaikkan harga gas industri untuk pelanggan non-Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Pada semester I-2023, PGAS membukukan pendapatan sebesar US$ 1,78 miliar atau tumbuh 2,5% yoy. Kepala Riset Ciptadana Sekuritas, Arief Budiman mencatat, realisasi ini sudah memenuhi 50% dari estimasi setahun penuh 2023 dari Ciptadana Sekuritas. Faktor pendukung utama kenaikan pendapatan ini adalah peningkatan volume distribusi migas sebesar 3,4%. Di sisi lain, perolehan laba bersih PGAS pada paruh pertama tahun ini di bawah ekspektasi dengan penurunan sebesar 39,1% yoy menjadi US$ 145 juta dari US$ 239 juta pada periode sama tahun 2022. Realisasi ini setara 41%-43% dari proyeksi Ciptadana Sekuritas dan konsensus untuk setahun penuh 2023. Penurunan laba bersih ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, adanya provisi atas sengketa pajak sebesar US$ 29,86 juta dan provisi atas kontrak LNG sebesar US$ 4,42 juta. Kedua, tarif pajak efektif yang lebih tinggi, yakni sebesar 36% pada kuartal II-2023 dari 20% pada kuartal I-2023. Ketiga, penurunan margin segmen hulu menjadi 12,8% pada semester 1 2023 dari 40% pada semester 1 2022 karena melemahnya harga minyak. Keempat, operational expenditure (opex) yang lebih tinggi di kuartal II-2023. Terakhir, adanya pengeluaran lain-lain US$ 3 juta dan kepentingan minoritas yang lebih tinggi 35,3% yoy juga membebani profitabilitas. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Hasan Barakwan mengatakan, kesenjangan pasokan pada 2023-2024 tetap menjadi risiko PGAS. Ditambah, Kementerian ESDM menolak rencana kenaikan harga bahan bakar untuk pelanggan non-HGBT. SKK Migas juga menyatakan tidak akan ada kenaikan harga gas di hulu.
Postingan Terkait
Mengendalikan Daya Tarik Eksplorasi Migas
30 Jun 2025
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
30 Jun 2025
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
25 Jun 2025
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
24 Jun 2025
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
24 Jun 2025
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
21 Jun 2025
Kemungkinan Pemerintah Membuka Opsi Impor Gas
20 Jun 2025
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023