Saham
( 1722 )Saham Kembali Menjadi Primadona
IHSG Menunggu Katalis Penggerak Baru
Pasar saham Indonesia, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dipengaruhi oleh beberapa faktor utama seperti kebijakan pelonggaran moneter dari Federal Reserve dan Bank Indonesia, serta sentimen positif yang diharapkan muncul dari faktor domestik dan global. Adrian Joezer, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, menyebutkan bahwa aksi profit-taking di pasar adalah wajar dan tetap ada potensi penguatan IHSG jika aliran modal asing berlanjut. Selain itu, stimulus dari pemerintah China diperkirakan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.
Adityo Nugroho, Senior Investment Information dari Mirae Asset Sekuritas, menyoroti agenda politik di kuartal IV/2024, seperti pelantikan Presiden Terpilih Prabowo Subianto dan pembentukan kabinet baru yang bisa mempengaruhi pasar. Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo, juga optimis bahwa stabilitas politik akan mendorong penguatan IHSG, dengan prediksi IHSG bisa mencapai level 7.920 hingga 8.080 hingga akhir tahun. Selain itu, sektor-sektor potensial seperti perbankan, properti, dan ritel diperkirakan akan mendapatkan keuntungan dari situasi politik dan ekonomi tersebut.
Stock Split untuk Meningkatkan Likuiditas Saham
Aksi korporasi emiten dalam melakukan pemecahan nilai saham alias stock split kembali marak. Dalam catatan KONTAN, sepanjang tahun ini sudah ada 11 emiten yang melakukan stock split. Terbaru, PT Indosat Tbk (ISAT) alias Indosat Ooredoo Hutchinson telah mengantongi restu pemegang saham untuk melakukan stock split. Persetujuan itu dikantongi ISAT dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Rabu 25 September 2024. PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) juga mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk stock split dalam RUPSLB pada 23 September 2024. Rencananya, MSIN akan stock split dengan rasio 1:5.
Sebelumnya, ada PT Lippo General Insurance Tbk (LPGI) yang
stock split
pada awal September lalu dengan rasio 1:10.
Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo bilang, stock split dilakukan agar saham MSIN dapat menjangkau basis investor yang lebih luas dan meningkatkan likuiditas pasar.
Sesuai jadwal, stock split akan dieksekusi MSIN pada 7 Oktober 2024. Jika menggunakan harga penutupan Kamis (25/9) Rp 7.100 per saham, maka saham MSIN pasca
stock split
akan berada di kisaran Rp 1.420. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai,
stock split
akan membuat saham emiten lebih murah dan likuid.
Nico bilang investor yang mengincar cuan dalam jangka pendek, bisa memanfaatkan momentum kenaikan harga saat rencana stock split diumumkan. Kalau sudah lewat, biasanya penguatan akan cenderung terbatas.
Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mengingatkan, meski harga sahamnya bakal lebih terjangkau pasca
stock split,
tapi aksi korporasi ini tidak akan memengaruhi fundamental kinerja emiten.
Dus, investor harus tetap cermat memilih saham.
Saham Emiten Besar Mengalami Perubahan Bobot
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan kembali bobot emiten terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan indeks lain. Dalam evaluasi minor terbaru yang berlaku Oktober 2024, ada sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar ( big cap ) yang mengalami perubahan bobot terhadap IHSG. Kebanyakan emiten big cap mengalami penurunan bobot terhadap IHSG. Termasuk saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang belakangan ini bergerak fluktuatif dan menyetir pergerakan IHSG. Bobot saham BREN terhadap IHSG turun dari 4,3% menjadi 4,25% setelah evaluasi. BREN tercatat memiliki saham free float sebanyak 11,73%. Bobot emiten big cap lainnya termasuk empat perbankan terbesar juga turun. Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana melihat, evaluasi bobot merupakan sesuatu yang secara reguler dilakukan BEI. Fokus utama yang dilihat BEI dalam menentukan bobot terhadap IHSG adalah dari rasio free float dan kapitalisasi pasar (market cap) emiten. "Untuk market cap, tidak seluruhnya dimasukkan, agar tidak ada emiten yang terlalu dominan terhadap IHSG. Free float dilihat faktor likuiditas," kata Wawan kepada KONTAN, Rabu (25/9). Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti menilai, evaluasi berkala yang dilakukan BEI terhadap indeks, baik evaluasi mayor seperti perubahan konstituen maupun evaluasi minor, bertujuan untuk memastikan bahwa indeks-indeks tersebut tetap relevan terhadap kondisi pasar yang sebenarnya.
