Saham
( 1722 )Penguatan IHSG Berpotensi Masih Cukup Terbuka
Bursa Tak Lagi Riang Menanti Keputusan Bunga
Setelah berkali-kali mencetak rekor sepanjang masa alias all time high (ATH) di sepanjang Agustus lalu, pada September ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan diuji untuk bisa mencetak rekor serupa. Memasuki awal September, IHSG melangkah dari posisi 7.670,73. Level ini didapat usai IHSG melonjak 4,96% dalam sebulan terakhir dan menembus ATH 7.715,75 pada Agustus. Head of Institutional Research Sinarmas Sekuritas, Isfhan Helmy menilai, setelah menanjak di Agustus, investor perlu waspada. Sebab, September bukan jadi bulan ceria bagi IHSG. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mencatat, secara historis, performa IHSG melambat di bulan September.
Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menyoroti hal yang sama. Dalam 10 tahun terakhir bulan September, IHSG hanya mampu menguat pada 2017 dan 2021. Pada September ini, sentimen utama yang akan menentukan arah IHSG adalah kebijakan suku bunga The Fed. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni mengamini, keputusan The Fed akan menjadi sentimen penting, bersamaan dengan pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak. Namun, jika pemangkasan suku bunga hanya 25 basis points (bps), efeknya cenderung flat. Sebab, sentimen ini sudah cenderung priced in atau diantisipasi pelaku pasar. Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada berharap, tren kenaikan IHSG masih berlanjut. "Namun harus realistis, jika pelaku pasar mulai profit taking dan ada sentimen negatif, IHSG bisa melemah," kata Reza.
IHSG Masih Bisa Melaju Hingga Tembus 8.000
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diyakini masih bisa terus melaju hingga menembus 8.000 pada akhir 2024. Aksi ambil untung diprediksi akan banyak membayangi. Sekalipun begitu, tren penguatan indeks bakal berlanjut didorong oleh ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed. Selama dua pekan terakhir, IHSG terpantau telah mengalami penguatan cukup signifikan sebanyak 80.122 poin atau sebesar 10,92% dengan rata-rata harga tertingginya di posisi 7.715. Penguatan tersebut sekaligus menggenapi kenaikan IHSG selama 30 hari perdagangan terakhir sebesar 4.64%. Pada perdagangan Kamis (29/8/2024), setelah melesat jauh hingga menyentuh all time high intraday di level 7.715, aksi profit taking melanda, sehingga indeks akhirnya ditutup turun 0,4% ke level 7.627. Tercatat sebanyak 264 saham terpantau naik, 317 saham turun, dan 206 saham stagnan. Adapun total nilai transaksi di bursa mencapai Rp 13,26 triliun. Volume perdagangan sebanyak 1.292.695 kali. (Yetede)
Peluang Emas Memburu Saham Berkualitas
Dana asing ( hot money ) yang mengalir deras ke pasar saham membuat rally Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut. Seiring, saham-saham big cap terpantik, cenderung menanjak. Di tengah tren penguatan harga, masih ada sejumlah saham murah meriah berkualitas yang layak ditadah. Kamis (29/9), IHSG sempat menembus level 7.700 secara intraday . Penguatan ini tak bertahan hingga akhir perdagangan. IHSG pun berakhir dengan pelemahan 0,41% ke level 7.627,60. Namun, sepanjang tahun berjalan ini, IHSG menguat 4,88% dengan price to earning ratio (PER) sebesar 12,71 kali. Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mengatakan, penguatan IHSG belakangan i dipicu peluang pemangkasan suku bunga. Hal ini membuat asing memburu kembali saham dalam negeri. Head of Equity Trading MNC Sekuritas, Frankie WP menyebut, meskipun kenaikan IDX Value30 sudah cukup tinggi, tetapi masih ada saham-saham di daftar indeks ini yang tergolong undervalue . "Valuasi saham di IDX Value30 masih berpotensi naik lagi menjelang akhir tahun 2024," kata Frankie.
Untuk memilih saham yang masih murah, dapat cermati prospek kinerja ke depan dan valuasi harganya. Frankie mencontohkan, saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dinilai masih
undervalue.
Terlihat dari ekspansi INKP yang agresif dengan membangun pabrik baru yang akan mendorong kinerjanya ke depan. Dengan raihan laba bersih di semester I-2024 sebesar US$ 278,7 juta, saat ini saham INKP diperdagangkan dengan PER 5 kali.
Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga terbilang menarik. Emiten Grup Salim ini bakal ketiban berkah dari adanya pelemahan dolar Amerika Serikat. .
