;
Tags

Saham

( 1717 )

TPIA Fokus pada Inovasi dan Ekspansi Bisnis

HR1 09 Oct 2024 Kontan
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terus menguatkan posisinya di industri energi dan kimia melalui akuisisi Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura. Direktur SDM dan Urusan Korporat Chandra Asri, Suryandi, menyatakan bahwa akuisisi ini memungkinkan sinergi antara kilang SECP dengan pabrik di Cilegon, yang akan mendukung distribusi produk petroleum untuk kebutuhan domestik. Selain itu, langkah ini memperluas jangkauan Chandra Asri ke pasar Asia Tenggara dan memperkuat rantai pasokan perusahaan. Dengan dukungan teknologi SECP dan kolaborasi dengan Glencore, Chandra Asri optimis dapat bersaing di pasar global serta terus berinovasi dan mengembangkan pasar di luar Asia Tenggara.

Tren Penurunan Bisnis Batu Bara di Tengah Perubahan Pasar

HR1 09 Oct 2024 Kontan
Sejumlah perusahaan tambang batu bara Indonesia mulai mengurangi ketergantungan pada bisnis batu bara dengan melakukan diversifikasi ke sektor berkelanjutan. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melepas dua aset PLTU sebagai bagian dari target mencapai netralitas karbon pada 2030, ungkap Direktur TOBA, Juli Oktarina. PT Indika Energy Tbk (INDY) juga aktif menjual beberapa anak usahanya terkait energi, seperti PT Mitra Energi Agung dan PT Trisetia Citagraha, untuk memperkuat keuangan dan mengalihkan investasi ke sektor energi terbarukan, kata Head of Corporate Communications Ricky Fernando.

PT United Tractors Tbk (UNTR) juga berencana memperbesar kontribusi bisnis non-batubara pada 2030, sementara PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) bersiap untuk melepas salah satu pilar bisnis batu baranya demi mencapai 50% pendapatan dari sektor non-batu bara. Hendra Wardana dari Stocknow.id menilai langkah ini sebagai respons terhadap kebutuhan pasar global akan keberlanjutan. Analis BCA Sekuritas, Achmad Yaki, mengingatkan bahwa transisi ini memerlukan waktu, terutama karena kontribusi bisnis batu bara masih dominan di perusahaan-perusahaan ini. 

Di pasar saham, William Hartanto dan Yaki merekomendasikan saham emiten seperti INDY, ADRO, TOBA, dan UNTR, yang diperkirakan memiliki potensi harga jangka pendek hingga menengah.

Prospek Cerah Saham BUMN

HR1 08 Oct 2024 Kontan

Setoran dividen emiten pelat merah ke kas negara semakin membaik. Kementerian Keuangan mencatat, hingga Agustus 2024 realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari pos kekayaan negara yang dipisahkan (KND) atau dividen BUMN mencapai Rp 70,29 triliun. Realisasi tersebut sudah mencapai 78,88% dari target yang dipatok pemerintah sebesar 85,84 triliun di sepanjang tahun ini. 

Tiga emiten bank pelat merah dalam kumpulan indeks BUMN20 menjadi penyumbang terbesar setoran dividen BUMN. Pertama, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang telah menyetor dividen Rp 25,71 triliun. Kedua, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang menyumbang dividen senilai Rp 17,18 triliun. Ketiga, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), yang menyetor dividen sebesar Rp 9,21 triliun. Ironisnya, meski konstituennya jadi penyumbang dividen terbesar ke negara, kinerja saham indeks BUMN20 masih merah. 

Senin (7/10), kinerja IDX BUMN20 terkoreksi 0,14% ke 398,44. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, penurunan harga saham sejumlah emiten konstituen, dipicu banyak sentimen negatif dari eksternal. Di antaranya, naiknya tensi geopolitik hingga beralihnya dana investor asing ke pasar keuangan emerging market yang dinilai lebih potensial. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama sepakat, jika kondisi global mulai kondusif, emiten BUMN bisa genjot kinerjanya hingga akhir tahun ini.