Di sisi lain, bobot BREN di Indeks sektor infrastruktur atau IDXINFRA juga mengalami perubahan. Bobot BREN meningkat dari 8,74% menjadi 9%. Hal ini merupakan indikasi meningkatnya peran penting BREN di sektor infrastruktur, terutama di sektor energi terbarukan (EBT). Meningkatnya bobot BREN di IDXInfra ini berdampak netral atau bahkan positif terhadap kinerja saham perseroan itu.
Wawan menilai, untuk memilih mana saham yang berkinerja baik, tiga faktor utama yang biasanya dilihat langsung oleh investor adalah fundamental emiten, prospek bisnis ke depan, dan likuiditas.
Nah, ke depan Wawan melihat sektor perbankan masih menarik untuk dilirik investor. Hal ini berkaitan dengan penurunan suku bunga, sehingga permintaan kredit akan naik.
Diharapkan dengan tren menurunnya suku bunga acuan, emiten-emiten bank yang selama ini memiliki rasio
Current Account Saving Account
(CASA),
nonperforming loan
(NPL), dan
loan to deposit ratio
(LDR) yang lebih inferior dibanding rata-rata industrinya, akan memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan.
Saham Batubara Berpotensi Naik dengan Implementasi MIP
Skema pungut salur dana kompensasi batubara melalui Mitra Instansi Pengelola (MIP) segera terealisasi. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan tidak ada kendala dalam rencana implementasi MIP batubara, yang diharapkan bisa dijalankan pada tahun ini. Emiten pertambangan batubara plat merah, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) antusias menyambut kehadiran MIP. Sekretaris Perusahaan PTBA, Niko Chandra mengatakan pihaknya terus memonitor perkembangan mengenai skema ini, dan berharap Peraturan Presiden (Perpres) terkait MIP segera terbit. Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PTBA Farida Thamrin dalam paparan publik beberapa waktu lalu menjelaskan, dampak yang akan diterima PTBA akan bergantung kepada indeks harga batubara saat MIP diberlakukan. Pada prinsipnya, semakin besar selisih harga antara harga cap dengan indeks, maka akan berdampak kepada margin perseroan yang lebih tinggi. Begitupula sebaliknya. Sementara itu, Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), Febriati Nadira mengatakan, ADRO masih menunggu keputusan pemerintah terkait MIP. "Para pelaku industri menginginkan diterapkannya harga yang kompetitif demi konservasi cadangan batubara dan ketahanan energi nasional," kata Nadira.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan mengatakan, penerapan MIP akan memberikan efek penyesuaian terhadap industri batubara Indonesia. Skema ini memungkinkan perusahaan berorientasi domestik, khususnya yang memenuhi wajib pasok dalam negeri alias
Domestic Market Obligation
(DMO) mendapatkan insentif dari iuran yang nantinya dikelola oleh MIP.
Analis BCA Sekuritas, Achmad Yaki menambahkan, skema MIP bisa membawa dampak positif untuk menjaga ketersediaan batubara dalam negeri. Tapi di sisi lain, skema ini dapat menambah beban baru untuk produsen batubara yang dominan ekspor.
Investment Analyst
Stockbit, Hendriko Gani menyoroti, pembentukan MIP menjadi katalis positif bagi emiten yang banyak menjual ke pasar domestik seperti PTBA. Sebab, emiten kategori ini berpotensi mengalami kenaikan harga jual rata-rata setelah mengalami penyesuaian pasca subsidi dari MIP.