Sedangkan Adityo menakar sejumlah saham besar yang lajunya masih tertinggal. Contohnya, saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Valuasi saham-saham ini juga masih rendah. Contoh, PER ASII berada di 6,37 kali dan TLKM 12,76 kali.
Melihat Peluang di IHSG yang Menawan
Setelah sempat mengalami koreksi pada penutupan perdagangan Selasa (27/8), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tancap gas. Bahkan, menutup perdagangan pada Rabu kemarin (28/8), IHSG kembali memperbarui rekor sepanjang masanya alias all time high (ATH) ke 7.658,87, naik 0,80% dibanding hari sebelumnya. Terakhir, IHSG mencetak rekor baru pada penutupan perdagangan Senin (26/8), dengan menembus level 7.606,19. Indeks bursa nasional juga berhasil menembus rekor intraday tertinggi sepanjang masa di level 7.672,28. Sementara rekor sebelumnya berada di level 7.619 yang terjadi pada 26 Agustus lalu. Meski ada sedikit penurunan hingga penutupan perdagangan, tetapi IHSG masih mampu berada di level 7.600.
Equity Research
Kiwoom Sekuritas Abdul Azis mencermati, penguatan IHSG mencapai rekor disebabkan potensi pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, pada September mendatang. Jika terwujud, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mengekor langkah The Fed untuk memotong suku bunganya.
Andrey Wijaya,
Head of Research
RHB Sekuritas menambahkan, katalis utama pergerakan IHSG saat ini adalah pergerakan nilai tukar rupiah. Pasalnya, nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dolar AS. Kemarin, rupiah di pasar
spot ditutup Rp 15.422 per dolar AS, menguat 0,47% dari sehari sebelumnya di Rp 15.495 per dolar AS.
Setali tiga uang, Kiwoom Sekuritas juga mengatrol naik target IHSG di sisa tahun 2024. Sekuritas ini masih mempertahankan target IHSG di posisi 7.800. Di tengah penguatan IHSG, Azis menyarankan IHSG bisa melirik saham-saham
big caps
yang valuasinya masih murah.
Head of Equity Research
Mandiri Sekuritas, Adrian Joezer menjelaskan, saat ini pasar memproyeksikan adanya pemotongan suku bunga The Fed sebesar 100 basis poin (bps) di kuartal terakhir 2024. Sebelumnya, Mandiri Sekuritas hanya memprediksi pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 bps.
Kualitas Saham IPO Masih di Bawah Harapan
Kredibilitas Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam meloloskan perusahaan untuk mencatatkan saham di bursa menuai sorotan publik. Mencuat kabar adanya gratifikasi senilai Rp 20 miliar dalam proses pengurusan penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO). Kasus suap ini melibatkan lima karyawan BEI. Kabar beredar di grup-grup investor saham, praktik seperti ini sudah berlangsung lama. Imbasnya, banyak saham emiten baru di BEI yang kinerjanya tidak perform. Kondisi itu tercermin dari banyaknya harga saham emiten yang baru IPO terjun bebas. Bahkan ada yang sudah masuk ke dalam papan pemantauan khusus dan diperdagangkan secara periodic call auction . Catatan KONTAN, dari 34 emiten yang IPO di sepanjang tahun 2024 berjalan, sudah ada 16 emiten yang harga sahamnya anjlok dari penawaran IPO. Hingga menutup perdagangan bursa Rabu (28/8), penurunan harga paling tajam terjadi pada saham PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) sebesar 76,98%. Emiten ayam goreng yang melantai di BEI pada 15 Februari 2024 ini menetapkan harga penawaran IPO di Rp 278 per saham. Kemarin, saham BAIK tinggal Rp 64.
Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy berpendapat, jumlah emiten baru yang terus naik tidak diiringi peningkatan kualitas perusahaan yang IPO. "Ini karena jumlah pertumbuhan perusahaan IPO setiap tahunnya jadi target BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," kata dia ke KONTAN, kemarin.
Setali tiga uang, Pengamat Pasar Modal, Satrio Utomo mengatakan, selama ini pihak regulator pasar modal hanya terkesan mengejar kuantitas IPO, bukan melindungi masyarakat dan investor. "BEI dan OJK harus lebih jujur, selama ini mereka hanya melindungi beneficial owner alias bandar," katanya.
I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian BEI menegaskan, selama ini tidak terjadi pelanggaran peraturan oleh calon perusahaan tercatat untuk bisa melantai di BEI.
Aman Santosa, Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK menjelaskan, terkait adanya dugaan gratifikasi proses IPO, BEI sudah melakukan koordinasi dengan OJK.
