;
Tags

Saham

( 1717 )

Menilai Daya Tarik Saham Defensif

HR1 04 Sep 2024 Kontan

Saham berkategori defensif berpotensi kembali unjuk gigi ketika alarm industri dan ekonomi mulai berdering. Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali terkontraksi ketika ekonomi mengalami deflasi. S&P Global mencatat PMI Indonesia Agustus 2024 berada di level 48,9 atau turun 0,4 poin dari bulan sebelumnya di 49,3. Dua bulan beruntun industri manufaktur nasional berada di bawah level 50 alias di zona kontraksi. Sementara itu, inflasi bulan Agustus berada di level 2,12% secara tahunan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,06. IHK mengalami deflasi selama empat bulan beruntun, dengan tingkat deflasi 0,03% secara bulanan pada Agustus 2024. Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto mengamati ketika pasar sedang bullish, biasanya performa saham defensif cenderung tertinggal. Lantaran sering kurang diperhatikan oleh mayoritas investor yang ingin memanfaatkan euforia penguatan pasar. Analis Panin Sekuritas, Andhika Audrey turut melihat, saham defensif seperti di sektor konsumen primer belum menjadi pilihan menarik. 

Saham di sektor ini lebih sebagai diversifikasi aset bagi investor yang agresif. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Muhamad Heru Mustofa memprediksi, pemangkasan suku bunga acuan The Fed akan menjadi sentimen penting, termasuk bagi saham defenif. Langkah ini bisa mendorong konsumsi serta meringankan beban emiten yang memiliki utang dalam mata uang AS. Pandhu menilai, saham barang konsumsi dan ritel masih defensif, bersamaan saham telekomunikasi. Research Analyst Stocknow.id Emil Fajrizki menambahkan, saham sektor kesehatan dan energi pada segmen utilitas juga tergolong defensif.

Jangan Lewatkan Pesta Besar di Bursa

HR1 04 Sep 2024 Kontan (H)

Pesta besar tengah terjadi di bursa saham. Pendorongnya adalah euforia era pemerintah baru yang segera tiba, masuknya dana jumbo investor asing ke pasar saham. Ketegangan politik yang mereda dan kepastian pelonggaran kebijakan moneter turut mengangkat kepercayaan pasar sehingga mendorong transaksi di bursa saham. Dari data RTI, nilai pembelian bersih investor asing di seluruh pasar mencapai Rp 15,36 triliun dalam sepekan. Lalu, dalam sebulan mencapai Rp 29,1 triliun. Nilai ini cukup besar, mengingat dan asing sempat banyak keluar dari pasar saham pada akhir semester pertama lalu. Transaksi di pasar saham memang lagi ramai. Tengok saja, nilai transaksi harian di pasar saham cenderung tinggi beberapa hari terakhir. Hal ini membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat beberapa kali menyentuh rekor harga tertinggi baru. Tak cuma di pasar reguler, transaksi bursa di pasar negosiasi juga semarak. Ada peralihan dana triliunan rupiah melalui pasar negosiasi. Oktavianus Audi, Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas mengatakan, derasnya aliran dana investor asing membuat IHSG telah menguat 9,77% selama bulan Juni hingga Agustus 2024. Masuknya dana asing ini didorong sentimen pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve. "Tercatat saat Fed mulai dovish, asing masuk sebesar Rp 16,67 triliun dengan dominasi ke sektor perbankan," kata dia kepada KONTAN, Selasa (3/9). 

