Saham
( 1717 )Potensi Kenaikan Saham Seiring Penurunan Risiko
Kepastian pelonggaran kebijakan moneter semakin dekat. Namun, tingkat premi risiko investasi Indonesia masih cenderung tinggi. Dari data Bloomberg,credit default swap (CDS) 5 tahun Indonesia berada di level 77,85 pada Jumat (9/8). Dalam sebulan terakhir, level CDS 5 tahun Indonesia menanjak 9,52%. CDS 5 tahun Indonesia naik di tengah penguatan rupiah dan masuknya aliran dana asing belakangan ini. Kendati begitu, premi risiko investasi Indonesia kemungkinan akan membaik di sisa tahun ini. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengatakan, premi risiko Indonesia lebih banyak ditentukan oleh faktor domestik. Salah satunya adalah iklim investasi dan fundamental ekonomi Indonesia yang memang belum membaik.
"Tapi, level saat ini sudah jauh lebih baik dari tahun lalu yang berkisar 80-100," ujarnya, akhir pekan lalu. Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto sepakat, CDS 5 tahun Indonesia bisa melandai. Pemangkasan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve diharapkan akan mengurangi kekuatan dolar AS yang menjadi faktor risiko bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di dalam negeri. Suhindarto mengatakan, dengan ekspektasi penurunan premi risiko investasi di Indonesia, akan terjadi pergeseran minat investasi ke instrumen saham. Dia memperkirakan, CDS 5 tahun Indonesia berpotensi turun ke level 67-73 pada akhir tahun nanti. Head of Investment Solution Mirae Asset Roger MM mengatakan, di semester kedua ini, akan ada banyak sentimen positif yang bisa meningkatkan minat investor. Sehingga target rata-rata nilai transaksi harian bursa pun bisa kembali ke Rp 12,25 triliun di sisa tahun 2024. Head of Equity Research
Energi Buy-back Saham Rp 1 T
PT Harum Energy Tbk (HRUM) akan melakukan pembelian kembali (buyback) saham perseroan dengan nilai maksimal Rp 1 triliun. Aksi korporasi ini diharapkan dapat mendukung likuiditas perdagangan saham perseroan agar lebih mencermin kondisi fundamental perusahaan. "Perseroan meyakini bahwa pembelian saham akan bermanfaat pada perusahaan dan para pemegang saham," kata Manajemen Hukum Energy dalam prospektus yang dipublikasikan. Perseroan berencana meminta persetujuan, aksi buyback tersebut dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 17 Agustus 2024.
Dengan periode pembelian kembali saham direncanakan pada 18 September 2024-September 2025. "Sehubungan dengan pelaksanaan pembelian kembali saham, perseroan akan menganggarkan sejumlah dana yang berasal dari akun saldo laba per tanggal 30 Juni 2024. Dana yang dianggarkan perseroan dalam rangka pembelian kembali saham maksimal sebesar Rp 1 triliun, termasuk untuk biaya transaksi, biaya pedagang perantara, dan biaya lainnnya sehubungan dengan pelaksanaan pembelian kembali saham," tulis manajemen Harum Energy. (Yetede)
Menilai Daya Saing IHSG di Kawasan
Kendati kinerja emiten dalam negeri pada semester pertama ini lesu, valuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bisa bersaing dengan bursa di kawasan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Kamis (8/8), price earning ratio (PER) IHSG berada di posisi 12,07 kali. Sedangkan price to book value (PBV) IHSG sebesar 2,16 kali. Sedangkan dari data Bloomberg, PER IHSG saat ini sebesar 26,86 kali, masih lebih mahal ketimbang bursa regional lain. Riset Mandiri Sekuritas menunjukkan, proyeksi PER IHSG di akhir 2024 sebesar 13,4 kali. Valuasi ini mencerminkan proyeksi pertumbuhan laba per saham atau earning per share (EPS) 15,5%. Sedangkan, proyeksi PER IDX80 sebesar 12,5 kali hingga akhir tahun ini. Memang, kalau dibandingkan dengan bursa di kawasan Asia Pasifik seperti indeks China CSI 300, PER IHSG masih kalah murah. Proyeksi PER CSI300 11,8 kali di tahun 2024. Tapi perlu dicermati, potensi pertumbuhan EPS indeks China cuma sebesar 5,1%, masih jauh dari IHSG. Namun, valuasi IHSG masih lebih tinggi dibanding Indeks Hang Seng dan Korea Selatan.
