;
Tags

Saham

( 1722 )

BEI, Ukir Perusahaan yang Tumbuh Banyak di Asean

KT1 21 Sep 2024 Investor Daily

Sebagai tempat berlangsungnya transaksi perdagangan efek di pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan pencatatan saham dari emiten baru. Terdapat banyak manfaat ketika emiten  mencatatkan sahamnya di BEI (Perusahaan Tercatat), baik bagi Perusahaan Tercatat, pemegang saham, maupun perekoniman secara keseluruhan. Perusahaan yang go public dan tercatat di BEI cenderung memiliki reputasi yang lebih baik dan mendapatkan kepercayaan di mata masyarakat, mitra bisnis, serta calon investor. Transparansi serta tata kelola perusahaan yang lebih baik juga memberikan sinyal positif tentang kreadibilitas perusahaan.

Sebab perusahaan yang tercatat di bursa mematuhi peraturan ketata kelolaan terkait transparansi, pelaporan keuangan, dan tata kelola  perusahaan yang baik, mendorong pengelolaan perusahaan menjadi lebih profesional, yang pada gilirannya dapat meningkatkan efisiensi dan kreadibilitas. Perusahaan Tercatat yang telah mengumpulkan dana dari investor publik melalui penjualan saham, dapat memanfaatkan dana tersebut untuk memperluas bisnis, melakukan investasi strategis, atau memperbaiki struktur permodalan. (Yetede)

Pasar Saham Bergairah di Tengah Optimisme Investor

HR1 20 Sep 2024 Bisnis Indonesia (H)

Pasar modal Indonesia diprediksi semakin bergairah setelah The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, diikuti oleh penurunan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6%. Penurunan suku bunga ini menarik minat investor asing dan diperkirakan akan mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level yang lebih tinggi, sebagaimana diungkapkan oleh Erwan Teguh, SEVP Retail BNI Sekuritas. Erwan menilai bahwa kondisi ini akan membuat pasar modal Indonesia semakin menarik bagi investasi asing karena penurunan discount rate dan peningkatan outlook laba perusahaan.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menambahkan bahwa pemangkasan suku bunga memberikan sentimen positif untuk sektor-sektor seperti finansial, properti, konsumer, dan otomotif, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Selain itu, faktor-faktor lain seperti Pilkada dan pemilihan kabinet baru pada Oktober 2024 juga akan memengaruhi pasar modal.

Oktavianus Audi, Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, mencatat bahwa pemangkasan suku bunga The Fed yang agresif menjadi angin segar bagi IHSG, meskipun ada potensi aksi profit taking di sektor perbankan. Harun Hajadi, Direktur PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), dan Tira Ardianti, Head of Investor Relations PT Astra International Tbk. (ASII), menyambut baik penurunan suku bunga dan berharap kondisi ini mendorong pertumbuhan sektor properti dan otomotif. Direktur Perdagangan BEI, Irvan Susandy, menyatakan bahwa penurunan suku bunga diharapkan bisa mendorong IHSG, namun BEI masih memiliki tantangan untuk meningkatkan rata-rata nilai transaksi harian.

Saham Big Cap Bersinar dengan Dukungan Suku Bunga Rendah

HR1 20 Sep 2024 Kontan

Kendati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa kali menyentuh rekor baru, namun, kinerja sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar ( big caps ) masih tertinggal alias laggard. Padahal, tingkat suku bunga yang lebih rendah diharapkan bisa membuat kinerja saham emiten big caps ini lebih positif. Penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) ke level 6% dan dipangkasnya suku bunga bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve mestinya dapat menjadi sentimen baik untuk pasar modal dalam negari. Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Ezaridho Ibnutama menilai, penurunan suku bunga BI bisa ikut menurunkan kredit dan menjaga konsumsi masyarakat tetap tinggi. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, di atas kertas, penurunan suku bunga dapat menjadi sentimen positif bagi mayoritas sektor di pasar saham dan berpotensi mengangkat saham big caps. Ini karena saham-saham tersebut biasanya menjadi target pembelian oleh pelaku pasar, terutama investor asing. Dalam sepekan terakhir, investor asing mencatatkan pembelian bersih di pasar saham senilai Rp 23,66 triliun. Dus, dengan tren positif yang masih akan berlangsung, saham laggard big caps pun masih berpeluang membaik setelah penurunan suku bunga. Selama ini, banyak faktor yang mempengaruhi penurunan harga saham big caps. 

