Sektor Saham Barang Baku Masih Jitu
Emiten sektor barang baku menantikan prospek perekonomian yang lebih baik di tahun 2024. Perputaran roda ekonomi diharapkan meningkatkan lagi pemintaan bahan-bahan mentah. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengamati, sampai saat ini masih belum ada sentimen benar-bener kuat dalam menopang kinerja emiten barang baku, terutama emiten tambang logam. Seperti diketahui, industri logam masih menunggu pemulihan ekonomi China yang relatif lambat sehingga berdampak pada rantai industri manufaktur. Sebagai salah satu konsumen terbesar, permintaan China berdampak bagi tingkat harga komoditas tambang semacam nikel, tembaga dan timah. Situasi ini ikut menahan ketertarikan investor terhadap saham-saham yang ada di sektor barang baku seperti saham tambang logam seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Timah Tbk (TINS). Namun, Miftahul mencermati bahwa saham sektor barang baku tak sepenuhnya suram. Ada segmen bisnis yang dinilai punya kinerja apik seperti pada emiten semen.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi menilai, penurunan harga komoditas yang masih terjadi akan berdampak pada kinerja emiten pertambangan logam. Harga nikel global kemungkinan akan tetap tertekan pada tahun 2024 - 2025 karena melimpahnya pasokan, terutama dari Indonesia akibat peningkatan kapasitas smelter nikel di Indonesia. Saat ini, Samuel Sekuritas menyukai emas sejalan dengan sikap The Fed yang kurang
hawkish
dan akan berefek pada pelemahan dollar AS. Ketidakpastian global setelah perang Israel-Hamas mungkin juga akan mendorong investor untuk beralih ke aset
safe haven
seperti emas.
Di sisi lain, kondisi manufaktur Indonesia saat ini terpantau sedikit membaik pada November 2023, setelah dua bulan berturut-turut melemah. Meningkatnya aktivitas manufaktur artinya bisa mengangkat permintaan barang baku.
S&P Global mencatat,
Purchasing Manager's Index
(PMI) Manufaktur Indonesia pada November 2023 berada di level 51,7. Angka ini naik 0,2 poin dibandingkan dengan Oktober 2023 yaitu 51,5. Secara teknikal, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengamati, pergerakan sektor saham barang baku yang tercermin dari IDX Basic Materials masih berada pada fase
uptrend
di tahun ini. Meskipun terjadi koreksi pada semester pertama 2023.
Sebagai informasi, sektor saham barang baku terdiri dari perusahaan yang menjual produk atau jasa yang nantinya digunakan industri lain sebagai bahan baku untuk memproduksi barang jadi. Contohnya, perusahaan yang memproduksi barang kimia, material konstruksi, kemasan, wadah, pertambangan logam atau mineral non-energi, serta produk kayu dan kertas.
Menurut Herditya, emiten sektor ini yang dapat dicermati adalah ANTM, MDKA, serta SMGR. Sedangkan Miftahul merekomendasikan beli SMGR dan INTP dengan target harga masing-masing di Rp 8.000 dan Rp 12.905.
Tags :
#SahamPostingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Perang Memanas, Saham Energi Kian Mendidih
Langkah Ekspansi dan Divestasi Perusahaan
Ketegangan AS–Iran Tekan Sentimen Pasar Global
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023