Direktur Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus menambahkan, masuknya saham-saham dalam negeri ke dalam indeks global seperti MSCI dan FTSE dalam rebalancing terbaru juga mendorong aliran dana asing. Pergantian kepemimpinan yang disahkan dalam pelantikan presiden terpilih Prabowo Subianto, Oktober 2024 mendatang juga dapat membawa angin segar ke pasar keuangan. Kepala Ekonom Bank Central Asia Tbk David Sumual menilai, setelah ada kejelasan terkait arah kebijakan pemerintahan baru, dana asing akan makin deras masuk ke dalam negeri. Nah, ramainya transaksi pasar saham kemungkinan masih akan berlanjut di bulan ini. Tapi perlu diingat, IHSG sudah naik cukup tinggi. Alhasil, ada potensi terjadi koreksi karena aksi ambil untung atawa profit taking. Martha Christina, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas menyarankan, pelaku pasar bisa mencermati saham yang lajunya belum terlalu kencang dan punya valuasi yang masih murah. Saham pilihan Martha adalah ASII, TLKM, BMRI, BBCA, BBRI, ICBP, MYOR, MAPI, ACES dan SIDO. Sedangkan Daniel melihat saham BMRI dan MAPI punya prospek kinerja yang solid.

Saham BUMN Karya Makin Bersinar

HR1 03 Sep 2024 Kontan

Mengawali perdagangan bulan September, saham-saham emiten BUMN Karya bertengger di zona hijau. Pada perdagangan Senin (2/9), hampir semua saham emiten BUMN Karya dan anak usahanya melesat. Contohnya PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Kemarin, saham WIKA ditutup Rp 458, naik 17,44% dibanding penutupan hari sebelumnya. Jika diakumulasi sejak awal tahun ini, saham WIKA sudah meroket 124,61%. Harganya mengalami lonjakan tertinggi dibanding saham emiten BUMN Karya lainnya, semisal PT PP Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI), yang masing-masing naik 12,62% dan 1,92% sejak awal 2024. Jika ditengok, laju saham emiten BUMN Karya ditopang moncernya kinerja keuangan di semester pertama tahun ini. Ambil contoh PTPP, yang mengantongi pendapatan Rp 8,79 triliun, tumbuh 9,28% secara tahunan. Dus, laba bersih PTPP ikut terkerek jadi Rp 147 miliar di semester I-2024, naik 52,46% secara tahunan. Sedangkan WIKA mengalap laba bersih Rp 401,95 miliar di semester I-2024, membalikkan kerugian Rp 1,88 triliun di semester I-2023. WIKA juga menorehkan kontrak baru Rp 11,58 triliun hingga Juli 2024. Sekretaris Perusahaan WIKA Mahendra Vijaya mengatakan, dari capaian tersebut, komposisi perolehan dari segmen industri 35,21%. Lalu, segmen infrastructure & building 29,97%, properti 18,30%, dan EPCC 16,52%. "Proyek yang jadi penopang kontrak baru, antara lain, Tol Sumbu Timur IKN, Jetty Manggis, dan RFF Plant Rorotan," ujar Mahendra, Senin (2/9). Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, prospek kinerja BUMN Karya ke depan bergantung pada proyek dan penugasan dari pemerintah. Raihan nilai kontrak BUMN Karya rata-rata lebih 50% dari proyek pemerintah. Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama Teguh Hidayat menganalisa, kinerja WIKA dan WSKT masih berat di semester II-2024. Ini akibat beban operasional dan bunga yang masih tinggi.

Bank dan Properti Menjadi Sektor Andalan

HR1 03 Sep 2024 Kontan

Seiring gerak menanjak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), posisi indeks saham sektoral pun mengalami pergeseran sepanjang Agustus. Dalam sebulan terakhir, indeks saham energi masih unjuk gigi dengan akumulasi kenaikan tertinggi secara year to date. Sektor energi memimpin dengan performa positif 26,75% hingga akhir perdagangan Agustus. Performa sektor energi melonjak dibandingkan posisi per akhir Juli yang saat itu naik 16,69%. Artinya, sektor energi mendaki 10,06% dalam sebulan. Memasuki bulan September, Research Analyst Stocknow.id Emil Fajrizki menilai, pergerakan sektoral masih dibayangi oleh sejumlah faktor. Sentimen terbesar datang dari potensi pemangkasan suku bunga Federal Reserve yang diprediksi mulai terjadi bulan ini. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus menaksir, tidak semua sektor sensitif suku bunga akan terdongkrak naik akibat pelonggaran kebijakan moneter ini. Saham sektor teknologi misalnya, diprediksi masih sulit mendaki. Alasannya, kinerja dan valuasi emiten sektor teknologi masih belum menarik. 