Saham PGAS Siap Menggebrak Pasar

HR1 08 Oct 2024 Kontan

Kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) masih cukup solid di semester pertama 2024. Kabar baiknya, ke depan penjualan Liqufied Natural Gas (LNG) akan mendukung kinerja PGAS di tengah penurunan pasokan gas bumi yang dialirkan melalui pipa. Analis Ciptadana Sekuritas, Arief Budiman mengatakan laba bersih PGAS masih bertumbuh 28% year on year (yoy) menjadi US$ 187 juta pada semester I-2024. Capaian ini berkat pendapatan yang naik 3,1% yoy menjadi US$ 1.839 juta karena margin distribusi gas yang melebar. Meski begitu penjualan dan laba bersih cukup tertekan selama kuartal kedua 2024. Laba bersih turun 46% secara kuartalan menjadi sebesar US$ 65 juta. Hasil tersebut sejalan dengan pendapatan yang turun 6,3% secara kuartalan menjadi US$ 890 juta. 

Dus, Arief melihat kinerja PGAS di semester pertama sejalan dengan perkiraan. Periode semester satu biasanya memang relatif lebih kuat daripada semester kedua, karena PGAS membebankan beberapa biaya ataupun pengeluaran di kuartal keempat. "Kami melihat peningkatan offtake LNG sebagai hal yang positif bagi PGAS, karena akan membantu meningkatkan margin," ujar Arief dalam riset 27 Agustus 2024. Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta mengatakan, PGAS saat ini tengah melanjutkan berbagai pembangunan infrastruktur LNG dan gas di Semarang dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang menghubungkan jaringan pipa Cisem-1. Saat ini proyek Cisem-1 hanya berkontribusi sekitar 1,65 mmscfd terhadap volume transmisi gas secara keseluruhan atau sekitar 1% per Agustus 2024. Meski begitu, infrastruktur yang dibangun PGAS ini akan bermanfaat bagi prospek jangka panjang. 

Ke depannya, Cisem-2 akan menghubungkan Semarang dengan Cirebon dan direncanakan akan selesai pada kuartal IV-2025. Namun, manajemen PGAS menegaskan bisnis perdagangan LNG saat ini akan ditangguhkan sementara hingga kasus Gunvor diselesaikan. PGAS memutuskan untuk tidak memasok kargo LNG yang dapat diperoleh PGAS dari Petronas (Malaysia) ke Tiongkok. Analis Bahana Sekuritas Dimas Wahyu Putra menyarankan buy on weakness PGAS dengan target harga Rp 1.700. "Investor dapat stop loss , jika PGAS turun di bawah Rp 1.400 per saham," jelas Dimas, Senin (7/10).

Konflik Timur Tengah: Saham Migas Ikut Terbakar

HR1 07 Oct 2024 Kontan

Eskalasi konflik yang memanas di Timur Tengah telah mendongkrak harga minyak mentah dunia. Dalam sepekan, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent kompak menanjak lebih dari 9%. Dikutip dari Bloomberg , harga minyak WTI kontrak November 2024 meningkat 9,09% ke level US$ 74,38 per barel, Jumat (4/10). Pada periode yang sama, harga Brent menguat 9,10% ke posisi US$ 78,05 per barel. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Muhamad Heru Mustofa mengatakan, sebagai produsen terbesar di dunia, tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah bakal memengaruhi harga komoditas minyak global. Jika eskalasi konflik berlanjut, pasokan minyak akan terganggu, sehingga harga akan lanjut menanjak. "Di sisi lain, rencana OPEC+ untuk melanjutkan peningkatan produksi minyak di Desember nanti dapat meredam kekhawatiran pasar terhadap risiko pasokan," jelas Heru kepada KONTAN, Minggu (6/10). Junior Equity Analyst Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty Hafiya turut menyoroti kekhawatiran pasar jika serangan menyasar infrastuktur minyak di Iran atau negara-negara produsen lain Arinda memprediksi, dalam jangka pendek harga minyak mentah dunia bisa menyentuh level US$ 80 - US$ 90 per barel atau lebih, 

