Saham
( 1722 )Transisi Pemerintahan Mulus dan Lancar Menguatkan IHSG
Musim Hujan Berkah untuk Produksi Sido Muncul
Saham Komoditas Tunjukkan Tren Kuat di Pasar
Beberapa lembaga meramalkan bahwa harga komoditas seperti batu bara, CPO, nikel, dan emas akan tetap stabil pada level tinggi hingga akhir tahun. JP Morgan merekomendasikan pembelian saham sektor komoditas Indonesia, seperti PT United Tractors (UNTR), PT Merdeka Copper Gold (MDKA), dan PT Aneka Tambang (ANTM) yang berpotensi mendapat keuntungan dari harga komoditas yang stabil. Selain itu, PT Adaro Energy Indonesia (ADRO) juga diperkirakan mengalami pertumbuhan setelah restrukturisasi besar-besaran.
Rizkia Darmawan dari Mirae Asset Sekuritas menyebutkan bahwa fenomena La Nina yang memengaruhi cuaca dapat mengganggu produksi batu bara dan CPO, sehingga meningkatkan harga. Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas juga melihat dampak positif bagi emiten batu bara seperti ADRO, ITMG, dan PTBA karena gangguan suplai. Di sektor CPO, kebijakan B40 bisa menjadi dorongan tambahan, dengan saham LSIP dan ADRO sebagai pilihan utama bagi investor.
Akuisisi Sebagai Langkah Strategis untuk Mengendalikan Bisnis
Emiten Bernilai: Menilai Peluang Cuan di Pasar Saham
Penurunan Suku Bunga Mendongkrak Kinerja PWON
TPIA Fokus pada Inovasi dan Ekspansi Bisnis
Tren Penurunan Bisnis Batu Bara di Tengah Perubahan Pasar
Prospek Cerah Saham BUMN
Setoran dividen emiten pelat merah ke kas negara semakin membaik. Kementerian Keuangan mencatat, hingga Agustus 2024 realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari pos kekayaan negara yang dipisahkan (KND) atau dividen BUMN mencapai Rp 70,29 triliun. Realisasi tersebut sudah mencapai 78,88% dari target yang dipatok pemerintah sebesar 85,84 triliun di sepanjang tahun ini.
Tiga emiten bank pelat merah dalam kumpulan indeks BUMN20 menjadi penyumbang terbesar setoran dividen BUMN. Pertama, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang telah menyetor dividen Rp 25,71 triliun. Kedua, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang menyumbang dividen senilai Rp 17,18 triliun. Ketiga, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), yang menyetor dividen sebesar Rp 9,21 triliun. Ironisnya, meski konstituennya jadi penyumbang dividen terbesar ke negara, kinerja saham indeks BUMN20 masih merah.
Senin (7/10), kinerja IDX BUMN20 terkoreksi 0,14% ke 398,44.
Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, penurunan harga saham sejumlah emiten konstituen, dipicu banyak sentimen negatif dari eksternal. Di antaranya, naiknya tensi geopolitik hingga beralihnya dana investor asing ke pasar keuangan emerging market yang dinilai lebih potensial. Senior Market Chartist
Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama sepakat, jika kondisi global mulai kondusif, emiten BUMN bisa genjot kinerjanya hingga akhir tahun ini.
Saham PGAS Siap Menggebrak Pasar
Kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) masih cukup solid di semester pertama 2024. Kabar baiknya, ke depan penjualan Liqufied Natural Gas (LNG) akan mendukung kinerja PGAS di tengah penurunan pasokan gas bumi yang dialirkan melalui pipa. Analis Ciptadana Sekuritas, Arief Budiman mengatakan laba bersih PGAS masih bertumbuh 28% year on year (yoy) menjadi US$ 187 juta pada semester I-2024. Capaian ini berkat pendapatan yang naik 3,1% yoy menjadi US$ 1.839 juta karena margin distribusi gas yang melebar. Meski begitu penjualan dan laba bersih cukup tertekan selama kuartal kedua 2024. Laba bersih turun 46% secara kuartalan menjadi sebesar US$ 65 juta. Hasil tersebut sejalan dengan pendapatan yang turun 6,3% secara kuartalan menjadi US$ 890 juta.
Dus, Arief melihat kinerja PGAS di semester pertama sejalan dengan perkiraan. Periode semester satu biasanya memang relatif lebih kuat daripada semester kedua, karena PGAS membebankan beberapa biaya ataupun pengeluaran di kuartal keempat. "Kami melihat peningkatan offtake LNG sebagai hal yang positif bagi PGAS, karena akan membantu meningkatkan margin," ujar Arief dalam riset 27 Agustus 2024. Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta mengatakan, PGAS saat ini tengah melanjutkan berbagai pembangunan infrastruktur LNG dan gas di Semarang dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang menghubungkan jaringan pipa Cisem-1. Saat ini proyek Cisem-1 hanya berkontribusi sekitar 1,65 mmscfd terhadap volume transmisi gas secara keseluruhan atau sekitar 1% per Agustus 2024. Meski begitu, infrastruktur yang dibangun PGAS ini akan bermanfaat bagi prospek jangka panjang.
Ke depannya, Cisem-2 akan menghubungkan Semarang dengan Cirebon dan direncanakan akan selesai pada kuartal IV-2025.
Namun, manajemen PGAS menegaskan bisnis perdagangan LNG saat ini akan ditangguhkan sementara hingga kasus Gunvor diselesaikan. PGAS memutuskan untuk tidak memasok kargo LNG yang dapat diperoleh PGAS dari Petronas (Malaysia) ke Tiongkok.
Analis Bahana Sekuritas Dimas Wahyu Putra menyarankan
buy on weakness
PGAS dengan target harga Rp 1.700. "Investor dapat
stop loss
, jika PGAS turun di bawah Rp 1.400 per saham," jelas Dimas, Senin (7/10).
Pilihan Editor
-
Rem Laju Utang, Sejumlah Strategi Disiapkan
30 Sep 2021 -
Kebocoran Data Seolah Dibiarkan Terus Terjadi
04 Sep 2021