Di kawasan ASEAN, valuasi IHSG masih di atas Singapura dan Vietnam. Adrian Joezer, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas bilang, saat ini investor tidak hanya mengincar pertumbuhan, tetapi juga mencermati valuasi pada masing-masing bursa. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina mengatakan, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih di atas 5%, valuasi IHSG masih tetap atraktif. "Dengan pertumbuhan ekonomi stabil, penduduk Indonesia yang didominasi usia produktif, IHSG masih menjanjikan," kata dia, Kamis (8/8). Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menambahkan, peluang penurunan suku bunga The Fed juga dapat membuat investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi di pasar negara berkembang. Namun, perlu diperhatikan, biasanya penurunan suku bunga disertai dengan indikasi perlambatan ekonomi global yang lebih luas. Ini dapat mengurangi sentimen risiko dan memicu aksi jual di pasar saham global. Selain tiga sektor itu, Joezer bilang investor juga bisa melirik saham-saham yang sensitif dengan suku bunga. Di antaranya, sektor properti, menara telekomunikasi dan teknologi.
Peluang Investasi Saham dengan Harga Terjangkau
Investor penganut value investing dapat memanfaatkan peluang di tengah rontoknya saham-saham blue chip, karena valuasi sejumlah emiten unggulan saat ini sedang terdiskon. Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menjelaskan bahwa lesunya kinerja pasar saham Indonesia dibandingkan bursa-bursa global disebabkan oleh minimnya katalis positif, sehingga pasar cenderung lebih terseret oleh sentimen ketidakpastian global.
Dengan penurunan indeks LQ45 sebesar 8,22% year-to-date (YtD), sejumlah saham LQ45 kini memiliki valuasi murah, yang dapat menjadi peluang investasi, terutama pada sektor-sektor yang masih prospektif seperti perbankan, poultry, dan minyak. Beberapa analis juga menilai saham di sektor perbankan dan properti masih memiliki potensi pertumbuhan, terutama jika didukung oleh pemangkasan suku bunga dan stabilitas politik yang diharapkan dari pelantikan presiden baru pada Oktober 2024.
Korporasi Menghadapi Musim Dingin: Dampak untuk Indonesia
Winter terjadi di bursa saham Indonesia. Kinerja emiten di semester pertama tahun ini tak menggembirakan. Tercermin dari pertumbuhan pendapatan korporasi yang cenderung melemah pada periode kuartal kedua 2024. Bahkan, realisasi belanja modal alias capital expenditure (capex) emiten turun pertama kalinya dalam tujuh kuartal terakhir. Riset terbaru Bank Central Asia (BCA) menunjukkan, pendapatan rata-rata korporasi Indonesia turun 2,3% pada kuartal kedua 2024. Selama ini, banyak emiten di Indonesia yang pendapatannya dipengaruhi oleh harga komoditas. Nah, pertumbuhan harga komoditas di 2024 tak terlalu istimewa. Di sisi lain, sektor seperti barang konsumen diskresioner dan sektor kesehatan memang masih mengantongi pertumbuhan pendapatan yang relatif kuat dan positif. Tapi perlu dicatat, sektor-sektor ini tidak berpengaruh besar terhadap kondisi perusahaan keseluruhan, karena ukurannya relatif kecil. "Pertumbuhan pendapatan di sektor kesehatan tampaknya didorong oleh ekspansi agresif penyedia layanan kesehatan ke kota-kota tingkat bawah, bukan dari pertumbuhan organik," tulis analis BCA Lazuardin Thariq Hamzah dan Barra Kukuh Mamia dalam riset 5 Agustus 2024.
Sektor yang serapan capexnya turun paling dalam adalah sektor jasa industri yang terkoreksi 48,2% yoy. Capex sektor tambang dan mineral juga turun 24,8% yoy dan sektor telekomunikasi turun 22,5% yoy pada kuartal II ini. Angka PMI manufaktur Indonesia pun mengalami kontraksi pada bulan Juli 2024, pertama kalinya sejak Agustus 2021. Hal ini menunjukkan periode yang lambat untuk investasi di masa depan. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy tak menampik, saat ini sebagian besar harga saham tengah menurun. Cuma sedikit saham yang mencetak return bagus. Ini menandakan investor ritel dan investor institusi tengah menahan diri untuk bertransaksi di saham. "Emiten menunggu kabinet baru dan kebijakan presiden baru juga. Plus, ini untuk mengantisipasi resesi di beberapa negara besar," ungkapnya. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai, pada semester kedua, pertumbuhan pendapatan dan serapan capex diproyeksikan akan lebih tinggi. Sentimen positifnya berasal dari pilkada, pelantikan presiden, pemilihan kabinet baru, hingga potensi pemangkasan suku bunga Fed.