Salah satunya adalah kinerja keuangan semester pertama yang masih di bawah ekspektasi pasar. Namun, bunga yang lebih landai dapat memperbaiki margin emiten, khususnya yang tersandera beban utang tinggi. Setelah penurunan suku bunga ini, Sukarno menilai, investor bisa fokus pada saham-saham big caps dengan bervaluasi rendah dibandingkan perusahaan sejenisnya. "Jika bingung mana saham yang menarik, investor bisa memiliih saham yang ada di indeks LQ45 atau KOMPAS100," ujarnya. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat, koreksi yang dialami saham big caps seperti TLKM, ASII, dan BRPT bukan kabar buruk. Koreksi tersebut bisa dilihat sebagai diskon, sehingga masih menarik untuk dicermati. Nah, Nafan menilai, investor yang sudah mengoleksi saham-saham ini, sebaiknya melakukan averaging down terlebih dulu. Nafan merekomendasikan accumulative buy saham TLKM, BRPT, dan ASII dengan target harga terdekat masing-masing secara berurutan Rp 3.150, Rp 1.230, dan Rp 5.475 per saham.

Industri Data Center Sangat Prospektif

KT1 18 Sep 2024 Investor Daily (H)

Saham emiten pusat data ( data center) seperti PT DCI Indonesia Tbk  (DCII) dan PT Indointernet Tbk (EDGE) terus mengalami kenaikan hingga membentur  auto reject atas (ARA) dalam beberapa pekan terakhir. Emiten milik konglomerat Otto Toto Sugiri dan Antoni Salim, DCII melesat 43,61% dalam satu minggu terakhir, dan melambung 60,82% pada tiap bulan terakhir. Begitupun dengan emiten Toto Sugiri lainnya yakni EDGE yang juga melonjak 24,03% selama sepekan kebelakang, dan menguat 19,70% dalam tiga bulan terakhir. Prospek bisnis data center Indonesia yang masih cerah, membuat dua emiten ini masih menarik untuk dicermati. 

Analis NH Korindo Sekuritas Leonardo Lijuwardi mengatakan, industri data center Indonesia masih prospektif, dengan kapasitas operasi dan nilai per kapita data center masih rendah. Sebagai gambaran, kapasitas operasi data center Indonesia sebesar 260 megawatt (MW), sementara Malaysia 289 MW dan Singapura 985 MW. Nilai perkapita data center Indonesis juga baru 1,5 watt perkapita, jauh dibawah Jepang yang 10 watt per kapita dan Singapura 100 watt per kapita. "Secara sederhana, jika menangkap peluang dari kebutuhan akan data center di kawasan Asia Tenggara, potensi pertumbuhan data center  sangat luas. (Yetede

Optimisme Investor Terus Menguat di Tengah Pasar yang Dinamis

HR1 18 Sep 2024 Bisnis Indonesia

Optimisme investor terhadap pasar modal Indonesia terlihat dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai level tertinggi, meski masih ada risiko fluktuasi akibat menunggu keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, dalam pertemuan FOMC. Mayoritas pelaku pasar optimis The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin.

Saham sektor keuangan, seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), menjadi salah satu saham yang paling aktif diperdagangkan, dengan nilai transaksi Rp713,4 miliar dan penguatan sebesar 2,06%. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2024 sebesar US$2,90 miliar, didukung oleh peningkatan ekspor yang naik 5,97% dibandingkan bulan sebelumnya.

Bank Indonesia juga melaporkan arus modal asing yang signifikan masuk ke pasar surat berharga dan saham, dengan inflows mencapai Rp44,33 triliun di pasar SBN dan Rp31,13 triliun di pasar saham. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, menyambut baik tren ini, karena arus modal yang masuk diperkirakan akan memperkuat transaksi pasar modal hingga akhir tahun.

Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan lebih giat dalam meningkatkan kualitas pasar, terutama setelah muncul kasus suap IPO yang melibatkan oknum di BEI.