Di sisi lain, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menilai, bagi sektor keuangan, penurunan suku bunga berpotensi mengurangi risiko kenaikan non-performing loan (NPL). Bagi sektor properti, pemangkasan suku bunga yang dibarengi perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) berpeluang mendongkrak marketing sales pada kuartal IV-2024. Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project William Hartanto memperkirakan, sektor yang telah naik di bulan Agustus yakni energi, konsumsi non-primer, properti, keuangan dan infrastruktur masih bisa lanjut menanjak meski terbatas. William menjagokan saham PTBA, ADRO, SRTG, MPMX, ITMG, WIKA, TOTL, CTRA, dan BSDE. Daniel menjagokan sektor keuangan dan properti, dengan rekomendasi saham BBRI, BBTN, BTPS, BSDE, dan SMRA. Sedangkan Ike menyarankan saham berfundamental sehat dan secara teknikal menarik di sektor keuangan, seperti BBRI, BBCA, BBNI, BFIN, dan ARTO. Sedangkan Emil menjagokan saham sektor keuangan, properti, konsumsi non-primer dan sektor energi.

Penguatan IHSG Berpotensi Masih Cukup Terbuka

KT1 02 Sep 2024 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi melanjutkan penguatan di awal bulan September ini, setelah akhir pekan lalu di tutup di level 7.670. Penguatan IHSG masih cukup terbuka, meski makin terbatas, dengan potensi kembali menguji level 7.700. Sejumlah data ekonomi yang akan rilis  pekan ini baik dari global maupun domestik, akan menjadi sentimen penggerak utama IHSG. "Untuk sepekan ke depan, kami perkirakan IHSG masih berpeluang menguat dengan kecenderungan terbatas. IHSG akan bergerak pada rentang support 7.547 dan resistance 7.743," kata Senior Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana kepada Investor Daily. Didit mengungkapkan, langkah IHSG akan dipengaruhi rilis data ekonomi dari dalam dan luar negeri, seperti inflasi Indonesia, data manufaktur, neraca dagang China, serta data pekerjaan dan NFP Amerika Serikat. (Yeted)

Bursa Tak Lagi Riang Menanti Keputusan Bunga

HR1 02 Sep 2024 Kontan

Setelah berkali-kali mencetak rekor sepanjang masa alias all time high (ATH) di sepanjang Agustus lalu, pada September ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan diuji untuk bisa mencetak rekor serupa. Memasuki awal September, IHSG melangkah dari posisi 7.670,73. Level ini didapat usai IHSG melonjak 4,96% dalam sebulan terakhir dan menembus ATH 7.715,75 pada Agustus. Head of Institutional Research Sinarmas Sekuritas, Isfhan Helmy menilai, setelah menanjak di Agustus, investor perlu waspada. Sebab, September bukan jadi bulan ceria bagi IHSG. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mencatat, secara historis, performa IHSG melambat di bulan September. 

Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menyoroti hal yang sama. Dalam 10 tahun terakhir bulan September, IHSG hanya mampu menguat pada 2017 dan 2021. Pada September ini, sentimen utama yang akan menentukan arah IHSG adalah kebijakan suku bunga The Fed. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni mengamini, keputusan The Fed akan menjadi sentimen penting, bersamaan dengan pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak. Namun, jika pemangkasan suku bunga hanya 25 basis points (bps), efeknya cenderung flat. Sebab, sentimen ini sudah cenderung priced in atau diantisipasi pelaku pasar. Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada berharap, tren kenaikan IHSG masih berlanjut. "Namun harus realistis, jika pelaku pasar mulai profit taking dan ada sentimen negatif, IHSG bisa melemah," kata Reza.