jika situasi konflik semakin memburuk. Pasar akan mencermati bagaimana langkah OPEC+ untuk menjaga keseimbangan pasar minyak dunia. "Meskipun penguatan harga dalam jangka pendek bisa terjadi, pasar tetap akan bergantung pada perkembangan konflik serta kebijakan yang diambil oleh OPEC+," katanya. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengamati, situasi pasar dan harga saat ini bisa mengangkat kinerja mayoritas emiten minyak dan gas (migas) di sisa tahun 2024, atau minimal tidak menyusut dibandingkan periode tengah tahun. Toh, pelaku pasar pun telah merespons positif dengan kenaikan harga saham emiten migas dalam beberapa hari terakhir. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan mengingatkan, seberapa signifikan dan lama sentimen ini berlangsung akan bergantung pada dinamika geopolitik yang terjadi di sana. Namun, pelaku pasar tetap bisa memanfaatkan situasi ini untuk trading pada saham komoditas yang terdampak positif. Bagi saham yang terkait industri migas, Rizkia melirik PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). Sedangkan secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyodorkan saham ELSA dan MEDC.

Sentimen Negatif Terus Mengguncang Bursa Saham

HR1 07 Oct 2024 Kontan (H)

Pekan pertama bulan Oktober kurang menggembirakan bagi pasar saham dalam negeri. Beragam sentimen negatif, mulai dari konflik geopolitik yang memanas hingga pelemahan nilai tukar rupiah, kembali membombardir bursa saham. Tak heran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian menjauhi level tertinggi yang dicapai tiga pekan lalu dan kembali ke bawah 7.500. Dalam tiga perdagangan beruntun, IHSG berkubang di zona merah, turun 2,61% sepekan ke 7.496,09, Jumat (4/10). Koreksi IHSG sejalan posisi jual bersih (net sell) asing yang mencapai Rp 4,87 triliun. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengamati, sentimen signifikan dari faktor eksternal. Terutama efek kucuran stimulus ekonomi di China serta ketegangan di Timur Tengah. Stimulus ekonomi menarik arus dana investor asing ke bursa China. Sebaliknya, langkah China ini memicu arus keluar dari bursa Indonesia sehingga menekan bursa saham lokal. Kombinasi berbagai sentimen itu berpotensi menekan pasar saham beberapa pekan ke depan. "Setidaknya hingga rilis kinerja kuartal ketiga dan dapat menjadi penopang pergerakan IHSG di tengah sentimen di atas," kata Audi kepada KONTAN, Minggu (6/10). 

Kepala Riset FAC Sekuritas Indonesia, Wisnu Prambudi Wibowo melihat, konflik di Timur Tengah bisa mengerek harga komoditas, terutama minyak mentah. Pada penutupan akhir pekan lalu, harga minyak West Texas Intermedate (WTI) naik 0,91% menjadi US$ 74,38 per barel. Dalam sepekan, harga minyak naik 9,4%. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati, selain kombinasi sentimen domestik dan global, aksi profit taking dan jenuh beli turut menekan IHSG usai menyentuh rekor tertinggi (all time high) di level 7.910,86 pada bulan lalu. Pelemahan IHSG juga sejalan koreksi saham berkapitalisasi pasar besar, khususnya saham bank. Ratih melihat, IHSG masih berpeluang rebound dalam perdagangan sepekan ke depan jika bisa bertahan di atas support 7.450, dengan resistance 7.650. Jika IHSG breakout 7.450, support selanjutnya berada di level 7.300. Praktisi Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto sepakat, pelemahan IHSG juga akibat profit taking dan efek jenuh beli. William melihat, IHSG bergerak di 7.430-7.550. Menurut dia, saat ini masih menarik menerapkan buy on weakness.