Peralihan Aset Meningkat, Aktivitas Pasar Saham Meredup
Terpukul Berbagai Tekanan di Bulan Kemerdekaan
Bursa saham Indonesia seringkali punya cerita manis di bulan Agustus. Maklum, secara historis, setidaknya dalam 10 tahun terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih sering berada di zona hijau pada bulan ini. Namun, kali ini ceritanya bisa jadi berbeda. Indikasinya bisa dilihat dari keyakinan pelaku pasar terhadap IHSG yang tak sebaik bulan sebelumnya. Tengok saja Capital Sensitivity Analysis (CSA) Index bulan Agustus 2024 yang hanya di 55,8, turun dibanding posisi Juli 2024 yang di 61. Merujuk survei yang dilakukan CSA Institute dan Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) pada 12-30 Juli 2024, proyeksi IHSG di ujung Agustus ada di 7.251. Bulan lalu IHSG tutup di 7.255,76. Sebagai perbandingan, Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki melihat, rentang IHSG bakal lebar bulan ini, yakni di support 6.599 dan resistance 7.322. Sementara dari global, pemilihan presiden di Amerika Serikat (AS) menambah ketidakpastian mengenai kebijakan ekonomi dan luar negeri.
Ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed pada September 2024 pun malah ditafsirkan secara negatif, mengingat pelemahan yang terjadi pada indeks saham utama. Herditya Wicaksana, Analis MNC Sekuritas juga menilai, tekanan dari eksternal yang dihadapi bursa saham lokal antara lain adalah munculnya kekhawatiran akan perlambatan ekonomi AS hingga ketidakpastian pemangkasan suku bunga The Fed. Faktor penekan lain ialah kenaikan suku bunga Jepang dan menguatnya nilai tukar yen terhadap dolar AS, hingga eskalasi geopolitik Timur Tengah. "Tambahan pekerjaan 114.000 walau di bawah konsensus, tidaklah buruk. Pun bila merunut ke belakang, bila hasil NFP tidak sesuai dengan konsensus, tidak terjadi yang namanya resesi, kok," kata Head of Research Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro kepada KONTAN. Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) Andry Asmoro pun yakin, probabilitas resesi AS hanya 10% hingga 20%. "Memang masih kecil kemungkinannya. Potensi resesi bisa semakin besar kalau data-data mengenai perkembangan ekonomi AS semakin mengonfirmasi," tuturnya.
Emiten Tetap Gencar Ekspansi di Tengah Ketidakpastian Global
Sejumlah catatan penting mencuat di awal Agustus, mulai dari sinyal perlambatan ekonomi, penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga 3,4% di awal pekan, hingga ancaman resesi di Amerika Serikat (AS) yang menguat. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2024 sebesar 5,05%, turun dari 5,11% pada kuartal sebelumnya dan 5,17% pada kuartal yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah, melalui Badan Kebijakan Fiskal (BKF), menyebut capaian pertumbuhan ekonomi 5,05% pada kuartal kedua tahun ini masih sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah di kisaran 5,1%—5,2% sepanjang 2024.
Secara keseluruhan, artikel ini menyimpulkan bahwa meskipun terdapat tekanan dari ketidakpastian ekonomi global, seperti ancaman resesi di AS dan penurunan Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia, perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh di atas 5%. Hal ini didukung oleh beberapa indikator makroekonomi yang masih menunjukkan performa yang baik, seperti tren penguatan nilai tukar rupiah, penurunan inflasi yang terkendali, dan defisit APBN yang terjaga. Selain itu, optimisme terhadap pemerintahan baru di bawah Prabowo-Gibran juga mendorong sejumlah emiten besar untuk terus melakukan ekspansi melalui penggunaan belanja modal (capex) pada semester kedua tahun ini. Ekspansi ini diharapkan dapat menjadi momentum pemulihan dan penguatan ekonomi domestik, serta memberikan sinyal positif kepada investor tentang prospek masa depan perusahaan.