Pengambilalihan Baru, Harapan Baru di Dunia Bisnis

HR1 18 Sep 2024 Kontan

Aksi akuisisi pergantian pemegang saham pengendali di emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terjadi. Terbaru, PT Kurniamitra Duta Sentosa Tbk (KMDS) dan PT Lini Imaji Kreasi Ekosistem Tbk (FUTR) sedang melakukan proses dan negosiasi transaksi jual beli saham antara pengendali saham lama dan calon pengendali baru. Direktur Utama Kurniamitra Duta Sentosa, Hengky Wijaya menyampaikan, pada 11 September 2024, PT Dima Investindo (DI) telah menandatangani perjanjian pengikatan jual beli saham dengan PT Miki Ojisan Indomitra (MOI) dan KMDS. Kesepakatan itu terkait rencana pengambilalihan 440 juta saham milik MOI, mewakili 55% modal dalam KMDS. "Transaksi ini dapat menyebabkan perubahan pengendali saham KMDS," kata Hengky, dalam keterbukaan informasi, Kamis (12/9). Beberapa hari sebelumnya, pengumuman serupa disampaikan manajemen FUTR. Direktur Utama FUTR, Martha Rebecca menyatakan, terdapat proses negosiasi antara PT Investasi Gemilang Maju (IGM) selaku calon penjual dan PT Hexa Prima Nusantara (HPN) calon pembeli. Pelaku pasar sempat merespons positif rencana pergantian pemegang saham pengendali ini. 

Tercermin dari lonjakan harga saham KMDS di penutupan perdagangan Selasa (17/9) sebesar 5% ke level Rp 735 per saham. Harga saham PT Meratus Jasa Prima Tbk (KARW) dan PT Green Power Group Tbk (LABA) juga meroket hingga ribuan persen pasca pergantian pengendali. Pada Selasa (17/9), harga KARW ambles 9,94% ke Rp 2.810 dan LABA naik 3,01% jadi Rp 685 per saham. Namun, saham KARW sudah mengakumulasi kenaikan hingga 5.520% dan LABA terbang 1.270% sejak awal tahun ini. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi menyoroti, pergantian pengendali dapat mengubah arah perusahaan. Kehadiran pemilik anyar biasanya membawa strategi baru. Terlebih jika pengendali baru telah berpengalaman di industrinya. Founder & CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto sepakat, posisi dan reputasi pengendali baru akan menentukan perubahan strategi bisnis dan prospek kinerja. Strategi ini bisa mengubah prospek pendapatan dan marjin laba emiten. Founder Stocknow.id, Hendra Wardana mengamini, pelaku pasar mesti mencermati rekam jejak pengendali baru dan rencana bisnis yang akan dibawa untuk emiten. Kemudian, pertimbangkan kembali performa fundamental emiten setelah diakuisisi. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menilai, kenaikan harga saham emiten saat awal pengumuman perubahan pengendali biasanya terdorong oleh ekspektasi pasar. Dengan adanya perubahan pengendali, ada perbaikan prospek kinerja emiten.

IHSG Berpeluang Kembali Menembus Rekor Tertinggi

KT1 17 Sep 2024 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat (mixed to higher) di pekan penetapan suku bunga The Fed (Fed Fund Rate/FFR) pada minggu ini. IHSG berpeluang kembali menembus rekor tertinggi baru (all time high/ATH) dengan batasan resistance di 7.833-7.911. "Pergerakan IHSG akan lebih dipengaruhi sentimen terkait dengan bank sentral Amerika (The fed) dalam penerapan suku  bunga acuan. IHSG dipekan ini cenderung mixed to higher dengan support 7.765-7.723 dan resistance 7.833-7911," kata Senior Market Chartist-Retail Business Mirea Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama kepada Investor Daily. Nafan mengungkapkan, rapat the Fed (FOMC) yang akan digelar pada 17-18 September mendatang, akan menjadi perhatian pelaku pasar dan sentimen penggerak pasar IHSG di pekan ini. "Tentunya kita berharap the Fed juga memberikan sinyal kuat adanya kebijakan pelongggaran moneter ke depannya. Sehingga pelonggaran moneter ini akan meningkat likuiditas pasar," ujar dia.

Dampak Positif Suku Bunga Rendah Terhadap Ekonomi

HR1 17 Sep 2024 Kontan (H)

Penantian panjang investor terkait dengan arah suku bunga acuan terjawab pada pekan-pekan ini. Khusus bagi pasar keuangan lokal, ada dua agenda penting yang akan mempengaruhi pergerakan pasar keuangan dalam negeri, yakni pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Open Market Committee (FOMC), serta Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI). Memang, sejauh ini belum pasti berapa jumlah penurunan suku bunga yang bakal ditetapkan oleh The Fed pada FOMC 18 September 2024. Tapi, pasar memperkirakan, bank sentral Amerika Serikat (AS) itu memangkas 25-50 basis poin (bps). Head of Investment Information Mirae Asset, Martha Christina melihat, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps lebih besar. Alasannya inflasi inti AS masih naik, sehingga Fed mungkin masih hati-hati dan konservatif menurunkan suku bunga. 

