KINERJA SOLID PASAR SAHAM
Sinyal penurunan suku bunga acuan The Fed dan pengumuman dividen sejumlah emiten mendorong penguatan indeks harga saham gabungan sepanjang akhir pekan ini. Pasar saham diyakini masih memiliki daya tarik yang kuat di tengah aksi wait and see para pemilik modal. Bisnis mencatat, indeks harga saham gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan kemarin, Jumat, (8/3) ditutup menguat 0,11% ke 7.381,9. IHSG pada sesi perdagangan pertama kemarin, sempat menyentuh rekor terbaru di level 7.416,43. Penguatan IHSG, dikerek oleh sejumlah saham berkapitalisasi jumbo yang didominasi oleh sektor perbankan. Harga saham dengan kenaikan tertinggi ditempati oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), diikuti oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai penurunan suku bunga The Fed bakal berpengaruh positif terhadap pasar saham di Tanah Air. Senada, Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengungkapkan, berdasarkan CME Fed Watchtools, probabilitas terjadinya pemangkasan suku bunga The Fed pada Juni 2024 mencapai 60,2%. Oktavianus menyatakan sejumlah bank jumbo seperti BBRI, BBNI, dan BMRI telah mengumumkan porsi pembagian dividen yang berasal dari tahun buku 2023. Dalam waktu dekat, bakal menyusul, BBCA yang dijadwalkan mengumumkan pembagian dividen melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada pekan depan.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) Irvan Susandy mengatakan bahwa meski terjadi penguatan saham, investor masih dalam posisi menunggu hasil pemilihan umum versi resmi Komisi Pemilihan Umum. Aksi tunggu ini terlihat dari nilai rata-rata transaksi harian yang masih di bawah target. Adapun, Pengamat Pasar Keuangan dan Komoditas Ariston Tjendra menuturkan bahwa pergerakan harga emas nasional turut mencerminkan arah kebijakan suku bunga global dan efek rambatannya ke koreksi dolar AS.
Tags :
#SahamPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023