Telkom Tetapkan Target Kinerja Konservatif
Emiten saham telekomunikasi pelat merah, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), membidik target kinerja konservatif. TLKM berharap dapat mencetak pertumbuhan pendapatan low single digit di akhir tahun 2024. Meski begitu, profitabilitas masih tetap terjaga. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TLKM Heru Supriadi mengatakan, sejatinya, tanpa memperhitungkan unrealized loss investasi di PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), laba bersih TLKM masih tumbuh 4,2% secara tahunan pada semester I-2024. Namun akibat kerugian yang belum terealisasi dan kenaikan beban, laba bersih TLKM di akhir Juni 2024 hanya Rp 11,76 triliun, turun 7,80% secara tahunan year on year (yoy). Sedangkan pendapatan TLKM tumbuh tipis 2,47% menjadi Rp 75,29 triliun pada semester I-2024. Salah satu yang menjadi penggerus margin TLKM adalah adanya kenaikan pos beban karyawan TLKM yang meningkat dari Rp 7,84 triliun menjadi Rp 9,48 triliun. Ini akibat realisasi program pensiun dini yang merupakan strategi TLKM dalam pengendalian kompetensi. Untuk mendorong pertumbuhan kinerja, TLKM akan mempercepat transformasi bisnis. Melalui Telkomsel, TLKM menggeber fixed mobile convergence (FMC) untuk mempercepat efisiensi operasional.
Niko Margaronis,
Equity Research
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan, pendapatan TLKM bisa tumbuh di kisaran 2,7% yoy tahun ini. Target ini memperhitungkan adanya pemulihan Telkomsel secara bertahap di tengah pendapatan konsumen yang melemah.
Pada semester kedua tahun ini, Nico menyebut kinerja emiten telekomunikasi termasuk TLKM akan mendapatkan katalis positif dari momentum libur Natal dan tahun baru. Biasanya, momentum ini akan mendorong peningkatan trafik dan penggunaan data telekomunikasi.
BRI Danareksa Sekuritas pun mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga di Rp 4.250 per saham. Niko menilai, saham TLKM masih menarik, dengan rasio EV/EBITDA sebesar 4 kali.
Saham BREN Bergerak Positif
Mengincar Keuntungan di Saham Indeks Global
Dua indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) kembali melakukan rebalancing saham penghuni indeksnya. Terbaru, Jumat pekan lalu (23/8), FTSE mengumumkan Global Equity Index Series Semi-Annual Review September 2024. Kocok ulang saham konstituen FTSE Global Equity Index dengan tinjauan kuartalan ini akan berlaku efektif pada Senin (23/9). Sebelumnya, MSCI telah mengumumkan rebalancing indeks pada 12 Agustus 2024. Indeks FTSE melakukan rebalancing saham pada empat kategori, yakni large cap, middle cap, small cap dan micro cap. CEO Pinnacle Persada Investama, Guntur Putra menilai, rebalancing indeks global, terutama FTSE kategori large cap cukup sesuai ekspektasi. Guntur mengamati, saham-saham yang masuk ke FTSE dan MSCI umumnya memiliki prospek positif. "Terutama karena mereka berpotensi menarik minat dari manajer investasi global yang akan menyesuaikan portofolionya dengan indeks baru," ungkap Guntur kepada KONTAN, Minggu (25/8). Sepanjang pekan lalu, investor melakukan akumulasi beli bersih (net buy) dengan total nilai Rp 8,25 triliun. Sejak awal tahun ini, total net buy asing mencapai Rp 12,63 triliun per Jum'at (23/8).
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada turut melihat, ada persepsi aliran dana asing akan mengalir ke dalam transaksi saham-saham yang masuk indeks global tersebut.
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi memprediksi,
rebalancing
indeks global bisa berdampak positif bagi pasar. Kocok ulang ini bakal memberikan dorongan konstituen baru dengan peningkatan likuiditas untuk mendongkrak saham.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengingatkan, ada kemungkinan sejumlah saham yang masuk ke dalam indeks global tidak bergerak naik secara signifikan. Kondisi itu bisa terjadi karena pelaku pasar telah mengantisipasi terlebih dulu sebelum pengumuman
rebalancing indeks.
Harga Tender Offer IBST
Pilihan Editor
-
KKP Dorong Pengusaha Ekspor Perikanan ke Timteng
02 Aug 2021 -
Indef: APBN Memiliki Masalah Berat
02 Aug 2021 -
Transaksi E-Commerce Diprediksi Rp 395 Triliun
30 Jul 2021









