TAKTIS KALA PASAR BULLISH
Kinerja bullish sejumlah instrumen investasi belakangan ini membuka kesempatan bagi investor untuk mengevaluasi kembali portofolio mereka. Hal tersebut krusial mengingat momentum tersebut berbarengan dengan Ramadan dan perayaan Lebaran yang lazim membuat pengeluaran menjulang. Salah satu bukti geliat sektor investasi terlihat dari pasar saham dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 0,16% secara harian ke 7.433 pada Kamis (14/3), dengan level tertinggi menyentuh 7.454 atau rekor baru sepanjang tahun ini. Rekor pergerakan IHSG sebelumnya tercapai pada perdagangan perdana tahun 2024, susut sesaat, lalu kembali terangkat pada pekan lalu. Pada kelas aset lainnya, yakni Bitcoin, Bloomberg mencatat trennya konsisten menanjak sejak awal tahun dan rekor baru terus pecah, selumbari aset digital itu mencapai harga US$73.275. Namun, perdagangan kemarin, turun 0,4% menyentuh US$72.865. Merespons ‘gelombang pasang’ kinerja aset keuangan itu, CEO MRE Financial & Business Advisory Mike Rini Sutikno menyarankan agar investor tetap berhati-hati mengelola keuangan dan berinvestasi, terutama saat momen Ramadan dan Idulfi tri yang membutuhkan dana tinggi. Selain itu, dia menilai investor perlu melihat kembali kesesuaian tujuan keuangan jangka pendek dan panjang sehingga bisa memilih aset secara tepat. Untuk investasi jangka pendek, di bawah setahun, alokasi dana tertuju pada aset berisiko rendah seperti reksa dana pasar uang, deposito, dan SBN ritel. Jika membandingkan ketiga instrumen tersebut, maka hingga Jumat (8/3), kinerja indeks reksa dana pasar uang memberikan pertumbuhan 0,88% secara tahun berjalan.
Adapun, imbal hasil deposito mengacu pada kenaikan imbal hasil penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar 0,64% pada periode yang sama. Lalu, Surat Berharga Negara (SBN) ritel jenis Sukuk Ritel seri SR020, yang kini sedang ditawarkan pemerintah, menawarkan kupon sebesar 6,3% dalam setahun untuk tenor 3 tahun dan 6,4% untuk tenor 5 tahun.
Senada, Head OLT III Jakarta Mandiri Sekuritas Ahmad Rasyid Abidin mengatakan momen saat ini merupakan momen perpindahan aset. Dia berujar saat ini investor saham tengah mengalihkan portofolionya ke instrumen kripto. Akan tetapi, lanjutnya, apabila investor memilih investasi jangka panjang maka momen saat ini tak dipergunakan untuk pindah aset atau switching.
Rasyid juga menyarankan investor untuk melakukan diversifi kasi ke instrumen lain yang tengah bullish tahun ini seperti emas, atau kripto. Untuk emas, J. P. Morgan Chase & Co. menjagokan logam mulia karena diperkirakan bisa mencapai US$2.500 per ounce pada 2024. Dengan catatan, terjadi peralihan kebijakan The Fed menuju pelonggaran moneter. Kemudian, Bloomberg meramalkan Bitcoin penguatan berlanjut ke US$80.000 dalam jangka pendek. Perihal potensi penguatan lanjutan Bitcoin, Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Sanjaya berharap efek rambatannya ke transaksi kripto di Tanah Air.
Meskipun menawarkan potensi cuan, Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto memperingatkan agar investor memperhatikan profi l risiko sebelum menanamkan modalnya.
Tags :
#SahamPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023