Susahnya Mencapai Target Penerbitan Saham Perdana

KT3 07 Oct 2024 Kompas
Kurang dari tiga bulan menuju akhir 2024, jumlah saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia telah mencapai 936 entitas. Jumlah tersebut masih jauh dari target otoritas pasar modal yang mengharapkan tercatatnya 1.000 perusahaan. Sampai dengan Jumat (4/10/2024), jumlah perusahaan yang berencana melakukan pencatatan saham perdana mencapai 30 perusahaan dari beragam sektor. Mayoritas atau sebanyak 28 perusahaan yang hendak masuk ke bursa itu memiliki aset berkategori menengah dan atas, lebih dari Rp 50 miliar. Jika semua perusahaan itu bisa melaksanakan pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) hingga akhir tahun ini, target yang diharapkan otoritas bursa sebelumnya tidak akan tercapai.

Hal ini memang sudah diprediksi jauh-jauh hari, melihat perkembangan situasi ekonomi dan politik, yang diwarnai sentimen suku bunga tinggi dan pemilu di banyak negara, termasuk Indonesia. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengakui tantangan tersebut ketika menjawab pertanyaan wartawan mengenai persiapan IPO perusahaan di bawah mereka yang dikabarkan tertunda. Perusahaan itu antara lain PT Pertamina Hulu Energi (PHE), PT Pupuk Kalimantan Timur, dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV, PalmCo. ”Setelah dikaji, rencana listing ditunda. Keputusan IPO bergantung pada minat (pelaku pasar). Sementara kami lihat tahun ini, momentumnya kurang,” ujar Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo, Kamis (3/10).

Direktur Utama PalmCo Muhammad Abdul Gani, sebelumnya mengatakan, perseroan masih menunggu arahan dari pemerintahan presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. ”Kami tunggu dan mendengarkan kebijakan pemerintah mendatang. Secara prinsip, kami sudah siap,” ujarnya. Satu perusahaan swasta yang hendak IPO belum lama ini bahkan tiba-tiba mengundurkan diri. Perusahaan itu adalah PT Golden Westindo Artajaya (GWAA) yang akhir September lalu tidak melanjutkan proses IPO mereka. Laman e-IPO yang menampilkan prospektus calon emiten tertulis status ”postpone” atau ditunda. Terkait penundaan ini, belum ada informasi lebih lanjut dari perusahaan. (Yoga)

Saatnya Koleksi Saham yang Harganya Sedang Turun

KT1 07 Oct 2024 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi masih berada di fase penurunan (bearish) pada pekan ini, dengan menguji level support selanjutnya di 7.460. Kondisi pasar yang minim sentimen positif ini justru memunculkan kesempatan bagi investor untuk buy on weakness saham saham unggulan yang harganya sudah murah. "IHSG sudah limited downside, dan ini waktu yang tepat  bagi investor untuk buy on weakness. Apalagi secara histories, IHSG di bulan Oktober  sampai Februari mayoritas positif,' kata Senior Market Charist-Retail Business Mirea Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama. 

Nafan mengungkapkan. Pergerakan IHSG akan mendekati support terkuat di 7.460, dengan potensi rebound masih tetap terbuka  untuk jangka menengah panjang, Sentimen penggerak IHSG akan datang dari rilis beberapa data ekonomi di AS dan domestik, geopolitik Timur Tengah, pergerakan rupiah, serta dinamika pemilihan  kepala daerah di dalam negeri. Di tengah konidi saat ini, Nafan menyoroti tiga saham potensial yakni EXCL, MEDC, dan NCKL. "Berdasarkan weekly chart, EXCL telah terjadi buy on  dan ditutup diatas MA20 line, dengan target harga Rp2.360. MEDC dan NCKL juga menunjukkan sinyal positif dengan target harga masing-masing Rp 1.495 dan Rp950," ujar dia, (Yetede)