IHSG Masih Bisa Melaju Hingga Tembus 8.000

KT1 30 Aug 2024 Investor Daily (H)

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diyakini masih bisa terus melaju hingga menembus 8.000 pada akhir 2024. Aksi ambil untung diprediksi akan banyak membayangi. Sekalipun begitu, tren penguatan indeks bakal berlanjut didorong oleh ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed. Selama dua pekan terakhir, IHSG terpantau telah mengalami penguatan cukup signifikan sebanyak 80.122 poin atau sebesar 10,92% dengan rata-rata harga tertingginya di posisi 7.715. Penguatan tersebut sekaligus menggenapi kenaikan IHSG selama 30 hari perdagangan terakhir sebesar 4.64%. Pada perdagangan Kamis (29/8/2024), setelah melesat jauh hingga menyentuh all time high intraday di level 7.715, aksi profit taking melanda, sehingga indeks akhirnya ditutup turun 0,4% ke level 7.627. Tercatat sebanyak 264 saham terpantau naik, 317 saham turun, dan 206 saham stagnan. Adapun total nilai transaksi di bursa mencapai Rp 13,26 triliun. Volume perdagangan sebanyak 1.292.695 kali. (Yetede)

Peluang Emas Memburu Saham Berkualitas

HR1 30 Aug 2024 Kontan (H)

Dana asing ( hot money ) yang mengalir deras ke pasar saham membuat rally Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut. Seiring, saham-saham big cap terpantik, cenderung menanjak. Di tengah tren penguatan harga, masih ada sejumlah saham murah meriah berkualitas yang layak ditadah. Kamis (29/9), IHSG sempat menembus level 7.700 secara intraday . Penguatan ini tak bertahan hingga akhir perdagangan. IHSG pun berakhir dengan pelemahan 0,41% ke level 7.627,60. Namun, sepanjang tahun berjalan ini, IHSG menguat 4,88% dengan price to earning ratio (PER) sebesar 12,71 kali. Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mengatakan, penguatan IHSG belakangan i dipicu peluang pemangkasan suku bunga. Hal ini membuat asing memburu kembali saham dalam negeri. Head of Equity Trading MNC Sekuritas, Frankie WP menyebut, meskipun kenaikan IDX Value30 sudah cukup tinggi, tetapi masih ada saham-saham di daftar indeks ini yang tergolong undervalue . "Valuasi saham di IDX Value30 masih berpotensi naik lagi menjelang akhir tahun 2024," kata Frankie. 

Untuk memilih saham yang masih murah, dapat cermati prospek kinerja ke depan dan valuasi harganya. Frankie mencontohkan, saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dinilai masih undervalue. Terlihat dari ekspansi INKP yang agresif dengan membangun pabrik baru yang akan mendorong kinerjanya ke depan. Dengan raihan laba bersih di semester I-2024 sebesar US$ 278,7 juta, saat ini saham INKP diperdagangkan dengan PER 5 kali. Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga terbilang menarik. Emiten Grup Salim ini bakal ketiban berkah dari adanya pelemahan dolar Amerika Serikat. . Sedangkan Adityo menakar sejumlah saham besar yang lajunya masih tertinggal. Contohnya, saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Valuasi saham-saham ini juga masih rendah. Contoh, PER ASII berada di 6,37 kali dan TLKM 12,76 kali.

Melihat Peluang di IHSG yang Menawan

HR1 29 Aug 2024 Kontan

Setelah sempat mengalami koreksi pada penutupan perdagangan Selasa (27/8), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tancap gas. Bahkan, menutup perdagangan pada Rabu kemarin (28/8), IHSG kembali memperbarui rekor sepanjang masanya alias all time high (ATH) ke 7.658,87, naik 0,80% dibanding hari sebelumnya. Terakhir, IHSG mencetak rekor baru pada penutupan perdagangan Senin (26/8), dengan menembus level 7.606,19. Indeks bursa nasional juga berhasil menembus rekor intraday tertinggi sepanjang masa di level 7.672,28. Sementara rekor sebelumnya berada di level 7.619 yang terjadi pada 26 Agustus lalu. Meski ada sedikit penurunan hingga penutupan perdagangan, tetapi IHSG masih mampu berada di level 7.600. 