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menambahkan, FOMC kali ini menjadi salah satu penantian panjang, lantaran hampir tiga tahun terakhir bank sentral AS cenderung menaikkan suku bunga. Nico juga menilai, pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps lebih aman ketimbang jika Fed langsung memangkas 50 bps. Di sisi lain, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mencermati, BI kemungkinan tetap mempertahankan suku bunga acuan pada pekan ini. Namun masih tetap terbuka peluang BI memotong suku bunga 25 bps. Keputusan Fed bakal menjadi angin segar IHSG, setidaknya hingga akhir tahun nanti. Martha memproyeksikan, IHSG bisa naik menuju 7.915 di akhir tahun 2024. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengingatkan, kenaikan IHSG di pekan pendek ini justru cenderung terbatas dan rawan profit taking. Menurut Nico, semua sektor saham di bursa mendapatkan manfaat positif jika bunga turun. Tapi, sektor-sektor yang akan merasakan dampak terbesar ialah sektor finansial, properti, otomotif, konsumer non-siklikal, energi, konsumer siklikal, dan teknologi. Sedangkan sektor kesehatan mungkin melemah, karena sektor defensif biasanya ditinggalkan sementara waktu.

Saham Astra Kurang Menggembirakan di Bisnis Penjualan Mobil

KT1 13 Sep 2024 Investor Daily (H)

PT Astra Internasional Tbk (ASII) mencatatkan kinerja kurang menggembirakan di bisnis penjualan mobil, dengan penurunan baik secara bulanan (mtm) maupun tahunan (yoy). Meski demikian, Grup Konglomerasi ini dipercaya bisa bangkit dan memacu penjualan dalam sisa empat bulan ke depan, ditengah kian menguatnya ancaman dari merek-merek otomotif baru. Kalangan analis juga percaya, saham perseroan berkode ASII akan tetap atraktif, dengan potensi gain menarik. Pada bulan Agustus 2024, penjualan mobil Grup Astra tercatat sebanyak 42.195 unit, atau turun 3,6% dibanding bulan Juli 2024 (mtm), dan terkoreksi 17,0% dibanding bulan yang sama tahun lalu. Dengan total penjualan mobil Grup Astra sepanjang Januari-Agustus 2024 mencapai 317.774 unit atau turun 15,8% secara tahunan (yoy). Penurunan penjualan mobil Grup Astra bulan Agustus terjadi di tengah kenaikan penjualan otomotif nasional yang sebanyak 2,9% dibanding Juli 2024. Begitupula dibanding bulan Agustus 2023, penurunan penjualan grup Astra lebih dalam dibandingkan penjualan nasional. Sementara apabila dibanding delapan bulan 2023, koreksi penjualan mobil Grup Astra lebih rendah dibanding nasional yang sebanyak-17,1%. (Yetede)

Saham Energi Unjuk Gigi: Tren Kenaikan Berlanjut?

HR1 13 Sep 2024 Bisnis Indonesia (H)

Meskipun harga saham di sektor energi Indonesia sudah mengalami kenaikan yang signifikan sepanjang tahun, masih ada potensi bagi investor untuk mengoleksi saham-saham ini. Pada 12 September, indeks IDX Sector Energy menunjukkan pemulihan setelah sempat lesu, berkontribusi pada kenaikan IHSG yang menyentuh rekor baru. Menurut Martha Christina, Head of Investment Information di Mirae Asset Sekuritas, pemangkasan suku bunga oleh The Fed dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan komoditas.

Namun, prospek sektor energi juga sangat bergantung pada kondisi ekonomi China yang masih melemah. Rizkia Darmawan, analis dari Mirae, memperkirakan permintaan batu bara dari China akan meningkat pada 2024, tetapi mungkin menurun pada 2025. Maximilianus Nico Demus, Associate Director di Pilarmas Investindo Sekuritas, menambahkan bahwa penurunan suku bunga dapat meningkatkan permintaan komoditas, tetapi situasi global dan keseimbangan supply-demand harus tetap diperhatikan.

Kedepannya, sektor energi, terutama saham seperti ADRO, PTBA, dan ITMG, tetap diharapkan memberikan peluang yang menjanjikan bagi investor, meskipun tantangan dari pasar global dan kondisi ekonomi tetap harus diwaspadai.