Pasar Modal Saat Ini Tetap Jadi Pilihan Investor
Kalangan investor tetap menjadikan pasar modal sebagai pilihan investasi dalam jangka panjang. Koreksi tajam indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga 3,4% ke level 7.059 pada Senin (5/8/2024) juga diyakini hanya bersifat sementara, dengan potensi rebound masih terbuka lebar. Optimisme investor terhadap pasar modal Indonesia ditunjukkan dari hasil Capital Sensitif Analysis Index (CSA Index) yang dirilis Senin (5/8/2024). CSA Index merupakan indikator yang didasarkan pada survei dan pandangan pelaku pasar akan kinerja IHSG dan sektor yang menggambarkan keyakinan dan pandangan para pelaku pasar dan analis terhadap kinerja IHSG di masa mendatang. CSA Index dikompilasi oleh CSA Institute bekerja sama dengan Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) dari respon kusioner yang dikirimkan ke seluruh anggota AAEI dan alumi dari CSA Institute. Kemudian hasil diverifikasi untuk memastikan objektivitas dan validasi dari respon yang dikirim. (Yetede)
Pasar Saham Global Dihantui Kepanikan
Awan gelap menggelayuti bursa saham di berbagai wilayah dunia. Aksi jual saham dialami hampir semua indeks saham di bursa saham berbagai negara. Kondisi paling buruk dialami indeks saham Nikkei 225 yang ditutup anjlok 12,4% pada Senin (5/8). Investor di seluruh dunia panik lantaran kekhawatiran Amerika Serikat (AS) bakal mengalami resesi menyeruak. Ini dipicu melemahnya data ketenagakerjaan AS. Ini terjadi karena Sahm Rule, yang disebut sebagai salah satu indikator resesi, terpenuhi. Menurut rumus yang dibuat mantan ekonom Gedung Putih Claudia Sahm ini, bila selisih antara rerata tingkat pengangguran dalam tiga bulan terakhir dengan tingkat pengangguran terendah setahun terakhir mencapai 0,5 poin persentase, ada potensi krisis terjadi. Di Mei, Juni dan Juli tahun ini, AS mencetak angka pengangguran 4%, 4,1% dan 4,3%. Jadi rata-ratanya sekitar 4,13%.
Angka tingkat pengangguran terendah setahun terakhir di AS 3,6% di Juli 2023. Jadi ada selisih 0,53 poin persentase. Jumat (2/8) lalu, Nikkei 225 masih tercatat naik 7,31% sejak awal tahun. Kemarin, indeks ini anjlok 5,99%. Kekhawatiran resesi juga mempengaruhi pasar carry trade. Nilai tukar yen menguat terhadap dollar AS. Per pukul 20.20 WIB, yen menguat 2,79% terhadap dollar AS. "Pergerakan yen yang cukup cepat membatalkan perdagangan carry trade yang besar," kata Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior Capital.com, dikutip Reuters, kemarin. Maklum, kekhawatiran resesi ini membuat pelaku pasar makin yakin The Fed akan menurunkan suku bunga. Goldman Sachs Group Inc pada Minggu (4/8) menyebut, potensi resesi AS tahun depan bertambah menjadi 25% dari asumsi semula 15%. Namun asumsi ini bisa mereda asal bank sentral AS menurunkan bunga 25 basis poin pada September, November dan Desember. Saat yang sama, Bank of Japan baru saja menaikkan suku bunga lagi. Kendati begitu, tidak semua pengamat menilai resesi akan terjadi. Bahkan, Claudia Sahm masih yakin resesi tidak akan terjadi. "Laporan tenaga kerja ini memang sangat membingungkan, tapi ini bukan krisis," tandas dia, seperti dikutip Yahoo Finance.
Pilihan Editor
-
China : Cuci Uang dengan Kripto
21 Jun 2021 -
Kapal Tangkap Ikan Indonesia Ditertibkan
17 Jun 2021 -
Biaya Tarik Tunai ATM Link Dibatalkan
17 Jun 2021 -
Setoran Dividen BUMN Bisa Rp 35 Triliun
16 Jun 2021