BEI Kaji Ulang Aturan Batas Minimal Saham
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana untuk mengkaji ulang aturan batas minimal saham beredar di publik atau yang dikenal dengan istilah free float. Langkah ini diambil sebagai respons atau polemik yang terjadi seputar penghapusan PT Barito Renewabless Energy Tbk (BREN) dari konstituen indeks FTSE Russell. Keputusan FTSE ini tak hanya mengejutkan pasar, tetapi juga mengejutkan indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami koreksi yang cukup tajam. Saham BREN dikeluarkan dari indeks FTSE Russell katagori large cap pada September ini, sebuah kegagalan yang terjadi untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya BREN juga gagal masuk indeks FTSE Russel disebabkan oleh tingginya konsetrasi kepemilikan saham, dimana sekitar 9% saham BREN dikuasai oleh empat pemegang saham utama, termasuk pengendali dan asosiasinya. Hal ini menyebabkan saham BREN mengalami penurunan harga yang sangat tajam. Atau yang lebih dikenal dengan istilah auto reject bawah, selama dua hari berturut-turut. Dampak dari peristiwa ini tidak hanya dirasakan oleh BREN sendiri, tetapi juga memberikan beban berat bagi IHSG, yang gagal mempertahankan level psikologis 8.000. IHSG tertekan akibat kontribusi negatif dari penurunan saham BREN, yang menambahkan tekanan pada pasar secara keseluruhan. (Yetede)
IHSG Berpotensi Melanjutkan Penurunan
Menunggu Performa Saham Blue Chip di Kuartal Akhir
Bagi investor yang memiliki target investasi jangka panjang, saham keping biru atau blue chip kerap menjadi pilihan untuk mengincar pertumbuhan imbal hasil yang konsisten. Namun, beberapa saham yang kerap digadang sebagai saham blue chip, ternyata punya performa buruk dalam lima tahun terakhir. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Astra International Tbk (ASII) misalnya, dalam lima tahun terakhir, imbal hasil negatif. Sejak awal tahun ini, ketiganya masih laggard atau tertinggal jauh dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sejak awal tahun ini, harga ASII belum bisa kembali ke atas Rp 6.000. Apalagi, UNVR yang kini tersungkur di kisaran Rp 2.000-an. Tergerus 75% dalam lima tahun terakhir. Nasib lebih buruk dialami PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Saham GGRM yang pernah bertengger di Rp 90.000 per saham pada 2019 silam, kini berkubang di kisaran Rp 15.000-an. GGRM hilang pamor, terlebih beberapa kali puasa membagi dividen. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menilai, penurunan harga saham ini tak lepas dari kinerja emiten yang cenderung stagnan ataupun turun. Misalnya, UNVR mencatatkan compound annual growth rate (CAGR) untuk earnings per share (EPS) dalam 3 tahun terakhir -12,5%, lalu GGRM -11,4% dan HMSP -1,92%.
Bukan cuma itu. Penyebab
blue chip
konvensional ini mulai tertinggal adalah bobot yang semakin tipis di IHSG.
Head of Investment
Nawasena Abhipraya Investama, Kiswoyo Adi Joe menilai, berbagai saham baru yang memiliki
market cap
besar mulai menggeser bobot
blue chip
lawas. Hal ini membuat penyesuaian portofolio manajer investasi. "HMSP, GGRM dan UNVR sulit naik lagi, bobot terhadap IHSG mengecil," tuturnya.
Kendati begitu,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus optimistis beberapa
blue chip
ini masih bisa tumbuh positif. Misalnya, ASII dan TLKM terus berupaya diversifikasi bisnis. Target harga Nico untuk ASII di akhir tahun Rp 5.600 dan TLKM Rp 3.900.
The Fed yang Menurunkan Suku Bunga Sangat Besar
Magnet Kuat Dari BREN Solid Membuat Tekanan Hebat
Bobot PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang demikian berat terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) membuat tindak tanduk portfolio milik konglomerat Prajogo Pangestu itu selalu menjadi pusat perhatian. Ini menandai magnet kuat dari BREN dan saham group Barito Cs. Fundamental grup yang terkenal solid membuat tekanan hebat sekedar menjadi reaksi sesaat. Bukti nyata betapa dahsyatnya pengaruh BREN dengan kapitalisasi pasar (market cap) mencapai Rp 1,180 triliun terhadap indeks ini, terefleksi terhadap perdagangan, Jumat (20/9/2024) kemarin. Di tengah euphoria pemangkasan suku bunga dan ekspektasi pelaku pasar yang menginginkan IHSG menyentuh 8.000, terpaksa pupus akibat kebijakan FTSE yang mengeluarkan BREN dari konstituen indeks. Pengamat Pasar Modal sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Budi Frensidy mengamini bahwa koreksi IHSG pada perdagangan Jumat (20/9/2024) hingga ke level 7.743 karena memfaktorkan keluarnya BREN dari FTSE. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Kemkes-BSSN Klaim Data Pengguna eHAC Tak Bocor
03 Sep 2021 -
UU Keamanan Data Tiongkok Resmi Berlaku
02 Sep 2021 -
Kinerja Ekspor, Perikanan Jadi Energi Baru
29 Aug 2021 -
Grup Djarum Siapkan Rencana IPO Blibli
29 Aug 2021