Equity Research Kiwoom Sekuritas Abdul Azis mencermati, penguatan IHSG mencapai rekor disebabkan potensi pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, pada September mendatang. Jika terwujud, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mengekor langkah The Fed untuk memotong suku bunganya. Andrey Wijaya, Head of Research RHB Sekuritas menambahkan, katalis utama pergerakan IHSG saat ini adalah pergerakan nilai tukar rupiah. Pasalnya, nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dolar AS. Kemarin, rupiah di pasar spot ditutup Rp 15.422 per dolar AS, menguat 0,47% dari sehari sebelumnya di Rp 15.495 per dolar AS. Setali tiga uang, Kiwoom Sekuritas juga mengatrol naik target IHSG di sisa tahun 2024. Sekuritas ini masih mempertahankan target IHSG di posisi 7.800. Di tengah penguatan IHSG, Azis menyarankan IHSG bisa melirik saham-saham big caps yang valuasinya masih murah. Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, Adrian Joezer menjelaskan, saat ini pasar memproyeksikan adanya pemotongan suku bunga The Fed sebesar 100 basis poin (bps) di kuartal terakhir 2024. Sebelumnya, Mandiri Sekuritas hanya memprediksi pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 bps.

Kualitas Saham IPO Masih di Bawah Harapan

HR1 29 Aug 2024 Kontan (H)

Kredibilitas Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam meloloskan perusahaan untuk mencatatkan saham di bursa menuai sorotan publik. Mencuat kabar adanya gratifikasi senilai Rp 20 miliar dalam proses pengurusan penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO). Kasus suap ini melibatkan lima karyawan BEI. Kabar beredar di grup-grup investor saham, praktik seperti ini sudah berlangsung lama. Imbasnya, banyak saham emiten baru di BEI yang kinerjanya tidak perform. Kondisi itu tercermin dari banyaknya harga saham emiten yang baru IPO terjun bebas. Bahkan ada yang sudah masuk ke dalam papan pemantauan khusus dan diperdagangkan secara periodic call auction . Catatan KONTAN, dari 34 emiten yang IPO di sepanjang tahun 2024 berjalan, sudah ada 16 emiten yang harga sahamnya anjlok dari penawaran IPO. Hingga menutup perdagangan bursa Rabu (28/8), penurunan harga paling tajam terjadi pada saham PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) sebesar 76,98%. Emiten ayam goreng yang melantai di BEI pada 15 Februari 2024 ini menetapkan harga penawaran IPO di Rp 278 per saham. Kemarin, saham BAIK tinggal Rp 64.  

Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy berpendapat, jumlah emiten baru yang terus naik tidak diiringi peningkatan kualitas perusahaan yang IPO. "Ini karena jumlah pertumbuhan perusahaan IPO setiap tahunnya jadi target BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," kata dia ke KONTAN, kemarin. Setali tiga uang, Pengamat Pasar Modal, Satrio Utomo mengatakan, selama ini pihak regulator pasar modal hanya terkesan mengejar kuantitas IPO, bukan melindungi masyarakat dan investor. "BEI dan OJK harus lebih jujur, selama ini mereka hanya melindungi beneficial owner alias bandar," katanya. I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian BEI menegaskan, selama ini tidak terjadi pelanggaran peraturan oleh calon perusahaan tercatat untuk bisa melantai di BEI. Aman Santosa, Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK menjelaskan, terkait adanya dugaan gratifikasi proses IPO, BEI sudah melakukan koordinasi dengan OJK.