;

KILAU SAHAM ENERGI HIJAU

Ekonomi Hairul Rizal 09 Dec 2023 Bisnis Indonesia (H)
KILAU SAHAM ENERGI HIJAU

Tingginya gairah investor terhadap emiten-emiten sektor energi baru terbarukan atau EBT di pasar modal menjadi sinyal positif yang patut disyukuri. Sebab, dukungan investor menjadi prasyarat penting bagi terwujudnya visi pemerintah untuk beralih ke energi bersih. Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo turut semringah ketika harga saham emiten EBT di pasar modal melesat akhir-akhir ini, yakni PT PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO). Bahkan, kemarin saham BREN sempat melesat ke level Rp8.175 sehingga menjadikan nilai kapitalisasi pasarnya mencapai Rp1.094 triliun. Lonjakan tersebut menjadikan BREN sempat menyentuh tahta emiten dengan nilai market cap terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalahkan penghuni lama yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang turun ke Rp1.078,66 triliun. Namun, di akhir perdagangan, saham BREN kembali turun ke posisi Rp8.050 sehingga nilai kapitalisasi pasarnya menjadi Rp1.076,98 triliun. Dengan posisi tersebut, saham BREN tercatat sudah melesat 932% dibanding harga perdananya saat tercatat pada 9 Oktober 2023 lalu yang senilai Rp780. Sementara itu, saham PGEO naik 7,34% ke level Rp1.170 dalam sehari. Meski tidak setinggi BREN, dengan posisi tersebut, saham PGEO kini juga sudah naik cukup tinggi, yakni 34% dari harga IPO pada 24 Februari 2023 lalu yang sebesar Rp875. Lonjakan saham emiten EBT ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mencapai target bauran EBT sebesar 23% pada 2025 dan 31% pada 2050. Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas Changkun Shin mengatakan target tersebut menjadikan bisnis EBT prospektif baik untuk jangka pendek, menengah, maupun panjang. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan faktor lain yang menopang sektor EBT adalah tren pembiayaan hijau yang terus meningkat di kalangan perbankan. Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus belum merekomendasikan saham-saham EBT untuk jangka panjang. Dia mengimbau investor untuk tetap memperhatikan momentum dan rasionalitas. Sementara itu, baik BREN maupun PGEO pun telihat agresif dalam mengembangkan investasi mereka di sektor EBT. Kemarin, BREN mengumumkan anak perusahaannya yakni PT Barito Wind Energy telah mencapai kesepakatan secara prinsip dengan UPC Renewables Asia Pacific Holdings Pte. Ltd. dan ACEN Renewables untuk akuisisi 100% saham PT UPC Sidrap Bayu Energy (Sidrap). CEO Barito Renewables Hendra Tan mengatakan hal ini menandai awal dari jejak langkah BREN di bidang energi terbarukan selain panas bumi. Sementara itu, PGEO baru saja membentuk perusahaan patungan dengan Chevron New Energies Holdings Indonesia Ltd. (Chevron) untuk pengembangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Way Ratai, Lampung, yang akan dilaksanakan hingga 2028. Direktur Utama PGEO Julfi Hadi mengatakan perusahaan patungan tersebut adalah PT Cahaya Anagata Energy, dengan porsi kepemilikan PGEO sebesar 40%, sedangkan Chevron menggenggam 60%. “Semua ini berfokus dan sejalan dengan agenda pemerintah untuk mencapai net zero emission 2060,” ujar Julfi.

Tags :
#Saham #
Download Aplikasi Labirin :