Emiten Kurang Menarik di Tengah Deflasi

HR1 04 Oct 2024 Kontan

Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali turun atau mengalami deflasi selama lima bulan beruntun. Ini menjadi yang terparah setelah tahun 1999. Bank Indonesia (BI) melaporkan pada September 2024 terjadi deflasi sebesar 0,12% secara bulanan. Laju deflasi itu lebih tinggi dibandingkan bulan Agustus di angka 0,03% secara bulanan. Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti menganalisa, deflasi yang terjadi selama lima bulan beruntun, menunjukkan tren pelemahan daya beli konsumen. Kondisi itu bisa berdampak negatif pada pendapatan sejumlah emiten. Terutama, emiten di sektor konsumsi, seperti consumer goods dan ritel. Ini menjadi hambatan perusahaan untuk mempertahankan marjin keuntungannya. "Kami memandang emiten di sektor-sektor yang sensitif terhadap permintaan domestik, kemungkinan pendapatannya akan turun di kuartal III-2024," kata Vinko kepada KONTAN, Kamis (3/10). Emiten barang konsumsi seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) atau PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), berpeluang merasakan dampak penurunan permintaan domestik. Senasib, emiten saham di sektor otomotif dan properti, semisal PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), bakal terkena getah deflasi. Pendapatan emiten bisa turun. 

Dus, saham-saham di sektor tersebut bisa mengalami volatilitas tinggi dan cenderung bearish. Sektor perbankan justru akan diuntungkan deflasi. Tren deflasi akan mendorong BI terus memangkas suku bunga acuan. Sedangkan sektor utilitas dan infrastruktur lebih defensif dan tidak terlalu bergantung siklus ekonomi. Senior Research Analyst BNI Sekuritas, Patricia Gabriela melihat, penjualan emiten barang konsumsi tumbuh kuat di kuartal III-2024, meski ada deflasi selama 5 bulan. Ini sejalan meningkatnya data retail sales index (RSI). Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menimpali, deflasi dapat memengaruhi pendapatan serta laba emiten. Sektor-sektor yang bergantung pada konsumsi seperti ritel serta makanan dan minuman, akan menghadapi tekanan pertumbuhan pendapatan akibat penurunan harga. Namun, penurunan suku bunga BI pada September lalu berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat. Ini bisa mendukung pemulihan konsumsi menjelang akhir tahun. "Biasanya ada lonjakan belanja pada saat perayaan Natal dan liburan tahun baru," kata Hendra.

IHSG Tertekan Serangan Rudal Iran-Israel

KT1 03 Oct 2024 Investor Daily (H)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (02/10/2024) ditutup melemah  -78,87 poin atau -1,03% ke level 7.563. Hal ini sebagai dampak langsung dari ketidakpastian global dan fluktuasi harga energi akibat krisis geopolitik di Timur Tengah, pasca serangan rudal Iran ke Israel. Namun, sejumlah analis masih optimistik IHSG mampu kembali ke zona hijau. Meskpiun IHSG melemah, sektor basic materialis menjadi yang paling kuat dengan kenaikan tipis sebesar +0,03%.

aDi sini lain, sektor transportation & logistics mengalami penurunan terbesar dengan pelemahan -1,95%, yang mencerminkan dampak langsung dari ketidakpastian global dan fluktuasi harga energi akibat krisisi geoplitik di Timur Tengah. Dalam risetnya, Pilarmas Sekuritas menuturkan, situasi di Timur Tengah menjadi fokus perhatian para pelaku pasar setelah Iran meluncurkan serangan rudal terhadap Israel, yang kemudian di respons dengan ancaman pembalasan dari Israel dan Amerika Serikat. Ketegangan ini menambah tekanan pada pasar saham di Asia, termasuk Indonesia, yang ikut terseret dalam pelemahan. (Yetede)